Umur, Waktu, dan Hijrah

Tahun kemarin sudah berganti dengan tahun yang baru. Bertemu lagi dengan tahun yang sama. Setiap tahun yang terlewatkan menjadi ukuran bahwa umur seseorang telah berkurang. Semakin sedikit jatah hidup di dunia dan harus berkorelasi dengan penggunaan waktu.

Dalam sebuah hadis, dari Abdullah bin Ummar RA, Rasulullah SAW pernah memegang pundak Abdullah bin Ummar RA kemudian beliau bersabda, “Jalani hidup di dunia seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan. Apabila kamu berada pada waktu sore, janganlah kamu menunggu-nunggu waktu pagi.”

“Apabila kamu berada pada waktu pagi, janganlah kamu menunggu-nunggu waktu sore. Manfaatkanlah hidupmu di dunia untuk hidupmu sesudah mati.” (HR Imam al- Bukhari). Hanya saja, waktu kerap berlalu dan tidak terasa jatah umur di dunia telah habis.

Nasihat tersebut diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA. Dia berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang disia-siakan oleh mayoritas manusia, yaitu ke sehatan dan waktu luang.” (HR Imam al-Bukhari). Padahal, sudah terdapat ciri-ciri manusia agar berhijrah dari segala keburukan yang dia lakukan.

Ada beberapa pelajaran berharga dari hadis ini. Pertama, berhijrah. Jika selama ini tidak tepat waktu shalat, mulai hari ini shalat tepat waktu. Dilanjutkan dengan evaluasi penggunaan waktu, untuk apa saja waktu itu selama ini. Waktu sebaiknya digunakan untuk berkarya dan beribadah kepada Allah.

Jika selama ini waktu masih dipergunakan untuk korupsi, nakal dengan orang lain, meminum minuman keras, bergosip, berdebat, menghina, berpura-pura baik, bepersepsi negatif, merundung, menjustifikasi orang lain kafir, dan lain-lain, maka segera hijrah total dari perilaku buruk ini. Kedua, mengoreksi kegagalan.

Setiap orang pernah gagal, tetapi jangan gagal terus-menerus. Gagal beberapa kali untuk bangkit kembali. Ketiga, memperbaiki hubungan dengan Allah. Apa pun yang terjadi, mulai dari bencana hingga kesulitan, tidak membuatnya bepersepsi negatif kepada Allah. Semua harus dijalani untuk menjadi manusia yang berhasil yang bisa menjalani hidup saat bencana itu datang.

Keempat, perbaikan sosial. Manusia pada dasarnya tidak bisa hidup individualis. Meski fakta itu sudah nyata, sebagian orang lebih suka menonton televisi, bermain gawai, dan menutup pintu kepada tetangga. Padahal, jalinan sosial kepada orang lain bernilai ibadah. Bagaimanapun, rezeki dari Allah. Tetapi, berbuat baik kepada orang lain dapat memperbanyak rezeki.

REPUBLIKA

Tahun Baru, Arifin Ilham: Orang Beriman Sibuk Muhasabah

Perayaan pergantian tahun tak pernah dikenal dalam Islam. Namun, untuk menghalau maraknya kemaksiatan di malam itu, Ustaz Arifin Ilham mengajak umat Islam mengisinya dengan berzikir.

Melalui akun Facebook-nya pada Sabtu (30/12), Ustaz Arifin Ilham menyampaikan, sikap mukmin terhadap perubahan waktu tidak terjebak pada akhir tahun. Tidak ada sunnahnya untuk merayakan tahun baru, membakar petasan, meniup terompet, saling peluk cium, apalagi sampai bermaksiat.

Hal itu merupakan perayaan sia-sia, mubazir dan jauh dari syariat Allah. Sebagaimana Allah SWT sampaikan dalam Alquran surat al-Isra ayat 26-27, “Dan janganlah kamu menghambur hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara saudara setan.”

Rasulullah bersabda, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk bersenang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik, yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha,” (HR An-Nasaai).

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya meniup terompet karena itu tradisinya orang orang Yahudi,” (HR Abu Daud).

