Begini Kondisi Terakhir Muslim Korban Penyerangan Shalat Ied di Tolikara

Sebanyak 153 korban kebakaran di Karubaga, Ibu Kota Kabupaten Tiom, hingga kini masih mengungsi ke tempat aman, kata Kepala Polda Papua Irjen Pol Yotje Mende.

“Para korban kebakaran yang terjadi Jumat (17/7) ditampung di sekitar Koramil Karubaga, di dalam tenda yang didirikan di sekitar halaman koramil,” katanya di Jayapura, Sabtu (18/7) malam.

Dia mengatakan para korban saat ini membutuhkan bantuan, terutama pakaian karena mereka hanya memiliki pakaian yang di badan.

“Kami masih menunggu data lengkap dari Polres Tolikara tentang korban kebakaran terutama jenis kelamin dan usia karena hingga kini belum ada,” katanya.

Ia mengemukakan pentingnya partisipasi masyarakat dalam membantu mereka.

Berdasarkan laporan yang diterimanya saat pertemuan dengan Bupati Tolikara Usman Wanimbo, Presiden GIDI Dorman Wandikbo, unsur pimpinan daerah, serta Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Fransen Siahaan, kebakaran menghanguskan 53 kios yang juga tempat tinggal dan mushalla.

Khusus mushalla, katanya, dari keterangan Presiden GIDI, tidak dibakar, namun karena letaknya berada di kawasan kios sehingga ikut terbakar.

“Mushalla ikut terbakar karena memang letaknya berada di lingkungan kios yang dibakar, ” kata Mende yang didampingi Wakapolda Papua Brigjen Pol Rudolf Roja dan Kabid Humas Polda Papua Kombes Patrige.

Dia mengatakan dua kompi aparat keamanan yang terdiri atas brimob dan TNI AD saat ini sudah diturunkan kee Karubaga.

Penambahan pasukan itu dilakukan karena jumlah personel Polres Tolikara terbatas, hanya sekitar 100 orang, kata Kapolda Papua Irjen Pol Yotje Mende.

sumber: Republika Online

Nasehat al Ghazali Tentang Umur dan Waktu

Kita kebanyakan menghabiskan waktu hanya untuk tidur ketimbang untuk hal-hal yang bermanfaat dan ibadah

DALAM banyak riwayat hadits disebutkan usia umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam tidak lama.Berkisar sekitar 60-70 tahun.

Itu pun sudah tua: rambut mulai memutih, gigi mulai habis, pendengaran perlahan berkurang, dan tenaga mulai melemah.

Berbeda dengan usia umat Nabi sebelumnya yang panjang. Karena sedikitnya tempo usia umat Nabi Muhammad itu, maka harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memuliakan diri dengan ilmu dan ibadah.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, Nabi Muhammad Shallallhu ‘Alaihi Wassallam berkata: “Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Karenanya jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka waktu akan terbuang sia-sia. Dan, waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Dia akan pergi selamanya dengan segala kenangannya: baik kenangan yang penuh penyesalan atau kebahagiaan. Manusia harus memanfaatkan waktu. Hanya orang-orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik yang akan jadi mulia.

Kalau mau jujur, sebenarnya kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat daripada yang bermanfaat. Kita lebih banyak bermain daripada belajar. Kita lebih banyak bersendagurau daripada berfikir. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk duniawi daripada ukhrowi. Kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuat dosa ketimbang memupuk pahala. Nauzubillah. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kealpaan kita. Aamiin.

Nasehat Al Ghazali

Ada nasihat penting yang disampaikan Imam Al Ghazali terkait waktu. Kita kebanyakan menghabiskan waktu hanya untuk tidur ketimbang untuk hal-hal yang bermanfaat dan ibadah. Coba bayangkan, jika rata-rata usia umat manusia di jaman Nabi Muhammad ini sekitar 60 tahun dan waktu yang digunakan untuk tidur sekitar 8 jam dalam sehari.

Seperti diketahui, kebanyakan orang—terutama di Indonesia—tidur mulai pada pukul 20.00 malam dan bangun sekitar pukul 05.00 pagi.

