Cara Perbanyak Timbangan Kebaikan

Penentu masuk atau tidaknya seseorang ke dalam pintu surga adalah melalui seberapa berat timbangan amalnya selama di dunia. Ustaz Darhan Abu Furayhan menjelaskan beberapa keterangan Allah SWT dan rasul-Nya telah cukup banyak menjelaskan beberapa amal ibadah yang mampu memperbanyak timbangan kebaikan.

Dalam ceramah berjudul Pemberat Timbangan Amal di Masjid Nur ala Nur, Tambun, Kabupaten Bekasi, Ustaz Farhan menjelaskan, hal yang dapat memperberat amal adalah kunjung-mengunjungi (silaturahim), saling duduk atau berkumpul untuk mengkaji kajian agama, dan saling mengasihi karena Allah SWT.

Rasulullah bersabda, Allah SWT berfirman bahwa wajib cinta-Ku pada mereka, yaitu orang- orang yang saling mencintai karena Aku, orang orang yang saling duduk karena Aku dan orang yang saling mengunjungi karena Aku (HR Tirmidzi).

Ustaz Farhan juga menje-laskan hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda bahwa terdapat tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah SWT pada hari kiamat.Salah satunya orang yang saling mencintai karena Allah SWT, berkumpul karena Allah SWT, dan berpisah karena Allah SWT pula.

Selain itu, orang yang dijamin masuk surga dan tentu berat amal timbangannya adalah orang yang senantiasa menjaga tali silaturahim. Ada sebuah kisah yang diceritakan Rasulullah SAW kepada sahabatnya, Abu Hurairah RA bahwa ada seorang pemuda yang menempuh sebuah per- jalanan panjang untuk mengunjungi saudaranya.

Dalam perjalanan, turunlah seorang malaikat yang bertanya padanya Wahai fulan, hendak ke mana engkau? Lalu fulan menjawab, Aku hendak mengunjungi saudaraku di daerah ini. Lalu malaikat kembali bertanya, Apa kah kunjunganmu ini karena keuntungan duniawi yang engkau harapkan darinya (sauda ramu)? Fulan menjawab, Sama sekali tidak, saya ingin menemuinya semata-mata karena aku mencintainya karena Allah. Maka, malaikat tersebut menjawab, Sesungguhnya Allah telah cinta padamu karena engkau telah cinta pada hamba-Nya karena- Nya (HR Muslim).

Seluruh hubungan yang terjalin di dunia ini yang tidak berasas takwa atau bukan karena Allah akan sirna dan berujung pada permusuhan. Yang tersisa dan kekal hanya hubungan yang dibangun di atas takwa, kata Ustaz Farhan kepada para jamaah, belum lama ini.

Dia mengatakan, dalam Alquran tertulis, orang-orang yang saling mengasihi di dunia akan saling bermusuhan pada hari kiamat, kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah. Menurut dia, ayat ini ditafsirkan bahwa segala hubungan yang tidak berasas pada keridhaan Allah akan sirna dan berujung pada permusuhan kecuali mereka yang berhubungan karena ketakwaan.

Dalam hadis yang disampaikan Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda bahwa orang yang saling mencintai pada hari kiamat akan dipanggil oleh Allah SWT. Mereka akan dinaungi oleh naungan Allah dan mereka berada di atas mimbar mimbar yang terbuat dari cahaya (HR Muslim).

Selain mempererat tali silaturahim, perbuatan yang dapat memberatkan timbangan amal adalah menuntut ilmu. Sebuah kisah diceritakan oleh sahabat Rasulullah SAW, Abu Darda RA.

Ada seorang pemuda yang datang padanya, lalu Abu Darda menanyakan alasan kedatangan pemuda tersebut.Pemuda itu pun menjawab, Sesungguhnya aku datang untuk mendengar sabda Rasulullah yang telah engkau dengar langsung darinya.