Majelis Ilmu dan Zikir menggelar Tabligh Akbar, bertepatan pada malam tahun baru. “Bukan untuk merayakan tahun baru, tetapi dalam rangka al-amru bil ma’ruf wannahyu anil mungkar. Karena sudah terlalu hebatnya maksiat dalam malam tahun baru itu,” ungkap Ustaz Arifin.

Sungguh bagi orang beriman setiap hari adalah perubahan waktu. Karena itulah orang-orang beriman terus sibuk muhasabah diri, ibadah, amal shalih dan dakwah.

Insya Allah Zikir Akbar Nasional pada Ahad, 13 Rabiul Akhir atau 31 Desember, Ahad 2017 malam Senin dimulai bada magrib sampai pukul 21.00 di Masjid At Tin Taman Mini Jakarta Timur. Ustaz Arifin akan di sana Gus Sholah, Haidar Nasir, Tengku Dziulkarnain dan ulama-ulama lainnya. “Sebarkan kabar ini. Kalian pun punya andil dalam dakwah, sahabatku,” ajak Ustaz Arifin.

Ustaz Arifin berharap, dirinya dan umat Islam tetap selalu dalam hidayah Allah hingga saat meninggalkan dunia yang sebentar ini dalam keadaan husnul khatimah.

 

REPUBLIKA

Pengajian Malam Tahun Baru, Niatnya Baik tetapi…

KEKHAWATIRAN ini memang beralasan, khususnya terkait kegiatan yang diadakan di malam tahun baru masehi oleh beberapa kalangan. Sangat boleh jadi memang nantinya akan terjadi kesalahan persepsi, seperti tradisi memperingati hari kematian, 3 hari, 7 hari, 40 hari dan seterusnya.

Memang niatnya baik, yaitu dari pada malam tahun baru diisi dengan kegiatan hura-hura, lebih baik kalau dilakukan kegiatan keagamaan di masjid. Baik berupa zikir, qiyamullail atau pun muhasabah. Tapi kalau tidak dibekali dengan wawasan yang baik, kekhawatiran itu memang layak. Maka harus diupayakan agar tidak lagi terjadi kesalahan serupa di masa lalu.

Misalnya, panitia penyelenggara perlu melakukan klarifikasi yang tegas bahwa kegiatan itu semata-mata bukan ritual ibadah secara khusus, bukan sunah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak merupakan bagian dari syariat Islam secara khusus.

Klarifikasi ini harus disampaikan kepada para jemaah yang menghadiri kegiatan itu, biar mereka juga punya cara pandang yang benar. Dan agar generasi berikutnya tidak lagi terperosok pada lubang yang sama.

Namun usulan untuk mengisi malam tahun baru hijriyah dengan beragam kegiatan itu sebenarnya juga bukan tanpa kritik. Masalahnya, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masa lalu tidak pernah menganjurkannya, apalagi melakukannya. Jadi kalau ditarik garis asalnya, mengadakan ritual secara khusus di malam tahun baru masehi atau hijriyah sama-sama tidak ada tuntunannya.

Dan kalau sampai dijadikan sebuah ritual yang secara sengaja dikhususkan dan dianggap sebagai ibadah mahdhah, tentu hukumnya bid’ah. Sebab syariat Islam tidak pernah menetapkannya.

Kepada teman-teman yang merasa khawatir kalau masalah seperti ini akan menimbulkan bid’ah, kita patut mengucapkan terima kasih atas peringatannya. Tentunya peringatan itu datang dari lubuk hati yang paling dalam, bukan sekedar asal kritik.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc]

 

INILAH MOZAIK

Perbedaan Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Islam Hijriyah, Ini Penjelasan dan Sejarahnya

Tahukah Anda bahwa perayan Tahun Baru Masehi itu telah dijadikannya sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.

Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari.

Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.  Tapi pernahkah kita meriah dalam menyambut  tahun baru Hijriah? Dan untuk tahun Masehi pastinya kita semua tahu pasti dari urutan hari, bulan dan tanggal penting yang biasanya ada di Tahun Masehi.

