Menata Sikap Diri Jalani Tahun 2020

TAHUN 2019 sudah lewat dengan segala cacatan harian kita. Sebagaimana lazimnya hidup, di tahun 2019 itu ada tawa dan ada tangis, ada suka dan ada duka, ada bahagia dan kecewa, serta ada nikmat dan musibah. Semua telah kita jalani. Kini adalah waktunya kita menuai pelajaran dari segala yang telah terjadi demi perbaikan diri pada tahun yang baru ini, tahun 2020.

Jangan biarkan kita terikat terus dengan sesuatu yang membuat kita gelisah pada tahun 2019, jangan pula kita mau dipancing untuk gelisah berpikir apa yang belum terjadi pada tahun 2020 ini. Bahasa saya beberapa waktu yang lalu: “Jangan bunuh kebahagian masa kini dengan menyesali masa lalu dan menggelisahkan masa depan. Jalani hari ini sebagai hari ini.”

Untuk tetap bisa menikmati hari ini dan tidak menggelisahkan masa depan, ada kata-kata indah dari para bijak yang bisa kita renungkan: “Kalau Allah memberikan beban apapun kepadamu, maka sesungguhnya Allah telah mempersiapkan cara menjalani dan menyelesaikan beban itu.”

Lalu mungkin ada yang bertanya mengapa dirinya tak menemukan jalan keluar dari masalah dan tak menemukan daya serta cara menjalani beban hidup. Jawaban saya sederhana saja, yakni barangkali sang penanya itu belum menggunakan hati, akal dan anggota tubuh lainnya pada fungsi yang sesungguhnya. Barangkali hati kita terlalu egois membuang Allah dari dalam hati, akal kita terlalu arogan menganggap diri sebagai satu-satunya yang mampu, anggota badan lainnya tak mau tunduk patuh pada perintah agama.

Kalau kita senantiasa memiliki keyakinan dan keimanan yang kuat serta senantiasa bersama dengan Allah, maka hidup ini akan lebih terasa indah dijalani menuju keindahan hakiki nantinya, yakni keindahan ridla dan surga Allah Swt. Carilah sahabat yang satu hati satu prinsip dalam kebaikan, bergandenglah tangan untuk bahagia bersama. Salam tahun baru 2020, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Catatan Awal Tahun: Lidah Kita

ADA yang bertanya anggota bagian yang mana yang kira-kira paling kuat dan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Bisa jadi jawabannya berbeda-beda. Bagi pemain sepak bola mungkin jawabannya adalah kaki, bagi petinju bisa jadi jawabannya adalah tangan dan bagi yang lainnya adalah yang lainnya. Kalau kita berpikir secara umum dan luas, barangkali jawaban yang paling benar adalah LIDAH.

Hanya 8 otot yang dimiliki lidah, itupun tanpa tulang penguat. Namun ribuan bahkan jutaan otot bisa runtuh, lunglai dan terluka parah karenanya. Meski demikian, dengan 8 otot itu lidah mampu menghidupkan dan membahagiakan ribuan bahkan jutaan hati yang pada akhirnya menyatukan semua otot menuju cinta, kasih sayang dan saling tolong menolong.

Kedamaian dan ketenangan terusik oleh suara-suara sumbang yang diteriakkan kencang-kencang. Keteraturan dan keberimbangan hidup terkoyak oleh nada-nada provokatif yang dilontarkan lidah-lidah tak terdidik secara etika. Lalu, lidah model apa yang sesungguhnya kita butuhkan?

Kita sungguh mengharapkan suara-suara sejuk yang mendamaikan, suara-suara lembut yang mengarahkan dan suara-suara tegar yang menyabarkan dari lidah para guru kita dan pemimpin kita. Dari situlah akan mengalir cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya. Selamat menyambut tahun baru saudaraku dan sahabatku. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Khutbah Jumat Tahun Baru: Resolusi Berbasis Muhasabah

Mengambil momentum tahun baru 2020, khutbah Jumat ini mengambil tema Resolusi Berbasis Muhasabah. Selain tema ini, disediakan pula Khutbah Jumat Menyikapi Musibah Banjir 2020, khususnya untuk wilayah Jabodetabek.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memanjangkan usia kita dan menyehatkan kita sehingga bisa menunaikan sholat Jumat di awal tahun 2020 ini. Sungguh merupakan nikmat paling besar ketika Allah menjaga iman kita. Maka marilah kita terus bersyukur kepada-Nya dengan senantiasa berusaha meningkatkan taqwa.

