Setiap Saat Ada Keajaiban

BERBAGAI peristiwa di seputar Covid-19 dalam dua tahun terakhir ini, seakan memperlihatkan di hadapan kita bahwa hakikat mukjizat memang tak pernah bisa dijelaskan secara rasional dan ilmiah.

Dalam kisah-kisah ajaran Talmud (Yahudi), kita membaca tentang pembebasan Baitulmaqdis di Yerusalem, bahkan tentang Nabi Elia yang membangkitkan putera seorang janda yang sudah meninggal. Begitu banyak kisah-kisah Yahudi yang akrab dengan kemukjizatan. Sebagai bangsa pengembara, perjalanan hidup mereka diliputi berbagai peristiwa getir yang berdarah-darah. Mereka bermigrasi dari satu negara ke negara lain. Mengungsi dari satu tempat pengasingan ke pengasingan lain. Mereka pernah diperbudak oleh bangsa Mesir, menyeberangi sungai Yordan bersama Elia dan Yosua, memasuki Yerusalem bersana Daud, hingga diasingkan kembali bersama Zekediah.

David Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel pernah berkata, “Seorang Yahudi yang tidak percaya pada keajaiban, bukanlah seorang realis.” Ia menegaskan, bahwa keajaiban yang dialami bangsa Yahudi, yang “dihajar” bertubi-tubi, dari satu generasi ke generasi lain, membuktikan bahwa keajaiban (mukjizat) sangat berperan kuat di dalamnya.

Namun di sisi lain, jika kita melihat anarkisme tentara Israel, melalui gerakan zionisme yang hendak mendirikan negara Israel dan mengusir warga Palestina, sangat dimungkinkan bahwa kekuatan mukjizat justru akan berpihak kepada warga Palestina. Sebab, demi penegakan keadilan – karena Tuhan Maha Adil – maka kekuatan mukjizat akan senantiasa membela yang lemah dan tak berdaya.

Pada waktunya, keajaiban akan selalu bekerja dengan kuasa Tuhan. Demikian pula dengan keajaiban Alquran yang dipercaya oleh umat Islam sebagai mukjizat, ia tak bisa dijelaskan secara ilmiah dan rasional tulen. Meskipun, ia hanya berupa teks-teks bacaan, tetapi umat Islam mempercayainya sebagai mukjizat sepanjang masa.

Fenomena mukjizat

Mukjizat dan keajaiban adalah manifestasi bahwa ada kekuatan lebih besar ketimbang kekuatan manusia, dan Tuhan mutlak ada di sana. Tuhan dengan sebutan apapun dari nama-nama baik yang dimiliki-Nya, Dia tak bakal terganggu-gugat oleh keinginan dan kehendak pihak lain. Jika Ia mengatakan sesuatu itu terjadi, maka terjadilah. Dia melampaui semua kekuatan akal manusia. Sebagaimana umat Kristiani yang meyakini Yesus semasa bocah telah mampu menciptakan burung dari tanah liat. Di masa dewasanya, Yesus mampu mengubah air menjadi anggur, berjalan di atas air, bahkan menghidupkan orang mati.

Demikian pula dengan Buddha Gautama yang mampu membuat duplikat dirinya, manipulasi elemen, teleportasi, juga menyembuhkan orang-orang sakit.

Dalam khazanah kitab suci Hindu, mukjizat yang berhubungan dengan Dewa Siwa diceritakan mampu menghidupkan kembali puteranya yang dipenggal dengan kepala Gajah, yang kemudian disebut Dewa Ganesha.

Pada prinsipnya, manusia mempercayai apapun yang ingin dipercayai, diyakini, dan diimani. Boleh jadi keimanan dan kepercayaan itu akan menjadi bahan olok-olok bagi kaum atheis, yang dengan mudah bersikap “nyinyir” dan meremehkan keajaiban. Lalu, bagaimana dengan umat beragama yang meremehkan dan mencemooh adanya mukjizat yang menjadi kepercayaan agama lainnya? Bukankah itu merupakan sikap dari atheisme kaum beragama juga?

