Tak Ada Ulama Jika Manusia Sempurna

Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling saleh di antara kalian.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.

Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.

Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis zikir (majelis ilmu), semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita.

Bertakwalah kalian semua kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Pada suatu hari beliau rahimahullah pergi menemui murid-muridnya dan mereka tengah berkumpul, maka beliau rahimahullah berkata:

“Demi Allah Azza wa Jalla, sungguh! Andai saja salah seorang dari kalian mendapati salah seorang dari generasi pertama umat ini sebagaimana yang telah aku dapati, serta melihat salah seorang dari Salafus Saleh sebagaimana yang telah aku lihat, niscaya di pagi hari dia dalam keadaan bersedih hati dan pada sore harinya dalam keadaan berduka. Dia pasti mengetahui bahwa orang yang bersungguh-sungguh dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang bermain-main di antara mereka.

Dan seseorang yang rajin dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang suka meninggalkan di antara mereka. Seandainya aku rida terhadap diriku sendiri pastilah aku akan memperingatkan kalian dengannya, akan tetapi Allah Azza wa Jalla Maha Tahu bahwa aku tidak senang terhadapnya, oleh karena itu aku membencinya.” []

(sumber: Mawaizh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri)

 

 

Ustaz, Kyai: Sebutan di Persia, Pakistan, dan Indonesia

Sastrawan dan Guru Besar Falsafah kebudayaan Islam Universitas Paramadina, Prof DR Abdul Hadi WM, mengatakan di banyak wilayah kata ustaz dan kyai sudah akrab dipanggil sebagai sebutan untuk orang yang terhormat. Namun, kalau secara detil dikaji panggian ini unik. Sebab, ternyata tak terbatas kepada sosok pengajar atau orang yang paham secara keagamaan Islam saja, seperti  dalam pemahaman yang lazim di Indonesia.

‘’Bahkan di Persia  pada zaman dahulu (Iran, sekarang) pelukis dan seniman kaligrafi sering dipanggil ustaz. Hal yang sama juga terjadi di Pakistan. Penyanyi dan musikus sufi juga dipanggiil ustaz,’’ kata Abdul Hadi WM, di Jakarta, (21/9).

Bukan hanya itu, lanjut Abdul Hadi, dalam bahasa Inggris kedudukan ustadz sama dengan ‘master’. Mereka di sapa begitu sebagai orang yang melahirkan karya-karya yang bermutu  atau karya ‘masterpice’.

Salah satu contohnya adalah seniman dan penyanyi sangat kondang di Paskitan, yakni Nusrat Fateh Ali Khan. Dia di kalangan orang Pakistan dipanggil ustaz. Apalagi nyanyain Qawali yang dibawakannya, lazim pula atau akrab dikalangam penganut tarikat sufi. Namanya pun akui kalangan musik dunia. Nusrat pernah konser di Wembley, Inggris. Dan pernah berkolaborasi dan mengeluarkan album dengan dedengkot musik Genesis, Peter Gabriel.

“Seniman musik di Pakistan memanggil master Nusrat atau ustaz. Selain itu mereka yang dipanggil ustaz di negara lain juga melahirkan beberapa karya gemilang cabang ilmu agama seperti tasawuf, ilmu kalam, dan falsafah. Di Persia misalnya ada pelukis yang dipanggil ustaz, yakni Ustadz Bihzad,’’ ujarnya.

Khusus di Indonesia, kata Abdul Hadi, beberapa orang yang pengetahuan agamanya sebenarnya belum sekeranjang penuh, karena sering tampil layar TV dan publik, sering dengan mudahnya dipanggil pula ustaz. “Padahal pengetahuan mereka hanya secuil, misalnya dibandingkan pengetahuan ustadz Abdul Somad atau KH Mustiafa Bisri,’’ katanya.

Bagaimana dengan sebutan kiai yang populer dan lazim di Indonesia? Abdul Hadi menjawab itu merupakan panggilan kultural. Dalam budaya Jawa sebutan kyai tersebut adalah untuk menyebut sosok yang dihormati atau dimuliakan. Dan peruntukan panggilan itu biasa disematkan kepada manusia, hewan (ada kerbau kyai Slamet), keris (kyai Sengkelat), tempat (kyai Merapi), gamelan (kyai guntur madu), dan lainnya.

