Teladan Peduli Hamka pada Kaum Papa

Kali kedua kaki Kons Kleden menginjakkan kaki ke rumah Buya Hamka di Kebayoran Baru. Pada kunjungan pertama, Desember 1980, wartawan Katolik ini gagal mewawancarai Hamka. Pasalnya, pada waktu yang telah disepakati, sang tuan rumah mendadak ada acara yang tidak bisa ditepikan. Istri Buya Hamka, mewakili sang suami, memohonkan maaf pada sang wartawan. Lalu janji pertemuan pengganti pun dibuat.

Pada kunjungan kedua untuk meliput pandangan sang ulama terhadap masa depan Islam di tanah air, Kons memiliki kans bersua Hamka. Pukul lima sore ia dijadwalkan bersua penulis Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial ini. Kons bukan tak tahu tamu sang tuan rumah berjibun bak pasien mengantre di rumah dokter spesialis satu-satunya di daerah pinggiran. Tebersit di hati apakah dirinya bisa diterima pada waktu yang dijanjikan.

Ada aneka latar tamu yang datang hari itu. Dari yang berpenampilan kaya, intelek hingga—maaf—compang-camping. Tatkala waktu mendekati pukul lima, tamu yang berbusana kumal menyalip Kons. Sebenarnya, Kons mestilah diterima lebih dulu kendati waktu belum tepat di angka lima. Ternyata lelaki dengan penampilan tak sedap dipandang itulah yang dipanggil lebih dulu tuan rumah.

Buya Hamka menerima para tamunya di beranda rumah. Apa yang dilakukan tuan rumah pada salah satu tamu, diketahui tamu-tamu lainnya.

“Sama hangatnya, sama penuh perhatiannya, seperti Buya menerima tamu-tamu yang datang bermobil atau berdasi,” sebut Kons terhadap penerimaan Hamka pada tamu yang menyalipnya itu.

Sang tamu yang menyalip Kons tampak menyampaikan berkas pada Hamka. Di kolom harian Pelita yang kemudian dimuat ulang dalam Perjalanan Terakhir Buya Hamka, buku hasil suntingan tim wartawan Panjimas (1982), Kons bercerita lebih lanjut.

Setelah berbincang sebentar dengan lelaki serupa gelandangan itu, Hamka masuk ke rumah. Tak lama menghampiri sang tamu itu dan menyerahkan sesuatu ke dalam tangannya.

“Mataku masih sempat melirik bahwa di dalam tangan Buya terselip beberapa lembar uang ribuan,” jelas Kons bersaksi.

Perasaan kecil hadir dalam hati Kons mendapati adegan di hadapannya itu. Sampai akhirnya namanya disebut tepat pada pukul lima.

Tidak hanya kali itu saja orang-orang yang datang bertamu menghajatkan soal suramnya dapur rumah tangga mereka. Sebabnya beragam musibah. Seperti disebutkan putra Hamka, Rusjdi, dalam Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr K.H. Hamka (1981), hal biasa apabila rumah mereka didatangi perempuan gelandangan yang menggendong anak dan meminta bantuan.

“Untuk orang-orang yang malang itu, biasanya dikasih makan dan diberi uang ala kadarnya, Rp 1000,- atau Rp 500,-, kadang-kadang Ayah tak punya uang dan anak-anak tak ada di rumah. Mereka (para tamu itu) pulang dengan hampa tangan, setelah dihibur dan dibujuk dengan nasihat-nasihat,” cerita Rusjdi.

Orang yang tahu keseharian Buya Hamka mafhum, sang ulama ini bukan orang yang kaya raya secara harta benda. Reputasi namanyalah yang membuat orang percaya hingga tak enggan membantu. Tapi Hamka tentunya pantang meminta-minta. Di luar sebagai juru dakwah, menulis buku adalah profesinya, dengan honorarium dari royalti inilah yang bisa dijadikan pegangan menghidupkan anak dan istrinya. Ada keberkahan dalam kecukupan harta yang ada, kendati menurut penglihatan orang banyak jumlahnya itu kecil secara nominal. Yang jelas, tatkala ada orang yang menitipkan atau mengamanahi uang padanya, uang itu pula yang kemudian diberikan Buya kepada para tamu.

