Al-Qur’an Pilar Meraih Cinta Allah (2)

BAGAIMANA al-Qur’an dipraktikkan secara nyata? Kita akan mendapat gambaran riil dari akhlak Rasulullah seperti yang pernah diriwayatkan oleh Sa’ad bin Hisyam bin Amir ra., ia berkata, “Saya pernah bertanya kepada Ummul Mukminin, Aisyah ra., tentang budi pekerti Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam, maka ia menjawab, “Budi pekerti Rasulullah adalah al-Qur`an.” (Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud).

Pernyataan dari Ummul Mukminin tersebut seolah-olah menggambarkan diri Rasulullah sebagai al-Qur’an yang berjalan di atas muka bumi.

Apabila Anda membaca dan menghayati isi kandungan al-Qur’an, seakan-akan Anda menelusuri kembali perjalanan hidup Rasulullah.

Di dalam al-Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Rasululah,

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4).

Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman kepada beliau,

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, oleh karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka.” (Ali `Imran: 159).

Allah berfirman,

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf (baik), serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (al-A’raf : 199).

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128).

Di dalam hadits banyak diterangkan bahwa beliau mengajari para sahabat tentang cara dan etika ketika mereka berinteraksi dengan al-Qur’an. Kalau hal itu dipraktikkan dalam membaca alQur’an oleh setiap Muslim niscaya hati mereka menjadi luluh dan dengan serta merta dia akan merujuk kepada al-Qur’an.

Dalam kitab Shahih Muslim dari Abi Umamah ra, diterangkan bahwa Rasulullah bersabda, “Bacalah al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat (pertolongan) kepada siapa saja yang gemar membacanya pada hari kiamat kelak.” (Muslim dan Ahmad).

Kalau al-Qur’an sudah memberikan syafaat kepada Anda, maka keuntungan dan kesenangan yang tiada tara akan meliputi hati Anda dan alangkah bahagianya hati Anda saat itu.

Dalam kitab Shahih Bukhari diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan ra berkata, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengajarkannya.” (Bukhari dan Abu Dawud).

Maksud dari sabda Rasululah ini adalah sebaik-baik orang yang paling mulia dan orang yang paling agung di antara kita adalah orang yang senantiasa berhubungan dengan al-Qur’an.

Ini adalah karakteristik yang telah Allah turunkan di atas muka bumi ini. Jadi, bukan karakteristik atau ciri yang diusung oleh para pemikir dan bukan juga yang digembor-gemborkan oleh para penganut paham materialistis yang memuliakan dan menghargai manusia sesuai dengan pangkat, jabatan, atau garis keturunannya. Sama sekali tidak. Akan tetapi, “Sebaik-baik diri Anda adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Oleh karena itu, Rasulullah senantiasa memposisikan derajat manusia sesuai dengan kadar kedekatan dan interaksi mereka dengan al-Qur’an. Beliau juga memuliakan dan menghargai mereka sesuai dengan tingkat hapalan dan bacaan mereka terhadap al-Qur`an, serta terhadap pengkajian dan pemahaman mereka terhadap kandungan al-Qur`an yang mulia ini.

Anas bin Malik ra berkata, suatu ketika Rasulullah mengirimkan brigade pasukan untuk berperang di jalan Allah, maka Rasulullah bertanya kepada mereka, “Siapakah di antara kalian yang telah menghapal al-Qur’an (seluruhnya)?” Mereka semuanya diam.

Lalu beliau bertanya lagi, “Adakah di antara kalian yang telah menghapal beberapa surat dari al-Qur’an?” Salah seorang di antara mereka menjawab, “Aku wahai Rasulullah.

Beliau bertanya, “Apa saja yang sudah engkau hapal?” Dia menjawab, “Saya sudah menghapal surat al-Baqarah.” Maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Kalau begitu berangkatlah dan engkaulah pemimpin mereka.” (Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Nasa’i, dan Hakim).

Beginilah kualifikasi atau penyeleksian yang diajarkan oleh Islam. Yang paling mulia dan paling utama adalah para penganut kalimat “La Ilaha Illallah” dan para penghamba yang hakiki kepada Allah.

Bila Anda sudah menghapal surat al-Baqarah dan surat tersebut sudah mendarah daging dalam diri Anda sehingga Anda senantiasa berinteraksi dan berhubungan dalam kehidupan sesuai dengan tuntutan dan perintahnya, maka Andalah yang menjadi pemimpin prajurit itu.

Jabir bin Abdullah ra. berkata, “Tatkala perang Uhud terjadi, Rasulullah bertanya tentang para syuhada yang mendapatkan syahid, maka beliau mendahulukan orang yang paling banyak hapalan al-Qur’annya menuju liang lahat.” (Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi).

Sesungguhnya, al-Qur’an sudah menjadi teman sejati bagi para sahabat Rasulullah, sampai-sampai kalau Anda masuk ke dalam rumah salah seorang sahabat dari kaum Muhajirin atau Anshar, Anda akan mendapatkan al-Qur`an tergantung di dalam rumah mereka dan di sampingnya Anda juga mendapatkan pedang yang tergantung. Pedang berfungsi untuk membuka negeri dan al-Qur’an berfungsi untuk membuka hati.*/DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni, dari bukunya Jangan Takut-Jagalah Allah, Allah Akan Menjaga Anda.

 

sumber:Hidyatullah