Iya kalau bangun tidur jam 05.00 pagi. Pasalnya, tidak sedikit di antara kita yang masih suka bangun tidur di atas jam 05.00 hingga ada yang telat dan tertinggal shalat shubuh.Nauzubillah!

Nah, kalau misalnya, rata-rata tidur 8 jam sehari itu dikali dengan masa usia rata-rata manusia yang mencapai 60 tahun, maka setidaknya kita menghabiskan masa 20 tahun untuk hanya tidur. Saya ulangi lagi: kita menghabiskan waktu 20 tahun hanya untuk tidur!

Sekarang, kita hitung lagi berapa banyak waktu yang kita manfaatkan untuk ibadah. Jika 20 tahun kita manfaatkan untuk tidur, maka sisa 40 tahun. Coba bayangkan berapa waktu untuk ibadah, berapa lama untuk belajar menuntut ilmu, dan berapa tahun waktu yang dihabiskan untuk main-main dan mencari kehidupan duniawi! Tentu jawabnya berbeda-beda. Tergantung pribadi masing-masing. Sebab, biasanya, manusia punya jadwal hidup (life schedule) masing-masing.

Bisa dibayangkan jika perhari kita habiskan berapa lama hanya untuk bermain atau sekedar bersendau gurau. Berapa lama waktu dihabiskan untuk membaca al-Quran, berzikir, dan belajar. Padahal, waktu itu terus berjalan dan tidak akan kembali. Waktu juga ibarat pedang tajam yang apabila tidak digunakan untuk memotong sesuatu dengan baik, maka pedang waktu tersebut akan memotong kita bahkan memutilasi kita perlahan-lahan.

Karenanya, yang membedakan kualitas kemuliaan seseorang adalah dari pemanfaatan waktu. Kalau waktunya habis dengan kerja-kerja intelektual, spiritual, dan kebermanfaatan kolektif maka dia akan menjadi pribadi yang mulia. Karenannya, seseorang akan jadi mulia dengan menghabiskan waktu-waktunya untuk belajar dan senantiasa berzikir pada Allah. Seseorang juga akan jadi mulia dan terhormat bila menghabiskan malam-malam yang gelap gulita itu dengan belajar, dan shalat tahajud.

Seperti kata pepatah Arab di atas: “Man tholabal ‘ula sahiral layali” (Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan maka seringlah bergadang pada malam hari).

Bergadang di situ tentunya bukan untuk sesuatu yang semu dan tidak manfaat. Seperti main, menonton film sepanjang malam, melihat pertandingan bola, dan hang out hingga larut malam. Tapi, bergadang di situ adalah dengan melakukan kerja-kerja spiritual dan intelektual: belajar dan beribadah.

Ada banyak kisah orang sukses yang memanfaatkan waktunya. Dan, hampir semua orang sukses adalah orang yang memanfaatkan waktunya dengan baik.

Sebaliknya, orang gagal adalah orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Waktu-waktu yang dimanfaatkan orang beriman itu seharusnya seperti yang dilakukan para sahabat dan pejuang jaman Rasulullah. Di mana pada siang hari mereka seperti singa di padang pasir yang berjuang tanpa lelah sedangkan malam harinya dihabiskan dengan beribadah seperti rahib-rahib.

Orang besar dan sukses adalah mereka yang memanfaatkan waktunya dengan baik. Dia tidak mau ada waktu—semenit saja—yang terbuang tanpa kebaikan dan kemanfaatan.

Imam Al-Ghazali menasihatkan agar setiap hari kita meluangkan waktu sesaat—misalnya selesai shalat Subuh—untuk menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa (musyârathah).

“Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memperpanjang usiaku dan memberi nikmat.”

Al Quran Surat al ‘Ashr 1-3: mengingatkan; “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati dalam supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”*

sumber: Hidayatullah.com

Makna Idul Fitri

Hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa. Kata Id berdasar dari akar kata aada yauudu yang artinya kembali sedangkan fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci. Adapun fitri yang berarti buka puasa berdasarkan akar kata ifthar (sighat mashdar dari aftharo – yufthiru) dan berdasar hadis Rasulullah SAWyang artinya :”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitritanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Dalam Riwayat lain: “Nabi SAW. Makan kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari).