Sholawat dan salam atas Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah memberikan keteladanan kepada kita semua. Tak ada satu pun petunjuk yang kita butuhkan untuk mengarungi kehidupan ini kecuali beliau memberikan keteladanan terbaik untuk umatnya.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Di awal tahun seperti ini, banyak perusahaan dan instansi mencanangkan target setelah membuat evaluasi tahun lalu. Mereka ingin satu tahun ke depan lebih baik daripada satu tahun yang telah dilewatinya.

Bagi seorang muslim, sesungguhnya setiap pergantian satuan waktu adalah momentum untuk melakukan evaluasi dan menghadirkan resolusi. Melakukan perbaikan dari waktu ke waktu. Muhasabah.

1. Muhasabah

Muhasabah adalah keniscayaan bagi orang-orang yang beriman. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  (QS. Al Hasyr: 18)

Melalui Surat Al Hasyr ayat 18 ini, Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman untuk melakukan muhasabah. Waltandhur nafsum maa qoddamat lighad. Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.

Seluruh ulama mufassirin sepakat bahwa makna ghad pada ayat ini adalah akhirat. Sehingga muhasabah kita yang paling utama adalah terkait dengan apa yang sudah kita lakukan untuk akhirat. Bukan sekedar masa depan di dunia ini.

Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir mengingatkan sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab mengingatkan.

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

Hitung-hitunglah diri kalian sendiri sebelum kalian dihitung (di akhirat nanti).

Maka kualitas iman dan ibadah kita mestinya menjadi bahan muhasabah. Karena itulah yang akan menjadi bekal masa depan akhirat kita.

Bagaimana shalat kita. Amal pertama dan utama yang nanti akan dihisab di akhirat. Sudahkan kita berusaha shalat berjamaah.

Abdullah bin Ummi Maktum pernah minta izin kepada Rasulullah. “Ya Rasulullah, rumahku jauh dan aku tidak punya penuntun ke masjid. Bolehkah aku shalat di rumah?”

Rasulullah tahu sahabatnya ini tidak bisa melihat. Maka beliau mengijinkan. Namun ketika Abdullah bin Ummi Maktum hendak pulang, ia dipanggil kembali. “Apakah ketika engkau mendengar adzan ketika di rumah?”

“Benar ya Rasulullah. Adzan terdengar hingga rumahku.”

“Kalau begitu, shalatlah berjamaah di masjid.”

Sejak saat itu, Abdullah bin Ummi Maktum tidak pernah meninggalkan shalat jamaah di masjid. Bahkan beliaulah yang adzan Subuh. Artinya, sebelum fajar sudah berada di masjid. Padahal beliau buta.

Bagaimana tilawah kita. Sudahkah kita membiasakan membaca Al Qur’an dan menambah hafalan kita? Yang di akhirat kelak akan menentukan ketinggian derajat surga.

Para sahabat demikian mesra dengan Al Quran dan selalu sigap mengamalkannya. Sehingga Sayyid Qutb menyebut mereka jailul qur’anil farid. Generasi Qur’ani yang unik.

Para sahabat Nabi hingga pahlawan Islam yang namanya abadi hingga saat ini, mereka adalah orang-orang yang demikian mesra dengan kitab suci. Para ulama hingga para pembebas negeri seperti Shalahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al Fatih, ternyata mereka adalah para penghafal Al Quran. Bahkan sudah hafizh sejak kecil. Bagaimana dengan kita, sudah bertambah berapa hafalan Qur’an kita dalam setahun lamanya?

Bagaimana sedekah kita? Yang akan menjadi benteng dari musibah di dunia dan benteng dari api neraka. Para sahabat mencontohkan dalam keadaan lapang dan sempit mereka bersedekah. Hingga ada yang sambil menangis membawa segenggam kurma. Karena hanya itu yang sanggup mereka infakkan.