Mengapa Buya Hamka berbelas kasih pada para papa yang hanya memenuhi beranda rumahnya saban hari itu?

“Kadang-kadang musuh itu bukanlah berupa perbarangan, tetapi berupa keadaan. Di dalam seluruh dunia sekarang ini, dan di dalam negeri kita sendiri pun terdapatlah pula tiga musuh besar, …  ialah kebodohan, kemelaratan alias kemiskinan, dan penyakit.” Demikian Buya Hamka berkhutbah dalam shalat Idul Adha 1382 Hijriah di halaman Masjid Al Azhar (materi khutbah dimuat ulang dalam Gema Islam No 32, 15 Maret 1963).

Ini tampaknya hujjah dan jawaban mengapa Hamka ringan tangan membantu kalangan dhuafa, selain tentunya untuk menuruti sang junjungan Rasulullah. Jihad melawan kemiskinan sudah menjadi agenda lama Buya Hamka. Ia pahami betul denyut nadi sebagai anak dari keluarga yang lebih mementingkan ilmu ketimbang menghimpun harta benda. Merantau ke negeri orang diniati bukan untuk memperkaya diri, selain dalam soal kedalaman ilmu. Risiko ini yang belum mesti dipedomani saudara seagamanya yang “ditakdirkan” sebagai orang miskin harta. Maka, Hamka terpanggil untuk menyerukan Muslimin untuk saling membuka tangan membantu sesama. Agar saudara mereka tidak dicaplok oleh orang beriman lain tapi menyimpan misi lain.

Yang disaksikan banyak orang, semisal Kons Kleden, adalah bukti realisasi komitmen Buya Hamka untuk membantu mereka yang berada dalam posisi di bawah. Tak semata nasihat penyemangat untuk terus gigih bekerja, tapi juga bekal meski jumlahnya ala kadar dalam amplop di sebalik jabatan pada para tetamu berhajat itu. Buya tentu ingin mengajarkan dirinya yang acap diundang dan bicara soal Islam di mana-mana perlu memberikan contoh. Ia yang terbatas tetap perlu memberi, sekecil apa pun. Hingga yang lain, para muhsinin jamaah pengajiannya atau simpatisan dakwahnya yang dikaruniai rezeki berlimpah, tergerak mengikuti. Teladan nyata dari alim akan membekas dalam ingatan dan tindakan umat.

Teladan yang bersahaja dan praktis seperti di atas, lebih dinantikan umat ketimbang seruan mengagetkan yang terkesan “menegakkan syariat” tetapi melupakan keteladanan para penyerunya pada aspek syariat lainnya. Semisal wacana menarik zakat maal sebesar 2,5% pada aparat sipil negara tiap bulannya. Seolah peduli pada mengentaskan kemiskinan dengan instrumen zakat, tapi disebalik itu tidak disiapkan kesungguhan dan kejujuran mengajak kebaikan pada syariat lainnya. Yang gamblang, pada waktu lain justru teladan yang menyakitkan umatlah yang ada.

Oleh: Yusuf Maulana, Kurator buku lawas Perpustakaan Samben, Yogyakarta; penulis buku “Mufakat Firasat”, dan “Nuun, Berjibaku Mencandu Buku”.

 

REPUBLIKA

Buya Hamka Politisi dan Ulama yang Konsisten

Direktorat Dakwah dan Sosial Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar menyelenggarakan seminar nasional dengan tema Membedah Pemikiran Buya Hamka dalam bidang Teologi, Fiqh, Harakah, Sastra, Pendidikan dan Tasawuf. Seminar tersebut diselenggarakan dalam rangka Milad ke-66 YPI Al Azhar dan Milad ke-110 tahun Buya Hamka.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof Yunan Yusuf menjadi salah satu narasumber dalam seminar tersebut. Menurutnya, Buya Hamka merupakan seorang politisi dan ulama yang konsisten.

