Inilah Syarat Wanita yang Boleh Mengasuh Anak (Bagian 2)

6. Merdeka

Sebagian ulama yang bermadzhab Asy-Syafii, Hambali dan Maliki berpendapat bahwa seorang hamba telah menghabiskan waktunya untuk memenuhi hak tuannya, dengan begitu ia tidak akan bisa serius dalam mengasuh anak.

7. Takwa

Ulama yang bermadzhab Hambali, Asy-Syaafi’i dan lain-lain menambahkan syarat ini. Sebab orang yang fasiq tidak boleh diberi amanah untuk merawat anak karena disangsikan ia tidak bisa melaksanakan kewajiban-kewajibannya dalam mengasuh anak. Boleh jadi si anak akan tumbuh dewasa dengan perangai seperti perangai pengasuhnya yang buruk.

Ibnul Qayyim berkata,

“Pendapat yang benar dan dapat dipastikan bahwa takwa tidak termasuk syarat dalam pengasuhan, dan ini merupakan persyaratan yang sangat jauh. Seandainya takwa menjadi syarat dalam pengasuhan tentunya akan banyak sekali anak-anak yang tersia-siakan, karena ini merupakan syarat yang sulit dipenuhi oleh umat Islam.

Sejak munculnya islam hingga hari kiamat kelak, anak-anak orang fasiq tetap berada di bawah pengasuhan mereka dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menggugat hak asuh mereka, padahal penduduk dunia ini mayoritasnya dari kalangan mereka.

Apakah pernah terjadi dalam sejarah Islam ada seseorang yang menggugat hak asuh seorang anak dari kedua tuanya atau salah satu dari orang tuanya karena alasan fasiq. Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam serta para sahabatnya tidak pernah melarang seorang fasiq menjaga dan mengasuh anaknya. Malah realitanya seorang ayah walaupun ia fasiq tetap berusaha untuk mengasuh anaknya dan tidak menyia-nyiakannya bahkan mengusahakan kebaikan untuk anak.

Meskipun ada juga yang nyeleneh dalam mengasuh anaknya, namun hal itu jarang terjadi. Jadi, syariat cukup menyerahkan masalah pengasuhan pada naluri bawaan. Apabila syariat menghapus hak asuh dan hak perwalian nikah terhadap orang-orang fasiq tentunya syariat telah menjelaskan tentang penghapusan hak ini, karena hal ini termasuk perkara yang terpenting untuk umat, dan tentu praktiknya telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagaimana mungkin hukum ini mereka sia-siakan dan ternyata praktek yang sampai malah kebalikannya? Seandainya hak asuh orang-orang fasiq dihapus oleh syariat, tentunya orang yang berzina atau peminum khamar yang memiliki anak telah dipisahkan oleh syariat dan dicarikan pengasuh yang lain.

Syarat keenam dan ketujuh ini merupakan syarat yang tidak disetujui oleh sebagian ulama.

Demikian dikutip dari kitab Ittihaafu Uli Al-Albab Bihuquuqi Ath-Thifli Wa Ahkamihi fi Su-ali Wa Jawab karya Abu Abdullah Ahmad bin Ahmad Al-‘Isawi. Semoga bermanfaat. Aamiin.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Bila Letih Rawat Anak, Tengoklah Bunda O dalam Rawat Anabella

Merawat bahkan mendidik anak adalah perjuangan yang menguras segalanya. Mungkin Anda akan menemui kendala, barangkali juga kekesalan hingga ke ubun-ubun karena anak tidak nurut, nakal dan sering menciptakan trouble di rumah.

Mari tarik napas sejenak, untuk sekadar berkaca pada sepasang suami istri. Illona atau Bunda O dan Doddy. Keduanya adalah sosok yang rupawan, settle, tinggal di Amerika, dan Allah anugerahi mereka Anabella.

Bella, panggilan anugerah itu, didiagnosis dokter dengan sindrom Pfeiffer, suatu kondisi yang mempengaruhi bentuk tengkoraknya. Kondisi langit-langit mulut terbelah berbentuk hati. Bella tak bisa menelan apapun, makannya hanya bisa susu khusus dan disalurkan melalui selang yang disambungkan ke perutnya. Bella punya daun telinga yang normal.

Bella, berharap agar anak-anak lainnya menyapa dirinya dan mengatakan “hai” serta menerima bahwa dirinya seperti anak normal lainnya.

Apa yang Bella bisa lakukan bukan karena kepintaran Bella semata, melainkan karena latihan terus menerus. Ketika tahun lalu Bella belum bisa sama sekali,

“We did not stop but we kept going. We tried and tried and tried. We also tried something similar, supaya Bella tidak bosan dan tetap excited latihannya.”

