Menyegerakan Amal

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali menukil ungkapan Al-Mandzir, “Aku mendengar Malik bin Dinar berkata kepada dirinya, ‘Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu. Celakalah kamu. Bersegeralah sebelum urusan datang kepadamu.’ Sehingga, ia mengulangi yang demikian itu sampai 60 kali yang aku dengarnya dan ia tidak melihatku.”

Tindakan Malik bin Dinar tentu didorong oleh pemahaman yang kuat terhadap perintah Allah Ta’ala agar bersegera dalam beramal (QS Ali Imran: 133-134 dan QS al-Hadid: 21). Kata “segera” berarti tidak bisa dipisahkan dari waktu.  

Ibn Al-Jauzi dalam bukunya Shaid Al-Khatir mengatakan, “Seorang manusia mesti mengetahui nilai dan kedudukan waktu agar ia tak menyia-nyiakan sesaat pun darinya untuk sesuatu yang tak bisa mendekatkan diri kepada Allah.” 

Pemahaman mendalam terhadap nilai dan kedudukan waktu menjadikan ulama terdahulu amat selektif dalam memanfaatkan nikmat yang menurut Rasulullah kebanyakan manusia tertipu, yakni waktu. Fudhail bin Iyadh berkata, “Aku kenal orang yang menghitung perkataannya dari minggu ke minggu.”

Kemudian ada Dawud al-Tha’i, meski sedang membuat adonan roti, lisannya tak pernah kering dari ayat-ayat Alquran. “Antara membuat adonan dan makan roti aku telah berhasil membaca 50 ayat.”

Suatu hari seseorang berkata kepada Amir bin Abd Qais (55 H), murid dari Abu Musa al-Asy’ari, “Berhentilah, aku ingin berbicara kepada Anda!” Amir bin Abd Qais pun menjawab, “Coba hentikan matahari.”

Sikap Amir bin Abd Qais itu menunjukkan bahwa dirinya telah menetapkan beragam amal di setiap pergantian waktu sehingga menjadi tidak mungkin dirinya meluangkan waktu kepada orang yang secara tiba-tiba memintanya untuk berhenti tanpa niat dan tujuan yang jelas.

Kebanyakan manusia memang cukup longgar dalam menggunakan waktu, terutama pada malam hari. Kebanyakan menghabiskan waktu dengan mengobrol yang kurang, bahkan tidak berguna sehingga tidur sangat larut yang menjadikan sebagian waktu siang habis untuk tidur atau berfoya-foya di keramaian. Dirinya seakan lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja.

Seorang pemuda yang gagah dan memiliki warisan harta melimpah tetapi tidak pernah bersegera dalam amal saleh justru tenggelam dalam beragam jenis kemaksiatan dan terus asyik menunda-nunda tobat. Sangat mungkin mengalami kebinasaan bersebab ajal yang datang tiba-tiba.

Oleh karena itu, Islam mengutuk kebiasaan menunda-nunda suatu pekerjaan ataupun menghafal, mempelajari, memahami dan menguasai ilmu. Sebab, waktu akan habis bila ditunda-tunda dan tidak ada lagi cita-cita, kecuali tinggal cerita. Benarlah pepatah Arab yang mengatakan, “Waktu itu bagaikan pedang, jika kau tak memanfaatkannya, ia akan menebasmu.”

Lantas, jenis amal yang mana yang mesti disegerakan? Mengacu pada ayat 134 surah Ali Imran, amalan tersebut meliputi: menafkahkan harta baik dalam kondisi lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang.

Dalam soal menafkahkan harta di jalan Allah, Sayyidah Aisyah RA sangat patut kita teladani. Suatu waktu Ibn Zubari memberikan uang sebesar 100 ribu dirham. Aisyah menerima uang itu dan langsung membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Sampai-sampai, Ummu Dzarrah berkata, “Wahai Ummul Mukminin, tidak bisakah engkau membelikan kami sepotong daging satu dirham saja?”

Aisyah menjawab, “Jangan keras-keras kepadaku. Andai engkau mengingatkan aku, niscaya aku akan membelinya.” Aisyah RA benar-benar tidak mau ketinggalan momentum sehingga jika ada kesempatan bersedekah, hal itu akan dilakukan tidak saja dengan bersegera, tetapi juga seluruhnya disedekahkan.

