Tahun Baru, Arifin Ilham: Orang Beriman Sibuk Muhasabah

Perayaan pergantian tahun tak pernah dikenal dalam Islam. Namun, untuk menghalau maraknya kemaksiatan di malam itu, Ustaz Arifin Ilham mengajak umat Islam mengisinya dengan berzikir.

Melalui akun Facebook-nya pada Sabtu (30/12), Ustaz Arifin Ilham menyampaikan, sikap mukmin terhadap perubahan waktu tidak terjebak pada akhir tahun. Tidak ada sunnahnya untuk merayakan tahun baru, membakar petasan, meniup terompet, saling peluk cium, apalagi sampai bermaksiat.

Hal itu merupakan perayaan sia-sia, mubazir dan jauh dari syariat Allah. Sebagaimana Allah SWT sampaikan dalam Alquran surat al-Isra ayat 26-27, “Dan janganlah kamu menghambur hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara saudara setan.”

Rasulullah bersabda, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk bersenang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik, yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha,” (HR An-Nasaai).

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya meniup terompet karena itu tradisinya orang orang Yahudi,” (HR Abu Daud).

Majelis Ilmu dan Zikir menggelar Tabligh Akbar, bertepatan pada malam tahun baru. “Bukan untuk merayakan tahun baru, tetapi dalam rangka al-amru bil ma’ruf wannahyu anil mungkar. Karena sudah terlalu hebatnya maksiat dalam malam tahun baru itu,” ungkap Ustaz Arifin.

Sungguh bagi orang beriman setiap hari adalah perubahan waktu. Karena itulah orang-orang beriman terus sibuk muhasabah diri, ibadah, amal shalih dan dakwah.

Insya Allah Zikir Akbar Nasional pada Ahad, 13 Rabiul Akhir atau 31 Desember, Ahad 2017 malam Senin dimulai bada magrib sampai pukul 21.00 di Masjid At Tin Taman Mini Jakarta Timur. Ustaz Arifin akan di sana Gus Sholah, Haidar Nasir, Tengku Dziulkarnain dan ulama-ulama lainnya. “Sebarkan kabar ini. Kalian pun punya andil dalam dakwah, sahabatku,” ajak Ustaz Arifin.

Ustaz Arifin berharap, dirinya dan umat Islam tetap selalu dalam hidayah Allah hingga saat meninggalkan dunia yang sebentar ini dalam keadaan husnul khatimah.

 

REPUBLIKA

Pentingnya Muhasabah

Setiap insan tentu ingin pulang ke tempat yang nyaman nan indah saat hari akhir. Tak ada yang ingin kembali ke tempat yang penuh dengan kemuraman dan penyiksaan.

Hujjatul Islam Imam Ghazali memberikan salah satu nasihatnya yang menghujam. Dalam ihya ulumuddin, sang imam membeberkan salah satu cara untuk kembali ke Jannah saat di Kampung Akhirat kelak.

“Siapa saja yang memeriksa dirinya sebelum ia diperiksa, niscaya ringanlah pemeriksaannya pada hari Kiamat, mampu menjawab setiap pertanyaan dan baguslah tempat kembalinya,” ungkap Imam Ghazali.

Keharusan memeriksa diri, melihat lebih dalam dan mau jujur dengan kondisi diri adalah bekal utama untuk pulang ke surga.Sebaliknya, Imam Ghazali mewanti-wanti, sesiapa yang enggan dan jarang memeriksa diri, mungkin akan berakhir dalam kesusahan. “Dan siapa saja yang tidak memeriksa dirinya, maka kekallah kerugiannya dan panjanglah berdirinya pada lapangan kiamat,” tulis Imam Ghazali.

Muhasabah, mungkin itu istilah memeriksa diri. Imam Ghazali memberikan tempat yang spesial untuk bab muhasabah. Esensi pendekatan diri dan introspeksi dibahas dalam beberapa bagian.

Seseorang yang memiliki penglihatan kalbu yang jernih akan sadar jika Allah SWT senantiasa mengawasi perilaku mereka. Saat hisab nanti setiap aksi seberat atom akan dipersoalkan. Dan seseorang yang beriman sadar, tanpa muhasabah, orang-orang tidak akan selamat dari bahaya ini.

Allah SWT berfirman, “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah kerugian seseorang barang sedikitpun. Dan jika amal itu seberat biki sawipun pasti Kami mendatangkan pahalanya. dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.” (QS al-Anbiya [21]:47.