Progres tidak selalu bisa terlihat dalam waktu singkat meskipun rutin dilakukan, kadang butuh waktu menahun and it’s okay to give them a break kalau belum ada progres, yang mengajarkan juga harus sabar dan jangan langsung menjudge anak tidak mampu. Yang terpenting nanti dicoba lagi dilatih lagi, terus dan terus seperti Bella.

Illona sendiri cukup banyak mendapat komentar atau pesan masuk yang menanyakan mengenai kemampuan bahasa Indonesia Bella.

Kadang saat lagi live Instagram, ia menjelaskan sedikit. Kebetulan tidak semua yang menonton, mungkin juga tidak ngeh. “Jadi, saya rasa sekarang adalah saat yang tepat untuk menjawab atau menjelaskan ya,”

No hurt feeling dari baginya. Itu hanya penjelasannya untuk yang masih mempertanyakan kenapa Bella nggak bisa bahasa Indonesia. Dan juga untuk yang “terus” menerus menyuruhnya mengajarkan bahasa Indonesia ke Bella, ataupun yang hanya sekadar menyarankan. “Saya tahu, nggak ada yang bermaksud tidak baik, semuanya hanya saran, semuanya care dengan Bella, Insya Allah juga karena sayang, maksudnya pun baik. Saya terima setiap masukan, terima kasih ya untuk perhatiannya
But trust me, every parents know what best for their child.”

Baginya, ayah Bella, dokter, therapist, dan guru-guru Bella, yang terpenting Bella bisa berkomunikasi dengan baik dan nyaman dengan siapa pun dan dimana pun.

Bella adalah penyuka Maher Zein, dan kadang suka menyanyikan lagunya

(Bella komunikasi dengan piranti semacam tab, sebab ia tak mengeluarkan suara layaknya kita.)

Suatu kali Bella minta pakai topi yang katanya mirip sama topi Maher Zain di video klip “Barakallah dan Muhammad”

Sampai di dalam supermarket, “Bunda please take Bella picture. Like Maher Zain okay bunda?”

“While we were inside the car suddenly Bella screamed,
Bella : bundaaaa
Bunda : yes Bella
Bella : ceweweeeeeeeetttttt
Bunda : whatt??
Then she started singing again,,
“Alhamdulillaaah…Alhamdulillaaah.”
from Maher Zein song title “Alhamdulillah”

Masya Allah, Bella loves reading letter or postcard yang dikirimkan khusus untuk Bella. Setiap Bella terima postcard dari RS (biasanya setiap habis operasi/rawat inap selalu dikirimkan kartu dari floor nurse atau dokter yang menangani prosedur Bella) atau temen kantor ayah/bunda, rasa senengnya kaya anak-anak lain habis dikasih Xbox kali ya.

“Padahal cuma selembar kartu/surat hahahaaa Bella langsung selalu mengucap syukur “alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah” dengan ekspresi histeris kesenengan berkali-kali,” tutur bunda Bella.

Postcard/card itu akan dibaca terus menerus, dibawa-bawa setiap dia main atau pergi keluar rumah, dia baca lagi saat duduk di carseatnya, kadang cardnya dia bawa dan peluk sampai tertidur dan tentunya dibaca lagi sebelum Bella tidur. Kalau sudah puas “main” dan baca berulang kali, Bella selalu minta cardnya disimpan. Kalau kata ayah Bella, masya Allah mudah sekali bikin anak kecil ini senang. Kasih kertas, amplop dan tulis kertasnya lalu kasih ke Bella. Pasti dia langsung surprise “wooww alhamdulillah alhamdulillah”

Bella sedang berusaha memberi menyuapi bundanya, meski pada akhirnya Bella mencampur roti panggangya dengan es krim dan stroberi di atasnya.

Bunda: baby, how am i going to eat it?
Bella : don’t wowwy bunda. It’s okay.
Bunda : well it’s okay but not really okay. i can’t eat mushy food.
Bella : it is okay. Eat it!
Bella : 🙁

Bunda Bella, Illona, selalu bahagia dengan Bella. Ia selalu minta maaf atas kekurangan sebagai orangtua

“Maafkan atas segala kekurangan bunda ini, kurang ini, kurang itu, banyak sekali kekurangannya bagai butiran debu.”

Seringkali Illona bilang begini ke Bella. “Bella terima kasih ya nak udah request ke Allah dulu untuk pilih ayah dan bunda jadi orangtua Bella di bumi. Padahal ada banyak ayah dan bunda lainnya yang jauh lebih baik dari ayah dan bunda yang ini. You gave us chance to be a better person“.

Dan Bella pun menjawab, “Don’t wowwy, no pooblem. It’s ok. Can Bella watch tv now??”
Bunda Bella malah tidak jadi haru kepada Bella. Ayah dan bunda ngomongnya udah mengharu biru padahal, dan Bella malah cari momen buat izin nonton teve. [Paramuda/BersamaDakwah]

 

BERSAMA DAKWAH