Karena itu, terhadap amal saleh bersegeralah. Pesan Nabi, “Ambillah kesempatan lima sebelum lima, yaitu mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, kekosonganmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum matimu” (HR Ibn Abi al-Dunya). Insya Allah surga seluas langit dan bumi sedang berhias menanti penuh cinta kehadiran kita. Wallahu a’lam.

 Oleh Imam Nawawi

Pemberi Utang

Permasalahan dan kesulitan ekonomitak jarang membuat seseorang merasa buntu dan kehilangan arah untuk menemukan jalan keluar. Hingga pada sampai di titik kesulitan materi yang teramat sangat, akhirnya banyak diantara kita yang memilih untuk berutang kepada sesama. Tidak salah memang.

Berhutang diperbolehkkan dalam Islam, bahkan karena tak menghendaki adanya orang yang dirugikan karena praktik hutang piutang, Allah merumuskan adab-adab berutang yang tertuang dalam penghujung surah al-Baqarah ayat 282 bahwa setiap praktik hutang piutang harus dicatat dan disaksikan.

Pencatatan dan persaksian atas transaksi utang piutang dimaksudkan untuk menghindari kekeliruan dan permusuhan yang akan sangat mungkin terjadi. Dengan pencatatan dan persaksian pula, pengutang ingat kembali jumlah utang yang harus ia bayar jika suatu waktu ia lupa. Namun bagaimana, jika yang berutang tidak mampu atau bahkan fenomena yang sering terjadi adalah justeru yang berhutang lebih kasar dan kejam daripada si pemberi hutang?

Karenanya, diperlukan kelapangan hati dan jiwa ketika kita memutuskan untuk memberikan pinjaman kepada orang lain.Pemberi utang juga harus mengetahui betul apakah yang diutangi betul-betul belum mampu membayar, pura-pura tidak mampu atau bahkan tak ada niat untuk melunasi utangnya. Terkait menghadapi orang yang tidak mampu membayar, maka Alquran menganjurkan kita untuk memberi kelapangan.

“Dan jika dia (penghutang) memiliki kesukaran maka berilah penangguhan sampai waktu lapang (mampu membayarnya), dan apabila kalian menyedekahkannya maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui,” (Qs Al-Baqarah: 280)

Begitu santunnya anjuran Alquran dalam memberikan pedoman utang-piutang. Selain si pemberi utang dianjurkan untuk memberikan kelapangan (maysarah—kelonggaran waktu atau kesempatan untuk membayar), pemberi hutang juga harus siap jika pada akhirnya harus menyedekahkan uang yang dipinjamnya ketika yang berhutang, akhirnya tidak sanggup membayarnya.

Pertanyaannya; sudah sanggupkah kita mengikuti tuntunan Alquran? Andai saja kita memiliki uang 10 juta lalu dipinjamkan kepada 10 orang dan kesemuanya itu tidak mampu membayar utangnya, mampukah kita ikhlas?

Ketika Hudzaifah dan Abu Mas’ud ra sedang berkumpul, Hudzaifah ra berkata, “Ada seorang laki-laki yang meninggal dan menemui Tuhannya, maka Tuhannya berkata kepadanya, “Apa yang telah kamu perbuat?” Dia menjawab, “Aku belum pernah berbuat kebaikan, melainkan dahulu aku adalah seseorang yang memiliki harta benda. Dengan harta yang kupunya itulah aku biasa memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan, lalu aku sering memberikan kemudahan dalam pembayaran. Apabila seseorang tidak mampu membayarnya, maka aku membebaskan hutang tersebut,” Maka Allah Swt berfirman, “Berilah kelapangan kepadanya,” Abu Mas’ud berkata, seperti itulah aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,” (HR Muslim, Shahih Muslim, Juz 3, No Hadits 1560)

Demikianlah, tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari penjagaan Allah. Berapapun nominal yang telah kita keluarkan (pinjamkan) dengan ikhlas, semua itu pasti akan terbalas. Cukup balasan di akhirat sajalah segala amal kebaikan orang-orang baik itu diberikan.

Allahu a’lam

Oleh: Ina Salma Febriany

sumber: Republika Online

Tips Buya Hamka Menyelamatkan Diri dari Ganasnya Siksaan Penjara

Tips Buya Hamka Menyelamatkan Diri dari Ganasnya Siksaan Penjara. Cukuplah Allah sebagai Pelindung!!

