Kisah Hidup Syaikh al-Albani, Pakar Hadits Abad Ini (2/2)

Di Perpustakaan Azh-Zhahirah

Perpustakaan azh-Zhahirah menjadi saksi kecintaan Syaikh al-Albani akan membaca dan menilit hadits. Perpustakaan yang merupakan salah satu pusat perbendaharaan ilmu Kota Damaskus itu, menyimpan ribuan arsip, karya tulis, dan buku-buku klasik. Bagi Syaikh al-Albani, perpustakaan ini adalah surga dunia, kegemarannya membaca bisa ia tumpah ruahkan di sana, di tengah ketidak-mampuannya membeli buku-buku.

 

Syaikh Al-Albani terus menyibukkan diri dengan ilmu hadits yang ia cintai. Kesibukan yang membuatnya tidak memiliki aktivitas lainnya. Bagi seorang yang kasmaran, tak ada rasa bosan duduk seharian bersama kekasihnya. Terbit dan terbenamnya matahri adalah detik-detik yang tak terasa. Begiulah keadaan Syaikh al-Albani dengan ilmu hadits. Ia duduk 18 jam sehari di perpustakaan azh-Zhahirah mengkaji, meneliti, memberikan komentar, dan men-tahqiq (penelitian ilmiah tentang suatu) riwayat-riwayat hadits. Waktu istirahatnya hanya jam shalat. Karena kesungguhan dan keseriusannya itu, pegawai perpustakaan memberikan ruang khusus untuknya. Agar ia lebih konsentrasi dalam kegiatan ilmiahnya (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 51-52).

Jika Anda melihat orang sukses atau ahli di bidang tertentu, jangan hanya kagum dengan pencapaian mereka. Lihatlah bagaimana usaha mereka mendapatkannya. Mereka mendapatkannya dengan kesungguhan dan jerih payah. Syaikh al-Albani duduk membaca 18 jam sehari bahkan lebih. Sehingga ia mencapai kedudukannya sekarang. Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk membaca dalam sehari? Atau berlatih melakukan suatu bidang yang Anda tekuni?

Al-Mutanabbi mengatakan,

لَوْلا المَشَقّةُ سَادَ النّاسُ كُلُّهُمُ؛            ألجُودُ يُفْقِرُ وَالإقدامُ قَتّالُ

Kalau bukan karena rintangan, semua orang akan jadi tokoh yang sukses.
Kedermawanan bisa menyebabkan kemiskinan. Dan maju ke medan perang mengundang kematian.

Penjara Yang Sama dengan Ibnu Taimiyah

Di sela-sela kesibukkannya menelaah buku-buku dan menulis, Syaikh al-Albani rahimahullah juga meluangkan waktu untuk berdakwah. Dalam satu perjalanan dakwahnya, terjadilah dialog dan diskusi antara dirinya dengan ulama dan imam-imam masjid. Hingga akhirnya ia dicap sebagai seorang Wahabi yang sesat. Para imam-imam masjid menyuarakan pengingkaran terhadap al-Albani di mimbar-mimbar masjid. Hingga ia diboikot dari menyampaikan pelajaran di masjid-masjid Damaskus, Aleppo, Latakia, dan kota-kota Suriah lainnya.

Desas-desus tentang Syaikh al-Albani semakin liar, hingga ia difitnah hendak melakukan makar terhadap pemerintah. Kontan, pemerintah Suriah yang sangat sensitif dengan isu ini segera menahannya. Al-Albani pun mendekam di penjara Damaskus pada tahun 1967. Penjara yang sama dengan Ibnu Taimiyah rahimahullah. Saat di penjara, ia menegakkan kembali shalat berjamaah dan Jumat yang telah hilang di sana. Ada yang mengatakan, tidak lagi ditegakkan shalat jamaah dan Jumat setelah masa Ibnu Taimiyah hingga al-Albani masuk penjara (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 51-52).

Perjalanan Dakwah Sang Ulama

Syaikh al-Albani hampir mengunjungi semua kota di Suriah dalam rangka kunjungan dakwah. Aleppo, Idlib, Latakia, Hama, Homs, dll sudah ia hampiri. Ia juga pernah datang ke wilayah-wilayah di Jordania, Libanon, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Palestina, Mesir, Maroko, Spanyol, dll.

Dalam setiap kunjungan tersebut Syaikh al-Albani selalu memberikan ceramah, menjawab pertanyaan, dan memberikan fatwa. Biasanya kegiatan-kegiatan itu didokumentasikan dalam bentuk kaset. Selain ceramah secara non formal, Syaikh al-Albani juga memiliki pengalaman mengajar secara formal. Seperti menjadi staf pengajar Universitas Islam Madinah dari awal tahun 1381 H/1961 M sampai akhir tahun 1383 H/1964 M.

Metode dakwahnya tidak hanya dilakukan secara tatap muka, beliau juga sering menjawab pertanyaan-perntanyaan melalui surat dan telepon.

Beliau pernah shalat di Masjid al-Aqsha. Dan berkunjung ke Granada menghadiri Muktamar ath-Thalabah al-Muslimin.

Ada beberapa sunnah yang di masa hidupnya terasa begitu asing, namun beliau populerkan kembali sunnah-sunnah tersebut. Seperti mengerjakan dua shalat Id (Idul Adha dan Idul Fitri) di lapangan. Beliau populerkan hal itu di Damaskus dan Beirut. Kemudian sunnah aqiqah, shalat tarawih di malam Ramadhan dengan 11 rakaat, membaca khotbah hajah pada khotbah Jumat, jilbab yang syar’i, mengingatkan umat agar tidak membangun masjid di atas kuburan dan shalat di dalam masjid yang demikian. Di tahun 60-an tentu sunnah-sunnah tersebut belum dikenal seperti sekarang. Bahkan saat ini, sebagian sunnah itu pun masih terasa asing.

Beliau juga memotivasi para pemuda agar memberi perhatian besar terhadap pengkajian sunnah. Kemudian menciptakan sarana-sarana modern untuk memudahkan masyarakat mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ  (A’lam ad-Da’wah Muhammad Nashiruddin al-Albani Muhaddits al-‘Ashr Nashir as-Sunnah oleh Abdullah al-Aqil, Hal: 1063-1064).

Faidah yang dapat kita petik adalah walaupun Sunnah Nabi ﷺ dianggap asing, mulailah dulu melakukannya. Seiring waktu, masyarakat akan mengenalnya.

Menjalin Hubungan Dekat Sesama Ulama

Syaikh al-Albani bertemu dengan banyak ulama dan penuntut ilmu. Beliau belajar dari mereka dan juga sebaliknya. Al-Albani bertemu dan memberi ijazah sanad kepada sejarawan dan muhadits Aleppo, Syaikh Raghib ath-Thabbakh (A’lam ad-Da’wah Muhammad Nashiruddin al-Albani Muhaddits al-‘Ashr Nashir as-Sunnah oleh Abdullah al-Aqil, Hal: 1062).

Beliau juga pernah bertemu Syaikh Hamid al-Faqi ketua Jam’iyah Anshar as-Sunnah al-Muhammadiyah di Mesir dan al-Muadditsh al-Muhaqqiq Ahmad Syakir.

Syaikh al-Albani memiliki hubungan spesial dengan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah. Keduanya kadang kala berdiskusi dan saling menyurati.

Dan banyak ulama-ulama lainnya yang pernah bertemu dan memiliki hubungan dekat dengannya. Tidak hanya berasal dari Jazirah Arab, tapi ada juga yang berasal dari India, Turki, Syam, Mesir, Maroko, dll (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 64-73).

Kepakaran Dalam Bidang Hadits

Seseorang dikatakan seorang ahli, pakar atau maestro dalam suatu bidang dilihat dari karyanya dalam bidang yang ia geluti. Syaikh al-Albani rahimahullah memiliki banyak karya ilmiah dan penelitian dalam bidang hadits. Karya-karyanya tersebar di penjuru dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Banyak da’i dan pelajar ilmu agama yang mengambil faidah dari karya-karyanya. Ia pun menjadi rujukan utama, khususnya dalam bidang hadits.

