Syukur Bukan Hanya Mengucapkan Alhamdulillah

SYUKUR yang tepat, bukan hanya pandai mengucapkan alhamdulillah. Sudah semestinya, syukur itu diwujudkan dalam amalan.

Coba perhatikan ibarat syukur yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,

“Syukur itu dengan hati, dengan tunduk dan merasa tenang. Syukur itu dengan lisan, dengan memuji dan mengakui. Syukur itu dengan anggota badan, yaitu dengan taat dan patuh pada Allah.” (Madarij As-Salikin, 2:246)

Seorang yang dikenal zuhud di masa silam, yaitu Abu Hazim berkata,

“Siapa saja yang bersyukur dengan lisannya, namun tidak bersyukur dengan anggota badan lainnya, itu seperti seseorang yang mengenakan pakaian. Ia ambil ujung pakaian saja, tidak ia kenakan seluruhnya. Maka pakaian tersebut tidaklah manfaat untuknya untuk melindungi dirinya dari dingin, panas, salju dan hujan.” (Jami Al-Ulum wa Al-Hikam, 2:84)

 

INILAH MOZAIK

Banyak Celah untuk Bersyukur

ALHAMDULILLAH. Puji dan syukur hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui segala bisikan di dalam hati, menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqoroh [2] : 152)

Hampir bisa dipastikan setiap kali kita mendapat keberuntungan, misalnya mendapat hadiah uang, memiliki kendaraan baru, punya rumah baru, punya sepatu baru, kita bersyukur kepada Allah Swt, mengucapkan “Alhamdulillah “.

Namun, bagaimana jikalau kita ditimpa kepahitan, misalnya kehilangan uang atau kehilangan kendaraan? Biasanya kita lebih banyak memandang kejadian ini sebagai musibah, bencana yang membuat kita sedih. Padahal, dalam setiap babak hidup kita selalu ada sisi atau celah untuk bersyukur, bahkan dalam kepahitan sekalipun. Karena tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang terjadi secara sia-sia, selalu ada hikmah di baliknya. Dan, setiap kejadian pasti terjadi dengan izin Allah Swt.

Ketika kehilangan kendaraan misalnya. Mengapa kita lantas hanya sibuk memikirkan kendaraanya, hanya sibuk dengan pelaporan pada aparat hukum dan sibuk dengan pencariannya saja? Semestinya kesibukan pertama kita adalah sibuk mengembalikan peristiwa ini kepada Allah dan sibuk introspeksi diri. Boleh jadi ini adalah teguran untuk kita karena selama ini kita lebih sibuk memakai kendaraan tersebut untuk urusan duniawi ketimbang untuk urusan akhirat.

Nah, pelajaran inilah yang jauh lebih berharga dari kendaraan yang hilang itu. Pelajaran inilah yang wajib disyukuri. Pelajaran tentang sabar, husnuzhon pada takdir Allah, dan tawakal pada Allah dalam ikhtiar mencarinya, inilah celah bagi kita untuk selalu bersyukur bahkan dalam kepahitan.

Semakin kita terampil untuk bersyukur, semakin kita menjadi manusia yang tangguh dan bahagia. Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan hidayah kita sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Bersyukur dengan Beribadah

Hakikat dari ibadah adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba.

Sebuah hadis diriwayatkan Hakim dari Jabir bin Abdullah RA menyebutkan, di akhirat nanti ada seorang hamba yang telah beribadah selama 500 tahun.

Ahli ibadah tersebut pun dipersilakan Allah SWT untuk memasuki surga. “Wahai hamba-Ku, masuklah engkau ke dalam surga karena rahmat-Ku,” bunyi Firman Allah dalam hadis qudsi tersebut.

Namun, ada yang menyangkal dalam hati si ahli ibadah. Mengapa ia masuk surga lantaran rahmat Allah? Bukankah ia telah beribadah selama 500 tahun? “Ya Rabbi, mengapa aku tidak dimasukkan kedalam surga karena amalku?” tanyanya.

Allah SWT pun memperlihatkan nikmat yang telah diberikan-Nya bagi si ahli ibadah. Nikmat Allah tersebut ditimbang dengan seluruh amal ibadah yang telah ia kerjakan.

