Konsep Mengenali Diri Menurut Imam al-Ghazali

Pernahkah kita merasa dalam kondisi tidak mengenali diri kita sendiri. Misalnya, kita melakukan atau mengikuti segala macam tawaran yang datang kepada kita, tapi kita tidak pernah benar-benar bertanya, apakah diri kita benar-benar membutuhkannya atau tidak ? Persoalan tentang cara mengenali diri ini rupanya juga pernah diperbincangkan para ulama terdahulu, diantaranya adalah oleh Imam al-Ghazali dalam karyanya Kimiyaa as-Sa’adah (Formula Kebahagiaan). Dalam karyanya tersebut, yang pertama kali langsung dibahas oleh al-Ghazali adalah tentang mengenali diri atau jiwa (ma’rifatu an-nafs). Landasannya adalah surah Fusshilat : 53,

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di seluruh penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah kepada mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu menjadi Saksi atas segala sesuatu. (Fusshilat : 53)

Landasan berikut adalah riwayat yang disebut sebagai hadis Nabi Saw.,

من عرف نفسه فقد عرف ربّه

Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhan.

Tentang keabsahan hadis ini dan bagaimana maknanya telah dibahas pada tulisan “Membincang Hadis “Man ‘Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu”

Kata al-Ghazali, kunci kita mengenal Tuhan itu diawali dengan mengenali diri. Dalam konteks cara mengenali diri, al-Ghazali langsung menjelaskan bahwa seseorang bisa mengenal baik Allah jika ia sudah mengenal dengan baik dirinya. Al-Ghazali pun menjawab orang yang mengatakan kalau ia sudah mengenali dirinya sendiri dengan mengatakan, « saya kenal diriku sendiri.

Saya punya tangan, kaki, kepala, perut. » Jawaban tersebut bahkan kata al-Ghazali belum bisa mengetahui apa yang terjadi dalam diri kita ketika kita marah, kita bemusuhan, ketika kita berhasrat, kita berkawin, ketika kita lapar kita mencari makan, haus mencari minum. Jika sudah mengetahui ini saja, kita masih lama dengan hewan yang berada di muka bumi ini, tegas al-Ghazali.

Lanjut al-Ghazali, kita harus mengenali diri kita yang sejati. Pertanyaan-pertanyaan mengenali diri menurut al-Ghazali dimulai dengan :

« kita ini apa ? », « kita ini datang dari mana ? » « untuk apa kita tercipta ? » « apa yang membuat kita menjadi bahagia dan menjadi nestapa ? »

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, al-Ghazali menjelaskan bahwa di dalam tubuh kita ini ada sifat-sifat yang khas yang memiliki karakteristiknya masing-masing. Sifat pertama, adalah sifat kehewanan (shifaatu al-bahaaim).

Dengan sifat ini, mansia bahagia ketika bisa makan, minum, tidur, dan memuaskan hasrat seksualitas. Sifat kedua, adalah sifat buas (shifaatu as-siba’). Sifat ini tersalurkan ketika seseorang marah atau menyakiti yang lain.

Sifat ketiga, adalah sifat jahat (shifaatu as-syayaathin). Sifat ini terpenuhi keinginannya dengan melakukan niat buruk, keburukan, mencari celah agar terhindar dari melakukan kebenaran. Dan sifat keempat, adalah sifat malaikat. Sifat ini muncul ketika seseorang menyadari atau menyaksikan indahnya kekuasaan Allah. Ketika sifat yang terakhir ini kuat, ketiga sifat yang pertama menjadi lemah dan justru manusia yang mengendalikannya, bukan sebaliknya.

Wallahu A’lam.

BINCANG SYARIAH