Kepakarannya diakui berbagai kalangan. Di antaranya:

Pertama: Fakultas Syariah Universitas Damaskus memilihnya sebagai orang yang mengecek status sebuah hadits pada Mausu’ah al-Fiqh al-Islami (Ensiklopedi Hukum Islam), khusus bab perdagangan. Universitas menjadikan hasil penelitiannya itu sebagai standarisasi status sebuah hadits pada tahun 1955.

Kedua: Universitas as-Salafiyah di Kota Varnasi, India, memintanya sebagai mentor syaikh-syaikh universitas dalam bidang hadits. Namun Syaikh al-Albani tidak menyanggupi permintaan tersebut.

Ketiga: Pada tahun 1395 H/1975 M sampai 1398 H/1978 M, melalui permintaan Raja Khalid bin Abdul Aziz (Raja Arab Saudi kala itu) meminta Syaikh al-Albani menjadi anggota dewan guru besar (dewan senat) Universitas Islam Madinah.

Kelima: Dewan Fatwa di Riyadh, Arab Saudi, menugaskannya ke Mesir, Maroko, dan Inggris mengadakan kuliah tentang akidah tauhid dan metode beragama Islam yang benar.

Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan ilmiah Syaikh al-Albani. Semuanya merupakan pengakuan tentang kepakarannya dari lembaga-lembaga besar Islam hingga tingkat internasional (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 75-76).

Karya Ilmiah

Syaikh al-Albani adalah seorang ulama yang produktif. Banyak karya ia lahirkan dalam rangka berkhidmat memperjuangkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Karya-karya itum masih bisa kita nikmati hingga hari ini. Lebih dari 100 karya ilmiah ia hasilkan. Ada yang murni tulisannya, ada yang merupakan tahqiq (penelitian ilmiah secara seksama tentang status suatu hadits: shahih, hasan, dhaif, atau maudhu), ta’liq (komentar), dan takhrij (menisbatkan hadits pada sumbernya).

Di antara karya-karyanya adalah:

  1. Adabu az-Zifaf fi Sunnati al-Muthahharah.
  2. Ahadits al-Isra wa al-Mi’raj.
  3. Ahkam al-Jana-iz.
  4. Irwa-u al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar as-Sabil.
  5. Al-As-ilatu wa al-Ajwibah.
  6. Shifatu Shalat an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam min at-Takbir ila at-Taslim Ka-annaka Taraha.
  7. Shahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu.
  8. Shahih as-Sirah an-Nabawiyah.
  9. Shahih wa Dha’if at-Targhib wa at-Tarhib.
  10. Jilbab al-Mar-ah al-Muslimah.
  11. Silsilatu al-Ahadits ash-Shahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawa-iduha.
  12. Silsilatu al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayyi’ fi al-Ummah.
  13. Manzilatu as-Sunnah fi al-Islam.

Ini beberapa karya ilmiahnya. Bagi Anda yang pernah membaca salah satunya, Anda akan menemukan metodologi yang berbeda dengan penulis-penulis lainnya. Karena kita akan menikmati kajian periwayat-periwayat hadits dalam catatan-catatan kakinya. Di situlah terasa gaya penulisan seorang ahli hadits.

Pujian Ulama Terhadapnya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Al-Albani adalah seorang reformis abad ini dalam ilmu hadits.”

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin memujinya dengan mengatakan, “Sesungguhnya al-Albani memiliki ilmu yang luas dalam bidang hadits, dirayat dan riwayat-nya. Dialah pakar hadits abad ini.”

Al-Muhaqqiq Muhibuddin al-Khatib mengatakan, “Sesungguhnya al-Albani adalah orang yang menyeru kepada sunnah. Ia mendermakan hidupnya untuk beramal dan menghidupkan sunnah (hadits Nabi ﷺ).

Syaikh Ali ath-Thanthawi mengatakan, “Syaikh Nashiruddin al-Albani lebih berilmu dariku dalam permasalahan hadits. Aku menaruh hormat padanya karena kesungguhannya, semangatnya, dan banyaknya karya tulisnya yang dicetak oleh saudaraku sekaligus orang tuaku (ucapan penghormatan) Zuhair asy-Syawisy. Aku merujuk pada Syaikh Nashir dalam permasalahan hadits dan aku tidak mempertanyakannya karena mengetahui keutamaannya (dalam permasalahan hadits) (A’lam ad-Da’wah Muhammad Nashiruddin al-Albani Muhaddits al-‘Ashr Nashir as-Sunnah oleh Abdullah al-Aqil, Hal: 1068).

Menggabungkan Ilmu dan Amal

Syaikh al-Albani adalah orang yang sangat bersemangat menyelaraskan praktik ibadah dengan sunnah Nabi ﷺ. Baik dalam tata cara ibadah tersebut, jumlahnya, dan waktunya. Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengatakan, “Yang aku kenal dari Syaikh al-Albani dari perjumpaanku dengannya, ia adalah seorang yang sangat bersemangat menyelaraskan amal dengan sunnah dan mengkritik bid’ah. Baik dalam hal akidah atau amal ibadah”.

Tidak jarang ketika mendengar lantunan Alquran atau hadits Nabi ﷺ tentang janji dan ancaman Allah, Syaikh al-Albani menangis. Alquran dan hadits begitu mudah menyentuh hatinya.

Di antara kebiasaan Syaikh al-Albani adalah merutinkan puasa Senin dan Kamis. Saat musim dingin maupun di musim panas. Kecuali apabila ia sakit atau sedang bersafar. Saat memasuki hari Jumat, ia senantiasa shalat dua rakaat, dua rakaat, hingga khotib naik ke mimbarnya. Ia berhaji dan berumrah setiap tahun, jika tidak ada yang menghalanginya. Terkadang beliau berumrah dua kali dalam setahun. Ia berhaji sebanya 30 kali (al-Imam al-Albani Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar oleh Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan, Hal: 88).

Tentu haji ketika itu tidak seperti sekarang. Sehingga lebih memungkinkan dilakukan berulang kali.

Murid-Muridnya

Murid-murid Syaikh al-Albani tersebar luas di dunia Islam. Beberapa yang masyhur di antara mereka adalah:

  • Syaikh Muqbin bin Hadi al-Wadi’i,
  • Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu,
  • Syaikh Husein al-Awaisyah,
  • Syaikh Ali Hasan al-Halaby,
  • Syaikh Masyhur Hasan Salman,
  • Syaikh Salim bin Id al-Hilay,
  • Syaikh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani,
  • Syaikh Hamdi bin Abdul Majid as-Salafy, dll (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 94-106).

Wafatnya Sang Mujaddid

Di akhir hayatnya, Syaikh al-Albani menderita beberapa penyakit. Dengan keadaan itu, beliau tetap sabar dan berharap pahala dari Allah ﷻ. Di antara penyakit yang beliau idap adalah Anemia, gangguan hati dan ginjal. Kondisi ini tidak membuatnya beristirahat. Ia tetap meneliti dan mengkaji hadits. Sampai-sampai ketika tidur, orang-orang mendengarnya mengigau, “Berikan aku buku al-Jarh wa at-Ta’dil, juz sekian dan halaman sekian” dan ia menyebut nama-nama buku yang lain.

Hal itu dikarenakan semangatnya dalam membaca dan meneliti. Hingga dalam buku-buku itu terbawa ke dalam mimpi (Shafahat Baidha min Hayati al-Albani oleh Athiyah Audah, Hal: 93-94).

Setelah mengisi hidupnya dengan ilmu, amal, dan dakwah, juga mengidap beberapa penyakit, Syaikh al-Albani pun wafat. Beliau wafat pada hari Sabtu 22 Jumadil Akhir 1420 H/ 2 Oktober 1999 M. Pada hari itu pula prosesi jenazahnya diselesaikan. Hal ini merupakan wasiatnya agar menyegerakan pemakamannya. Karena yang demikianlah yang terbaik menurut tuntunan (sunnah) Nabi ﷺ. Muridnya, Muhammad bin Ibrahim Syaqrah menjadi imam shalat jenazahnya. Beliau dimakamkan setelah shalat Isya (al-Imam al-Albani Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar oleh Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan, Hal: 292).

Semoga Allah merahmati Syaikh al-Albani dengan rahmat yang luas. Menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi. Membalas jasa-jasanya berkhidmat kepada Sunnah Nabi ﷺ.