Prof Yunan mengatakan, hal yang bisa ditiru dari sosok Buya Hamka di bidang keulamaan dan politik adalah sikapnya yang konsisten. Buya Hamka tidak pernah bergeser ke mana-mana sebagai seorang ulama. Jadi Buya Hamka memadukan antara keulamaan dan kepolitikan.

“Dulu beliau anggota Konstituante Masyumi, yang saya lihat, beliau tidak pernah terbawa oleh arus mana pun, kepolitikan Buya Hamka bernuansa ulama dan ada politiknya,” kata Prof Yunan kepada Republika di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Kamis (15/2).

Ia mengatakan, kalau Buya Hamka berbicara tentang politik, Buya Hamka juga berbicara nilai-nilai Keislaman. Buya Hamka juga termasuk seorang politisi yang piawai memainkan perannya.

Ia menceritakan, Buya Hamka sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa larangan mengucapkan selamat Natal bagi Muslim. Buya Hamka sangat konsisten saat itu. Ketika Buya Hamka berhadapan dengan pemerintah, beliau mengambil jalan mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI.

“Beliau tidak memisahkan agama dengan politik, tetapi memberi nuansa moral agama ke dalam politik,” ujarnya.

Mengenai pandangan Prof Yunan terhadap perpolitikan saat ini, menurutnya secara menyeluruh perpolitikan di Indonesia sekarang ada yang berubah. Sekarang politiknya adalah politik kepentingan. Jadi kepentingan politik dikedepankan, sementara nilai-nilai moral dan agama dikebelakangkan.

Ia berharap, para politisi kembali menjunjung nilai-nilai kenegaraan, kebangsaan dan agama. Agar para politisi tidak terbawa arus dan terjerat kepentingan sesaat dan uang. “Sekarang kita tidak bisa menghindarkan diri dari politik transaksi yang disebut-sebut itu, sekarang ini biaya pilkada mahal sekali dan tidak mungkin tanpa uang,” ujarnya.

 

REPUBLIKA

Kisah Buya Hamka Ditawari Tidur dengan Perempuan Muda di Hotel Amerika

Buya Hamka adalah sosok ulama tangguh. Bukan hanya dalam memegang prinsip dan memperjuangkan Islam, namun juga menghadapi godaan dunia.

Usia Buya Hamka 44 tahun ketika ia diundang sebagai tamu kehormatan di Amerika Serikat pada tahun 1952. Selama dua bulan, ia keliling negeri Paman Sam itu. Sendirian, tidak ditemani oleh istri maupun keluarga.

Malam itu, Buya Hamka beristirahat di sebuah hotel di Denver. Terdengar suara ketuk pintu, beberapa saat setelah ia shalat. Rupanya, seorang pelayan hotel. Dengan senyum simpul penuh hormat, pelayan itu menawarkan barangkali butuh ditemani perempuan muda.

Buya Hamka mengakui, saat itu dorongan hasrat lelaki memang sedang bergetar. Hampir dua bulan ia sendirian di negeri yang jauh ini. Pun tidak ada orang yang mengenalnya; tidak santri tidak pula kawannya. Tidak ada yang tahu seandainya ia menerima tawaran itu.

Namun, Buya Hamka sadar dirinya baru saja sholat jamak qashar Maghrib dan Isya’. Bahkan bekas wudhu masih basah.

