Mengatasi Wajah Janus Politik Identitas

Politik identitas membingungkan. Tidak hanya dalam tataran praktik. Namun juga dalam ranah konsep. Sebagian kalangan, menilai bahwa politik identitas adalah sesuatu yang wajar. Absah. Bahkan niscaya untuk diperjuangkan. Sebaliknya, sebagian yang lain, menyakini politik identitas adalah bahaya. Virus dalam kancah kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih, bagi bangsa yang multi identitas. Di titik inilah, kita menemukan wajah janus politik identitas.

Dalam mitologi Yunani, Janus digambarkan sebagai dewa bermuka dua. Menghadap ke arah yang berlawanan. Satu muka menunjukkan optimisme, harapan perubahan dan masa depan. Satu mukanya lagi pesimisme, keraguan, kegalauan, kesuraman yang meyimbolkan situasi tak menyenangkan. Analogi ini, tidak jauh berbeda dengan politik identitas. Dalam artian, politik identitas memiliki dua sisi. Dilihat sebagai sesuatu yang wajar, bahkan niscaya. Di sisi lain, dianggap tidak wajar dan destruktif.

Dalam kajian ilmu politik, paradoksal politik identitas ini erat kaitannya dengan definisi politik itu sendiri. Di awal kemunculannya, politik adalah upaya mengatur kehidupan bersama. Sesuai akar kata politik dari kata polis. Dalam bahasa Yunani, polis diartikan sebagai kota. Karena itu, pengetahuan dan upaya mengatur kehidupan kota (polis) yang baik, disebut sebagai politik. Pandangan positif terhadap politik ini dapat mudah ditemukan dalam pemikiran filsuf Yunani kuno. Semisal Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Di era berikutnya, pemikir Barat menawarkan makna lain. Arti yang relatif bertolak belakang. Melihat sisi negatif wajah politik. Tokoh yang mudah dirujuk adalah Niccolo Machiavelli (1469-1527). Bagi Machiavelli, dalam dunia politik, wajar adanya menghalalkan segala cara. Yang penting kekuasaan dapat diraih dan dipertahankan.

Lebih mutakhir lagi, Harold D. Lasswell mendefinisikan politik sebagai siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana (who gets what, when, and how). Politik tidak lain adalah berebut kekuasaan.

Ditambah lagi, dalam kajian ilmu sosial, identitas dipahami sebagai sesuatu yang melekat pada diri seseorang (identity is the fact of being or feeling that you are). Baik yang berkaitan dengan dengan latar belakang suku, agama, ras, ataupun golongan. Karena itu, seseorang tidak mungkin hidup tanpa identitas. Lebih dari itu, identitas ini yang mempengaruhi cara pandang dan tindakannya. Termasuk memperjuangkannya.

Kajian politik identitas dalam ilmu politik menarik banyak pihak setelah disimposiumkan. Tepatnya adalah pertemuan internasional Asosiasi Ilmuan Politik Internasional di Wina pada 1994. Agnes Haller (1995) memaparkan definisi politik identitas sebagai konsep dan gerakan politik yang fokus perhatiannya adalah pada perbedaan (difference) sebagai suatu kategori perjuangan politik.

Tidak jauh berbeda, Cressida Heyes mendefinisikan politik identitas sebagai aktivitas politis yang didasarkan pada identitas. (Cressida Heyes, 2007). Dengan kata lain, politik identitas adalah politik yang mengedepankan kepentingan suatu kelompok. Terikat dengan kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasis ras, etnisitas, gender, atau agama.

Dari tilikan ini, tidak aneh jika politik identitas memiliki wajah ganda. Wajah janus politik identitas, di satu sisi, dipahami sebagai kewajaran. Memperjuangkan kepentingan dan aspirasi masing-masing kelompok. Di satu sisi, politik identitas dianggap merusak, karena memiliki potensi benturan antar satu identitas dengan identitas lainnya.

Wajah Positif Politik Identitas

Perjuangan identitas adalah bagian dari perjuangan kemanusiaan. Dimana satu identitas, secara faktual tertindas. Ditambah lagi, tidak sedikit doktrin agama yang menentang kesewenang-wenangan. Sejarah mencatat adanya tokoh, komunitas, dan institusi keagamaan bisa berperan menjadi penjaga moral masyarakat serta pengkritik kekuasaan yang garang.

Bahkan, agama bisa menjadi sumber energi luar biasa untuk melakukan perlawanan terhadap rezim korup dan despotik. Sejarah gerakan Gereja Katolik di Amerika Latin, Black Chruches di Amerika Serikat, Sufi Sanusiyah di Lybia, atau Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah di Banten, Indonesia, hanyalah contoh sejarah dimana agama telah melakukan fungsi kritisnya. Agama menjadi medium kritik sosial sebuah masyarakat sekaligus sarana perubahan politik sebuah tatanan kekuasaan.

Politik identitas (agama) dalam konteks sejarah Indonesia mengalami pasang surut. Relasi agama dan politik dapat dibagi menjadi 4 zaman; Kolonial, Orde Lama, Orde Baru, dan Era Revormasi. Pada masa Kolonial, agama berperan ganda; sebagai legitimasi kolonialisme sekaligus kritik sosial. Banyak tokoh agama yang bekerja dengan pemerintah kolonial. Tetapi pada saat yang bersamaan, juga banyak di antara mereka yang menjadi pengkritik dan melawan kolonial.

Pada zaman Orde Lama, Presiden Sukarno di satu sisi mengakomodasi tokoh-tokoh muslim Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Masyumi. Bahkan tokoh dari organisasi ini terjun ke dalam politik praktis. Yakni dengan mendirikan partai politik. Di sisi lain, pemerintah juga tegas melakukan tindakan militer terhadap DI/TI, NII, dan lainnya.

Pada masa Orde Baru, Presiden Suharto tidak melirik kelompok Islam meskipun pada awalnya mereka digandeng untuk mengantarkan jalan kekuasaan. Dalam perjalanannya, Islam politik tidak banyak diberi ruang. Stabilitas politik untuk pembangunan diutamakan. Pancasila sebagai asas ideologi tunggal diterapkan.