2. Resolusi

Jama’ah Jumat hafidhakumullah,
Muhasabah harus bermuara pada kesimpulan bahwa amal-amal kita masih sedikit sedangkan dosa-dosa kita banyak. Bekal kita untuk masa depan akhirat masih sangat kurang. Sehingga muhasabah yang benar akan melahirkan resolusi dan perbaikan.

Kalau perusahaan dan orang-orang membuat resolusi untuk kinerjanya mengejar kesuksesan dunia, semestinya kita membuat resolusi berbasis muhasabah untuk kesuksesan akhirat kita. Tentu boleh kita memiliki target kesuksesan dunia, namun tujuan akhirnya tetap akhirat.

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.. (QS. Al Qashash: 77)

Maka berangkat dari muhasabah, kita buat resolusi. Terkait shalat kita. Jika belum lengkap berjamaah, kita lengkapi. Tidakkah kita ingin seperti Said bin Musayyab yang 50 tahun tak pernah ketinggalan shalat jamaah. Tidakkah kita ingin seperti Muhammad Al Fatih yang sejak baligh tak pernah meninggalkan shalat jamaah.

Kita tingkatkan pula khusyu’ dalam shalat kita. Tidakkah kita ingin demikian mesra berkomunikasi dengan Allah sebagaimana Rasulullah dan para sahabat menemukan kenikmatan terbesar dalam shalat.

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Dan dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat. (HR Nasa’i dan Ahmad)

Ali bin Abu Thalib pernah terkena panah. Di zaman itu belum ada anestesi seperti sekarang. Umumnya orang di zaman itu menggunakan khamr agar tidak merasa kesakitan saat anak panahnya dicabut. Namun Ali tidak mau. Ia minta anak panah itu dicabut saat shalat. Dan demikian khusyu’nya shalat, Ali tidak mengerang kesakitan saat anak panah itu dicabut.

Kalau kita sudah muhasabah tentang tilawah dan hafalan kita. Maka perlu menghadirkan resolusi agar di tahun baru ini tilawah kita lebih banyak. Tadabbur kita lebih lama. Dan hafalan bertambah.

Kalau kita sudah muhasabah tentang sedekah kita. Maka perlu menghadirkan resolusi agar di tahun baru ini sedekah kita lebih besar. Ini juga membuat kita lebih semangat untuk kerja lebih keras, kerja lebih cerdas dan tentunya kerja lebih ikhlas. Semoga dengan resolusi ini, kita kemudian bertumbuh semakin taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bekal kita ke akhirat semakin banyak.

أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ . رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jumat Tahun Baru edisi 8 Jumadil Awal 1441 H bertepatan 3 Januari 2020; Muchlisin BK/BersamaDakwah]

BERSAMA DAKWAH

Tahun Baru, Apakah Iman Kita Semakin Meningkat?

BAGAIMANA hukum merayakan tahun baru bagi muslim? Ternyata banyak kerusakan yang ditimbulkan sehingga membuat perayaan tersebut terlarang. Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”

Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Taala berfirman,

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”

Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar. “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)

Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal]

INILAH MOZAIK

Jangan sampai Zikir Bersama Tahun Baru Jadi Ritual

KEKHAWATIRAN ini memang beralasan, khususnya terkait kegiatan yang diadakan di malam tahun baru masehi oleh beberapa kalangan. Sangat boleh jadi memang nantinya akan terjadi kesalahan persepsi, seperti tradisi memperingati hari kematian, 3 hari, 7 hari, 40 hari dan seterusnya.

Memang niatnya baik, yaitu dari pada malam tahun baru diisi dengan kegiatan hura-hura, lebih baik kalau dilakukan kegiatan keagamaan di masjid. Baik berupa zikir, qiyamullail atau pun muhasabah. Tapi kalau tidak dibekali dengan wawasan yang baik, kekhawatiran itu memang layak. Maka harus diupayakan agar tidak lagi terjadi kesalahan serupa di masa lalu.

Misalnya, panitia penyelenggara perlu melakukan klarifikasi yang tegas bahwa kegiatan itu semata-mata bukan ritual ibadah secara khusus, bukan sunah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak merupakan bagian dari syariat Islam secara khusus.