Dengan demikian, makna Idul Fitri berdasarkan uraian di atas adalah hari raya dimana umat Islam untuk kembali berbuka atau makan. Oleh karena itulah salah satu sunah sebelum melaksanakan shalat Idul Fitria dalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 syawal itu waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.

Sedangkan kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alayh). Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alayh) . Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Jadi yang dimaksud dengan Idul Fitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar. Bagi ummat Islam yang telah lulus melaksanakan Ibadah puasa di Bulan Ramadhan akan diampuni dosanya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan Ibunya. Sebagaimana Sabda Nabi SAW yang Artinya“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci.”

Dalam bahasa Jawa, hari raya Idul Fitri disebut juga dengan istilah “lebaran”. Lebaran mengandung maksud lebar-lebur-luber-labur. Lebar artinya kita akan bisa lebaran dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber dari pahala, luber dari keberkahan, luber dari rahmat Allah SWT. Labur artinya bersih sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hati kita akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa,makanya wajar klo mau lebaran rumah-rumah banyak yang di labur hal ini mengandung arti pembersihan dhohir disamping pembersihan batin yang telah di lakukan.

Adapun terkait hidangan khas waktu lebaran yaitu ketupat, dalam bahasa Jawa ketupat diartikan dengan ngaku lepat alias mengaku kesalahan, bentuk segi empat dari ketupat mempunyai makna kiblat papat lima pancer yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat yaitu arah jalan hidup manusia. Ke mana pun arah yang ingin ditempuh manusia hendaknya tidak akan lepas dari pusatnya yaitu Allah SWT.

Oleh sebab itu ke mana pun manusia menuju, pasti akan kembali kepada Allah. Rumitnya membuat anyaman ketupat dari janur mencerminkan kesalahan manusia. Warna putih ketupat ketika dibelah melambangkan kebersihan setelah bermaaf-maafan. Butiran beras yang dibungkus dalam janur merupakan simbol kebersamaan dan kemakmuran. Janur yang ada di ketupat berasal dari kata jaa-a al-nur bermakna telah datang cahaya atau janur adalah sejatine nur atau cahaya. Dalam arti lebih luas berarti keadaan suci manusia setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan Ramadan.

Adapun makna filosofis santen yang ada di masakan ketupat adalah suwun pangapunten atau memohon maaf. Dengan demikian ketupat ini hanyalah simbolisasi yang mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan hal ini merupakan makna filosofis dari warna putih ketupat jika dibelah menjadi dua. Sedangkan, janur melambangkan manusia yang telah mendapatkan sinar ilahiah atau cahaya spiritual/cahaya jiwa. Anyaman-anyaman diharapkan memberikan penguatan satu sama lain antara jasmani dan rohani.

Pemaknaan hari raya Idul Fitri hendaknya bersifat positif seperti menjalin silaturrahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama makhluk. Silaturahmi tidak hanya berbentuk pertemuan formal seperti Halal bi Halal, namun juga bisa dengan cara menyambangi dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, saling mengenalkan dan mengikat kerabat. Apalagi sekarang permohonan maaf dan silaturahmi sudah tidak mengenal batas dan waktu sebab bisa menggunakan jejaring media sosial seperti contoh lewat sms, up date status, inbox di facebook, twiter, yahoo mesenger, skype dan email.

Begitulah pentingnya silaturahmi sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR.Daud,Tirmidzi&Ibnu Majah) . “

Kini kita dengan rasa suka cita dan senang karena kita menyambut hari kemenagan disamping itu kita juga bercampur sedih, dan dengan linangan air mata bahagia kita di tinggalkan bulan Ramadhan yang penuh berkah, maghfiroh dan Rahmat Allah SWT. Banyak pelajaran dan hikmah, faidah dan fadhilah yang kita dapatkan. Kini bulan Ramadhan telah berlalu, tapi satu hal yang tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita yaitu spirit dan akhlakiyah puasa Ramadhan, sehingga 1 Syawal harus menjadi Imtidad lanjutan Ramadhan dengan ibadah serta kesalehan sosial. Sebab Kata Syawal itu sendiri artinya peningkatan. Inilah yang harus mengisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita.

