Abessinia, Negeri Terpilih

Makkah, bulan Rajab tahun ketujuh sebelum Hijriah (615 M). Kala itu, di tengah pekatnya malam, sejumlah sahabat Rasulullah SAW diam-diam meninggalkan Makkah bersama harta benda yang mereka miliki. Para sahabat itu terdiri atas 11 pria dan lima wanita, di antaranya Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayah, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Utsman bin Maz’un selaku ketua rombongan.

Dari Makkah, mereka menuju tepian Laut Merah, tepatnya Pelabuhan Shuaibah. Di sana, dua perahu telah siap membawa mereka ke sebuah negeri untuk menghindari kebiadaban kaum kafir Quraisy. Adalah Abessinia, sebuah kerajaan di benua Afrika, yang menjadi tujuan mereka. Mengapa mereka pergi ke sana? Para sahabat itu hijrah ke Abessinia atas saran Rasulullah SAW.  Inilah hijrah pertama yang dilakukan kaum Muslimin sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Saat itu, tekanan dan permusuhan dari kaum kafir Quraisy semakin keras. Sebagian pengikut Rasulullah disiksa, bahkan dibunuh. Maka itu, untuk melindungi mereka, Rasulullah menyarankan agar mereka hijrah ke Abessinia. Negeri ini dipilih karena penguasa Abessinia saat itu, Raja Najasyi, sangat bijaksana meski beragama Nasrani. Orang Arab menyebut Raja Najasyi sebagai Ashama Ibnu Abjar. “Sesungguhnya di Negeri Habasyah (Abessinia) terdapat seorang raja yang tak seorang pun dizalimi di sisinya, pergilah ke negerinya, hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian,” ujar Nabi SAW.

Kisah hijrah para sahabat Nabi SAW ke Abessinia diungkapkan dalam Shahih Al-Bukhari, mengutip penjelasan dari Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW yang juga ikut dalam peristiwa hijrah ke Abessinia.

Lantas, di manakah tepatnya negeri Abessinia itu? Abessinia adalah nama kuno dari Ethiopia, sebuah negara di Afrika Timur. Nama itu (Abessinia) merupakan perubahan dari nama Arab, Habasyah, yang menunjuk pada campuran berbagai ras yang berasal dari Arab Selatan. Bangsa Abessinia merupakan keturunan bangsa Semit, sementara bahasa mereka, Amhariyah, serumpun dengan bahasa Arab. Seperti rajanya, saat itu pun sebagian besar rakyat Abessinia memeluk agama Kristen (Nasrani).

Dr Sayuqi Abu Khalil dalam Atlas Hadits al-Nabawi mengatakan, wilayah al-Habasyah, saat ini dikenal dengan nama Ethiopia atau Eritrea. “Masyarakatnya dikenal sebagai al-Habasy, yakni bangsa Sudan atau bangsa berkulit hitam,” ujar Dr Syauqi.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyebut Abessinia sebagai negeri kerukunan umat beragama. Betapa tidak, warga Abbessinia dengan penuh keramahan menerima dan memberikan perlindungan kepada kaum yang berbeda agama dengan mereka. Inilah yang menjadi alasan sehingga bangsa Arab pada masa perluasan tidak melancarkan ekspansi ke wilayah itu.

Pada hijrah pertama ke Abessinia ini, para sahabat Rasulullah disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Raja Najasyi lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara Provinsi Tigray. Setelah tiga bulan di sana, mereka kembali ke Makkah, dengan harapan kaum kafir Quraisy telah melunak. Namun nyatanya, perlakuan kaum Quraisy tetap keras.  Maka itu, Rasulullah kembali memerintahkan umat Muslim untuk hijrah ke Abessinia. Jumlah sahabat yang hijrah pada gelombang kedua itu terdiri atas 80 orang. Rasulullah pun berpesan kepada mereka untuk menghormati dan menjaga Abessinia atau Ethiopia.

Namun, kafir Quraisy tak tinggal diam. Mereka mengutus Amr bin As serta Imarah bin Walid menghadap Raja Najasy. Keduanya meminta sang raja untuk mengusir para pengikut Rasulullah SAW dari tanah Abessinia. Raja Najasyi menolak permintaan itu dan mengizinkan para sahabat tinggal di negeri itu hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

 

REPUBLIKA

Doa Dengan Hadits Dhaif, Boleh?

AMAT banyak  hadits-hadits yang dibukukan oleh para huffadz hadits yang di dalamnya berisi doa-doa dan dzikir, baik derajatnya shahih, hasan, maupun dhaif. Memang tidak bisa dipungkiri ada sebagian dari saudara muslim menolak mengamalkan doa-doa dan dzikir yang derajatnya dhaif, bahkan menyeru untuk meninggalkannya

Tindakan demikian, tentu mengundang respon pihak lain dan mengundang polemik di tengah umat. Sehingga perlu dicari duduk permasalahannya dalam masalah ini, yakni apa hukumnya menggunakan dzikir dan doa dari hadits-hadits yang derajatnya dhaif, tentunya dari para ulama mu’tabar.

