Syukur Nikmat

Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam agar selalu bersyukur.

Syukur nikmat berarti berterima kasih dan memuji kepada yang telah memberi kenikmatan atau kebaikan. Orang yang bersyukur kepada Allah SWT berarti orang yang berterima kasih kepada-Nya dengan memuji-Nya atas kenikmatan yang telah diterima dari-Nya.

Syukur harus dilakukan dengan tiga hal, yaitu lisan, hati, dan anggota badan sebagaimana iman. Orang yang bersyukur kepada Allah SWT atas kenikmatan yang diterima maka ia harus mengakui kenikmatan itu dalam hatinya, kemudian lisannya mengucapkan kalimat hamdalah atau memberitahukannya kepada orang lain. (QS adh-Dhuha [93]:11). Dan, anggota badannya tergerak untuk lebih taat kepada Allah SWT dan memberikan sebagian kenikmatan itu kepada orang lain yang membutuhkan.

Dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam agar selalu bersyukur kepada-Nya. “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS al-Baqarah [2]:152).

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS al-Baqarah [2]:172).

Allah juga menegaskan, orang yang bersyukur kepada-Nya sebenarnya tidak akan berpengaruh sama sekali kepada Allah karena Allah Maha Kaya yang tidak butuh kepada siapa pun, tapi hasil syukur akan kembali kepada dirinya sendiri, begitu juga sebaliknya, orang yang kafir (tidak mau bersyukur), akibatnya akan kembali kepadanya. (QS al-Naml [27]: 40).

Bersyukur kepada Allah adalah sifat yang sangat terpuji dan orang yang bersyukur akan memperoleh hikmah yang banyak. Pertama, Allah akan melipatgandakan nikmat-Nya kepada orang yang mau bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, Allah akan memberikan azab-Nya yang sangat pedih kepada orang yang tidak mau bersyukur kepada-Nya. “Dan, (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS Ibrahim [14]:7)

Kedua, Allah berjanji akan memberikan balasan kepada orang yang bersyukur. “Dan, Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali ‘Imran [3]:144).

Ketiga, Orang yang selalu bersyukur akan mendapatkan surga yang penuh dengan segala kenikmatan. Orang yang selalu bersyukur dalam keadaan apa pun, baik mendapat nikmat maupun musibah, dialah yang nantinya akan mendapatkan kenikmatan yang hakiki di surga.

Syukur nikmat merupakan sifat mulia yang harus dibiasakan sehingga menjadi karakter kita semua. Hanya dengan bersyukurlah, manusia akan dihargai oleh Allah dan juga oleh orang lain, sebaliknya tanpa syukur manusia tidak akan mendapatkan penghargaan dari orang lain, apalagi dari Allah SWT.

Karena itulah, marilah kita selalu bersyukur kepada Allah atas semua kenikmatan yang telah diberikan kepada kita semua. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur kepada-Nya. Wallahu a’lam. 

Oleh Ahmad Agus Fitriawan

KHAZANAH REPUBLIKA

Menjadi Ahli Syukur

SAUDARAKU, bersyukur adalah jalan menjadikan karunia Allah SWT sebagai nikmat bagi kita. Karena karunia Allah sangat berlimpah di dunia ini, tapi hanya bagi orang-orang yang beriman dan bersyukur kepada-Nyalah segala karunia akan menjadi nikmat. Sedangkan bagi orang-orang yang kufur kepada Allah, maka berbagai karunia itu hanya menjadi sumber malapetaka saja.

Maka, tidak heran kalau ada orang yang diberi karunia yang sederhana dalam pandangan manusia, tapi dia sangat bahagia hidupnya. Itu karena ia mensyukuri setiap karunia yang ia terima, meski sekecil apa pun. Sebaliknya, ada orang yang Allah karuniai dengan harta kekayaan berlimpah, namun hidupnya penuh dengan keluh kesah, cemas, dan tidak bahagia. Ternyata karena ia tidak mensyukuri apa yang sudah didapatkan.

Oleh karena itu, mensyukuri karunia Allah yang sudah ada merupakan pengundang karunia Allah yang belum ada. Karunia Allah semakin berlipat-lipat, baik itu berupa lahir maupun batin, dan karunia berupa ketenangan adalah karunia yang sangat besar nilainya. Sedangkan mengkufuri karunia Allah adalah jalan pintas menuju jurang kemurkaan-Nya.

Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Saudaraku, semoga kita menjadi ahli syukur. Mengapa? Karena bersyukur adalah ciri dari orang beriman. Sedangkan orang beriman sebagaimana pesan Rasulullah adalah orang yang menakjubkan, karena ia tiada pernah rugi di dalam hidupnya.

Rasulullah saw bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang yang beriman. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila ia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan, apabila ia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Orang yang pandai bersyukur itu adalah orang yang sangat mengagumkan. Ia terampil melihat sesuatu yang lain di balik setiap kejadian. Bahkan dalam kejadian yang tidak enak sekalipun, ia tetap bisa menemukan kebaikan yang tersembunyi di baliknya. Inilah hebatnya orang yang pandai bersyukur. Selalu mudah menemukan alasan untuk berbaik sangka kepada Allah SWT.

Ketika Allah menakdirkannya ditimpa kesusahan, maka ia ingat bila kesusahan yang dialami bisa menghapuskan catatan dosanya, jika ia menghadapinya dengan berpegang teguh kepada Allah. Tidak ada satu pun peristiwa, bahkan sepahit apa pun yang datang kepadanya kecuali selalu ia sikapi dengan baik sangka kepada Allah, dan rasa optimis bahwa pertolongan Allah sangatlah dekat bagi orang-orang yang yakin kepada-Nya. Masya Allah!

Ketika ia ditimpa musibah kehilangan sesuatu barang, katakanlah kendaraan, maka ia menyempurnakan ikhtiar mencarinya, sembari tetap bisa bersyukur karena masih banyak karunia Allah yang ia miliki. Ia bersyukur bukan iman yang hilang dari hatinya.

Demikianlah istimewanya pribadi yang pandai bersyukur. Setiap babak hidup yang ia hadapi, kemudahan atau pun kesusahan, selalu bisa menjadi celah baginya untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Seperti perumpamaan satu biji benih yang tertimpa hujan, kemudian tumbuh dan semakin besar. Akarnya menghujam ke tanah, batangnya berdiri kokoh, rantingnya menjulang dan dedaunannya rimbun rindang menjadi tempat untuk berteduh berbagai makhluk. Atau, seperti anak sapi yang makan rumput, ia semakin besar dan menghasilkan susu yang bermanfaat bagi lebih banyak makhluk.

Masya Allah! Demikianlah gambaran orang yang bersyukur itu. Allah akan melipatgandakan karunia baginya hingga pelipatgandaan yang tiada pernah terperkirakan sebelumnya.

Oleh karena itu saudaraku, tidak perlu sibuk memikirkan nikmat yang belum ada. Karena nikmat yang belum ada itu sudah janji Allah, akan Ia berikan kepada kita kalau kita bersyukur kepada-Nya. Maka, sikap terbaik adalah mensyukuri nikmat-Nya. Seperti ada lemari yang terkunci dan di dalamnya ada makanan enak yang kita inginkan, lantas apa yang akan kita sibukkan? Apakah memikirkan makanan itu atau memikirkan untuk mencari kuncinya? Tentu kita akan sibuk mencari kuncinya. Nah, syukur adalah kunci!

Pribadi yang pandai bersyukur adalah dambaan kita semua. Semoga kita menjadi pribadi yang pandai bersyukur kepada Allah SWT. Aamiin. [*]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Meniru Energi Syukur Para Nabi

Sungguh dada kita akan berdecak kagum saat melihat para nabi begitu optimistis.

Sungguh dada kita akan berdecak kagum saat melihat para nabi dan rasul Allah begitu optimistis, teguh, dan tenang menghadapi situasi sulit, bahkan sebaliknya teramat luar biasa membahagiakan dan membanggakan. Kala harus berhadapan dengan dua pilihan ekstrem, dipenjara atau berkompromi dengan kebohongan sang majikan yang tergila-gila kepadanya, dengan mantap Nabi Yusuf AS menentukan pilihan luar biasa.

“Yusuf berkata: ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan, jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf [12]:33-34). Kisah di atas menunjukkan, karunia Allah berupa iman dan nikmat lainnya lebih berharga daripada mengorbankannya untuk ajakan yang menistakan masa depan.

Bisa dibayangkan kalau saat ini seseorang tidak bersalah ditawarkan sebuah pilihan, membenarkan kebohongan dan selamat dari penjara serta dijanjikan beragam kedudukan, tentu boleh jadi akan mengalami situasi yang amat sulit. Jika ia sampai lupa pada nikmat iman dan Islam, pilihannya jatuh pada apa yang akan membuatnya tersungkur dalam episode hidup selanjutnya. Kisah tidak kalah menarik adalah optimisme dan energi positif yang begitu dahsyat dari seorang nabi Allah bernama Ayub AS.