Sumber:
– islamstory.com/ar/islamstory.com/ar/

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/5674-kisah-hidup-syaikh-al-albani-pakar-hadits-abad-ini-22.html

Kisah Hidup Syaikh al-Albani, Pakar Hadits Abad Ini (1/2)

Kali ini, kita membuka lembaran kisah tentang seorang pakar ilmu hadits. Seorang yang menghidupkan Sunnah Nabi, membelanya, dan menghibahkan usia untuknya. Ia habiskan hari-hari untuk membela Sunnah dari para pengikut hawa nafsu dan pembuat ajaran baru. Sosok ulama hadits dalam arti yang sebenarnya terperankan oleh dirinya. Dialah Syaikh al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Yang lebih kita kenal dengan Syaikh Nashiruddin al-Albani.

Nasab Syaikh al-Albani

Nama beliau adalah Muhammad bin Nuh bin Adam bin Najati al-Albani. Ia dilahirkan para tahun 1332 H/1914 M di Kota Shkodër, ibu kota Albania kala itu. Allah menganugerahkannya nikmat lahir di lingkungan keluarga yang taat dan akrab dengan ilmu agama. Ayahnya, Nuh bin Adam, merupakan alumni al-Ma’had asy-Syar’iyah di ibu kota Daulah Utsmaniyah, Istanbul. Setelah menyelesaikan pendidikan di sana, sang ayah kembali ke Albania. Berkhidmat kepada umat dengan mengajarkan mereka agama. Sampai akhirnya ia dikenal sebagai ulama besar Albania dan rujukan kaum muslimin di negeri Balkan itu (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 44).

Hijrah ke Negeri Syam

Pada tahun 1922-1939, Albania dipimpin oleh seorang raja sekuler yang mengidolakan modernitas ala Eropa. Namanya Ahmad Mukhtar Zogoli atau Zog I atau Zogu. Di dua tahun pertama kekuasaannya, ia mulai mengubah Albania Islam menjadi lebih beraroma barat sekuler. Ia meniru langkah Kemal Ataturk dalam me-westernisasi Turki dan menyingkirkan Kerajaan Ottoman pada tahun 1343 H/1924 M. Zogu menyusun undang-undang sekuler untuk masyarakat Albania. Ia tetapkan aturan yang memaksa muslimah melepaskan hijabnya. Mewajibkan militer memakai topi dan celana panjang ala Eropa. Dan segala sesuatu yang berbau Arab diganti dengan kultur barat.

Menariknya, langkah sekulerisasi di berbagai negeri, mirip bahkan tak jauh berbeda sehingga mudah terbaca. Segala sesuatu yang berbau Arab diganti atas nama nasionalisme dan menjaga budaya lokal. Syariat dianggap adat, kemudian dilarang mengamalkannya.

Sekulerisasi yang dilakukan Zogu membuat ayah Syaikh al-Albani mengambil sikap. Ia khawatir agamanya dan anggota keluarga rusak gara-gara terhembus korosit sekuler. Ia berazam untuk hijrah ke negeri Islam yang lebih menangkan hati. Dibawanyalah anggota keluarganya menuju Syam. Tepatnya di ibu kota Suriah, Damaskus. Saat itu al-Alabani baru berusia 9 tahun.

Mengkaji Ilmu

Al-Albani kecil baru saja tiba di salah satu negeri Arab. Anak Eropa ini sama sekali tidak mengetahui bahasa masayarakat padang pasir itu. Ia pun mulai mempelajari bahasa ini di Madrasah al-Is’af al-Khoriyah. Kemudian pindah ke sekolah lain di Pasar Sarujah, Damaskus, karena sekolah pertamanya itu mengalami musibah kebakaran. Di tempat ini, al-Albani menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya dalam masa 4 tahun. Rasa cintanya terhadap bahasa Alquran ini kian berbinar di hati. Kemahirannya diakui dan mengalahkan teman-temannya, anak-anak Suriah asli.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, al-Albani yang berasal dari Albania tidak mengetahui sama sekali tentang bahasa Arab. Namun ia bisa mahir memahami bahasa itu. Bahkan di kemudian hari menjadi seorang ahli hadits. Anda yang ingin mempelajari bahasa Arab jangan patah semangat dan mundur menyerah. Tidak kurang dari 1.495 kata bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab. Artinya, kita masyarakat Indonesia ‘tidak buta-buta amat’ tentang bahasa Arab.

Al-Albani kecil telah tumbuh remaja. Ia mulai menemukan kegemaran lain pada dirinya. Yaitu membaca. Namun selera membacanya masih begitu umum. Ia suka membaca Syair-syair Antharah bin Syaddad. Kisah detektif Arsene Lupin. Dan kisah-kisah detektif lainnya (Ahdats Mutsirah fi Hayati asy-Syaikh al-Alamah al-Albani oleh Muhammad Shalih al-Munajjid, Hal: 9). Inilah perjalanan awal kehidupan al-Albani dalam dunia membaca dan menimba ilmu.

Seiring berjalannya waktu, konten bacaan al-Albani pun berubah. Dari bacaan masyarakat awam beralih memperdalam ilmu agama. Hal itu bermula ketika sang ayah melihat sesuatu yang buruk –dari sisi agama- di sekolah negeri. Ayah al-Albani pun memutus sekolah putranya. Ia menyediakan waktu khusus untuk mendidik anaknya dengan pelajaran Alquran, tauhid, sharf, dan fikih Madzhab Hanafi (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 9).

Ada saja jalan yang Allah ﷻ takdirkan bagi mereka yang Dia kehendaki kebaikan. Memalingkan mereka dari yang tidak bermanfaat menuju kepada yang manfaat. Dan kebaikan yang paling baik adalah memahami dan mengamalkan agama ini.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْـرًا يُـفَـقِـهْهُ فِي الدِّيْنِ .

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan menjadikannya mengerti tentang (urusan) agamanya.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 71, 3116, 7312), Muslim (no. 1037), Ahmad (IV/92, 95, 96), dll).

Selain belajar dengan sang ayah, al-Albani juga belajar dari banyak guru dan ulama yang merupakan kolega ayahnya. Seperti: mengkaji kitab fikih Hanafi, Muraqi al-Falah Syarh Nur al-Idhah bersama Syaikh Muhammad Said al-Burhani. Mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab, terutama bersama Syaikh Izuddin at-Tanukhi (Shafahat Baidha min Hayati al-Albani oleh Athiyah Audah, Hal: 22, 71-72).

Ulama Pun Bekerja Mencari Nafkah

Sambil menyibukkan diri dengan ilmu agama, al-Albani meluangkan sebagian waktunya untuk menghidupi diri. Tentu ini langkah yang bijaksana. Agar di kemudian hari, ketika terjun di dunia dakwah, ia tidak menjadikan dakwah sebagai sumber mata pencariannya.

Tukang Kayu

Pekerjaan pertama yang dilakukan oleh al-Albani adalah menjadi tukang kayu. Ia bekerja dengan pamannya dan seorang warga Suriah yang dikenal dengan Abu Muhammad. Pekerjaan ini ia geluti selama dua tahun. Kemudian karena dirasa melelahkan, menghabiskan banyak waktu dan tenaga, al-Albani pun meninggalkan pekerjaan ini.

Reparasi Jam

Di musim panas, tukang kayu tidak mendapat pekerjaan. Pada waktu itu, al-Albani lewat di depan toko ayahnya. Sang ayah sedang mereparasi jam. Ayahnya menyarakannya agar ia memanfaatkan waktu dengan mereparasi jam. Ia pun menerima saran sang ayah. Profesi baru itu ia jalani dengan sungguh-sungguh, hingga ia terkenal sebagai tukang reparasi jam yang handal.

Profesi baru ini tidak memakan banyak tenaga dan waktu. Sehingga waktu-waktunya bisa ia sibukkan dengan belajar agama (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 48).

Mempelajari Ilmu Hadits

Pada saat menginjak usia 20 tahun, al-Albani mulai menyukai ilmu hadits. Ia terinspirasi dari kajian hadits di Majalah al-Manar yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah.