Pendapat Imam Al Baihaqi

Sebenarnya, jauh-jauh para ulama sudah membahas persoalan ini. Adalah Al Hafidz Al Mujtahid Al Imam Al Baihaqi telah menyampaikan Imam Al Baihaqi setelah menjelaskan tingkatan derajat hadits yang disepakati kedhaifannya oleh para ulama ahlul hadits, yakni dimana perawinya tidak termasuk yang dituduh sebagai pemalsu hadits, akan tetapi dikenal buruk hafalannya dan banyak kesalahan dalam periwayatannya, atau majhul yang tidak diketahui adalahnya serta syarat-syarat diterimannya khabar darinya, ia berkata,”Maka hadits dalam kategori ini tidak dipakai dalam hukum-hukum sebagimana kesaksiannya ditolak oleh pemerintah. Namun terkadang dipakai (haditsnya-pent) yang mengenai doa-doa, motifasi, ancaman, tafsir dan riwayat peperangan yang tidak berhubungan dengan hukum-hukum.”  (Lihat, Dalail An Nubuwwah, 1/32-37)

Pendapat Imam An Nawawi

Demikian juga Imam An Nawawi, setelah menyampaikan hadits Umamah Al Bahili, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setelah meletakkan jenazah Ummu Kultsum dalam kubur, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengucapkan, yang artinya, ”Darinya Kami menciptakan kalian. Dan kepadanya Kami mengembalikan kalian. Dan darinya Kami mengeluarkan kalian kembali.”

Kemudian Imam An Nawawi berkata,”Telah meriwayatkannya Ahmad dari Ubaidullah bin Zahr dari Ali bin Zaid bi Jad`an dari Al Qasim, dan ketiganya merupakan para perawi dhaif. Akan tetapi hadits-hadits fadhail tidak ditinggalkan, meskipun isnadnya dhaif. Dan hadits ini adalah salah satunya. (Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 5/293,294)

Bisa diambil kesimpulan bahwa dzikir yang diucapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saat meletakkan jenazah Ummu Kultsum meski datang dengan sanad dhaif, namun tidak ditinggalkan, karena ia merupakan bagian  fadhail a`mal.

Pendapat Ibnu Rajab Al Hanbali

Al Hafidz Ibnu Rajab pengikut madzhab Imam Ahmad pun memiliki pendapat selaras. Setelah menyampaikan hadits dari Anas Radhiyallahu An’hu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam jika memasuki bulan Rajab berkata, yang artinya,” Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”

Al Hafidz memberi komentشr terhadap hadits ini,”Diriwayatkan dari Abu Isma’il Al Anshari bahwasannya ia berkata,’Tidak shahih keutamaan Rajab, kecuali hadits ini.’ Perkataannya perlu dikaji, karena isnad ini terdapat perawi dhaif.”

Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab berkata,”Dalam hadits ini dalil mengenai (istihbab) kesunnahan doa agar disampaikan pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan, agar bisa melakukan amalan-amalan shalih di dalamnya…” (Lathai’if Al Ma’arif, hal. 239)

Al Hafidz Ibnu Rajab meski telah menegaskan bahwa sanadnya dhaif, namun menyatakan terang-terangan bahwa hadits itu bisa dijadikan dalil mengenai doa-doa agar disampaikan kepada waktu-waktu yang memiliki keutamaan. Sehingga jika seorang berdoa dengan hadits tersebut tidak bermasalah meski dhaif, tidak masalah, ia mengandung permintaan untuk disampikan pada waktu-waktu yang mengandung keutamaan.

Pernyataan di atas adalah perkataan para ulama mu’tabar mengenai bolehnya pengamalan doa-doa dari hadits.

Doa Bagian dari Fadhail A’mal yang Boleh Gunakan Hadits Dhaif

Dan perlu diketahui bahwasannya doa adalah bagian dari fadhai’il al a’mal sebagaimana dipaparkan Imam An Nawawi sebelumnya, yang mana para ulama menyatahkan bolehnya menggunakan hadits dalam hal ini, meski dhaif.

Adalah Syeikh Abu Muhammad Al Maqdisi telah berkata,”Tidak mengapa dengan hal itu (yakni shalat tasbih), sesungguhnya dalam fadhail tidak disyaratkan shahihnya khabar.” (Al Ihtiyarat Al Ilmiyyah li Ibni Taimiyyah, hal. 100)

Demikian juga yang disampaikan Ibnu Qudamah, salah satu ulama besar dalam madzhab Hanbali,”Amalan-amalan nafilah dan fadhai’il tidak disyaratkan padanya keshahihan hadits.” (Al Mughni, 1/1044).

Imam An Nawawi menyatakan,”Dan telah bersepakat para ulama bahwa mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhaif dalam fadha’il al a’mal.” (Al Arba’un An Nawawiyah, hal. 3)

Beberapa ulama yang menegaskan apa yang disampaikan Imam An Nawawi ini adalah Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki.  (lihat, Fathu Al Mubin, hal. 32)

Ijma’ bolehnya penggunaan hadits dhaif dalam fadha’il juga ikut ditegaskan oleh Al Allamah Ali Al Qari Al Hanafi, ”Hadits dhaif digunakan untuk fadhail a’mal sesuai kesepakatan.” (lihat, Al Maudhu’at,hal.73).

Demikian juga diikuti pendapat ini diikuti  oleh Imam Imam Al Laknawi Al Hanafi. (lihat, Ajwibah Al Fadhilah, hal. 37)

Sedangkan untuk ulama hadits mu’ashirin  Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari berkata,”Para huffadz hadits sepakat mengenai bolehnya menggunakan hadits dhaif dalam fadha’il a’mal. (lihat, Al Qaul Al Muqni’, hal.2,3).

Adapun pendapat yang menyatakan bahwasannya Imam Al Bukhari, Yahya bin Ma’in, Muslim dan Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif secara mutlak adalah pendapat yang lemah setelah ditahqiq (silahkan baca Jangan Remehkan Hadits Dhaif).