Selain itu, Pak Harto lebih tertarik menggandeng kelompok abangan-kejawen dan kalangan militer. Baru pada awal 1990-an, ia tertarik “melirik” Islam dengan menggaet kelompok kelas menengah teknokrat di bawah bendera ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) setelah terjadi friksi dengan sejumlah petinggi militer.

Pada Era-Revormasi, keran kebebasan dibuka kembali lebar-lebar. Indonesia menjadi bebas. Salah satu konsekuensinya ialah lahirlah partai-partai berbasis agama. Masing-masing mengonsolidasikan kekuatan politik identitas mereka.

Di kalangan umat Islam misalnya, Deliar Noer menghendaki didirikannya partai Islam. Partai yang menampung aspirasi umat. Didukung oleh beberapa aktivis Islam, akhirnya didirikan Partai Umat Islam (PUI). Kalangan Islam tradisionalis, yakni Nahdlatul Ulama (NU) memelopori berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). PKB dapat disebut lahir dari rahim tokoh-tokoh NU, khususnya KH. Abdurrahman Wahid.

Demikian pula dengan lahirnya partai-partai agama lainnya, seperti Partai Damai Sejahtera (PDS), Partai Keadilan (PK), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Bintang Reformasi (PBR). Dari empat periodesasi ini, Islam menjadi identitas perjuangan politik. Namun, disalurkan dan diperjuangakan dalam koridor konstitusi.

Didasarkan pada Pancasila dan UUD 45 dalam bingkai NKRI. Dalam konteks ini, identitas Islam yang diperjuangkan dalam ranah politik dianggap wajar adanya. Tidak terbilang, tokoh-tokohnya memegang jabatan strategis. Mulai dari wilayah legislatif, eksekutif, hingga yudikatif.

Wajah Negatif Politik Identitas

Jika dilihat secara seksama, di awal berdirinya Republik Indonesia, politik identitas juga telah memberikan pelajaran berharga. Dimana identitas Islam digunakan sebagai basis melawan pemerintahan yang sah. DI/TI, NII, pemberontakan Daud Beureueh, dan Kahar Mudzakar adalah contah nyata. Sesama anak bangsa harus saling menumpahkan darah.

Tragedi sesama anak bangsa kembali terulang di kisaran tahun 1965. Kubu komunis, islamis, dan nasionalis saling angkat senjata. Tak terhitung, korban nyawa dipertontonkan. Dengan bentuk yang berbeda, Pilkada DKI Jakarta 2017 juga menyimpan trauma. Perbedaan identitas sesama anak bangsa dieksploitasi sedemikian hingga.

Masyarakat tersekat. Agamawan dan tempat-tempat ibadah dijadikan alat dan arena rebut kuasa. Hanya segelintir elit yang bermain, namun masyarakat awam merasakan dampaknya. Proses politik semacam ini disadari atau tidak, telah menggerus demokratisasi di Indonesia. Lantas bagaimana kita mengatasinya? Dan siapa saja yang bertanggungjawab?

Politik identitas harus diminimalisir dengan penguatan identitas nasional. Bangsa Indonesia tidak boleh terjebak pada solidaritas kelompok yang melahirkan primordialisme dan chauvinisme. Terjebak pada fanatisme kedaerahan, kesukuan, agama, golongan, serta kelompok-kelompok lainnya.

Selain itu, politik identitas tak bisa dilawan dengan politik identitas “yang lebih lunak”. Ia harus dilawan dengan politik yang mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Lebih dari itu, pencegahan terjadinya politik identitas pada Pemilu 2024 merupakan tanggung jawab multisektor. Mencakup pemerintah, partai politik, penyelenggara pemilu, dan kelompok masyarakat sipil. Masing-masing harus mengambil peran. Sesuai dengan kapasitas dan fungsi masing-masing.

Pengalaman telah mengajari bangsa Indonesia. Bahwa politik identitas, pada hakikatnya hanya elit yang menikmatinya. Namun, resikonya sangat besar. Yakni keutuhan hidup berbangsa dan bernegara. Sebagai anak bangsa yang baik, tentu kita tidak ingin ikut bertaruh di dalamnya.

Semoga penjelasan tentang wajah janus politik identitas ini memberikan manfaat. Pun kita berharap Indonesia tetap aman, harmoni dan damai. Wallhu a’lam bishawab.

BINCANG SYARIAH

Layanan Haji Ramah Lansia Tahun 2023, Dinilai Berhasil Petugas Siaga Bantu Jamaah

Haji ramah lansia program Yaqut Cholil Qoumas.

Pada pelaksanaan haji tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) memberikan perhatian besar terhadap para jemaah lansia. Yakni, melalui tema ‘Haji Ramah Lansia’. Jamaah lansia pun tak perlu dihadapkan pada rasa khawatir, takut atau ragu sedikit pun.

Menurut Anggota Tim Pengawas PPIH Arab Saudi 1444 H Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Wibowo Prasetyo, semua jamaah mendapatkan pelayanan yang tak terputus. Yakni, sejak di tanah air, di embarkasi, bandara keberangkatan, di dalam pesawat saat penerbangan, di bandara kedatangan, hotel di Makkah, Madinah, Arafah, Muzdalifah, Mina dan hingga di debarkasi saat kembali ke Tanah Air.

“Saya menyaksikan sendiri begitu optimal dan besar manfaat dari kebijakan baru yang dicetuskan langsung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas tersebut. Di asrama haji, misalnya, jamaah yang masuk dalam lansia mendapat layanan prioritas seperti ketika menjalani pemeriksaan dokumen, kesehatan, masuk kamar dan lain sebagainya,” ujar Wibowo dalam keterangannya, Jumat (21/7/2023).

Begitu juga, kata dia, ketika akan naik pesawat, selalu ada petugas kloter yang siaga memantau dan mendampingi mereka. Hal ini pun membuat jemaah terlihat lebih tenang sekaligus merasa sangat dihargai. 