Klarifikasi ini harus disampaikan kepada para jemaah yang menghadiri kegiatan itu, biar mereka juga punya cara pandang yang benar. Dan agar generasi berikutnya tidak lagi terperosok pada lubang yang sama.

Namun usulan untuk mengisi malam tahun baru hijriyah dengan beragam kegiatan itu sebenarnya juga bukan tanpa kritik. Masalahnya, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masa lalu tidak pernah menganjurkannya, apalagi melakukannya. Jadi kalau ditarik garis asalnya, mengadakan ritual secara khusus di malam tahun baru masehi atau hijriyah sama-sama tidak ada tuntunannya.

Dan kalau sampai dijadikan sebuah ritual yang secara sengaja dikhususkan dan dianggap sebagai ibadah mahdhah, tentu hukumnya bid’ah. Sebab syariat Islam tidak pernah menetapkannya.

Kepada teman-teman yang merasa khawatir kalau masalah seperti ini akan menimbulkan bid’ah, kita patut mengucapkan terima kasih atas peringatannya. Tentunya peringatan itu datang dari lubuk hati yang paling dalam, bukan sekedar asal kritik.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc]

INILAH MOZAIK

Sengaja Berpuasa di Tahun Baru

SENGAJA melakukan puasa secara khusus pada hari raya orang kafir, hukumnya makruh. Seperti sengaja berpuasa di hari natal atau tahun baru, atau hari raya orang kafir lainnya. Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki kebiasaan puasa sunah tertentu, yang ternyata bertepatan dengan hari raya orang kafir. Misalnya, orang melakukan puasa Daud, dan ketika giliran berpuasa, bertepatan dengan hari Natal. Semacam ini tidak masalah, karena yang menjadi sasaran utamanya adalah puasa Daud, bukan hari Natalnya.

Al-Kasani mengatakan, “Makruh melakukan puasa di hari sabtu secara khusus, karena ini termasuk bentuk meniru kebiasaan yahudi. Demikian pula puasa pada hari Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang Majusi), karena termasuk menyerupai kebiasaan orang majusi. Juga dilarang melakukan puasa mbisu, dalam bentuk tidak mau makan dan mogok bicara sekaligus, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang hal itu, dan termasuk meniru kebiasaan orang majusi.” (BadaI Shanai, 2:217).

Kita bisa perhatikan, alasan utama pelarangan puasa khusus pada saat hari raya orang kafir adalah meniru kebiasaan mereka. Karena berpuasa pada hari tertentu secara khusus termasuk bentuk mengagungkan hari itu. Sebagaimana layaknya orang melakukan puasa hari Asyura. Sementara pada saat yang sama, orang kafir juga sedang mengagungkan hari itu.

Hal ini sebagaimana yang dinyatakan ar-Rahaibani, “Makruh melakukan puasa hari nairuz yaitu hari keempat di musim semi dan puasa hari mihrajan yaitu hari kesembilan di musim panen. Az-Zamakhsyari mengatakan, Itu disebabkan ada unsur keselarasan dengan orang kafir dalam mengagungkan hari itu. Dan dimakruhkan mengkhususkan hari raya orang kafir, atau semua hari yang diagungkan orang kafir untuk puasa. Sebagaimana yang dinyatakan oleh dua guru besar dalam mazhab hambali (yaitu Majdud-Din Ibn Taimiyah dan Ibnu Qudamah, pen.) dan ulama lainnya. Kecuali jika puasa itu merupakan kebiasaan. Hukumnya tidak makruh.” (Mathalib Uli sn-Nuha, 5:439).

Allahu alam. [Referensi: Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 59324]

INILAH MOZAIK

Hukum Merayakan Tahun Baru dan 10 Alasan Mengapa Haram

Bagaimana hukum merayakan tahun baru masehi? Setiap akhir tahun selalu muncul pertanyaan ini. Dan tidak sedikit muslim yang merayakannya mulai dari meniup terompet, ikut pesta kembang api, acara musik, hingga berbagai bentuk kemaksiatan.

Para ulama sudah menegaskan hukum merayakan tahun baru masehi adalah haram. Mengapa merayakan tahun baru masehi haram, berikut ini 10 alasannya.

1. Alasan Sejarah

Dalam The World Book Encyclopedia disebutkan bahwa Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM.

