Cerdas dan Bahagia Bersama Ulama

ULAMA kehidupan umat Islam seperti rembulan di tengah gelap gulita. Sosoknya yang merupakan pewaris Nabi memiliki kedudukan istimewa di tengah-tengah hati kaum Muslimin.

Natsir dalam Capita Selecta menulis, “Bagi mereka, fatwa seorang alim yang mereka percayai berarti satu “kata-keputusan” yang tak dapaat dan tak perlu dibanding lagi. Seringkali telah terbukti, bagaimana susahnya bagi pemerintah negeri menjalankan satu urusan, bilamana tidak disetujui oleh ali-ulama di daerah yang bersangkutan” (halaman: 187).

Demikianlah sikap ideal yang telah berabad-abad lamanya dijaga dan dipelihara oleh kaum Muslimin, termasuk di era kekinian alias zaman now, umat Islam tetap setia, membela dan mencintai ulama-ulama mereka.

Di dalam al-Qur’an kata ulama setidaknya disebut dua kali.

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاء بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 197).

Al-Qurtubi berpendapat bahwa yang dimaksud ulama pada ayat tersebut adalah orang-orang berilmu dari kalangan mereka yang paling tahu dan paham isis kitab-kitab suci.

Kemudian pada Surah Al-Fathir ayat ke 38. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

Makna dan maksudnya jelas, bahwa yang takut kepada Allah itu hanyalah para ulama, karena merekalah yang kenal Allah dan benar-benar mengesakan-Nya. Dalam kata yang lain, sebanyak apapun ilmu seseoerang jika tidak takut kepada Allah, maka jelas, bukan ulama.

Imam Ghazali berkata, “tidak semua orang berilmu layak menyandang gelar ulama. Hal ini karena, keulamaan bukan semata-mata soal pengetahuan atau kepakaran, akan tetapi soal ketakwaan dan kedekatan kepada Tuhan. Ulama sejati adalah mereka yang tidak hanya dalam dan luas ilmunya akan tetapi tinggi rasa takutnya kepada Allah dan bersih dari bayangan palsu (igthirar alias ghurur) mengenai dirinya” (Islam dan Diabolisme Intelektual, halaman: 23).

Takut kepada Allah maksudnya apa? Menurut Sa’id ibn Jubayr sebagaimana dikutip dalam buku Islam dan Diabolisme intelektual, takut dalam ayat tersebut berarti sesuatu yang menghalangi kita dari perbuatan dosa, maksiat atau durhaka kepada Allah.

Maka, terang di sini tidak ada sumber kebahagiaan dan kedamaian hidup ini selain dekat dan patuh kepada ulama. Di samping hidup dan membersamai ulama akan menjadikan kapasitas intelektual kita (kecerdasan) terus meningkat.

Bagaimana tidak akan meningkat kecerdasan, sedangkan para ulama selalu mampu menghubungkan makna dengan tantangan hidup keumatan yang sedang dan akan terjadi. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan, karena kata Nabi, ulama adalah pewaris para Nabi.

Di sinilah kedudukan ulama tidak bisa dipandang laksana jabatan pada umumnya. M. Natsir menegaskan hal ini dalam bukunya Capita Selecta yang juga menjawab mengapa seorang ulama tiba-tiba begitu dicintai oleh umat Islam.

“Ulama bukanlah pemimpin yang dipilih dengn “suara terbanyak” bukan yang diangkat oleh “persidangan kongres.” Akan tetapi kedudukan mereka dalam hati rakyat yang mereka pimpin, jauh lebih teguh dan suci dari pemimpin pergerakan yang berorganisasi atau pegawai pemerintah yang manapun juga” (halaman: 188).

Selain itu, dalam konteks kesejaharahan, jauh sebelum Indonesia ini mewujud, peran strategis para ulama sangatlah tak terbantahkan kontribusinya.

Siapa yang dapat mengobarkan semangat jihad melawan penjajah Portugis, Belanda dan Jepang, jika bukan para ulama. Dari Aceh hingga Papua, berderet kesultanan-kesultanan Islam yang raja-raja itu tidak mengambil keputusan melainkan setelah mendapatkan saran dan nasehat dari para ulama.