Nabi Ayub mendapati keadaan hidup yang teramat berat. Allah mengujinya dengan kondisi fisik yang begitu buruk karena penyakit parah yang bersarang dalam tubuhnya. Kondisi itu menjadikannya mesti rela kehilangan istri, harta, dan anak. Namun, Nabi Ayub sadar, Allah tidak mungkin menganiaya dirinya, dengan penuh keyakinan ia berdoa, “Sesungguhnya kondisi buruk telah menimpaku, sedang Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka singkirkanlah penyakit ini dariku.”

Artinya, Nabi Ayub sadar optimisme bahwa Allah akan memberikan pertolongan lebih patut diutamakan daripada mengeluh. Itulah energi syukur yang teramat luar biasa. Dalam kondisi kehilangan, beliau tetap optimistis dan yakin dengan doa Allah pasti memberikan pertolongan.

Seperti Nabi Yusuf dan Nabi Ayub, Nabi Sulaiman adalah sosok yang pandai bersyukur. Nikmat kekayaan, kekuasaan, bahkan kecerdasan tak menjadikan ia sombong. Sebaliknya ia sangat ingin Allah memberikan energi syukur dalam dadanya. “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS an-Naml [27]: 19).

Oleh: Imam Nawawi

KHAZANAH REPUBLIKA

Nikmat yang Berujung Siksa

MUHAMMAD bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, 2:82)

Allah mencela orang yang disebut kanud yaitu yang tidak mensyukuri nikmat. Mengenai ayat,

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya.” (QS. Al-Adiyat: 6). Al-Hasan Al-Bashri mengatakan mengenai ayat ini, orang yang kanud adalah yang terus menerus menghitung musibah demi musibah, lantas melupakan berbagai nikmat yang telah Allah beri.

Karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kebanyakan wanita menjadi penduduk neraka karena sifat di atas. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu.” (HR. Bukhari, no. 5197 dan Muslim, no. 907). Kalau tidak mensyukuri pemberian suami saja hukumannya seperti ini, padahal hakikatnya nikmat tersebut juga berasal dari Allah, bagaimana lagi jika kita enggan bersyukur atas nikmat Allah sama sekali. Lihat Iddah Ash-Shabirin, hlm. 151.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. [rumaysho]

INILAH MOZAIK

Sabar dan Syukur

Penyandang predikat sabar dan syukur memiliki daya pikir yang kuat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. (QS Lukman [31]: 31)

Sabar terdiri dari huruf shad, ba dan ra,  yang secara bahasa adalah masdar dari fi’il madli, shabara, yang berarti ‘menahan’. Menurut Rasyid Ridho, sabar adalah menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan dengan perasaan rida, ikhtiar, dan penyerahan diri. Dalam maknanya yang lebih luas, sabar mencakup tiga hal, yakni sabar melaksanakan perintah Allah, sabar menjauhi dosa atau maksiat, dan sabar menghadapi kesulitan dan cobaan.

Sedangkan, syukur (al-Syukr) adalah bentuk masdar dari kata kerja lampau syakara. Maknanya adalah mengakui nikmat dan menampakkannya. Lawannya adalah al-Kufr, melupakan nikmat dan menyembunyikannya. Hakikat syukur adalah sikap positif dalam menghadapi nikmat yang mencerminkan hubungan timbal balik antara penerima dan pemberi nikmat. Dalam pandangan al-Ghazali, syukur merupakan salah satu maqam (tempat) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ketika menghadapi berbagai macam musibah, seperti banjir, tanah longsong, dan gempa, kita diperintahkan untuk bersabar dalam menghadapinya seraya mengucapkan, Innalillahi wainna ilaihi rajiun.” (segala sesuatu datangnya dari Allah, dan kita semua akan kembali kepada-Nya). Tentunya, ini disertai dengan tindakan nyata, yakni segera bangkit kembali untuk memulai kehidupan dan tak berputus asa.

 Sebab, dengan kesabaran itu, kita akan dicirikan sebagai orang yang al-mukhbitin atau tunduk dan taat kepada Allah (QS [103]: 34-35), al-Mukhlisin atau orang yang berbuat baik (QS [11]: 115), ulu al-albab atau orang yang arif, dan al-Muttaqin atau ciri orang yang bertakwa (QS [3]: 15-17).