 

Betapapun beratnya ujian hidup, seorang muslim harus tetap bertauhid kepada Allah Ta’ala. Sadisnya siksaan penjara dan ganasnya intimidasi rezim yang mengancam nyawa sekalipun, tak boleh membuat para aktivis, pejuang dan mujahid Islam mengorbankan aqidahnya. Dalam kondisi nyawa terancam diujung bedil maupun setrum, harus diteguhkan dalam jiwa bahwa “Cukuplah Allah sebagai Pelindung!!”

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya” (Qs Az-Zumar 36).

Kekuatan aqidah seperti itu ditulis Buya Prof Dr Yuhanar Ilyas dalam rubrik Khazanah REPUBLIKA, berikut ikhtisarnya:

Saat menulis Tafsir Al-Azhar Surah Az-Zumar ayat 36 Buya Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di penjara.

“Bukankah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya…” Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati. Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964, sebagai berikut:

…Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di tahanan, Buya Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Hamka tetap dengan pendirian, bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya…

“Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.

Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun.

Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, “Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini,” ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.

Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, “Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah!”

“Mengapa,” tanya saya.

“Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan Bapak, Bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati,” jawabnya dengan berlinang air mata.

“Bapak sangka tape recorder,” jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tuhan.

“Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik,” kata anak itu.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di tahanan, Buya Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya. [AW/Infaq Dakwah Center]

 

sumber:Panji Mas

Waspadai Hadis Palsu Jelang Ramadhan

Menjelang Ramadhan, bermunculan kembali berbagai hadis untuk menyemangati umat Islam menyambut bulan suci tersebut. Namun umat Muslim harus berhati-hati, sebab banyak hadis palsu tentang Ramadhan yang beredar di masyarakat. Bahkan hadis-hadis yang tak bisa dipertanggungjawabkan keshahihannya itu tak jarang sangat populer hingga menjadi dalil.

Salah satu hadis yang perlu ditinjau kembali keshahihannya adalah hadis yang menjelaskan tiap-tiap bagian Ramadhan memiliki ‘nilai’nya sendiri-sendiri. Tidak asing, mendengar atau membaca hadis yang memaparkan awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahan bulan Ramadhan maghfirah, sedangkan di akhir bulan suci tersebut merupakan pembebasan Muslim dari api neraka. 

Arti dari hadis tersebut adalah: “Permulaan bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya maghfirah, dan penghujungnya merupakan pembebasan dari neraka.”

Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta yang juga pakar hadis, Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub MA dalam bukunya berjudul ‘Hadis-hadis Bermasalah’ menjelaskan, hadis tersebut diriwayatkan beberapa orang. Di antaranya oleh Al-Uqaili dalam kitab ‘Al-Dhuafa’ dan Ibn ‘Ady Al-Khatib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad.

Prof Ali Yaqub menjelaskan, menurut Imam al-Suyuti, hadis ini nilainya dha’if (lemah), dan menurut ahli hadis masa kini, Syeikh Muhammad Nashir Al-Din Al-Albani hadis ini adalah munkar. Pernyataan Al-Albani ini tidak berlawanan dengan pernyataan Al-Suyuti, karena hadis munkar adalah bagian dari hadis dhaif.

Hadis tersebut dianggap lemah karena adanya dua periwayat hadis atau rawi yang diketahui meriwayatkan hadis munkar dan palsu. Mereka adalah Sallam bin Sawwar, yang dikenal hadis-hadis riwayatnya adalah munkar atau tidak sesuai dengan apa yang pernah difirmankan oleh Allah SWT. Kemudian, rawi lainnya yang meriwayatkan hadis tersebut adalah Maslamah bin Al-Shalt. Al-Shalt dikenal sebagai periwayat hadis semi palsu, atau matruk.

Adanya kedua nama rawi tersebut sebagai periwayat hadis ini mengisyaratkan apa yang menjadi kelemahan shahihnya hadis yang membagi Ramahdan menjadi tiga bagian tersebut. Karena ada Sawwar dan Al-Shalt, bisa dikategorikan hadis itu munkar atau palsu.

sumber: Republika ONline

Hakikat Zuhud Rasulullah

Rasulullah SAW bersabda, “Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.” (HR. Ahmad). 