“Jadi kyai panggilan kultural tak sebatas hanya dalam kaitannya dengan agama (fiqh) semata. Di Indonesia juga ada sebutan yang sejenis dengan kyai, yakni Jawa Barat  (budaya Sunda) ada panggilan ajengan. Di Sumatra Barat (budaya Minangkabau) ada panggilan buya),’’ tegasnya.

 

REPUBLIKA

Godaan Para Dai

Dai juga seorang manusia. Dia bisa saja tergelincir, tergoda rayuan materi dunia dan popularitas semu. Tak luput dia diuji kesabarannya dengan polah tingkah objek dakwah. Tak jarang juga dia diancam nyawanya. Godaan dan tantangan tersebut harus dilewati dai dengan baik.

Ustaz muda asal Bandung Erick Yusuf mengaku tak luput dari godaan kala berdakwah. Pria yang akrab disapa Kang Erick ini mengaku godaan terbesarnya adalah ditawari mendirikan pesantren.

Ia kerap dibujuk sebuah aliran dengan dana melimpah untuk bisa mendirikan pesantren. “Tapi, dengan syarat saya berdakwah jika aliran tersebut tidak sesat dan bagian dari Islam,” ungkap Kang Erick. Bersyukur, kata Kang Erick, ia masih diberi kekuatan untuk menolak tawaran itu.

Godaan lain yang ia rasakan adalah kala mendengarkan curahan hati seorang akhwat. Sebagai dai muda, tak sedikit jamaah akhwat yang merasa nyaman kala menceritakan masalahnya kepada pemrakarsa iHAQi itu.

Kadang, ia merasa setan menggodanya kala ada akhwat yang sedang meminta nasihat agama kepadanya. Buru-buru jika bisikan itu datang, Kang Erick mengucap istighfar.

Kang Erick berbagi tips, untuk mempertahankan diri dari godaan-godaan tersebut, ia memperbanyak zikir. “Dan, memperbanyak ibadah sunah,” ujarnya.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI KH Tengku Zulkarnaen menjelaskan banyak godaan yang bisa menjebak para dai. Banyak dai yang populer, baik di media televisi maupun cetak, yang terkena penyakit sombong. Mereka lebih banyak berdakwah, tetapi lupa untuk kembali mengasah ilmu agamanya.

Mereka yang populer merasa bangga ketika jamaah yang duduk di taklimnya tumpah ruah. Namun, sangat kecewa, bahkan tersinggung jika yang datang padanya hanya satu dua orang. Padahal, tidak berbeda antara jamaah yang sedikit atau banyak. Hal terpenting adalah esensi dari dakwah itu sendiri.

Begitu juga dengan harta dunia yang didapatkan berkat kepopulerannya. Mereka yang merasakan manisnya amplop hasil ceramah lupa diri bahwa berdakwah bukanlah profesi.

“Bahkan, harga diri dai terluka ketika tanpa malu-malu menyindir jumlah amplop yang diterima banyak atau sedikit,” ujarnya.

Menurutnya, uang hasil ceramah yang diterima hukumnya makruh jika diterima cukup dengan kebutuhan makan. Namun, akan menjadi haram jika apa yang didapatkan melebihi kebutuhan makan.

Seharusnya, dai yang memiliki mobil mewah bermiliar-miliar dari hasil ceramah introspeksi diri. Pada saat jamaah mereka mengumpulkan uang tersebut dari hasil ketuk pintu rumah ke rumah.

Ustaz Tengku menyarankan seharusnya dai memiliki pekerjaan lain sehingga tidak menggantungkan dari amplop ceramah. Untuk menjaga diri, Ustaz Tengku menekankan dai harus membekali diri dengan doa dan ibadah malam.

Doa tidak hanya berdampak positif bagi diri sendiri, tetapi juga agar apa yang disampaikan berpengaruh pada bergetarnya hati objek dakwah.

Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Ihya Qalbun Salim di Ciputat, Dr Rusli Hasbi Lc MA, mengatakan berdakwah itu memiliki tiga tujuan. Tujuan tersebut, di antaranya mengajak orang berbuat baik, mengamalkan ibadah, dan memperkenalkan Islam.

Seorang dai harus paham benar dengan Islam, bukan orang yang baru belajar. “Bukan dai jika hanya pintar bicara tanpa mengamalkannya,” ujarnya.

Kepopuleran merupakan godaan dai saat ini. Jangan sampai seorang dai tidak tepat waktu melaksanakan shalat lima waktu karena harus shooting atau lelah karena terlalu sering berdakwah.