Orang Romawi mempersembahkan hari itu (1 Januari) kepada Janus, yang mereka yakini sebagai dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan waktu. Ia juga diyakini memiliki dua wajah, satu menghadap ke depan dan satu lagi menghadap ke belakang sebagai simbol masa depan dan masa lalu. Bulan Januari diambil dari nama dewa ini.

Merayakan tahun baru masehi memiliki keterkaitan historis dengan ritual paganisme Romawi tersebut. Bagaimana jika tidak tahu sejarah tersebut.? Cukuplah firman Allah menjadi pengingat kita:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (QS. Al isra’: 36)

2. Tasyabbuh

Merayakan tahun baru masehi merupakan kebiasaan orang-orang Barat yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran Islam. Merayakan tahun baru termasuk menyerupai kebiasaan mereka (tasyabbuh).

Kita patut khawatir, sebab tasyabbuh bisa membuat seseorang jatuh ke dalam golongan yang diserupainya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi; hasan)

3. Terompet Yahudi

Perayaan tahun baru identik dengan terompet. Bahkan meniup terompet dianggap sebagai aktifitas merayakan tahun baru yang paling sederhana. Selain harganya murah, juga mudah dilakukan.

Tapi tahukah kita bahwa meniup terompet adalah kebiasaan Yahudi sehingga ketika ada sahabat mengusulkan meniup terompet sebagai tanda masuknya shalat, Rasulullah mensabdakan,

هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ

“Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi” (HR. Abu Daud; shahih)

4. Pemborosan

Merayakan tahun baru, khususnya dengan acara musik dan pesta kembang api serta acara sejenisnya, pastilah membutuhkan dana yang tidak sedikit. Hal ini termasuk bentuk pemborosan yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pemboros juga saudaranya syetan.

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al Isra: 27)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

“Sesungguhnya Allah membenci tiga hal pada kalian; kabar burung, membuang-buang harta, dan banyak bertanya.” (HR. Bukhari)

5. Begadang sepanjang malam

Pergantian hari pada kalender masehi dimulai pada pukul 00:00 tengah malam. Demikian pula tahun baru masehi dimulai pada 1 Januari pukul 00:00.

Salah satu bentuk perayaan tahun baru yang paling umum adalah menunggu detik-detik pergantian tahun pada pukul 00:00 ini. Dengan demikian, orang-orang yang merayakan tahun baru, mereka begadang hingga dini hari.

Begadang yang tidak memiliki kemaslahatan merupakan salah satu hal yang dibenci oleh Rasulullah. Jika tidak ada keperluan penting, Rasulullah biasa tidur di awal malam. Dan beliau selalu bangun tengah malam atau sepertiga malam terakhir untuk sholat tahajud.

وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan ngobrol setelah isya’ (HR. Bukhari)

6. Meninggalkan shalat

Sering kali, karena begadang sepanjang malam dan baru tidur menjelang fajar atau pagi hari, orang yang merayakan tahun baru meninggalkan Shalat Subuh. Bahkan terkadang shalat isya’ juga tidak dihiraukan karena mereka merayakan tahun baru sejak petang.

Meninggalkan sholat adalah salah satu dosa besar. Bahkan meninggalkan shalat dengan sengaja, bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kekufuran.

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Pangkal dari semua perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah” (HR. Tirmidzi dan An Nasa’i)

Bahkan dalam sabdanya yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan tentang kedudukan sholat:

بَيْن الرَّجل وَبَيْن الشِّرْكِ وَالكُفر ترْكُ الصَّلاةِ

“Pembatas bagi antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim)

7. Menyia-nyiakan waku

Merayakan tahun baru dengan berbagai bentuk aktifitasnya, apalagi yang hura-hura, adalah termasuk menyia-nyiakan waktu. Padahal dalam Islam, waktu sangatlah berharga sehingga Allah bersumpah demi waktu dalam Surat Al Ashr. Dan di akhirat nanti, seseorang juga tidak bisa beranjak dari tempatnya hingga ditanya waktunya untuk apa dihabiskan.