Menurut Imam Ali ra, zuhud adalah amal yang lebih utama setelah mengenal Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah kamu di dunia, niscaya Allah mencintaimu.” 

Zuhud terhadap dunia bukan berarti terlarang memiliki harta dunia dan kekayaan lainnya. Zuhud berarti lebih yakin dengan yang ada di tangan Allah daripada yang ada di tangan makhluk. Bagi orang zuhud, ketentraman tidak ditentukan banyaknya harta. Baginya, ketentraman adalah keyakinan akan janji dan jaminan Allah. Allah Mahatahu akan segala kebutuhan makhluk-Nya. 

Suatu ketika ada seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW Dia menceritakan keadaan suaminya, yang jika malam hari ia tidak pernah tidur karena ingin beribadah. Hampir tiap hari dia juga selalu shaum. Rasul SAW kemudian memanggil sang suami dan mengklarifikasi hal itu. Sang suami menjawab: “Ya Rasulullah saya melakukan semua itu karena merasa bahwa ibadah saya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ibadahmu”. 

Rasulullah SAW menimpali perkataan laki-laki itu, “Ketahuilah, bahwa saya ini adalah orang yang paling takwa di antara kamu sekalian. Tapi di malam hari, saya ada waktu untuk tidur dan ada pula untuk ibadah. Di siang hari, saya ada waktu buka dan ada waktu shaum”. Dari Hadis di atas, kita lihat bahwa zuhud tidak berarti meninggalkan dunia sama sekali. Dunia tetap dicari, tapi tidak sampai terbuai olehnya. Seorang sufi mengatakan, orang zuhud adalah orang yang menyikapi dunia hanya sebatas tangannya saja. Maka dari itu, dia akan lebih berhati-hati, cermat dan tidak sampai diperbudak oleh dunia. 

Siang Hari Jumat Dilarang Jual Beli?

Hari Jumat Dilarang Jual Beli?

Apa benar, siang hari jumat dilarang jual beli? Berarti uangnya haram dong?

Mohon pencerahannya.. matur nuwun

 

 

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pernyataan yang benar, ketika khatib telah naik mimbar, kaum muslimin yang wajib jumatan, dilarang melakukan transaksi jual beli atau transaksi apapun yang menyebabkan mereka terlambat atau bahkan meninggalkan jumatan.

Larangan ini berdasarkan firman Allah di surat al-Jumu’ah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS al-Jumua’h : 9)

 

Makruh ataukah Haram?

Ulama berbeda pendapat,

Pendapat pertama, larangan ini hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat Hanafiyah. (al-Mabsuth, 1/134)

Pendapat kedua, larangan ini bersifat haram. Ini pendapat mayoritas ulama, dari madzhab Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali. (Mawahib al-Jalil, 2/180; al-Majmu’, 4/419; dan al-Mughi, 3/162)

insyaaAllah pendapat yang lebih mendekati, larangan ini bersifat haram. Mengingat kaidah hukum asal larangan adalah haram.

Bagaimana Status Jual Belinya?

Untuk pembahasan haram dan makruh di atas, itu berkaitan dengan dosa. Apakah jika larangan itu dilanggar menghasilkan dosa ataukah tidak. Sementara pembahasan tentang status jual beli, ini berkaitan dengan status kehalalan barang dan uang yang diserah terima kan ketika jual beli.

Ulama berbeda pendapat apakah jual beli ketika khatib naik mimbar, statusnya sah ataukah tidak?

Perbedaan ini kembali kepada permasalahan, apakah larangan ini terkait dengan jual beli itu sendiri (larangan terkait dzat jual beli – ain al-bai’) ataukah larangan karena dia menjadi sebab pelanggaran yang lain.

Pendapat pertama, jual belinya sah.

Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan Syafiiyah.

Mereka beralasan, bahwa larangan jual beli di sini tidak terkait dengan jual belinya (ainul bai’), tapi karena dia menjadi sebab pelanggaran yang lain, yaitu tidak mendengarkan khutbah. Sehingga larangan tidak ada hubungannya dengan inti akad, tidak pula terkait syarat sah akad. Sehingga jual beli tetap sah, meskipun pelakunya berdosa.