Mendengar alasan pemuda tersebut, Abu Darda langsung berkata, Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa barang siapa yang telah menempuh sebuah perjalanan untuk menuntut ilmu agama maka akan dibentangkan padanya jalan menuju surga dan malaikat akan meletakkan sayap- sayap mereka untuk para penuntut ilmu, (HR Tirmidzi).

Ustaz Farhan juga menjelaskan bahwa keutamaan orang yang berilmu (alim) dibandingkan orang yang rajin beribadah (abid) bagikan bulan purnama dan ribuan bintang. Menurut dia, satu alim lebih baik dibandingkan ratusan abid, sama halnya seperti ratusan bintang yang tidak dapat menyaingi terangnya bulan purnama.

Misalnya, ada ribuan abid yang gemar berpuasa, gemar beribadah dan lainnya, tapi jumlah mereka tidak akan bermanfaat dibandingkan seorang alim karena mereka membawa perubahan, kata Ustaz Farhan.

Dia menjelaskan, kebaikan ilmu yang dimiliki seolah alim akan menyebar kepada orang lain dan terus mengalirkan pahala bagi nya sehingga timbangan kebaik annya pun akan terus bertambah. Berbeda dengan seorang abid yang hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk menambah timbangan kebaikannya.

Oleh karena itu, banyak ulama yang menyatakan bahwa satu alim itu lebih dahsyat pengaruh- nya bagi setan dibandingkan seribu abid karena seorang alim akan membawa perubahan dengan ilmu yang dimilikinya. Sedangkan, abid tidak dapat mengajarkan ilmu-ilmu bermanfaat kepada umat karena dia hanya dapat beribadah dan bermanfaat bagi dirinya sendiri.

REPUBLIKA

Sudahkah Anda Merasakan Lezatnya Ibadah?

MENGAPA para ulama dan salafus saleh di zaman dulu mampu melakukan amal ibadah yang membuat kita saat ini berdecak kagum? Salah satunya, karena mereka telah merasakan kenikmatan ibadah.

Di bawah ini beberapa hal yang berhubungan dengan kelezatan ibadah

1. Kelezatan ibadah adalah nikmat Allah dan sekaligus balasan amal ibadah di dunia.

Berkata Ibnu Taimiyah, “Apabila kamu belum mendapatkan balasan amal berupa kenikmatan dalam hatimu, kelapangan dalam dadamu maka curigailah amalnya, maka sesungguhnya Allah Maha Syukur, yaitu Dia harus memberi balasan orang yang beramal atas amalnya di dunia berupa kenikmatan dalam hatinya. Juga kekuatan, lapang dada, dan kesenangan. Maka jika dia belum mendapatkannya, maka amalnya pasti rusak.”

Dalam Tahdzib Madarijus Salikin hal: 312, beliau juga berkata: “Sesungguhnya di dunia ada jannah, barangsiapa yang belum memasukinya niscaya dia tidak akan memasuki jannah di akhirat.” Demikian pula dalam Al Wabil ash Shoyib Minal Kalim ath Thoyib, hal: 81

2. Sebab-sebab mendapatkan kelezatan ibadah

a. Mujahadatun nafs di atas ketaatan kepada Allah sehingga dia terbiasa taat, kadang kala jiwa maunya lari dari mulai menjalani mujahadah.

Berkata seorang salaf: “Aku senantiasa menuntun jiwaku kepada Allah, sedangkan dia dalam keadaan menangis hingga aku selalu menuntunnya sedangkan dia keadaan tertawa.”

b. Jauh dari dosa, dosa kecil maupun besar. Maka sesungguhnya maksiat adalah penghalang yang mencegah dari merasakan kelezatan ibadah karena ia akan mewariskan kerasnya hati, kasar dan kebengisan.

Berkata seorang salaf: “Tidaklah Allah menimpakan kepada hamba siksa yang lebih besar melainkan kerasnya hati.”

b. Meninggalkan berlebih-lebihan dalam makan, minum, ngobrol dan mengumbar pandangan.