Dengan demikian, doa dan dzikir menggunakan hadits dhaif adalah perkara yang dibolehkan menurut para ulama mu’tabar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

 

HIDAYATULAH

Menyikapi Hadits Dhaif dan Maudhu’ Ihya Ulumiddin Secara Proporsional

TIDAK bisa dipungkiri bahwa beberapa ulama mengkritik kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghazali, salah satunya adalah kritik seputar hadits-hadits yang termaktub dalam kitab masyhur tersebut. Diantara para pengkritik adalah adalah Al Hafidz Ibnu Al Jauzi yang menyatakan dalam kitab Al Ihya’ penuh dengan hadits-hadits maudhu’. (lihat, Talbis Iblis, hal. 160)

Selain Ibnu Al Jauzi, ada Abu Walid Ath Thurthusi menyatakan bahwa Imam Al Ghazali memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits maudhu’at. Hal yang hampir sama dikatakan oleh Al Maziri (Lihat, Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 6/241, 243).

Jika menurut dua ulama di atas, bisa disimpulkan bahwa kitab Al Ihya dipenuhi dengan hadits-hadits maudhu’.

Takhrij As Subki

Namun selain para ulama di atas, ada pula para ulama yang melakukan kajian mendalam terhadap hadits-hadits Al Ihya, seperti At Taj As Subki. As Subki mengumpulkan ada lebih dari 900 hadits yang ia belum menemukan sanadnya (lihat, Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra 6/287-389)

Jumlah hadits yang terdapat dalam Al Ihya cukup banyak, yakni 4848 hadits berdasarkan Tartib Ahadits Al Ihya, karya Syeikh Mahmud Said Mamduh. Jika demikian hadits yang belum ditemukan isnadnya oleh Imam At Taj As Subki hanya seperlima dari jumlah keseluruhan hadits di Al Ihya. Dan hadits-hadits yang belum ditemukan isnadnya oleh As Subki tidak otomatis bahwa hadits-hadits itu tidak bersanad, hanya saja As Subki belum menemukannya. Hal ini menunjukkan bahwa takhrij yang dilakukan As Subki belumlah final, karena takhrij setelahnya menunjuukan bahwa hadits-hadits itu memiliki sanad.

Takhrij Al Iraqi

Selain As Subki Ulama yang juga telah melakukan kajuan khusus terhadap hadits-hadits Al Ihya’ adalah Al Hafidz Al Iraqi. Dalam muqadimahnya takhrijnya, Al Iraqi menyatakan bahwa ia sengaja mengakhirkan penyelesaian kitab takhrijnya tahun 751 H, dikarenakan banyak hadits-hadits yang belum ia temukanan sanadnya. Namun setelah itu ia banyak menemukan isnad bagi hadits-hadits yang sebelumnya belum ia temukan isnadnya. Maka pada tahun 760 H ia pun menyelesaikannya. (lihat, muqaddimah Mughfi An Haml Al Asfar fi Takhrij Ma fi Al Ihya Min Al Akhbar, 1/3)

Mengenai takhrij Al Iraqi, Syeikh Abdul Qadir Al Aidrus Ba’alwi ketika menjawab kritikan mengenai adanya hadits maudhu dan dhaif dalam Al Ihya menyatakan,”Walhasil, jawaban untuk hal itu baik dari Imam Al Ghazali maupun salah satu pengagumnya Al Hafidz Al Iraqi, bahwa sebagain besar yang disebutkan Al Ghazali bukan hadits maudhu’, hal itu terbukti dari takhrijnya. Dan ia bukan sebagian besar, dan sangat sedikit.” (Ta’rif Al Ahya’ fi Fadhail Al Ihya’ disertakan dalam jilid awal Ihya Ulumiddin, 1/365)

Takhrij Az Zabidi

Kemudian datanglah Al Hafidz Al Murtadha Az Zabidi yang mensyarah Ihya’ Ulumiddin dengan nama Ithaf As Sadah Al Muttaqin fi Syarh Ihya Ulumiddin. Al Murtadha Az Zabidi dalam mensyarh Al Ihya’ juga melakukan melakukan takhrij hadits-haditsnya dan ia pun mengomentari takhrij yang telah dilakukan Al Hafidz Al Iraqi.

Az Zabidi berkata,”Sesungguhnya (Hadits-hadits) yang telah disebutkan oleh penulis (Al Ghazali), derajatnya seputar muttafaq alaihi, juga termasuk  yang shahih dan hasan serta pembagian dari keduanya dan di dalamnya terdapat dhaif, syadz, munkar, serta maudhu dengan jumlah yang sedikit, sebagaimana engkau akan menemuinya insyaallah.” (Ithaf As Sadah Al Muttaqin, 20/1)

Mengenai takhrij Az Zabidi ini, Dr. Usamah Sayyid Al Azhari, seorang ulama hadits Al Azhar menyampaikan,”Dan ia tidak meninggalkan satu hadits pun dalam Al Ihya’, kecuali ia jabarkan takhrijnya, dia adalah dia, ia adalah ayat Allah yang agung dalam masalah ilal, thuruq, dan pengetahuan mengenai sumber hadits dan ia seorang penghafal dalam sanad-sanad. Sampai Syeikh Al Islam Al Hafidz At Taj As Subki membuat pembahasan khusus dalam thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra sebuah pasal yang menyatakan,’Ini adalah pasal mengenai hadits-hadits Al Ihya’ yang aku belum menemukan sanadnya.’ Maka Anda mendapati bahwa Al Imam Al Murtadha Az Zabidi telah menemukan hadits-hadits itu memiliki sanad dan memiliki asal dan ia menghukuminya dan menunjukkan takhrijnya.” (Al Hadits wa Al Muhadditsun fi Al Azhar Asy Syarif, hal. 37)

Jika demikian, perkataan yang diambil mengenai status hadits-hadits dalam Al Ihya, adalah para ulama yang telah melakukan kajian takhrij secara khusus terhadap hadits-hadits Al Ihya, yakni As Subki, Al Iraqi dan Al Murtadah Az Zabidi, dan hasilnya Al Iraqi dan Al Murtadha Az Zabidi membuktikan bahwa hadits maudhu’ dalam Al Ihya sangatlah sedikit.