“Yang teringat saat melihat senyum simpul pemuda itu adalah sholat. Kalau tidur dengan perempuan lain meskipun istriku tidak tahu, bagaimana besok saya sholat Subuh? Bagaimana saya membaca dalam iftitah (yang artinya) ‘Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semuanya untuk Allah Rabbul ‘alamin. Tiada sekutu bagiNya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku adalah salah seorang yang berserah diri,’” kenangnya mengabadikan peristiwa itu dalam Tafsir Al Azhar saat menjelaskan surat Al Ankabut ayat 45.

“No, thank you,” demikian jawaban tegasnya lalu menutup pintu kamar hotel itu dan beristirahat.

Paginya, ketika sholat Subuh, Buya Hamka merasakan sholat kali itu lebih khusyu’ dan jauh lebih berkesan daripada sebelumnya.

Demikianlah sholat yang benar, mampu mencegah seorang mukmin dari perbuatan keji dan munkar.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Dirikanlah shalat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari yang keji dan munkar… (QS. Al Ankabut: 45)

Bagaimana dengan sholat kita? Semoga juga bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar sebagaimana sholatnya Buya Hamka. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

 

BERSAMA DAKWAH

Haul Sukrno: Sukarno Minta Kesediaan Hamka Shalatkan Jenazahnya

Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) salah satu ulama besar yang pernah bersitegang dengan Sukarno. Meski menjadi lawan politik, Hamka tidak pernah menyimpan dendam kepada Sukarno, pria yang dianggap sahabat namun pernah mengurungnya di jeruji besi selama dua tahun empat bulan tanpa proses pengadilan. Tuduhan kepada Hamka tidak main-main; terlibat dalam rencana pembunuhan

Anak kelima Buya Hamka, Irfan Hamka, dalam buku Ayah menceritakan bagaimana ayahnya bersikap terhadap pemerintahan Sukarno. Dalam suatu acara yang digelar Dewan Kesenian Jakarta pada 1969, Buya Hamka memaparkan dua hal, pertama pelarangan peredaran buku-buku Pramoedya Ananta Toer, dan kedua bagaimana sikapnya terhadap Pramoedya yang menjadi penyebab Hamka dipenjara.

Buya Hamka, tulis Irfan Hamka, tidak pernah menyetujui pelarangan tersebut, karena filsafat hidup Buya Hamka adalah cinta. “Kalau tidak suka pada isi sebuah buku, jangan buku itu dilarang, tapi tandingi dengan menulis buku pula, kata beliau,” tulis Taufiq Ismail menceritakan sosok Buya Hamka dalam pengantar buku Ayah.

Di sini kebesaran hati seorang Buya Hamka teruji. Ia memaafkan Pramoedya. Padahal, namanya dihancurkan Pramoedya lewat tulisan di surat kabar Bintang Timur yang merupakan media pro-PKI.

Dalam surat kabar ini terdapat kolom seni-budaya bernama Lentera. Kolom itu diasuh Pramoedya.

Dalam kolom itu, sejumlah satrawan yang kontra PKI diserang, seperti HB Jasin, Sutan Takdir Alisjahbana, Trisno Sumardjo, Asrul Sani, Misbach Yusa Biran, Bur Rasuanto, termasuk Buya Hamka. Hamka yang aktif di Muhammadiyah dan Masyumi yang jelas-jelas kontra PKI menjadi sasaran tembak.

Buya kemudian ditahan karena dianggap melanggar UU Anti-Subversif Pempres No. 11. Ia dituding terlibat dalam upaya pembunuhan Sukarno dan Menteri Agama saat itu, Syaifuddin Zuhri. Namanya dihancurkan, perekonomiannya dimiskinkan, kariernya dimatikan dan buku-bukunya dilarang beredar sejak itu.

Tetapi, Hamka yang seorang ulama besar Indonesia tidak pernah menyimpan dendam. Bukti shahihnya adalah saat Kafrawi, Sekjen Departemen Agama dan Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto, datang ke rumah Hamka membawa pesan dari keluarga Sukarno pada 16 Juni 1970. Pesannya, Buya Hamka dengan sangat hormat diminta mengimami shalat jenazah Sukarno.

