Shalat, Obat Hati dan Bekal Rohani

SHALAT yang khusyu’  mewujudkan ubudiah yang benar-benar karena Allah, ikhlas, pasrah, rendah diri terhadap Zat Yang Mahasuci. Di dalam shalat, mereka meminta segala sesuatu kepada Allah dan meminta dari Nya hidayah untuk menuju jalan yang lurus, dan Allah Mahakaya lagi mulia. Kepada-Nyalah, seseorang berkenan memohon ijabah dan mencurahkan segala sesuatu, baik dalam hal cahaya hidayah, limpahan rahmat, maupun ketenangan.

Shalat pada hakikatnya merupakan sarana terbaik untuk mendidik jiwa dan memperbarui semangat dan sekaligus sebagai peyucian akhlak. Bagi pelakunya sendiri, shalat merupakan tali penguat yang dapat mengendalikan diri. Ia adalah pelipur lara dan pengaman dari rasa takut dan cemas, juga memperkuat kelemahan dan senjata bagi yang merasa terasing.

Dengan shalat, kita dapat memohon pertolongan atas ujian zaman, tekanan-tekanan orang lain, dan kekejaman pada durjana. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang beriman, jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS: Al- Baqarah: 153 )

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam ketika menghadapi persoalan genting, beliau berlindung melalui shalat. Ruku dan sujud dalam shalatnya dilakukan secara khusyu’  , membawa rasa dekat kepada Allah. Bersama Allah pula, beliau merasa berada di suatu tempat atau sandaran yang kokoh, sehingga merasakan aman tenteram, percaya diri, dan penuh keyakinan, dan memperoleh perasaan damai, sabar terhadap segala bentuk ujian dan cobaan, serta rela terhadap takdir Allah atas dasar kesetiaan sejati dan kejujuran, dan memperkokoh cita-cita yang besar dalam kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya bagi hamba-Nya yang beriman dan bekerja secara jujur tanpa pamrih.

Shalat itu membersihkan jiwa dan menyucikan dari sifat-sifat buruk, khususnya sifat-sifat yang dapat mengalahkan cara hidup materialis, seperti: menjadikan dunia itu lebih penting daripada segala-galanya, mengomersialkan ilmu, dan mencampakkan rohaninya. Kasus semacam ini dicontohkan Allah Subhanahu Wata’ala dalam ayat,

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً

وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً

إِلَّا الْمُصَلِّينَ

الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” ( QS:Al–Ma’aarij :19-23)

Dalam ayat lain,

 “… Sesunguhnya shalat itu mencegah dari [ perbuatan-perbuatan ] keji dan mungkar…”  ( Al-Ankabuut : 45 )

Orang yang benar-benar melaksanakan shalat, dari shalat yang satu ke shalat lain, merasakan sempitnya waktu di dalam bersimpuh di bawah kekuasaan Allah. Ia memohon kepada-Nya untuk ditunjukkan jalan yang lurus dalam keadaan pasrah dan khusyu’  . Begitulah seterusnya dalam menyambut shalat berikutnya, sehingga terasa taka da putus-putusnya hubungan dengan-Nya, dan tidak putus-putusnya pula mengingat Allah, diantara shalat yang satu dengan yang lain, sehingga tak sempat lagi melakukan maksiat. Demikianlah Allah menaungi hamba-Nya yang memelihara shalatnya karena merindukan perjumpaan dengan-Nya dan sama sekali tidak mungkin menjauhkan-Nya.

Bagi siapa saja yang memelihara waktu-waktu shalat dan tujuan shalatnya benar-benar karena Allah, melatih dirinya menentang dan mengalahkan arus kesibukan hidup, tidak mendahulukan kepentingan materi, dengan demikian jiwanya mampu menaklukkan ujian dunia beserta kesenangannya, begitu pula dalam menumpuk-numpuk harta.