Syaikh al-Albani menceritakan bahwasanya ia tertarik membaca riwayat-riwayat sejarah. Suatu hari, ia melihat di tumpukan buku seorang pedagang buku, satu pembahasa dari Majalah al-Manar. Ia baca komentar Syaikh Rasyid Ridha terhadap buku Ihya Ulmuddin yang ditulis oleh Imam al-Ghazali rahimahullah. Dalam pembahasan tersebut Syaikh Rasyid Ridha mengutip komentar al-Hafizh al-Iraqi terhadap Ihya Ulumuddin. Al-Iraqi mengomentari dan memilah mana hadits yang shahih dan mana yang dhaif. Kemudian mengumpulkannya dalam al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi al-Asfar fi Takhrij ma Fi al-Ihya mi al-Akhbar.

Karya al-Iraqi ini menarik perhatian al-Albani. Ia pun mengadakan kajian hadits terhadap kitab tersebut. Sebuah kajian yang memberinya jalan memperdalam ilmu-ilmu lainnya. Seperti: ilmu bahasa, balaghah, gharib al-hadits, dll. Itulah kajian ilmiah pertamanya dalam bidang hadits. Kajian ini bagai candu yang membuat al-Albani terus bersemangat meniliti hadits-hadits lainnya.

Bagi al-Albani, ilmu hadits menjadi jalan yang membuka cabang-cabang keilmuan lainnya. Dan ia terus mengenang Syaikh Rasyid Ridha sebagai wasilahnya dalam mempelajari ilmu hadits.

Sumber:
– islamstory.com/ar/islamstory.com/ar/

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

 

Read more https://kisahmuslim.com/5668-kisah-hidup-syaikh-al-albani-pakar-hadits-abad-ini-12.html

Kecintaan Ulama Kepada Buku

Kitab – kitab para ulama bukan hanya kita pajang, bukan hanya kita taruh di lemari kita. Sebenarnya kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik kita akan mendapatkan faedah ilmu yang begitu luar biasa.

Memang para ulama gemar untuk mengoleksi buku, memang para ulama gemar untuk mencari buku dan mereka mengumpulkannya bahkan mereka mencari dari berbagai negeri. Ada yang mencari sanad, ada yang mencari buku – buku yang mungkin sudah hampir punah.

Ulama terdahulu semangat mengoleksi dan mempelajari buku

Diantara contohnya para ulama yang gemar mengoleksi buku diantaranya adalah Ibnul Qoyim. Diceritakan oleh Ibnu Hajar Asqalani bahwasannya Ibnul Qoyim ketika meninggal dunia dia memiliki perbendaharaan buku kitab yang begitu banyak sampai sampai anak – anaknya ketika mendapatkan buku – buku dari Ibnul Qoyim mereka menjualnya sampai itu memakan waktu yang lama. Dan padahal itu sudah dibagi bagi jumlahnya untuk anak – anak dari Ibnul Qoyim. Ini menunjukan bahwasannya begitu banyaknya buku – buku yang dikoleksi oleh Ibnul Qoyim.

Yahya bin Ma’in dia punya buku yang tertata di lemari penuh yang tertata dalam seratus empat belas lemari dan ada empat lemari besar yang semuanya berisi penuh dengan buku, yang semuanya penuh dengan kitab, kitab – kitab para ulama.

Contoh lagi para ulama yang punya semangat untuk mengoleksi buku bahkan buku ini yang selalu menemaninya, yaitu seperti guru dari Ibnul Qoyim, yaitu Ibnu Taimiyah.

Ketika Ibnu Taimiyah dalam keadaan sakit, maka yang selalu menemaninya adalah sebuah buku sebuah kitab. Dia ketika sadar dia membacanya, ketika dia tidak sadar dia meletakannya dan ketika itu sampai seorang dokter yang memeriksa Ibnu Taimiyah itu mewanti wanti, wahai Ibnu Taimiyah janganlah engkau menyibukkan waktumu dengan ini, ini bisa memudharatkanmu jika engkau sibuk membaca buku. Apa – apa waktumu engkau habiskan sibuk dengan buku tersebut.

Maka, kita lihat disini semangatnya para ulama untuk mengoleksi buku. Namun, mereka bukan mengoleksinya saja, mereka membacanya, menghayatinya, menarik faedah – faedah didalamnya kemudian mereka amalkan.

Empat kiat mendapat manfaat dari kitab

Intinya disini, kami memberikan kiat – kiat agar kita bisa mendapatkan manfaat dari buku. Kiat singkat yang kami berikan;

Pertama, dalamilah bahasa arab. Karena dengan kita dalami bahasa arab akan terbuka cakrawala ilmu dan itulah yang jadi pembuka. Jadi dengan mempelajari bahasa arab terutama dalam mempelajari kaedah – kaedah dalam ilmu nahwu dan sharaf selain kita memperbanyak kosakata itu akan membuka pintu untuk mempelajari ilmu agama. Beda dengan orang yang tidak menguasai bahasa arab.

Yang kedua, ketika kita menguasai bahasa arab, maka belajarlah dari seorang guru. kita kaji kitab – kitab dari guru tersebut. Kenapa kita musti punya guru?, karena kalau kita cuma otodidak mempelajari buku tersebut tanpa panduan seorang yang lebih paham, seorang yang lebih berilmu kita bisa salah paham dalam memahami buku tersebut. Jadi, duduklah bermajlis dengan seorang guru agar kita bisa mendapatkan faedah ilmu yang bermanfaat.

Kemudian yang ketiga, yang kita lakukan adalah selain kita pelajari dari bahasa arab kemudian mengkajinya dari seorang guru kemudia kami contohkan dari apa yang dilakukan oleh para ulama, yaitu koleksinya buku – buku yang bermanfaat.

Buku – buku apa yang kita pilih kita cari dari ulama – ulama yang sudah punya ilmu yang siqqoh yang kredibel dalam masalah ilmu, ilmu – ilmu yang terpercaya jadi bukan dari sembarang penulis, bukan dari sembarang orang namun dari ulama yang sudah punya ilmu yang terpercaya.

Ada Ibnu Hajar, ada Imam Nawawi, ada juga ulama – ulama besar saat ini yang mereka punya buku – buku yang mumpuni yang ketika itu kita mengkajinya kita akan mendapatkan faedah yang begitu banyak.

Seperti inilah yang kita kaji yang kita koleksi dari apa yang sudah disarankan oleh para ulama mulai dari buku – buku aqidah, fikih – fikih dasar terutama kita mempelajari dari mazhab tertentu tanpa punya sifat untuk fanatik namun ini cuma sebagai dasar saja. Kemudian buku – buku dalam masalah akhlak, tazkiyatu nufus, dan kitab atau buku – buku yang lain.

Kemudian kiat yang terakhir, hendaklah kita punya sikap semangat dan pintar membagi waktu ketika kita belajar. Nabi katakan;

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

— Ihrish ‘ala maa yanfa’uka wasta’in billahi wala ta’jiz

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu minta tolonglah pada Allah dengan banyak berdoa supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan (janganlah — Ed) pantang menyerah, jangan punya rasa malas ketika belajar.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945, dan yang lainnya).

Inilah kiat – kiat ya ikhwan sekalian, amalkanlah kiat – kiat ini mulai dari kita mempelajari bahasa arab, belajar dari seorang guru, berusaha untuk mengkoleksi buku – buku yang ini adalah buku – buku yang bermanfaat, mulai dari buku – buku bahasa Indonesia yang mungkin kita pahami yang kita koleksi.

Kalau kita sudah punya kemampuan kita mengumpulkan buku – buku bahasa Arab dan pintar dalam membagi waktu serta (jangan — Ed) pantang menyerah untuk terus belajar.

Maka, ingatlah faedah yang besar. Orang yang mempelajari ilmu agama, orang yang menekuni ilmu agama dia tidak akan pernah bingung ketika beramal karena dia punya dasar ilmu.

Kemudian inilah yang menjadi sebab dasar untuk banyak mendapat kebaikan.

