Iblis dan Sang Abid

Setan dan Iblis akan selalu menghasut manusi, tidak pedulu ahli ibadah (abid) meski bentuknya seolah sebuah jalan kebaikan

KISAH ini terdapat dalam kitab-kitab tafsir dan menjelaskan makna di balik ayat 16 Surat Al-Hasyr. Dalam kitab Talbis Iblis karangan Ibnu Jauzi (meninggal 597H), diriwayatkan bahwa Wahab bin Munabbih berkata:

Ada seorang laki-laki ahli ibadah (abid) dari Bani Israil yang ibadahnya paling kuat pada masanya. Saat itu juga ada seorang wanita bersama ketiga saudara laki-lakinya.

Suatu hari, ketiga bersaudara itu harus melakukan perjalanan jauh untuk ikut berperang.

Mereka mendiskusikan bagaimana keadaan saudara perempuan mereka, siapa yang akan menjaga dan membantu selama mereka tidak ada.

Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk menyerahkan tanggung jawab kepada lelaki tua itu karena mereka percaya padanya.

Saat ditawari, lelaki tua itu menolak sekuat tenaga. Ketiga bersaudara itu terus membujuk hingga akhirnya lelaki tua itu menyetujuinya.

“Tinggalkan adikmu dekat dengan tempat ibadahku,” kata laki-laki yang taat itu kepada ketiga bersaudara itu.

Setelah mengikuti instruksi, mereka memulai perjalanannya. Selama ketiga bersaudara itu tidak ada, lelaki abid itu menjalankan tugasnya dengan baik.

Lelaki tua itu menyiapkan makanan dan menaruhnya di pintu tempat tinggal wanita itu.

Setelah meletakkan makanan, pelayan itu berteriak pada wanita itu agar keluar dan mengambil makanan. Abid kemudian kembali ke tempat ibadah dan menutup pintu.

Situasi seperti itu berlalu dalam satu periode.Setan Iblis mengamati keadaan dan membujuk laki-laki yang berbudi luhur untuk berbuat lebih banyak kebaikan bagi perempuan yang tinggal sendirian.

 “Semoga pahalanya bertambah karena menolong orang yang lemah,” bisik Iblis.

Iblis berkata;  “Tidak baik membiarkan wanita keluar rumah untuk mengambil makanan di siang hari, nanti orang akan melihatnya!”

Iblis berbisik lagi; “Aalangkah baiknya jika mengantarkan makanan tepat di depan pintu rumahnya, dia tidak perlu keluar rumah.  Begini cara memberi pahala,” bisiknya.

Manusia yang taat itu mengabaikan bisikan Iblis tetapi setelah beberapa waktu berlalu, ia justru terpengaruh bisikkan Iblis.

Pria itu meletakkan makanan di depan pintu rumah wanita itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan tidak ada percakapan di antara mereka berdua.

Setelah jangka waktu berlalu,  Iblis kembali melakukan hasutan. “Bagaimana jika kamu menaruh makanan itu di rumahnya? Dia tidak perlu keluar dan mengambil makanan di depan pintu.”

“Semoga pahalanya bertambah karena menolong orang yang membutuhkan,” bisiknya.

Orang tua itu tidak menghiraukan bisikan Iblis itu namun suatu hari, dia menaruh makanan di rumah wanita itu. Seperti biasa, tidak ada sepatah kata pun yang terucap.

Suatu ketika, Iblis mendorongnya untuk berbuat lebih banyak kebaikan. “Bagaimana kalau kamu bertanya bagaimana keadaan wanita itu? Dia pasti senang karena ada yang peduli,” kata Iblis.

Laki-laki itu tidak menghiraukan saran Iblis,  hingga suatu hari, dia berbicara kepada perempuan itu dari jauh. Setelah beberapa saat, Iblis meningkatkan hasutannya.

“Bicaralah padanya. Dia pasti ingin ada seseorang yang menemaninya,” bisik Iblis.

Laki-laki abid itu terus berbicara pada perempuan itu dari kejauhan. Namun tak lama kemudian, lelaki tua itu mulai berbicara dengan gadis itu dari jarak dekat.

 “Kau pergilah tepat di depan pintunya, dan biarkan dia duduk tepat di depan pintu itu juga,” kata iblis.

Lelaki tua itu tidak mendengarkan Iblis hingga suatu hari, dia berbicara kepada wanita itu dalam kondisi yang sangat dekat.

Bahkan suatu periode lelaki tua itu mengobrol dengan wanita itu di luar rumah. Sementara si wanita itu ada di dalam rumah tetapi tepat di depan pintu.

Kali ini Iblis memberikan saran lebih intens dengan dalih agar Si Abid lebih banyak mendapatkan pahala.

“Masuklah ke rumahnya. Ia tidak perlu keluar rumah dan tidak perlu memperlihatkan wajahnya kepada orang lain di luar rumah. Itu lebih baik bagi seorang wanita, yang mempunyai sifat pemalu,” bisik Iblis lagi.

Hingga akhirnya suatu ketika pria itu tidak masuk ke dalam rumah wanita tersebut. Tak satu pun dari mereka melakukan apa pun, kecuali hanya obrolan biasa.

Laki-laki Abid mulai terbiasa masuk ke rumah perempuan, ngobrol di siang hari, dan kembali ke tempat ibadah di sore hari ketika hari sudah hampir malam.