Seperti oranng yang shalat dengan memakai baju hasil korupsi. Shalatnya sah, karena dia memenuhi syarat menutup aurat. Meskipun dia berdosa, karena kain penutup yang dia gunakan dari harta haram.

Konsekuensi dari jual beli yang sah, uang yang diterima halal, demikian pula barang yang diterima juga halal.

Pendapat kedua, jual belinya tidak sah.

Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan Hambali. Dalilnya adalah firman Allah pada ayat di atas. Dan makna tekstual (zahir) ayat menunjukkan jual beli itu tidak sah. Karena ketika sudah adzan, Allah melarangnya. Ketika dilarang Allah, berarti dianggap tidak berlaku.

Disamping itu, menilai jual belinya tidak sah, akan semakin mencegah masyarakat untuk melakukan pelanggaran ini. Karena uang dan barang yang diserah terimakan, tidak dinilai.

Pertimbangan lainnya, bahwa jual beli ini dilarang karena mengganggu aktivitas manusia untuk melakukan ibadah jumatan. Ini sebagaimana pernikahan yang dilakukan orang ihram, hukumnya tidak sah, karena mengganggu aktivitas ibadah haji atau umrah.

(Tafsir al-Qurthubi, 1/96).

Apakah Larangan Ini Berlaku bagi Wanita?

Para ulama menegaskan, larangan ini hanya berlaku bagi mereka yang wajib jumatan.

Ibnu Qudamah menjelaskan,

وتحريم البيع، ووجوب السعي، يختص بالمخاطبين بالجمعة، فأما غيرهم من النساء والصبيان والمسافرين، فلا يثبت في حقه ذلك

Haramnya jual beli dan wajibnya segera datang jumatan, berlaku bagi mereka yang mendapat perintah jumatan. Sementara yang tidak diwajibkan jumatan, seperti para wanita, anak-anak, atau musafir, larangan ini tidak berlaku. (al-Mughni, 2/220)

Keterangan lain disampaikan Syaikh al-Utsaimin dalam penjelasan kitab al-Ushul min Ilmil ushul,

وهاتان امرأتان تبايعتا بعد النداء الثاني في يوم الجمعة فهل يصح بيعهما؟

الجواب: يصح لأنهما غير مطالبتين بالجمعة. إذا الأحكام تتبعض؛ فتكون صحيحة لقوم؛ وفاسدة لآخرين، فالمرأة نقول لها: بيعي واشتري

“Ada dua orang wanita yang melakukan transaksi jual beli setelah adzan kedua (khatib naik mimbar) pada hari jum’at, apakah jual belinya sah?

Jawaban: Sah, karena mereka berdua tidak diwajibkan jum’atan.

Sehingga hukum jual beli terbagi: sah bagi sebagian orang dan tidak sah bagi yang lain.

Bagi para wanita, silahkan menjual dan membeli.

Kemudian Syaikh Utsaimin melanjutkan,

ولو باع رجل لامرأة؛ فإن هذا غير صحيح؛ لأنه لا يمكن البيع إلا بين متعاقدين إيجابا وقبولا،

وإذا اجتمع مبيح وحاظر غلب جانب الحظر

Jika ada laki-laki jual beli dengan wanita ketika adzan jumat, maka jual belinya tidak sah. Karena tidak mungkin terwujud jual beli kecuali dengan interaksi dua orang untuk melakukan ijab qabul. Sementara jika terkumpul dua sebab dari hukum sebuah benda, antara larangan dan yang membolehkan, maka larangan lebih dimenangkan.” (Syarh al-ushul min Ilmil Ushul, hlm. 183).

Demikian, Allahu a’lam.

 

 

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Menlu Saudi : Solusi Konflik Suriah Tak Hanya Dengan Membantu Para Pengungsi

Menteri Luar Negri Saudi Arabia, ‘Adil Al Jubair menyatakan, solusi konflik di Suria tak hanya dengan menolong para pengungsi. Namun konflik tersebut harus diselesaikan dari akar permasalahannya. Di antaranya dengan melakukan transisi politik. Yang terpenting adalah pelengseran Basyar Asad,

“Agar Suriah memiliki masa depan yang baru,” ungkapnya sebagaimana dilansir Jisrtv.com, pada rabu (25/5)

Sebagaimana diungkap Anadolu Agency, saat pertemuan yang membahas isu kemanusiaan di Istanbul, ia menyatakan, lebih mengutamakan solusi transisi politik lewat jalur perdamaian. Namun jika jalan damai tak berhasil, maka perang senjata terpaksa ditempuh. Karna rezim Asad harus turun dari pemerintahan.

