Aturan Haji Diperketat

Pengetatan untuk menjamin keselamatan jamaah haji.

Menteri Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi Tawfiq bin Fawzan Al-Rabiah menegaskan pihaknya akan lebih memperketat aturan haji tahun ini, dan akan menjatuhkan sanksi kepada siapa pun yang melanggar aturan tersebut.

“Pengetatan ini dimaksudkan untuk menjamin keamanan dan keselamatan para jamaah haji secara umum, termasuk jamaah haji asal Indonesia,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta.

Pemerintah Arab Saudi telah siap menyambut kedatangan calon jemaah haji Indonesia yang mencapai 241.000 orang tahun ini, katanya seraya menekankan bahwa pemerintahnya juga terus memberikan perhatian pada pelaksanaan haji melalui jalur resmi.

 “Tidak ada lagi istilahnya haji ilegal,” Tawfiq bin Fawzan Al-Rabiah  yang mengaku senang kembali berada di Indonesia dalam kunjungannya dari 29 April hingga 2 Mei.

“Sangat senang sekali berada di Indonesia. Kunjungan tahun ini merupakan yang kedua setelah kunjungan pada 2022,” katanya.

Dalam konferensi pers itu, dia lebih lanjut mengatakan Kerajaan Arab Saudi tahun ini juga mulai menggunakan sistem bernama aplikasi nusuk. yakni smart card yang mempermudah para jemaah haji.

“Aplikasi ini baru diperkenalkan pertama kalinya di Indonesia, dan ini memudahkan pergerakan jamaah haji Indonesia selama melakukan ibadah haji,” katanya.

Smart card adalah kartu yang dibuat khusus untuk memberikan pelayanan kepada jamaah haji, yang memuat informasi tentang haji dan membantu jamaah untuk mengetahui lokasi-lokasi yang ada di tempat pelaksanaan ibadah haji.

Adapun pelaksanaan umroh tahun ini akan kembali dibuka pada 14 Dzulhijah yakni sepekan setelah pelaksanaan ibadah haji, katanya menambahkan.

IHRAM

Konsep Taubat antara Islam & Stoikisme

Konsep taubat dalam Islam dan Stoikisme memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dalam hal pandangan mereka tentang penyesalan dan perbaikan diri. Nah artikel ini akan membahas tentang konsep taubat antara Islam dan Stokisme.

Kehidupan selalu dipenuhi rasa takut akan penderitaan dan musibah. Padahal rasa takut itu adalah bayangan yang kita ciptakan sendiri. “Dunia bukan dilihat sebagaimana adanya, tapi bagaimana kita bersikap”.

Di kehidupan modern, perubahan sosial, mulai dari gaya hidup, kebutuhan hidup, keinginan hidup, apakah selalu di kontrol dengan arus fyp, viral, hedon, flexing, konsumerisme?.

Kehidupan modern penuh dengan pernak- perniknya yang sebenarnya itu manipulatif dengan segala dramanya. Maka tak heran sekali banyak kasus bunuh diri karena stress, menurut data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri, sekitar 971 kasus bunuh diri di Indonesia selama periode Januari hingga 18 Oktober 2023. Angka itu sudah melampaui kasus bunuh diri sepanjang 2022 yang jumlahnya 900 kasus. (Imami Teguh, 2024) 

Banyaknya kejadian tersebut merupakan efek gilanya hidup di kehidupan modern ini. Maka daripada itu pentingnya kita untuk bertaubat, kembali kepada Tuhan yang maha pencipta, dan bertaubat dengan menyadari kehidupan adalah anugrah terbesar yang kita miliki, dengan memahami filsafat stoikisme untuk menghadapi hidup yang rumit ini.

Konsep Taubat Islam dengan Stoikisme

Pengertian taubat secara linguistik menurut  Ghazali adalah “kembali” (ruju’), berdasarkan Etimologi, Kata tobat berasal dari Bahasa Arab yakni taubah: taaba-yatuubu-taubatan yang berarti kembali dari kemaksiatan ke ketaatan, kembali dari jalan yang jauh ke  jalan yang dekat. Imam Haramain (Abdul Marri al-Juwayni) mengatakan bahwa bertaubat berarti melepaskan keinginan untuk  melakukan kejahatan seperti sebelumnya demi mengagungkan Allah  dan menjauhkan diri dari murka. (Rozalina Erba, 2017)  

Taubat dalam perspektif islam memiliki pengertian dan makna yang luas untuk menata kembali kehidupan manusia. Bertaubat berarti ia telah meninggalkan dosanya dan Allah telah mengampuni serta menyelamatkannya dari dosanya. 

Tetapi dalam hubunganya dengan Filsafat Stoikisme, yang didirikan Ajaran pertama kali dibawa oleh Zeno dari Cizio tepatnya di pulau Siprus 333 SM- 263 SM. Zeno mulai mempelajari filsafat pada sebuah akademi yang didirikan Plato pada tahun 300 SM. (STF Widya Sasana, 2014)

Selanjutnya Zeno mendirikan sebuah akademi miliknya sendiri di depan teras yang diberi nama Stoa. Stoikisme juga mengajarkan Taubat yakni mengajarkan manusia agat kembali memahami kodrat, dan kendali pada dirinya. Kata Zeno hidup sebenarnya ada di dalam diri manusia. Kebahagiaan menurut stoikisme adalah hidup sesuai dengan kodrat (amor faith). Walaupun stoikisme menolak metafisika dan memasukkannya ke dalam fisika, tapi konsep tersebut ada hubunganya. 

Hubungan Konsep keduanya

Dalam hubungannya islam dan stoikisme ada titik penekanan yakni makna “kembali”, yang artinya manusia harus kembali (bertobat) dari dosa (pikiran yang buruk) kepada keselarasan alam (nature).

Taubat atau tobat tidak selalu berurusan dengan masalah dosa tapi masalah pikiran- tindakan, kita yang seharusnya tidak mengikuti keinginan arus yang berlebihan. Taubat sebenarnya mempunyai 3 (tiga) makna berturut-turut, yaitu ilmu dan kesadaran (‘ilm), keadaan hati (hal) dan perbuatan (fi’il).  (Rozalina Erba, 2017)  

Dalam Taubat Islam dan Stoikisme adalah bagaimana usaha manusia menemukan kesadaraanya kembali, untuk memahami apa yang ada di dalam dirinya. Filsuf Epictetus yang hidup di sekitar tahun 55 – 135 mengutarakan hal serupa:

“Tugas utama dalam hidup adalah mengenali dan memisahkan hal-hal eksternal yang tidak di bawah kendali saya, dan yang berkaitan dengan pilihan yang benar-benar saya kendalikan.”- Epictetus (Pandiangan, 2021) 

Manusia kerap kali kehilangan dirinya di tengah- tengah arus yang hebat, maka perlunya untuk mengenali dirinya sendiri, karena ada maqolah yang mengatakan,

ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.