“Jadi beliau sudah wafat?” kata Hamka bertanya kepada Kafrawi.

“Iya Buya. Bapak telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah dibawa ke Wisma Yaso.”

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku,” kata Sukarno berpesan.

Hamka terkejut, pesan tersebut ternyata datang seiring dengan kabar kematian Sukarno. Tanpa pikir panjang, ia kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Sesuai wasiat Sukarno, Buya Hamka pun memimpin shalat jenazah mantan presiden yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.

Hamka bahkan memuji Sukarno yang membangun Masjid Baitul Rahim di Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Ia pun menyelesaikan tafsir Al-Azhar yang menjadi karya fenomenalnya berkat andil Sukarno. Sebab, tafsir yang mahsyur seantero Asia itu diselesaikan saat ia berada di penjara.

“Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu…”

 

Terima Ajakan Agus Salim, Hamka Pulang

Waktu berhaji jatuh pada musim panas. Wukuf di Arafah bukan main panasnya. Banyak orang mati. Hamka pun tak luput dari serangan panas. Ia ditimpa sakit kepala dan tak dapat berjalan ke mana-mana.

Darah mengalir dari hidung. Ia tak sadarkan diri hingga lepas tengah malam. Hamka teringat ayah bundanya. Begitu mudah orang mati, sampai ia merasa barangkali tentu akan mati.

Syukur, ia kembali sehat dan melengkapkan rukun haji. Kebiasaan zaman itu, selepas menunaikan haji, semua berkumpul di hadapan syeikh masing-masing.

Syeikh akan memasangkan serban dan mengganti nama haji yang diinginkan si empu. Uang seringgit tak lupa melompat ke kantong Syekh setelah prosesi.

Tapi, Hamka tak mau mengikuti adat itu. “Buat apa? Serban itu bagiku tak perlu, dan nama yang telah diberikan ayahku kepadaku tidak akan kutukar! Ini hanya perbuatan khurafat semua,” kata Hamka membatin.

Saat orang sibuk membicarakan kepulangan, Hamka terbelah; mukim atau pulang. Seorang teman menyarankan untuk mukim barang setahun. Hamka sempat ragu.

Apalagi, Tuan Hamid sedia menerimanya kembali. Niat mukim itu lenyap setelah Hamka bertemu Haji Agus Salim. Hampir seminggu Hamka menyediakan diri jadi khadam (pelayan) Agus Salim.

“Apa yang akan engkau tunggui di sini? Lebih baik pulang. Banyak pekerjaan penting berhubung dengan pergerakan, studi, dan perjuangan yang dapat dikerjakan di Indonesia,” kata Agus Salim pada anak muda yang belum genap 20 itu.

Perjalanan pulang dari Makkah ke Jeddah terpaksa ditempuhnya dengan berjalan kaki. Hamka sudah tak punya uang. Payah, letih, ia berjalan bersama seorang kawan yang juga kehabisan uang.

Di tengah jalan, mereka kehabisan roti dan air minum. Beruntung, tampak dua orang Afghanistan bernaung di bawah pohon, juga dalam perjalanan ke Jeddah. Mereka berbagi makanan. Sampai di Bahra, tak kuat lagi Hamka dan kawannya berjalan.

Terpaksalah mereka menyewa keledai dengan uang seadanya. Sore berangkat, tengah malam tiba di Jeddah. Hanya dua malam di kota itu, kapal ke Buitenzorg berangkat. Sabang tampak dari kejauhan setelah 15 hari terapung di lautan.

Memoar ini termasuk kisah perjalanan haji yang mula-mula ditulis pribumi. Hamka dalam hal ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dia’ dengan ungkapan pemuda kita.

Artinya, ia menempatkan diri sebagai objek pengamatan yang berjarak, sekaligus hendak menjadi bagian dari pembaca. Suatu gaya yang menurut Indonesianis asal Perancis, Henri Chambert-Loir, “modern, pintar, dan menarik.”