Kata Nabi;

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

— Manyudillahu khairan yufaqqihhu fi dinniini…

“Siapa yang menginginkan kebaikan maka Allah akan memahamkan baginya untuk memahami agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Dan mudah – mudahan Allah memberi kita taufik untuk meraih ilmu dari ilmu itu kita bisa amalkan dari kita amalkan bisa kita dakwahkan pada orang lain dan kita sabar dalam menjalani hal – hal tadi.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

=== ## ===

Sumber: https://catatankajian.com/991-tausiyah-singkat-kecintaan-ulama-kepada-buku-ustadz-muhammad-abduh-tuasikal.html

7 Ulama Besar Kota Madinah

Bagi Anda yang suka membaca buku-buku biografi dan sejarah Kota Madinah, tentu tak asing dengan istilah fuqoha sab’ah(الفقهاء السبعة). Suatu istilah yang ditujukan kepada tujuh orang tabi’in (murid para sahabat) yang merupakan ulama besar di Madinah zaman itu. Zaman tabi’in adalah zaman banyak ulamanya, namun tujuh orang yang hidup di masa bersamaan ini begitu menonjol dan menjadi rujukan utama. Dari mereka tersebar ilmu dan fatwa di dunia Islam (Haji Khalifah: Salmu al-Wushul ila Tabaqat al-Fuhul, 5/189).

Tujuh ulama (fuqoha sab’ah) itu adalah Said bin al-Musayyib, Urwah bin az-Zubair bin Awwam, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, Ubaidullah bin Abdullah, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dan Sulaiman bin Yasar. Untuk nama ketujuh diperselisihkan siapa orangnya; Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf atau Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab atau Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits.

Pertama: Said bin al-Musayyib

Said bin al-Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb al-Makhzumi al-Qurasyi. Kun-yahnya adalah Abu Muhammad. Ia adalah tokoh utama tabi’in. Kedudukannya di tengah-tengah para tabi’in bagaikan kedudukan Abu Bakar di antara para sahabat. Said dilahirkan di masa pemerintahan Umar bin al-Khattab. Ibunya adalah Ummu Said binti Hakim.

Dari sisi keilmuan, tentu Said sangat luar biasa. Ia adalah pakar dalam bidang hadits dan fikih. Sosoknya adalah pribadi yang zuhud dan wara’. Walaupun sibuk dengan ilmu dan dakwah, ia juga tetap bekerja untuk kehidupan dunianya. Tabi’in yang mulia ini adalah seorang pedagang minyak zaitun. Dan ia tidak menerima pemberian.

Said bin al-Musayyib wafat di Kota Madinah pada tahun 94 H. Ada juga yang menyatakan beliau wafat pada tahun 89 H. Pendapat lainnya menyebutkan 91 H. Atau 92 H, 93 h, atau 105 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/89-109).

Kedua: Urwah bin az-Zubair

Urwah bin az-Zubair adalah putra dari sahabat yang mulia az-Zubair bin al-Awwam. Satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. saudaranya adalah seorang sahabat. Yaitu Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘anhu. Dengan demikian, Urwah adalah seorang Quraisy yang nasabnya Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab. Kun-yahnya Abu Abdullah.

Ibu Urwah adalah Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia dilahirkan pada tahun 29 H. Pendapat lain menyatakan 23 H.

Ulama yang mulia ini sama sekali tak pernah turut campur dalam fitnah perpecahan. Dan perjalanan hidupnya tidak hanya dihabiskan di Kota Madinah. Ia pernah tinggal di Bashrah. Kemudian menuju Mesir dan menikah di sana. Lalu tinggal di negeri Nabi Musa itu selama tujuh tahun. Setelah itu baru ia kembali ke Madinah dan wafat di kota nabi itu pada tahun 94 H. Ada yang mengatakan 92, 93, atau 95 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/136-139).

Ketiga: al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq.

Dari silsilah namanya tentu kita mengetahui, ulama dengan nasab Quraisy ini adalah cucu dari khalifah pertama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Kun-yahnya adalah Abu Muhammad atau Abu Abdurrahman. Ibunya adalah seorang budak perempuan yang bernama Saudah.

Al-Qasim dilahirkan di Kota Madinah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tentu al-Qasim adalah seorang yang shalih dan terpecaya riwayat haditsnya. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkomentar tentangnya, “Kalau seandainya aku memiliki hak mengangkat pemimpin, maka akan aku angkat al-Qasim bin Muhammad menjadi seorang khalifah.”

Di masa tuanya, al-Qasim mengalami kebutaan. Dan ia wafat di Madinah pada tahun 106 H. Pendapat lain menyatakan 107 H, 108 H, atau 112 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/142-148).

Keempat: Ubaidullah bin Abdullah

Nasab Ubaidullah adalah Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud al-Hudzali al-Madani adh-Dharari. Kun-yahnya Abu Abdullah. Ia merupakan seorang mufti Madinah dan termasuk tabi’in yang paling berilmu. Ia seorang imam yang kuat hafalan dan argumentasinya. Seorang mujtahid. Yang terpercaya haditsnya, banyak riwayatnya, dan pandai bersyair. Ia adalah salah seorang pendidik Umar bin Abdul Aziz.

Ubaidullah wafat pada tahun 102 H. Atau 97 H, 98 H, atau 99 H (Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqat, 5/63).

Kelima: Kharijah bin Zaid bin Tsabit

Nama dan nasabnya adalah Kharijah bin Zaid bin Tsabit al-Anshari an-Najjari. Adapun kunyahnya Abu Zaid. Ibunya adalah Ummu Saad binti Saad bin Rabi’. Ia adalah seorang tabi’in mulia. Seorang ahli ilmu dan ahli ibadah. Di masa hidupnya, ia sempat menjumpai masa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Kharijah wafat pada tahun 90 H atau 100 H. saat itu usianya hanya 40 tahun saja (Ibnu Hibban dalam Masyahir Ulama al-Amshar, Hal: 106).

Keenam: Sulaiman bin Yasar

Sulaiman bin Yasar atau yang juga dikenal dengan kun-yah Abu Abdurrahman adalah bekas budak dari istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits radhiallahu ‘anha. Ia merupakan saudara dari Atha’ bin Yasar.

Sulaiman dilahirkan pada tahun 34 H, pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Ia merupakan seorang ahli ilmu lagi terpercaya. Hadits-haditnya pun banyak. Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhum.

Ulama besar tabi’in ini wafat pada tahun 104 H. Dan beberapa riwayat lain menyebutkan: 107 H, 109 H, dan 110 H. Sementara usianya adalah 73 tahun. Ada pula yang menyatakan 76 tahun (al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabir 4/41).

Sementara untuk nama ketujuh ada beberapa pendapat. Mereka adalah Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab, Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam.

Ketujuh (1): Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf

Beliau adalah Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin al-Harits bin Zuhrah bin Kilab (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/118). Kita tahu Abu Salamah adalah kun-yahnya. Dan ia lebih dikenal dengan kun-yah dibanding namanya. Terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan namanya adalah Abdullah. Versi lainnya, namanya adalah Islamil. Dan ada pula yang mengatakan namanya memang Abu Salamah (adz-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam, 2/1199).

Ibunya adalah Tumadhur (تماضر) binti al-Ashbagh al-Kulabiyah Qurasyi (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/118). Ia dilahirkan pada tahun 20-an H. Dari tahun lahirnya, kita mengetahui bahwa Abu Bakar merupakan seorang generasi awal tabi’in (adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala, 4/287-288).

Abu Bakar bin Abdurrahman bin Auf adalah seorang ulama yang terpercaya. Seorang fakih. Dan banyak riwayat haditsnya. Ia termasuk seorang Quraisy yang paling utama dan ahli ibadah di tengah suku elit tersebut. Ia adalah imam dan panutan di Kota Madinah. Kedudukan tinggi yang ia capai tentu tidaklah mengherankan kalau kita mengetahui guru dekatnya. Ia adalah sepupu nabi, Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu. Karena ketinggian ilmunya, ia pun sempat menjabat hakim Kota Madinah di masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan.

Tabi’in yang mulia ini wafat pada tahun 94 H di masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Saat itu usianya tengah menginjak 72 tahun.

Ketujuh (2): Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab

Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khattab al-‘Adawi al-Qurasyi. Kun-yahnya adalah Abu Amr. Atau Abu Abdullah. Ibunya merupakan seorang budak. Salim adalah seorang ulama yang dikenal wara’, terpercaya, dan banyak haditsnya. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya sendiri, Abdullah bin Umar. Juga Abu Hurairah, Abu Ayyub al-Anshari, dll. radhiallahu ‘anhum. Salim wafat di Kota Madinah, tahun 106 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/149-155).