Allah berfirman,

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak [pula] oleh jual beli dari mengingat Allah, dan [dari] mendirikan shalat, dan [dari] membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang [di hari itu] hati dan penglihatan menjadi gonjang.”  (QS: An-Nuur : 37 )

Dalam shalat terdapat bekas dan kesan pendidikan lainnya. Misalnya, mendidik jiwa seseorang, yang dengan shalat itu, ia mampu merasakan wujud dari kesatuan umat di kalangan kaum muslimin diseluruh penjuru dunia yang mengarahkan sasaran shalat mereka ke satu tempat yang sama, yaitu Baitullah al-Haram. Perasaan persatuan ini juga menimbulkan saling pengertian dan saling melengkapi sesame kaum muslimin dalam kehidupan atau tanah air yang satu, yang terhimpun di dalam masjid setiap shalat.

Setiap shalat, mereka selalu memperhatikan tibanya waktu shalat dan menjaga atau berusaha keras untuk menunaikan secara tepat pada waktunya, sesuai dengan ketentuan syara. Mereka juga menaklukkan nafsunya untuk tidak tenggelam dalam kesibukan-kesibukan demi terlaksananya kewajiban-kewajiban terhadap Rabb-Nya.

Juga menyangkut tertibnya shalat berjamaah yang barisnya lurus di belakang imam tanpa adanya celah kosong ( antara makmum yang satu dan makmum lainnya, di kanan dan di kirinya ), hal ini berarti mengembalikan kaum muslimim pada perlunya Nizham  ( tertib organisasi ).

Adapun yang berkaitan dengan disiplin terhadap imam yaitu tidak mendahuluinya, menunjukkan adanya ketaatan mutlak dan komitmen atau loyal, serta meniadakan penolakan terhadap perintah-perintahnya.

Kemudian berkaitan dengan imam yang lalai ( dalam bacaan, misalnya ) diharuskan bagi makmum untuk mengingatkannya (dengan membaca subhanallah) ini menunjukkan keharusan  makmum menegur atau mengingatkan pemimpinnya jika lalai atau melakukan kesalahan.

Demikian juga pada shalat berjamaah, agar diperhatikan dalam pengisian shaf , yaitu agar tidak didasarkan atas status social jamaah, juga tidak memandang  kekayaan atau pangkat walaupun dalam shaf  terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak ( al-musaawah) tanpa mempedulikan tingginya kedudukan maupun tuanya umur.

Shalat pun memberikan kesan kesehatan, yang terwujud dalam gerakan-gerakan pada setiap rakaatnya, yaitu pada shalat fardhu, lima kali sehari (17 Rakaat) secara seimbang. Hal ini menunjukkan suatu olahraga fisik pada waktu yang teratur, dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dalam gerakan-gerakannya.*/Ziyad Makareem, dari buku Berjumpa Allah lewat Shalat karya Syekh Mustafa

 

HIDYATULLAH

Menjodohkan Anak tanpa Izin, Bolehkah?

Perjodohan masih menjadi permasalahan klasik yang terus menyeruak pada era modern. Perempuan-perempuan masa kini menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya dengan alasan zaman. Kisah Siti Nurbaya dijadikan alasan jika perjodohan hanya identik dengan predikat kuno dan primitif.

Sebenarnya, bolehkah seorang orang tua atau wali menjodohkan anak perempuannya tanpa kerelaan sang anak? Pembahasan tentang perjodohan anak perempuan mendapat perhatian dari para ulama. Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya menjodohkan anak perempuan tanpa kerelaan sang anak.

Perwalian hakikatnya adalah hak yang diberikan Islam kepada sebagian orang atas orang lain dengan tujuan tertentu demi merealisasikan kemaslahatan dan mencegah kemudaratan. Orang yang memiliki hak perwalian ini wajib ditaati oleh orang yang diwalikan kepadanya baik suka maupun tidak suka.

