MUI Imbau Waspada Daging Oplosan Babi Jelang Lebaran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam memilih daging. Pasalnya, dalam beberapa tahun belakangan, setiap menjelang Lebaran banyak daging oplosan babi yang beredar di pasaran.

Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik (LPPOM) MUI, Lukmanul Hakim mengatakan bahwa untuk menyambut Lebaran tahun ini masyarakat harus lebih berhati-hati dengan produk-produk yang tidak halal. “Jadi yang pertama kami mengimbau kepada semua kosumen yang sedang dengan suka citanya, berbelanja terutama pruduk makanan untuk tetap memperhatikan kehalalannya,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (20/6).

Menurut dia, masyarakat tidak boleh terlalu tergiur dengan propaganda atau janji harga murah yang ditawarkan oleh produsen. Harga memang boleh menjadi pertimbangan, tapi menurutnya masyarakat harus tetap memperhatikan kehalalannya. “Karena memang selalu saja ada di dalam kesukaan cita kita ini yang memanfaatkan dengan tidak cara yang baik, misalnya ada daging oplosan. Masih sering terjadi adanya oplosan daging misalnya dengan daging celeng. Kan itu juga kita hindari,” ucapnya.

Ia mengatakan, beberapa tahun belakang pengoplosan daging babi tersebut memang sering terjadi. Karena itu, kata dia, pihaknya perlu mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati memilih daging. Tidak hanya daging, MUI juga mengimbau agar masyarakat berhati-hati dengan produk yang tidak ada logo halal dari MUI.

Sementara, untuk produsen atau penjualnya, MUI juga mengimbau agar tidak hanya tergiur untuk mengambil keuntungan yang besar saja, sehingga rela melakukan penipuan, serta pembodohan terhadap masyarakat dengan menjual daging haram tersebut.

“Jadi sama-sama kita menjaga agar Idul Fitri ini menjadi kemenangan kita semua. Apakah itu yang pedagang atau pun konsumen, apakah itu yang muslim atau yang tidak muslim. Jadi ini imbaun kita kepada seluruh masyarakat,” kata Lukmanul Hakim.

 

REPUBLIKA

Temukan Artikel Mengenai Lailatul Qadar

Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh

Sahabat Pembaca yang dimuliakan Allah SWT, Puasa Ramadhan sudah memasuki 10 hari terakhir.

Melalui pemberitahuan ini, sekiranya Sahabat ingin membaca lebih banyak artikel mengenai malam Lailatul Qodar, silakan mencari di kolom Pencarian dengan keyword: Malam lailatul Qodar, Lailatul Qodr, atau Lailatul Qodr.

Semoga Lailatul Qodar bukan hanya ditemukan dalam bentuk artikel pada aplikasi/web ini saja, tetapi juga Sahabat bisa menjumpai malam seribu bulan tersebut di tengah ibadah yang sama-sama kita kerjakan. Amien.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

 

Imsyak dan Sahurnya Rasulullah SAW

Rasulullah SAW menamakan sahur dengan istilah ’makan pagi yang diberkahi’ sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Ahmad dari la ’Irbadh bin Sariyah berkata, ”Rasulullah saw mengajakku untuk bersahur didalam bulan Ramadhan dengan bersabda,”Mari kita makan pagi yang diberkahi.”

Di dalam riwayat Ahmad dari Abu Said bahwa Rasulullah SAW bersabda,”sahur seluruhnya adalah keberkahan maka janganlah anda meninggalkannya walaupun seseorang dari kalian hanya meminum seteguk air. Sesungguhnya Allah swt dan para malaikatnya memberi salam kepada orang-orang yang bersahur.”

Di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Aisyah pernah ditanya tentang dua orang yang salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur sedangkan yang lainnya mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur maka dia menjawab, ”Siapa dari keduanya yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?’ orang itu menjawab,”Dia adalah Abdullah bin Mas’ud.” Aisyah menjawab, ”Demikianlah Rasulullah saw melakukannya.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Bilal berkata, ”Aku mendatangi Rasulullah saw dan mengadzankan shalat. Beliau saw ingin berpuasa maka dia pun meminum kemudian beliau saw memberikannya kepadaku dan keluar untuk shalat, ini adalah sebelum masuknya fajar.”