Menurut Dosen Fiqih UIN Syarif Hidayatullah ini, jika terlalu menggadaikan idealisme, dai bisa terjebak dalam kebutuhan industri semata. “Banyak dai yang berdakwah hanya untuk ketertarikan penonton dan menaikkan rating,” ujarnya.

Padahal, seorang dai harus memiliki sikap ikhlas. “Jika ustaz tersebut tidak menarik penonton dan menguntungkan, maka tidak diterima, tetapi jika menguntungkan akan terus dipakai,” ujarnya.

Popularitas saat ini memang penting. Tanpa media berdakwah, pesan dakwah akan berjalan lambat dan tidak tersebar.

Popularitas yang didapatkan dari masyarakat membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan media. Karenanya, media merupakan salah satu cara untuk mempercepat dakwah Islam.

Namun, pihaknya tidak setuju jika berdakwah dijadikan sebagai mata pencaharian. Rasulullah SAW pun dalam berdakwah tidak mendapatkan imbalan.

 

Oleh: Ajeng Retno Tejomukti

REPUBLIKA

Bila Ulama Tergelincir (Bagian-3, habis)

Godaan dunawi bisa menggelapkan mata hati seorang ulama dan berakibat fatal bagi integritas serta moralitasnya.

Tidaklah merusak agama kecuali para pemimpin, ulama, dan pendetanya. (Abdullah bin al-Mubarak, 181 H/797).

Tidak lama kemudian, tiba-tiba keledainya berhenti. Atas izin Sang Khaliq, binatang berkaki empat itu pun berbicara. “Celakalah kamu wahai Bal’am, hendak pergi ke mana kamu?’‘ tanya sang keledai.

Keledai itu bertanya lagi, ”Apakah kamu tidak melihat para malaikat di depanku yang memalingkan wajahnya? Apakah kamu hendak menemui Nabi? Dan, orang-orang mukmin untuk mendoakan dengan sesuatu yang buruk?

Akibat terbelenggu nafsu, Bal’am menghiraukan ucapan keledainya. Ia tetap berjalan menuju Puncak Husban, bahkan dengan cara menyakiti keledainya.

Sesampainya di Puncak Husban, ia berdoa seperti permintaan warga Kan’an agar Musa celaka. Tetapi, justru doa itu, atas seizin Allah, diubah hingga Bal’am malah mendoakan keburukan bagi Kan’an.

Mendengar hal itu, kaum Kan’an kaget. “Hai Bal’am, apa yang kamu lakukan? kamu telah mendoakan dengan sesuatu yang baik kepada mereka dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kami?” kata mereka.

Bal’am sadar doa itu keluar di luar kuasanya. Ia pun akhirnya membuat tipu daya dengan mengumpulkan segenap perempuan agar melakukan perzinahan massal.

Salah satu perempuan itu ialah Kasbi binti Suar, tetapi Nabi Musa AS terjaga dari perbuatan nista tersebut. Peristiwa itu pun terjadi dan mengakibatkan sanksi fisik ataupun nonfisik.

Sanksi fisik ialah penduduk Kan’an sempat terkena wabah kolera yang menewaskan tak kurang dari 70 ribu penduduk ketika itu. Dan, hukuman nonfisik, akibat kemujaraban doa Bal’am, Nabi Musa AS beserta pengikutnya tersesat di Lembah Tin (di sekitar Sinai, Mesir), selama 40 tahun.

Kejadian luar biasa ini pun sontak membuat Musa terheran-heran, apa gerangan penyebabnya. “Bersumber dari doa Bal’am,” jawab Allah kepada Musa.

Musa pun berdoa agar Allah berkenan mencabut keimanan dari hati Bal’am. Doanya dikabulkan, sang ulama yang zalim meninggal dalam kondisi kafir dan lidahnya menjulur seperti anjing.

 

Oleh: Nashih Nashrullah

REPUBLIKA

Bila Ulama Tergelincir (Bagian-2)

Godaan dunawi bisa menggelapkan mata hati seorang ulama dan berakibat fatal bagi integritas serta moralitasnya.

Tidaklah merusak agama kecuali para pemimpin, ulama, dan pendetanya. (Abdullah bin al-Mubarak, 181 H/797).

Usai peristiwa pengenggelaman Firaun di laut, Nabi Musa AS beserta rombongan dari Bani Israel mengembara. Tibalah Musa bersama puluhan ribu pengikutnya di Kan’an, salah satu wilayah di Syam, kini Suriah.