Hadits Dhaif dalam Al Ihya

Adapun mengenai hadits dhaif dalam Al Ihya, Al Murtadha Az Zabidi berkata,”Adapun mengenai hadits-hadits yang tidak shahih, maka tidak boleh diingkari dalam penyebutannya, dikeranakan hal itu dibolehkan dalam masalah tarhib wa targhib (ancaman dan motivasi).” (Ithaf As Sadah Al Muttaqin, 20/1)

Demikian juga jawaban yang disampaikan oleh Syeikh Abdul Qadir Al Aidrus Ba’alwi,”Adapun yang dikritik terhadapnya, bahwasannya Imam Al Ghazali menyebut banyak hadits dhaif, maka kritikan itu gugur karena telah ditetapkan bahwa dhaif dipakai dalam fadhail dan kitabnya berkenaan dengan raqa`iq (masalah adab dan akhlak) yang merupakan bagian dari fadhail.” (Ta’rif Al Ahya fi Fadhail Al Ihya’, 1/ 363)

Walhasil, sangat tidak proporsional mencacati kitab yang dipuji oleh banyak ulama ini dan menyeru manusia untuk meninggalkannya karena terdapat hadits maudhu di dalamnya. Hal itu tidak bisa diterima kerena jumlah hadits maudhu’ sangat sedikit, dan itu telah diperingatkan oleh para ulama pentakhrij hadits Al Ihya’.

Hadits Maudhu’ di Luar Al Ihya`

Sebenarnya tidak hanya kitab Al Ihya yang mengandung hadits-hadits maudhu’, bahkan kitab para huffadz juga terdapat hadits maudhu’, diantaranya adalah kitab-kitab Ibnu Al Jauzi sendiri, semisal Dzam Al Hawa dan Tablis Iblis. Dimana dalam hal ini Al Hafidz As Sakhawi berkata,”Dan banyak dilakukan oleh Ibnu Al Jauzi dalam karya-karyanya yang bersifat nasihat dan sejenisnya dengan menyebutkan hadits-hadits maudhu’ dan sejenisnya.” (Syarh Al Alfiyah, hal. 107)

Demikian pula yang terjadi kepada Al Hafidz Adz Dzahabi dalam kitabnya Al Kabair yang juga menyebut hadits-hadits maudhu’, sebagaimana disebutkan Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam komentarnya terhadap Al Ajwibah Al Fadhilah. (Al Ajwibah Al Fadhalah, hal. 119, 120)

Bahkan dalam kitab-kitab Ibnu Qayyim Al Jauziyah sendiri terdapat hadits-hadits dhaif dan munkar seperti yang terdapat dalam Madarij As Salikin dan Zad Al Ma’ad, sebagaimana disampaikan oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam komentarnya terhadap Al Ajwibah Al Fadhulilah (Al Ajwibah Al Fadhilah, hal. 130-132)

Tentu, sangat tidak bijak jika harus meninggalkan kitab-kitab para ulama tersebut, dikarenakan terdapat hadits dhaif dan madhu’, lebih-lebih jika para ulama sudah menyampaikan perihal hadits-hadits maudhu dalam kitab-kitab tersebut. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam

 

HIDAYATULLAH

Doa Kala Kita Dipuji oleh Orang Lain

PARA ulama mengatakan, kalau ada yang memujimu, bacalah doa seperti berikut. Ketika dipuji, Abu Bakr berdoa,

Allahumma anta alamu minni bi nafsiy, wa anaa alamu bi nafsii minhum. Allahummaj alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa yalamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syuab Al- Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami Al-Ahadits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25: 145, Asy-Syamilah)

Sebagaimana disebutkan Al-Baihaqi dalam Syuab Al-Iman, Al-Auzai mengatakan bahwa ketika seseorang dipuji oleh orang lain di hadapan wajahnya, maka hendaklah ia mengucapkan doa di atas.

Disebutkan pula dalam Adabul Mufrod karya Imam Al Bukhari mengenai hadits di atas ketika beliau sebutkan dalam Bab “Apa yang disebutkan oleh seseorang ketika ia disanjung.”

Begitu pula disebutkan dalam kitab Hilyatul Awliya karya Abu Naim Al Asbahaniy bahwa ketika seseorang dipuji di hadapannya, hendaklah ia mengingkari, marah dan tidak menyukainya, ditambah membaca doa di atas.

Semoga bermanfaat. [Referensi: Al-Mawsuah Al-Fiqhiyyah/Muhammad Abduh Tuasikal]

 

INILAH MOZAIK

Barangsiapa yang Girang dengan Pujian Manusia…

APA yang kita lakukan ketika dipuji orang lain?

Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Orang yang dipuji hendaknya waspada, jangan sampai ia terjatuh dalam kesombongan, ujub dan bentuk futur lainnya. Seseorang bisa selamat dari hal-hal jelek tadi, hanya dengan mengetahui hakikat keadaan dirinya. Hendaklah ia renungkan akan bahaya jika berada dalam akhir hidup yang jelek. Hendaklah ia waspada akan bahaya riya dan terhapusnya amalan. Hendaknya ia kenali diri yang orang yang memuji pun tidak mengenalnya. Kalau saja orang yang memuji itu tahu kejelekan yang ada pada dirinya, tentu ia tak akan memuji. Baiknya, ia tampakkan pula bahwa ia tidak suka pada pujian tersebut.” (Ihya Ulum Ad-Diin, 3: 236)

Juga perhatikan perkataan yang sama dari Ibnu Ajibah.