Dua sebab terjadinya perwalian, yakni adanya ketidakmampuan dan ketidaklayakan pada seseorang. Adanya salah satu dari dua sebab ini, menurut para ulama, cukup untuk menjadikan berlakunya hak perwalian orang lain atasnya.

Dalam kitab ad-Duur al-Mukhtar disebutkan perwalian adalah pemberlakuan pendapat atas orang lain. Para ulama menyebut hak perwalian yang otomatis berlaku baik suka maupun tidak suka dengan sebutan hak perwalian ijbar (pemaksaan).

Menurut ulama Hanafiyah, perwalian ijbar tidak dilakukan, kecuali atas anak perempuan yang masih kecil (belum baligh) dengan illat (sebab) perwalian ini merupakan usia anak yang masih kecil. Masih menurut  ulama Hanafiyah, jenis perwalian tersebut tidak berlaku pada anak gadis yang sudah baligh. Anak yang  sudah baligh tidak mendapatkan pemaksaan dalam perwalian, namun hanya berupa anjuran. Hal ini termasuk urusan pernikahan.

Kitab Tabyin al-Haqaiq menyebutkan bahwa perwalian dalam nikah ada dua. Pertama, perwalian yang dianjurkan saja untuk wanita baligh dan berakal baik perawan atau sudah menikah. Kedua, perwalian ijbar, yakni perwalian atas gadis kecil yang sifatnya mengikat.

Ulama dari kalangan Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa perwalian ijbar ini ditujukan kepada setiap gadis perawan baik yang masih kecil maupun yang telah baligh. Ulama Malikiyah hanya memberikan hak ini kepada ayahnya saja, semdangkan ulama Syafi’iyah memberikannya kepada ayah dan kakek.

Al-Baqi dalam al-Muntaqa berkata, “Kakek dan para wali selain ayah tidak boleh memaksa gadis perawan untuk menikah. Inilah yang dikatakan Malik.”

Seorang ulama Syafi’iyah, As-Suyuthi dalam al-Asybah wa an-Nazhair berpendapat bahwa ayah dan kakek memiliki beberapa hukum yang khusus, di antaranya hak perwalian ijbar untuk menikahkan anak perempuan dan laki-laki.

Al-Khatib asy-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj berpendapat, ayah berhak menikahkan gadis perawan baik masih kecil maupun telah dewasa tanpa izin darinya. Namun, disunahkan untuk meminta izin darinya. Ayah  tidak boleh menikahkan anak yang pernah menikah, kecuali dengan izinnya. Posisi kakek seperti ayah jika ia telah tiada.

Mantan mufti agung Mesir Syekh Prof Ali Jum’ah Muhammad berpendapat sesuai dengan Mazhab Hanafiyah. Syarat terlaksananya pernikahan dari seorang wali atas anak perempuannya yang telah baligh dan berakal, yaitu adanya izin dan kerelaan dari sang anak.

Dalam kitab al-Umm, Imam Syafi’i berpendapat tentang pelibatan sang anak perempuan dalam rencana pernikahan. “Jika seorang wali menikahkan anak perempuan dengan orang berpenyakit kusta, orang gila, atau yang dikebiri maka pernikahan tersebut tidak boleh. Jika anak tersebut telah baligh, ia memiliki hak khiyar (memilih) bila mengetahui penyakit-penyakit tersebut sejak awal.”

Jika seorang anak gadis telah dinikahkan tanpa kerelaannya, ada ulama yang membolehkan sang anak untuk memilih meneruskan pernikahannya atau berpisah. Dalilnya sebuah hadis dari Ibnu Abbas RA, beliau menceritakan, “Ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah SAW dan melaporkan bahwa ayahnya menikahkannya, sementara dia tidak suka. Kemudian, Rasulullah SAW memberikan hak pilih kepada wanita tersebut (untuk melanjutkan pernikahan atau pisah).” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibn Majah). Allahu a’lam.

Cara Lindungi Diri dari Cuaca Ekstrem di Saudi

Cuaca di Tanah Suci selama musim haji diperkirakan akan mencapai 40-50 derajat Celcius. Kondisi ini membuat jamaah haji akan dihadapkan dengan cuaca panas yang ekstrem selama beribadah.

Agar kondisi fisik tetap prima di bawah terik matahari, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan jamaah haji. Salah satunya adalah menjaga asupan cairan yang cukup agar tidak dehidrasi dan mengalami heat stroke atau serangan panas.

“Minimal dua liter (air putih per hari), tapi juga bisa lebih karena panas,” ujar spesialis gizi klinik dari RSCM dan juga RSIA Bunda Aliyah, Nurul Ratna Mutu Manikam kepada Republika.co.id.

Meskipun tidak merasa haus, jamaah haji disarankan menyempatkan diri minum air secara teratur. Persediaan air minum yang cukup banyak di Tanah Suci juga perlu dimanfaatkan dengan baik.

Untuk menyiasati kebutuhan cairan di cuaca panas yang cukup ekstrem, jamaah haji juga disarankan memilih makanan yang berkuah. Dengan begitu, jamaah haji akan mendapatkan tambahan asupan cairan saat makan.

Nurul mengatakan jamaah haji jangan ragu banyak minum air hanya karena dapat memicu buang air kecil lebih sering. Alasannya, konsekuensi kurang minum di saat cuaca panas jauh lebih buruk dari sekadar bolak-balik ke toilet akibat banyak minum.

“Karena dehidrasi bisa bikin meninggal, heat stroke, terutama (pada) orang tua,” kata Nurul.

Senada dengan Nurul, spesialis kedokteran olahraga dari Rumah Sakit Jakarta, Grace Tumbelaka juga menyarankan jamaah haji banyak minum selama di Tanah Suci. Jamaah haji perlu lebih memperbanyak minum air jika warna urine terlihat mulai pekat.

Mengingat cuaca yang sangat panas dan berangin, jamaah haji juga perlu melindungi diri dari paparan cahaya matahari langsung agar fisik tetap prima. Selain menggunakan pakaian dengan bahan yang menyerap keringat, jamaah haji juga disarankan menggunakan penutup kepala.

“Kepala harus ditutupi supaya (sinar) matahari tidak langsung kena kepala, dan proses penguapannya juga nggak cepat kan,” jelas Grace.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusuf Singka juga menekankan pentingnya menghindari paparan sinar matahari langsung selama beribadah di Tanah Suci. Untuk itu, jamaah haji disarankan selalu membawa alat pelindung diri (APD) setiap kali keluar dari pondokan.

Salah satu APD yang sebaiknya dipakai jamaah haji saat beraktivitas di luar ruangan adalah payung. Beberapa APD lain yang tak kalah penting untuk selalu dibawa jamaah haji adalah kacamata hitam, masker, botol semprotan, alas kaki dan kantong alas kaki.

“Kalau mau keluar, lihat-lihat cuacanya,” kata Eka.

 

REPUBLIKA

Innalillahi, Kiai Karismatik Saifuddin Amsir Meninggal Dunia

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Telah berpulang guru serta kiai panutan umat Muslim khususnya di Jakarta, Abuya KH Saifuddin Amsir pada Kamis (20/7). Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada 01.20 WIB di Rumah Sakit OMNI Pulomas.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengunggah kabar meninggalnya KH Saifuddin di akun media sosialnya, Instagram. Ia mendoakan ahli fikih dari Betawi tersebut agar amal ibadahnya diterima Allah SWT.

Dilansir dari NU Online, warga Nahdliyin Jakarta pasti mengenal kiai kharismatik ini. Saifuddin bin Amsir Naiman al-Batawiy adalah salah seorang ulama Betawi terkemuka abad ke-21. Ia dikenal sebagai seorang ulama yang sangat berpengaruh di Jakarta.

Beberapa karya yang telah diraciknya dari pelbagai literatur klasik karangan para sarjana masa lalu merupakan bukti kecerdasan dan keluasan ilmu yang dimiliki KH Saifuddin Amsir. Sejumlah karyanya merupakan masterpiece yang telah diteliti oleh para sarjana dalam dan luar negeri.

Karyanya yang telah dicetak antara lain Tafsir Jawāhir al-Qur’ān (empat jilid), Majmū’ al-Furū’ wa al-Masāil (tiga jilid), dan al-Qur’ān, I’jazan wa Khawāshan, wa Falsafatan. Selain beraliran tafsir falsafi, kitab ini merupakan racikan dari beberapa tema dari kitab Jawāhir al-Qur’ān (hlm. 1-140), al-Dzahāb al-Ibrīz fi Khawāsh al-Qur’ān al-Aziz (142-172),Qānūn al-Ta’wīl (173-184).

Ketiganya karya Hujjat al-Islām Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazāli ath-Thūsī asy-Syāfi’ī. Kitab ini juga terinspirasi dari beberap kitab. Antara lain Fadhāil al-Qur’ān karya Syeikh al-Hāfidz Ibn Katsir (hlm. 175-312), ‘Ajāib al-Qur’ān karya Syeikh Fakhruddin al-Rāzī (hlm. 313-475), dan al-Dur al-Nadzim fi Khawāsi al-Qur’ān al-Karīm karya Imam al-Yafi’i (hlm. 477-623).

Komentar yang ditulis Kiai Saifuddin Amsir menyertai tiap bahasan yang dinukil dari kitab-kitab tersebut. Dalam menyusun karyanya, Rais Syuriah PBNU ini memilih karya-karya Imam al-Ghazali sebagai rujukan yang sangat representatif dalam membahas tema-tema terkait dengan I’jāz (Kemukjizatan), Khawās (Kekhususan), dan Falsafat (Filosofi) al-Qur’an.

Dalam daftar pustaka karangannya, disebutkan al-Ghazali memiliki karya tafsir sebanyak 30 jilid. Kiai Saifuddin sempat mengatakan pemikiran brilian al-Ghazali tak hanya menjadi rujukan para sarjana Muslim, tetapi juga sarjana non-Muslim.

Semasa hidupnya, KH Saifuddin dikenal sebagai orang yang taat. Di luar kesibukannya berkarya, ia masih tetap istiqamah menggawangi berbagai majlis ta’lim yang tersebar di seantero Jakarta. Hari-harinya penuh jadwal pengajian di berbagai tempat.

Kiai Amsir akrab disapa Abuya oleh masyarakat Betawi. Ia merupakan sosok yang rendah hati. Tak jarang, santri yang senantiasa menyertainya merasa akrab bak teman sejawat. Namun, ketika sedang mengajar atau di atas mimbar, kharismanya menguasai.

Kemampuan panggungnya ini menarik para politisi untuk mendekat agar bersedia bergabung dengan partai tertentu. Namun, Kiai Amsir dengan halus menolak semua politisi yang melobinya. Meski demikian, ketika PBNU membidani kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kiai Amsir pernah bergabung lantaran penghormatannya yang besar kepada Gus Dur.

 

REPUBLIKA

Islam Beri Perhatian Kesehatan THT

Pengobatan dunia Islam dikenal dengan pengobatan tingkat tinggi dengan memperhatikan observasi klinis dan mengesampingkan mitos serta legenda.

Pengobatan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) merupakan contoh partisipasi pengobatan dunia Islam dan kontribusi pada studi anatomi, fisiologi, dan penyakit bagi dunia Arab.

Memutihkan Gigi, Bolehkah?

Wanita secara natural ingin tampil cantik dan menawan. Tentu kecantikan sejatinya hanya untuk suaminya jika ia sudah menikah. Meski banyak pula wanita yang rela tampil cantik di muka umum demi mendapat pujian.