Riwayat dari Anas didalam ash Shahihain disebutkan,”Sesungguhnya Bilal telah mengumandangkan adzan pada waktu malam (sebelum fajar) maka makan dan minumlah sehingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzannya.” Sesungguhnya Ibnu Ummi Maktum adalah seorang buta yang tidak mengumandangkan adzan kecuali jika dikatakan kepadanya, ”Telah shubuh, telah shubuh.”

Terdapat riwayat yang membatasi waktu antara sahur dengan shalat didalam hadits Zaid bin Tsabit yang berkata, ”Kami (menyelesaikan) sahur bersama Rasulullah saw kemudian kami mengerjakan shalat.” Anas berkata, ”Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, ”Sekitar lima puluh ayat” (Muttafaq Alaihi)

Dari hadits Bilal diatas dapat difahami bahwa adzan pertama yang dikumandangkannya adalah untuk membangunkan seorang yang hendak berpuasa keesokan harinya agar bersahur. Sedangkan adzan kedua yang dikumandangkan Ibnu Ummi Maktum adalah datangnya waktu shubuh yang menandakan berhentinya waktu sahur.

Waktu imsak yang ditentukan sepuluh menit sebelum shubuh itu adalah perkiraan para ulama yang setara dengan seorang yang membaca sebanyak 50 ayat Al Qur’an, yaitu batas waktu antara selesainya sahur dengan adzan waktu shubuh. Dan 50 ayat ini adalah waktu yang cukup atau tengah-tengah, ia tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.

Pada dasarnya waktu akhir dari sahur seseorang adalah sedikit menjelang masuknya waktu fajar akan tetapi diharamkan baginya jika telah masuk waktu fajar. Namun demikian dianjurkan agar seorang yang bersahur menghentikan sahurnya pada sepuluh menit sebelum masuknya shubuh agar dirinya memiliki kesiapan penuh untuk berpuasa esok harinya dan agar dirinya juga bersiap-siap untuk melaksanakan shalat shubuhnya.

 

ERA MUSLIM

Ciri-Ciri Malam Lailatul Qodar

Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan yang diistimewakan oleh umat Islam. Di dalam bulan Ramadhan, Allah SWT memberikan keistimewaan umat Nabi Muhammad SAW dibandingkan umat-umat nabi sebelumnya, khususnya keistimewaan dalam ganjaran beribadah. Salah satu keistimewan Bulan Ramadhan adalah adanya Lailatul Qodar (malam seribu bulan). Inilah malam yang membuat umat nabi Muhammad SAW begitu istimewa.

 

Namun, adalah rahasia Allah SWT kapan lailatul qodar itu bisa ditemukan. Rahasia ini, tiada lain agar kita menjalankan ibadah di bulan suci ini, dari awal hingga bulan Ramadhan itu berakhir. Banyak riwayat atau hadis yang mengisyaratkan lailatul qodar itu datang di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, khsusunya di bilangan ganjil, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).

 

Ciri-ciri Lailatul Qodar

Dinamakan lailatul qodar karena pada malam itu, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾

Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)

Al Qurthubi mengatakan pada malam itu para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾

Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)

Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :

  1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.
  2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)
  3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)
  4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)

Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah SWT maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

 

Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodar

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”

Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)

Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodar agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.

 

Dikutip dari Era Muslim

 

 

Saat Halal dan Haram Tidak Lagi Diperdulikan

Sesungguhnya, yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas. Antara keduanya terdapat hal-hal samar yang tidak diketahui kebanyakan orang.

 

SEPERTI halnya cinta, tema seputar halal dan haram tidak ada habisnya untuk dibahas. Seiring perkembangan zaman, masalah ini terasa makin kompleks, makin menarik, sekaligus makin memusingkan.

Ada banyak hal baru yang tidak ditemui pada zaman Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat. Selintas tidak ada dalil hukum yang menerangkan bidang-bidang tersebut. Boleh jadi, kita menganggapnya halal, namun setelah diselidiki, ternyata statusnya haram. Begitu pun sebaliknya. Bagi sebagian orang, masalah ini sangat membingungkan atau setidaknya menimbulkan keragu-raguan.