Oleh Hadi Mulyanto

 

 

sumber: NU.or.id

Ciri Alumni Universitas Ramadhan

Oleh: Imam Nur Suharno

Ramadhan yang merupakan bulan pendidikan akan segera berakhir. Gelar muttaqin atau orang bertakwa pun akan didapat jika kita berhasil menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah SWT.

Dengan gelar takwa setelah menunaikan puasa, selain meraih ampunan dan jaminan surga, seorang Muslim memperoleh kemuliaan di sisi-Nya (QS al-Hujurat [49]: 13). Ramadhan bagaikan sebuah universitas bagi Muslim untuk menjalani pendidikan.

Keberhasilan seorang mahasiswa yang menjalani proses pendidikan di Universitas Ramadhan, tidak dilihat dari aktivitasnya selama di kampus, tetapi sejauh mana ia dapat merealisasikan nilai-nilai pendidikan Ramadhan pada sebelas bulan berikutnya.

Karena itu, Ramadhan menjadi permulaan atau pijakan menuju perubahan kehidupan yang lebih baik, dalam skala individu, keluarga, masyarakat, bahkan secara lebih luas, bangsa dan negara.

Perubahan tersebut mencakup perubahan secara vertikal (hablum minallah) dan horizontal (hablum minannas). Perubahan menuju perbaikan dalam berbagai dimensi kehidupan merupakan keniscayaan bagi seorang Muslim.

Selama Ramadhan, Muslim tak diperkenankan melakukan hal-hal yang pada hakikatnya halal jika dilakukan pada siang hari selain Ramadhan, seperti makan dan minum. Maka seusai Ramadhan, Muslim harus memiliki komitmen kuat soal makanan ini.

Ini berarti, Muslim mestinya hanya mengonsumi makanan dan minuman yang jelas asal-usulnya atau berstatus halal. Saat Ramadhan, Muslim juga didorong untuk menghindari setiap perkataan kotor.

Maka, tatkala telah lulus dari Universitas Ramadhan, seorang alumnus harus berkomitmen selalu mengeluarkan ucapan yang baik dan berusaha menjauhi segala bentuk permusuhan dan menyakiti hati orang lain.

Ramadhan juga melatih Muslim untuk banyak mengeluarkan infak. Setelah melewati Ramadhan maka kita dituntut memiliki komitmen untuk selalu peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Muslim yang selalu dilatih disiplin waktu melalui sahur dan berbuka pada waktu yang telah ditentukan diharapkan senantiasa setelah mengikuti penempaan di Universitas Ramadhan, berdisiplin dalam menjalani kehidupannya.

Karena itu, bila diikuti secara serius, proses pendidikan selama bulan Ramadhan berpotensi memicu perubahan kehidupan setiap Muslim ke arah yang lebih baik. Ada perbaikan yang tercapai pascapuasa Ramadhan.

Dengan demikian, idealnya, dari rahim Universitas Ramadhan tersebut lahir sumber daya manusia unggul, seperti bayi yang baru lahir, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa berpuasa dengan niat mencari pahala dari Allah SWT maka ia keluar dari bulan Ramadhan sebagaimana bayi yang baru lahir.”

Semoga kita menjadi alumni yang dapat menjaga kebiasan baik dan amal saleh yang telah diajarkan selama proses pendidikan di Universitas Ramadhan. Amin.

 

sumber: Repoblika Online

Merasa Diawasi Allah

Salah satu nilai takwa yang dihasilkan dari ibadah puasa adalah muraqabatullah, yakni merasa diawasi oleh Allah SWT. Betapa tidak, pada siang hari ketika kita sedang melaksanakan puasa, kita bisa saja makan dan minum di tempat yang tersembunyi.

Namun, hal itu tidak dilakukan karena kita meyakini, walaupun dapat bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan manusia, kita tidak akan mampu bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan Allah.

Kita bisa saja berpura-pura menjalankan ibadah puasa di hadapan manusia, tetapi kita tidak dapat menyembunyikan hal itu dari pengawasan Allah. Inilah bentuk dari muraqabatullah.