Berkata seorang salaf: “Kesenangan hati dalam sedikit dosa, kesenangan perut dalam sedikit makan, kesenangan lisan dengan sedikit bicara.”

c. Hendaklah hamba menghadirkan hati bahwa ibadah yang dilakukan dalam rangka taat untuk Allah dan hanya mencari rida-Nya, dan bahwa ibadah ini dicintai Allah, diridai dan bisa mendekatkan dirinya kepada-Nya.

d. Hendaklah hamba menghadirkan hati bahwa ibadah ini tidak sia-sia dan hilang begitu saja seperti harta. Dia sangat membutuhkannya, akan mendapatkan buahnya di dunia dan di akhirat. Maka barangsiapa yang menghadirkannya, dia tidak mempermasalahkan apa yang tidak didapat di dunia. Dia menyenangi ibadah dan mendapatkan kenikmatannya.

3. Perbaiki ibadah Anda segera. Hal itu bisa dilakukan dengan berusaha:

-agar kita salat dengan khusyuk’

-agar kita baca Alquran dengan tadabur (memikirkan dan memahami)

-agar hati kita tidak lalai dalam zikir dan doa

-agar kita bisa menikmati jalan dakwah dan jihad. []

Sumber: Kiriman pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Madiun.

Kisah Pilu Wanita Taat Ibadah tapi Tak Berhijab

Al-Kisah diceritakan, ada seorang wanita yang dikenal taat dalam beribadah. Dia sangat rajin melakukan ibadah wajib maupun sunah. Hanya ada satu kekurangannya, ia tak mau berjilbab menutupi auratnya.

Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum, seraya menjawab: “Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakan maupun menasihatinya. Tapi jawabannya tetap sama.

Hingga suatu malam ia bermimpi sedang berada di sebuah taman yang indah. Rumputnya sangat hijau. Berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan bagaimana segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih. Airnya kelihatan melintas di pinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ada beberapa wanita di situ yang terlintas juga menikmati pemandangan keindahan taman.

Ia pun menghampiri salah satu wanita tersebut. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut. “Assalamualaikum saudariku” “Waalaikum salam, selamat datang wahai saudariku” “Terimakasih, apakah ini surga?” Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan wahai saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum surga.”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini” Wanita itu tersenyum lagi kemudian bertanya, “Amalan apa yang bisa membuatmu kembali wahai sudariku?” “Aku selalu menjaga salat, dan aku menambah dengan ibadah-ibadahsunah. Alhamdulillah.”

Tiba-tiba jauh diujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka, dan ia melihat beberapa wanita yang di taman tadi mulai memasukinya satu per satu. “Ayo, kita ikuti mereka!” Kata wanita itu sambil setengah berlari. “Apa di balik pintu itu?” “Tentu saja surga wahai saudariku”

Larinya semakin cepat. “Tunggu tunggu aku” Ia berlari sekancang-kencangnya, namun tetap tertinggal. Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Namun ia tetap saja tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari sekuat tenaga.

Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang engkau lakukan sehingga engkau tampak begitu ringan?” “Sama denganmu wahai saudariku” Jawab wanita itu sambil tersenyum. Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu,

“Amalan apalagi yang engkau lakukan yang tidak aku lakukan?” Wanita itu menatapnya dan tersenyum lalu berkata, “Apakah engkau tidak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab, “Apakah engkau mengira bahwa Rabbmu akan mengizinkanmu masuk ke surga-Nya tanpa jilbab penutup aurat?” Kata wanita itu.

Tubuh wanita itu telah melewati, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar memandangnya dan berkata, “Sungguh disayangkan, amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun lalu terbangun beristighfar lalu mengambil wudhu. Ia tunaikan salat malam, menangis dan menyesali perkataannya dahulu.

Dan sekarang ia berjanji sejak saat ini ia akan menutup auratnya.