Sebenarnya, agama kita telah menetapkan aturan sangat jelas tentang masalah halal haram ini. Keduanya termasuk unsur fundamental dalam Islam.

Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya, yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, antara keduanya terdapat hal-hal samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa menjaga diri dari hal-hal yang samar itu maka ia telah menjaga agama dan harga dirinya, dan barangsiapa jatuh ke dalam hal yang samar maka ia telah jatuh kepada hal yang haram, seperti pengembala yang mengembala di sekitar daerah terlarang, nyaris ia masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja mempunyai daerah larangan. Ketahuilah sesungguhnya daerah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadist ini memperlihatkan betapa besarnya kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada manusia. Sungguh, Allah tidak menghendaki manusia celaka. Jauh-jauh hari, Dia—melalui lisan utusan-Nya—telah mengabarkan akan adanya batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar manusia.

Andai kita hitung, ternyata yang diharamkan Allah lebih sedikit daripada yang dihalalkan. Entah itu dilihat dari sudut pandang zatnya maupun dari sudut pandang tindakannya (cara mendapatkan benda zat tersebut).

Lihat saja, semua minuman halal dikonsumsi, kecuali minuman yang merusak tubuh dan memabukkan. Semua makanan halal dinikmati, kecuali makanan yang menjijikkan dan tidak baik bagi kesehatan, misalnya bangkai (kecuali ikan dan belalang), darah yang mengalir, babi, binatang buas atau bertaring, binatang yang memakan kotoran, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Hanya itu saja.

Demikian pula dalam hal perbuatan. Yang dilarang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang diperbolehkan. Hanya yang buruk dan membahayakan saja yang dilarang, seperti mencuri, memanipulasi, menipu, riba, menjual diri, mengorbankan orang lain, atau perbuatan musyrik. Di luar itu, selama tidak membahayakan dan merendahkan derajat kemanusiaan, Allah menghalalkannya. Yang termasuk kategori ini, di antaranya berdagang, bertani, berbisnis, menjadi karyawan, serta bidang-bidang usaha lain yang sangat banyak jumlahnya.

Akan tetapi, seiring kuatnya dominasi sistem kapitalisme, termasuk industrialisasi modern yang berasas al-ghayah tubarrir al-washilah (tujuan menghalalkan cara) dan berprinsip zero wasting (sampah nol), yang sedikit itu justru menjadi sangat fungsional dan menguasai. Sebagai contoh babi, dalam kalkulasi bisnis kapitalisme hampir semua bagian tubuh babi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi yang sangat efesien dan menjanjikan.

Kulit atau tulangnya saja ternyata dapat digunakan dalam produksi gelatin. Sebagai informasi, di dunia industri, gelatin tergolong miracle food karena sangat multifungsi dan tak tertandingi kegunaannya. Gelatin dapat digunakan sebagai bahan pengisi, pengemulasi (amulsifer), pengikat, penyedap, dan sekaligus pemerkaya gizi. Karakteristiknya yang lentur dapat membentuk lapisan tipis elastis, film transparan yang kuat, dan daya cernanya tinggi.

Dalam perspektif lain, akibat perkembangan zaman yang sarat warna-warni kapitalisme ini, bidang-bidang baru pun bermunculan seiring dengan makin kompleksnya kebutuhan manusia. Semuanya bermuara pada satu titik, yaitu bagaimana mendapatkan laba alias keuntungan finansial sebanyak mungkin.

Memang tidak semua bidang ini haram. Namun, tidak sedikit yang melanggar aturan yang telah digariskan agama, atau setidaknya bidang ini kehalalannya diragukan alias syubhat, misalnya praktik-praktik ribawi dengan memperjualbelikan uang, bunga bank, berspekulasi di pasar saham, ekploitasi tubuh wanita melalui kontes-kontes kecantikan fashion show, tarian-tarian, dan judi via internet atau telepon seluler.