Ibnu Ajibah rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqazh Al-Himam Syarh Matn Al-Hikam, Ibnu Ajibah, hlm. 159, Mawqi Al-Qaraq, Asy-Syamilah)

Dalam hadits disebutkan bahwa Al-Miqdad pernah menyiramkan kerikil di wajah seseorang yang memuji Usman bin Affan, lantas Usman bertanya pada Miqdad, kenapa engkau melakukan seperti itu. Miqdad menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Jika kalian melihat orang-orang yang doyan memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya.” (HR. Muslim, no. 3002). Ada ulama yang mempraktikkan hadits ini secara tekstual seperti yang dilakukan oleh Al-Miqdad. Ada juga ulama yang memaknakan, celalah orang yang memuji tersebut. Ulama lain menyatakan bahwa maksudnya adalah kita berasal dari tanah, maka bersikap tawadhulah (rendah hati) dan jangan sampai ujub. Namun Imam Nawawi melemahkan penafsiran terakhir ini. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 18: 107)

 

INILAH MOZAIK

Arie Untung Minta Doa untuk Istrinya yang Mulai Berhijab

Pembawa acara Arie K Untung meminta doa untuk istrinya agar istiqamah berhijab. “Doain kita istiqamah ya teman-teman, itu yang paling dibutuhkan saat ini,” tulis Arie K Untung di akun instagram pribadinya, Jumat (5/1).

Mantan VJ MTV itu mengunggah dan membanggakan foto istrinya, Fenita Arie berhijab. Ia mengungkapkan kebahagiaannya dalam unggahan foto itu. “Banyak yang terkejut sama perubahan kamu (Fenita), lha aku aja kaget kirain masih mau adaptasi dulu,” kata Arie.

Ia mengisahkan, seharusnya pada 2 Januari masih menjadi masa adaptasi istrinya berhijab. Namun, ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dengan menyimpan kabar Fenita berhijab. “Tapi aku jenis suami udik yang too exited to share the happiness. Terimakasih untuk semua doa-doanya yang luar biasa dari semua temen-teman,” lanjut dia.

Arie mengunggah fotonya berama keluarga berpose di depan rumah makan. Saat itu, Fenita sudah mengenakan hijab pada 2 Januari. Arie masih enggan menceritakan proses istrinya berhijab. Ia meminta rekan media menunggu pernyataan resmi dari Fenita.

Mohon maklum untuk rekan-rekan media yang menunggu pernyataan dari istriku. Dia masih mau menikmati proses perubahannya dulu,” ujar Arie.

Mengutip pesan Ustadz Adi Hidayat, Pelan.. pelan.. Arie memastikan membagikan proses membahagiakan itu pada media. Maklum yak prosesnya kan belum lama. Untuk sampai pada proses ini pun berdasarkan observasi dalam yang dilakukannya sendiri,” kata Arie.

Namun, ia memastikan kemantapan Fenita berhijab bukan untuk menyenangkan orang lain. Arie menuturkan hal itu bukti komitmen kecintaan Fenita pada Allah SWT.

Ia berpesan pada Fenita, lebih santai menjalani proses hijrah. “Nikmatin aja dulu waktu kamu brsama hijrah. Ga usah tergesa-gesa akan sesuatu, Allah jauh lebih sayang sama kamu dibanding aku lho, tulisnya.

 

REPUBLIKA

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Dengan aplikasi ini, Anda juga bisa ngecek Porsi Haji dan Visa Umrah Anda.

Rasulullah Pun tak Tahu Kapan Kiamat Datang?

SEPERTI kita tahu bersama beberapa waktu silam, muncul isu kiamat datang tanggal 21-12-2012. Sampai-sampai di beberapa belahan bumi, ada yang sudah mempersiapkan benteng, tempat dan peralatan lainnya sebagai perlindungan.

Isu tersebut mengatakan bahwa kiamat akan terjadi tahun sekian dan sekian. Tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian. Ya, ini semua tentu saja merupakan kedustaan (hoax)! Sebab, sejak ratusan tahun yang silam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa beliau pun tidak mengetahui kapankah hari kiamat itu terjadi. Padahal beliau adalah Nabi dan Rasul!

Dalam hadis Jibril yang masyhur, beliau telah menjawab pertanyaan malaikat Jibril, “Kabarkan kepadaku kapankah hari kiamat itu?”. Beliau bersabda, “Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada yang bertanya.” (HR. Muslim dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahuanhu)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Iman kepada hari akhir adalah bagian yang sangat penting di dalam ajaran Islam. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadikan keimanan kepada hari akhir sebagai pilar keimanan.