Tegasnya, muraqabarullah itu adalah mengondisikan diri merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupan. Allah melihat, mengetahui rahasia-rahasia, memperhatikan semua amal perbuatan, dan juga mengamati apa saja yang dikerjakan semua jiwa.

Allah berfirman, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata.” (QS Yunus (10): 61)

Dalam ajaran Islam, muraqabatullah merupakan suatu kedudukan yang tinggi. Hadis menyebutkan bahwa muraqabatullah sejajar dengan tingkatan ihsan, yakni beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya dan jika kita tak mampu melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihat kita. (Muttafaq alaih)

Sebagai seorang mukmin hendaknya kita berusaha menggapai kedudukan muraqabatullah ini. Ketika kita sudah mencapai kedudukan muraqabatullah, serangkaian kebaikan dan keutamaan akan kita dapatkan.

Di antaranya, kita akan merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kesempurnaan-Nya, tenteram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketenteraman ketika taat kepada-Nya, ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya.

Akhirnya, mari kita merenungi sebuah kisah yang dituturkan oleh Abdullah bin Dinar sebagai motivasi bagi kita untuk menjadi orang yang merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.

Abdullah bin Dinar berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama Umar bin Khaththab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggembala tersebut, ‘Hai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami’.”

Penggembala tersebut berkata, “Kambing-kambing ini bukan milikku, tapi milik majikanku.’’ Umar bin Khaththab berkata, “Katakan saja kepada majikanmu bahwa kambingnya dimakan serigala.’’

Namun, penggembala yang budak tersebut berkata, “Kalau begitu, di mana Allah?” Umar bin Khaththab menangis, kemudian ia pergi kemajikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut dan memerdekakannya.” Wallahu’alam.

 

sumber: Republika Online

Persis: Penetapan 1 Syawal Menunggu Sidang Isbat

Terkait penetapan satu Syawal 1436 H, Ketua Umum Persatuan Islam, KH Maman Abdurrahman, menyatakan Persis akan menunggu hasil sidang isbat yang dilakukan pemerintah.

“Kita akan menunggu hasil sidang isbat nanti. Selain memiliki perhitungan-perhitungan sendiri, Persis akan bersama-sama negara melihat hilal untuk menentukan Idul Fitri,” kata Maman kepada Republika, Kamis (9/7).

Maman menambahkan, Persis sudah memiliki kesepahaman untuk ikut serta dalam sidang isbat. Dewan Hisab dan Rukyat Persis akan mewakili hadir dalam sidang isbat tersebut. Persis juga akan bersama-sama untuk melihat dari aspek astronomi di lapangan.

Ia menegaskan, kemungkinan Idul Fitri tahun ini akan jatuh pada tanggal yang sama, tidak ada perbedaan dengan ormas lain. Walaupun secara angka-angka memang ada perbedaan, itu bukan harga mati. Menurut Maman, nanti dilihat saja apakah sudah ada dua saksi yang menyaksikan hilal.

“Kita kurang juga sebenarnya tidak sampai empat derajat. Empat derajat itu angka yang sangat ideal. Kalaupun kurang dari empat, tapi bulan sudah tampak, kita bisa mengikuti kenyataan di lapangan,” kata Maman.

Sebelumnya, Dirjen Bimas Islam Kemenag, Machasin, menyatakan Kementerian Agama akan melaksanakan sidang isbat penetapan satu Syawal 1436 H pada 16 Juli mendatang. Sama seperti penentuan awal Ramadhan kemarin, sidang isbat akan berlangsung secara tertutup.

sumber: Republika Online

Mengapa Allah merahasiakan waktu Lailatul Qadr kepada umat muslim?

Umat muslim dianjurkan untuk beribadah bersungguh-sungguh di 10 malam terakhir bulan Ramadan. Imbauan ini dimaksudkan agar dia mendapatkan malam Lailatul Qadr atau malam yang di dalamnya terkandung banyak keistimewaan dan ampunan.