Mengenal Tuhan adalah kebahagiaan dan kebajikan tertinggi, atau socrates mengatakan kebahagiaan tertinggi (eudaimonia). Pada dasarnya banyak persamaan konseptual antara Al-Qur’an dan filsafat Stoa mengenai hakikat kebahagiaan.

Karena Al-Qur’an merupakan pedoman yang mendorong manusia untuk menggunakan akal sehatnya, seperti terlihat pada ungkapan afala tatafakkarun, afala ta’qilun, afala yatadabbarun, yang semuanya merupakan idiom Al-Qur’an dan berkaitan dengan pentingnya mengedepankan akal sebagai metode untuk mencapai kebenaran memiliki kesamaan dengan Al-Quran, yaitu mendorong pentingnya penggunaan akal. ( Rahman Taufik, Dkk, 2022) 

Mulai Bertobat Mengontrol Emosi dan Mengendalikan Pikiran

Terkadang kita selalu, kewalahan menuruti hal eksternal dalam kehidupan kita, seperti opini, tingkah buruk manusia lain, pencapaian orang lain, harta, kekayaan, jabatan. Membuat kita stress berlebihan dan terlena akan dunia. Itu juga dosa kita, jika kita tidak segera bertaubat, dan memahami keselarasan alam. Seperti Epictetus mengatakan,

“Jangan menuntut peristiwa terjadi sesuai keinginanmu, tetapi 

inginkan hidup terjadi apa adanya, dan jalanmu akan baik adanya.”- Epictetus

Jalanilah kehidupan kita dengan harapan yang sesuai dengan kemampuan kita, dan berhenti untuk menyalahkan keadaan ataupun diri sendiri, itu juga sebenarnya dosa besar kita, yang akhirnya kita tidak sabar dan bersyukur atas kehidupan ini, lalu mengakhiri kehidupan kita, naudzubillah min dzalik.

Dengan memahami tobat dari kedua konsep tersebut seharusnya, kita bisa lebih mengetahui bahwasanya kebahagiaan itu diciptakan oleh kita, melalui sikap, keputusan, komitmen kita dalam berjuang. 

“Anda memiliki kekuatan atas pikiran

Anda─bukan atas peristiwa yang di luar.

Sadarilah ini, dan Anda akan menemukan

kekuatan.” ─ Marcus Aurelius.

Demikian penjelasan terkaitkonsep Taubat antara Islam & Stoikisme. Semoga bermanfaat.

BINCANG SYARIAH

Apakah Sains Bertentangan dengan Agama? (Bag. 1)

“Ayat ini bertentangan dengan Sains! Hadis ini tidak masuk akal!”

Demikianlah, salah satu ucapan yang menggambarkan kesalahpahaman terhadap Islam yang sering ditemukan di kalangan para intelektual dan semisalnya. Miskonsepsi tersebut adalah dugaan adanya pertentangan antara sains dan syariat atau pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama.

Sebagian orang merasa tidak memiliki masalah terhadap syariat dan informasi-informasi di dalamnya. Mereka menganggap bahwa agama adalah salah satu sumber pengetahuan. Akan tetapi, di benaknya ia merasa ada pertentangan antara dalil tertentu dengan fakta ilmiah tertentu. Kemudian ia menganggap bahwa fakta ilmiah tersebut harus didahulukan.

Sebagian orang lainnya menganggap bahwa dalil apa pun sudah pasti benar, tanpa mengecek validitas dalil tersebut. Oleh karenanya, apabila ia temukan pertentangan antara agama dan sains, ia langsung buru-buru menyalahkan sains, dan membela dalil tersebut. Padahal, bisa jadi, dalil yang ia gunakan tidak sahih dan sains yang ia salahkan adalah fakta aksiomatis yang tidak bisa diganggu gugat kebenarannya.

Lantas, bagaimanakah posisi yang tepat dalam masalah ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami sajikan dalam bentuk poin-poin.

Pertama: Kepastian dalil agama dan sains bertingkat-tingkat

Di antara faktor yang melahirkan permasalahan ini adalah anggapan bahwa dalil agama dan sains berada dalam satu tingkatan kekuatan, baik dari sisi validitas informasi ataupun penafsirannya. Padahal, faktanya tidaklah demikian. Dalil agama dan sains keabsahannya bertingkat-tingkat.

Dalil agama ada yang pasti benar dari sisi periwayatan dan penafsirannya, ada pula yang bersifat dugaan. Sebagai contoh, Al-Qur’an, dari awal hingga akhir, diriwayatkan secara mutawātir, yaitu sekelompok orang meriwayatkan dari sekelompok orang sampai bersambung ke Nabi ﷺ. Oleh karena itu, tingkat validitas seluruh informasinya adalah pasti. Namun, pemahaman terhadap dalālah atau maksud dari ayat-ayatnya bertingkat-tingkat. Ada yang pasti, tidak ada perselisihan dalam memahami maksud ayat tersebut. Ada pula yang bersifat dugaan, sehingga perlu dikembalikan tafsirnya kepada ulama untuk memahami maksudnya dengan benar.

Contoh ayat yang maksudnya pasti adalah,

Allah Ta’āla berfirman

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa.’” (QS. Al-Ikhlas: 1)

Maksud ayat tersebut bersifat pasti, yaitu Allah adalah Esa. Ayat tersebut tidak dapat dipahami dengan pemahaman lainnya. Seseorang tidak bisa mengalihkan maknanya ke makna lain, seperti Allah tidak esa, atau Allah adalah dua.

Contoh dugaan pertentangan ayat Al-Qur’an dan sains

Adapun ayat berikut adalah contoh pemahaman maksud ayat yang tidak pasti, sehingga perlu dikembalikan maknanya kepada ulama tafsir. Allah Ta’āla berfirman,

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ ٱلشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِى عَيْنٍ حَمِئَةٍۢ …

Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihatnya terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam…” (QS. Al-Kahfi: 86)

Pemahaman secara tekstual terhadap ayat tersebut adalah bahwasanya matahari terbenam di laut yang berlumpur hitam. Sedangkan konsensus sains mengatakan bahwa bumi berotasi mengitari matahari, bukan matahari yang masuk ke dalam bumi. Pertanyaannya, apakah pemahaman bahwa matahari terbenam ke dalam laut berlumpur tersebut benar atau salah? Jawabannya tentu saja salah.

Para ahli tafsir bersepakat bahwa maksud matahari terbenam ke dalam laut adalah terbenam dari perspektif orang yang melihatnya. Maknanya, orang yang menyaksikan matahari terbenam di sore hari seakan-akan melihatnya masuk ke dalam laut yang berlumpur hitam. Hal ini menunjukkan luasnya penggunaan ekspresi kalimat dalam khazanah bahasa Arab.

Hal ini sebagaimana dijelaskan Syekh Ibnu Al-‘Utṣaimīn rahimahullah dalam menafsirkan ayat tersebut,

﴿وَجَدَهَا تَغْرُبُ﴾ في هذه العين، ومعلوم أنها تغرب في هذه العين الحمئة حسب رؤية الإنسان، وإلَّا فهي أكبر من الأرض، وأكبر من هذه العين الحمئة وأعظم، …لكن لا حرج أن الإنسان يُخْبِر عن الشيء حسب رؤيته إياه.