Ternyata, nikmat penglihatan dari sebelah matanya saja sudah melebihi ibadah 500 tahun si ahli ibadah. Akhirnya, si ahli ibadah pun tunduk di hadapan Allah dan menyadari betapa kecilnya nilai ibadahnya.

Tak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak bersyukur kepada Allah. Sebanyak apa pun ibadah yang dilakukan, tak akan sebanding dengan nikmat dan karunia yang telah diterima dari Allah.

Demikianlah hakikat dari ibadah, sebagai ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya. Jadi, menunaikan ibadah bukan hanya sebatas pelunas utang dan menunaikan kewajiban saja.

Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang dijamin tidak berdosa (maksum) adalah teladan dalam hal bersyukur. Suatu kali, istri beliau SAW bertanya, mengapa suaminya itu selalu shalat tahajud sepanjang malam.

Bahkan, kaki beliau SAW pun sudah bengkak lantaran lamanya berdiri. “Ya Rasulullah, bukankah Allah SWT telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” ujar Aisyah.

Aisyah mengisyaratkan, buat apalagi susah-susah ibadah, toh Rasulullah SAW sudah dijamin Allah masuk surga. Seluruh kesalahannya, kalaupun ada, sudah diampuni Allah.

Dan, ia adalah makhluk yang paling mulia dimuka bumi. Lalu, mengapa ia masih merepotkan diri dengan ibadah sepanjang malam? “Bukankah lebih elok jika aku menjadi hamba yang bersyukur,” jawab Rasulullah (HR Bukhari).

Demikianlah Rasulullah SAW mencontohkan, hakikat dari ibadah bukanlah sebatas pelunas utang atau pembersih diri dari dosa. Ibadah adalah luapan rasa syukur kepada Allah SWT.

Sungguh, sangat banyak hal yang harus disyukuri seorang hamba. Nikmat tersebut baru akan terasa nilainya ketika Allah SWT telah mencabutnya. Jadi, sebelum Allah mencabut nikmat itu, syukurilah keberadaannya.

Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitungnya (karena banyaknya). Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Penyayang.” (QS an-Nahl [16] : 18).

Ketika seorang hamba sudah mengetahui hakikat ibadahnya sebagai bentuk syukur, saat itulah ibadah bisa menjadi perisainya. Seorang yang menunaikan kewajibannya dan juga menambahnya dengan ibadah-ibadah sunah akan bermuara pada kecintaan Allah. Ketika ia sudah mendapatkan cinta Allah, seluruh aktivitas yang ia jalani di muka bumi adalah restu dan rida dari Allah SWT.

Sebagaimana Firman Allah dalam hadis qudsi: “Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku senangi daripada melaksanakan apa yang Aku fardukan atasnya. Dan, tidak pula hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan melakukan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencitainya. Dan, bila Aku mencintainya, menjadilah Aku telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Apabila ia bermohon kepada-Ku maka pasti Ku kabulkan permohonannya, apabila ia meminta perlindungan-Ku maka pasti ia Ku lindungi. (HR Bukari Muslim).

Mereka yang mendapatkan cinta Allah tersebut juga diistilahkan dengan wali Allah. Tak mudah untuk mengetahui siapa wali Allah tersebut. Tetapi, yang jelas wali Allah adalah ahli ibadah yang menunaikan ibadah sebagai bentuk rasa syukur mereka.

Berhati-hatilah berurusan dengan para wali Allah. Seperti dinyatakan dalam kelanjutan hadis di atas, “Siapa yang memusuhi wali-Ku (orang yang dicintai Allah) maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang dengannya.”

 

Oleh: Hannan Putra

REPUBLIKA 

Syukuri Apa yang Ada

IMAM al-Ghazali menyampaikan satu perumpamaan indah yang layak kita renungkan bersama agar hidup ini tak selalu digelisahkan oleh kompetisi hidup tanpa akhir. Beliau berkata: “Air sedikit membuatmu bangkit, air banyak membuatmu tenggelam. Belajarlah selalu untuk merasa cukup dengan apa yang dimiliki.”