Mendengar kabar itu, penguasa setempat merasa khawatir dan takut peristiwa kekalahan Firaun akan menimpa mereka juga. Informasi kedatangan Musa itu pun memunculkan keresahan yang luar biasa di tengah-tengah masyarakat.

Akhirnya, berdasarkan hasil musyawarah, pemerintah setempat memutuskan untuk meminta bantuan Bal’am agar mengalahkan Musa dengan doanya yang terkenal manjur.

“Engkau adalah orang yang doanya makbul maka doakanlah mereka dengan keburukan,” kata delegasi pemerintah kala menghadap Bal’am.

Semula, masih tersimpan moralitas dan keteguhan iman dalam hati Bal’am. Ia menolak permintaan itu. Bahkan, ia sempat marah dan tidak terima.

Sebab, Bal’am paham betul yang bersama Musa adalah Allah beserta malaikat-Nya dan orang-orang beriman. Bagaimana mungkin Bal’am mendoakan nasib buruk menimpa mereka.

Namun, penguasa tidak tinggal diam, mereka menggunakan segala cara untuk membujuk sang ulama. Termasuk, mempergunakan istri Bal’am untuk memuluskan permohonan aneh tersebut.

Sang raja memberikan materi melimpah kepada istri Bal’am. Bujuk rayu dan tipu daya diupayakan istrinya. Hingga suatu ketika, istrinya mogok untuk melayani kebutuhan sehari-hari Bal’am.

Ini membuatnya bertanya-tanya, apa di balik aksi tak biasa yang dilakukan istrinya tersebut. “Lakukanlah apa yang dipinta raja,” kata sang istri.

Di titik inilah, akhirnya hati Bal’am luluh. Gelimang harta dan rayuan istrinya membuat ia menggadaikan segalanya.

Dengan mengendarai keledai kesayangannya, ia berkendara menuju Gunung Husban, lokasi Musa dan rombongan menetap sementara.

 

Oleh: Nashih Nashrullah

REPUBLIKA

Bila Ulama Tergelincir (Bagian-1)

Godaan dunawi bisa menggelapkan mata hati seorang ulama dan berakibat fatal bagi integritas serta moralitasnya.

Tidaklah merusak agama kecuali para pemimpin, ulama, dan pendetanya. (Abdullah bin al-Mubarak, 181 H/797).

Kisah berikut menggambarkan pentingnya keteladanan ulama bagi para umat. Sebab, seperti bait syair yang ditulis seorang tokoh salaf Abdullah bin al-Mubarak di atas, buah dari penyimpangan yang dilakukan oknum ulama sangat fatal, seperti yang terdapat dalam kisah Bal’am bin Ba’ura.

At-Thabari, dalam kitab tafsirnya mengemukakan, Bal’am merupakan ulama yang terkenal dengan ketakwaannya, ia juga dikenal sebagai ahli ibadah.

Tokoh yang hidup pada masa Nabi Musa itu disebut-sebut berasal dari Yaman. Bal’am memiliki garis keturunan Bani Israil.

Tidak hanya terkenal dengan kesalihannya, Bal’am mendapat anugerah luar biasa dari Sang Khalik. Ia mempunyai kemampuan penglihatan tanpa batas di dua alam sekaligus.

Ia mampu melihat semua ciptaan Allah SWT beserta isinya, termasuk menangkap pergerakan atau wujud dari jin dan malaikat. Kemampuannya itu pun disebut-sebut mampu menembus arsy, tempat Allah mengawasi makhluk-Nya.

Dan, satu lagi, doa Bal’am terkenal manjur dan makbul. Tiap doa yang dipanjatkan tak pernah tertolak. Ini lantaran karunia yang ia terima berupa nama Allah yang agung dan nama tersebut hanya sang ulama yang tahu.

Sayangnya, justru Bal’am tergoda dengan gemerlap duniawi dan akhirnya tergelincir ke lembah kekufuran. Deskripsi secara global cerita tentang Bal’am itu tertuang dalam surah 175-177:

Dan bacakanlah kepada mereka kisah dia yang Kami berikan ayat kami, tapi ia membuangnya. Sehingga, setan mengikutinya dan ia menjadi orang-orang yang sesat.

Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga).

Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.”

 

Oleh: Nashih Nashrullah

REPUBLIKA

Cerdas dan Bahagia Bersama Ulama

ULAMA kehidupan umat Islam seperti rembulan di tengah gelap gulita. Sosoknya yang merupakan pewaris Nabi memiliki kedudukan istimewa di tengah-tengah hati kaum Muslimin.