Oleh karena itu penting dan sangat menarik generasi Muslim hari ini mengenal siapa ulama sesungguhnya.

Natsir memberikan rekomendasi dalam hal ini, “Berkenalanlah dengan kiai-kiai dan berhubunganlah dengan mereka. Mereka itu berikhtiar menujukan fikiran rakyat ke arah alam ruhani; suatu bangsa tak kan hidup, bila kehidupan ruhaninya tidak terpimpin. Mereka menyuruh mengerjakan yang baik dan menjauhi barang ang mungkar. Dan bukankah yang demikian itu pekerjaan tuan-tuan juga adanya?” (halaman: 193).

Dalam konteks zaman now, untuk bisa dekat dengan ulama tidak terlalu sulit, media internet memberikan kemudahan untuk kita semakin cerdas dan bahagia bersama ulama.

Jika telah memiliki smartphone lengkap dengan kuota internet, maka gunakanlah sebagian besar kuota yang ada itu untuk membaca, memperhatikan ceramah atau taushiyah-taushiyah para ulama kita.

Sekalipun tentu jangan puas dan merasa cukup dengan mendekat kepada ulama melalui internet. Tetapi juga harus hadir ke masjid, majelis-majelis mereka, sebab bersialturrahim di dalam masjid atau dimana ada ulama kita melakukan taushiyah atau tabligh sangat berbeda dengan sebatas menyaksikan di dunia maya.

Beruntunglah umat Islam Indonesia, karena zaman now masih ada ulama yang konsisten menjadikan dakwah-dakwah mereka mudah diakses di dunia maya, sehingga syiar kebenaran dapat dengan mudah kita dapatkan.

Dengan demikian, dekatlah dengan ulama dengan cara yang bisa kita lakukan dan teruslah untuk selalu bersama para ulama. Karena sedetik meninggalkan mereka, jutaan hikmah dan kebaikan kita lewatkan dalam kehidupan kita.

Terlebih seorang ulama, kata Dr. Syamsuddin Arif, bukan semata orang yang berkualitas spiritual, mental dan intelektualnya, tetapi juga sosok yang paling terdepan memikirkan nasib bangsa dan negara. “Para ulama sadar betul akan tugas mereka sebagai penuntun dan pembela umat.”

Jadi, mari terus bersama cintai dan bela ulama kita. Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi memang demi keutuhan NKRI dan terawatnya nalar sehat kita semua sebagai umat Islam, penduduk mayoritas negeri ini. Wallahu a’lam.*

 

HIDAYATULLAH

Kebesaran Jiwa Ulama dalam Mengakui Kesalahan

“Setiap manusia sangat rentan bersalah,  dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang tekun bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).” Demikian Anas bin Malik mengawali hadits yang pernah ia dengar langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam mengenai kesalahan.

Masalah yang terlihat biasa ini bagi kebanyakan orang, akan begitu terasa sukar jika yang mengalaminya adalah orang yang sudah terlanjur di-ulama-kan, dijunjung tinggi ketokohannya, atau barangkali menempati posisi-posisi penting di hati masyarakat. Ketika mereka bersalah, mampukah hawa-nafsu ditaklukkan untuk mengakui kesalahan? Berikut ini, adalah contoh dari ulama-ulama berjiwa besar yang mau mengakui kesalahannya.

Ada seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dari suku Syamkh. Pasca nikah, dia tertarik dengan ibunya. Ia pun mendatangi Ibnu Mas’ud seraya bertanya, “Aku telah menikahi seorang perempuan, kemudian aku tertarik pada ibunya. Aku belum menggaulinya, bolehkah aku ceraikan dia lalu aku menikahi ibunya?” “Boleh,” jawabnya. Akhirnya ia pun menceraikannya dan menikahi ibunya.