 

sumber: Republika Online

Bila Hamka Naik Haji

“Pada permulaan Februari 1927, pemuda kita meninggalkan pelabuhan Belawan, menuju Jeddah; menumpang kapal Karimata kepunyaan Sttomvaart Maatschappij Netherland,” tulis pemuda kita dalam Kenang-Kenangan Hidup (1950), sebuah memoar perjalanan haji keluaran penerbit Gapura, Jakarta.

Pemuda kita itu bernama Hamka. Lengkapnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia ulama, aktivis, mubaligh, sekaligus sastrawan yang masyhur. Hamka menunaikan ibadah haji tahun 1927, tapi memoar ini ditulisnya tahun 1950.

Sewaktu Hamka lahir, Haji Rasul pernah berjanji mengirim anak laki-laki pertamanya ini ke Makkah setelah berusia 10 tahun. Tapi, janji itu tak dapat ditepati lantaran beberapa alasan. Karena itu, keputusan Hamka naik haji tahun 1927 adalah semacam pembuktian, sekaligus pemenuhan.

Kepada ayah dan andung-nya, pemuda itu tak menuturkan kemana hendak pergi. Ia hanya berkata hendak pergi ke tempat yang jauh. Tak ada uang saku. Hanya andung-nya, yang memberikan dua gulden hasil penjualan kapuk.

Hamka memperoleh uang untuk membeli tiket pulang pergi berkat bantuan Isa, temannya di Siantar. Ia baru berusia 19 tahun, saat kapalnya meninggalkan laut Ceylon.

Lantaran pandai mengaji Alquran, di atas kapal Hamka amat dihormati. Orang memanggil dengan sebutanajengan.

Ia bahkan ditawari kawin dengan seorang gadis Bandung yang memang telah menawan hatinya, tapi Hamka menolak. Sewaktu itu, kata Hamka, biasa saja orang menikah di atas kapal.

Orang sangat banyak naik haji tahun itu. Tak kurang 64 ribu orang dari Indonesia. Kabar kemenangan Ibnu Sa’ud dan kenaikan harga getah, menyebabkan orang banyak naik haji.

Tahun sebelumnya, dua pemimpin besar Indonesia, HOS Tjokroaminoto dan KH Mas Mansur juga baru saja pulang dari Makkah menghadiri Muktamar Islam. Semangat pergerakan Islam sedang berkembang.

Pemuda kita tak ketinggalan dalam aktivitas pergerakan. Bahasa Arabnya paling fasih dari yang lain. Ia pun dipercaya memimpin delegasi menemui putra Raja Saud, Amir Faishal, serta Imam Besar Masjidil Haram.

Pada kesempatan lain, Hamka bahkan sempat menjajal bertemu Raja Saud, meski gagal. Mereka minta izin memberi ceramah agama dan manasik haji bagi jamaah Indonesia di Masjidil Haram.

Ini memicu pertengkaran pertama Hamka dengan syekh (pemandu haji)-nya, yang berlanjut sampai akhir perjalanan berhaji.

Selama di Tanah Suci, Hamka sangat kekurangan uang. Ia bekerja di percetakan Tuan Hamid Kurdi, mertua ulama Minangkabau, Syekh Ahmad Chatib.

Hampir dua bulan ia di sana. Tak hanya bekerja, tapi juga menyelami buku-buku Tuan Hamid. Baru setelah tiba musim haji, Hamka pamit.

 

sumber: Republika Online

9 Tanda Orang Berakal Menurut Buya Hamka

“Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan buat dirinya sendiri,” ujar Buya Hamka

SATU bukti Islam sebagai agama yang menghargai akal dapat dibuktikan dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an, baik yang tersurat maupun tersirat memerintahkan umatnya untuk berpikir dengan memperhatikan apa saja yang ada di dunia ini, bahkan di dalam diri manusia itu sendiri.