Tapi bagaimana dengan tahun Hijriah atau kalender Islam, seperti hari-hari dalam tahun Hijriah dan urutan bulan-bulannya? Jarang diantara kita yang hafal akan urutan bulan di dalam tahun Hijriah, Inilah perbedaan yang mendasar dari tahun Masehi dan Tahun Hijriah.

Perbedaan antara Tahun Masehi dengan Tahun Hijriah adalah:

1. Asal Mula
Kalender Hijriah Setelah wafatnya Nabi Muhammad, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan adalah tahun kelahiran Muhammad sebagai awal patokan penanggalan Islam.

Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad.Pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah.

Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H.

Kalender masehi merupakan salah satu system penanggalan yang dibuat berdasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari (syamsiah solar system) yang penaggalannya dimulai semenjak kelahiran Nabi Isa Almasih as. (sehingga disebut Masehi ; Masihi).

Nama lain dari kalender ini adalah kalender Milladiah (kelahiran).Tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskkitariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.

Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

2. Penentuan Tanggal
Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

3. Nama Bulan
Nama Bulan pada tahun Masehi

  • JANUARI
    Merupakan bulan pertama dalam tahun Masehi Januarius Mensis (Latin, bulan Januari) dan bulan ini bisa dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ke tahun sebelumnya dan lainnya ke tahun berjalan.
    .
  • FEBRUARI
    Merupakan bulan kedua dalam tahun Masehi. Berasal dari nama dewa Februus, Dewa Penyucian.
    .
  • MARET
    Merupakan bulan ketiga dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewa Mars, Dewa Perang. Pada mulanya, Maret merupakan bulan pertama dalam kalender Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan bulan Januari dan Februari di depannya sehingga menjadi bulan ketiga.
    .
  • APRIL
    Merupakan bulan keempat dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Aprilis, atau dalam bahasa Latin disebut juga Aperire yang berarti ”membuka”. Diduga kuat sebutan ini berkaitan dengan musim bunga dimana kelopak bunga mulai membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta orang Romawi.
    .
  • MEI
    Merupakan bulan kelima dalam kalender Masehi. Berasal dari nama Dewi Kesuburan Bangsa Romawi, Dewi Maia.
    .
  • JUNI
    Merupakan bulan keenam dari tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Juno.
    .
  • JULI
    Merupakan bulan ketujuh dari tahun Masehi. Di bulan ini Julius Caesar lahir, sebab itu dinamakan sebagai bulan Juli. Sebelumnya bulan Juli disebut sebagai Quintilis, yang berarti bulan kelima dalam bahasa Latin. Hal ini dikarenakan kalender Romawi pada awalnya menempatkan Maret sebagai bulan pertama.
    .
  • AGUSTUS
    Merupakan kedelapan dalam kalender Masehi. Seperti juga nama bulan Juli yang berasal dari nama Julius Caesar, maka bulan Agustus berasal dari nama kaisar Romawi, yaitu Agustus. Pada awalnya, ketika Maret masih menjadi bulan pertama, Maret menjadi bulan keenam dengan sebutan Sextilis.
    .
  • SEPTEMBER
    Merupakan bulan kesembilan dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Septem, yang berarti tujuh. September merupakan bulan ketujuh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
    .
  • OKTOBER
    Merupakan bulan kesepuluh dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Octo, yang berarti delapan. Oktober merupakan bulan kedelapan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
    .
  • NOVEMBER
    Merupakan bulan kesebelas dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang berarti sembilan. November merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.
    .
  • DESEMBER
    Merupakan bulan keduabelas atau bulan terakhir dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Decem, yang berarti sepuluh. Desember merupakan bulan kesepuluh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM. Dibulan inilah diyakini lahirnya Dewa Matahari (25 Dec) yang kemudian diadopsi oleh Kristen menjadi perayaan gereja, yakni Natal Yesus Kristus

Nama Bulan pada tahun HijriyahBerbeda dengan Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Umar bin Khatab, yg menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW (ditemani Abu Bakar) dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 – 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman ALLAH SWT:

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At Taubah[9] : 36).