Imam Syafi’i membuat kesimpulan yang sangat tepat terkait dengan waktu:

ونفسك إن أشغلتها بالحق وإلا اشتغلتك بالباطل

“Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil)”

8. Ikhtilath

Acara merayakan tahun baru umumnya tidak memisahkan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Sehingga terjadilah ikhtilath yang luar biasa. Bersentuhan lawan jenis menjadi tidak terelakkan, bahkan memang disengaja.

Padahal ikhtilat dan bersentuhan lawan jenis merupakan dosa yang ancaman siksanya sangat berat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thabrani; shahih)

9. Hal-hal haram

Perayaan tahun baru dengan musik dan acara sejenis, kadang juga disertai dengan hal yang jelas-jelas haram. Misalnya aneka minuman keras dengan berbagai nama dan cara penyajiannya. Minum khamr seperti ini termasuk dosa besar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al Maidah: 90)

10. Terjerumus zina

Termasuk hal yang paling rusak dalam perayaan tahun baru adalah terjerumus zina. Ini bukan kekhawatiran semata, karena faktanya banyak berita yang melaporkan pembelian kondom meningkat menjelang tahun baru. Dan paginya di tanggal 1 Januari ditemukan banyak kondom bekas di lokasi perayaan tahun baru.

Ada yang berzina karena memang sudah direncanakan dari awal. Namun ada juga wanita yang terjerumus ke dalam zina saat perayaan tahun baru karena dimulai dari ikhtilath dan mengkonsumsi minuman keras hingga mabuk. Na’udzubillah min dzalik.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Isra: 32)

Demikian penjelasan mengenai hukum merayakan tahun baru dan 10 alasan mengapa merayakan tahun baru haram. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua. Wallahu a’lam bish shawab.

[Muchlisin BK/BersamaDakwah]


Isi Akhir Tahun dengan Berzikir

Masyarakat diingatkan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.

Kegiatan bernuansa Islami sebagai alternatif mengisi malam pergantian tahun semakin marak di berbagai daerah. Sejumlah kepala daerah bahkan mengajak umat Islam di daerahnya untuk melaksanakan zikir dan doa bersama.

Di Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Indramayu dan Pemerintah Kota Sukabumi mengeluarkan surat edaran tentang malam pergantian tahun. Warga diimbau mengisi malam tahun baru dengan zikir dan pengajian, bukan dengan kegiatan yang bersifat hura-hura.

Pelaksana Tugas Bupati Indramayu Taufik Hidayat mengeluarkan imbauan itu melalui surat edaran nomor 451/4562/Kesra tentang Imbauan Menyambut Malam Tahun Baru 2020 yang diterbitkan pada 27 Desember 2019. ”Dalam merayakan malam tahun baru, hendaknya melakukan kegiatan zikir dan pengajian di masjid/mushala,” kata Taufik, Senin (30/12).

Kegiatan itu disarankan mengikutsertakan seluruh instansi yang ada di kecamatan, para ulama, tokoh masyarakat, pemuda, dan unsur masyarakat lainnya. Selain itu, Taufik mengimbau masyarakat tidak membunyikan atau membakar petasan dan kembang api.

Sementara, Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi dalam surat edarannya menyampaikan lima imbauan kepada warganya. Salah satunya mendorong warga mengikuti zikir dan doa bersama daripada melakukan kegiatan lain yang kurang bermanfaat. “Kami mendorong warga untuk melakukan hal positif di malam pergantian tahun,’’ ujar Achmad.

Selain imbauan melaksanakan zikir dan doa bersama, Ahmad mengingatkan warga agar tak menyalakan kembang api, petasan, dan peniupan trompet. Selanjutnya, tidak melaksanakan kegiatan hiburan yang bersifat hura-hura dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.

Fahmi pun mengajak warga Kota Sukabumi, khususnya yang beragama Islam, untuk melaksanakan zikir dan doa bersama serta tabligh akbar pada Selasa (31/12) setelah shalat Isya di Masjid Agung Kota Sukabumi. Khusus untuk Muslimah, ungkap Fahmi, pada Selasa pagi digelar kajian Muslimah di tempat sama.

“Hal ini sebagai bagian dari upaya mengisi pergantian tahun dengan kegiatan keagamaan. Surat edaran ini diterbitkan untuk memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi warga pada momen pergantian tahun,’’ kata Fahmi.