Masih di dalam hadis Jibril, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang pokok-pokok keimanan. Beliau bersabda, “Yaitu kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu mengimani takdir yang baik maupun yang buruk” (HR. Muslim dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahuanhu)

Pengingkar Hari Akhir

Di antara umat manusia, terdapat segelintir orang yang tidak meyakini adanya hari kebangkitan. Bagi mereka kehidupan hanyalah perjalanan waktu. Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan dunia saja. Allah taala berfirman (yang artinya), “Mereka berkata: Tidaklah ada kecuali kehidupan kami di dunia. Kami mati dan hidup. Dan tidak ada yang membinasakan kami kecuali waktu” (QS. Al-Jatsiyah: 24)

Inilah keyakinan sekte Dahriyah dan kaum musyrikin arab yang sejalan dengan mereka. Mereka tidak mempercayai adanya hari kiamat. Demikian pula keyakinan sebagian kaum filsafat. Kaum Dahriyah memiliki keyakinan bahwa alam semesta ini mengalami pembaruan dan kembali sebagaimana awalnya pada setiap 36 ribu tahun. Mereka pun tidak meyakini adanya pencipta alam semesta. Oleh sebab itu, Allah membantah ucapan mereka, “Tidaklah mereka dalam hal itu berlandaskan ilmu, tiada yang mereka ucapkan kecuali semata-mata dugaan.” (QS. Al-Jatsiyah: 24) (lihat Tafsir al-Quran al-Azhim [7/268-269])

Nama-Nama Hari Akhir

Allah taala menyebutkan tentang hari akhir dengan banyak nama dan ungkapan. Berikut ini akan kami sebutkan sebagiannya. Diantaranya, Allah menyebut hari akhir dengan hari kiamat. Allah taala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar merugi itu adalah yang membuat rugi diri dan keluarganya pada hari kiamat. Ketahuilah, itulah kerugian yang sangat nyata” (QS. Asy-Syura: 45)

Allah juga menyebut hari akhir dengan negeri akhirat. Allah taala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui” (QS. al-Ankabut: 64)

Allah juga menyebut hari akhir dengan hari penyesalan. Allah taala berfirman (yang artinya), “Dan berikanlah peringatan kepada mereka akan hari penyesalan, ketika itu segala urusan sudah diputuskan sedangkan mereka dahulu larut dalam kelalaian dan mereka dalam keadaan tidak beriman” (QS. Maryam: 69)

Untuk lebih lengkap silahkan membaca di dalam kitab al-Yaum al-Akhir, al-Qiyamah al-Kubra karya Syaikh Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar (hal. 20-30)

Sebab Utama Keselamatan

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, hari kiamat adalah suatu hari yang sangat mengerikan. Hari yang akan memisahkan antara orang-orang yang bahagia dengan orang-orang yang celaka. Hari dimana sebagian orang jatuh ke dalam jurang neraka, dan sebagian yang lain sukses menembus pintu-pintu surga.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah tabaraka wa taala berkata kepada penduduk neraka yang paling ringan siksaannya: Apakah seandainya dunia dan segala isinya menjadi milikmu, apakah kamu mau menebus siksaan ini dengannya?. Dia menjawab, Iya. Maka Allah berkata, Sungguh Aku telah menghendaki darimu sesuatu yang lebih ringan dari itu pada saat kamu berada di tulang sulbi Adam; yaitu janganlah kamu berbuat syirik dan Aku tidak akan memasukkanmu ke dalam neraka. Akan tetapi ternyata kamu enggan kecuali syirik.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu)

Dahsyatnya Siksa Neraka

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat, didatangkan seorang penduduk neraka yang menjadi penduduk dunia yang paling nikmat hidupnya. Kemudian dia dicelupkan ke dalam neraka sekali celupan. Lalu dikatakan kepadanya: Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesenangan? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sebelum ini? Maka dia menjawab, Demi Allah, belum pernah wahai Rabbi.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu)

Jalan Menuju Neraka

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Surga diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka diliputi dengan hal-hal yang disenangi hawa nafsu” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu). [muslimorid]

 

INILAH MOZAIK

19 Nama Kiamat yang Mengerikan

Di antara akidah dasar dari seorang muslim adalah mengimani adanya hari berbangkit, yaitu hari kiamat. Hal ini merupakan salah satu bentuk tauhid rububiyah, karena kafir Quraisy juga memiliki cacat dalam hal tauhid rububiyah, yaitu mereka mengingkari akan dantangnya hari kiamat.

Allah Taala berfirman;

“Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan.” (QS. At-Taghabun: 7).

Namun yang jadi pokok pembahasan kali ini bukanlah masalah di atas, tapi penulis ingin menyebutkan 19 nama lain dari hari berbangkit berdasarkan dalil dari Alquran.

1. As-Saah

“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Ghafir: 59)

2. Yaumul Baats (hari berbangkit)

“Sungguh, kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit. Maka inilah hari berbangkit itu, tetapi kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Ar-Rum: 56).

3. Yaumud Din (hari pembalasan)

“Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (QS. Al-Fatihah: 4).

4. Yaumul Hasrah (hari penyesalan)

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputuskan, sedang mereka dalam keadaan lalai dan tidak beriman.” (QS. Maryam: 39).

5. Ad Darul Akhirah (negeri akhirat)

“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

6. Yaumut Tanad (hari saling memanggil)

“Wahai kaumku, Sesungguhnya aku takut kepada kalian pada hari saling memanggil”. (QS. Ghafir: 32).

7. Darul Qarar (tempat kembali)

“Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kesenangan sementara. Dan sesungguhya akhirat itu adalah negeri tempat kembali”. (QS. Ghafir: 39).