Allah Ta’ala berfirman “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Ahzab: 59)

Berjilbab adalah perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Taala, lewat utusan-Nya yakni baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang namanya perintah dari Allah adalah wajib bagi seorang hamba untuk mematuhi-Nya. Dan apabila dilanggar, ini jelas ia telah berdosa.

Semoga cerita di atas mengilhami bagi wanita yang belum berhijab. Karena berhijab bukan sekadar menjadi identitas seorang musimah saja tapi ini adalah kewajiban yang harus dikerjakan. Semoga bermanfaat. [duniaislam]

 

MOZAIK

Ibadah adalah Pembeda Seseorang dalam Kehidupan

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.”. (QS: Adz-Dzariyat: 56)

 

ERA kehidupan yang terus berkembang sangat dinamis, membutuhkan tuntunan yang mengarahkan dan menyadarkan perilaku manusia untuk lebih dekat dengan kehendak Sang Maha Kuasa. Kehendak itu dalam bentuk ‘ibadah’ mengabdi kepadaNya dalam seluruh aktifitas kehidupan.

Jika tidak, dikhawatirkan semakin berat beban kehidupan yang harus dipikul karena kemaksiatan dan ketidak patuhan yang semakin menggejala. Kehidupan serba bebas, liar dan tanpa kendali merupakan fakta nyata semakin jauhnya kehidupan manusia dari rel yang telah digariskan oleh Sang Maha Pencipta.

Akibatnya, kehidupan ini kerap dihantui dengan bencana, musibah, dan malapetaka yang datang silih berganti, sebagai buah dari pengingkaran dan keengganan manusia mengikuti petunjuk dan kehendak Allah Subhanahu Wata’ala. Ayat di atas layak untuk direnungkan bersama sebagai bahan muhasabah secara kolektif atas perilaku kehidupan manusia sehari-hari.

Ayat ini termasuk ayat ‘Iradatullah’, dalam arti kehendak dan ketentuan Allah Subhanahu Wata’ala yang bersifat mengikat; siapapun dari bangsa jin dan manusia. Iradah Allah sudah ada sebelum penciptaan seluruh makhluk, termasuk manusia dan jin. Kedua makhluk ini ditentukan dengan iradah Allah bahwa tujuan penciptaan mereka dalam kehidupan ini adalah semata-mata untuk mengabdi beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Imam Ibnu Katsir menuturkan secara filosofis matlamat penciptaan jin dan manusia dalam ungkapanya:

ما خلقتهم إﻻ ﻵمرهم بعبادتى، ﻻ ﻻحتبةجى إليهم. ”

“Sesungguhnya Aku menciptakan mereka agar Aku perintahkan mereka beribadah kepadaKu. Bukan karena hajatKu kepada mereka’.

Pandangan ini diperjelas dengan ayat setelahnya yang menjadi ciri khas metode Ibnu Katsir:

مَآ أُرِيدُ مِنۡہُم مِّن رِّزۡقٍ۬ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ (٥٧)

Aku tidak menghendaki rizqi dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki agar mereka memberi makan kepadaKu.” (QS: Adz-Dzariyat: 57)

Ayat ini penting untuk dikemukakan secara korelatif. Ketaatan atau ketundukan seseorang umumnya identik dengan dorongan faktor kebutuhan atau kepentingan. Karenanya, Allah Subhanahu Wata’ala menafikan hal tersebut. Bahkan menyatakan sebaliknya, Dialah justru Yang Maha Memberi lagi Maha Kuat:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Dialah Allah Yang Maha Memberi rizqi, Mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS: Adz-Dzariyat: 58)

Di ayat yang lain, Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan sifat ‘faqir’ manusia dalam arti sangat berhajat dan bergantung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam segala hal. Sedang Allah Maha Mencukupi seluruh kebutuhan hambaNya lagi Maha Terpuji.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ (١٥)

“Hai sekalian manusia, kalianlah yang sangat faqir (membutuhkan) kepada Allah. Dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS: Fathir: 15)