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti juga menyarankan warganya untuk mengisi pergantian tahun dengan menggelar pengajian. Ia pun mengapresiasi harian Republika yang kembali menggelar acara zikir sebagai alternatif umat Islam untuk mengisi malam pergantian tahun. Kegiatan ini digelar serentak di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Di Yogyakarta, kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Jogokariyan pada Selasa (31/12). “Saya mendukung acara zikir ini sebagai bagian untuk mengingatkan masyarakat untuk tidak merayakan malam pergantian tahun secara berlebihan. Karena hakikatnya sama, ganti hari, ganti pekan, ganti bulan, ganti tahun, artinya usia kita berkurang,” kata Haryadi, Senin.

Ketua Panitia Tabligh Akbar Republika Agus Purnomo mengatakan, pihaknya siap menyelenggarakan tabligh akbar di Masjid Jogokariyan yang akan diisi sejumlah ulama dan tokoh Islam. “Tabligh Akbar di Masjid Jogokariyan di Yogyakarta, insya Allah, sudah siap dilaksanakan,” kata Agus.

Agus berharap umat Islam dapat mengikuti acara tersebut. Ia mengatakan, Republika Biro Yogyakarta menyelenggarakan tabligh akbar sebagai upaya menghadirkan kegiatan yang positif di malam pergantian tahun. “Mari mengikuti tabligh akbar daripada mengikuti kegiatan yang kurang baik dan cenderung hura-hura,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) tak mau ketinggalan untuk menggelar kegiatan Islami. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihaknya akan menggelar doa dan zikir bersama 1.500 anak yatim yang berasal dari berbagai daerah, seperti Gresik, Sidoarjo, Bangkalan, Mojokerto, dan Surabaya menjelang pergantian tahun. Acara tersebut akan dilaksanakan di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Selasa, tepatnya pukul 13.00-16.00 WIB.

“Doa dan zikir bersama kali ini tidak diselenggarakan pada malam hari seperti tahun-tahun sebelumnya karena ingin memberikan kesempatan kepada para ASN untuk dapat menikmati malam pergantian tahun ataupun beribadah bersama keluarga di pengujung tahun,” kata Khofifah di Surabaya, Senin.

Khofifah menjelaskan, acara doa dan zikir bersama sebagai wujud syukur dan harapan dalam menyongsong tahun baru 2020. Sekaligus, kata dia, sebagai refleksi diri di akhir tahun. Menurut dia, ini akan menjadi tradisi rutin menjelang pergantian tahun. Khofifah juga mengajak masyarakat Jatim untuk mendoakan bangsa.

“Mari bersama-sama kita menyambut tahun baru dengan rasa optimisme dan semangat baru untuk semakin lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Khofifah.

Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam mengingatkan umat Islam agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Umat Islam juga diimbau berkumpul di masjid dan melaksanakan kegiatan positif.

“Daripada kita bikin acara hura-hura, lebih baik mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki kehidupan keberagamaan kita dan ketakwaan kita,” kata Sekretaris Jenderal Bimas Islam Kemenag Tarmizi Tohor kepada Republika.

Tarmizi mengapresiasi dan mendukung kegiatan Festival Republik dan Dzikir Nasional yang rutin diselenggarakan setiap akhir tahun di Masjid Agung at-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Menurut dia, kegiatan Dzikir Nasional sangat bagus diselenggarakan pada malam akhir tahun.

“Karena di malam tahun baru biasanya orang-orang punya acara hura-hura yang tidak ada manfaatnya, jadi lebih baik melaksanakan zikir di masjid. Alangkah bagusnya umat berkumpul di masjid untuk mendekatkan diri ke Allah, jangan tahun baru melakukan maksiat,” ujarnya.

n lilis sri handyani/riga nurul iman/ fuji eka permana/dadang kurnia ed: satria kartika yudha

KHAZANAH REPUBLIKA

Membunyikan Terompet, Perilaku Orang Yahudi!

PERTAMA, terkait dengan masalah terompet, mari kita simak hadis berikut:

Dari Abu Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah anshar, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk salat berjemaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, Kibarkanlah bendera ketika waktu salat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu salat. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, beliau bersabda, Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi. Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, Itu adalah perilaku Nasrani. Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” (HR. Abu Daud, no.498 dan Al-Baihaqi, no.1704)

Setelah menyebutkan hadis di atas, Syaikhul islam mengatakan, “Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau tidak suka dengan terompet gaya yahudi yang ditiup, beliau beralasan, itu adalah kebiasaan Yahudi (Iqtidha Shirat al-Mustaqim, Hal.117 118)

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa terompet termasuk benda yang tidak disukai Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena meniru kebiasaan orang Yahudi. Seorang yang mencintai Nabinya shallallahu alaihi wa sallam dan membenci Yahudi tentunya akan lebih memilih petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari pada petunjuk Yahudi yang sesat.

Kedua, Membunyikan Terompet Tahun Baru

Pada tulisan sebelumnya, telah ditegaskan bahwa tahun baru termasuk hari raya orang kafir. Sementara itu, semua orang sadar bahwa membunyikan terompet tahun baru, hakikatnya adalah turut bergembira dan merayakan kedatangan tahun baru. Dan sikap semacam ini tidak dibolehkan. Seorang mukmin yang mencintai agamanya, dan membenci ajaran kekafiran akan berusaha menghindarinya semaksimal mungkin.

Dengan demikian, membunyikan terompet di tahun baru berarti melakukan dua pelanggaran; pertama, membunyikan terompet itu sendiri, yang ini merupakan kebiasaan dan ajaran orang Yahudi dan kedua, perbuatan ini termasuk turut memeriahkan hari raya orang kafir.

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

INILAH MOZAIK

3 Hal yang Wajib Dievaluasi Tiap Pergantian Tahun

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Yunahar Ilyas mengisi Tabligh Akbar yang menjadi bagian dari Festival Republik 2018 yang digelar di Masjid Al Furqan Yogyakarta. Dia menyampaikan pesan sesuai Surat Al Hasyr Ayat 18. Manusia diminta melakukan evaluasi terhadap yang sudah terjadi kemarin. Karenanya, sudah seharusnya kita memulai tahun yang baru dengan bermuhasabah atas kualitas diri selama setahun terakhir.

Artinya, evaluasi apa yang sudah dilakukan pada 2018. Tapi, evaluasi apapun itu harus ada standar yang akan jadi tolak ukur berhasil atau tidaknya seseorang. Takwa, menjadi tolak ukur utama seorang Muslim.

Ia menerangkan, takwa terdiri dari tiga elemen yaitu iman, Islam dan ihsan. Bagi seorang Muslim, sudah tentu yang menjadi bahan evaluasi pertama kadar imannya selama satu tahun terakhir.

“Apakah kita bisa mempertahankan iman pada 2018, apakah kita bisa meningkatkan iman pada 2018, dan itu ukurannya tauhid, apakah kita pernah melakukan sesuatu yang merusak tauhid kita,” kata Yunahar, Selasa (1/1).

Yunahar menekankan, jika sudah mengevaluasi diri, segeralah bertaubat jika menemukan perbuatan-perbuatan yang merusak tauhid. Tapi, jika merasa tidak, bersyukurlah dan perbaiki lagi pada tahun mendatang.

Kemudian, Islam, yang minimal menilai bagaimana kadar rukun Islam yang bisa kita nilai secara satu-satu. Misalkan, sudah tertibkah shalat lima waktu, sudahkah berjamaah di masjid, dan sebagainya.

Lalu, ditelaah kembali, apakah ibadah-ibadah yang dikerjakan sudah meningkatkan produktivitas, menjauhkan dari kemunkaran, dan sudahkah mendapat nilai-nilai kebaikan dari ibadah-ibadah yang dikerjakan. Evaluasi serupa diterapkan pula kepada ihsan, dan inilah titik evaluasi terbaik karena berhubungan dengan akhlak. Pekerjaan, bermasyarakat, keluarga dan banyak lagi elemen-elemen ihsan yang harus dievaluasi.

“Itulah inti muhasabah, jadi bukan evaluasi kekayaan, pangkat, itu hal-hal yang bersifat dunia, boleh juga, tapi yang terpenting itu muhasabah ketaqwaan,” ujar Yunahar.