Sebaliknya, jika tidak mengalami musibah tersebut, kita diperintahkan untuk bersyukur dengan mengucap, Alhamdulillahi rabbil alamiin.” (segala puji bagi Allah yang telah menciptakan alam semesta). Rasa syukur itu tidak hanya sebatas ucapan, tetapi juga dalam bentuk tindakkan nyata, yakni dengan membantu saudara-suadara kita yang terkena musibah, baik dalam bentuk materi maupun bukan materi.  Sesungguhnya, musibah dapat menimpa siapapun, kapanpun, dan di mana pun.

Kemampuan yang dimiliki oleh orang yang memiliki predikat sabar dan syukur tidak terbatas dalam memahami tanda-tanda yang dapat diamati dan dirasakan, atau yang bersifat empiris (qauniyah). Namun, mereka juga dapat memahami tanda-tanda dalam bentuk pemberitaan firman Tuhan, seperti termaktub dalam kitab suci, atau ayat qauliyah. 

Dengan mengacu kepada beberapa tanda dalam Alquran, penyandang predikat sabar dan syukur memiliki daya pikir yang kuat, mampu berfikir secara empiris maupun rasional, serta memiliki kepekaan rasa yang tinggi terhadap berbagai hal yang menyenangkan ataupun menyusahkan. Kemampuan tersebut mengantarkan mereka menjadi hamba yang beriman kepada Allah SWT. Wallahu A’lam.

HIKMAH REPUBLIKA


Ungkapan Rasa Syukur

Tak ada alasan bagi Muslim untuk tidak bersyukur kepada Allah.

 

Sebuah hadis diriwayatkan Hakim dari Jabir bin Abdullah RA menyebutkan, di akhirat nanti ada seorang hamba yang telah beribadah selama 500 tahun. Ahli ibadah tersebut pun dipersilakan Allah SWT untuk memasuki surga. “Wahai hamba-Ku, masuklah engkau ke dalam surga karena rahmat-Ku,” bunyi Firman Allah dalam hadis qudsi tersebut.

Namun, ada yang menyangkal dalam hati si ahli ibadah. Mengapa ia masuk surga lantaran rahmat Allah? Bukankah ia telah beribadah selama 500 tahun? “Ya Rabbi, mengapa aku tidak dimasukkan ked alam surga karena amalku?” tanyanya.

Allah SWT pun memperlihatkan nikmat yang telah diberikan-Nya bagi si ahli ibadah. Nikmat Allah tersebut ditimbang dengan seluruh amal ibadah yang telah ia kerjakan. Ternyata, nikmat penglihatan dari sebelah matanya saja sudah melebihi ibadah 500 tahun si ahli ibadah. Akhirnya, si ahli ibadah pun tunduk dihadapan Allah dan menyadari betapa kecilnya nilai ibadahnya.

Tak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak bersyukur kepada Allah. Sebanyak apa pun ibadah yang dilakukan, tak akan sebanding dengan nikmat dan karunia yang telah diterima dari Allah. Demikianlah hakikat dari ibadah, sebagai ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya. Jadi, menunaikan ibadah bukan hanya sebatas “pelunas utang” dan menunaikan kewajiban saja.

Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang dijamin tidak berdosa (maksum) adalah teladan dalam hal bersyukur. Suatu kali, istri beliau SAW bertanya, mengapa suaminya itu selalu shalat tahajud sepanjang malam. Bahkan, kaki beliau SAW pun sudah bengkak lantaran lamanya berdiri. “Ya Rasulullah, bukankah Allah SWT telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” ujar Aisyah.

Aisyah mengisyaratkan, buat apalagi susah-susah ibadah, toh Rasulullah SAW sudah dijamin Allah masuk surga. Seluruh kesalahannya, kalaupun ada, sudah diampuni Allah. Dan, ia adalah makhluk yang paling mulia dimuka bumi. Lalu, mengapa ia masih merepotkan diri dengan ibadah sepanjang malam?

“Bukankah lebih elok jika aku menjadi hamba yang bersyukur,” jawab Rasulullah (HR Bukhari).Demikianlah Rasulullah mencontohkan, hakikat dari ibadah bukanlah sebatas “pelunas utang” atau pembersih diri dari dosa. Ibadah adalah luapan rasa syukur kepada Allah.

Sungguh, sangat banyak hal-hal yang harus disyukuri seorang hamba. Nikmat tersebut baru akan terasa nilainya ketika Allah SWT telah mencabutnya. Jadi, sebelum Allah mencabut nikmat itu, syukurilah keberadaannya.

“Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitungnya (karena banyaknya). Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Penyayang.” (QS an-Nahl [16] : 18).

Ketika seorang hamba sudah mengetahui hakikat ibadahnya sebagai bentuk syukur, saat itulah ibadah bisa menjadi perisainya. Seorang yang menunaikan kewajibannya dan juga menambahnya dengan ibadah-ibadah sunah akan bermuara pada kecintaan Allah. Ketika ia sudah mendapatkan cinta Allah, seluruh aktivitas yang ia jalani di muka bumi adalah restu dan rida dari Allah SWT.

Sebagaimana Firman Allah dalam hadis qudsi: “Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku senangi daripada melaksanakan apa yang Aku fardukan atasnya. Dan, tidak pula hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan melakukan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencitainya. Dan, bila Aku mencintainya, menjadilah Aku telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Apabila ia bermohon kepada-Ku maka pasti Ku kabulkan permohonannya, apabila ia meminta perlindungan-Ku maka pasti ia Ku lindungi. (HR Bukari Muslim).

Mereka yang mendapatkan cinta Allah tersebut juga diistilahkan dengan wali Allah. Tak mudah untuk mengetahui siapa wali Allah tersebut. Tetapi, yang jelas wali Allah adalah ahli ibadah yang menunaikan ibadah sebagai bentuk rasa syukur mereka.

Berhati-hatilah berurusan dengan para wali Allah. Seperti dinyatakan dalam kelanjutan hadis di atas, “Siapa yang memusuhi wali-Ku (orang yang dicintai Allah) maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang dengannya.” ed: hafidz muftisany

 

KHAZANAH REPUBLIKA

Syukur Bukan Hanya Mengucapkan Alhamdulillah

SYUKUR yang tepat, bukan hanya pandai mengucapkan alhamdulillah. Sudah semestinya, syukur itu diwujudkan dalam amalan.

Coba perhatikan ibarat syukur yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,

“Syukur itu dengan hati, dengan tunduk dan merasa tenang. Syukur itu dengan lisan, dengan memuji dan mengakui. Syukur itu dengan anggota badan, yaitu dengan taat dan patuh pada Allah.” (Madarij As-Salikin, 2:246)

Seorang yang dikenal zuhud di masa silam, yaitu Abu Hazim berkata,

“Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, 2:84)

 

INILAH MOZAIK

Banyak Celah untuk Bersyukur

ALHAMDULILLAH. Puji dan syukur hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui segala bisikan di dalam hati, menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqoroh [2] : 152)

Hampir bisa dipastikan setiap kali kita mendapat keberuntungan, misalnya mendapat hadiah uang, memiliki kendaraan baru, punya rumah baru, punya sepatu baru, kita bersyukur kepada Allah Swt, mengucapkan “Alhamdulillah “.

Namun, bagaimana jikalau kita ditimpa kepahitan, misalnya kehilangan uang atau kehilangan kendaraan? Biasanya kita lebih banyak memandang kejadian ini sebagai musibah, bencana yang membuat kita sedih. Padahal, dalam setiap babak hidup kita selalu ada sisi atau celah untuk bersyukur, bahkan dalam kepahitan sekalipun. Karena tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang terjadi secara sia-sia, selalu ada hikmah di baliknya. Dan, setiap kejadian pasti terjadi dengan izin Allah Swt.

Ketika kehilangan kendaraan misalnya. Mengapa kita lantas hanya sibuk memikirkan kendaraanya, hanya sibuk dengan pelaporan pada aparat hukum dan sibuk dengan pencariannya saja? Semestinya kesibukan pertama kita adalah sibuk mengembalikan peristiwa ini kepada Allah dan sibuk introspeksi diri. Boleh jadi ini adalah teguran untuk kita karena selama ini kita lebih sibuk memakai kendaraan tersebut untuk urusan duniawi ketimbang untuk urusan akhirat.

Nah, pelajaran inilah yang jauh lebih berharga dari kendaraan yang hilang itu. Pelajaran inilah yang wajib disyukuri. Pelajaran tentang sabar, husnuzhon pada takdir Allah, dan tawakal pada Allah dalam ikhtiar mencarinya, inilah celah bagi kita untuk selalu bersyukur bahkan dalam kepahitan.

Semakin kita terampil untuk bersyukur, semakin kita menjadi manusia yang tangguh dan bahagia. Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan hidayah kita sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK