Zaitun, Buah yang Diberkahi dengan Tiga Khasiat Medisnya

Pohon zaitun merupakan pohon yang pertama kali tumbuh di bumi.

Buah Zaitun memiliki banyak manfaat.  Namanya pun diabadikan dalam Alquran Allah berfirman, “Demi buah tin, buah zaitun, bukit Sinai dan negeri yang aman ini.” (QS at-Tin [95]: 1-3). Ayat lain yang berbicara tentang zaitun adalah surah an-Nur ayat ke-35:

“… yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disetuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).”

Tak hanya disebutkan Alquran, dalam sejumlah riwayat Rasulullah SAW pernah meminta umatnya agar mengonsumi zaitun.

banjir Nuh dan tumbuh di rumah-rumah para nabi dan sejumlah sempat suci.

Buah ini juga konon diklaim memiliki berkah yang besar karena didoakan oleh 70 orang nabi. Bahkan Allah juga bersumpah atas nama buah ini. Berikut ini tiga manfaat zaitun menurut dunia kedokteran modern:

1. Mencegah penyakit kulit dan kanker

Dalam seminar internasional tentang Alquran dan sunah di Dubai pada 2004, pakar biologi Muhammad Fa’id mengatakan sesungguhnya pewarna yang disebut dalam Alquran adalah cairan berwarna merah. Cairan ini keluar dari buah zaitun bersama minyak saat diekstrak.

Zairan merah ini harus dibuang bersama air yang dipakai untuk mengolah buah tersebut. Para ahli meyakini bahwa cairan merah itu bersifat polutan dan harus dibuang.

Pewarna merah tersebut merupakan material yang bisa mewarnai. Padahal cairan merah tersebut mengandung zat antioksidan tannin polifenol yang penting bagi pencegahan kanker.

Mengonsumsi minyak zaitun satu sendok makan setiap hari mampu mengurangi risiko terkena kanker payudara sebesar 45 persen, kanker rahim 25 persen, dan juga kanker perut dan usus besar.

Sebuah studi menyebutkan, dengan mengoleskan minyak zaitun pada anggota badan tertentu setelah berenang dan terkena sinar matahari, seseorang bisa terhindar dari kanker kulit.

2. Menurunkan kadar kolesterol

Penduduk Pulau Crete (Yunani) dikenal sebagai masyarakat yang paling sedikit terkena penyakit jantung koroner di dunia. Ini salah satunya karena minyak zaitun paling banyak dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari oleh mereka.

Minyak zaitun secara medis terbukti secara medis mampu menurunkan kadar kolesterol yang berbahaya dan mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh dararah serta jantung koroner. Riset ilmiah menegaskan minyak zaitun berperan dalam mencegah penyakit tersebut.

Ini karena minyak zaitun mengandung antioksidan dan vitamin E serta polifenol yang mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Polifenol dapat mencegah oksidasi kolesterol jahat atau Low Density Lipoprotein (LDL).

3. Mengurangi tekanan darah tinggi

Dokter Aldo Ferrara dari Universitas Napoli, Italia telah meneliti 23 kasus orang terkena penyakit tekanan darah tinggi.

Mereka dibagi dua kelompok dan diberikan anjuran mengkonsumsi minyak zaitun untuk kelompok satu dan minyak biji bunga matahari di kelompok yang lain.

Setelah enam bulan, mereka yang mengonsumsi minyak zaitun mengalami penurunan tensi darah sebesar tujuh poin, tetapi kelompok lain tidak terjadi hal yang sama.

Meski kelompok pertama tetap konsumsi obat tetapi tidak terlalu bergantung, berbeda dengan kelompok yang mengkonsumsi minyak biji matahari mereka masih selalu mengkonsumsi obat penurun tensi darah.

MOZAIK REPUBLIKA

Peristiwa dan Hikmah Semasa Nabi Muhammad di Madinah

SEJARAWAN Perancis, Gustave Le Bon (1841-1931) dalam bukunya yang berjudul,  “La Civilization des Arabes” pernah membuat statemen menarik mengenai Nabi Muhammad ﷺ, “Jika nilai seorang diukur dari amal mulia yang dilakukannya, maka Muhammad adalah di antara orang paling agung yang pernah dikenal sejarah.” (1989: 135). Paling tidak, 10 tahun selama di Madinah, akan terlihat bagaimana kinerja Rasulullah ﷺ yang menunjukkan kapasitasnya sebagaimana pujian orientalis kenamaan tersebut.

Tulisan ini tentu saja tidak akan membahas detail-detail peristiwanya selama di Madinah, namun yang diangkat adalah beberapa poin penting yang dirasa mewakili amal  beliau ketika di Madinah.

Pertama, saat pertama kali datang di Madinah ada enam hal besar yang dilakukan nabi: membangun masjid, mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar, membuat piagam madinah, penguatan militer, terus melakukan pembinaan pendidikan dan keilmuan, serta membangun pasar mandiri (Shallâbi, 2008: 299-388).

Bila diperhatikan secara saksama, keenam hal besar itu adalah kinerja besar yang menjadi asas berdirinya daulah di Madinah. Masjid menjadi pusat oprasional negara; pemersaudaraan Muhajirin dan Anshar sebagai langkah strategis untuk menjaga persatuan dan kesatuan internal umat; Piagam Madinah sebagai nota kesepakatan untuk menjaga kedamaian antar kelompok di luar Islam; penguatan militer melalui pengiriman ekspedisi sariyyah sebagai penguat stabilitas keamanan; pembinaan dari segi pendidikan dan keilmuan sebagai peningkatan mutu SDM; dan pembangunan pasar sebagai faktor fundamental untuk memperkuat ekonomi negara.

Kedua, ekspedisi militer. Selama sepuluh tahun di Madinah, ada dua istilah yang digunakan pakar sirah dalam menjelaskan ekspedisi militer yang dicanangkan nabi yaitu: ghazwah (yang dimimpin oleh nabi sendiri) dan sariyyah(yang dipimpin oleh sahabat). Dalam sirah, ghazwah  dilakukan sebanyak 26 kali. Sedangkan sariyah dilakukan sebanyak 38 kali. Jadi, total ekspidisi militer yang dilakukan nabi selama di Madinah sebanyak 64 kali (Musthafa Sibâ`i, 1985: 79).

Ada yang unik dari ekspedisi militer yang diperintahkan nabi selama di Madinah. 1. Untuk membela diri dari serangan musuh 2. Melindungi keamanan dai dan dakwah 3. Ini menjadi alternatif terakhir ketika dakwah secara damai tidak diindahkan 4. Dilakukan dengan syarat-syarat dan adab-adab yang ketat 5. Semua tidak keluar dari jalur rahmatan lil `âlamîn. Peristiwa pembebasan kota Mekah pada tahun 8 hijriah, adalah bukti bahwa ketika ekspedisi militer sudah tidak dibutuhkan lagi, maka asas perdamaian akan diambil kembali.

Ketiga, sebagai kepala keluarga ketika di Madinah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki 9 istri. Dilihat dari usia beliau 53 sampai 63 tahun, dengan berbagai kesibukan lain yang sedang dilakukan, mungkin akan membuat orang terperangah bagaimana kehebatan beliau dalam bidang manajemen. Mengurus istri satu saja terkadang sangat susah apalagi mengurus banyak istri.

Hanya saja, poligami ini kadang-kadang dijadikan celah bagi musuh Islam untuk menciderai citra Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak sekali yang berusaha mendiskreditkan nabi melalui bagian ini.

Untuk menjawab masalah syubhat poligami, Abbas al-Aqqâd memjawabnya dengan sangat baik: Jika nabi nikah karena semata syahwat, maka: dia akan menikahi 9 gadis sekaligus, padahal yang gadis ketika itu hanyalah Aisyah; pasca kematian Khadijah pun beliau tidak akan menikahi Saudah yang merupakan janda tua. Jika Nabi Muhammad ﷺ menikahi karena kecantikannya, maka tidak akan menikahi Zainab binti Jahsyin setelah menjadi menjadi janda Zaid bin Haritsah.

Sedangkan pernikahan beliau yang lain adalah disebabkan maslahat syar`i yang memang harus dilakukan. Di sisi lain, selama masa muda, ia terkenal sebagai pemuda yang pandai menjaga kesucian diri. Di samping itu, selama 25 tahun bersama Khadijah beliau setia dan tak pernah poligami (Abqariyah Muhammad, 109, 110).

Keempat, universalitas dakwah Islam. Bila di Mekah sudah terbukti keuniversalitasan Islam, maka di Madinah semakin diperteguh. Masuk Islamnya Salman Al-Farisi, Abdullah bin Salam dan surat yang dikirimkan beliau pada tahun ketujuh kepada raja-raja dunia pada masanya adalah sebagai bukti bahwa Islam adalah agama universal untuk semua manusia.

Kelima,  ketika Nabi Muhammad wafat, Islam sudah sempurnah sebagaimana yang digambarkan Surah Al-Maidah [5] ayat: 3. Di sepanjang sejarah yang dilalui beliau menyimpan banyak benih-benih keteladanan yang bisa dicontoh oleh setiap muslim sampai hari kiamat.

Sepeninggal beliau, melalui para penerusnya, Islam mampu menjadi soko guru peradaban dunia. Ini adalah pembuktian dari hadits nabi ﷺ,

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku…” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi).*/Mahmud Budi Setiawan

HIDAYATULLH

Amphuri: Jamaah Umrah Alami Penurunan

Asosiasi Muslim Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Amphuri) menyebut pada awal tahun ini bisnis ibadah umrah mengalami penurunan cukup signifikan. Berdasarkan catatan Amphuri, pada akhir Januari 2019 masyarakat Indonesia yang melakukan ibadah umrah sebesar 478 ribu jamaah.

Sekjen Amphuri Firman M Nur mengatakan angka tersebut merupakan akumulasi sejak September 2018. Dengan kata lain jumlah tersebut belum menyentuh 50 persen dari total keseluruhan jamaah yang melakukan ibadah umrah. “Awal tahun ini terjadi penurunan jamaah, sekarang ini akhir Januari 478 ribu jamaah yang baru berangkat, sudah dari September jadi belum sempat 50 persen. Padahal setiap tahun trennya kenaikan 15 persen,” ujarnya kepada Republika.co.id, Kamis (14/2).

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi penurunan jamaah umrah pada awal tahun ini. Antara lain, munculnya regulasi yang kontra produktif antara pemerintah Indonesai dengan Saudi. “Visa progresif, kemudian isu proses biometrik. Efeknya adalah perlu effort lebih untuk melengkapi persyaratan adminitrasi untuk mendapatkan visa. Masalahnya Tasheel cenderung tidak bekerja sama dengan pemerintah Indonesia secara baik lalu memaksakan diri melayani langsung kepada masyarakat. Tentu problemnya jumlahnya besar, sebaran juga luas sehingga belum mencakup Tasheel itu sendiri,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan In-Bound Indonesia (Asphurindo), Magnatis Chaidir, memastikan VFS Tasheel memiliki izin. Akan tetapi, kata dia, izinnya bukan untuk mengambil data jamaah melalui rekam biometrik.

“Ada legalitasnya melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) cuma pengurusannya untuk perjalanan wisata. Jadi, bisa dibilang tidak sesuai legalitasnya karena izinnya wisata, tapi pada praktiknya mengambil data jamaah lewat rekam biometrik,” kata Magnatis, Ahad (6/1).

Magnatis menuturkan, karena jika VFS Tasheel ingin mengambil data untuk calon jamaah umrah, minimal harus ada izin dari dua kementerian terkait, yaitu Kemenag dan Kementerian Dalam Negeri. “Berarti dia (VFS Tasheel) harus mengantongi izin resmi dari Kementerian Agama yang mengurusi ibadah haji dan umrah. Dan, karena ini juga menyangkut data kependudukan, Kemendagri harus terlibat. Jadi, mereka harus meminta perizinan ke sana,” tegasnya.

REPUBLIKA

Malu Sebagian dari Iman

PADA salah satu pertemuan kuliah dengan Prof. DR. Jumah Ali Abdul Qadir (almarhum), beliau menceritakan pengalamannya ketika mengajar di Universitas Ummul Qura Makkah Al-Mukarramah khusus untuk perempuan:

“Suatu kali ketika mengajarkan tafsir surat Ar-Rum ayat 4, saya bertanya kepada salah seorang mahasiswi, apa perbedaan antara kalimat “bidhun” dengan meng-kasrah-kan huruf ba dan “budhun” dengan men-dhammah-kan huruf ba?

Jawaban mahasiswi itu sangat mencengangkan. Jawaban yang menunjukkan dia seorang perempuan yang cerdas, paham, dihiasi oleh rasa malu dan kehormatan diri.

Mahasiswi itu berkata: “Adapun “bidhun” adalah bilangan antara 3 sampai 9, sedangkan “budhun” adalah sesuatu yang kita malu untuk menyebutkannya di depan orang lain.”

Jawaban ini sangat berkesan bagi saya sampai hari ini, ujar beliau melanjutkan cerita. Demikianlah seharusnya seorang yang mempunyai harga diri, ia harus menjaga bahasanya dari mengucapkan perkataan vulgar dan porno. Terutama dalam majelis ilmu dan forum-forum resmi seperti itu. Lebih-lebih lagi bila di sana hadir laki-laki dan perempuan. Hendaknya dijaga perasaan perempuan yang lebih halus dan lebih pemalu dari pada laki-laki.

Sekalipun seorang guru atau ustadz dituntut untuk menyampaikan sesuatu yang memalukan bila disebut dengan terang-terangan,seperti permasalahan yang berhubungan dengan perkara fikih, ia akan berusaha untuk mencari kosa kata yang bisa mewakili apa yang ia maksud, tapi terjauh dari bahasa yang tidak pantas. Namun orang yang mendengar tetap paham apa maksud perkataan itu.”

Apa yang diajarkan oleh DR. Jumah Ali ini sebenarnya penjelasan dari ajaran Alquran dan sunah Rasulullah. Di mana Alquran selalu memilih kosa kata yang sangat halus untuk mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan laki-laki dan perempuan atau suami-istri.

Contoh, ayat Alquran mengibaratkan istri itu dengan sawah ladang, dan pergaulan dengannya dipakai istilah bercocok tanam.

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 223)

Maha Mulia Allah yang menggunakan kalimat yang sangat mulia karena Alquran akan dibaca dalam salat dan tilawah.

Rasulullah pernah ditanya tentang seorang suami yang telah menceraikan istrinya sampai talak tiga, lalu mantan istrinya itu menikah dengan laki-laki lain. Sebelum digauli oleh suami barunya, ia ditalak oleh suami barunya itu. Apakah dengan demikian dia sudah halal menikah lagi dengan suami lamanya? Rasulullah menjawab:

“Belum, sampai suami barunya itu mencicipi madunya sebagaimana suaminya yang pertama telah mencicipinya”. (HR. Bukhari Muslim)

Perhatikanlah bagaimana bersih dan indahnya bahasa Rasulullah yang mengibaratkannya dengan madu.

Aisyah menceritakan, suatu kali seorang perempuan bertanya kepada Nabi, bagaimana caranya bersuci dari haid? Rasulullah menjawab, “Ambillah sepotong kapas yang sudah diolesi harum-haruman, kemudian bersihkan dengannya.”

Perempuan itu bertanya lagi, “Bagaimana cara membersihkannya?”

Rasulullah menjawab, “Bersihkanlah dengannya!”

Perempuan itu masih bertanya lagi, “Bagaimana?”

Lalu Rasulullah berkata sambil menutupi wajahnya dengan pakaian, “Subhanallah, bersihkanlah!”

Kemudian Aisyah melanjutkan ceritanya: Lalu aku menarik perempuan itu dengan kuat dan mengatakan kepadanya, “Bersihkan bekas darahnya dengan kapas itu!”

Meskipun pertanyaan perempuan itu sangat urgent demi kesucian dan kesempurnaan ibadahnya, namun Rasulullah tetap memakai bahasa yang sangat halus, yang paling pantas dengan fitrah pemalunya seorang perempuan. Rasulullah tidak hanya mementingkan bagaimana pesan tersampaikan, tapi juga menimbang cara dan kalimat yang paling terhormat.

Amat disayangkan pada masa kita ini, sebagian ustaz dan dai yang menyampaikan ceramah kurang memperhatikan hal ini. Bahkan seperti disengaja untuk memilih kosa kata vulgar demi membuat jemaah tertawa. Bagaimana kita akan mengajari umat perihal malu bila kalimat para penceramahnya tanpa sengaja mengikis malu sedikit demi sedikit. Atau dia bagaikan orang yang tidak ada malu di depan jemaahnya.

Bukankah ceramahnya itu juga akan didengar oleh anak-istri, ipar-besan, dan keluarga serta handai tolannya. Tidakkah ia malu dengan mereka semua?

Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur Rasulullah bersabda:

“Malu itu sebagian dari iman.” (HR. Bukhari Muslim). [Ustaz Zulfi Akmal, Lc. MA/fimadani]

Kisah Apel dan Kegelisahan Umar bin Abdul Aziz

Hari itu cuaca begitu panas. Matahari sangat terik sejak pagi. Anak bungsu Khalifah Umar bin Abdul Aziz menghabiskan harinya dengan bermain sejak pagi. Ia pulang karena merasa sangat lapar.

Sesampainya di rumah, ia meminta makanan kepada ibunya. Namun, saat itu istri Khalifah, Fatimah, belum memasak sesuatu apa pun. “Pergilah berjumpa dengan ayahmu di baitul maal, mungkin dia dapat memberikan kamu sesuatu yang dapat dimakan,” ujar Fatimah pada anaknya.

Anak itu pun berlari-lari riang mencari ayahnya. Saat itu, dia mendapati ayahnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, masih bersama beberapa orang pegawainya. Mereka sedang menimbang sejumlah buah apel. Apel-apel itu rencananya akan dibagikan kepada mereka yang layak menerimanya.

Tiba-tiba, masuklah buah hati Khalifah menuju tumpukan buah apel. Ia lalu mengambil sebuah apel dari tumpukan tersebut dan hendak memakannya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz melihat anak kesayangannya akan memakan buah apel itu. Dengan cepat ia merebut paksa apel itu dari mulut anaknya. Sehingga, buah hatinya menangis dan berlari pulang ke rumahnya.

Adik Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Sahal, yang turut menyaksikan kejadian tersebut berkata, “Wahai Amirul Mukminin, anakmu itu sedang lapar, toh kita masih mempunyai stok banyak buah apel untuk diberikan kepada orang banyak, sekiranya hilang satu buah tentu tidaklah menjadi kerugian.”

Sesungguhnya, Sahal tidak sampai hati melihat keponakannya yang sedang lapar itu menangis. Ketika sebuah apel yang hendak dimasukkan ke dalam mulutnya direbut oleh ayahnya.

Sang Khalifah hanya berdiam diri mendengar kata-kata adiknya ini. Hatinya sendiri ketika itu sedang gelisah. Dia terpaksa memilih antara keridhaan Allah SWT dan keinginan anak kesayangannya. Namun, ia lebih memilih mengutamakan keridhaan Allah SWT.

Selesai dengan pekerjaannya di baitul maal, Khalifah Umar segera pulang ke rumah menemui anak bungsunya. Khalifah langsung memeluk dan mencium buah hatinya. Namun, dia mencium harumnya buah apel pada mulut si bungsu anaknya. Khalifah Umar segera memanggil istrinya, Fatimah. “Wahai Fatimah, dari mana kamu dapatkan buah apel untuk anak kita?” tanya Khalifah Umar.

Fatimah menjawab seraya menjelaskan kepada suaminya, “Anak itu sedang kelaparan tadi siang dan ia ingin sekali memakan buah apel, lalu akhirnya saya belikan sebuah di pasar, apel itulah yang dimakannya untuk menahan rasa laparnya.”

Sambil menangis, Khalifah Umar pun menceritakan kejadian siang tadi terkait anak bungsunya di baitul maal. Ia berkata, “Wahai istriku, Fatimah. Ketika aku merebut buah apel itu dari mulut anak kita, sungguh, aku merasakan seperti merengut jantungku sendiri. Tetapi, apa daya, karena aku sangat takut akan api neraka yang akan membakar anak kita, jadi aku rebut buah apel itu dari mulutnya.”

Begitulah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang hamba Allah. Ia yang merupakan seorang khalifah, mukmin, bertakwa, dan wara mencontohkan kehati-hatiannya. Ia sangat khawatir jika barang-barang haram masuk ke aliran darah keluarganya. Ia berharap seluruh keluarganya, bahkan rakyatnya, bisa mencapai surga Allah SWT.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz selain sukses sebagai pemimpin keluarga, juga terkenal sebagai kepala negara yang adil. Sosok yang diangkat sebagai khalifah pada Jumat, 11 Shafar 99 H, itu selama masa pemerintahannya, 717-720 M, sukses mencatat segudang prestasi, seperti pemerataan kesejahteraan. Sikap dan perilaku adilnya itu, antara lain, terlihat dari pidato kenegaraannya.

Umar menjelaskan kebijakan-kebijakan yang akan dijalankan melalui pidato kenegaraannya. “Ketahuilah, apa yang Allah halalkan adalah halal sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim, aku hanyalah pelaksana, dan aku bukanlah pelaku bid’ah, melainkan aku adalah pengikut sunah. Tidak ada hak bagi siapa pun untuk ditaati dalam kemaksiatan. Ketahuilah! Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, aku hanyalah seorang laki-laki bagian dari kalian, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberiku beban yang lebih berat dibanding kalian.”

Ia juga menerangkan lima hal dalam kepemimpinannya. Pertama, ia berharap selalu menerima informasi akurat perihal kebutuhan rakyatnya. Kedua, ia berharap selalu ada bantuan untuknya sebatas kemampuan yang ada. Ketiga, ia berharap selalu ditunjukkan jalan kebaikan dari orang-orang di sekitarnya. Keempat, tidak ada ghibah terhadap rakyat. Kelima, jangan menyangkal atau mencampuri urusan Umar jika bukan kepentingannya.

Umar kembali berujar pada rakyatnya agar terus bertawakal kepada Allah SWT dan selalu beramal untuk akhirat karena niscaya Allah juga akan mencukupkan kehidupan dunianya. “Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Tuhannya, tidak tentang Nabinya, tidak tentang kitabnya, tetapi umat ini berselisih karena dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberikan yang batil kepada seseorang dan tidak akan menghalangi hak seseorang,” lanjutnya.

Dia meninggikan suaranya dan kembali menerangkan seorang pemimpin yang taat kepada Allah maka ia wajib ditaati. Namun, seorang pemimpin mendurhakai perintah Allah maka tidak ada alasan rakyak menaatinya. “Taatilah aku selama aku (memerintahkan untuk) menaati Allah, namun jika (perintahku) mendurhakai-Nya, kalian tidak boleh taat dalam hal itu,” tambah Umar sebelum ia turun dari mimbar.

7 Warna Kiswah dan Insiden Terbakarnya Penutup Ka’bah

Kiswah atau penutup Ka’bah tidak hanya berfungsi sebagai ‘selimut’, tetapi juga kiswah memiliki unsur estetika yang sangat tinggi dan diperhitungkan. Banyak sekali riwayat yang menyebutkan warna dari kiswah.

Setidaknya ada tujuh riwayat yang menyebutkan ragam warna kiswah, yaitu di antaranya yait coklat, merah, putih, kuning, hijau, hitam, dan warna keemasan.

Masing-masing warna ini pernah menjadi warna utama kiswah dalam catatan sejarah. Akan tetapi warna yang paling mendominasi adalah warna hitam, hingga sekarang.

Perpaduan warnanya bisa berganti-ganti, terkadang penuh satu warna, atau dua warna yaitu warna dasar dan warna sekunder untuk pemanis. Seperti yang tampak sekarang, warna keemasan sebagai warna untuk teks ayat Alquran, sedangkan warna dasarnya adalah warna hitam.

Warna merah dan putih juga pernah dikombinasi sebagai warna kiswah ketika menggunakan kain dari Yaman.

Brokat dan sutra merupakan bahan yang sering digunakan untuk kiswah. Biasanya kiswah tersebu terdiri dari beberapa kain yang disusun dan di bagian paling atas adalah kiswah yang bertuliskan ayat-ayat Alquran.

Pergantian kiswah memang semula tidak ada ketentuannya, namun belakangan kiswah diganti setiap tahun sekali. Biasanya kiswah diganti pada 10 Muharram, awal Rajah, 27 Ramadhan, hari tarwiyah,, atau ketika 10 Dzulhijjah.

Pada masa Rasulullah SAW dan umat Islam menaklukkan Makkha, Rasul memilih tidak mengganti kiswah yang diletakkan oleh Suku Quraish dan tetap mempertahankannya.

Kiswah tersebut diganti ketika terbakar akibat seorang perempuan yang membakar dupa di sekitar Ka’bah.

IHRAM

Jumat, Hari Istimewa Umat Islam: Yuk Muliakan!

ALLAH Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.” (QS. an-Nahl: 124).

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini,

Allah menentukan setiap penganut agama untuk memilih satu hari istimewa dalam sepekan. Hari untuk berkumpul bersama dalam rangka melakukan ibadah. Allah syariatkan untuk umat ini (umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam) agar mereka memuliakan hari jumat. Karena itu hari keenam, di mana Allah sempurnakan makhluk-Nya. Dan itu nikmat sempurna bagi mereka.

Selanjutnya Ibnu Katsir menyebutkan keterangan sebagian ahli tafsir,

Ada yang menyatakan bahwa Allah mensyariatkan kepada bani Israil melalui Musa untuk memuliakan hari jumat. Namun mereka menolaknya dan memilih hari sabtu. Mereka meyakini, di hari sabtu, Allah tidak menciptakan makhluk apapun, karena telah Allah sempurnakan di hari jumat. Akhirnya Allah tetapkan ibadah hari sabtu itu sebagai kewajiban untuk mereka dalam taurat. Allah wasiatkan agar mereka komitmen dengan hari sabtu dan berusaha menjaganya. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/612).

Demikian pula dengan nasrani. Al-Hafdiz Ibnu Katsir melajutkan keterangannya,

Mereka terus konsisten dengan ibadah hari sabtu, sampai Allah mengutus Isa bin Maryam. Selanjutnya ada banyak versi di sana. Ada yang mengatakan, Allah memindahkannya kepada hari ahad. Ada yang mengatakan, mereka tidak meninggalkan syariat taurat, selain beberapa hukum yang dihapus dengan injil. Mereka terus konsisten dengan hari sabtu, hingga Allah mengangkat Isa. Kemudian, oleh orang nasrani, itu diubah menjadi hari ahad di zaman kerajaan Konstatinopel. Agar berbeda dengan orang yahudi. Mereka juga melakukan salat menghadap ke timur, ke arah batu di timur al-Aqsha. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/612).

Karena itulah, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sangat membanggakan adanya hari jumat. Karena berarti kita benar. Kita memuliakan hari jumat, dan itu sesuai dengan apa yang Allah pilihkan. Sementara pilihan yahudi dan nasrani meleset.

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menceritakan, Ketika hari jumat, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengingatkan,

“Kita adalah umat terakhir namun pertama di hari kiamat. Kitalahlah yang pertama kali masuk surga. Meskipun mereka mendapatkan kitab suci sebelum kita dan kita mendapatkan kitab suci setelah mereka. Lalu mereka menyimpang dan kita ditunjukkan Allah kepada kebenaran dalam hal yang mereka perselisihkan. Inilah hari mereka yang mereka menyimpang darinya dan Allah tunjukkan kepada kita. Beliau bersabda lagi: Hari jumat adalah hari kita dan esoknya hari Yahudi dan setelah besok adalah hari nasrani.” (HR Muslim 2017).

Sudah selayaknya kaum muslimin bersyukur dengan dijadikannya hari jumat sebagai hari besar untuk mereka dalam setiap pekan. Saatnya memuliakan hari jumat. Allahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]