Ketujuh (3): Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits

Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi al-Qurasyi. Ada yang berpendapat bahwa Abu Bakar hanyalah kun-yahnya saja. Adapun namanya adalah Muhammad. Namun pendapat yang lebih tepat adalah nama dan kun-yahnya sama. Yaitu Abu Bakar.

Abu Bakar dilahirkan di masa pemerintahan Umar bin al-Khattab. Ia seorang ulama yang fakih dan terpercaya. Ia juga meriwayatkan banyak hadits. Ia dijuluki sebagai ahli ibadahnya Quraisy karena begitu banyak ia mengerjakan shalat. Ia wafat di Madinah pada tahun 94 H (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 5/159-161).

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/6307-7-ulama-besar-kota-madinah.html

Ulama itu Sabar, Tak Mudah Marah dan Berakhlak Mulia

Al Mubaarok bin Al Mubaarok Adh Dhoriir seorang ulama ahli nahwu yang digelari Al Wajiih. Beliau dikenal seorang yang elok akhlak dan perilakunya, lapang dada, penyabar dan tidak pemarah. Sehingga ada sebagian orang-orang jahil yang berniat mengujinya dengan memancing kemarahannya.

Maka datanglah orang ini menemui Al Wajiih, kemudian bertanya kepadanya tentang satu masalah dalam ilmu nahwu. Syaikh Al Wajiih menjawab dengan sebaik-baik jawaban dan menunjukan kepadanya jalan yang benar. Lantas orang itu berkata kepadanya, “Engkau salah. Syaikh kembali mengulangi jawabannya dengan bahasa yang lebih halus dan mudah dicerna dari jawaban pertama, serta ia jelaskan hakekatnya.

Orang itu kembali berkata, “Engkau salah hai syaikh, aneh orang-orang yang menganggapmu menguasai ilmu nahwu dan engkau adalah rujukan dalam berbagai ilmu, padahal hanya sebatas ini saja ilmumu!”. Syaikh berkata dengan lembut kepada orang itu, “Ananda, mungkin engkau belum paham jawabannya, jika engkau mau aku ulangi lagi jawabannya dengan yang lebih jelas lagi dari pada sebelumnya”.

Orang itu menjawab, “Engkau bohong! Aku paham apa yang engkau katakan akan tetapi karena kebodohanmu engkau mengira aku tidak paham”. Maka syaikh Al Wajiih berkata seraya tertawa, “Aku mengerti maksudmu, dan aku sudah tahu tujuanmu. Menurutku engkau telah kalah. Engkau bukanlah orang yang bisa membuatku marah selama-lamanya.

Ananda, konon ada seekor burung duduk di atas punggung gajah, ketika dia hendak terbang ia berkata kepada gajah, “Berpeganglah kepadaku, aku akan terbang!”. Gajah berkata kepadanya, “Demi Allah hai burung, aku tidak merasakanmu ketika bertengger di punggungku, bagamaimana aku berpegang kepadamu saat engkau terbang!”. Demi Allah hai anakku! Engkau tidak pandai bertanya tidak pula paham jawaban, bagaimana aku akan marah kepadamu?!”. (Mujamul Udaba : 5/44).

Menjadi guru, juga seorang dai memang harus banyak belajar bersabar, lapang dada dan berakhlak mulia, semoga Allah Taala memudahkan hal itu untuk kita, aamiin. [Ustadz Abu Zubair Al-Hawary, Lc.]

 

 

Pentingnya Menjaga Adab terhadap Para Ulama

“INGATLAH bahwa orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud: 4682).

Syeikh Abdul Aziz bin Baz rohimahulloh mengatakan: Apabila dalil telah tegak dalam suatu masalah, maka wajib hukumnya mengambil pendapat yang sesuai dengan dalil tersebut, baik dalil dari Kitabullah ataupun dari sunah Rasul shallallahu alaihi wasallam-, meskipun pendapat itu menyelisihi imam besar, bahkan walaupun menyelisihi sebagian sahabat.”

Karena Allah menfirmankan (yang artinya): Jika kalian berselisih dalam suatu masalah, maka kembalikanlah masalah itu kepada Allah dan RasulNya. Allah subhanah TIDAK mengatakan: kembalikanlah kepada orang ini dan orang itu.

Akan tetapi, sudah seharusnya ada langkah memastikan kabar yang sampai kepada kita, serta menghormati dan menjaga adab terhadap para ulama. Jika seseorang menemukan pendapat yang lemah dari salah satu imam, atau ulama, atau ahli hadits yang tepercaya; (harusnya dia ingat bahwa) hal itu tidak menurunkan kedudukan mereka.

Harusnya dia menghormati para ulama, menjaga adab terhadap mereka dan mengatakan perkataan yang baik, serta tidak mencela dan merendahkan mereka. Tapi seharusnya dia menjelaskan yang benar beserta dalilnya, sekaligus mendoakan kebaikan untuk ulama tersebut, juga mendoakan agar dirahmati dan diampuni.

Beginilah harusnya akhlak seorang ulama terhadap ulama lainnya, (yaitu) menghormati para ulama karena kedudukan mereka, dan mengerti akan keagungan, keutamaan, dan kemuliaan mereka. [Majmu Fatawa Ibnu Baz 26/305, Ust. Musyaffa Ad Darini, Lc., MA]

 

INILAH MOZAIK

Syarat Spesifik Seseorang Disebut Ulama

MEMANG istilah-istilah itu cukup banyak, terkadang satu dengan lainnya saling bertumpang tindih. Dan wajar bila banyak yang bingung dengan begitu banyaknya istilah itu. Kami tidak akan memberikan definisi masing-masing istilah itu, namun hanya akan memberikan sedikit penjelasan, semoga bisa sedikit membantu.

a. Ulama

Pengertian ulama dalam istilah fiqih memang sangat spesifik, sehingga penggunaannya tidak boleh pada sembarang orang. Semua syaratnya jelas dan spesifik serta disetujui oleh umat Islam. Paling tidak, dia menguasai ilmu-ilmu tertentu, seperti ilmu Alquran, ilmu hadits, ilmu ifiqih, ushul fiqih, qawaid fiqhiyah serta menguasai dalil-dalil hukum baik dari Quran dan sunnah. Juga mengerti masalah dalil nasikh mansukh, dalil ‘amm dan khash, dalil mujmal dan mubayyan dan lainnya.

Dan kunci dari semua itu adalah penguasaan yang cukup tentang bahasa arab dan ilmu-ilmunya. Seperti masalah nahwu, sharf, balaghah, bayan dan lainnya. Ditambah dengan satu lagi yaitu ilmu mantiq atau ilmu logika ilmiah yang juga sangat penting. Juga tidak boleh dilupakan adalah pengetahuan dan wawasan dalam masalah syariah, misalnya mengetahui fiqih-fiqih yang sudah berkembang dalam berbagai mazhab yang ada. Semua itu merupakan syarat mutlak bagi seorang ulama, agar mampu mengistimbath hukum dari quran dan sunnah.

b. Kiai

Lain halnya dengan sebutan kiai, yang bukan istilah baku dari agama Islam. Panggilan kiai bersifat sangat lokal, mungkin hanya di pulau Jawa bahkan hanya Jawa Tengah dan Timur saja. Di Jawa Barat orang menggunakan istilah Ajengan. Biasanya istilah kiai juga disematkan kepada orang yang dituakan, bukan hanya dalam masalah agama, tetapi juga dalam masalah lainnya. Bahkan benda-benda tua peninggalan sejarah pun sering disebut dengan panggilan kiai. Melihat realita ini, sepertinya panggilan kiai memang tidak selalu mencerminkan tokoh agama, apalagi ulama.

c. Ustaz

Sedangkan panggilan ustaz, biasanya disematkan kepada orang yang mengajar agama. Artinya secara bebas adalah guru agama, pada semua levelnya. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan kakek dan nenek. Namun hal itu lebih berlaku buat kita di Indonesia ini saja. Istilah ini konon walau ada dalam bahasa Arab, namun bukan asli dari bahasa Arab. Di negeri Arab sendiri, istilah ustaz punya kedudukan sangat tinggi. Hanya para doktor (S-3) yang sudah mencapai gelar profesor saja yang berhak diberi gelar Al-Ustadz. Kira-kira artinya memang profesor di bidang ilmu agama. Jadi istilah ustaz ini lebih merupakan istilah yang digunakan di dunia kampus di beberapa negeri Arab, ketimbang sekedar guru agama biasa.

d. Penceramah

Adapun nama tokoh tertentu, mungkin lebih tepat untuk disebut dengan profesinya, yaitu penceramah. Karena kerjanya memang berceramah ke sana ke mari. Sedangkan untuk disebut sebagai ulama atau ustaz, kalau kita mengacu kepada penggunaan istilah yang baku dan formal, rasanya memang kurang tepat. Yang namanya berceramah, memang boleh siapa saja dan juga bisa bicara apa saja. Dari masalah-masalah yang perlu sampai yang tidak perlu. Dengan merujuk langsung kepada literatur hingga yang hanya ngelantur. Yang penting memenuhi selera penonton.