Natsir dalam Capita Selecta menulis, “Bagi mereka, fatwa seorang alim yang mereka percayai berarti satu “kata-keputusan” yang tak dapaat dan tak perlu dibanding lagi. Seringkali telah terbukti, bagaimana susahnya bagi pemerintah negeri menjalankan satu urusan, bilamana tidak disetujui oleh ali-ulama di daerah yang bersangkutan” (halaman: 187).

Demikianlah sikap ideal yang telah berabad-abad lamanya dijaga dan dipelihara oleh kaum Muslimin, termasuk di era kekinian alias zaman now, umat Islam tetap setia, membela dan mencintai ulama-ulama mereka.

Di dalam al-Qur’an kata ulama setidaknya disebut dua kali.

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاء بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 197).

Al-Qurtubi berpendapat bahwa yang dimaksud ulama pada ayat tersebut adalah orang-orang berilmu dari kalangan mereka yang paling tahu dan paham isis kitab-kitab suci.

Kemudian pada Surah Al-Fathir ayat ke 38. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

Makna dan maksudnya jelas, bahwa yang takut kepada Allah itu hanyalah para ulama, karena merekalah yang kenal Allah dan benar-benar mengesakan-Nya. Dalam kata yang lain, sebanyak apapun ilmu seseoerang jika tidak takut kepada Allah, maka jelas, bukan ulama.

Imam Ghazali berkata, “tidak semua orang berilmu layak menyandang gelar ulama. Hal ini karena, keulamaan bukan semata-mata soal pengetahuan atau kepakaran, akan tetapi soal ketakwaan dan kedekatan kepada Tuhan. Ulama sejati adalah mereka yang tidak hanya dalam dan luas ilmunya akan tetapi tinggi rasa takutnya kepada Allah dan bersih dari bayangan palsu (igthirar alias ghurur) mengenai dirinya” (Islam dan Diabolisme Intelektual, halaman: 23).

Takut kepada Allah maksudnya apa? Menurut Sa’id ibn Jubayr sebagaimana dikutip dalam buku Islam dan Diabolisme intelektual, takut dalam ayat tersebut berarti sesuatu yang menghalangi kita dari perbuatan dosa, maksiat atau durhaka kepada Allah.

Maka, terang di sini tidak ada sumber kebahagiaan dan kedamaian hidup ini selain dekat dan patuh kepada ulama. Di samping hidup dan membersamai ulama akan menjadikan kapasitas intelektual kita (kecerdasan) terus meningkat.

Bagaimana tidak akan meningkat kecerdasan, sedangkan para ulama selalu mampu menghubungkan makna dengan tantangan hidup keumatan yang sedang dan akan terjadi. Mengapa? Tidak lain dan tidak bukan, karena kata Nabi, ulama adalah pewaris para Nabi.

Di sinilah kedudukan ulama tidak bisa dipandang laksana jabatan pada umumnya. M. Natsir menegaskan hal ini dalam bukunya Capita Selecta yang juga menjawab mengapa seorang ulama tiba-tiba begitu dicintai oleh umat Islam.

“Ulama bukanlah pemimpin yang dipilih dengn “suara terbanyak” bukan yang diangkat oleh “persidangan kongres.” Akan tetapi kedudukan mereka dalam hati rakyat yang mereka pimpin, jauh lebih teguh dan suci dari pemimpin pergerakan yang berorganisasi atau pegawai pemerintah yang manapun juga” (halaman: 188).

Selain itu, dalam konteks kesejaharahan, jauh sebelum Indonesia ini mewujud, peran strategis para ulama sangatlah tak terbantahkan kontribusinya.

Siapa yang dapat mengobarkan semangat jihad melawan penjajah Portugis, Belanda dan Jepang, jika bukan para ulama. Dari Aceh hingga Papua, berderet kesultanan-kesultanan Islam yang raja-raja itu tidak mengambil keputusan melainkan setelah mendapatkan saran dan nasehat dari para ulama.

Oleh karena itu penting dan sangat menarik generasi Muslim hari ini mengenal siapa ulama sesungguhnya.