“‘Dia melihatnya terbenam …’ ke dalam air laut tersebut. Sebagaimana diketahui, bahwa matahari terbenam ke dalam laut berlumpur hitam berdasarkan penglihatan manusia, karena matahari lebih besar dibandingkan bumi dan laut berlumpur hitam tersebut. Akan tetapi, tidak mengapa seseorang mengabarkan sesuatu berdasarkan perspektif ia melihat.[1]

Oleh karena itu, dugaan pertentangan di sini muncul dari kekeliruan memahami maksud ayat. Apabila ayat dipahami secara tepat, maka hilanglah dugaan pertentangan tersebut.

Contoh dugaan pertentangan hadis dan sains

Adapun hadis, maka validitasnya bertingkat dari sisi periwayatan dan pemahaman. Berdasarkan periwayatannya, ada hadis yang derajatnya sahih dan ada yang di bawah itu. Demikian pula, dari sisi penafsiran maksud hadis, ada yang bersifat pasti dan ada yang bersifat dugaan.

Sebagai contoh adalah hadis yang diriwayatkan secara marfū‘ oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

من حدّث حديثًا فعطس عنده فهو حقٌّ

Barangsiapa yang berbicara suatu ucapan kemudian bersin, maka ucapan tersebut benar.[2]

Hadis ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang bersin ketika berbicara, maka ucapannya benar dan jujur. Apakah hal ini terbukti benar?

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Seandainya ada yang menilai hadis ini sahih, tetap secara insting inderawi terasa palsu. Sebab, kita menyaksikan ada orang yang bersin, sedangkan kebohongan tetap berjalan. Seandainya ada seratus orang bersin ketika meriwayatkan sebuah hadis Nabi ﷺ, maka tidak dapat dianggap sahih hanya karena bersin, dan seandainya mereka bersin ketika bersaksi sebuah persaksian dusta, tidak bisa dibenarkan persaksiannya.[3]

Perhatikanlah bagaimana Ibnul Qayyim rahimahullah menjadikan indera dan observasi terhadap realita sebagai bukti kebatilan hadis tersebut. Demikianlah faktanya, hadis tersebut berstatus sangat lemah atau bahkan palsu, sebagaimana dijelaskan beberapa ulama seperti Asy-Syaukāni [4] dan Al-Albāni [5]. Sehingga, tidak dapat dikatakan adanya pertentangan antara hadis dan sains. Karena hadis tersebut tidak sahih, artinya ia bukan ucapan Nabi ﷺ.

Oleh karena itu, hakikat pertentangan di sini adalah antara observasi inderawi yang pasti dan dalil yang lemah, sehingga yang harus dimenangkan adalah observasi inderawi yang pasti.

***

Penulis: Faadhil Fikrian Nugroho

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

Disarikan dari kitab Zukhruf Al-Qaul bab 8 berjudul a Mukhālifun lil-‘Ilmi dan The Divine Reality Chapter 12 berjudul Has Science Disproved God?

Catatan kaki:

[1] Tafsīr Ibn Al-‘Utṣaimīn, Al-Kahf, hal. 127.

[2] HR. Abu Ya’la di dalam Musnad Abi Ya’la, no. 6352.

Sumber: https://muslim.or.id/93297-apakah-sains-bertentangan-dengan-agama-bag-1.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Andai ini Salat Terakhirku

Bagaimana jika salat yang akan kita laksanakan setelah ini adalah salat terakhir kita sebagai makhluk yang bernyawa? Anggaplah kita tahu bahwa setelah salat ini nanti, malakul maut akan datang menjemput dan mencabut nyawa kita. Kita akan berpisah dengan orang-orang tercinta dan bersiap untuk menghadap Allah Ta’ala, serta mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan selama hidup di dunia.

Ibadah yang merupakan amalan pertama dihisab pada hari akhir itu ternyata menjadi persembahan terakhir kita kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا

Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Maka, jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari salat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki salat sunah.’ Maka, disempurnakanlah apa yang kurang dari salat wajibnya. Kemudian, begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi no. 413 dan An-Nasa’i no. 466 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih.)

Barulah kita menyadari bahwa, di dalamnya terdapat waktu mustajabnya doa (ketika sujud). Di mana kita masih dapat memohon pengampunan dari Allah Ta’ala atas segala dosa selama hidup. Salat di mana kita berserah diri kepada Allah Ta’ala, mengakui kebesaran-Nya tatkala mengucap takbiratulihramAllahu Akbar”.

Kemudian, kita merenungi setiap kalimat dan kata di kala melantunkan surah Al-Fatihah, melakukan rukuk, iktidal, dan sujud dengan begitu tumakninahnya karena menyadari bahwa ibadah tersebut merupakan penutup amalan kita selama hidup di dunia. Tentu, menangislah diri kita sejadi-jadinya berharap kesempatan terakhir dalam ibadah kepada Allah Ta’ala tersebut. Terbayang dosa-dosa yang pernah dilakukan, rasa cemas yang begitu tinggi, serta harapan yang besar agar mendapat ampunan dari Allah Ta’ala sebelum ajal menjemput.

Salat dan prioritas ibadah

Salat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Ibadah salat merupakan sarana di mana seorang hamba berkomunikasi dengan Rabb-Nya. Renungkanlah bacaan-bacaan dalam salat mulai dari takbiratulihram hingga salam. Semua kalimat tersebut merupakan zikir pengagungan kepada Allah Ta’ala dan doa-doa agung yang dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Rabbnya.

Bagaimana mungkin sepanjang melantunkan zikir dan doa kepada Allah, kita tidak mampu khusyuk dan benar-benar memahami bacaan yang kita ucapkan?

Padahal, sangat jelas bahwa dalam setiap ayat yang kita baca dalam surah Al-Fatihah, Allah Ta’ala menjawab lantunan kita tersebut. Karena pada setiap bacaan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Maka, Allah Ta’ala akan berfirman,

حَمِدَنِي عَبْدِي

Hamba-Ku memuji-Ku.”

Adapun dalam setiap bacaan,

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Allah Ta’ala pun menjawab,

أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

Hamba-Ku menyanjung-Ku.

Begitu juga, dalam setiap bacaan,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Maka, Allah juga membalasnya dengan kalimat,

مَجَّدَنِي عَبْدِي

Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” (HR. Muslim no. 395, Ahmad no. 7291, dan yang lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Namun, kenyataannya, sebagian besar dari kita masih belum memprioritaskan salat sebagai momen paling berharga sepanjang kehidupan yang diberikan oleh Allah Ta’ala setiap waktu. Padahal, saat salatlah seharusnya kita benar-benar mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dengan fisik yang prima, pakaian terbaik, dan ilmu yang mumpuni tentang salat.