Salah satu cara yang dilakukan untuk tampil cantik adalah melakukan pemutihan gigi atau bleaching. Bleaching gigi bahkan menjadi tren gaya hidup bagi seseorang yang ingin tampil menawan.

Bleaching atau teknik memutihkan gigi bisa dilakukan dengan beberapa cara. Biasanya menggunakan bahan-bahan kimia, seperti gel pemutih gigi, pasta gigi, hingga obat kumur. Lalu apakah boleh seorang Muslimah melakukan pemutihan gigi?

Islam pada dasarnya mencintai kebersihan dan keindahan. Karena itu, Islam menganjurkan umat Islam untuk menjaga kebersihan dan senantiasa bersih dalam segala hal. Allah SWT berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS al-Baqarah [2]:222).

Termasuk menjaga kebersihan diri adalah menjaga kebersihan gigi dan mulut. Bahkan, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menjaga kondisi gigi dan mulut dengan bersiwak.

Rasulullah SAW bersabda, “Siwak membersihkan mulut dan membuat ridha Allah.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Al Hakim dan al-Baihaqi). Dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah bersabda, “Kalau saja tidak memberatkan umatku, akan aku suruh menggunakan siwak setiap akan shalat.”

Siwak dan sikat gigi menjadi cara seseorang untuk menjaga kesehatan dan kebersihan gigi. Sehingga, gigi yang kotor dan berwarna kuning justru harus dibersihkan. Memutihkan gigi sendiri tidak termasuk mengubah ciptaan Allah SWT yang masuk kategori haram. Sebab, gigi pada dasarnya berwarna putih.

Jika tindakan memutihkan gigi sendiri tak masalah, yang harus diperhatikan adalah metodenya. Menjaga kebersihan gigi agar tampak putih dengan bersiwak tentu dibolehkan. Bahkan, bernilai sunah muakad karena dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Namun, jika menggunakan teknik bleaching, harus benar-benar diperhatikan dampaknya terhadap kesehatan. Memutihkan gigi dengan teknik bleaching ternyata bisa menyebabkan gigi sensitif karena menggunakan bahan-bahan kimia.

Menurut Profesor Linda C Niessen MD dari A&M Health Science Center Baylor College of Dentistry, Dallas, gigi yang sensitif akibat pemutihan dengan bahan kimia berarti proses tersebut kurang aman.

Setelah melakukan bleaching, bisa muncul efek seperti kesemutan ringan pada gigi saat mengonsumsi minuman dingin atau panas. Artinya, jika hal itu terjadi, sensitivitas pada gigi meningkat. Hal ini disebabkan adanya abrasi pada lapisan gigi.

Jika hal itu terjadi, melakukan bleaching sebaiknya tidak dilakukan. Karena justru merusak  kesehatan. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.”

Maka dibanding berbagai teknik lain, sangat dianjurkan menjaga kesehatan gigi dengan bersiwak. Selain bisa memutihkan gigi, juga bernilai sunah. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Hendaklah kamu bersiwak, sebaik-baiknya sesuatu adalah siwak. Menghilangkan lubang, memudahkan keluarnya dahak, menajamkan pandangan, menguatkan gusi, menghilangkan bau, memperbaiki pencernaan, meningkatkan  derajatnya di surga, menyenangkan malaikat, membuat ridha Allah, dan membuat benci setan (HR Abdul  Jabbar Al Khaulani, Menurut As-Suyuti hadis sahih).

Diaper untuk Sang Suami dan Rahasia Berkah

Ustaz Amru biasa dipanggil namanya. Ia mengalami sebuah kejadian yang tak disangka. Kecelakaan. Kecelakaan tunggal karena menghindari lubang jalan raya. Ia dalam perjalanan khidmat untuk dakwah.

Motorik saraf bagian belakang putus.