Pelayanan tak henti juga, kata dia, terlihat saat jemaah tiba di Arab Saudi, baik yang masuk lewat Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah (gelombang 1) dan Bandara King Abdul Aziz Jeddah (gelombang kedua). Di dua Bandara ini jemaah dihadapkan banyak yang lelah, karena sebelumnya menjalani penerbangan panjang. 

Bahkan, kata dia, beberapa jamaah lansia pun menjadi kerepotan untuk berjalan, lebih-lebih harus menjalani berbagai pemeriksaan di bandara. Namun kerepotan-kerepotan ini dijawab dengan kesigapan para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Bandara. 

“Mereka, baik petugas laki-laki atau perempuan, tampak cekatan mendampingi, menuntun, bahkan tak sedikit yang membopong dan menggendong jamaah lansia. Sebagian lagi membantu mengambilkan makanan, menyuapi, mengantar ke toilet, bahkan membersihkan kotoran mereka saat buang hajat,” papar Wibowo.

Menurutnya, tak ada rasa keterpaksaan atau ketidakrelaan petugas-petugas itu bekerja. Mereka terlihat sangat ikhlas dan begitu tulus seolah membayangkan yang mereka dampingi, kawal, tuntun, bopong, gendong itu adalah orang tua sendiri. 

“Bayangan jemaah akan kerepotan pun berubah menjadi kemudahan bahkan rasa persaudaraan,” katanya. 

Setiba di hotel, kata dia, para jamaah lansia juga tak henti disambut hangat petugas sektor. Oleh petugas, jamaah dengan aktivitas terbatas diposisikan di kamar khusus, seperti di dekat lift. Ini bertujuan untuk memudahkan mobilisasi, pemantauan, pemeriksaan kesehatan dan lainnya. Ketika jamaah akan meninggalkan kamar, maka petugas sektor juga memastikan para jamaah lansia bisa ikut turut serta, entah harus dikawal atau dinaikkan dengan kursi roda dan lain sebagainya.

Saat memasuki fase puncak, kata dia, yakni di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna), dirinya sengaja menyempatkan berkeliling ke tenda-tenda jemaah dan menemukan banyak jemaah lansia bisa beribadah dengan baik. 

Hal ini, kata dia, lagi-lagi karena di setiap maktab, telah disiapkan banyak petugas yang khusus untuk mengawal mereka. Maka meski sudah uzur, mereka tidak lagi kesusahan untuk ke toilet, makan, minum, berdoa dan lain sebagainya.

“Meski uzur atau sakit, rukun ibadah haji juga tak sedikit pun terlewatkan. Ini karena ada petugas khusus yang membantu mereka seperti melakukan safari wukuf bagi jemaah sakit. Demikian pula, ada beberapa petugas yang khusus untuk menjalani badal (pengganti),” katanya.

Wibowo mengatakan, yang membuat ia sangat terharu, banyak petugas haji yang rela menggendong jemaah lansia saat berangkat atau pulang melempar jumrah. Bahkan tidak hanya di waktu malam, petugas itu juga sering menggendong jamaah di bawah terik matahari.

Menurutnya, banyaknya dokumen-dokumen yang tersebar di berbagai media massa atau media sosial selama ini telah menguatkan bukti bahwa kehadiran petugas layanan lansia itu nyata. Keberadaan mereka yang bekerja sangat profesional karena menjadi bimbingan teknis dan sejumlah pelatihan plus didukung dengan berbagai fasilitas khusus seperti kursi roda, kruk, tongkat, walker hingga golf car sangatlah bermanfaat.

“Kita tahu, sejatinya jamaah lansia tak kali ini saja ada. Namun melihat begitu besarnya kuota tahun ini, yakni 229.000 orang dan jumlah jamaah lansia pada hampir 70.000 orang, maka keputusan Menag Yaqut Cholil Qoumas yang membuat tema dan layanan dan khusus adalah sebuah terobosan besar,” paparnya. 

Menurutnya, penyelenggaraan haji 2023 telah menunjukkan bahwa layanan ‘Haji Ramah Lansia’ adalah sebuah keniscayaan. Model dan sistem layanan baru ini telah terbukti banyak memberikan kemudahan, kebaikan, ketenangan, dan kenyamanan bagi puluhan ribu jamaah lansia Indonesia.

‘Haji Ramah Lansia’, kata dia, menunjukkan negara hadir sepenuhnya untuk memberikan pelayanan, pendampingan dan perlindungan terhadap warganya. ‘Haji Ramah Lansia’ juga membangun bersama dan mewujudkan jamaah agar tetap sehat, aktif, dan mandiri. Yang tak kalah penting dan sangat berharga, ‘Haji Ramah Lansia’ ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai bangsa yang sangat luhur dan istimewa, yakni kegotongroyongan, kebersamaan, penghormatan, persaudaraan, dan persatuan. 

IHRAM

Warga Saudi Bisa Ajak Teman dari Negara Lain untuk Umroh dengan Visa Kunjungan Pribadi

Haji dan umroh menjadi andalan devisa Arab Saudi

Kementerian Haji dan Umrah di Arab Saudi mengumumkan, warga negara Saudi sekarang dapat mengundang teman-teman mereka untuk melakukan umroh melalui visa kunjungan pribadi. Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi kunjungan teman-teman asing untuk umrah.

Kementerian menyatakan, visa kunjungan pribadi menawarkan empat manfaat utama. Pertama dikeluarkan untuk satu atau beberapa perjalanan, dan kedua yaitu kesempatan untuk melakukan ritual umroh dan mengunjungi masjid Nabawi, sebagaimana dilansir Gulf News, Jumat (21/7/2023).

Ketiga yakni eksplorasi berbagai tempat wisata di seluruh wilayah dan kota di Arab Saudi. Keempat ialah kesempatan untuk mengunjungi situs bersejarah dan memperkaya tujuan di berbagai kota kerajaan.

Kementerian lebih lanjut mengklarifikasi bahwa ada dua jenis visa yang tersedia. Visa pribadi satu perjalanan memiliki masa berlaku 90 hari dengan masa tinggal 90 hari. Sedangkan visa pribadi multi-perjalanan tetap berlaku selama 365 hari, memungkinkan masa tinggal 90 hari.