Seseorang yang memiliki fisik yang prima tentu akan dengan mudah melakukan rangkaian gerakan salat dengan baik, tumakninah, dan kesesuaian dengan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu pula, pakaian terbaik disertai dengan wewangian terbaik pula sebagai tanda persiapan maksimum sebelum bertemu dengan Allah Ta’ala dalam salat. Serta, ilmu yang mumpuni, dengannya seorang hamba dapat menyempurnakan ibadah salatnya sesuai dengan ketentuan sunah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ikhtiar memaksimalkan kekhusyukan

Ditegaskan pula bahwa salat menempati urutan prioritas untuk dipertanggungjawabkan seorang muslim dalam rukun Islam setelah syahadatain. Karena keislaman seseorang tidak akan utuh tanpa melaksanakan salat sebagai kewajiban utamanya sebagai seorang muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji (ke Baitullah); dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari no. 8; Muslim no. 16 dari Abdullah bin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma.)

Oleh karenanya, pahami dan sadarilah bahwa kedudukan salat adalah sungguh sangat agung dalam Islam. Persiapkan diri dengan semaksimal mungkin sebelum melaksanakan ibadah mulia ini, seperti:

Pertama: Memohon kemudahan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala;

Kedua: Membulatkan tekad dan azam untuk memprioritaskan salat dari segala urusan duniawi lainnya;

Ketiga: Senantiasa menambah ilmu tentang fikih salat agar wawasan terhadap ibadah mulia ini selalu bertambah dan dapat mendekati kesempurnaan dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;

Keempat: Mengatur pengingat 10 menit sebelum waktu salat dengan niat mendapatkan saf pertama di masjid (bagi kaum pria);

Kelima: Menjaga wudu agar selalu siap tatkala masuk waktu salat;

Keenam: Menyiapkan pakaian salat di tempat tertentu agar mudah mengenakannya atau senantiasa mengenakan pakaian yang tertutup aurat agar memudahkan diri melaksanakan salat secara tepat waktu;

Ketujuh: Senantiasa menyiapkan wewangian dan siwak agar terjaga dari bau yang tidak sedap tatkala menghadap Allah Ta’ala;

Kedelapan: Memaksimalkan kekhusyukan setiap melaksanakan salat dan menganggap bahwa salat tersebut adalah ibadah terakhirnya;

Kesembilan: Memahami seluruh kata dan kalimat yang diucapkan dalam salat serta berupaya mentadaburinya;

Kesepuluh: Memutus setiap pikiran dan khayalan yang timbul saat sedang menunaikan ibadah salat.

Menyadari kelemahan saat menunaikan salat

Banyak hal yang dapat menggiring dan menjauhkan kita dari fokus untuk dapat khusyuk setiap kali melaksanakan salat. Di antaranya adalah kesadaran diri dan benteng diri dari setan.

Kadangkala, kita mengalami kurang fokus saat melaksanakan salat. Terpikir hal-hal yang sejatinya tidak terpikirkan ketika sedang tidak salat. Bahkan, ayat-ayat yang dibacakan mungkin benar secara tajwid, tapi satu huruf pun kadang tak mampu direnungi makna dan maksudnya. Wal’iyadzubillah. Padahal, jelas ditegaskan bahwa dalam salat seharusnya kita memahami apa yang kita baca. Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْتُمْ سُكٰرٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan.” (QS. An-Nisa: 43)

Sering pula, kita diganggu oleh setan dengan berbagai cara, mulai dari rasa was-was apakah wudu batal atau tidak, terbayang permasalahan duniawi, bahkan bacaan Al-Qur’an yang terganggu karena pikiran sedang kacau. Maka, segeralah memohon perlindungan kepada Allah dan tiup/meludahlah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali.

Renungkanlah riwayat berikut ini. Dari Abul ‘Ala’ bahwa ‘Utsman bin Abil ‘Ash mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan mengganggu salat dan bacaanku, ia menggodaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,

ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزِبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا ». قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّى.

Itu adalah setan, ia disebut dengan Khinzib. Jika engkau merasa diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan tersebut. Kemudian ludahlah ke sebelah kirimu sebanyak tiga kali.” ‘Utsman kemudian melakukan seperti itu, lantas Allah mengusir setan itu darinya. (HR. Muslim no. 2203)

Nikmatnya salat khusyuk

Betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menikmati ibadah salatnya sampai-sampai Nabi berucap bahwa salat merupakan bagian dari perkara kesenangan duniawinya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

حُبِّبَ إليَّ مِن الدُّنيا النساءُ والطِّيب، وجُعِلَتْ قُرَّةُ عيني في الصلاة

Diberikan kepadaku dari perkara dunia adalah senang kepada wanita dan minyak wangi. Dan ketentramanku dijadikan ada pada salatku.” (HR. An-Nasa’i no. 3939)

Begitu pula, banyak riwayat yang menceritakan bahwa para sahabat dahulu ketika di medan perang tertusuk panah tajam pada tubuhnya. Ia tidak rela untuk dicabut, kecuali saat sedang melaksanakan salat, saking khusyuknya. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang istikamah dan khusuk dalam salatnya adalah mereka orang-orang beriman yang beruntung.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Dari Abi Ayyub radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

Apabila engkau mendirikan salat, maka salatlah seperti salatnya orang yang akan berpisah.” (Hadis hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad, 5: 412; Ibnu Majah no. 417; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 1: 462; Al-Mizzi, 19: 347; dan Lihat Ash-Shahihah no. 401.)

Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala yang diberikan karunia kekhusyukan dalam salatnya. Menghadirkan perasaan bahwa salat tersebut merupakan ibadah terakhir dalam hidup karena memang sejatinya tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi setelah salat tersebut, itu benar-benar waktu ajal kita tiba. Maka, persembahkan kualitas ibadah terbaikmu pada setiap salat-salatmu. Wallahua’lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/93417-andai-ini-salat-terakhirku.html
Copyright © 2024 muslim.or.id

Hindari Heat Stroke Saat Berhaji, Salah Satunya Minum Segelas Air Sejam Sekali

Akan lebih baik apabila diminum bersama oralit.

Praktisi kesehatan masyarakat Ngabila Salama mengatakan terdapat dua permasalahan kesehatan yang sering terjadi saat ibadah haji, yaitu kelelahan dan serangan panas (heat stroke), sehingga perlu ada persiapan yang baik sebelum ibadah itu.

Ngabila mengatakan awal dari kedua masalah itu adalah dehidrasi. Dehidrasi kemudian berkembang menjadi kelelahan karena panas, mengingat temperatur di sana mencapai 45 derajat Celsius, yang akhirnya menjadi serangan panas.

“Kenapa bisa terjadi? Karena kita terpapar sinar matahari yang luar biasa dan kita kurang minum. Makanya tadi ada yang namanya Gerus dan Gerah. Gerus, gerakan minum tanpa menunggu haus,” katanya dalam ‘Fisik Sehat, Haji Mabrur’ yang disiarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Jakarta, Jumat (3/5/2024).

Dia menyebutkan ketika ada yang terkena serangan panas, orang tersebut tak sadarkan diri, hemodinamikanya tidak stabil, tensinya sangat tinggi. Hal itu dapat menyebabkan henti jantung, bahkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat.