Belum lagi adanya praktik-praktik curang para pemegang kebijakan, mulai dari bagi-bagi tender proyek, illegal logging, uang komisi, hingga perjalanan-perjalanan dinas yang tidak jelas juntrungannya. Tidak hanya itu, kita pun menyaksikan maraknya kejahatan-kejahatan baru di dunia maya, pengelundupan (transaksi di pasar gelap), mark-up pembiayaan, mafia, hingga praktik-praktik curang (dan amat jahat tentunya) di pabrik-pabrik pengelolahan makanan atau di SPBU-SPBU.

Ada seribu satu cara mudah mendapatkan uang dengan cara licik dan tidak halal. Boleh jadi, inilah zaman yang pernah diprediksi Rasulullah,

“Akan tiba suatu zaman bagi manusia di mana seseorang tidak lagi mempedulikan rezeki yang didapatkan, apakah dari sumber yang halal atau dari sumber yang haram.” (HR. Bukhari, Nasa’i, Ahmad, dan Ad-Darimi).*/Sudirman STAIL (sumber buku: Haram Bikin Seram, penulis: Tauhid Nur Azhar Eman Sulaiman)

HIDAYATULLAH

Dampak Seks Bebas Terhadap Kanker Serviks

Kanker serviks bagi wanita merupakan penyakit yang cukup menakutkan, karena berdasarkan tinjauan statistik di negara maju, menyebutkan bahwa penyakit ini berada pada posisi keempat sebagai penyakit yang paling mematikan bagi wanita. Dan berdasarkan data statistik di Indonesia, penyakit kanker serviks justru berada pada posisi pertama sebagai penyakit yang paling ganas dan mematikan.

Kanker serviks umumnya diderita oleh wanita pada usia diatas 40 tahun, tapi bukan berarti Anda yang masih berumur dibawah 40 tahun lantas bersantai tanpa mengkhawatirkan keberadaan penyakit ini.Pada dasarnya, kanker serviks sulit dideteksi. Butuh waktu antara 10 sampai 20 tahun sejak sel kanker pertama kali berkembang dalam tubuh hingga akhirnya dapat terdeteksi dan butuh waktu antara 20-30 tahun hingga sel kanker mengalami puncak pertumbuhan.

Penyebab utamanya sendiri adalah infeksi dari virus bernama HPV atau Human Papilloma Virus, infeksi dapat terjadi karena gaya hidup yang tidak baik, misalnya seperti perilaku seks bebas.

Apa dampak seks bebas terhadap kanker serviks? Bagaimana dampak seks bebas terhadap kanker serviks? Seperti apa proses yang terjadi sehingga perilaku seks bebas dapat menyebabkan timbulnya kanker serviks?

Seks bebas umumnya dilakukan di usia yang terlalu muda dengan cara berganti-ganti pasangan seks, potensi infeksi HPV sangat besar dengan perilaku seperti itu karena HPV dapat menular melalui hubungan seksual. Misalnya saja, seorang wanita berhubungan seksual dengan seorang pria yang pernah berhubungan seksual dengan wanita lain yang terjangkit virus HPV, maka kemungkinan wanita tersebut untuk ikut terjangkit virus HPV sangat besar.

Kalaupun si wanita tidak berganti-ganti pasangan, tetap ada kemungkinan besar terjangkit virus HPV bila si pria sering berganti pasangan. Selain itu, seks bebas identik dengan kehamilan.

Karena hubungan seksual dilakukan tidak secara tepat dengan pasangan yang berganti-ganti pula, maka kemungkinan untuk hamil pun semakin besar. Padahal, saat terjadi proses melahirkan secara alami, janin yang melewati serviks atau mulut rahim akan membuat serviks atau mulut rahim tersebut trauma yang dapat menimbulkan terpicunya pertumbuhan sel kanker. Semakin sering trauma terjadi, maka resiko kanker serviks sendiri akan semakin besar.Adakah cara mengurangi dampak seks bebas terhadap kanker serviks? Bila Anda bertanya mengenai cara untuk mengurangi dampak seks bebas terhadap kanker serviks, tentunya tidak ada jawabannya.

Dampak seks bebas terhadap kanker serviks tidak dapat dikurangi, karena pada dasarnya hal itulah yang menyebabkan kanker serviks. Untuk mencegah Anda dan orang terdekat dari ancaman kanker serviks, yang bisa dilakukan adalah menghindari gaya hidup yang tidak baik seperti seks bebas.