Malam Lailatul Qadr sejatinya hanya Allah yang tahu, bahkan Rasulullah pun tidak mengetahuinya. Diriwayatkan Bukhari,ica sebenarnya Rasulullah diberi ilham untuk mengetahuinya namun satu dan lain sebab ilham itu dicabut kembali.

“Sesungguhnya aku mendatangi kalian untuk menyampaikan informasi tentang Lailatul Qadr. Tiba-tiba ada dua muslim cekcok sehingga aku tidak tahu (hilang informasi),”.

Namun tampaknya pencabutan ilham ini baik bagi umat muslim dengan maksud agar umat muslim bersungguh-sungguh beribadah. Jika umat muslim tahu hari Lailatul Qadr lebih dulu dikhawatirkan dia akan bermalas-malasan di malam yang lainnya.

sumber: Merdeka.com

 

Baca juga:

Pakar NASA Sembnyikan Fakta Lailatul Qodar

Tanggal 22 Ramadan, Allah mengangkat Nabi Isa ke langit

Sejarawan Islam dan ulama banyak mempercayai Nabi Isa as diangkat Allah ke langit pada tanggal 22 Ramadan Nabi Isa as diangkat ke langit setelah perbuatan zalim yang dilakukan kaum Yahudi kepadanya.

Hasan Al Bashri dalam riwayatnya berkata,”Usia Nabi Isa ketika diangkat ke langit 34 tahun. Ada yang berpendapat 33 tahun,” Rabu (8/7).

Ahli sejarah Islam dan para ulama mempunyai pendapat berbeda-beda mengenai peristiwa pengangkatan itu. Dikutip dalam buku Peristiwa Penting di Bulan Ramadan, Wahb bin Munabbih menceritakan saat Nabi Isa as bersama para pengikutnya masuk ke sebuah rumah lalu didatangi segerombolan kaum Yahudi.

Kemudian Allah menampakkan mereka ke dalam wujud Nabi Isa as. Lalu kaum Yahudi menangkap orang yang mengaku sebagai Nabi Isa as, “Yahudi terperdaya dan mereka menduga telah membunuh Isa,”.

Ibnu Katsir meriwayatkan saat itu ibunda Maryam masih hidup. Bahkan Maryam menemui anaknya sebelum Nabi Isa as benar-benar diangkat. Nabi Isa as sengaja diutus Allah menemui ibundanya untuk mengucapkan kata perpisahan dan penjelasan dirinya diangkat ke langit.

Sibel Eraslan menjelaskan, bahwa yang disalib adalah Yahuda yang berkhianat karena menjual berita. Isa yang akan naik ke langit dengan baju pintalan Maryam tersenyum kepada Maryam. Kemudian ia mengangkat jari telunjuknya dan mengucapkan salam dengan menganggukan kepala.

“Wahai ibu jangan menangis, sungguh telah datang waktu yang ditentukan bagi Kalamullah. Mohon relakan diriku jangan engkau mencegahku” kutip Sibel dalam buku Maryam.

Maryam pun ikhlas seikhlas dirinya mendapatkan Nabi Isa as tanpa ayah. Sambil mendekap sahabatnya, Maryam merelakan anak semata wayangnya pergi menghilang ke angkasa

 

sumber: Merdeka.com

Kisah Nabi pergi dari rumah saat para istri merengek karena miskin

Sepanjang hidupnya Rasulullah tak pernah meminta kepada Allah SWT kekayaan di dunia. Padahal jika dia mau, jangankan harta seluruh kekayaan di bumi bisa Nabi Muhammad SAW dapatkan dalam sekejap mata.

Allah pun menawarkan kekayaan itu, tapi Nabi justru selalu berdoa,”Jadikan lah rezeki keluarga Muhammad sekadar memenuhi kebutuhan. Ketika suatu hari aku lapar, aku berdoa pada-Mu dan ketika ku kenyang, ku bersyukur pada-Mu,”

Rasulullah lebih sering berpuasa jika tidak ada makanan di rumahnya. Beliau juga kerap mengganjal perutnya dengan mengikatkan batu jika rasa lapar itu tidak tertahankan.