Ngabila mengatakan jamaah haji harus konsumsi cairan selama satu jam sekali, yaitu 200 cc atau satu gelas. Akan lebih baik apabila diminum bersama oralit. Oralit tak hanya untuk mengobati diare pada anak-anak, namun juga untuk menjaga keseimbangan elektrolit selama beribadah.

“Karena kita banyak keringat. Otomatis kan elektrolit di dalam tubuh kita keluar lewat keringat. Jadi, itu harus digantinya bukan cuma air, tapi elektrolit,” katanya.

Untuk melindungi diri dari panas, jamaah perlu menyemprot wajah dengan air sesering mungkin. Sejumlah barang yang perlu dipersiapkan, antara lain payung, topi berdaun lebar yang berwarna cerah agar memantulkan cahaya serta kurma.

Menurutnya, kurma sangat penting untuk menjaga fisik agar tidak kekurangan kadar gula atau hipoglikemi. “Lalu kita juga penting memakai masker. Masker medis itu untuk menjaga kelembapan di saluran nafas dan juga saluran mulut kita,” katanya.

Dia juga mengatakan penting untuk menyiapkan kantong plastik untuk menyimpan alas kaki karena di sana orang sering kehilangan alas kaki, dan akhirnya orang berjalan tanpa alas kaki. Dampaknya, kata dia, terjadi serangan panas secara langsung.

“Saat kelelahan yang paling penting adalah ya kita jangan memaksakan diri. Beribadahlah kita tahu kondisi diri kita. Yang paling tahu kondisi diri kita adalah kita sendiri,” ujar Ngabila.

Menurutnya, pola pikir yang harus diterapkan adalah berangkat sehat sama-sama, pulang sehat sama-sama. Dia menilai paradigma dimana meninggal di Arab Saudi, Madinah, atau  Makkah adalah sesuatu yang keren perlu dihilangkan.

“Masih banyak keluarga tercinta kita yang benar-benar menanti kita,” katanya.

IHRAM

Keutamaan Berbuat Baik dalam Islam: Perbuatan yang Membawa Manfaat untuk Diri Sendiri

Dalam ajaran Islam, konsep berbuat baik kepada orang lain bukan hanya dilihat sebagai kewajiban moral, tetapi juga sebagai bentuk investasi bagi diri sendiri. Perbuatan baik memiliki nilai yang sangat penting dalam memperbaiki hubungan antarmanusia dan mempererat ikatan sosial. Namun, lebih dari sekadar itu, Islam mengajarkan bahwa berbuat baik kepada orang lain juga membawa manfaat besar bagi diri sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.1. Menurut Perspektif Al-Qur’anAl-Qur’an secara jelas mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada sesama. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 195, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu jatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Dan berbuatlah baik, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” Ayat ini menegaskan bahwa berbuat baik kepada orang lain adalah cara untuk menghindari kerugian dan mendapat kecintaan Allah.2. Hadis-hadis yang MenguatkanRasulullah SAW juga memberikan banyak petunjuk tentang pentingnya berbuat baik. Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang memperbaiki hubungan dengan saudaranya, kecuali Allah akan memperbaiki urusannya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan baik kepada orang lain akan dihargai oleh Allah dengan pembalasan yang baik pula.3. Manfaat bagi Diri SendiriBerbuat baik kepada orang lain memiliki manfaat yang besar bagi diri sendiri, baik secara psikologis maupun sosial.Meningkatkan Kepuasan Diri: Memberi pertolongan atau menyebarkan kebaikan kepada orang lain dapat meningkatkan rasa kepuasan diri dan bahagia.Menumbuhkan Sikap Empati: Berbuat baik juga membantu kita untuk lebih memahami perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga menumbuhkan sikap empati yang kuat.Mendapat Dukungan dan Kebaikan Balik: Islam mengajarkan bahwa Allah akan membalas setiap kebaikan dengan kebaikan yang lebih besar lagi. Sehingga, dengan berbuat baik, seseorang akan mendapat dukungan dan kebaikan balik dari orang lain, juga dari Allah SWT sendiri.4. Investasi di AkhiratLebih dari manfaat dunia, berbuat baik kepada orang lain juga merupakan investasi untuk kehidupan akhirat. Amal kebaikan yang kita lakukan akan menjadi bekal di akhirat dan membantu kita mendapatkan surga yang abadi.Dengan demikian, berbuat baik kepada orang lain dalam Islam bukan hanya merupakan kewajiban moral, tetapi juga merupakan kebijaksanaan yang membawa manfaat besar bagi diri sendiri. Melalui perbuatan baik, kita dapat meningkatkan kualitas hidup di dunia ini serta mempersiapkan diri untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi di akhirat.

Rahasia Awet Muda Imam Abu Syuja’; Hidup Hingga Umur 160 Tahun

Imam Abu Syuja’ menjadi perbincangan yang menarik karena rahasia keberhasilannya dalam hidup hingga mencapai usia yang luar biasa, 160 tahun. Di balik umur panjangnya, rupanya Imam Abu Syuja’ mempraktikkan gaya hidup yang seimbang dan menjaga kesehatan dengan baik. Nah berikut penjelasan tentang rahasia awet muda Imam Abu Syuja’.

Kalangan sarjana Muslim yang terpelajar, terlebih dalam bidang hukum Islam, tentu mengenal Imam Abu Syuja’, seorang cendekiawan yang terkenal. Ia dikenal sebagai penulis kitab yang sangat populer di kalangan pesantren, yaitu Taqrib Matan dari kitab Fathul Qarib. Karya tulisannya menjadi rujukan utama dalam pembelajaran fikih karena mencakup beragam aspek, mulai dari fikih ibadah dan muamalah hingga fikih nikah, qada’, dan jinayah.

Biografi Imam Abu Syuja’ 

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Isfahani Asy-Syafi’i, lahir di Basrah pada tahun 433 H atau 1042 Masehi. Salah satu minat utamanya adalah dalam bidang ilmu ushuluddin dan bahasa Arab. Selama empat puluh tahun, ia fokus mempelajari madzab Syafi’i di Basrah.

Dalam suatu riwayat, tepatnya dalam kitab Hasiyah Al Bujairami Ala Khatib dijelaskan bahwa beliau pernah menjabat sebagai wazir Dinasti Bani Saljuk, yang mana kekuasaannya mulai tampil pada pertengahan abad kesepuluh. Ia memiliki sikap yang sangat tegas dalam membela kebenaran dan tidak pernah menghiraukan kecaman atau hujatan, beliau juga terkenal sangat dermawan.