Natsir memberikan rekomendasi dalam hal ini, “Berkenalanlah dengan kiai-kiai dan berhubunganlah dengan mereka. Mereka itu berikhtiar menujukan fikiran rakyat ke arah alam ruhani; suatu bangsa tak kan hidup, bila kehidupan ruhaninya tidak terpimpin. Mereka menyuruh mengerjakan yang baik dan menjauhi barang ang mungkar. Dan bukankah yang demikian itu pekerjaan tuan-tuan juga adanya?” (halaman: 193).

Dalam konteks zaman now, untuk bisa dekat dengan ulama tidak terlalu sulit, media internet memberikan kemudahan untuk kita semakin cerdas dan bahagia bersama ulama.

Jika telah memiliki smartphone lengkap dengan kuota internet, maka gunakanlah sebagian besar kuota yang ada itu untuk membaca, memperhatikan ceramah atau taushiyah-taushiyah para ulama kita.

Sekalipun tentu jangan puas dan merasa cukup dengan mendekat kepada ulama melalui internet. Tetapi juga harus hadir ke masjid, majelis-majelis mereka, sebab bersialturrahim di dalam masjid atau dimana ada ulama kita melakukan taushiyah atau tabligh sangat berbeda dengan sebatas menyaksikan di dunia maya.

Beruntunglah umat Islam Indonesia, karena zaman now masih ada ulama yang konsisten menjadikan dakwah-dakwah mereka mudah diakses di dunia maya, sehingga syiar kebenaran dapat dengan mudah kita dapatkan.

Dengan demikian, dekatlah dengan ulama dengan cara yang bisa kita lakukan dan teruslah untuk selalu bersama para ulama. Karena sedetik meninggalkan mereka, jutaan hikmah dan kebaikan kita lewatkan dalam kehidupan kita.

Terlebih seorang ulama, kata Dr. Syamsuddin Arif, bukan semata orang yang berkualitas spiritual, mental dan intelektualnya, tetapi juga sosok yang paling terdepan memikirkan nasib bangsa dan negara. “Para ulama sadar betul akan tugas mereka sebagai penuntun dan pembela umat.”

Jadi, mari terus bersama cintai dan bela ulama kita. Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi memang demi keutuhan NKRI dan terawatnya nalar sehat kita semua sebagai umat Islam, penduduk mayoritas negeri ini. Wallahu a’lam.*

 

HIDAYATULLAH

Kebesaran Jiwa Ulama dalam Mengakui Kesalahan

“Setiap manusia sangat rentan bersalah,  dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang tekun bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).” Demikian Anas bin Malik mengawali hadits yang pernah ia dengar langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam mengenai kesalahan.

Masalah yang terlihat biasa ini bagi kebanyakan orang, akan begitu terasa sukar jika yang mengalaminya adalah orang yang sudah terlanjur di-ulama-kan, dijunjung tinggi ketokohannya, atau barangkali menempati posisi-posisi penting di hati masyarakat. Ketika mereka bersalah, mampukah hawa-nafsu ditaklukkan untuk mengakui kesalahan? Berikut ini, adalah contoh dari ulama-ulama berjiwa besar yang mau mengakui kesalahannya.

Ada seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dari suku Syamkh. Pasca nikah, dia tertarik dengan ibunya. Ia pun mendatangi Ibnu Mas’ud seraya bertanya, “Aku telah menikahi seorang perempuan, kemudian aku tertarik pada ibunya. Aku belum menggaulinya, bolehkah aku ceraikan dia lalu aku menikahi ibunya?” “Boleh,” jawabnya. Akhirnya ia pun menceraikannya dan menikahi ibunya.

Saat Abdullah bin Mas’ud datang ke Madinah, ia bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terkait masalah ini. Mereka menjawab, “Tidak sah.” Kemudian ia pun mendatangi suku bani Syamkh, lalu bertanya, “Di mana orang yang menikahi ibu perempuan yang pernah dinikahinya?” “Di sini,” jawab mereka. Ibnu Mas’ud dengan tegas menandaskan, “Ceraikanlah dia!” “Bagaimana mungkin, dia sudah hamil?” tanya mereka. “Meski demikian, ceraikanlah dia. Sesungguhnya itu diharamkan Allah subhanahu wata’ala.” (Sa’id bin Manshur, Sunan Sa’id bin Manshur, bab: al-farā`idh, 1/234).