Dan biasanya ceramah mereka selain lucu, juga komunikatif serta seringkali mengangkat masalah yang aktual. Sehingga yang mendengarkannya betah duduk berjam-jam. Itu sisi positifnya. Positif yang lainnya penceramah model begini adalah mampu merekrut massa yang lumayan banyak. Mungkin karena juga dibantu dengan media. Tetapi kekurangannya juga ada. Misalnya, umumnya mereka bukan orang yang lahir dan dibesarkan dengan tradisi keilmuan yang mendalam. Juga bukan jebolan perguruan tinggi Islam dengan disiplin ilmu syariah. Padahal poin ini cukup penting, sebab yang mereka sampaikan ajaran agama Islam, tentunya mereka harus mampu merujuk langsung ke sumbernya. Agar tidak terjadi keterpelesetan di sana sini.

Yang kedua, kelemahan tokoh yang dibesarkan media adalah akan cepat surut sebagaimana waktu mulai terkenalnya. Pembesaran nama tokokh lewat media itu memang demikian karakternya. Cepat membuat orang terkenal dan cepat pula ‘melupakannya’. Yang dimaksud dengan melupakan maksudnya adalah bahwa media bisa dengan mudah menampilkan sosok baru. Dan sosok lama akan hilang sendirinya dari peredaran.

Kecuali hanya pada tokoh yang dikenal berkarakter kuat, sehingga tidak lekang dilewati panjangnya zaman. Kira-kira seperti bintang film juga. Ada aktor yang sampai tiga zaman, tapi ada juga aktor yang terkenal dan meroket dengan cepat, lalu hilang dari peredaran. Namun lepas dari keutamaan dan kelemahannya, para penceramah ini sudah punya banyak jasa buat umat Islam di negeri ini. Banyak orang yang tadinya kurang memahami agama, kemudian menjadi lebih memahami. Yang tadinya kurang suka dengan Islam, berubah jadi lebih suka. Semua itu tentu saja tidak bisa kita nafikan, sekecil apa pun peran mereka.

Tentu bukan pada tempatnya bila mereka melakukan hal-hal yang kurang produktif, kita lalu mencemooh, memaki atau bahkan bertepuk tangan gembira melihat bintang mereka mulai pudar. Kekurang-setujuan kita dengan beberapa hal yang mereka lakukan, jangan sampai membuat kita harus melupakan peran dan jasa mereka selama ini. Bahkan belum tentu kalau kita sendiri yang berada pada posisi mereka, kita akan mampu memenuhi harapan semua orang.

Dan ke depan, tidak ada salahnya kita secara serius dan profesional menyiapkan kelahiran para ulama yang lebih matang. Bukan sekedar yang enak diorbitkan media, tetapi mereka yang kita sekolahkan ke Timur Tengah dengan serius, hingga mendapatkan ilmu yang cukup. Lalu ketika pulang ke negeri ini, mereka bekerja dengan baik menyampaikan ilmunya kepada kita semua.

Mungkin tidak ada salah tiap masjid di negeri ini berinvestasi untuk melahirkan satu ulama. Misalnya, dengan memilih lulusan pesantren yang punya nilai tinggi, untuk dibiayai kuliah S-1 dan S-2 ke Mesir, Saudi, Kuwait, Pakistan, Jordan, Suriah atau pusat-pusat ilmu lainnya. Dengan asumsi, 4 tahun lagi mereka akan segera lulus S-1. Itu saja sebenarnya sudah jauh lumayan dari pada sekedar penceramah. Apalagi kalau bisa sampai S-2 atau bahkan S-3, tentu akan lebih baik lagi.

Nantinya diharapkan tiap masjid dipimpin oleh lulusan-lulusan yang berkualitas seperti mereka. Mereka yang jadi imam, mereka yang juga mengajarkan ilmu-ilmu di masjid, dan mereka juga yang dijadikan rujukan dalam masalah agama. Orang-orang cukup datang ke masjid utuk berkonsultasi masalah syariah. Dan itu bisa dilakukan tiap hari dalam tiap waktu salat. Sebab mereka memang dipekerjakan dan digaji oleh masjid, tentunya dengan standar yang baik. Sehingga para imam masjid ini tidak perlu nyambi jadi tukang ojek, atau jadi karyawan di pabrik dan perusahaan tertentu. Waktunya bisa dimanfaatkan 24 jam untuk umat dan beliau stand-by di masjid.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc.]

Antusias Ulama dalam Membaca Buku

ADA rahasia menarik yang menjelaskan mengapa ulama-ulama Islam tempo dulu begitu produktif dalam kepenulisan. Salah satunya adalah mereka memanfaatkan waktunya untuk membaca buku. Hal itu dilakukan bukan saja saat luang, bahkan ketika dalam menghadiri undangan, saat sedang berjalan bahkan sakit pun disempatkan untuk membaca buku.

Kisah-kisah inspiratif itu bisa dibaca dalam buku Abdul Fattah Abu Ghaddah yang berjudul “Qīmah al-Zamān ‘Inda al-Ulamā” (1988). Sosok kenamaan seperti Tsa’lab, Imam Nawawi, Syeikh Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Malik, Adz-Dzahabi dan lain sebagainya, disebutkan sebagai ulama yang ‘gila baca’ buku.

Di antara mereka ada yang tidak pernah lepas dari buku. Ahmad bin Yahya asy-Syaibani yang lebih dikenal dengan Tsa’lab (200-291 H) tidak pernah terpisah dari buku ajarnya. Ulama yang dikenal ahli dalam bahasa Arab ini ketika diundang untuk menghadiri acara, beliau memberi syarat agar di depan tempat duduknya disediakan semacam meja untuk membaca buku. Beliau tidak mau waktunya terbuang sia-sia.

Kabarnya, yang cukup mengharukan, sebab wafatnya beliau adalah saat membaca buku di jalan. Waktu itu, pendengarannya agak terganggu. Ketika ada kendaraan kuda lewat, ia sama sekali tak mendengarnya hingga tertabrak dan terpental jatuh ke suatu lubang. Ketika diangkat kondisinya tak sadar. Beliau sempat mengeluhkan sakit kepala. Kemudian, hari kedua pasca kecelakaan beliau meninggal dunia.

Imam al-Khathīb al-Baghdady pun demikian. Saat sedang berjalan dia tak lupa memanfaatkan waktunya untuk membaca buku. Ulama pakar Nahwu seperti Abu Yusuf Ya’qub bin Kharzad al-Nujayrimy juga melakukan hal yang sama. Dikisahkan bahwa beliau saat berjalan menuju Qarafah, ia memegang buku. Perjalanannya diisi dengan membaca buku.

Ketika para ulama tak mampu atau berkesempatan membaca secara langsung, maka mereka meminta untuk dibacakan buku. Imam Adz-Dzabi dalam buku “Tadzkirah al-Huffādz” menceritakan kisah menarik terkait Hafidz Abu Nu’aim al-Ashfahāny. Ulama pakar hadits dan sejarah itu sangat hobi membaca buku. Setiap hari ada orang yang membacakannya buku hingga menjelang zuhur. Saat pulang ke rumah pasca zuhur pun beliau juga dibacakan buku. Menariknya, beliau sama sekali tidak bosan mendengarnya.

Lebih menarik dari itu, kakek Ibnu Taimiyah, Majduddin Abu al-Barakat ketika memasuki toilet (WC), dia meminta pada anaknya (ayah Ibnu Taimiyah), “Bacakanlah untukku pada halaman ini dan keraskan suaramu supaya aku bisa mendengar.” Luar biasa, bahkan di tempat pembuangan hajat pun beliau tidak mau ketinggalan menyerap ilmu dari buku dengan cara dibacakan oleh anaknya.

Sementara itu, ulama lain seperti Ibnu Malik (Ulama Pakar Nahwu) membagi kegiatannya jika tidak shalat, membaca, menulis, maka selebihnya untuk membaca buku. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat disiplin dalam menjaga waktunya. Kabarnya, di saat-saat menjalang ajal pun beliau gunakan untuk menerima ilmu. Suatu hari, beliau bersama sahabat-sahabatnya sedang melakukan safar. Ketika sudah sampai di tempat tujuan, segera ia menyingkir dari mereka tanpa disadari oleh mereka. Setelah dicari ke sana kemari, rupanya beliau sedang asyik bercengkrama dengan buku.

Pembaca mungkin juga tidak asing dengan sosok ulama kenamaan Ibnu Jauzy. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam menulis buku. Seleranya untuk membaca buku sedemikian tinggi. Ia tidak pernah merasa kenyang dalam menelaah buku. Ketika beliau menjumpai buku yang belum pernah dilihat, maka seolah-olah sedang menemukan harta karun.

Imam besar lain seperti An-Nawawi juga sangat antusias dalam membaca buku. Abu Hasan al-Aththar (salah seorang muridnya) memberi kesaksian bahwa Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya baik beriring penjelasan maupun koreksi.

Bahkan dari figur Syeikh Ibnu Taimiyah pun, pembaca bisa menemukan semangat yang sama dalam membaca buku. Beliau ini dikenal sebagai ulama yang produktif menulis dan cepat. Dikisahkan bahwa untuk menulis bantahan pada orang-orang pakar manthiq (logika) Yunani, beliau selesaikan dari bakda zuhur hingga ashar. Tidak mengherankan karena beliau adalah orang yang suka baca buku.

Ketika ditanya mengenai produktifitasnya dalam menulis buku, adalah karenah beliau tidak pernah terpisah dari menelaah, membaca dan membicarakan ilmu baik ketika sakit maupun bepergian. Ibnu Qayyim dalam buku “Raudhah al-Muhibbin” bercerita bahwa suatu hari Ibnu Taimiyah sakit. Oleh dokter disarankan agar mengurangi kegiatannya dalam bidang keilmuan dan membaca buku karena itu bisa memperparah sakit.

Apa jawaban Ibnu Taimiyan? Katanya, “Aku tak kuat menahan diri dari itu. Sekarang aku tanya berdasarkan keilmuanmu: bukankah kalau jiwa gembira maka berpengaruh positif pada kekuatan tabiat (kesehatannya)?” “Betul,” dokter. “Demikian juga aku. Aku sangat senang dan gembira dengan ilmu, aku merasa kuat dan rileks dengannya,” ujar Ibnu Taimiyah. Kata dokter, “Berarti ini di luar pengotan kami.”

Itulah beberapa contoh yang menunjukkan bahwa ulama sangat antusias dalam membaca buku. Dan itu juga sebagai salah satu jawaban atas produktifitas mereka dalam bidang kepenulisan. Demikianlah para ulama. Mereka bisa produktif menulis dan berbagi ilmu kepada umat karena mereka punya bahannya, yang salah satunya diperoleh dengan rajin membaca buku. Sebab, kalau sekiranya mereka tak punya bahan, bagaimana bisa menulis dan berbagi ilmu. Seperti ungkapan Arab “Fāqidu asy-Syai` lā yu’thīhi” (orang yang tidak punya sesuatu, maka tak mungkin bisa memberi orang lain sesuatu).*/Mahmud Budi Setiawan

HIDAYATULLAH

Tak Ada Ulama Jika Manusia Sempurna

Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling saleh di antara kalian.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.

Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.

Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis zikir (majelis ilmu), semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita.

Bertakwalah kalian semua kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Pada suatu hari beliau rahimahullah pergi menemui murid-muridnya dan mereka tengah berkumpul, maka beliau rahimahullah berkata:

“Demi Allah Azza wa Jalla, sungguh! Andai saja salah seorang dari kalian mendapati salah seorang dari generasi pertama umat ini sebagaimana yang telah aku dapati, serta melihat salah seorang dari Salafus Saleh sebagaimana yang telah aku lihat, niscaya di pagi hari dia dalam keadaan bersedih hati dan pada sore harinya dalam keadaan berduka. Dia pasti mengetahui bahwa orang yang bersungguh-sungguh dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang bermain-main di antara mereka.

Dan seseorang yang rajin dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang suka meninggalkan di antara mereka. Seandainya aku rida terhadap diriku sendiri pastilah aku akan memperingatkan kalian dengannya, akan tetapi Allah Azza wa Jalla Maha Tahu bahwa aku tidak senang terhadapnya, oleh karena itu aku membencinya.” []

(sumber: Mawaizh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri)

 

 

Ustaz, Kyai: Sebutan di Persia, Pakistan, dan Indonesia

Sastrawan dan Guru Besar Falsafah kebudayaan Islam Universitas Paramadina, Prof DR Abdul Hadi WM, mengatakan di banyak wilayah kata ustaz dan kyai sudah akrab dipanggil sebagai sebutan untuk orang yang terhormat. Namun, kalau secara detil dikaji panggian ini unik. Sebab, ternyata tak terbatas kepada sosok pengajar atau orang yang paham secara keagamaan Islam saja, seperti  dalam pemahaman yang lazim di Indonesia.

‘’Bahkan di Persia  pada zaman dahulu (Iran, sekarang) pelukis dan seniman kaligrafi sering dipanggil ustaz. Hal yang sama juga terjadi di Pakistan. Penyanyi dan musikus sufi juga dipanggiil ustaz,’’ kata Abdul Hadi WM, di Jakarta, (21/9).

Bukan hanya itu, lanjut Abdul Hadi, dalam bahasa Inggris kedudukan ustadz sama dengan ‘master’. Mereka di sapa begitu sebagai orang yang melahirkan karya-karya yang bermutu  atau karya ‘masterpice’.

Salah satu contohnya adalah seniman dan penyanyi sangat kondang di Paskitan, yakni Nusrat Fateh Ali Khan. Dia di kalangan orang Pakistan dipanggil ustaz. Apalagi nyanyain Qawali yang dibawakannya, lazim pula atau akrab dikalangam penganut tarikat sufi. Namanya pun akui kalangan musik dunia. Nusrat pernah konser di Wembley, Inggris. Dan pernah berkolaborasi dan mengeluarkan album dengan dedengkot musik Genesis, Peter Gabriel.

“Seniman musik di Pakistan memanggil master Nusrat atau ustaz. Selain itu mereka yang dipanggil ustaz di negara lain juga melahirkan beberapa karya gemilang cabang ilmu agama seperti tasawuf, ilmu kalam, dan falsafah. Di Persia misalnya ada pelukis yang dipanggil ustaz, yakni Ustadz Bihzad,’’ ujarnya.

Khusus di Indonesia, kata Abdul Hadi, beberapa orang yang pengetahuan agamanya sebenarnya belum sekeranjang penuh, karena sering tampil layar TV dan publik, sering dengan mudahnya dipanggil pula ustaz. “Padahal pengetahuan mereka hanya secuil, misalnya dibandingkan pengetahuan ustadz Abdul Somad atau KH Mustiafa Bisri,’’ katanya.

Bagaimana dengan sebutan kiai yang populer dan lazim di Indonesia? Abdul Hadi menjawab itu merupakan panggilan kultural. Dalam budaya Jawa sebutan kyai tersebut adalah untuk menyebut sosok yang dihormati atau dimuliakan. Dan peruntukan panggilan itu biasa disematkan kepada manusia, hewan (ada kerbau kyai Slamet), keris (kyai Sengkelat), tempat (kyai Merapi), gamelan (kyai guntur madu), dan lainnya.

“Jadi kyai panggilan kultural tak sebatas hanya dalam kaitannya dengan agama (fiqh) semata. Di Indonesia juga ada sebutan yang sejenis dengan kyai, yakni Jawa Barat  (budaya Sunda) ada panggilan ajengan. Di Sumatra Barat (budaya Minangkabau) ada panggilan buya),’’ tegasnya.

 

REPUBLIKA