Saat Abdullah bin Mas’ud datang ke Madinah, ia bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terkait masalah ini. Mereka menjawab, “Tidak sah.” Kemudian ia pun mendatangi suku bani Syamkh, lalu bertanya, “Di mana orang yang menikahi ibu perempuan yang pernah dinikahinya?” “Di sini,” jawab mereka. Ibnu Mas’ud dengan tegas menandaskan, “Ceraikanlah dia!” “Bagaimana mungkin, dia sudah hamil?” tanya mereka. “Meski demikian, ceraikanlah dia. Sesungguhnya itu diharamkan Allah subhanahu wata’ala.” (Sa’id bin Manshur, Sunan Sa’id bin Manshur, bab: al-farā`idh, 1/234).

Imam Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (V/321) menceritakan bahwa Makhlad bin Khufāf membeli budak kemudian dimanfaatkan. Dalam perjalan waktu, dia menemukan aib pada budak itu. Akhirnya masalah ini diadukan kepada Umar bin Abdul Aziz. Beliau pun memutuskan, Makhlad wajib mengembalikannya dan membayar biaya pemanfaatannya. Makhlad pun bertanya pada  ‘Urwah mengenai masalah ini.  Ia pun menyebutkan riwayat ‘Aisyah mengenai kasus seperti ini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan si penjuallah yang harus membayar jaminan. Saat Umar diingatkan Makhlad, beliau berkomentar, “Aku anulir keputusanku, dan akan kulaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Imam Ibnu Jauzi menyatakan bahwa, ‘Dalam sejarah ulama salaf ada orang yang jika dia mengetahui dirinya salah, maka dia tidak akan tenang sebelum menyampaikan kesalahannya dan memberitahu orang yang diberi fatwa.’ (Ta’dhīmu al-Futya, hal: 91). Masih dalam kitab yang sama, Ibnu Jauzi menceritakan bahwa Hasan bin Ziyad al-Lu`lu`i dimintai fatwa pada suatu masalah, kemudian dia salah. Pada waktu itu dia tidak kenal pada orang yang meminta fatwa. Ia pun menyewa orang untuk mengumumkan bahwa Hasan bin Ziyad telah diminta fatwa pada hari demikian, kemudian salah. Beliau pun mengumumkan, “Siapa saja yang memberi fatwa demikian, maka segera dicabut!”. Setelah beberapa hari akhirnya beliau bertemu dengan orang yang meminta fatwa lalu memberitahunya bahwa fatwanya salah. (hal: 92).

Saat Syekh Izzuddin al-Hikari pernah berfatwa mengenai suatu permasalahan, kemudian dia baru mengetahui bahwa fatwanya salah. Ia pun mengumumkan dengan keras  di depan khalayak di Kairo, Mesir, “Barangsiapa mendengar fatwa demikian, maka jangan diamalkan, karena itu salah.” (Imam Subki, Thabaqāt al-Syāfi’iyyah, VIII/214).

Lebih dari itu, Syekh Abu al-Fadhl al-Jauhari sampai mengumumkannya kesalahannya di atas mimbar setelah diingatkan oleh Muhammad bin Qasim al-‘Utsmani mengenai masalah talaq, dhihar [mengatakan pada istri, kamu seperti punggung ibuku, sebagai tanda talaq di zaman jahiliyah) dan ila [suami bersumpah tidak mencampuri istrinya]. Karena dia telah berpendapat bahwa nabi pernah melakukan ketiganya sekaligus, padahal nabi tidak pernah dzihar(Ibnu ‘Arabi, Ahkāmu al-Qur’an, I/249).

Itu beberapa contoh dari ulama luar negeri. Di dalam negeri pun ada banyak contoh yang bisa diteladani. Misalnya, Pangeran Diponegoro.  Di samping dikenal sebagai ulama yang jantan di medan tempur, ternyata beliau juga tidak malu mengakui kesalahan jika memang melakukannya. (H.M. Nasruddin Anshoriy, ‘Bangsa Inlander’ Potret Kolonialisme di Bumi Nusantara,128).

Kisah A Hassan

Adalah cerita tentang kebesaran jiwa Ahmad Hassan. Ada kisah menarik dari ulama yang dikenal sebagai “Guru Utama Persis” ini. Alkisah, seorang dari Sumedang Jawa Barat bernama H. Ali Muhammad Siraj pernah mengunjungi A. Hassan ketika berada di Banyuwangi. Dalam kunjungan tersebut ia selalu membawa sepeda untuk mempermudah perjalanan keliling kota atau di kampung-kampung.