 

 

Disarikan dari Dialog Jumat Republika

Muhasabah Bisa Geser Budaya Lama Rayakan Tahun Baru

Republika secara rutin menggelar Muhasabah Akhir Tahun menyambut datangnya tahun baru. Kegiatan ini diapresiasi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang selalu menyempatkan hadir setiap tahunnya.

Gubernur menilai tradisi Muhasabah dapat menggeser budaya perayaan tahun baru yang selama ini ada. Tahun baru yang biasanya identik dengan pesta dan hura-hura.

“Muhasabah Akhir Tahun ini juga sebuah kebaikan. Untuk menuat budaya baru mengimbangi bahkan mendominasi budaya yang sudah ada yang boleh jadi kurang tepat untuk dilaksanakan,” kata Heryawan saat mengisi Muhasabah Akhir Tahun 2016 yang digelar di Masjid Pusdai Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (31/12).

Muhasabah menjadi kegiatan yang tepat masyarakat menyambut tahun baru dengan penuh nilai. Karena diisi dengan renungan diri atas apa yang telah dilakukan agar lebih baik ke depannya.

Ia pun berharap 2017 menjadi tahun yang baik untuk semuanya khususnya masyarakat Jawa Barat. Dengan menyiapkan resolusi ke depan dengan karya-karya baik.

“Jam 00.00 nanti kita menapaki 1 dari 365 hari. Hari pertama berkarya untuk terus dilanjutkan. Mari kita berkomitmen yang kita isi kebaikan, inovasi yamg bermanfaat bagi masyarakat ke depan,” ujarnya.

Gubernur berharap perbaikan di berbagai bidang juga bisa terjadi. Kemajuan baik di bidang ekonomi, sosial budaya, pendidikan, hingga kesehatan.

“Dalam konteks ekonomi pertumbuhan. Kemudian dalam konteks sosial toleransi. Pendidikan ada kemajuan. Kesehatan masyarakat semakin sehat. Kita berdaya saing dan mendapatkan kesejahteraan dan disandingkan dengan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah,” jelasnya.

Selain Gubenrur, Muhasabah Akhir Tahun Republika juga menghadirkan penceramah KH Athian Ali Muhammad Dai, KH Prof Hermawan K Dipojono, serta Ustaz Evie Effendi.

Muhasabah Republika di Bandung ini didukung oleh Pusdai, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Badan Pengelola Islamic Centre Jawa Barat, Bank BJB, Bank BJB Syariah, Pos Indonesia, Elzatta, JNE, RZ, Vila Istana Bunga, Shafira, serta Naripan Hotel. Selain mendengarkan tausyiah, jamaah yang hadir juga berkesempatan mendapatkan hadiah doorprize umrah yang dipersembahkan oleh Dago Wisata dan Maqdis.

Zuli Istiqomah

 

sumber: Republika Online

Kisah Orang Tekun Ibadah yang Masuk Neraka

Alkisah, ada dua orang bersaudara dari kalangan Bani Israil. Yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sebaliknya: sangat tekun beribadah. Yang terakhir disebut ini rupanya tak henti-hentinya menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa hingga mulutnya tak betah untuk tidak menegur.

“Berhentilah!” sergahnya.

Teguran seolah hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri. Perbuatan dosa berlanjut dan sekali lagi tak luput dari mata saudaranya yang rajin beribadah. “Berhentilah!” Sergahnya kembali.

Si pendosa lantas berucap, “Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?”

Saudara yang ahli ibadah pun menimpali, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Cerita ini tertuang dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di ujung, Hadits tersebut melanjutkan, tatkala keduanya meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allahsubhanahu wata’ala.

Kepada yang sungguh-sungguh beribadah, Allah mengatakan, “Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?”

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

“Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku,” kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, “(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka.”

Kisah di atas menyiratkan pesan kepada kita untuk tidak merasa paling benar untuk hal-hal yang sesungguhnya menjadi hak prerogatif Allah. Tentu beribadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi takabur dengan menghakimi pihak lain, apakah ia bahagia atau celaka di akhirat kelak. Sebuah kata bijak menyebutkan, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Tentang etika dakwah, Islam pun mengajarkan bahwa tugas seorang mubaligh sebatas menyampaikan, bukan mengislamkan apalagi menjanjikan kenikmatan surgawi.

Vonis terhadap orang ini-itu sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, sangat tidak dianjurkan karena melangkahi Rabb, penguasa seluruh ciptaan. Islam menekankan umatnya muhasabah atau koreksi diri sendiri daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Tuhan. (Mahbib)

 

sumber: NU.or.id