Warga negara Saudi dapat mengajukan visa pribadi melalui platform visa Kementerian Luar Negeri. Selanjutnya, menyederhanakan proses mengundang teman mereka untuk umroh ke Arab Saudi.

Kerajaan Arab Saudi tengah bersiap menghadapi peningkatan jumlah perusahaan yang memenuhi syarat menyediakan layanan bagi jamaah umroh. Wakil Menteri Haji dan Umroh, Abdulfattah Mashat Dr. Abdul Fattah Mashat, menyampaikan di musim baru umroh ini ada kemungkinan peningkatan jumlah peziarah internasional.

Dilansir di Asharq Al-Awsat, Selasa (18/7/2023), Mashat mengatakan kelompok pertama jamaah umroh dan pengunjung Masjid Nabawi akan mulai berdatangan dari luar Kerajaan, pada hari pertama tahun baru Hijriah.

Pemerintah Saudi juga disebut telah bekerja keras untuk menyediakan serangkaian fasilitas yang komprehensif. Tujuannya, untuk memungkinkan umat Islam dari seluruh penjuru dunia dengan mudah mengakses Dua Masjid Suci.

Tidak hanya itu, ia juga mengharapkan terjadi peningkatan jumlah jemaah umroh yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan tujuan “Visi 2030” Kerajaan.

IHRAM

Ibadah: Semakin Bermanfaat, Semakin Berpahala

Secara umum amal ibadah dibagi menjadi dua katagori, yaitu amalan ibadah qashir (perorangan) dan muta’addi. Amalan qashir adalah suatu amalan ibadah yang manfaatnya hanya untuk diri pelakunya saja, seperti berzikir, salat, iktikaf, membaca Al-Qur’an, haji, umrah, dan yang lainnya. Sedangkan amalan muta’addi merupakan amalan yang manfaatnya baik di dunia maupun akhirat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain. Ibadah muta’addi lebih utama dan lebih banyak pahalanya daripada ibadah qashir.

Ibadah mana yang prioritas?

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lain). Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid ini, yakni masjid Nabawi selama sebulan penuh. (HR. Thabrani dalam Al-Mujam Al-Kabir no. 13280. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Jamino. 176)

Dari hadis tersebut, ibadah yang membawa manfaat bagi orang lain lebih didahulukan (lebih utama) daripada ibadah iktikaf yang hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Hal ini selama kedua amalan tersebut sama-sama ibadah sunah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam dalam banyak hadis juga memberitahukan kepada kita mengenai siapa sebaik-baik manusia dan selalu menggandengkannya dengan kebermanfaatannya bagi orang lain.

Pertama, perihal utang

خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Ketiga, menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى.

Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku. (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 285)

Kempat, yang paling baik akhlaknya dan menuntut ilmu

خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا

Sebaik-baik Islamnya kalian adalah yang paling baik akhlak jika mereka menuntut ilmu. (HR. Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3312)

Kelima, yang memberikan makanan

خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ

Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.(HR Ahmad dan dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami no. 3318)

Keenam, yang paling bermanfaat bagi manusia

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. (HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami no. 3289).

Umat terbaik: umat yang paling memberi manfaat

Umat Islam disebut oleh Allah Ta’ala sebagai umat yang terbaik karena adanya ibadah amar makruf nahi munkar (saling mengajak kepada kebaikan dan melarang dari perbuatan keburukan).

Allah Ta’ala berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

Bahkan, selain manusia, para hewan pun juga merasakan manfaat dari amal amar makruf nahi munkar. Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ

“Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu (alim ulama). Dan sungguh, orang yang berilmu akan dimohonkan ampunan oleh penduduk langit dan bumi, bahkan hingga ikan yang ada di dasar laut. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dapat kita pahami dari hadis tersebut bahwa jika semakin banyak orang yang berilmu, maka semakin tersebar pula amar makruf nahi munkar sehingga Allah akan menghindarkan dari azab-Nya. Karena bila azab Allah turun, maka yang terkena dampaknya bukan hanya manusia tetapi juga hewan. Oleh karenanya, hewan memohonkan ampun kepada Allah atas orang-orang yang berilmu.

Sebaik-baik perkataan yang membawa manfaat

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’” (QS. Fussilat: 33)

Ayat di atas menerangkan bahwa tiada yang lebih baik perkataannya daripada seseorang yang memberikan manfaat dengan mengajak kepada tauhid (mengesakan Allah) dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya semata.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk memaksimalkan pahala ibadah yang kita lakukan.

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari faedah kajian bersama Ustadz Dr. Muhammad Rezki Hr, M.Eng. Membahas kitab Tajridul Ittiba’ karya Syekh Ruhaily, 29 Zulkaidah 1444 H/17 Juni 2023 di Masjid Agung Sleman.

© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/86060-ibadah-semakin-bermanfaat-semakin-berpahala.html

Rumput Tetangga Ternyata Tidak Lebih Hijau dari Rumput di Halaman Kita, maka Bersyukurlah

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman kita.

Ungkapan ini seolah menggambarkan bahwa kehidupan orang lain dalam hal ini tetangga kita terlihat lebih bahagia dari kehidupan kita.

Begitulah sifat manusia, selalu merasa kurang dan tidak bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.

Dari curahan hati teman sering kita dengarkan mereka merasa bahwa orang lain lebih beruntung dari dirinya.

“Enak ya si ibu anu itu suaminya punya jabatan, dia mana pernah merasakan kurang uang belanja,” curhat seorang ibu.

Padahal di kesempatan lain si ibu anu yang katanya beruntung itu, malah mengeluh kalau suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga kurang perhatian kepada istri dan anaknya.

Kalau begini siapa yang lebih beruntung dan bahagia? Ibu yang suaminya pejabat tapi kurang perhatian? Atau ibu yang ekonominya pas-pasan tapi suami banyak perhatian?

Begitulah kehidupan pernikahan, setiap orang diuji dengan ujiannya masing-masing. Ada yang diuji ekonominya, ada yang diuji suami/istrinya, ada juga yang diuji anak-anaknya dan lainnya.

Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini, ada kurang tapi pasti ada lebihnya.

Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bersyukur dengan segala kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim : 7)

Ketika seseorang diuji dengan ekonomi yang sulit, maka pasti ada hal lain yang bisa disyukuri misalnya kesehatan, waktu luang atau yang lainnya.

Selalu ada hal yang bisa kita syukuri asal kita mau mensyukurinya dan tidak membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.

Jadi rumput tetangga ternyata tidak lebih hijau dari rumput di halaman kita, maka bersyukurlah.*/Ummu Aisyah

HIDAYATULLAH

Bukan Bid’ah, Inilah Dalil dan Keutamaan Puasa 9 dan 10 Muharram

Muharram bukan saja menjadi bulan yang menandai pembukaan tahun dalam kalender Islam. Di bulan ini ada satu amalan ibadah yang sangat mulia, yakni puasa pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini sudah lazim dilakukan para sahabat dan ulama salafussalih. Hanya saja, ada juga yang masih meragukan ibadah sunnah ini.

Apakah puasa 9 dan 10 Muharram ada bid’ah? Adakah dalilnya? Mungkin itu yang kerap ditanyakan dan membuat keraguan umat Islam.

Ada banyak sekali hadist yang dapat dijadikan dalil atas kesunnahan puasa 9 dan 10 Muharram. Misalnya, Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

Hadist di atas belum secara eksplisit menjelaskan tanggal berapa dari Muharram yang disunnahkan oleh Nabi.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “ Ketika tiba di Madinah, Rasulullah mendapati orang-orang Yahudi mlakukan puasa Asyura. Kemudian beliau bertanya, hari yang kalian berpuasa ini hari apa? Orang-orang Yahudi menjawab: “Ini adalah hari yang mulia, ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya. Hari ini pula Fir’aun dan kaumnya di tenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur. Maka Kamipun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini.” Rasulullah kemudian bersabda: “ Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa dari pada kalian.” Lalu setelah itu Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa Asyura. (HR. Bukhari).

Hadist ini sudah cukup membuktikan kesunnahan dari puasa 10 Muharram. Tentang keutamannya. Nabi pernah ditanya tentang keutamaan puasa asyura ini. Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim ).

Tapi itu kan hanya hadist tentang 10 Muharram atau asyura, bagaimana dengan tanggal 9 Muharram?

Pada bulan Muharram umat Muslim dianjurkan untuk melakukan puasa sunnah baik puasa tanggal 9, Tasu’a, 10 ‘Asyuro, bahkan tanggal 11. Dari mana dalil ini didapatkan? Dalam sebuah hadist Nabi bersabda : “Puasalah kalian pada hari asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Kerjakan puasa dari satu hari sebelumnya sampai satu hari sesudahnya” (HR Ahmad).

Tentang hadist riwayat Ahmad ini, Ibnul Qayyim dan Ibnu Taimiyyah serta Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari, sepakat dengan cara tersebut. Dan termasuk yang memilih pendapat ini Asy-Syaukani dan Syaikh Muhamad Yusuf Al-Banury.

Bahkan dalam hadist lain Rasulullah bersabda, “Berpuasalah kalian pada tanggal sembilan dan sepuluh bulan Muharram dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi”. (HR. Baihaqi).

Jadi, sampai di sini cukup jelas, tidak ada yang meragukan kesunnahan puasa 9 dan 10 Muharram. Namun, ada yang mengatakan bukankah perintah puasa itu sebelum datangnya perintah puasa Ramadan?

Hadits Urwah, dari Aisyah bahwa saat zaman jahiliyah dahulu orang-orang Quraisy melaksanakan puasa Asyura. Lalu Rasulullah tetap memerintahkan umatnya untuk melaksanakan puasa tersebut. Sampai turun kewajiban puasa Ramadhan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagi yang ingin, silakan puasa, bagi yang tidak puasa juga tidak mengapa.”

Nah, hadist ini semakin memperjelas posisi puasa Muharram. Ia bukan kewajiban tetapi ibadah sunnah yang utama dilakukan dan tidak masalah jika ditinggalkan. Bagi yang ingin keutamaan puasa ini, tentu tidak menyia-nyiakannya.

ISLAMKAFFAH

4 Minuman yang Disukai Rasulullah, Nomor 3 Bisa Didapatkan Gratis dan Paling Sehat

Selain makanan, Rasulullah saw juga mempunyai minuman favorit. Minuman yang disukai Rasullah saw tak cuma enak dan segar, melainkan kaya akan khasiat yang bagus untuk tubuh.

Minuman yang disukai Rasulullah saw juga bisa ditemukan pada zaman sekarang. Bahkan nomor 3 bisa didapatkan secara gratis.

Penasaran apa saja minuman yang disukai Rasulullah saw? Berikut ini 4 Minuman yang Disukai Rasulullah.

1. Susu

Minuman pertama yang disukai Rasulullah saw adalah susu. Adapun susu yang disukai Nabi Muhammad saw diantaranya susu kambing, susu sapi, dan susu unta.

Namun dari ketiga jenis susu tersebut, Rasulullah saw disebut lebih menyukai susu kambing. Hal tersebut pernah diceritakan oleh para sahabat.

Pada saat itu Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar sedang melakukan perjalanan hijrah ke Madinah. Kemudian mereka berdua menikmati susu kambing di Gua Tsur.

Namun Nabi Muhammad saw memilih untuk memerah susu pada seekor kambing di sana. Ummu Ma’bad mengatakan bahwa kambing tersebut sudah tidak bisa menghasilkan susu.

Akan tetapi saat Rasulullah saw membaca bismillah, dengan izin Allah SWT kambing tersebut pun mengeluarkan susu segar.

Sebagaimana yang sudah diketahui, jika susu merupakan minuman yang menyehatkan. Bahkan di dalam Al-Quran, susu tercatat sebagai minuman terbaik. Tidak heran jika minuman ini disukai oleh Rasulullah saw.