Selanjutnya ia mengisahkan perjalanannya dengan A. Hassan. Di pinggir ban sepeda itu tertulis kata-kata “inflate hard“. Tuan Hassan menanyakan apa arti kata-kata itu. Saya menjawab, “Pompalah keras-keras, maksudnya supaya ban lebih awet dipakainya dan tak mudah kempes,” jawab saya. “Bukan itu arti kalimat tersebut. Artinya ialah ban ini dibikin sangat teratur, tak usah khawatir,” jawab beliau. Mendengar arti yang diberikan beliau itu, saya tidak membantah, karena saya tahu bahwa Tuan Hassan lebih faham berbahasa Inggris.

Tapi tengah malam, pintu kamar saya diketok beliau dan berseru nama saya berkali-kali. Saya terbangun lalu membukakan pintu. Beliau masuk dan segera mengucapkan minta maaf atas kesalahannya membuat arti kalimat tersebut. Arti itu tidak benar, yang benar ialah arti dari saudara tadi. Mata saya tak mau dipicingkan sejak tadi, karena saya merasa bersalah dan belum minta maaf, “Saya khawatir kalau tidak malam ini juga saya minta maaf, siapa tahu besok kita tak bertemu lagi, karena meninggal salah seorang kita.” (Syafiq A. Mughni, Hassan Bandung, Pemikir Islam Radikal, hal: V dan Tamar Djaja, Riwayat Hidup A. Hassan, hal: 64). Perhatikan bagaimana jawaban A. Hassan. Jawaban ini menunjukkan betapa besar jiwanya untuk mengakui kesalahannya.

Dari murid A. Hassan pun ada kisah menarik mengenai pengakuan kesalahan. Dikisahkan bahwa di waktu anak kedua M. Natsir akan lahir -mereka lima orang bersaudara- Natsir diperkarakan orang yang punya gedung sekolah, sebab sudah banyak menunggak sewa. Sudah tentu Natsir mengaku salah. Memang hutang belum terbayar. (Muhammad Natsir 70 Tahun: Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, hal: 38). Demikian besarnya jiwa Natsir sehingga beliau tidak gengsi mengakui kesalahannya.

Masih dalam masalah mengakui kesalahan, ada kata bijak dari Buya Hamka. Terkait masalah ini, beliau pernah berujar, “Berterus terang adalah sikap pahlawan, tetapi berani mengakui kesalahan lebih ksatria.” (Personal Quality Management, E. Widijo Hari Murdoko, hal: 165). Tepat sekali pernyataan beliau, orang yang berani mengakui kesalahannya adalah ksatria.

Demikianlah beberapa contoh yang menunjukkan bahwa ulama memiliki jiwa besar dan lapang, sehingga ketika melakukan kesalahan, mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Mereka melakukan demikian karena terinspirasi dari Rasulullah yang tak sungkan mengaku salah dalam hal pengawinan kurma dengan mengucapkan, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam bis shawab.*/Mahmud Budi Setiawan

 

sumber: Hidayatullah

Semakin Alim Semakin Tahu Ada yang Lebih Alim

ADA orang yang hanya mendengarkan setengah dari suatu pembicaraan, paham seperempatnya, namun berani berbicara tentangnya berkali lipat panjangnya dibandingkan dengan sang pembicara asli. Janganlah kita menjadi orang seperti ini dan berhati-hatilah dengan orang yang seperti ini.

Ada orang yang baru saja mulai belajar agama, tak sampai sepersepuluhnya yang dipelajarinya, seperduapuluh yang dipahaminya, tapi bicaranya panjang lebar sambil ngotot meyakinkan bahwa hanya dirinya yang benar dan yang lain salah.

Yang paling unik adalah bahwa ulama-ulama besar yang ilmu dan amalnya diakui hebat oleh dunia Islam disesatkannya pula oleh orang yang baru belajar ini. Janganlah kita menjadi orang seperti ini dan hati-hatilah dengan orang seperti ini.

