Sekarang saatnya kita lebih memperhatikan ibu dan bapak kita

Idul Fitri 1441 H, pemerintah pusat mapun pemerintah daerah   melarang masyarakat  mudik guna mencegah penularan Covid-19. Bahkan ada orang  yang tetap ngotot mudik namun di tengah perjalanan bahkan sudah hampir sampai di kampung halaman, namun disuruh putar balik.

Akibatnya, orang tidak bisa berlebaran dan bersilaturahim di kampung halamannya. Lebih khusus lagi, tidak bisa bertemu orang tua, yaitu ayah dan ibu.  Padahal boleh jadi, oramg tuanya  sudah sangat lanjut usia, dan juga sudah sakit-sakitan.

Pengalaman tak bisa/tak boleh mudik pada Idul Fitri 1441 H mengajarkan kepada kita, agar lebih perhatian kepada orang tua terutama ibu. Jangan  menunda-nunda memberikan perhatian kepada ibu. Boleh jadi selama ini kita berhari-hari, berminggu-minggu,  berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun  tidak pernah menyapa ibu kita. Jangankan mengunjunginya, walaupun jarak rumah kita ke rumah beliau di kota yang sama, atau kota sebelah yang hanya berjarak perjalanan 1-2 jam,  bahkan menyapanya lewat  telepon atau WA pun tidak kita lakukan. Kita terlalu disibukkan oleh urusan keluarga, pekerjaan,  bisnis maupun hobi kita.

Padahal ibu kita menunggu telepon ataupun sekadar WA dari kita. Beliau rindu sapaan kita, meski hanya sekadar bertanya “Bagaimana kabarnya, Bu? Ibu sehat?”  Beliau selalu senang kalau kita meneleponnya atau mengiriminya  WA yang isinya kita minta didoakan terkait urusan pekerjaan, usaha/bisnis maupun keluarga kita. Walaupun kita sudah berumah tangga, punya karir yang bagus, bisnis yang sukses, pangkat dan jabatan yang tinggi, bagi ibu, kita tetaplah anak yang selalu disayangi, diperhatikan bahkan dimanjanya, terutama dengan doa-doanya.

Allah menegaskan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra: 23).

Suatu hari Rasulullah SAW ditanya Abdullah bin Mas’ud,  “Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).

“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian.” (HR. Tirmidzi)

Sekarang saatnya kita lebih memperhatikan ibu dan bapak kita.  Pertama, mendoakan  setiap hari, terutama seusai shalat fardhu yang lima waktu mapun shalat sunnah, seperti shalat Dhuha dan shalat Tahajud. Kalau beliau  masih hidup, doakan agar beliau selalu diberi kesehatan, umur yang panjang dalam taat kepada Allah, rezeki yang halal berkah dan melimpah, serta kemudahan dalam segala urusannya.

Kalau beliau sudah meninggal, doakan ampunan untuknya dan semoga Allah jadikan kuburnya taman dari taman surga.

Kedua, kalau ibu dan bapak  masih hidup, menyapanya setiap hari. Minimal menyapanya  melalui WA, dan juga sesering mungkin menelepon beliau. Mengingat moment-moment spesial beliau, misalnya hari ulang tahunnya.

Ketiga, memberikan perhatian kepadanya dalam bentuk materi, sesuai kemampuan. Memberikan atau mengirimkan uang bulanan kepadanya, maupun bantuan lain yang beliau perlukan. Misalnya membantu biaya untuk  memperbaiki rumahnya yang bocor/rusak dan mengganti peralatan masaknya yang rusak. Kalau kita bisa membeli pulsa setiap bulan, langganan TV berbayar, makan di restoran, dan bagi yang merokok membeli rokok setiap hari, mengapa untuk ibu dan bapak, kita merasa berat untuk  mengirimkan bantuan rutin tiap bulan?

Keempat, kalau rumah kita tidak jauh dari rumah  ibu, sering-seringlah mengunjunginya. Bawakalanlah sekadar oleh-oleh untuk ibu, misalnya makanan kesukaannya.

Kelima, perhatikan perlengkapan shalat ibu, seperti mukena dan  sajadah. Pada waktu-waktu tertentu, belikanlah mukena dan sajadah yang baru. Misalnya tiap menjelang Ramadhan. Begitu kain sarung dan sajadah untuk bapak.

Keenam, perhatikan pula Alquran punya ibu dan bapak. Kalau sudah lusuh, belikan Alquran yang baru.

Ketujuh, pada waktu-waktu tertentu, ajaklah ibu dan bapak  makan di restoran dengan niat untuk menyenangkannya.

Kedelapan, kalau ada rezeki, umrahkan, bahkan hajikan ibu dan bapak.

Kesembilan, kalau ibu dan bapak sudah uzur, atau bahkan sudah wafat, dan belum sempat umrah dan haji, maka umrahkan dan hajikan ibu dan bapak.

Hal ini sesuai dengan hadis  yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas  ra bahwa seorang wanita dari Bani Khas’am berkata, “Wahai Rasulullah, ayahku telah wajib  untuk melaksanakan haji, sedangkan ia sudah renta  sehingga tidak mampu menaiki kendaraan. Apakah aku boleh menghajikan untuknya?” Rasulullah menjawab, “Laksanakanlah haji untuknya.”  (HR Bukhari dan Muslim)

Kesepuluh, kalau ibu sudah wafat, sering-seringlah bersedekah dan  beramal jariyah dengan niat pahalanya untuk ibu. Nabi mengemukakan, sedekah untuk orang yang sudah wafat itu sampai.

Menurut hadis yang diriwayatkan Buraidah RA ketika sedang bersama Rasulullah SAW, Buraidah berkata, “Saat itu aku sedang bersama dengan Rasulullah lalu datang seorang perempuan. Dia berkata, ‘Aku bersedekah kepada seorang budak perempuan atas nama ibuku yang telah wafat.’ Lantas, Rasulullah menjawab, ‘Kamu pasti mendapat pahala dan warisnya diberikan kepadamu.’

“Perempuan itu bertanya, ‘Ya Rasulullah, ibuku memiliki kewajiban untuk mengqada puasa selama sebulan, bolehkah aku berpuasa atas namanya?’ Lalu, Rasul menjawab, ‘Berpuasalah atas namanya.’ Lalu, perempuan itu bertanya lagi, ‘Ibuku juga belum menunaikan ibadah haji, bolehkan aku berhaji atas namanya?’ Lalu, Rasul menjawab lagi, ‘Berhajilah atas namanya.'” (HR Bukhari-Muslim)

KHAZANAH REPUBLIKA