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya,” (QS. An-Nahl:66)

2. Air Nabeez

Selain buah kurma, Nabi Muhammad saw juga menyukai air rendaman kurma atau yang dikenal dengan air nabeez.

Air nabeez tidak kalah khasiatnya dengan buah kurma. Salah satu manfaat rendaman buah kurma antara lain mampu mengatasi asam lambung dan masalah sistem pencernaan.

Tak cuma itu saja, air nabeez juga mampu berperan untuk memperkuat memori dan mencegah kanker prostat pada pria.

Agar lebih nikmat, air nabeez juga bisa dicampur dengan madu dan kismis. Jika dirasa sulit untuk membuat air nabeez, bisa juga membuat infused water yang juga mempunyai banyak manfaat untuk tubuh.

Infused water bisa dibuat menggunakan buah-buahan seperti strawberry, lemon, apel, atau menggunakan rempah-rempah.

3. Air Putih

Minuman favorit Rasulullah saw yang selanjutnya adalah air putih. Sebagaimana yang sudah diketahui, air putih merupakan minuman yang paling dianjurkan untuk dikonsumsi setiap harinya.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya air putih merupakan minuman paling sehat dan kaya akan khasiat yang bagus untuk tubuh.

Salah satu manfaat dari air putih adalah menghidrasi tubuh, meningkatkan tingkat fokus seseorang hingga melancarkan pencernaan.

Kesukaan Rasulullah saw pada air putih pernah disampaikan oleh istrinya yakni Aisyah ra. Ia mengatakan jika minuman yang paling digemari Nabi adalah air tawar yang jernih.

Pernyataan Aisyah ra tersebut bersumber dari hadist Nabi yang diriwayakan oleh Imam At-Tirmidzi.

Dia berkata: “Nabi paling senang meminum al-hulwu al-barid (air tawar yang jernih). Seperti air dari sumber mata air dan air sumur jernih yang rasanya manis tawar,”

4. Minuman yang Manis dan Dingin

Adapun minuman favorit Nabi yang terakhir adalah minuman yang manis dan dingin. Hal tersebut juga pernah disampaikan oleh Aisyah ra.

Aisyah mengatakan: “Minuman yang paling disukai oleh Rasulullah saw adalah yang manis dan dingin,” (HR. Tirmidzi)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga menjelaskan jika bentuk minuman tersebut bisa lebih menjaga kesehatan karena segarnya dan membuat tubuh menjadi fresh.

Maksudnya adalah air dingin campuran dengan yang bisa membuatnya manis seperti madu, kismis, kurma atau gula. Minuman tersebut lebih bermanfaat bagi tubuh dan bisa menjaga kesehatan.

Itulah 4 Minuman yang Disukai Rasulullah saw yang bisa kita coba untuk dikonsumsi sehari-hari agar mendapatkan khasiatnya. Wallahu ‘alam bhissawabi.

ISLAMKAFFAH

Tahun Baru Islam Saatnya Kiswah Ka’bah Diganti

Tahun Baru Islam Saatnya Kiswah Ka’bah Diganti

Kepresidenan Umum untuk Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi telah mengganti penutup (kiswah) Ka’bah dengan yang baru. Proses penggantian kiswah dilakukan di bawah pengawasan Kepala Kepresidenan Umum Syekh Abdurrahman Al-Sudais, seperti kebiasaan setiap tahunnya.

Dilansir di Saudi Gazette, Kamis (20/7/2023), penggantian kiswah dilakukan oleh tim yang dipilih dari Kompleks King Abdulaziz untuk Kiswa Ka’bah Suci. Proses tersebut berlangsung di momen Tahun Baru Islam 1445 H.

Kiswah yang baru terdiri dari empat sisi terpisah dan tirai pintu. Kiswa Ka’bah menghabiskan sekitar 850 Kg sutra mentah, 120 Kg kawat emas, serta 100 kawat perak.

Sekitar 200 orang Saudi yang terlatih bekerja di Kompleks Raja Abdulaziz untuk Kiswah Ka’bah Suci. Mereka bekerja dengan beberapa bagian, yaitu binatu, tenun otomatis, tenun manual, percetakan, ikat pinggang, penyepuhan, menjahit, dan perakitan.

Selama proses pembuatan kiswah digunakan mesin jahit terbesar di dunia dalam hal panjang mesin. Mesin sepanjang 16 meter ini dioperasikan menggunakan sistem komputer.

Selain itu, pabrik ini memiliki beberapa departemen penunjang seperti laboratorium, pelayanan administrasi, kualitas, hubungan masyarakat dan kesehatan pekerja, serta keselamatan kerja di komplek.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, untuk pembuatan sebuah kiswah membutuhkan 56 keping bersulam emas. Setiap bagiannya juga membutuhkan pekerjaan tangan yang rumit, membutuhkan waktu antara 60 hingga 120 hari untuk menyelesaikannya.

Setiap bagian melewati proses bordir yang teliti. Ini memastikan standar kualitas tertinggi.

Proses produksi meliputi berbagai tahapan. Ayat-ayat Alquran dan prasasti Islam disulam dengan rumit dengan benang kawat perak berlapis emas selama fase ketujuh.

IHRAM

Teks Khotbah Jumat: Sudahkah Kita Memiliki Bagian dari Amalan yang Tersembunyi?