Faktanya, ada orang yang memiliki harta tak begitu banyak yang terlihat lebih enjoy. Tak terlalu sibuk dengan manajemen harta yang menghabiskan seluruh waktu hidupnya. Mereka lebih leluasa bersibuk diri dengan ibadah. Sebagaimana ada yang banyak harta yang menghabiskan hari-harinya hanya untuk mengurusi hartanya.

Tentu saja itu tergantung orangnya, bagaimana mereka merespon hidup ini. Tapi, cobalah hadir kunjungi desa, di mana para petani mencukupkan diri dengan yang dimiliki, mensyukuri apa yang dipunya walau sedikit jika dihitung dengan angka. Siang selepas dhuhur mereka istirahat di serambi surau atau langgar, malam selepas maghrib mereka duduk bertadarrus, dan selepas itu bercengkerama dengan keluarga. Asyik, bukan?

Kemudian datanglah ke kota besar yang berjulukkan kota tak pernah tidur karena saat malampun masih banyak orang yang lalu lalang di jalanan berburu uang dan jenis rizki lainnya. Masjid hanya dibuka saat shalat, itupun tak penuh dengan jamaah. Yang hadir terlihat terburu-buru menyiratkan pesan bahwa shalat sesungguhnya mengganggu aktivitas mereka. Tak ada tegur sapa ramah karena tegur sapa orang kota mensyaratkan adanya uang. Sungguh mereka tenggelam dalam gelimang duniawi.

Ingin tenang dan bahagia? Syukuri apa yang ada. Gunakan di jalan yang disuka Allah. Malaikat akan diutusNya untuk membisikkan bahagia ke dalam hati kita.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

31 Pertanyaan Allah SWT di dalam Surat Ar-Rahman

Ada yang istimewa dari Surat ar-Rahman, yaitu adanya pengulang-ulangan ayat yang berbunyi:

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Kalimat itu diulang sebanyak 31 kali dalam surah ar-Rahman.

Arti dari ayat ini adalah: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ” Ungkapan ini ditujukan kepada bangsa jin dan manusia.

Apa gerangan hebatnya kalimat itu hingga Allah perlu mengulanginya sampai 31 kali? Setelah Allah menguraikan beberapa nikmat yang dianugerahkan pada kita, Allah selalu bertanya: “Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yg kamu dustakan?”

Mari perhatikan bahwa Allah menggunakan kata “DUSTA”, bukan kata “INGKAR”. Hal ini menunjukkan bahwa nikmat yg Dia berikan kpd manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya.Dusta berarti menyembunyikan kebenaran, dusta sangat dekat dengan kesombongan yang acap tolak kebenaran dan menyepelekan hal lain kecuali dirinya.

Contoh sederhananya, kerapkah kala kita mendapat uang banyak, kita lalu pongah dan merasa bahwa itu akibat kerja keras kita?

Pula saat angkat toga raih gelar sarjana, munculkah ujub hati berbisik tokoh ini karena otak kita yg cerdas? Saat giat semangat dalam sehat bugar jauh dari sakit, jumawa rasa ini telah sukses olah raga, karena diet yang dijaga, atau merasa akan selalu perkasa?

Segala nikmat yang dianugrahkanNya kita klaim murni usaha kita? Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiranNya di semua keberhasilan, lalu kita dustakan seakan nikmat itu semuanya datang tanpa izin Allah?

Maka nikmat Tuhan yg mana lagi yg kita dustakan? Janganlah alpa bahwa kenikmatan yang mengalir sejak lahir, ada Dia yg selalu hadir.

Harta, pasangan hidup, anak/cucu, kebun subur, perniagaan makmur, bahkan seteguk hirupan nafas pun ada peran RahmanNya. Ingatlah pula, semua nikmat itu akan ditanya di hari kiamat kelak. “Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan nikmat yg kamu peroleh saat ini” (At Takatsur: 8)

bacalah ayat dalam Surat Fushshilat [41]: 50, yang artinya: “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang”

Kita adalah mahluk pelupa, dan Allah mengingatkan kita berulang-ulang …maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Sudah siapkah kita menjawab dan mempertanggungjawabkannya ? “Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya” (An-Nahl: 18)

Tak patutkah kita bersyukur kepada-Nya? Ucapkan Alhamdulillah, stop mengeluh & jalani hidup berma’rifat ibadah ikhlas sebagai bagian dari rasa syukur kita.