Al Jubair menegaskan bahwa apa yang terjadi di Suriah merupakan bencana kemanusiaan.

Sebagaimana diungkap Press Agency Jerman, bahwa strategi penyelesaian permasalahan di Suriah harus berubah. Dunia Internasional tak boleh  fokus pada pemberian bantuan semata.

 

 

sumber:Bumi Syam

Menlu Saudi: Garda Revolusi Iran Perangi Bangsa Suriah

Menteri luar negri Arab Saudi, ‘Adel Al Jubair menilai Iran sebagai negara yang sangat buruk. Mengingat sikap mereka  terhadap Iraq yang tidak sesuai dengan undang-undang internasional.

“Sikap Iran sangatlah buruk,” ujarnya saat diwawancarai di salah satu stasion televisi rusia, sebagaimana dilansir jisrtv.com pada jum’at (27/5)

Mengingat Qosim Sulaimani yang bergabung membentuk kelompok teroris. Garda Revolusi Iran dan Pasukan Korps Al quds merupakan kesatuan teroris yang dipimpinnya.

Ia menegaskan bahwa Garda Revolusi Iran telah memerangi bangsa Suriah, juga membentuk pasukan di Iraq. Mereka melakukan penghancuran di mana-mana dan melakukan terorisme di setiap tempat.

‘Adil menyatakan bahwa pasukan korps Iran dan Garda Revolusi yang dipimpin Qosim Sulaimany melanggar peraturan dunia internasional. Mereka bersikap buruk terhadap tetangga, dan selalu ikut campur terhadap urusan negara lain.

Seharusnya Iran tak lagi mencampuri urusan negara lain, termasuk mendukung salah satu milisi di sebuah negara. Karna apa yang mereka lakukan ini justru menyalakan fitnah dan membuat keresahan di tengah masyarakat.

Ia menambahkan, sikap negaranya tetap sama. Transisi politik harus diterapkan di Suriah, dan Basyar Asad harus turun dari jabatannya. Sebagaimana keputusan PBB dalam perundingan Jenewa 1 no. 5224, menurut penafsirannya juga pihak oposisi.

“Jika kita melakukan pembicaraan, maka hal terpenting adalah transisi politik, dan Basyar Asad harus pergi tinggalkan Suriah,” ujarnya saat menutup pembicaraan.

 

sumber: Bumi Syam

Puasa Sunnah Menjelang Ramadhan, Tidak Bolehkah?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz, bolehkah puasa sebelum masuk waktu Ramadhan, misalnya 1 atau 2 minggu sebelumnya? Saya pernah mendengar ada yang mengatakan tidak boleh dengan alasan memperpanjang puasa Ramadhan. Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Benar sekali adanya larangan untuk sengaja berpuasa sunnah bila kita memasuki atau menjelang setengah bulan masuknya Ramadhan. Yaitu berpuasa mulai tanggal 16 Sya‘ban hingga akhir bulan Sya‘ban. Meski pun masalah ini juga bukan merupakan pendapat jumhur ulama.

Yang berpedapat demikian adalah sebagian ulama Asy-Syafi’iyah dan sebagian dari ulama dari kalangan Al-Hanabilah.Dalilnya adalah hadits berikut ini:

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: إذا انتصف شعبان فلا تصوموا حتى رمضان ” ، و صححه الترمذي و غيره

Dari Abi Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda, “Apabila bulan Sya’ban sudah setengahnya, maka janganlah berpuasa hingga Ramadhan.” (HR Tirmizy).