Jangan sampai kemudahan dan kenikmatan sementara justru akan menimbulkan kesulitan dan penderitaan di kemudian hari.

Janji Suci Itu Bernama “Ijab Qabul”

TIDAK ada yang salah dalam sebuah pernikahan. Sama sekali tidak. JIka di perjalanannya kelak kau temukan senyum dan tawa, sungguh itulah pernikahan.

Pun jika nanti kau hanya jumpai air mata, juga sungguh, itulah pernikahan. Bahkan jika kai temukan keduanya silih berganti, maka sungguh itulah pernikahan. Kau percaya kan? Begitu pun aku.

Ketika namamu tertuang dalam buku kecil bersanding erat dengan namanya, maka ketika itu jelaslah dirimu telah terikat dengannya. Ketika jari manismu telah diisi cincin oleh pemilik yang sah, maka ketika itu sempurnalah hidupmu berubah. Dan ketika ibu-ayahmu bukan lagi orang pertama yang kau jumpai saat bangun tidur, maka ketika itu berputarlah arah abdimu padanya.

Hubungan ini tidak semudah yang dibicarakan. Ikatannya bukan hanya pada dia yang kelak akan hidup bersamamu saja, tapi juga pada keluarganya. Tidak sebatas tali di antara manusia saja, tapi juga ketersambungan tanggung jawab terhadap Tuhan.

Sebuah prolog di atas sebenarnya hanya bagian kecil dari gambaran apa yang akan dibahas kali ini. Yap, tentunya bahasan itu semua bagian dari kata pernikahan. Coba pikirkan baik-baik, apa sih yang terpikirkan jika mendengar kata “nikah”? Apakah Janji Suci? Apakah Bahagia? Apakah Cinta? Atau mungkin penderitaan? Mungkin setiap orang mempunyai definisi tersendiri tentang kata itu.

Semua orang pasti tau menikah merupakan sunah Rasulullah. Menikah dengan seseorang yang sudah dipilihkan Allah untuk kita pastinya akan membuat hidup ini menjadi tenang, tentram dan bahagia. Akan terasa indah jika rumah tangga yang akan dibangun dipenuhi dengan manisnya iman, nikmatnya ibadah dan ringannya jiwa raga untuk beramal.

Terasa sejuk rasanya jika kehidupan ini dikelilingi oleh orang yang tulus mencintai dan menyayangi kita, mengikat janji setia dan bersama bahu membahu berjuang mencapai surgaNya. tetapi sebenarnya bukan sampai disitu saja, bukan sampai menunaikan keinginan akad saja. Karena sesudahnya banyak amanah yang harus dipegang eratm ada berbagai rintangan dan cobaan yang harus dilalui, dan ada beribu tanggung jawab yang harus dilaksanakan.

Membahas persiapan hati dan kesiapan mental sebelum menikah dan juga calon mungkin sesuatu hal yang asyik untuk diperbincangkan. Namun kita juga harus tahu ketika fase dimana sesudah ijab terucap dan kabul terkata. Ketika tangan sudah berada di bawah tangan djuga ketika janji bukan lagi milik kita namun sudah berada dalam genggangan Allah SWT.

Pertama, jadilah pasangan yang sempurna dengan saling melengkapi. Memang di dunia ini tidak akan ada seseorang yang sempurna, namun ketika sudah bersatu, anggaplah kekurangan pasangan itu sebagai pelengkp kesempurnaannya. Contohnya, seorang suami bertanggung jawab penuh terhadap arah kehidupan keluarga yang dipimpinnya. Mau dibawa kemana dan kelak akan seperti apa, maka suamilah yang harus menentukan.