Kencing sudah tidak lagi terasa. Harus menggunakan kateter. Kateter Atau Catheter adalah sebuah tabung yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk mengeluarkan atau memasukkan cairan ke dalam rongga tubuh. Paling umum, kateter dimasukkan melalui uretra ke kandung kemih untuk mengalirkan urin.

Ia harus menggunakan diaper. Hidupnya banyak di tempat tidur atau di atas kursi roda.

Usianya masih terbilang muda dan sedang berada di usia produktif.

Ketika teman-teman atau kerabat berkunjung, tak ada sama sekali guratan kesedihan atau keluhan padanya. Ia tetap bercerita tentang kecelakaan secara detail tapi dia tidak pernah menangis atau sekadar berkaca-kaca sekalipun.

Justru ia malah mengatakan, “Bahkan jika Allah mencabut kakiku, setidaknya saya masih punya hati untuk beribadah kepada Allah.”

Istrinya tak kalah hebat. Ia rajin mengganti diapers dan kateter setiap waktunya. Mereka tetap hidup dalam cinta meski belum dikaruniai seorang anak. Sang suami sudah tidak bisa memberikan nafkah batin.

Lihatlah, betapa barokahnya hidup mereka berdua. Tetap mensyukuri keadaan dan menikmati episode yang diberikan oleh Allah.

Ubay bin Ka’ab RA, merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW. Ia mendengar hadits soal sakit demam. “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka”. (HR. Al-Bazzar, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash Shohihah no. 1821).

Ia pun pulang dan mengangkat tangan. “Ya Allah, berikanlah aku penyakit demam Ya Allah. Jika penyakit demam itu bisa menggugurkan dosaku.”

Permohonan Ubay bin Ka’ab dikabulkan oleh Allah SWT. secara kontan. Ia pun sakit demam. Dari sore hingga pagi.

Bukan berarti kita harus meminta sakit kepada Allah SWT. Akan tetapi bagaimana ketika sakit kita makin dekat sama Allah.

Sakit bukan penghalang untuk mendekat kepada Allah. Justru di situlah keberkahan terletak. Sakit itu berkah jika membuat kita makin dekat dengan Allah. Sehat yang tidak membuat taat, bukanlah nikmat yang barokah.

Kita kerap mengartikan barokah dengan apa yang disenangi jiwa kita. Kesenangan pribadi. Padahal tidak demikian. Kondisi yang makin bertambah kebaikan atau berkurangnya “nikmat” tapi makin bikin hati tenang dan dekat dengan Allah SWT. Semoga kita senantiasa dinaungi keberkahan.

BERSAMA DAKWAH

Doa Bisa Pergi Haji

Sedari kecil saya sudah pengen banget bisa pergi haji dan bisa berangkatin haji orang tua, makanya semangat belajar ke sana-sini di tengah keterbatasan financial. Lepas nyantren, berusaha gigih untuk mengais rezeki halal yang banyak dan berkah. Ini doa yang selalu dipanjatkan lepas shalat lima waktu:

اللهم ارزقنا رزقا واسعا حلالا طيبا مباركا وأنت خير الرازقين

“Ya Allah karuniakan kepada kami rezeki yang luas, halal, baik lagi berkah, dan Engkaulah sebaik-baiknya yang memberikan rezeki.”

Dan tiap habis shalat jum’at selalu saya baca 7 kali doa berikut :

اللَّهمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ، يَا مُبْدئُ يا مُعيدُ، يا رَحيْمُ يا وَدُوْدُ، اَغْنِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَ بِفَضْلِكَ عمَّنْ سِوَاكَ.