Sebagaimana firman-Nya:

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 21).

Dengan demikian, sungguh beruntung umat Islam, karena kitab sucinya justru mendorongnya untuk mempergunakan akalnya secara maksimal guna mengetahui hingga haqqul yaqin kebenaran ajaran Islam. Oleh karena itu seorang Muslim itu idealnya adalah orang yang benar-benar memanfaatkan akalnya.

Menurut Buya Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam bukunya Falsafah Hidup orang berakal itu memiliki tanda-tanda nyata dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.

Pertama, orang berakal itu luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih perkara yang memberi manfaat dan menjauhi yang akan menyakiti. Dia memilih mana yang lebih kekal walaupun sulit jalannya daripada yang mudah didapat padahal rapuh. Jadi, akhirat lebih utama bagi mereka dibanding dunia.

Kedua, orang berakal selalu menaksir harga dirinya, yakni dengan cara menilik hari-hari yang telah dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal ke manakah akan dimanfaatkan. Jadi, tidak ada waktu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berfaedah, apalagi sampai menguliti kesalahan atau aib orang lain.

Ketiga, orang berakal senantiasa berbantah dengan dirinya. Sebelum melakukan suatu tindakan, ada timbangan yang digunakan, apakah yang dilakukannya baik atau jahat dan berbahaya. Kalau baik, maka diteruskan, jika berbahaya segera dihentikan.

Keempat, orang berakal selalu mengingat kekurangannya. Bahkan, kata Buya Hamka, “Kalau perlu dituliskannya di dalam suatu buku peringatan sehari-hari. Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan. Peringatan diulang-ulangnya dan buku itu kerapkali dilihatnya untuk direnungi dan diikhtiarkan mengasur-angsur mengubah segala kekurangan itu.”

Kelima, orang berakal tidak berdukacita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Buya Hamka menulis, “Diterimanya apa yang terjadi atas dirinya dengan tidak merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha. Jika rugi tidaklah cemas, dan jika berlaba tidaklah bangga. Karena cemas merendahkan hikmah dan bangga mengihilangkan timbangan.”

Keenam, orang berakal enggan menjauhi orang yang berakal pula. Artinya, temannya adalah orang yang berhati-hati dalam hidupnya, sehingga terjaga komitmennya dalam memegang risalah kebenaran.

Ketujuh, orang yang berakal tidak memandang remeh suatu kesalahan.

“Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak mau memandang kecil suatu kesalahan. Karena bila kita memandang kecil suatu kesalahan, yang kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar.”

Kedelapan, orang yang berakal tidak bersedih hati. Buya Hamka menulis, “Orang yang berakal tidak berduka hati. Karena kedukaan itu tiada ada faedahnya. Banyak duka mengaburkan akal. Tidak dia bersedih, karena kesedihan tidaklah memperbaiki perkara yang telah terlanjur. Dan, banyak sedih mengurangi akal.”

Kesembilan, orang berakal hidup bukan untuk dirinya semata, tetapi untuk manusia dan seluruh kehidupan. Buya Hamka menulis, “Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukat buat dirinya sendiri.”

Demikianlah sembilan tanda orang berakal menurut Buya Hamka. Dan, lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa orang berakal itu hanya memiliki kerinduan kuat pada tiga perkara. Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian. Kedua, mencari kelezatan buat jiwa. Dan, ketiga, menyelidiki arti hidup.

Subhanallah, uraian Buya Hamka ini sangat berfaedah buat kita semua untuk mengukur diri, apakah selama ini telah memanfaatkan akal sebaik-baiknya, atau justru sebaliknya. Tetapi, apapun yang telah berlalu, sekarang adalah saatnya kita meningkatkan iman dan taqwa dengan memaksimalkan fungsi dan peran akal sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Wallahu a’lam.*

Rep: Imam Nawawi

Editor: Cholis Akbar