Iblis meneruskan menggencarkan rangkaian ‘nasehat’ hingga suatu saat laki-laki yang taat itu menyentuh lutut perempuan itu dan melakukan perbuatan tidak patut yang tidak seharusnya terjadi.

Mereka melakukan perzinahan. Sembilan bulan kemudian, wanita itu melahirkan seorang anak.

Iblis kemudian berkata pria yang dulunya dikenal sangat alim dan ahli ibadah ini. “Bagaimana pendapatmu jika kakak beradik ini tiba-tiba pulang ke rumah dan melihat seorang anak kecil lahir dari hasil kalian berdua?”

“Mungkin gadis itu akan membocorkan rahasianya, atau cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya juga.”

“Bunuh saja bocah itu dan tanam dengan baik. Rahasia akan terjaga dengan baik,” bisik Iblis.

Tanpa pikir panjang, lelaki tua itu membunuh dan menguburkan bayi yang baru lahir itu.  “Bagaimana jika wanita ini membeberkan rahasianya kepada saudara-saudaranya?,” bisik Iblis.

“Tangkap wanita itu, bunuh dia dan kubur dia bersama anaknya sekalian,” kata Iblis.

Pria itu akhirnya membunuh dan menguburkan wanita itu di dalam lubang bersama anaknya.  Sebuah batu besar ditempatkan di atas lubang itu  sebagai tanda.

Dia kembali ke tempat ibadahnya dan merasa yakin tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Tidak lama kemudian, ketiga bersaudara itu kembali dari perang dan mencari saudara perempuannya.

“Dimana dia?” tanya salah satu dari mereka kepada lelaki tua itu.

Sambil menangis, laki-laki abid itu menceritakan kepada perempuan itu bahwa dia berkelakuan baik namun sayang, dia telah meninggal.

“Ini kuburannya,” kata abid sambil mengarahkan jarinya ke sebuah batu besar di samping tempat ibadahnya.

Ketiga bersaudara itu kemudian berdiri di dekat kuburan dan menangis mengingat adik tercinta mereka.

Suatu malam, ketika mereka bertiga sedang tidur, Iblis datang ke dalam mimpi mereka dalam wujud seorang laki-laki yang sedang bepergian.

Iblis memasuki mimpi kakak sulung dan bertanya, “Bagaimana kabar adikmu?”

Laki-laki itu menjawab seperti yang dikatakan laki-laki abid itu.

Iblis lalu berkata;  “Orang tua itu berbohong.”

“Dia abid tidak bisa dipercaya. Dia berzina dengan adikmu sampai dia melahirkan seorang anak.”

“Dia membunuh mereka berdua karena dia menakuti kalian, tiga bersaudara. Dia menanamnya di lubang di samping rumah. Di sana, kamu akan menemukan adikmu bersama anaknya,” kata Iblis.

Iblis lalu masuk ke dalam mimpi pada kedua saudara lainnya dan mengatakan hal yang sama.

Pasa suatu siang, mereka bertiga terbangun dan menceritakan apa yang terjadi dalam mimpinya. Mereka terkejut karena mimpi mereka sama.

Sang Kakak berkata; “Tisak apa-apa, ini hanya hiasan tidur. Mimpi biasa.”

Tapi sang adik yang lebih muda tidak puas. “Mari kita lihat tempat yang ditunjukkan pria dalam mimpi itu,” katanya.

Mereka kemudian pergi ke tempat yang ditunjukkan dalam mimpi dan bertemu dengan lubang yang dimaksud.  Memang benar ada mayat bayi bersama seorang wanita.

Mereka kemudia mencari lelaki tua itu dan menanyakan hal itu. Akhirnya pria itu mengakui bahwa apa yang diceritakan dalam mimpinya itu benar adanya.

Ketiga bersaudara akhirnya bersiap membalas untuk membunuh Sang Abid.

Hingga ketika pria itu akan diesksekusi, muncullah Sang Iblis untuk menawarkan bantuan. “Wahai abid, akulah yang menguji kamu dengan seorang wanita hingga kamu berzina dan membunuh dia serta anaknya.”

“Aku ingin mengajukan penawaran. Jika kamu taat kepadaku dan berpaling dari Allah, niscaya kamu akan selamat dari hukuman mati ini,” katanya.

Pria itu akhirnya mengikuti jejak Iblis, dan kenyataanya, saat itu Sang Iblis justru meninggalkan dan menjauhkan darinya. Hingga akhirnya ketiga saudara itu mengeksekusi dan membunuhnya.

Wahab Ibnu Munabbih mengatakan, Ayat 16 Surat Al-Hasyr diturunkan kepada pria tersebut.

كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ 16

“(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS: Al-Hasyir: 16).

Setelah pria tersebut melakukan kekafiran (dan masih menderita hukuman), Iblis punys berkata: “Sesungguhnya aku tinggalkan kamu, karena sesungguhnya aku bertakwa kepada Allah, Tuhan yang menguasai seluruh alam.”

Pelajaran

  • Setan selalu menghasut kita untuk berbuat jahat meski bentuknya seolah melalui jalan kebaikan.
  • Orang yang tidak mengetahui betapa halusnya bisikan setan, akan mudah terjebak dengan janji-janji kebaikan.
  • Umat Islam dianjurkan untuk selalu berlindung kepada Allah dari segala bujukan dan bisikan setan.*/Abu Nizar

HIDAYATULLAH