Tidak jarang, keimanan orang yang percaya pada kebesaran Tuhan, oleh kaum atheis dinilai sebagai delusi belaka. Karena menurut mereka, definisi keajaiban selalu merupakan peristiwa yang tidak biasa dan menyimpang dari pola pikir yang mapan. Orang tiba-tiba harus mempercayai hal-hal dogmatis, tak ada ruang dialog, sementara keimanan dan ketaatan buta tidak dilandasi dengan akal dan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, di luar nalar tetap harus dipecahkan dan dicarikan jawabannya, dengan bantuan ilmu pengetahuan.

Tidak jarang juga dari kaum atheisme baru menyimpulkan bahwa segala sesuatu harus dicari pemecahannya lewat ilmu pengetahuan. Karena ilmu adalah kunci dan kepastian, sementara di luar itu dianggap klenik belaka. Bagi mereka, jika agama berseteru dengan ilmu pengetahuan, maka dahulukan ilmu pengetahuan.

Padahal, bukankah agama menawarkan penjelasan tentang alasan keberadaan peradaban, panduan tentang bagaimana manusia harus menjalani hidup dengan baik, bahkan klarifikasi tentang apa yang mendorong perilaku manusia, serta penjelasan tentang alam semesta ini? Sebagian manusia bahkan percaya, bahwa segala problema hidup, jika ditelusuri silsilah dan latar belakang persoalannya, maka akan ditemukan solusinya melalui kisah-kisah perjalanan para nabi dan rasul, sebagai pembawa risalah demi kebaikan dan perbaikan moral dan peradaban manusia. Bagi mereka, agama adalah satu-satunya peta pengetahuan yang harus dipegang-teguh.

Di sisi lain, jika kita mengutip pernyataan George H. Smith (1979): “Bukankah setiap anak yang lahir adalah atheis dan tidak mengenal Tuhan, dan setiap orang yang tak mengenal Tuhan dengan sendirinya tidak layak disebut theisme.” Berbeda dengan Jung muridnya, Sigmund Freud pernah menyatakan bahwa tindakan kaum beragama adalah tindakan yang irasional, yakni suatu pelampiasan atau pemenuhan hasrat yang tidak masuk akal.”

Dengan konsep kemukjizatan yang saya jelaskan di atas, maka dapat ditemukan jawabannya. Bahwa hakikat Tuhan memang terlalu Agung untuk dijangkau oleh kemampuan rasionalitas manusia. Manusia sangat terbatas, termasuk dalam hal berpikir dan bernalar. Seorang Freud, Camus maupun Baron yang atheis-tulen, tetap tidak sanggup menuangkan gagasannya manakala didera rasa pusing, sakit, lupa, ngantuk, atau bahkan meninggal dunia.

Jika meminjam istilah dari Buddha Gautama: “Ada suatu kekuatan tunggal yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan Dia-lah Yang Maha Mutlak.” Bandingkan pernyataan Buddha tersebut dengan surat al-Ikhlas dalam Alquran, terutama pada ayat-ayat terakhir, “lam yalid walam yulad, walam yakun lahu kufuwan ahad” (tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada wujud yang serupa dengan-Nya).

Tuhan Allah

Umat Islam meyakini bahwa Sesuatu Yang Mutlak itu bernama “Allah”, dan itulah yang dinyatakan dalam Alquran, meskipun di sisi lain Alquran memerintahkan agar umat Islam menghargai adanya nama-nama Tuhan yang dijadikan pegangan oleh umat lainnya (lakum dinukum walia din).

Tuhan Allah sebagai Sang Pencipta, akan senantiasa menyertai kehidupan hamba-hamba-Nya di manapun, kapan pun, dan dalam situasi apapun. Jangan khawatir, Dia akan ada bersama kita, setiap saat, setiap menit dan detik, bahkan keberadaan-Nya lebih dekat dengan urat nadi kita.

Tetapi masalahnya, kapan Dia akan hadir menolong kita pada saat hidup kita galau, sempit, banyak masalah, utang menumpuk, minyak goreng mahal, macet di jalanan. Bukankah semua peristiwa yang kita alami ini hanyalah absurditas belaka? Plis dong akhh!