Waspada! Beribadah tapi Melupakan Allah

Ketiga deklarasi Al-Qur’an di atas merupakan argumentasi yang tak terbantahkan bahwa memang seharusnya manusia hanya tunduk, ta’at, dan mengabdi kepada Allah swt dalam seluruh kehidupannya, sebagai hak dan konsekuensi mendasar dari tujuan utama penciptaan. Jika tidak, berarti manusia sudah keluar dari ketentuan azali yang bersifat mengikat tersebut.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam membahasakan ibadah sebagai hak Allah yang harus dipenuhi oleh seluruh hambaNya. Sebagai timbal baliknya, Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan mengazab mereka yang taat beribadah dengan tidak melakukan syirik dalam semua peribadatan mereka.

Gambaran ini disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam bentuk dialog dengan sahabatnya Mu’adz bin Jabal:

“Hai Mu’adz apakah engkau tahu hak Allah atas hamba-hambaNya?”. Mu’adz menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”. Rasul bersabda menjelaskan:

“Sesungguhnya hak Allah atas hambaNya adalah mereka beribadah kepada Allah dengan tidak mempersekutukan dengan sesuatu apapun. Dan hak hamba atas Allah bahwa Allah tidak mengazab mereka selama mereka menjalankan ibadah kepadaNya dengan tidak mempersekutukanNya.” (HR. Muttafaqun Alaih)

Dalam ruang kehidupan yang luas dan variatif, menunaikan Ibadah kepada Allah dalam maknanya yang komprehensif memiliki tingkat urgensi yang tinggi dalam kehidupan seorang muslim. Pertama, Ibadah adalah identitas keislaman dan keimanan seseorang kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tanpa ibadah, tidak dapat dibedakan antara mereka yang beriman dengan mereka yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Identitas ‘ibadah’ inilah yang akan menjadi pembeda antar seseorang, kelompok masyarakat, maupun umat dalam kehidupan.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dalam beberapa haditsnya membuat identitas pembeda yang dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah. Sebagai contoh, sabda beliau tentang shalat yang dijadikan identitas pembeda antara orang beriman dengan yang tidak beriman. Tentang puasa, Rasulullah membuat pembedaan dengan puasa Ahli Kitab yaitu pada makan sahur. Begitulah parameter identitas yang menjadi pembeda dalam pandangan Allah swt.

Ketika seseorang menafikan nilai ‘ibadah’ dalam kehidupannya, berarti ia telah keluar dari garis tujuan penciptaannya. Dan karenanya, tidak berhak menyandang gelar ‘hamba Allah Subhanahu Wata’ala’.

Kedua, Ibadah merupakan simbol dan tanda ketundukan seseorang di hadapan Sang pencipta. Kesalahan iblis yang mendasar adalah keengganan untuk tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam bentuk sujud kepada nabi Adam as. Karenanya, iblis layak menerima hukuman yang bersifat permanen; terlaknat dan dijauhkan dari rahmah Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalam sebuah riwayat, ketika seorang sahabat Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami meminta berdampingan dengan Rasulullah saw di surga,

” كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَقَالَ لِي : سَلْ ، فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “. رواه مسلم في ” صحيحه“(489).

“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Beliau bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud‘.” (HR. Muslim).

Ketiga, Ibadah merupakan media meraih keberkahan. Kehidupan yang sangat beragam dan luas cakupannya jika tidak dilandasi dengan ibadah, maka tidak bernilai apa pun di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Pekerjaan yang digeluti oleh seseorang, kekayaan yang dimilikinya, keluarga yang dibinanya, masyarakat yang berdampingan dengannya, dan seluruh anugerah Allah kepada dirinya merupakan ujian ‘ubudiyyah’ kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ketika lulus dari ujian ini, maka kehidupan seluruhnya bernilai keberkahan yang membawa kepada ketenangan dan kebahagiaan.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنٰهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُ٬�نَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.*/Dr. H. Atabik Luthfi Ketua Bidang Dakwah, PP IKADI

 

 

sumber:Hidayatullah