“La in syakartum laa adziidanakum wa la’in kafartum inna azabi lasyadid”

Sungguh jika (kamu) bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU) maka sesungguhnya azab-KU akan sangat pedih”. (QS. Ibrahim ayat 7).

Alquran Sebut Syukur dan Bala’ 75 Kali, Apa Hikmahnya?

Alquran menyebut kata “syukur” sebanyak 75 kali. Alquran pun menyebut kata “bala’” (ujian atau cobaan) 75 kali. Tentunya ini bukan hal kebetulan.

“Alquran menyebut kata ‘syukur’ dan ‘bala’’ masing-masing 75 kali. Tentunya ini ada hikmahnya. Hikmahnya adalah manusia yang pandai bersyukur kepada Allah, hidupnya tercegah dar segala malam bala’ atau musibah dan ujian,” kata Habib Abdurrahman Al-Habsy saat mengisi pengajian guru Sekolah Bosowa Bina Insani di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat, Jumat (20/10) pagi.

Sebaliknya, Abdurrahman menambahkan, orang yang hidupnya kurang bersyukur dan pandai mengeluh, maka hidupnya tidak akan bahagia. “Manusia yang tidak pandai bersyukur , hidupnya akan akrab dengan musibah dan bencana,” ujarnya.

Syukur, kata Abdurrahman, merupakan maqam (kedudukan) yang tinggi di sisi Allah. Syukur merupakan tanda pengabdian seorang hamba kepada Allah. Syukur adalah tanda penghubung seorang hamba kepada Tuhannya.

Hal itu dikemukakan dalam salah satu ayat Alquran yang artinya, “Dan bersyukurlah kepada Allah, jika hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah: 72)

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW menegaskan, “Manfaatkanlah yang lima sebelum datang lima perkara yang lain: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Baihaki).

“Kalau kita cermati, hadits Rasulullah SAW mengajari kita untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Pemanfaatan waktu dengan sebaik mungkin itu merupakan maifestasi dari rasa syukur kepada Allah,” kata Abdurrahman.

Ia juga mengutip Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

“Redaksi ayat ini bersifat umum dan berlaku bagi siapa saja. Intinya adalah siapa pun yang pandai bersyukur kepada Tuhan, apa pun latar belakang agama dan kepercayaannya, Allah tambahkan nikmatnya di dunia,” tuturnya.

Karena itu, kata Habiburrahman, setiap Muslim harus selalu memelihara energi syukur dalam hidupnya. “Hendaklah sebagai Muslim kita selalu bersyukur ‘ala kulli hal (dalam setiap keadaan). Energi syukur perlu terus kita jaga, bahkan tingkatkan. Itulah jalan hidup bahagia di dunia maupun akhirat,” papar Habib Abdurrahman Al-Habsy.

 

REPUBLIKA

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Bersyukurlah Maka Nikmat akan Semakin Semarak

Hari ini mari kita renungkan kisah pendek berhikmah berikut ini: Suatu saat Abdul Warits bin Saad menjenguk seseorang yang sedang sakit. Beliau bertanya: “Bagaimana dirimu?” Orang yang dijenguk itu menjawab: “Saya tidak bisa tidur sudah 40 malam.” Abdul Warits itu berkata: “Halaaah, anda ini menghitung waktu derita. Mengapa anda tidak menghitung waktu senang bahagia yang telah kamu lalui?”

Ingatlah bahagiamu, syukuri. Jangan fokus pada deritamu lalu terus menerus mengeluh. Keluhan hanya akan menambah keruh suasana hati, sementara bersyukur akan menghapus derita dan menggantikannya dengan semaraknya anugerah.

Bacalah sejarah dan lihatlah kehidupan orang-orang besar di sekelilingmu, apakah mereka pengeluh? Tersenyumlah, semangatlah dan bersyukurlah. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Manfaat Bersyukur pada Hal yang Sepele

LIHATLAH orang sakit, perhatikan yang tertimpa bencana, lihat orang terpenjara, kan kau dapati, pada dirimu ternyata menyimpan segudang nikmat.