Jika ada makanan, Rasulullah selalu memberinya kepada yang dia anggap lebih berhak.
Harta rampasan perang pun banyak yang dibagikan, sampai suatu kali istri-istri Rasulullah meminta agar diberikan harta yang banyak mengingat mereka adalah istri seorang Rasul.

Nabi tidak menghardik istri-istri beliau, namun saat istri-istrinya mulai mengeluh, Nabi Muhammad SAW langsung pergi dari rumah dan beritikaf.

Umar bin khattab pernah menuturkan peristiwa ini, “Seorang sahabat menemuiku dan berkata ada peristiwa besar. Katanya Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya,” dikutip dari buku Bilik-Bilik Cinta Muhammad, Jumat (10/7).

Lalu Umar mendatangi Nabi dan bertanya apa benar kabar tersebut dan Rasulullah langsung menjawab,”Tidak!”.

Fitnah ini tersebar setelah Rasulullah tidak menemui istrinya selama sebulan. Tak ayal, Allah menegurnya dengan berfirman dalam surat Al-Azhab ayat 28-34.

“Hai Nabi, katakan pada istrimu jika kalian menginginkan dunia dan perhiasannya maka marilah akan ku berikan mut’ah dan kuceraikan dengan cara yang baik. Dan jika kamu menghendaki akhirat maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian dengan pahala besar,”

Nabi langsung menemui istri-istrinya dan membacakan ayat ini. Semua istri beliau sepakat tetap berada di sisi beliau hingga akhir hayat karena menghendaki pahala yang besar.

 

sumber: Merdeka.com

 

Uwais al-Qarni, Sang Penghuni Langit

Dikisahkan dari hadis Riwayat Muslim dari Ishak bin Ibrahim, seorang pemuda bernama UwaisAl-Qarni. tinggal di negeri Yaman. Ia seorang fakir dan yatim dan hidup bersama ibunya yang lumpuh dan buta.

Uwais Al-Qarni bekerja sebagai penggembala domba. Hasil usahanya hanya cukup untuk makan ibunya sehari-hari. Bila kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin. Uwais Al-Qarni dikenal seorang yang taat beribadah dan sangat patuh pada ibunya. ia sering kali berpuasa.

Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya sering bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW. Namun, ketika mendengar gigi Nabi Muhammad patah karena dilempari batu oleh kaum thaif yang enggan diajak dalam dakwahnya, segera Uwais ikut mematahkan giginya dengan batu hingga patah.

Ia rindu ingin mendengar suara Nabi SAW, kerinduannya karena iman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasulnya.

Ia tak dapat membendung lagi keinginannya itu. Pada suatu hari Uwais datang mendekati ibunya mengeluarkan isi hatinya dan mohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah.

Setelah ia menemukan rumah Rasulullah, hanya bertemu istri Aisyah r.a. Sementara, di waktu yang sama ia ingat pesan ibunya agar cepat pulang ke Yaman. Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya itu mengalahkan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah pun pulang dari medan pertempuran. Sesampainya di rumah beliau menanyakan kepada Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Aisyah ra menjelaskan bahwa memang benar ada yang mencarinya, tetapi karena tidak menunggu, ia segera kembali ke Yaman karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa orang itu penghuni langit. Nabi menceritakan kepada para sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Nabi pun menyarankan para sahabatnya ketika bertemu dengan Uwais Al-Qarni, “Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan bumi.”

Suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni si penghuni langit. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al-Qarni.

Sesampai di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam namun rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekat kepada kedua sahabat Rasulullah ini.

Uwais mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan telapak tangan Uwais. Tampaklah tanda putih di tengah telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Khalifah berkata,”Kami datang ke sini untuk memohon doa dan istighfar darimu.” Uwais Al-Qarni akhirnya berdoa dan membacakan istighfar kepada Khalifah Umar dan Ali. Setelah itu,Khalifah Umar ra menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya.

Namun Uwais menampik dengan berkata,”Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni meninggal dunia. Banyak orang berebut untuk memandikan. Saat mau dikafani, ada orang-orang yang menunggu mengafaninya. Saat hendak dikuburkan, sudah banyak orang yang siap menggali kuburannya. Banyak orang ingin mengusung kerandanya pula.

 

sumber: Republika Online