  • Muharram
    Artinya, yang diharamkan atau menjadi pantangan. Di bulan Muharram, dilarang untuk berperang.
    .
  • Shafar
    Artinya, kosong. Di bulan ini, lelaki Arab pergi untuk merantau atau berperang.
    .
  • Rabi’ul Awal
    Artinya masa kembalinya kaum lelaki yg merantau (shafar).
    .
  • Rabi’ul Akhir
    Artinya akhir masa menetapnya kaum lelaki.
    .
  • Jumadil Awal
    Artinya awal kekeringan. Maksudnya, mulai terjadi musim kering.
    .
  • Jumadil Akhir
    Artinya akhir kekeringan. Dengan demikian, musim kering berakhir.
    .
  • Rajab
    Artinya mulia. Jaman dulu, bangsa Arab sangat memuliakan bulan ini.
    .
  • Sya’ban
    Artinya berkelompok. Biasanya bangsa Arab berkelompok mencari nafkah.
    .
  • Ramadhan
    Artinya sangat panas. Bulan yg memanggang (membakar) dosa, karena di bulan ini kaum Mukmin diharuskan berpuasa/shaum sebulan penuh.
    .
  • Syawwal
    Artinya kebahagiaan.
    .
  • Zulqaidah
    Artinya waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab.
    .
  • Zulhijjah
    Artinya yang menuaikan haji.

4. Nama Hari
Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada saat tengah malam. Berikut adalah nama-nama hari:

Nama hari pada tahun Hijriah:

  1. al-Ahad
  2. al-Itsnayn
  3. ats-Tsalaatsa’
  4. al-Arba’aa / ar-Raabi’
  5. al-Khamsatun
  6. al-Jumu’ah
  7. as-Sabat

Nama hari pada tahun Masehi :

  1. Minggu
  2. Senin
  3. Selasa
  4. Rabu
  5. Kamis
  6. Jum’at
  7. Sabtu

5. Penanggalan penting
Tanggal-tanggal penting dalam Kalender Hijriyah adalah:

  1. 1 Muharram: Tahun Baru Hijriyah
  2. 10 Muharram: Hari Asyura. Hari ini diperingati bagi kaum Syi’ah untuk memperingati wafatnya Imam Husain bin Ali
  3. 12 Rabiul Awal: Maulud Nabi Muhammad (hari kelahiran Nabi Muhammad)
  4. 27 Rajab: Isra’ Mi’raj
  5. Bulan Ramadan: Satu bulan penuh umat Islam menjalankan Puasa di bulan Ramadan
  6. 17 Ramadan: Nuzulul Qur’an
  7. 10 hari ganjil terakhir di Bulan Ramadan terjadi Lailatul Qadar
  8. 1 Syawal: Hari Raya Idul Fitri
  9. 8 Dzulhijjah: Hari Tarwiyah
  10. 9 Dzulhijjah: Wukuf di Padang Arafah
  11. 10 Dzulhijjah: Hari Raya Idul Adha
  12. 11-13 Dzulhijjah:Hari Tasyriq

Tanggal-tanggal penting dalam Kalender Masehi adalah:

  1. 1 Januari : Tahun Baru Masehi
  2. 22 April : Wafat Isa Almasih
  3. 2 Juni : Kenaikan Isa Almasih
  4. 17 Agustus : Hari Kemerdekaan RI
  5. 25 Desember : Hari Raya Natal

Nah, sudah tahukan perbedaan antara tahun Masehi dan Tahun Hijriah, jadi kita tidak perlu memaksakan diri untuk bisa merayakan tahun baru dengan begitu meriah. Yang lebih baik untuk memasuki tahun baru itu dengan cara intropeksi diri apa yang telah kita lakukan ditahun lalu dan yang akan kita lakukan pada tahun depan dengan menuju kehidupan yang lebih baik dan jangan lupa berdoa semoga kita dapat menjalani hidup ini lebih baik lagi beribadah kepada Allah S.W.T.

 

Dikutip dari ISLAMIDIA

Anda Meniup Terompet Tahun Baru? Ini Hukumnya!

PERTAMA, terkait dengan masalah terompet, mari kita simak hadis berikut:

Dari Abu Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah anshar, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk salat berjemaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, Kibarkanlah bendera ketika waktu salat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu salat. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, beliau bersabda, Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi. Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, Itu adalah perilaku Nasrani. Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” (HR. Abu Daud, no.498 dan Al-Baihaqi, no.1704)

Setelah menyebutkan hadis di atas, Syaikhul islam mengatakan, “Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau tidak suka dengan terompet gaya yahudi yang ditiup, beliau beralasan, itu adalah kebiasaan Yahudi (Iqtidha Shirat al-Mustaqim, Hal.117 118)

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa terompet termasuk benda yang tidak disukai Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena meniru kebiasaan orang Yahudi. Seorang yang mencintai Nabinya shallallahu alaihi wa sallam dan membenci Yahudi tentunya akan lebih memilih petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari pada petunjuk Yahudi yang sesat.

Kedua, Membunyikan Terompet Tahun Baru

Pada tulisan sebelumnya, telah ditegaskan bahwa tahun baru termasuk hari raya orang kafir. Sementara itu, semua orang sadar bahwa membunyikan terompet tahun baru, hakikatnya adalah turut bergembira dan merayakan kedatangan tahun baru. Dan sikap semacam ini tidak dibolehkan. Seorang mukmin yang mencintai agamanya, dan membenci ajaran kekafiran akan berusaha menghindarinya semaksimal mungkin.

Dengan demikian, membunyikan terompet di tahun baru berarti melakukan dua pelanggaran; pertama, membunyikan terompet itu sendiri, yang ini merupakan kebiasaan dan ajaran orang Yahudi dan kedua, perbuatan ini termasuk turut memeriahkan hari raya orang kafir.

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2349303/anda-meniup-terompet-tahun-baru-ini-hukumnya#sthash.OT0W4C1V.dpuf

Prioritaskan yang Prioritas

SESEORANG naik ke ranjangnya pada jam 20.00 WIB. Dia ambil smartphonenya yang membuat status pendek: “Malam ini ku ingin cepat terlelap tidur, besok pagi selaksa agenda penting menunggu.” Dikirimkannya via FB, WA, instagram, line dan BBM miliknya. Kebanyakan orang yang mengaku modern itu memang punya banyak account media sosial. Indikator jaringan luas, katanya.

Status yang dishare orang di atas mendapatkan respon banyak sekali dari teman-temannya, mulai dari yang iseng menggoda sampai pada yang menasaran agenda besok paginya itu. Dibalasnya dengan telaten komentar-komentar yang masuk. Tak sadar semua itu diam-diam makan waktu lumayan lama. Dia baru bisa tertidur jam 03.47 WIB menjelang subuh.

Seorang yang lain tengah bergegas masuk ke kamar mandi, persiapan shalat dhuhur katanya. Hatinya berkata: “Hari ini bisa santai, shalat bisa agak lama dan mengkhusyukkan diri. Sekalian menunggu ashar di masjid. Baru setelah itu pulang.” Berangkatlah dia ke masjid, lalu shalat dua rakaat tahiyyatul masjid. Menjelang adzan, handphonenya berbunyi, ada sms masuk: “Ditunggu pak direktur, lobby proyek.” Bergegaslah dia pulang, meninggalkan lobby Allah demi lobby direktur.

Ternyata mengatur waktu itu sulit. Ada pertarungan antara keharusan (what ought to be) dengan kenyataan (what is), antara keinginan ideal dan godaan temporal, serta antara suara hati dan suara nafsu.

Pertarungan seperti ini rutian mengisi hari-hari kita, sampai kita merasa jalannya waktu ternyata begitu cepat. Tiba-tiba, kini, 2016 sudah terlewati. Kalender berganti muka menjadi 2017. Prioritaskan yang prioritas. Salam, AIM. [*]

 

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2349798/prioritaskan-yang-prioritas#sthash.flKkslOp.dpuf

Resolusi Tahun Baru

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh ya Sahabatku yang mulia.

Dalam kurang dari lima hari ke depan. Kita akan meninggalkan tahun 2015 miladiyah dan memasuki tahun 2016 miladiyah, dengan segala kenikmatan yang telah Allah Subhanahu berikan kepada kita sekalian, sekaligus dengan suatu harapan, agar hidup dan kehidupan kita di tahun yang akan datang lebih baik dari tahun ini.

Kenapa? Karena pada hakikatnya, tidak ada seorang pun di antara kita yang rata-rata sudah  berusia diantara 60-70 tahun, yang tidak berharap agar senantiasa  tetap sehat, sejahtera, dan dapat beraktivitas sesuai kemampuan yang kita miliki.                                                                                                                                                                  .                             Sebagai orang yang beriman kita wajib bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan yang Allah Subhanahu Wata’ala karuniakan kepada kita, khususnya saat kita bangun dari tidur, kita senantiasa berdo’a :

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur

Artinya :

Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit.

Apabila Allah Subhanahu Wata’ala tidak mengehendaki kita lagi:                             Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia …                                                      Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak-anak…                                                   Allah akan sibukkan kita dengan urusan pekerjaan ….

Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan….                               Semua hanya titipan belaka.

Sekiranya kita mampu bertanya pada orang-orang yang telah pergi terlebih dulu menemui Allah Subhanahu Wata’ala jika kepada mereka diberikan peluang untuk hidup sekali lagi, sudah pasti mereka tidak lagi memilih bertarung mati-matian untuk merebut dunia …

Karena tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya ..

Kita mungkin cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, jabatan, harta, rumah besar, mobil mewah …

Namun kenapa kita tidak pernah cemburu melihat ilmu orang lain lebih dari kita …

Kita tidak pernah cemburu melihat orang lain lebih banyak amalan dari kita…

Namun kita tidak pernah cemburu, apabila melihat orang lain bangun di Sepertiga Malam, Sholat Tahajud, Membaca Al Qur’an, istighfar, dan  bermunajat…

Kita cemburu apabila melihat orang lain ganti mobil baru dengan yang lebih mewah …

Tetapi kita jarang cemburu, apabila melihat orang lain yang bisa khatam Al Qur’an sebulan dua kali…

Setiap kali menyambut hari ulang tahun. Baik itu ulang tahun kelahiran kita, ulang tahun perkawinan kita, ulang tahun kelahiran anak-anak dan cucu-cucu kita,  bahkan dalam menyambut tahun baru hijriah maupun tahun baru miladiyah. Kita sibuk ingin merayakannya sebaik mungkin, tetapi kita telah lupa bahwa dengan bertambahnya umur kita, perjalanan kita menuju Illahi semakin dekat.

Kita patut Merenungi dan melakukan introspeksi  mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Hidup di dunia yang sangat singkat ini, akan menentukan kehidupan kita yang kekal di akhirat nanti.                                                                                                                             Mungkin selama hidup dan kehidupan kita dimuka bumi ini, kita pernah membaca atau mendengar orang lain membacakan talqin:

Sesungguhnya mati itu Benar …..

Alam kubur itu benar …..

Hisab itu benar …..

Padang Mahsyar itu benar…

Surga dan neraka itu benar …..

Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman dalam  QS Adh-Dhuha (93) ayat 4:

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).                                                       .                                                                     Penyelesaian masalah hidup dan kehidupan ini, adalah melalui iman dan amal… Dengan Iman sebesar zarrah, Allah Subhanahu Wata’ala muliakan kita dengan Surga ……….. أمِينْ يَامُجِيبَ السَّائِلِينْ

Semoga uraian ini bermanfaat bagi kita, ahli kita, karib kerabat kita, dan sahabat yang kita cintai.

Billahi taufik walhidayah. Wassalamu’alaikum warohmatullahi.                    Wabarokaatuh

sumber: Broadcast WhatsApp/Komunitas Ayo Mengaji