Imam Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (V/321) menceritakan bahwa Makhlad bin Khufāf membeli budak kemudian dimanfaatkan. Dalam perjalan waktu, dia menemukan aib pada budak itu. Akhirnya masalah ini diadukan kepada Umar bin Abdul Aziz. Beliau pun memutuskan, Makhlad wajib mengembalikannya dan membayar biaya pemanfaatannya. Makhlad pun bertanya pada  ‘Urwah mengenai masalah ini.  Ia pun menyebutkan riwayat ‘Aisyah mengenai kasus seperti ini bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan si penjuallah yang harus membayar jaminan. Saat Umar diingatkan Makhlad, beliau berkomentar, “Aku anulir keputusanku, dan akan kulaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Imam Ibnu Jauzi menyatakan bahwa, ‘Dalam sejarah ulama salaf ada orang yang jika dia mengetahui dirinya salah, maka dia tidak akan tenang sebelum menyampaikan kesalahannya dan memberitahu orang yang diberi fatwa.’ (Ta’dhīmu al-Futya, hal: 91). Masih dalam kitab yang sama, Ibnu Jauzi menceritakan bahwa Hasan bin Ziyad al-Lu`lu`i dimintai fatwa pada suatu masalah, kemudian dia salah. Pada waktu itu dia tidak kenal pada orang yang meminta fatwa. Ia pun menyewa orang untuk mengumumkan bahwa Hasan bin Ziyad telah diminta fatwa pada hari demikian, kemudian salah. Beliau pun mengumumkan, “Siapa saja yang memberi fatwa demikian, maka segera dicabut!”. Setelah beberapa hari akhirnya beliau bertemu dengan orang yang meminta fatwa lalu memberitahunya bahwa fatwanya salah. (hal: 92).

Saat Syekh Izzuddin al-Hikari pernah berfatwa mengenai suatu permasalahan, kemudian dia baru mengetahui bahwa fatwanya salah. Ia pun mengumumkan dengan keras  di depan khalayak di Kairo, Mesir, “Barangsiapa mendengar fatwa demikian, maka jangan diamalkan, karena itu salah.” (Imam Subki, Thabaqāt al-Syāfi’iyyah, VIII/214).

Lebih dari itu, Syekh Abu al-Fadhl al-Jauhari sampai mengumumkannya kesalahannya di atas mimbar setelah diingatkan oleh Muhammad bin Qasim al-‘Utsmani mengenai masalah talaq, dhihar [mengatakan pada istri, kamu seperti punggung ibuku, sebagai tanda talaq di zaman jahiliyah) dan ila [suami bersumpah tidak mencampuri istrinya]. Karena dia telah berpendapat bahwa nabi pernah melakukan ketiganya sekaligus, padahal nabi tidak pernah dzihar(Ibnu ‘Arabi, Ahkāmu al-Qur’an, I/249).

Itu beberapa contoh dari ulama luar negeri. Di dalam negeri pun ada banyak contoh yang bisa diteladani. Misalnya, Pangeran Diponegoro.  Di samping dikenal sebagai ulama yang jantan di medan tempur, ternyata beliau juga tidak malu mengakui kesalahan jika memang melakukannya. (H.M. Nasruddin Anshoriy, ‘Bangsa Inlander’ Potret Kolonialisme di Bumi Nusantara,128).

Kisah A Hassan

Adalah cerita tentang kebesaran jiwa Ahmad Hassan. Ada kisah menarik dari ulama yang dikenal sebagai “Guru Utama Persis” ini. Alkisah, seorang dari Sumedang Jawa Barat bernama H. Ali Muhammad Siraj pernah mengunjungi A. Hassan ketika berada di Banyuwangi. Dalam kunjungan tersebut ia selalu membawa sepeda untuk mempermudah perjalanan keliling kota atau di kampung-kampung.

Selanjutnya ia mengisahkan perjalanannya dengan A. Hassan. Di pinggir ban sepeda itu tertulis kata-kata “inflate hard“. Tuan Hassan menanyakan apa arti kata-kata itu. Saya menjawab, “Pompalah keras-keras, maksudnya supaya ban lebih awet dipakainya dan tak mudah kempes,” jawab saya. “Bukan itu arti kalimat tersebut. Artinya ialah ban ini dibikin sangat teratur, tak usah khawatir,” jawab beliau. Mendengar arti yang diberikan beliau itu, saya tidak membantah, karena saya tahu bahwa Tuan Hassan lebih faham berbahasa Inggris.