Imam At-Tirmizy menshahihkan hadits ini, demikian juga dengan At-Tahawi, Al-Hakim, IBnu Hibban dan Ibnu Abdil Barr. لا صوم بعد النصف من شعبان حتى رمضان

Tidak boleh berpuasa setelah nisfu Sya’ban hingga Ramadhan. (HR At-Tahawi)

Sedangkan ulama lainnya tidak sampai mengharamkan, hanya memakruhkan saja. Bahkan ada juga yang sama sekali tidak menyinggungnya sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka berpendapat bahwa hadits Abu Hurairah adalah hadits mungkar. Yang mengatakan demikian adalah Imam Ahmad, Abu Zar’ah Ar-Razi, Al-Atsram dan Ar-Rahman bin Al-Mahdi

Selain itu mereka mengatakan justru Rasulullah SAW banyak sekali melakukan puasa di bulan Sya’ban, bahkan beliau menyambungkannya dengan puasa bulan Ramadhan.

.كان أحبّ الشّهور إلى رسول اللّه صلى الله عليه وسلم أن يصومه شعبان ، بل كان يصله برمضان

Dari Aisyah ra. berkata, “Bulan yang paling disukai Rasulullah SAW untuk berpuasa adalah bulan sya’ban. Bahkan beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.”

عائشة رضي الله تعالى عنها قالت: ما رأيت رسول اللّه صلى الله عليه وسلم أكثر صياماً منه في شعبان

Dari Aisyah ra. berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih berpuasa dari pada di bulan Sya’ban.”

Dengan demikian, kedudukan larangan berpuasa sunnah setelah setengah bulan Sya’ban adalah khilaf di kalangan ulama. Sebagian menyatakan adanya larangan tersebut, sebagian lagi tidak mengakuinya.

Namun yang disepakati oleh semua ulama adalah puasa qadha‘ (pengganti) puasa Ramadhan. Hukumnya wajib dilakukan bila memang hanya tersisa hari-hari itu saja. Sebab ada alasan yang sangat kuat bagi mereka yang belum menunaikan kewiban membayar puasa ramadhan tahun lalu untuk membayarkannya sekarang, meski bulan ramadhan tinggal dua minggu lagi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

 

Ahmad Sarwat, Lc.

sumber: Era Muslim

Iran Larang Warganya Pergi Haji ke Mekah

Pemerintah Iran tidak mengizinkan warganya beribadah haji ke Makkah pada September 2016 nanti setelah ketegangan dengan Arab Saudi terus berlanjut. Keputusan Pemerintah Iran muncul setelah pembicaraan antara pejabat Teheran dan Riyadh mengalami jalan buntu.

Menteri Kebudayaan Iran, Ali Jannati, mengatakan kepada stasiun televisi Pemerintah Iran; ”Tidak ada jemaah yang akan dikirim ke tempat-tempat suci Muslim; Makkah dan Madinah, karena hambatan yang diciptakan oleh para pejabat Saudi.”

Dalam sebuah pernyataan, Organisasi Haji dan Umrah Iran mengecam Arab Saudi atas tuduhan bahwa Riyadh kurang bekerjasama.

Sementara itu, Kementerian Haji dan Umrah Saudi menuduh delegasi Iran yang datang menolak untuk menandatangani perjanjian untuk menyelesaikan masalah.

”Mereka akan bertanggung jawab di hadapan Allah SWT dan warganya atas ketidakmampuan warga Iran untuk melakukan haji untuk tahun ini,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita resmi Saudi.

”Iran telah menuntut hak untuk mengatur demonstrasi (haji) dan memiliki hak istimewa yang akan menyebabkan kekacauan selama haji. Ini tidak bisa diterima,” kesal Menteri Luar Negeri Saudi, Adel Al-Jubeir, dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond.

Jubeir mengatakan Arab Saudi setiap tahunnya menandatangani nota memorandum haji dengan lebih dari 70 negara. ”Untuk menjamin keamanan dan keselamatan jemaah,” katanya, seperti dikutip dari Al Arabiya, Senin (30/5/2016).

”Tahun ini, Iran menolak menandatangani memorandum tersebut,” lanjut dia, dengan alasan bahwa Riyadh telah setuju untuk memfasilitasi pengaturan perjalanan peziarah Iran meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik.

”Hal ini sangat negatif jika niat Iran dari awal adalah untuk manuver dan mencari alasan, untuk mencegah warganya melakukan (ibadah) haji,” katanya.

”Jika ini adalah tentang langkah-langkah dan prosedur, saya pikir kami telah melakukan lebih dari tugas kita untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tetapi itu adalah Iran yang menolak hal-hal tersebut.”

 

sumber: Bumi Syam