Lantas, kepada siapa seorang suami harus bergantung? Pasti kebanyakan orang akan menjawab kepada istri yang tentu akan menjadi orang yang paling dekat dan besar dukungannya kepada suami. Oh ya, benarkah? Tentu tidak. Dalam mengarungi kehidupan berumah tangga, sang suami haruslah hanya bergantung pada Allah. Namun sayangnya, di zaman sekarang banyak yang menjelaskan bahwa seorang suami bisa bergantung pada istri. Akibatnya jelas jika sang suami bergantung pada istri, bahtera rumah tangga yangs sedang dijalani akan cepat rapuh dan roboh. Coba ingat-ingat, banyak hadis yang mengatakan bahwa salah satu pelemah keimanan seseorang adalah wanita? Oleh karena itu, istri seharusnya bukan tempat bergantung suami, namun seseorang yang harus dicintai dan dilindungi satu-satunya. Libatkan Allah dalam setiap cinta kita, walaupun kepada pasangan sendiri, jangan sampai cinta kita kepada istri melebih cinta kita kepada Allah.

Sebaliknya, seorang istri juga harus melibatkan Allah dalam perasaan cinta kepada suaminya. Supaya kelak tujuan keluarga selalu dalam jalur yang diridaiNya. Semua pembahasan pada point pertama ini intinya adalah jangan mencintai seseorang melenihi rasa cinta serta takut kita kepada Allah.

Kedua, sesudah menikah, tanggung jawab terbesar selanjutnya adalah menjadi orang tua. Anak yang allah titipkan pada kita merupakan sebuah amanah yang menjadi saksi sejauh mana seseorang bisa mengarahkan dan menjaga amanah sebagai seseorang yang sudah menikah. Allah sudah melimpahkan sepenuhnya kepada pasangan yang sudah menikah, mau kita bentuk dan dijadikan seperti apa seorang anak terserah orang tuanya.

Karena itu, tidak mudah menjadi orang tua. Diibaratkan anak seperti kertas putih, mau dikasih coretan atau warna apapun tergantung orang yang memiliki kertas itu. Hal pertama yang harus ditancapkan kepada anak adalah pendidikan dan pemahaman agama Islam, Alquran. Intinya pendidikan islami harus diajarkan sedini mungkin kepada Anak.

Demikian artikel singkat yang membahas tentang ada apa di balik Ijab Qabul. Semoga kelak ketika akan menikahah, kita bisa mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga dengan persiapan yang matang.[fimadina]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2385741/janji-suci-itu-bernama-ijab-qabul#sthash.zzkIJXLC.dpuf

Lika Liku Jalan Hidup

SEMALAM saya berkesempatan menyapa masyarakat muslim Indonesia di Melbourne, tepatnya di kediaman Syekh Nadirsyah Hosen, seorang cendekiawan Indonesia yang bendera keilmuannya berkibar di Australia. Saat ini beliau menduduki jabatan penting di Monash University. Lumayan banyak yang hadir dalam kajian keislaman semalam. Terasa akrab dan semakin akrab dengan terlibatnya ikan kering dan pete dalam jamuan buka puasa.

Saya sampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan penataan hati, proyek kehidupan utama yang harus dilakukan secara serius oleh mereka yang mengejar bahagia. TATA hati adalah kata kuncinya. Berpuasa di bulan Ramadhan ini adalah salah satu medianya. Berpuasa yang tidak mengantarkan pada penataan hati adalah sebuah bentuk kegagalan proyek utama ini.

Selepas acara, kita lanjutkan dengan dialog terbatas. Tuan rumah bercerita tentang kehidupannya dan kehidupan keluarga serta orang besar yang dikenalnya. Satu kesimpulan: “Hidup penuh lika liku, hidup penuh ujian.” Tak ada orang besar yang tak diuji, tak ada orang yang mulia yang tak tertimpa musibah. Bukankah emas itu kelihatan berbeda dari besi setelah dibakar dengan api?

Kemudian ada yang bertanya, mengapa kita meminta dijauhkan dari musibah, kalau musibah itu menjadikan kita besar dan mulia? Jawaban singkatnya. Pertama, musibah yang kita minta dijauhkan adalah musibah yang mencelakakan, musibah yang kita tidak mampu memikulnya; kedua, musibah itu dinamakan musibah adalah saat menjauhkan kita dari Allah, sementara yang mendekatkan kita kepada Allah adalah nikmat dalam wajah yang berbeda. Salam, AIM. [*]

 

MOZAIK INILAH.com