Tapi tengah malam, pintu kamar saya diketok beliau dan berseru nama saya berkali-kali. Saya terbangun lalu membukakan pintu. Beliau masuk dan segera mengucapkan minta maaf atas kesalahannya membuat arti kalimat tersebut. Arti itu tidak benar, yang benar ialah arti dari saudara tadi. Mata saya tak mau dipicingkan sejak tadi, karena saya merasa bersalah dan belum minta maaf, “Saya khawatir kalau tidak malam ini juga saya minta maaf, siapa tahu besok kita tak bertemu lagi, karena meninggal salah seorang kita.” (Syafiq A. Mughni, Hassan Bandung, Pemikir Islam Radikal, hal: V dan Tamar Djaja, Riwayat Hidup A. Hassan, hal: 64). Perhatikan bagaimana jawaban A. Hassan. Jawaban ini menunjukkan betapa besar jiwanya untuk mengakui kesalahannya.

Dari murid A. Hassan pun ada kisah menarik mengenai pengakuan kesalahan. Dikisahkan bahwa di waktu anak kedua M. Natsir akan lahir -mereka lima orang bersaudara- Natsir diperkarakan orang yang punya gedung sekolah, sebab sudah banyak menunggak sewa. Sudah tentu Natsir mengaku salah. Memang hutang belum terbayar. (Muhammad Natsir 70 Tahun: Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, hal: 38). Demikian besarnya jiwa Natsir sehingga beliau tidak gengsi mengakui kesalahannya.

Masih dalam masalah mengakui kesalahan, ada kata bijak dari Buya Hamka. Terkait masalah ini, beliau pernah berujar, “Berterus terang adalah sikap pahlawan, tetapi berani mengakui kesalahan lebih ksatria.” (Personal Quality Management, E. Widijo Hari Murdoko, hal: 165). Tepat sekali pernyataan beliau, orang yang berani mengakui kesalahannya adalah ksatria.

Demikianlah beberapa contoh yang menunjukkan bahwa ulama memiliki jiwa besar dan lapang, sehingga ketika melakukan kesalahan, mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Mereka melakukan demikian karena terinspirasi dari Rasulullah yang tak sungkan mengaku salah dalam hal pengawinan kurma dengan mengucapkan, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam bis shawab.*/Mahmud Budi Setiawan

 

sumber: Hidayatullah

Semakin Alim Semakin Tahu Ada yang Lebih Alim

ADA orang yang hanya mendengarkan setengah dari suatu pembicaraan, paham seperempatnya, namun berani berbicara tentangnya berkali lipat panjangnya dibandingkan dengan sang pembicara asli. Janganlah kita menjadi orang seperti ini dan berhati-hatilah dengan orang yang seperti ini.

Ada orang yang baru saja mulai belajar agama, tak sampai sepersepuluhnya yang dipelajarinya, seperduapuluh yang dipahaminya, tapi bicaranya panjang lebar sambil ngotot meyakinkan bahwa hanya dirinya yang benar dan yang lain salah.

Yang paling unik adalah bahwa ulama-ulama besar yang ilmu dan amalnya diakui hebat oleh dunia Islam disesatkannya pula oleh orang yang baru belajar ini. Janganlah kita menjadi orang seperti ini dan hati-hatilah dengan orang seperti ini.

Semakin alim seseorang, semakin dia tahu bahwa ada yang lebih alim dari dirinya. Tak pernah diciptakan manusia yang dalam dirinya terkumpul semua ilmu, karenanya manusia harus hidup saling mengisi, saling berhubungan dan saling membantu.

Kita perlu membaca orang-orang alim pada masa lalu, begitu baiknya akhlak mereka, ketawadlu’an mereka, tak malu untuk mengatakan tak tahu pada masalah yang memang beliau tidak tahu.

Menurut suatu riwayat, Imam Malik tidak berkenan memberikan fatwa hukum tentang suatu hal sebelum ada tujuh puluh orang yang memberikan kesaksian bahwa beliau memang memiliki keahlian dan hak fatwa pada hal yang dimintakan fatwa itu. Tak gampang mengatakan halal dan haram, iman dan kafir, sesat dan tidak sesat. Berhati-hatilah dalam berfatwa.

Berfatwa itu bagaikan menjahit; mufti itu penjahit, fatwanya adalah jarum jahitnya. Kalau benar dan baik penuh ketelitian dan kehati-hatian, maka hasil jahitannya akan bagus. Kalau tidak hati-hati, tidak teliti, dan tidak ahli, maka bukan hanya hasilnya rusak melainkan jarumnya bisa menyakiti dirinya sendiri. Salam, AIM. [*]

 

 

sumber: Mozaik Inilah.com