وَوُلِدَ سَنَةَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ وَتَوَلَّى الْوَزَارَةَ سَنَةَ سَبْعٍ وَأَرْبَعِينَ، فَنَشَرَ الْعَدْلَ وَالدِّينَ، وَلَا يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يُصَلِّيَ وَيَقْرَأَ مِنْ الْقُرْآنِ مَا أَمْكَنَهُ، وَلَا يَأْخُذُهُ فِي الْحَقِّ لَوْمَةُ لَائِمٍ

Artinya:”Beliau dilahirkan pada tahun 433 H dan menjabat sebagai wazir pada umur 44 tahun. Beliau adalah sosok yang adil dan tidak pernah keluar rumah kecuali telah membaca al qur’an. Beliau juga sosok yang sangat tegas dalam membela kebenaran.” (Hasiyah Bujairami Ala Khatib juz 1 halaman 16)

Rahasia awet muda Imam Abu Syuja’ 

Di balik kepakarannya dalam bidang fikih dan aqidah, ada satu keunikan lain dalam dirinya. Syekh Abu Syuja’ termasuk ulama yang awet muda. Dalam satu riwayat dijelaskan ia hidup sampai usia 160 tahun. Kesaksian ini diungkapkan oleh Syaikh Sulaiman Bin Muhammad Bin Umar As Syafi’i atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Al Bujairami.

فَائِدَةٌ : قَالَ الدِّيرِيّ: عَاشَ الْقَاضِي أَبُو شُجَاعٍ مِائَةً وَسِتِّينَ سَنَةً وَلَمْ يَخْتَلَّ عُضْوٌ مِنْ أَعْضَائِهِ فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا عَصَيْت اللَّهَ بِعُضْوٍ مِنْهَا، فَلَمَّا حَفِظْتهَا فِي الصِّغَرِ عَنْ مَعَاصِي اللَّهِ حَفِظَهَا اللَّهُ فِي الْكِبَرِ. 

Artinya:”Faidah: Ad Diri berkata:” Qadhi Abu Syuja hidup hingga 160 tahun dan tidak ada satupun anggota tubuhnya yang rusak. Kemudian beliau ditanya perihal keadaan beliau tersebut. Kemudian belaiu menjawab aku tidak pernah bermaksiat kepada Allah dengan anggota tubuhku. Sehingga ketika aku menjaga anggota tubuhku dari bermaksiat kepada Allah. Dia menjagaku hingga masa tuaku” (Hasiyah Bujairami Ala Khatib juz 1 halaman 16).

Dengan demikian, sebagaimana dikisahkan oleh Ad Diri, Imam Abu Syuja’ memiliki umur yang panjang dan sehat sampai 160 tahun. Beliau bahkan tidak mengalami kerusakan pada anggota tubuhnya sedikitpun. Hal ini pun menimbulkan rasa ingin tahu dari orang lain, yang kemudian menanyakan rahasia di balik kesehatan dan umur panjang tersebut.

Imam Abu Syuja’ menjawab bahwa beliau tidak pernah menggunakan anggota tubuhnya untuk berbuat maksiat kepada Allah SWT. Menjaga anggota tubuh dari perbuatan maksiat tersebut dilakukannya sejak beliau masih muda.

Dengan menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat, Imam Abu Syuja’ mendapatkan perlindungan dari Allah SWT hingga masa tuanya. Hal ini terbukti dengan kesehatan dan umur panjang yang beliau dapatkan, yaitu hidup sampai 160 tahun tanpa mengalami kerusakan pada anggota tubuhnya.

Tak kalah penting, selain tidak bermaksiat kepada Allah kita juga harus ikhtiar dengan melakukan pola hidup yang sehat semisal mengonsumsi makanan yang sehat, berolahraga dan lain lain.

Demikian penjelasan perihal rahasia awet muda Imam Abu Syuja’. Di balik umur panjangnya, rupanya Imam Abu Syuja’ mempraktikkan gaya hidup yang seimbang dan menjaga kesehatan dengan baik. Pun ia tidak pernah melakukan perbuatan maksiat pada Allah. Semoga bermanfaat Wallahu a’lam bissawab.

BINCANG SYARIAH

Iblis dan Sang Abid

Setan dan Iblis akan selalu menghasut manusi, tidak pedulu ahli ibadah (abid) meski bentuknya seolah sebuah jalan kebaikan

KISAH ini terdapat dalam kitab-kitab tafsir dan menjelaskan makna di balik ayat 16 Surat Al-Hasyr. Dalam kitab Talbis Iblis karangan Ibnu Jauzi (meninggal 597H), diriwayatkan bahwa Wahab bin Munabbih berkata:

Ada seorang laki-laki ahli ibadah (abid) dari Bani Israil yang ibadahnya paling kuat pada masanya. Saat itu juga ada seorang wanita bersama ketiga saudara laki-lakinya.

Suatu hari, ketiga bersaudara itu harus melakukan perjalanan jauh untuk ikut berperang.

Mereka mendiskusikan bagaimana keadaan saudara perempuan mereka, siapa yang akan menjaga dan membantu selama mereka tidak ada.

Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk menyerahkan tanggung jawab kepada lelaki tua itu karena mereka percaya padanya.

Saat ditawari, lelaki tua itu menolak sekuat tenaga. Ketiga bersaudara itu terus membujuk hingga akhirnya lelaki tua itu menyetujuinya.

“Tinggalkan adikmu dekat dengan tempat ibadahku,” kata laki-laki yang taat itu kepada ketiga bersaudara itu.

Setelah mengikuti instruksi, mereka memulai perjalanannya. Selama ketiga bersaudara itu tidak ada, lelaki abid itu menjalankan tugasnya dengan baik.

Lelaki tua itu menyiapkan makanan dan menaruhnya di pintu tempat tinggal wanita itu.

Setelah meletakkan makanan, pelayan itu berteriak pada wanita itu agar keluar dan mengambil makanan. Abid kemudian kembali ke tempat ibadah dan menutup pintu.

Situasi seperti itu berlalu dalam satu periode.Setan Iblis mengamati keadaan dan membujuk laki-laki yang berbudi luhur untuk berbuat lebih banyak kebaikan bagi perempuan yang tinggal sendirian.

 “Semoga pahalanya bertambah karena menolong orang yang lemah,” bisik Iblis.

Iblis berkata;  “Tidak baik membiarkan wanita keluar rumah untuk mengambil makanan di siang hari, nanti orang akan melihatnya!”

Iblis berbisik lagi; “Aalangkah baiknya jika mengantarkan makanan tepat di depan pintu rumahnya, dia tidak perlu keluar rumah.  Begini cara memberi pahala,” bisiknya.

Manusia yang taat itu mengabaikan bisikan Iblis tetapi setelah beberapa waktu berlalu, ia justru terpengaruh bisikkan Iblis.

Pria itu meletakkan makanan di depan pintu rumah wanita itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan tidak ada percakapan di antara mereka berdua.

Setelah jangka waktu berlalu,  Iblis kembali melakukan hasutan. “Bagaimana jika kamu menaruh makanan itu di rumahnya? Dia tidak perlu keluar dan mengambil makanan di depan pintu.”

“Semoga pahalanya bertambah karena menolong orang yang membutuhkan,” bisiknya.

Orang tua itu tidak menghiraukan bisikan Iblis itu namun suatu hari, dia menaruh makanan di rumah wanita itu. Seperti biasa, tidak ada sepatah kata pun yang terucap.