Semakin alim seseorang, semakin dia tahu bahwa ada yang lebih alim dari dirinya. Tak pernah diciptakan manusia yang dalam dirinya terkumpul semua ilmu, karenanya manusia harus hidup saling mengisi, saling berhubungan dan saling membantu.

Kita perlu membaca orang-orang alim pada masa lalu, begitu baiknya akhlak mereka, ketawadlu’an mereka, tak malu untuk mengatakan tak tahu pada masalah yang memang beliau tidak tahu.

Menurut suatu riwayat, Imam Malik tidak berkenan memberikan fatwa hukum tentang suatu hal sebelum ada tujuh puluh orang yang memberikan kesaksian bahwa beliau memang memiliki keahlian dan hak fatwa pada hal yang dimintakan fatwa itu. Tak gampang mengatakan halal dan haram, iman dan kafir, sesat dan tidak sesat. Berhati-hatilah dalam berfatwa.

Berfatwa itu bagaikan menjahit; mufti itu penjahit, fatwanya adalah jarum jahitnya. Kalau benar dan baik penuh ketelitian dan kehati-hatian, maka hasil jahitannya akan bagus. Kalau tidak hati-hati, tidak teliti, dan tidak ahli, maka bukan hanya hasilnya rusak melainkan jarumnya bisa menyakiti dirinya sendiri. Salam, AIM. [*]

 

 

sumber: Mozaik Inilah.com

Ulama Sebagai Pewaris Para Nabi

Islam memberi penghormatan terhadap ilmu dan ulama. Betapa tidak, ulama menempati posisi yang strategis dalam Islam. Agama Islam menempatkan para ulama sebagai pewaris para nabi. Sehingga, pendapat dan buah pemikiran ulama merupakan referensi hukum yang patut dijalankan.

Bahkan, sebuah pendapat mengatakan bahwa para ulama wajib ditaati sepeninggal Rasulullah. Pendapat itu sebagaimana dikemukakan oleh Mujahid. Menurut Mujahid, pendapat tersebut mengacu pada firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS an-Nisa [4]: 59).

Bagi Mujahid, arti ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah para ulama dan ahli fikih. Akan tetapi, tidak semua ulama termasuk kategori yang dimaksud. Sebagai manusia biasa, para ulama tak luput dari kekhilafan selama hidup mereka.

Kitab Akhlaq al-Ulama’ karya Abu Bakar Muhammad bin al-Husain bin Abdullah al-Ajurri (360 H) hadir untuk memenuhi dahaga umat akan sebuah kitab yang secara khusus mengupas segala yang berkaitan dengan etika, ilmu, dan hal ihwal seorang alim mesti berakhlak

Ikhtiar yang dilakukan al-Ajurri tergolong langka. Pada masanya, kitab yang berfokus membahas persoalan serupa belum pernah ditulis. Sekalipun terdapat kitab-kitab raqaiqdan akhlak, tetapi uraiannya masih terpencar di berbagai kitab ummahat al-kutub, referensi-referensi utama.

Pada dasarnya, corak yang diterapkan tidak begitu asing lantaran menggunakan metode yang akrab dipakai di kalangan ahli hadis. Al-Ajurri menukil hadis-hadis yang berkenaan dengan topik yang dibahas. Banyak hal yang ingin disampaikan al-Ajurri.

Melalui kitabnya tersebut, al-Ajurri hendak memaparkan landasan filosofis peran dan posisi yang ditautkan kepada ulama, beberapa keutamaan baik di dunia maupun di akhirat turut pula disertakan oleh al-Ajurri. Selebihnya, berbagai ulasan yang disampaikannya menitikberatkan pada sisi terpenting yang lazim dimiliki ulama, yaitu aspek moralitas. Dengan aspek inilah terlihat jelas perbedaan antara alim dan orang awam.

Dalam pandangan al-Ajurri, ulama bukanlah orang yang sekadar menguasai ilmu syariat dengan berbagai variannya. Tetapi, lebih dari itu, kriteria ulama adalah figur yang bisa menjadi rujukan pelbagai persoalan umat. Beragam persoalan yang harus dijawab ulama tidak terbatas pada problematika hukum agama, yang tak kalah penting menyangkut etika yang penting diteladankan sang ulama.