Khotbah pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى

فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala! Taatilah seluruh perintah-Nya dan janganlah engkau bermaksiat kepada-Nya! Ketahuilah wahai jemaah sekalian, bahwa kebaikan duniamu dan akhiratmu tidak akan bisa diraih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Sang Mahakaya dan Maha Esa. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.(QS. At-Talaq: 5)

Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Ada satu doa yang senantiasa diulang-ulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Doa yang selalu beliau rutinkan dan beliau baca di waktu-waktu mustajab. Salah satu doa yang selayaknya mendapatkan perhatian khusus dari kita. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُكثرُ أن يقولَ يا مقلِّبَ القلوبِ ثَبِّتْ قلبِي على دينِك فقلت يا نبيَّ اللهِ آمنَّا بك وبما جئتَ به فهل تخافُ علينا؟ قال نعم إن القلوبَ بينَ إصبعينِ من أصابعِ اللهِ يُقلِّبُها كيفَ يشاءُ

”Rasulullah  senantiasa memperbanyak doa, ‘Wahai Zat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’ Lalu, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa, apakah engkau mengkhawatirkan kami?’ Beliau bersabda, ‘Iya, sesungguhnya hati itu ada di antara dua jemari dari jari jemari Allah. Dia membolak-balikkan sebagaimana yang Dia kehendaki.’” (HR. Tirmidzi no. 2140, Ahmad no. 13696 dan Ibnu Majah no. 38334)

Jika Nabi saja mengkhawatirkan kondisi agama para sahabatnya, maka ketakutan dan kekhawatiran kita akan godaan terhadap agama kita tentunya lebih besar. Karena hati ini seperti namanya dalam bahasa Arab “Al-Qalbu” memiliki makna mudah dan cepat berubah. Dari keimanan menuju kekafiran. Dan dari ketaatan menuju kemaksiatan.

Wahai hamba-hamba Allah sekalian.

Salah satu hal terbesar yang akan membantu kita teguh di atas kebenaran dan keimanan adalah menjaga hal-hal yang bersifat rahasia dari ibadah yang tersembunyi. Karena hal-hal tersebut terbukti akan menguatkan keteguhan kita. Amalan tersembunyi adalah ujian tersendiri yang dihadapkan pada amalan kita di hari kiamat nanti. Allah Ta’ala mengatakan,

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

“Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. At-Thariq: 9)

Mengenai ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Muqaatil rahimahullah mengatakan, ‘Yaitu, itu nampak dan muncul…’  Maka, keimanan termasuk dari rahasia. Dan hukum-hukum-Nya termasuk rahasia. Mereka semua akan diuji pada hari itu untuk menampakkan mana saja yang baik dari yang buruk. Siapa saja yang melaksanakannya dari mereka yang menyepelekannya. Dan apa yang diniatkan untuk Allah dari apa yang bukan untuk-Nya.”

Wahai hamba-hamba Allah sekalian.

Kebaikan yang disembunyikan dan niat yang tulus karena Allah Ta’ala akan menjadikan pahala sebuah amal menjadi besar, meskipun aslinya amalannya tersebut terlihat kecil dan sedikit. Sedangkan niat yang jelek bisa jadi akan membatalkan pahala sebuah amal, meskipun amalannya tersebut terlihat besar.

Jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Perbanyaklah amalan-amalan tersembunyi untuk menggapai rida Allah Ta’ala. Sahabat Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

مَنِ استطاعَ منكم أنْ يكونَ لَهُ خَبْءٌ [خَبِيءٌ] مِنْ عمَلٍ صالِحٍ فلْيَفْعَلْ

”Siapa saja di antara kalian yang mampu untuk memiliki amal saleh yang tersembunyikan, maka lakukanlah!” (Diriwayatkan dan disahihkan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6018)

Ibadah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi serta meninggalkan dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi akan mengangkat derajat seorang hamba, membesarkan nilai pahala, dan menghapuskan dosa-dosa. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ

“Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka, berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin :11)

Jemaah jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Ibadah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi akan menguatkan hubungan kita dengan Allah Ta’ala. Tidaklah ada seseorang yang mengeluhkan lemahnya hubungan dirinya dengan Allah, kecuali pasti sedikit dirinya di dalam berdua-duaan, berkhalwat, dan bermunajat dengan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kekasih hati kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa bangun di malam hari, bermunajat dengan Tuhan-Nya, beriktikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan dengan kualitas salat yang tidak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi bagusnya dan lamanya. Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ * قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ * نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ * اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ * اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا * اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.” (QS. Az-Zamil: 1-6)

Jikalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki waktu khusus untuk berduaan dengan Rabbnya dan salat di hadapan-Nya, maka beliau tidak akan kuat memikul amanah risalah yang berat ini.

Wahai saudaraku yang sedang menghadapi kesulitan dalam agamanya, sedang menghadapi kesulitan dalam urusan dunianya, mohonlah pertolongan kepada Tuhanmu, berbisiklah kepada-Nya di malam-malam yang sunyi. Karena amal ibadah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi merupakan salah satu sebab terbesar diterimanya doa-doa dan harapanmu. Karena amalan tersebut akan menjagamu dari riya’ dan pengelihatan manusia.

Wallahu a’lam bisshawab.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

Baca juga: Amalan Tersembunyi dalam Doa Bangun Tidur

Khotbah kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.

Ma’asyiral mukminin yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Sebagaimana setan menggoda manusia pada ibadah-ibadah yang nampak dengan riya’, setan juga tidak berputus asa dari amalan-amalan yang tersembunyi. Mereka akan menggoda para pelakunya untuk berlaku ujub, bangga diri dengan amalan tersembunyi yang telah dilakukannya. Terkadang ia jadi meremehkan saudara semuslimnya yang lain. Menganggap bahwa amal ibadah tersembunyi yang dilakukannya menjadikannya lebih baik dari mereka semua. Saat engkau sudah dimampukan untuk melakukan amal ibadah tersembunyi ini, maka berhati-hatilah dari jebakan setan tersebut.

Berhati-hatilah juga wahai saudaraku, setan akan berusaha menggoda mereka yang telah berhasil melakukan amalan secara sembunyi-sembunyi dengan cara membuatnya lalai, membuat lisannya tidak kuat untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada manusia lainnya. Amalan yang sudah susah payah dilakukannya secara sembunyi-sembunyi itu dengan cepat berubah menjadi amalan yang nampak hanya dengan satu ucapan dari lisannya. Berusahalah sekuat tenaga wahai saudaraku, untuk tidak menceritakan amalan tersembunyi yang telah kita lakukan.