Suatu ketika, Iblis mendorongnya untuk berbuat lebih banyak kebaikan. “Bagaimana kalau kamu bertanya bagaimana keadaan wanita itu? Dia pasti senang karena ada yang peduli,” kata Iblis.

Laki-laki itu tidak menghiraukan saran Iblis,  hingga suatu hari, dia berbicara kepada perempuan itu dari jauh. Setelah beberapa saat, Iblis meningkatkan hasutannya.

“Bicaralah padanya. Dia pasti ingin ada seseorang yang menemaninya,” bisik Iblis.

Laki-laki abid itu terus berbicara pada perempuan itu dari kejauhan. Namun tak lama kemudian, lelaki tua itu mulai berbicara dengan gadis itu dari jarak dekat.

 “Kau pergilah tepat di depan pintunya, dan biarkan dia duduk tepat di depan pintu itu juga,” kata iblis.

Lelaki tua itu tidak mendengarkan Iblis hingga suatu hari, dia berbicara kepada wanita itu dalam kondisi yang sangat dekat.

Bahkan suatu periode lelaki tua itu mengobrol dengan wanita itu di luar rumah. Sementara si wanita itu ada di dalam rumah tetapi tepat di depan pintu.

Kali ini Iblis memberikan saran lebih intens dengan dalih agar Si Abid lebih banyak mendapatkan pahala.

“Masuklah ke rumahnya. Ia tidak perlu keluar rumah dan tidak perlu memperlihatkan wajahnya kepada orang lain di luar rumah. Itu lebih baik bagi seorang wanita, yang mempunyai sifat pemalu,” bisik Iblis lagi.

Hingga akhirnya suatu ketika pria itu tidak masuk ke dalam rumah wanita tersebut. Tak satu pun dari mereka melakukan apa pun, kecuali hanya obrolan biasa.

Laki-laki Abid mulai terbiasa masuk ke rumah perempuan, ngobrol di siang hari, dan kembali ke tempat ibadah di sore hari ketika hari sudah hampir malam.

Iblis meneruskan menggencarkan rangkaian ‘nasehat’ hingga suatu saat laki-laki yang taat itu menyentuh lutut perempuan itu dan melakukan perbuatan tidak patut yang tidak seharusnya terjadi.

Mereka melakukan perzinahan. Sembilan bulan kemudian, wanita itu melahirkan seorang anak.

Iblis kemudian berkata pria yang dulunya dikenal sangat alim dan ahli ibadah ini. “Bagaimana pendapatmu jika kakak beradik ini tiba-tiba pulang ke rumah dan melihat seorang anak kecil lahir dari hasil kalian berdua?”

“Mungkin gadis itu akan membocorkan rahasianya, atau cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya juga.”

“Bunuh saja bocah itu dan tanam dengan baik. Rahasia akan terjaga dengan baik,” bisik Iblis.

Tanpa pikir panjang, lelaki tua itu membunuh dan menguburkan bayi yang baru lahir itu.  “Bagaimana jika wanita ini membeberkan rahasianya kepada saudara-saudaranya?,” bisik Iblis.

“Tangkap wanita itu, bunuh dia dan kubur dia bersama anaknya sekalian,” kata Iblis.

Pria itu akhirnya membunuh dan menguburkan wanita itu di dalam lubang bersama anaknya.  Sebuah batu besar ditempatkan di atas lubang itu  sebagai tanda.

Dia kembali ke tempat ibadahnya dan merasa yakin tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Tidak lama kemudian, ketiga bersaudara itu kembali dari perang dan mencari saudara perempuannya.

“Dimana dia?” tanya salah satu dari mereka kepada lelaki tua itu.

Sambil menangis, laki-laki abid itu menceritakan kepada perempuan itu bahwa dia berkelakuan baik namun sayang, dia telah meninggal.

“Ini kuburannya,” kata abid sambil mengarahkan jarinya ke sebuah batu besar di samping tempat ibadahnya.

Ketiga bersaudara itu kemudian berdiri di dekat kuburan dan menangis mengingat adik tercinta mereka.

Suatu malam, ketika mereka bertiga sedang tidur, Iblis datang ke dalam mimpi mereka dalam wujud seorang laki-laki yang sedang bepergian.

Iblis memasuki mimpi kakak sulung dan bertanya, “Bagaimana kabar adikmu?”

Laki-laki itu menjawab seperti yang dikatakan laki-laki abid itu.

Iblis lalu berkata;  “Orang tua itu berbohong.”

“Dia abid tidak bisa dipercaya. Dia berzina dengan adikmu sampai dia melahirkan seorang anak.”

“Dia membunuh mereka berdua karena dia menakuti kalian, tiga bersaudara. Dia menanamnya di lubang di samping rumah. Di sana, kamu akan menemukan adikmu bersama anaknya,” kata Iblis.

Iblis lalu masuk ke dalam mimpi pada kedua saudara lainnya dan mengatakan hal yang sama.

Pasa suatu siang, mereka bertiga terbangun dan menceritakan apa yang terjadi dalam mimpinya. Mereka terkejut karena mimpi mereka sama.

Sang Kakak berkata; “Tisak apa-apa, ini hanya hiasan tidur. Mimpi biasa.”

Tapi sang adik yang lebih muda tidak puas. “Mari kita lihat tempat yang ditunjukkan pria dalam mimpi itu,” katanya.

Mereka kemudian pergi ke tempat yang ditunjukkan dalam mimpi dan bertemu dengan lubang yang dimaksud.  Memang benar ada mayat bayi bersama seorang wanita.

Mereka kemudia mencari lelaki tua itu dan menanyakan hal itu. Akhirnya pria itu mengakui bahwa apa yang diceritakan dalam mimpinya itu benar adanya.

Ketiga bersaudara akhirnya bersiap membalas untuk membunuh Sang Abid.

Hingga ketika pria itu akan diesksekusi, muncullah Sang Iblis untuk menawarkan bantuan. “Wahai abid, akulah yang menguji kamu dengan seorang wanita hingga kamu berzina dan membunuh dia serta anaknya.”

“Aku ingin mengajukan penawaran. Jika kamu taat kepadaku dan berpaling dari Allah, niscaya kamu akan selamat dari hukuman mati ini,” katanya.

Pria itu akhirnya mengikuti jejak Iblis, dan kenyataanya, saat itu Sang Iblis justru meninggalkan dan menjauhkan darinya. Hingga akhirnya ketiga saudara itu mengeksekusi dan membunuhnya.

Wahab Ibnu Munabbih mengatakan, Ayat 16 Surat Al-Hasyr diturunkan kepada pria tersebut.

كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ 16

“(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS: Al-Hasyir: 16).

Setelah pria tersebut melakukan kekafiran (dan masih menderita hukuman), Iblis punys berkata: “Sesungguhnya aku tinggalkan kamu, karena sesungguhnya aku bertakwa kepada Allah, Tuhan yang menguasai seluruh alam.”

