Titip Salam untuk Rasulullah SAW

Titip Salam untuk Rasulullah SAW

Allahumma shalli alaa sayyidina Muhammad wa alaa aali sayyidina Muhammad.

Ya Nabi salam ‘alaika

ya Habib salam alaika

Ya Rasul salam ‘alaika

Shalawatullah ‘alaika.

Assalamu’alaika, wahai kekasih Allah.

Alhamdulillah, shalawat dan salam untuk Rasulullah.

Segala puji bagi Allah. Akhirnya, penulis bisa menginjakkan kaki di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawarah. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa bagi siapa saja yang datang ke Madinah. Entah itu untuk melaksanakan ibadah atau berziarah di seputar wilayah kota penuh berkah ini.

Bagi umat Islam, ketika melaksanakan haji atau umrah rasanya kurang afdol bila tidak datang ke Madinah, khususnya Masjid Nabawi. Sebab, salah satu bangunannya terdapat yang disebut oleh Rasulullah dengan nama Raudhah al Jannah atau taman surga.

Maka, umat Islam pun berbondong-bondong untuk bisa melaksanakan shalat di lokasi tersebut baik shalat fardu maupun shalat sunah lainnya.

Karena itu pula, Masjid Nabawi, khususnya Raudhah, selalu menjadi primadona atau rebutan umat Islam untuk melaksanakan shalat di tempat tersebut.

Mereka begitu bersemangat untuk shalat di Masjid Nabawi, khususnya Raudhah. Apalagi,  ada hadis yang menyatakan, shalat di Masjid Nabawi pahalanya sama dengan 1000 kali di masjid lain, sekalian Masjidil Haram yang bernilai pahala hingga 100 ribu kali.

Penulis bersyukur bisa shalat di Masjid Nabawi dan Raudhah. Bagaimana perasaan seusai shalat di tempat tersebut, sepertinya tak perlu penulis ungkapkan dalam artikel ini. Yang pasti senang dan penuh haru.

Ada hal menarik. Jauh hari sebelum berangkat ke Tanah Suci, sejumlah sahabat dan relasi menyampaikan sejumlah pesan dan titipan kepada penulis bila tiba di Madinah.

Di antaranya agar dimudahkan ke Tanah Suci, mohon didoakan agar rezeki lancar, usaha sukses, dan diberikan anak atau keturunan yang saleh-salehah. Bagi yang belum punya anak, minta didoakan agar segera punya momongan. Kita doakan, semoga apa yang dihajatkan tersebut dikabulkan Allah SWT. Aamiin.

Sri Handayani misalnya, sahabat dan rekan sejawat, secara khusus meminta didoakan agar segera punya momongan. Begitu juga Nurjannah, dia juga memohon didoakan di raudhah agar Allah mengaruniakan kepadanya seorang anak. Dan banyak lagi sahabat yang meminta doa yang sama. Semoga Allah kabulkan. Aamiin.

Satu hal menarik yang dapat penulis kemukakan pada tulisan ini adalah soal titip salam. “Sampaikan salam kami untuk Rasulullah,” harap sejumlah sahabat kepada penulis. Mereka menitipkan salam untuk Rasulullah.

Assalamu’alaika ya Rasulallah. Sambutlah salam mereka wahai Kekasih Allah. Kami semua, umat Islam ini, adalah umat engkau. Umat yang merindukan dirimu, dapat berjumpa denganmu. Walau hanya dalam mimpi.

Dan engkau pun wahai Rasulullah, pernah bertanya kepada sahabat-sahabatmu, bahwa engkau merindukan kami, umatmu ini. Engkau membanggakan umat akhir zaman ini di hadapan sahabat-sahabatmu bahwa engkau merindukan kami.

Wahai Rasulullah, kami mungkin belum sepenuhnya menjadi teladan yang baik bagi yang lain, seusai harapan engkau. Tapi percayalah, kami mencintai-Mu. Kami menyayangimu, wahai Rasulullah.

Allahumma shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali Sayyidina Muhammad.

Ada diskusi menarik di kalangan generasi salaf, tentang kebiasaan mereka mengirimkan salam untuk Rasulullah SAW meski jarak yang berjauhan, melalui ‘mereka yang ke Madinah’. Istilah lain, tukang pos, yang menyampaikan surat kepada orang yang ditujukan. Mereka kerap menitipkan salam untuk Rasulullah kepada kerabat atau kolega yang hendak pergi menuju Madinah.

Sayyid Muhamamad bin ‘Alawi al-Maliki dalam kitabnya yang berjudul Mafahim Yajib an-Tushahhah telah memaparkan beberapa kisah tentang kebiasaan tersebut. Di antaranya cerita yang dinukilkan dari Qadhi ‘Iyadh dalam kitab as-Syifa berikut ini.

Suatu ketika Yazid al-Mahdi yang hendak pergi menuju Madinah, berpamitan dengan Umar bin Abdul Aziz yang berada di Baghdad ketika itu.

Yazid bertanya kepadanya, “Ada titipan apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?” “Saya melihat Anda menuju Madinah, jika sampai di Makam Rasulullah SAW, sampaikan salam saya untuk Baginda Rasul.”

Imam al-Khafaji menjelaskan, di antara rutinitas generasi salaf yaitu mereka mengirimkan salam untuk Rasululah SAW, seperti yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz.

Bahkan, sejumlah riwayat menyebutkan Abdullah bin Umar tidak hanya berkirim salam ke Baginda Rasul, tetapi juga ke para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab, meski jaraknya berjauhan hingga ribuan mil.

Dalam berbagai bacaan dan artikel di media massa, ada tulisan yang menjelaskan tentang budaya titip salam untuk Rasulullah ini.

Dalam Islam, tradisi titip salam sudah dikenal sejak masa Nabi Saw. masih hidup. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Malaikat Jibril pernah menitipkan salam kepada Sayidah Aisyah melalui Nabi Saw. Hadis dimaksud diriwayatkan Imam Bukhari dari Sayidah Aisyah, dia berkata bahwa Nabi Saw. berkata kepadanya.

“Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu. Kemudian Aisyah berkata, ‘Salam juga untuknya, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadanya. Engkau dapat melihat perkara-perkara yang tidak dapat aku lihat –yang dimaksud adalah Nabi Saw.’”

Bahkan ketika Nabi wafat, ada malaikat yang memang bertugas menyampaikan salawat dan salam dari umatnya untuk beliau. Dalam hadis riwayat Imam Nasa’i dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi Saw. bersabda; “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di muka bumi, mereka menyampaikan salam untukku dari seluruh umatku.”

Dari hadis ini, meski Nabi Saw. sudah wafat, para ulama membolehkan menitipkan salam untuk disampaikan kepada beliau melalui jamaah haji atau lainnya.

Dalam kitab Al Majmu, Imam Nawawi mengajarkan cara menyampaikan titipan salam untuk Nabi Muhammad Saw. dari orang lain.

“Assalamu ‘alaika Ya Rasulullah dari ..(sebut nama orang yang menitipkan salam). Atau, ……(sebut nama orang yang menitipkan salam) mengucapkan salam kepada engkau wahai Rasulullah.”

IHRAM