“Ya Allah Yang Maha Kaya, Yang Maha Terpuji, Yang Maha Pencipta, Yang Maha Mengembalikan, Yang Maha Penyayang, Maha mengasihi. Ya Allah jadikanlah kami kaya dengan apa yang telah Engkau halalkan dari yang Engkau haramkan, dan dengan ketaatan padaMu dari bermaksiat padaMu, dan karuniaMu dari pihak selain diriMu”

Saya dapat ijazah doa juga dari gurunda K.H. Masyuri Baidhowi, MA., Pengasuh Pesantren Modern Darussalam Eretan Indramayu, doa ini spesial untuk bisa berangkat haji dan umroh ga pake cape, ga pake lama dan bisa bolak-balik ke tanah suci sewayah-wayah kita mau.

الهم ارزقنا زيارة حرمك وحرم نبيك محمد صلى الله عليه وسلم للحج والعمرة مراتا وكراتا عديدة

“Ya Allah karuniakan kepada kami kesempatan untuk berziarah ke tanah haram-Mu dan tanah haram Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beribadah haji dan umrah berkali-kali.”

Tentunya sering-sering baca sholawat untuk baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan untuk Nabiyyullah Ibrahim ‘alaihishsholatu wasallam. Banyakin sedekahnya, bantu saudara-saudara kita yang mau berangkat haji, Mudah-mudahan Rasulullah mengaudiensi agar kita termasuk yang diundang oleh Allah ke rumah-Nya.

Alhamdulillah Allah takdirkan kami bisa berangkat bareng musim haji 1436 H ini. Saya do’akan juga semoga seluruh kawan-kawan bisa berangkat haji bersama orang-orang tercinta…

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك…

Keberuntungan Orang Bertobat

APA saja yang didapatkan oleh orang bertobat? Pastinya, tobat adalah permohonan ampun dari Allah swt. Jika tobat dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti Allah akan mengampuni semua dosanya.

Namun ternyata, seorang yang bertobat tidak hanya mendapat ampunan saja. Ada bonus-bonus lain yang telah disiapkan oleh Allah bagi hamba-Nya yang mau kembali.

Apa saja bonus-bonus itu?

a. Menjadi kekasih Allah. Tidak hanya mendapat ampunan, seorang yang bertobat akan naik level menjadi kekasih Allah swt. Allah mencintai orang yang bertobat seakan mereka tak pernah melakukan keburukan apapun. Sungguh Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

“Sungguh, Allah Mencintai orang yang tobat dan Mencintai orang yang menyucikan diri.” (QS.Al-Baqarah:222)

b. Mendapat doa dari para malaikat.

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhan-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, 1. Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu

2. Dan peliharalah mereka dari azab neraka 3. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,

4. Dan peliharalah mereka dari (bencana) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau Pelihara dari (bencana) kejahatan pada hari itu, maka sungguh, Engkau telah Menganugerahkan rahmat kepadanya dan demikian itulah kemenangan yang agung.”

c. Tidak hanya diampuni, bahkan bilangan dosanya diubah menjadi bilangan pahala. Setelah mendapat bonus menjadi kekasih Allah kemudian didoakan selalu oleh para malaikat, kini sampailah kita kepada puncak Rahmat dan Belas Kasih Allah swt.

Bayangkan saja, seorang yang selama ini melanggar perintah-Nya dengan dosa-dosa mendapatkan kesempatan untuk merubah bilangan dosanya menjadi pundi-pundi pahala dengan bertaubat.

“Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka Diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.Al-Furqon:70)

Ya, hanya dengan bertaubat dan ada kemauan untuk merubah diri akan menjadikan dosa-dosa itu berubah menjadi pahala. Tapi ingat, taubat yang dimaksud bukan hanya berucap Istighfar lalu selesai. Taubat yang dimaksud adalah Taubatan Nasuha dengan segala syaratnya.

Dan syarat-syarat tobat akan kami sampaikan pada artikel selanjutnya.

“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS.An-Nur:31)

Kita sungguh beruntung memiliki Tuhan yang Penuh Kasih Sayang kepada hambaNya, dengan rahmat yang begitu besar ini, masih adakah alasan untuk tidak kembali kepadaNya? [khazanahalquran]

 

INILAH MOZAIK