Nikmat itu yang penting bukan apa yang kita miliki, tapi apa yang kita rasakan dan syukuri. Apa yang ada dan kau syukuri, lebih baik dari keinginan yang tak kunjung terwujud.

Dua orang mendapatkan keuntungan yang sama. Bisa jadi yang satu merasa untung tiada kira, yang satu merasa kurang dan merana. Ini soal bagaimana mensyukuri. Dalam bahasa Arab antara nikmat dan niqmah yang berarti azab sangat tipis bedanya. Nikmat yang sama dapat jadi berkah, dapat jadi azab.

Nikmat menjadi berkah, ketika kita gunakan pada apa yang Allah cintai dan ridai, tapi jadi sumber azab, kalau digunakan di jalan kemaksiatan. Bahkan dalam kekurangan, keterbatasan, keterhalangan, keterdesakan boleh jadi tersimpan nikmat.

Betapa banyak kekurangan kita menyebabkan berkurangnya potensi keburukan yang akan kita dapatkan apabila diberi kelebihan. Betapa banyak keterhalangan kita, menghalangi kita untuk melakukan perbuatan nista dan tercela dibanding bila segalanya terbuka.

Betapa banyak keterdesakan kita, mendesak kita untuk kuat berikhtiar dan kian pasrah, dibanding apabila segalanya serba lapang kita rasakan. Betapa banyak keterpurukan kita, membuat kita terpuruk dan tersungkur di hadapan kebesaran Allah, memohon ampun dan pertolongan-Nya.

Belajarlah mensyukuri hal-hal yang dianggap sepele, udara segar, tidur nyenyak, pedasnya sambal, anak-anak sehat, keluarga rukun dan lain-lain. Yang mudah mensyukuri hal-hal kecil, tentu akan lebih bersyukur pada kenikmatan yang lebih besar.

Wallahu A’lam. [Ustadz Abdullah Haidir Lc]

 

MOZAIK

Bersyukur Ketika Senang, Bersabar Ketika Mendapat Bencana

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur di saat senang dan bersabar di saat susah, bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”[2].

Dalam Al-Qur’an, Allah memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31).

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

  • Imam Ibnul Qayyim berkata: “(Hadits di atas menunjukkan bahwa) tingkatan-tingkatan iman seluruhnya  (berkisar) antara sabar dan syukur”[3].
  • Kehidupan seorang mukmin seluruhnya bernilai kebaikan dan pahala di sisi Allah, baik dalam kondisi yang terlihat membuatnya senang ataupun susah.
  • Seorang hamba yang sempurna imannya akan selalu bersyukur kepada Allah ketika senang dan bersabar ketika susah, maka dalam semua keadaan dia senantiasa ridha kepada Allah dalam segala ketentuan takdir-Nya, sehingga kesusahan dan musibah yang menimpanya berubah menjadi nikmat dan anugerah baginya.
  • Orang yang tidak beriman akan selalu berkeluh kesah dan murka ketika ditimpa musibah, sehinnga semua dosa dan keburukan akan menimpanya, dosa di dunia karena ketidaksabaran dan ketidakridhaannya terhadap ketentuan takdir Allah, serta di akhirat mendapat siksa neraka.
  • Keutamaan dan kebaikan dalam semua keadaan hanya akan diraih oleh orang-orang yang sempurna imannya[4].
  • Rukun sabar ada tiga yaitu: menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah I, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang (Allah), seperti menampar wajah (ketika terjadi musibah), merobek pakaian, memotong rambut dan sebagainya[5].
  • Rukun syukur juga ada tiga:
    1. mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah Ta’ala,
    2. menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara lahir (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalm rangkan mensyukurinya),
    3. menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah[6].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Catatan Kaki

[1] HSR Muslim (no. 2999).
[2] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “’Uddatush shaabiriin” (hal. 88).
[3] Kitab “Thariiqul hijratain” (hal. 399).
[4] Keempat faidah di atas kami nukil dari kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/82-83).
[5] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Waabilish shayyib” (hal. 11).
[6] Ibid.

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id