Sisi moralitas inilah yang bisa menempatkan ulama sebagai panutan yang layak diteladani. Tanpa itu, ulama tak ubahnya termasuk dalam kategori manusia biasa lainnya. Sedangkan, inti dari moralitas seorang ulama adalah frekuensi dan tingkat ketakwaannya kepada Allah. Konsistensi dan komitmennya melaksanakan setiap perintah dan menjauhi larangan diletakkan sebagai barometer derajat yang dimiliki.

Seorang ulama tak akan tergiur dengan nafsu duniawi. Fokus yang ada di hadapannya tak lain ialah rasa takut yang mendalam kepada Allah. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Faathir [35]: 27).

Sejatinya, umat harus bertindak atas dasar perkataan ulama. Sebab, ulama pemegang estafet risalah. “Ulama adalah lentera umat, mercusuar negara, dan sumber hikmah,” tulis al-Ajurri dalam mukadimah kitabnya.

Menurut al-Ajurri, selama aspek etika dan moralitas bisa dipenuhi oleh ulama, maka dari sisi inilah Allah mengangkat derajat meraka. Allah menganugerahkan penghormatan kepada ulama yang berhasil memadukan kedua aspek sekaligus, yaitu integritas ilmu dan moral.

Apresiasi terhadap ulama secara tegas disampaikan Allah dalam firman-Nya. “Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.’ Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS al-Mujadilah [58]: 11).

 

sumber: republika Online

Kisah Ulama yang Berpura-pura Jadi Pengemis

Pakaiannya compang-camping, lusuh, kusam. Ia berjalan dengan bantuan tongkat dan berpura-pura pincang. Rambut dan jenggotnya dibuat semrawut. Dengan tampang meyakinkan, tak akan ada seorang pun yang tahu bahwa ia adalah pengemis palsu. Benar, tak ada satu pun warga yang menguak identitas aslinya. Ia merupakan seorang ulama dari Andalusia (saat ini Spanyol dan negara sekitar), Imam Baqi bin Mikhlad.

Saat itu ia ingin sekali belajar pada salah satu imam empat, Imam Ahmad. Ia pun berangkat dari Eropa, menyeberangi Laut Tengah menuju Afrika, kemudian melanjutkan perjalanan panjang ke Baghdad, Irak, tempat tinggal Imam Ahmad. Tanpa kendaraan, Baqiyang saat itu masih berstatus penuntut ilmu menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Hanya satu tujuannya, berguru pada sang imam.

Namun, Baqi mendengar kabar mengejutkan begitu tiba di Baghdad. Khalifah yang berkuasa saat itu jauh dari jalan Islam yang hanif. Imam Ahmad yang vokal pada kebenaran pun bereaksi menasihati khalifah. Namun, sang imam yang sangat mengagungkan Alqurandan sunah justru difitnah hingga dikucilkan. Ia juga dilarang mengajar ataupun mengumpulkan para penuntut ilmu. Imam Ahmad dianggap menentang paham yang dianut kekhalifahan. Sedihlah hati Baqimendengar kondisi Imam Ahmad, guru yang diharapkannya memberikan ilmu barang satu ayat.

****

Kendati demikian, Baqi tetap mencari rumah Imam Ahmad. Tekadnya untuk berguru telah bulat. Ia pun melangkahkan kaki ke rumah sang imam. Saat mengetuk pintu, ternyata Imam Ahmadlah yang membukakannya. “Wahai Abu Abdullah, saya seorang yang datang dari jauh, pencari hadis dan penulis sunah. Saya datang ke sini pun untuk melakukan itu,” ujar Baqi antusias.

“Anda dari mana?” tanya Imam Ahmad.
“Dari Maghrib al-Aqsa,” jawab Baaqi.
Imam Ahmad pun menebak, “Dari Afrika?”

“Lebih jauh dari Afrika. Untuk menuju Afrika saya melewati laut dari negeri saya,” jawab Baqi.

Imam pun kaget mendengarnya, “Negeri asalmu begitu jauh. Aku sangat senang jika dapat memenuhi keinginanmu dan mengajar apa yang kamu inginkan. Akan tetapi, saat ini saya tengah difitnah dan dilarang mengajar,” jawab Imam Ahmad.

****

Tak putus asa mendengarnya, Keinginan Baqi untuk berguru pada Imam Ahmad tak mampu dibendung. Ia pun menawarkan berpura-pura menjadi pengemis. “Saya tahu Anda tengah difitnah dan dilarang mengajar wahai Abu Abdillah, akan tetapi tak ada yang mengenal saya di sini, saya sangat asing di tempat ini. Jika Anda mengizinkan, saya akan mendatangi rumah Anda setiap hari dengan mengenakan pekaian pengemis. Saya akan berpura-pura meminta sedekah dan bantuan Anda setiap hari. Maka wahai Abu Abdillah, masukkanlah saya ke rumah dan berilah saya pengajaran meski hanya satu hadis,” pinta Baqi berbinar.

Melihat tekadnya yang begitu bulat dan amat giat menuntut ilmu,Imam Ahmad pun menyanggupi. Namun, ia meminta syarat agarBaqi tak mendatangi tempat kajian hadis ulama selain Imam Ahmad. Hal tersebut dimaksudkan agar Baqi tak dikenal sebagai penuntut ilmu. Statusnya sebagai penuntut ilmu sementara dirahasiakan.

Mendengar kesanggupan sang Imam, Baqi pun begitu bahagia. Ia segera menyanggupi persyaratan itu. Hati Baqi saat itu benar-benar dipenuhi bunga-bunga mekar nan indah. Keesokan hari, Baqi pun mulai ‘beraksi’. Ia mengambil sebuah tongkat, membalut kepala dengan kain, dan pernak-pernik pengemis lain. Sementara itu, sebuah buku dan alat tulis berada di balik baju samarannya itu.

Ketika berada di depan pintu Imam Ahmad, Baqi dengan nada melas akan berkata, “Bersedekahlah kepada orang miskin agar mendapat balasan pahala dari Allah,” ujarnya. Jika mendengarnya, Imam Ahmadsegera membukakan pintu dan memasukkan Baqi ke dalam rumahnya. Di dalam rumah, dimulailah proses pengajaran ilmu yang amat diberkahi Allah itu. Demikian aktivitas itu dilakukan setiap hari oleh Baqi dan sang guru. Dari proses belajar diam-diam itu, Baqimampu mengumpulkan 300 hadis dari Imam Ahmad.

****

Hingga kemudian jabatan kekhalifahan berganti. Seorang Suni yang fakih beragama, al-Mutawakkil, naik menjabat sebagai khalifah. Sejak itu, sunah pun dibumikan kembali, bid’ah peninggalan khalifah sebelumnya segera dihapuskan. Imam Ahmad pun kembali menjadi ulama Muslimin. Kajiannya dibuka, para penuntut ilmu berbondong-bondong datang.

Sejak itu, kedudukan Imam Ahmad makin tinggi dan terkenal. Jumlah muridnya sangat banyak. Jika ia membuka majelis kemudian melihatBaqi, maka Imam Ahmad segera memanggil Baqi dengan gembira. Imam Ahmad akan meminta Baqi untuk duduk di samping beliau. “Inilah orang yang benar-benar menyandang gelar penuntut ilmu,” ujar Imam Ahmad kepada para muridnya. Sang Imam pun mengisahkan pengalaman Baqi yang menyamar menjadi pengemis demi mendengar satu hadis. Baqi pun kemudian menjadi murid dekat Imam Ahmad. Ia di kemudian hari menjadi ulama terkenal dari kawasan Andalusia.

Kisah tersebut nyata terjadi dan ditulis dalam biografi Imam Baqi bin Miklad al-Andalusi. Dari kisah tersebut, tampak jelas kegigihan beliau dalam menuntut ilmu. Kegigihan inilah yang patut dicontoh Muslimin, terutama para pemuda. Apalagi menuntut ilmu dalam Islam itu hukumnya wajib. Rasulullah juga pernah bersabda, “Barang siapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim).

 

Oleh Afriza Hanifa

sumber: Republika Online