Jemaah yang berbahagia, ketahuilah bahwa selain amalan-amalan tersembunyi, ada juga amalan-amalan yang Allah Ta’ala ingin untuk ditampakkan. Oleh karenanya, janganlah terlambat dan jangan lupakan bagianmu dari ibadah-ibadah ini, baik itu menghadiri salat berjemaah ataupun menghadiri salat Jumat layaknya berkumpulnya kita di masjid yang mulia ini. Sungguh itu bukanlah termasuk dari riya’ yang diharamkan.

Ma’asyiral mukminin yang berbahagia, amalan-amalan tersembunyi adalah penyeimbang bagi amal ibadah kita yang zahir dan nampak tersebut. Oleh karenanya, sangat penting sekali untuk kita rutinkan dan kita jaga. Muslim bin Yasar rahimahullah, salah atau tabiin dan muhaddits terkemuka pernah mengatakan,

ما تلذَّذ المتلذِّذونَ بمثلِ الخَلْوةِ بمناجاةِ اللهِ عز وجل

”Tidak ada kenikmatan yang dapat dirasakan oleh seorang penikmat melebihi nikmatnya yang kesendirian untuk bermunajat dengan Allah Azza Wajalla.”  (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam hal. 36)

Masruq bin Ajda’ rahimahullah juga pernah mengatakan,

إِنَّ الْمَرْءَ لَحَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرَ فِيهَا ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرَ مِنْهَا

“Sesungguhnya wajib bagi seseorang untuk memiliki waktu-waktu di mana dia menyendiri di dalamnya. Waktu-waktu yang ia manfaatkan untuk mengingat dosa-dosanya dan meminta pengampunan untuk itu.” (Mushannaf Al-Hafidz Ibnu Abi Syaibah no. 36017)

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik-Nya kepada kita untuk bisa menjaga dan merutinkan amal ibadah yang nampak maupun yang tidak nampak dan tersembunyi.

Ya Allah,  kuatkanlah kami untuk bisa rutin bangun di sepertiga malam terakhir dan bermunajat kepada-Mu, izinkan hamba-Mu ini untuk memiliki waktu khusus dengan-Mu.

Ya Allah, jauhkan diri kami dari riya’ dan ujub dalam beribadah, karena keduanya pastilah akan merusak kadar keikhlasan kami di dalam beramal.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،

اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَ

اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca juga: Al Khabir, Maha Mengetahui Perkara Yang Tersembunyi

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

© 2023 muslim.or.idSumber: https://muslim.or.id/86235-amalan-yang-tersembunyi.html

Musim Umroh Baru, Arab Saudi Ingatkan Sanksi Pelanggaran pada Penyedia Layanan

Penyedia layanan diminta memberikan layanan terbaik bagi jamaah umroh.

Gelombang pertama jamaah umroh dari berbagai negara tiba di Arab Saudi pada Rabu, 1 Muharram 1445 Hijriyah bertepatan dengan dimulainya musim umroh tahunan.

Dilansir di Saudi Gazette, Rabu (19/7/2023), semua lembaga dan sektor pemerintah dan swasta terkait umroh telah menyelesaikan persiapan terpadu mereka untuk menerima jamaah. Selain itu, memperluas fasilitas serta layanan terbaik untuk jamaah melakukan ritual dengan mudah dan nyaman.

Kementerian Haji dan Umroh Arab Saudi mendesak semua perusahaan penyedia layanan umroh berlisensi untuk memberikan layanan terbaik bagi jamaah dan tidak melanggar kewajiban mereka dalam penyediaan layanan. Dikatakan bahwa pasal 7 peraturan untuk layanan jamaah asing dan pengunjung Masjid Nabawi menetapkan perusahaan yang berlisensi yang melanggar salah satu ketentuan dan peraturan akan menghadapi hukuman.

Sanksinya termasuk denda maksimal 50 ribu riyal dan penangguhan izin untuk jangka waktu tidak lebih dari enam bulan dan pembatalan izin yang diberikan kepada perusahaan. Pihak berlisensi di luar negeri akan dilarang berurusan dengan perusahaan berlisensi di Saudi jika melanggar salah satu kewajiban kontraktual.

Menurut peraturan, mereka yang melayani jamaah tanpa mendapatkan izin yang diperlukan akan dihukum dengan denda tidak melebihi 100 ribu riyal. Pelanggaran tersebut antara lain kegagalan penyediaan tempat tinggal bagi jamaah, penyediaan perumahan tanpa izin atau tanpa klasifikasi, perbedaan dalam program pemondokan, dan kegagalan untuk memberi tahu kementerian tentang perubahan pemondokan. Kemudian, kegagalan dalam penyediaan transportasi, mengamankan pengangkutan tanpa izin, ketidaksesuaian program transportasi, kegagalan dalam menerima jamaah, dan kegagalan mengonfirmasi reservasi keberangkatan atau kegagalan untuk menindaklanjuti keberangkatan. Berikutnya, tidak melaporkan jamaah haji yang tertunda, penyediaan layanan oleh agen eksternal di wilayah Saudi atau pengelompokan kembali jamaah haji yang salah atau tertunda, kegagalan untuk mendidik jamaah sehubungan dengan kepatuhan terhadap berat bagasi yang diizinkan pada saat keberangkatan, dan kegagalan untuk mengawasi keberangkatan jamaah.

Kementerian juga mengutip pelanggaran seperti kurangnya program untuk jamaah di Madinah, dan ketidakpatuhan terhadap instruksi pembubaran, kegagalan mengarahkan jamaah ke lokasi perumahan yang benar, keterlambatan mengamankan pemondokan, tidak adanya perwakilan perusahaan umrah untuk mendampingi jamaah selama umroh atau kunjungan, kegagalan untuk menindaklanjuti pasien rawat inap dan kasus kematian atau jamaah haji yang hilang dan menyelesaikan prosedur yang berkaitan dengan mereka.

Pelanggaran juga termasuk kegagalan untuk mengonfirmasi reservasi untuk mengunjungi Raudah Al-Sharif, dan ketidakhadiran perwakilan untuk menindaklanjuti keberangkatan jamaah dan tidak memberikan layanan sesuai dengan kontrak yang telah disepakati, dan tidak memberi tahu kementerian dalam peristiwa kasus wanprestasi.

IHRAM