Pelajaran

  • Setan selalu menghasut kita untuk berbuat jahat meski bentuknya seolah melalui jalan kebaikan.
  • Orang yang tidak mengetahui betapa halusnya bisikan setan, akan mudah terjebak dengan janji-janji kebaikan.
  • Umat Islam dianjurkan untuk selalu berlindung kepada Allah dari segala bujukan dan bisikan setan.*/Abu Nizar

HIDAYATULLAH

Bolehkah Titip Doa Kepada Orang yang Berhaji?

Setiap kali ada seseorang yang kita kenal pergi melaksanakan ibadah haji, maka akan kita dapati masyarakat menitipkan doa kepada orang yang haji tersebut agar mendoakannya saat ibadah haji. Sebab menurutnya, doa orang yang haji akan diijabah oleh-Nya. Lantas bolehkah titip doa kepada orang yang berhaji?

Imam Nawawi dalam al-Azkar menyebutkan sebuah riwayat Imam baihaqi dari Abu Hurairah ra, dia berkata; Rasulullah Saw bersabda,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِ وَلِمَنْ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُ

Allahummaagh fir lil haaji wa liman istaghfara lahul haajju

Artinya; Ya Allah, ampunilah orang-orang yang beribadah haji serta orang-orang yang dimohonkan ampunkan ampunan oleh prang-orang haji. (HR. Al-Baihaqi)

Doa ini merupakan doa yang sunnah kita ucapkan untuk orang yang pulang haji. Hadis tersebut juga menunjukkan bahwa meminta didoakan oleh orang yang beribadah haji  disunnahkan.

Dalam kitab Maqashid al-Hasanah, Syamsuddin al-Syakhawi menjelaskan bahwa seseorang yang pulang dari haji mabrur dosanya diampuni dan doanya diterima, maka mintalah didoakan olehnya sebelum ia memasuki pintu rumah.

Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, meminta didoakan oleh orang yang sedang menunaikan haji diperbolehkan dan bahkan dianjurkan. Hal ini menunjukkan bahwa doa dari orang yang sedang beribadah haji memiliki keutamaan dan lebih berpeluang untuk dikabulkan oleh Allah SWT.

Alasan utama mengapa doa dari orang haji lebih diutamakan adalah karena mereka sedang berada di tempat yang mulia dan penuh dengan keberkahan, yaitu Baitullah dan sekitarnya. Di tempat suci ini, para peziarah haji telah mensucikan diri, beribadah dengan penuh khusyuk, dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Doa mereka yang tulus dan penuh pengabdian diyakini lebih mudah mencapai Allah SWT.

Oleh karena itu, jika ada kesempatan, tidak ada salahnya untuk meminta didoakan oleh orang yang sedang menunaikan haji. Kita bisa menitipkan doa kepada mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan begitu, kita dapat berharap agar doa kita dikabulkan oleh Allah SWT melalui perantaraan doa orang-orang suci yang sedang beribadah di tanah suci.

Demikian penjelasan bolehkah bolehkah titip doa kepada orang yang berhaji? Semoga bermanfaat.

BINCANg SYARIAH

Peluncuran Senam Haji 2024 Dilakukan Secara Massal, Ikhtiar Bugarkan Jasmani Jamaah

Kemenag lakukan persiapan jelang pelaksanaan haji

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) melaunching senam haji Indonesia secara massal di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Ahad (28/4/2024). Senam haji ini diikuti ribuan calon jamaah haji (Calhaj) se-DKI Jakarta, serta dari berbagai provinsi lainnya. 

Berdasarkan pantauan Republika.co.id di lokasi, senam haji dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Meskipun matahari mulai meninggi, calon jamaah haji tampak semangat mengikuti senam haji ini, termasuk calon jamaah lanjut usia (lansia). 

Salah satu calon jamaah (Calhaj) dari kloter Jakarta Timur, Atis (47 tahun) tidak peduli dengan terik matahari. Ia terus mengikuti senam yang dipandu oleh instruktur-instruktur yang telah dipersiapkan Kemenag. 

“Gak apa-apa panas (panas-panas) di sini, agak seger. Karena, nanti di sana jauh lebih panas katanya. InsyaAllah kuat sampai Makkah,” ujar Atis. 

Atis sendiri mulai mendaftar haji sejak 2013 lalu. Ia akan mulai masuk Asrama Haji Pondok Gede pada 24 Mei 2024 mendatang. Keesokan harinya baru akan diberangkatkan ke Tanah Suci. 

“Sekarang ini lagi manasik massal juga. Dengan adanya semam ini agak segar. Pergelangan yang kaku juga bisa lemes dan bisa menjaga ketahanan fisik kita nanti, doain lancar ya,” ucap Atis. 

Kegiatan yang dipusatkan di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta ini diikuti lebih dari 28 ribu jamaah haji Indonesia, baik secara luring dan daring. 

Sekretaris Jenderal Kemenag, M Ali Ramdhani, mengatakan launching senam haji ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga kebugaran jemaah haji, sehingga jamaah Indonesia bisa melaksanakan rangkaian ibadah haji dengan lancar, sehat dan bugar. 

“Harapannya melalui senam ini jamaah haji Indonesia ini dapat senantiasa terjaga kebugaran dan kesehatannya, sehingga ketika melaksanakan ibadah dapat lebih khusuk,” kata Ramdhani. 

Pria yang akrab dipanggil Kang Dhani ini menjelaskan, gerakan Senam Haji Indonesia pertama kalinya akan diterapkan jamaah Indonesia. Senam ini dikemas untuk menjaga kebugaran dan ketahanan fisik jamaah. 

“Gerakan senam ini disusun berdasarkan kajian dan penelitian para pakar kesehatan agar bisa diterapkan untuk semua jamaah,” jelas dia. 

Di tempat yang sama, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief menambahkan, senam haji ini dirumuskan oleh tim Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) dan Perhimpunan Dokter Spesialias Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Perdosri) dengan gerakan low impact.

“Perdokhi sudah mengatur sedemikian rupa, bisa diterapkan di rumah hingga saat perjalanan di pesawat ke tanah suci. Jenis senamnya low impact, bukan aerobik, yang menguras tenaga,” kata Hilman.

Launching senam haji ini juga dihadiri langsung Ketua Umum Perdokhi sekaligus pencipta senam haji, dr Syarief Hasan Luthfie. 

Menurut dia, senam haji ini dirumuskan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bersama dua dokter spesialis ilmu kedokteran fisik dan rehabilitasi lainnya, yaitu dr Irma Ruslina Defi dan dr Rifky Mubarak. 

Menurut dr Syarief, senam haji ini bisa dilakukan sejak jamaah berada di tanah air, saat berada di dalam pesawat, sampai ke tanah suci. Sehingga, jamaah bisa menghindari komplikasi yang diakibatkan duduk terlalu lama, seperti kekakuan otot maupun penyumbatan pembuluh darah. 

“Jadi jangan lupa sebelum keberangkatan, sampai dengan keberangkatan maupun kepulangannya tetap dilakukan olahraga ini agar tetap menjadi optimal dalam kekuatan fisiknya,” pesan dr Syarief kepada calon jamaah. 

IHRAM