Itulah dia yang saya maksudkan, bahwa kita tidak seharusnya memahami segala-galanya, karena kita tidak akan pernah bisa memahami semuanya. Bersabarlah dan cepat kembali kepada Allah. Kita diperintahkan untuk bersabar dan terus berdoa, agar kita memiliki kedamaian dan ketenangan batin. Tugas kita sudah selesai, jika kita sudah berdoa dan berusaha seoptimal mungkin. Perkara hasil akhirnya tetap harus kita pasrahkan kepada kehendak dan keputusan Allah.

Menurut Aa Gym, juga menurut Al-Ghazali, Abdul Qadir Al-Jailani, Ali bin Abi Thalib, Muhammad, Buddha Gautama, Zarathustra dan lain-lain: “Bahwa yang terbaik menurut kita, belum tentu menjadi baik menurut Tuhan. Begitupun yang buruk menurut kita, belum tentu menjadi buruk menurut Tuhan. Dia Tahu segala hal, sedangkan kita sedikit tahu dari segalanya.”

Lalu, apakah kita sanggup menciptakan keajaiban-keajaiban? Ya, kita bisa! Tapi berhati-hatilah… sebab, di era medsos dan gegap-gempita pencitraan sekarang ini, banyak orang yang tergelincir meraih keajaiban semu yang mendapat izin dari Allah, tetapi tidak diridhoi oleh-Nya.

Di sini, penting sekali ditegaskan antara izin dan ridho Allah. Jika kita mengejar izin Allah (tanpa ridho-Nya), maka hal tersebut tidak layak disebut karomah maupun mukjizat, melainkan hanya “istidraj”. Inilah yang seringkali disebut dalam istilah sastra sebagai “fatamorgana”. Kekayaan dan kesuksesan semu, yang cepat atau lama, akan terungkap juga motif dan tujuannya.

Kalau kita membaca novel Perasaan Orang Banten, cukup banyak tokoh yang mengejar fatamorgana dan kesenangan sesaat, yang bersifat fana dan semu, tetapi pada hakikatnya si tokoh hanya sibuk menggali lubang yang kelak dapat menjerumuskan dirinya sendiri. Dalam novel tersebut juga terungkap kejutan atau keajaiban-keajaiban yang tak terduga. Tetapi maaf, saya bukan pengamat atau kritikus sastra yang handal, karena itu saya memiliki keterbatasan mengeja, menganalisis, apalagi mencermati keajaiban yang terserak dari peristiwa-peristiwa yang tertuang di dalamnya, yang menurut sebagian penulis cukup laras, jitu dan akurat.

Karena saya sadar bahwa saya bukan kaum intelek yang cermat menganalisis karya sastra, maka saya toh tidak berani mengatakan bahwa segala hal yang terjadi hanyalah soal kebetulan semata, banal, seakan tak ada yang istimewa. Padahal, bukankah dengan mengingkari adanya keajaiban (mukjizat) dalam hidup kita, identik dengan pernyataan “syahadat” bahwa Tuhan tidak ada dan tidak hadir, seakan Dia telah kehilangan kekuatan-Nya, atau Dia sudah tak peduli lagi dengan ciptaan-Nya.

Jika saya kurang sanggup menangkap adanya mukjizat dalam suatu karya sastra, atau dalam suatu peristiwa sejarah, barangkali otak dan pikiran saya terlalu tumpul. Atau, barangkali keajaiban itu memang terlalu canggih untuk dimengerti oleh manusia biasa seperti saya.

Tapi syukurlah, bahwa saya masih hidup hingga hari ini. Saya hanya dapat berikhtiar untuk mencoba memahami, bahwasanya terlalu banyak keajaiban dalam hidup kita sehari-hari, yang boleh jadi terlewatkan dari pembacaan dan pemahaman kita. Termasuk keajaiban Anda menemukan artikel ini dan mencermatinya. []

Oleh: Enzen Okta Rifai, Lc
Alumni International University of Africa (Republik Sudan)
enzenoktarifai@gmail.com

ISLAMPOS