8. Yaumul Fashl (hari pemisahan )

“Inilah hari pemisahan yang dahulu kamu dustakan.” (QS. Ash Shaffat: 21)

9. Yaumul Jama (hari berkumpul )

“Dan memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul yang tidak ada keraguan padanya.” (QS. Asy-Syura: 7)

10. Yaumul Hisab (hari perhitungan)

“Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari perhitungan.” (QS. Shad: 53)

11. Yaumul Waid (hari yang dijanjikan)

“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang dijanjikan.” (QS. Qaf: 20)

12. Yaumul Khulud (Kekal)

“Masukilah ke (dalam surga) dengan keselamatan. Itulah hari yang kekal.” (QS. Qaf: 34)

13. Yaumul Khuruj (hari dikeluarkan dari kubur)

“Pada hari ketika mereka mendengar suara dahsyat dengan sebenarnya. Itulah hari keluar (dari kubur).” (QS. Qaf: 42)

14. Al-Waqiah

“Apabila terjadi hari Kiamat.” (QS. Al-Waqiah: 1)

15. Al Haqqah (yang pasti)

“Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” (QS. Al-Haqqah: 3)

16. Ath Thammatul Kubra (bencana besar)

“Maka apabila bencana yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.” (QS. An-Naziat: 34)

17. Ash-Shakhkhah (teriakan)

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (telinga).” (QS. Abasa: 33)

18. Al-Azifah (suatu yang dekat)

“Yang dekat (hari Kiamat) telah makin mendekat.” (QS. AN-Najm: 57)

19. Al-Qariah (ketukan keras)

“Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?” (QS. Al-Qariah: 3)

Demikianlah nama lain dari hari kiamat, sebagai tambahan ilmu pengetahuan kita tentang adanya hari berbangkit. Setiap arti dari hari kiamat memiliki makna khusus yang semoga di lain waktu dapat dibahas kembali. [muslimorid]

Referensi: Asyrathus Saah karya Syaikh Yusuf bin Abdillah Al Wabil

 

INILAH MOZAIK

Persepsi Positif

Prasangka melahirkan energi negatif dan persepsi positif melahirkan kebaikan. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, Jauhilah prasangka karena prasangka itu sebohong-bohong pembicaraan.

Janganlah kalian menjadi orang yang sensitif, jangan mengorek-ngorek kesalahan orang lain (memata-matai orang lain), janganlah saling bersaing, jangan saling mendengki, dan jangan pula saling mengkhianati. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara (HR Imam Muslim).

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang merusak nama baik atau harta benda orang lain, maka minta maaflah kepadanya sekarang ini. Kalau ia mempunyai amal baik, sebagian dari amal baiknya itu akan diambil sesuai dengan kadar aniaya yang telah dilakukannya. Kalau ia tidak mempunyai amal baik, maka dosa orang lain itu diambil dan ditambahkan kepada dosanya (HR Bukhari).

Ada beberapa pelajaran dari hadis di atas. Pertama, seleksi kebenaran. Sejatinya seseorang tidak mudah memutuskan tentang sebuah berita. Berita atau informasi harus dicek terlebih dahulu tentang kebenarannya. Lebih baik lagi dia sendiri yang mendengar bukan dari pembicaraan orang lain. Andai seseorang tadi banyak dibicarakan pada sebagian orang maka lebih baik langsung mempelajari individu dari seseorang itu.

Kedua, menjalin silaturahim. Silaturahim dapat mengurangi energi negatif. Bahkan, menghindari seseorang salah sangka. Berbeda dengan halnya jika silaturahim tidak terbangun. Untuk membangun image positif tadi sangat penting menjalin silaturahim baik pada keluarga, tetangga, maupun orang lain.

Ketiga, menumbuhkan perilaku berdiskusi dan bertatap muka. Diam-diam bukan jalan solusi. Kalau ada masalah maka lebih baik langsung bertemu kemudian dibicarakan secara bersama. Akhirnya menemukan titik temu akan persoalan sehingga tidak perlu orang lain hadir yang dapat memperkeruh suasana.

Keempat, menyadarkan diri. Siapa pun selama ini yang sering berpersepsi negatif kepada orang lain, bangunlah persepsi positif. Hukumannya sangat berat. Bagaimana jadinya kalau orang yang selama ini dianggap tidak benar, tetapi dia termasuk orang yang saleh.

Nama orang itu boleh saja buruk di masyarakat, bahkan dikucilkan dari masyarakat. Namun, dia memanen berupa pahala dari orang yang berprasangka negatif kepadanya. Sedangkan, orang yang berpra sangka negatif tadi semakin banyak dosadosanya

 

Oleh: Bahagia

REPUBLIKA

Ciri Suami Saleh Layak Diteladani Keluarga

“ORANG mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (HR. Tirmidzi no. 2537)

Semua orang pasti menghendaki hidup bahagia sesuai dengan syariat-Nya. Terlebih bagi yang sudah menikah, karena perjalanan panjang manusia tidak terlepas dari campur tangan keluarga. Setiap laki-laki menginginkan istri yang bertakwa dan berhati mulia, demikian juga wanita mendambakan suami yang menuntun keluarga ke jalan surga yang dijanjikan-Nya.

Adakalanya seorang suami bagi istri dan anaknya menjadi berbagai tokoh, tatkala di depan ia sebagai “panglima” dalam meniti jalan ke surga-Nya, ia memimpin untuk selalu bersemangat dalam kesabaran ketika menghadapi “onak dan duri” yang ada dihadapannya. Tatkala di belakang ia sebagai “supporter” dalam hal kebaikan, ia mendorong dengan ilmu agamanya dan tauhidnya untuk memberikan pengaruh positif bagi dirinya dan keluarga.

Tatkala di samping kanan ia sebagai seorang “ustaz” yang selalu bersanding mengajarkan kebaikan, ketakwaan, dan kesabaran dalam menempuh kehidupan. Ia selalu menggandeng anggota keluarga untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Tatkala di samping kiri ia sebagai “penegak hukum” ia selalu mencegah dengan kelembutan tatkala ada anggota keluarga yang menyimpang, selalu mencegah dalam kemungkaran tatkala banyak godaan setan.

