Bila Ulama Tergelincir (Bagian-1)

Godaan dunawi bisa menggelapkan mata hati seorang ulama dan berakibat fatal bagi integritas serta moralitasnya.

Tidaklah merusak agama kecuali para pemimpin, ulama, dan pendetanya. (Abdullah bin al-Mubarak, 181 H/797).

Kisah berikut menggambarkan pentingnya keteladanan ulama bagi para umat. Sebab, seperti bait syair yang ditulis seorang tokoh salaf Abdullah bin al-Mubarak di atas, buah dari penyimpangan yang dilakukan oknum ulama sangat fatal, seperti yang terdapat dalam kisah Bal’am bin Ba’ura.

At-Thabari, dalam kitab tafsirnya mengemukakan, Bal’am merupakan ulama yang terkenal dengan ketakwaannya, ia juga dikenal sebagai ahli ibadah.

Tokoh yang hidup pada masa Nabi Musa itu disebut-sebut berasal dari Yaman. Bal’am memiliki garis keturunan Bani Israil.

Tidak hanya terkenal dengan kesalihannya, Bal’am mendapat anugerah luar biasa dari Sang Khalik. Ia mempunyai kemampuan penglihatan tanpa batas di dua alam sekaligus.

Ia mampu melihat semua ciptaan Allah SWT beserta isinya, termasuk menangkap pergerakan atau wujud dari jin dan malaikat. Kemampuannya itu pun disebut-sebut mampu menembus arsy, tempat Allah mengawasi makhluk-Nya.

Dan, satu lagi, doa Bal’am terkenal manjur dan makbul. Tiap doa yang dipanjatkan tak pernah tertolak. Ini lantaran karunia yang ia terima berupa nama Allah yang agung dan nama tersebut hanya sang ulama yang tahu.

Sayangnya, justru Bal’am tergoda dengan gemerlap duniawi dan akhirnya tergelincir ke lembah kekufuran. Deskripsi secara global cerita tentang Bal’am itu tertuang dalam surah 175-177:

Dan bacakanlah kepada mereka kisah dia yang Kami berikan ayat kami, tapi ia membuangnya. Sehingga, setan mengikutinya dan ia menjadi orang-orang yang sesat.

Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).

Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.”

 

Oleh: Nashih Nashrullah

REPUBLIKA