Berikut sebagian sifat-sifat suami saleh yang layak diteladani:

  • Suami yang saleh adalah yang beraqidah bersih, ia selalu memberikan pencerahan dalam ketauhidan, selalu mengesakan Allah SWT dan menjauhkan keluarga dari segala kesyirikan sekecil apapun. Misalnya: memberikan teladan bahwasanya yang memberikan nikmat hanyalah Allah SWT
  • Suami yang saleh adalah yang beribadah dengan benar, ia selalu mendidik keluarganya dengan visi misi “beribadah tanpa lelah, bekerja meraih pahala”. Misalnya: memberikan pengajaran tentang tata cara wudlu yang benar, salat yang benar karena itu termasuk ibadah yang pertama dihisab.
  • Suami yang saleh adalah yang berakhlak mulia, ia selalu memperlakukan istri dan juga anak-anaknya dengan sifat-sifat yg terpuji. Misalnya: memperlakukan istri dengan sabar dalam setiap kesalahan-kesalahan istrinya dan memperlakukan istrinya dengan kelembutan dan penuh maaf saat istri dipenuhi dengan emosi dan kemarahan, bertutur kata saat memberikan secercah nasihat bermanfaat

“dan bergaullah dengan mereka secara baik” (QS. An-Nisaa’:19)

“Sebaik-baik kalian adalah kalian yang terbaik terhadap isterinya. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap isteriku.” (HR. Ibnu Majah no. 1967).

  • Suami yang saleh adalah yang berfisik kuat melakukan dengan manfaat, ia mampu menggunakan jasmani yang merupakan amanah dari Allah SWT untuk senantiasa menjadi pemimpin di dalam rumah tangganya, ia bagaikan “raja” di dalam rumah tangganya, mampu memperhatikan hak dan kepentingan rakyatnya, dalam hal ini adalah istrinya dan anaknya. Mampu melindungi dari bahaya dosa dan akhlak tercela. Misalnya: tidak “main tangan” terhadap istri dan anak-anaknya, memanfaatkan jasmani kuat untuk mengajarkan anak-anak berolahraga yang dicontohkan Rasulullah SAW, menafkahi istri dengan bekerja halal.

“Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa’: 34)

“Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap keridaan Allah maka baginya Sedekah.” (HR. Bukhari no. 4932).

  • Suami yang saleh adalah yang cerdas dalam berpikir, dengan nikmat otak yang diberikan Allah SWT ia mampu membuat dirinya, istrinya dan anak-anaknya mencintai ilmu, menguasai ilmu dan mampu mengamalkannya, sehingga bermanfaat bagi keluarganya dan sarana menuju surga yang dijanjikan-Nya. Misalnya: mengadakan talim setiap akhir pekan, mengajak istri dan anak mendatangi pengajian, mengamalkan amalan-amalan sunnah yang dicontohkan.
  • Suami yang saleh adalah yang mampu mandiri dalam ekonomi, ia bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya dalam hal duniawi dan ukhrowi. Ia akan memberi istri dan anak-anaknya hanya dengan harta yg halal dari hasil ketekunan dalam bekerja. Sehingga hasil jerih pengorbanan menjadi barakah dan saadah bagi diri dan keluarganya. Misalnya: berjualan dengan kejujuran, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dll. “Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan yang lainnya).
  • Suami yang saleh adalah yang berjuang melawan hawa nafsu, ia mampu bersikap bijaksana dan mulia dalam tindakannya, menghargai pendapat istrinya, dan jika terjadi perbedaan pendapat akan disikapi dengan kelembutan dan penuh kecintaan, kemudian mencari titik temu bersama dalam rangka melaksanakan perintah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. Misalnya: tatkala sedang dilanda perselisihan hendaklah suami menahan dan melawan hawa nafsu yang menggebu-gebu, mengambil air wudlu dan bersimpuh kepada Yang Maha Afwu
  • Suami yang saleh adalah yang pandai menggunakan waktu, ia mampu memberikan waktu meski dalam kesibukan, memanfaatkan waktu dalam mengajarkan teladan yang menawan, sifat terpuji yang diikuti oleh anak-anak dan istri, mampu menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik di waktu senggang, dan mengajak istri dan anak-anaknya untuk saling berbagi ilmu dan hikmah dalam hidup. Misalnya: memberikan waktu sore hari untuk berkumpul, mendengarkan cerita dan hikmah istri dan anaknya, menyisihkan waktu untuk bertadabur alam mengagumi kekuasaan Yang Maha Penyayang.
  • Suami yang salih adalah yang disiplin dalam segala hal, ia mampu mengatur diri sendiri dalam bekerja, beribadah, berkumpul dengan keluarga. Tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk hal yang negatif karena ia tahu bahwa kedisiplinan adalah ciri orang yang beriman dan menghargai segala hal. Misalnya: menunaikan salat tepat waktu, menjaga kebersihan lingkungan, memberi tahu istri tatkala pulang kerja terlambat.
  • Suami yang saleh adalah yang bermanfaat bagi orang lain, ia mampu menjaga amanah yang diberikan kepadanya, dan istri adalah amanah yg diberikan kepada seorang laki-laki yang menjadi suaminya. Sehingga suami haruslah memberikan manfaat meskipun hanya kecil maka akan mendapatkan ganti dari Allah SWT yang berlipat. Misalnya: mengajak istri dan anak berkunjung ke rumah mertua, menjenguknya, mendoakannya.

“Wanita saleh ibarat perhiasan mulia, ia terjaga oleh empunya (suami), terbungkus cinta tulus, didambakan dalam kebaikan, dihargai dengan akhlak terpuji, dan berperan mendidik keturunan.” [bersamadakwah]

 

INILAH MOZAIK