Haji Berbekal Tawakal kepada Allah

Hatim Al-Asham adalah seorang fakir, tapi sangat zuhud dan mempunyai keimanan yang sangat kuat kepada Allah SWT. Seperti keluarga lain, ia pun mempunyai keluarga yang menjadi tanggungannya. Bahkan, keluarga ini menjalani kehidupan sehari-hari dalam keadaan sulit.

Pada suatu malam, ia duduk bersama teman-temannya membicarakan tentang haji dan ziarah ke Baitullah. Obrolan itu sedemikian berkesan dalam hatinya sehingga mendambakan untuk bisa berhizrah ke Baitullah.

Ia pulang ke rumah dan menyampaikan kepada keluarganya tentang keinginanya untuk berziarah ke Baitullah. “Jika kalian setuju aku pergi berziarah ke Baitullah, aku akan  mendoakan kalian.”

Istrinya berkata, “Dalam keadaan kita yang fakir dan keluargamu yang banyak ini, hendak kemana engkau pergi? Ziarah ke Baitullah hanya wajib bagi orang yang mampun (kaya).”

Anak-anaknya pun setuju atas apa yang dikatakan oleh ibu mereka, kecuali seorang putrinya yang kecil. Putri kecil ini berkata, “Apa yang akan terjadi jika kita memberi izi pada ayat untuk berangkat? Biarkan ayah pergi kemana pun yang ia inginan. Pemberi rezeki kita adalah Allah, sedangkan ayah hanyalah perantara rezeki itu. Allah Maha Kuasa menyampaikan rezeki kita dengan perantara lainnya.”

Mendengar kata-kata si kecil itu, semua anggota keluarga mnejadi sadar dan membenarkannya. Mereka pun mengizinkan ayah mereka (Hatim) berziarah ke Baitullah. Hatim-pun sangat bahagia. Disiapkannya perbekalan bepergian jauh (safar) dan berangkat bersama kafilah haji.

Para tetangga datang ke rumahnya. Merek apun melontarkan kata-kata celaan, “Mengapa dalam keadaan kalian yang miskin justeru kaliang membiarkan dia berangkat? Perjalanan jauh ini akan memakan waktu beberapa bulan. Dari mana kalian mendapatkan rezeki untuk menanggung kebutuhan hidup kalian?”

Keluarga Hatim jadi terpengaruh oleh celaan tetangga dan seolah-olah mereka menyalahkan puteri kecil, “Andai saja kamu tidak bicara dan bisa menjaga lisanmu pada waktu itu, tentu kami semua juga tidak mengizinkan ayah bepergian jauh.”

Sang putri sedih mendengarkan perkataan mereka. Ia menegadahkan tangak ke langit dan berdoa, “Tuhanku, mereka ini terdidik dengan keutamaan dan kemuliaan serta mensyukuri nikmat-Mu, janganlah Engkau abaikan mereka, dan jangan engkau permalukan aku di hadapan mereka.”

Saat mereka kebingungan memikirkan bagiamana mendapatkan nafkah hidup, tiba-tiba Amir (pemimpin) di kota itu baru kembali dari berburu. Ia kehausan lalu pengawalnya pergi ke pintu rumah Hatim untuk mendapatkan air. Mereka mengutuk pintu rumah. Lalu dari bilik pintu, isteri Hatim bertanya, “Apakah keperluan kalian?” Mereka menjawab, ‘Amir sedang berdiri di depan pintu rumah Anda, minta sedikit air dari Anda (untuk menghilangkan dahaga).”

Wanita itu panik. Ia memandang ke langit seraya berdoa, “Tuhanku, semalam kemi dalam keadaan lapar, sedangkan saat ini Amir memerlukan bantuan kami meminta air kepada kami.” Kemudian wanita itu memenuhi sebuah wadah dengan air. Dibawanya kepada Amir sambil memohon maaf karena wadahnya terbuat dari tanah liat.

Amir bertanya kepada para pengawal, “Rumah siapa ini? Mereka menjawab, ini rumah Hatim Al-Asham, salah seorang  zahid di kota ini. Kami dengar ia sedang safat ke Baitullah, sementara hidupnya dalam kesusahan.” Lalu Amir berkata,”Kita telah menyusahkan mereka. Rasalnya tidak pantas jika seorang seperti kita menyusahkan kaum yang lemah dan menambah beban di pundak mereka.”

Maka segera Amir membuka ikat pinggang dan dilemparkannya ke dalam rumah itu seraya berkata kapada para pengawalnya, “Yang mencintaiku hendaknya melempasrkan ikat pinggangnya ke dalam rumah.” Semua pengawal melepaskan ikat pinggang emas mereka dan melemparkannya ke dalam rumah. Ketika hendak pulang Amir berkata, “Semoga Allah memberkati kalian hai keluarga. Nanti anak buahku akan menghitung berapa harga dari semua ikat pinggang ini dan menguangkannya untuk kalian.” Amir dan rombongannya pun pergi sambil mengucapkan salam.

Beberapa saat kemudian, salah seorang anak buah Amir kembali ke rumah keluarga Hatim dengan membawa uang hasil penjualan semua ikat pinggang. Si puteri kecil pun menangis karena peristiwa itu. Anak buah Amir bertanya, “Mengapa engkau menangis? Seharusnya engkau bahagia, sebab Allah dengan rahmat-Nya telah memberikan keluasaan kepada kalian?” Sang puteri berkata, “Saya menangis karena semalam kami tidur dalam keadaan lapar, dan hari ini seseorang datang memperhatikan kami. Berarti setiap waktu Allah yang Maha Penyayang mencurahkan perhatiannya kepada kami. TIdak ada sesaat pun Allah berpaling dari kami.”

Kemudian dia mendoakan ayahnya, “Ya Allah, sebagaimana Engkau curahkan perhatian-Mu kepada kami dan telah Engkau atasi urusan kami, maka mohon curahkan juga kasih sayang-Mu kepada ayah kami dan tolonglah urusan-Nya.” Ketika itu, Hatim berada di tengah kafilah. Tidak ada orang yang lebih miskin darinya. Ita tidak mempunyai kendaraan yang dpaat ditungganginya dan tidak punya bekal yang memadai. Orang-orang yang mengenalnya terkada memberi bantuan kecil kepadanya.

Pada suatu malam, pemimpin kafilah tertimpa sakit. Dokter tak mampu mengobatinya. Lalu ia bertanya, “Adakah orang di antara kafilah yang ahli ibadah dan bisa mendoakanku?” Mereka berkata, “Ada Hatim Al-Asham, seorang lelaki tua yang zuhud. Ia ada bersama kita.” Kata pemimpin kafilah, “Cepat panggil dia.” Para pelayan laki-laki mengantarnya ke hadapan pemimpin mereka.

Hatim mengucapkan salam dan duduk di samping pembaringan pemimpin kafilah itu. Hatim mendoakannya dan Allah memberi kesembuhan penyakitnya. karena itu, pemimpin kafilah menjadi senang dan mempehatikannya. Ia pun memerintahkan agar menyediakan kendaraan untuk Hatim. Semua kebutuhan perjalanannya ditanggung oleh pemimpin kafilah itu. Hatim bersyukur kepada Allah SWT. Ia tiada henti bermunanjat pada Allah.

Suatu saat, di dalam tidurnya ada yang menyer kepadanya, “Hai Hatim, orang yang mengerjakan amal shaleh dan bersandar kepada Allah, maka Allah pun akan meliputinya dengan karunia. Kini, janganlah engkau merisaukan keluargamua, karena Allah telah memberikan penghidupan kepada mereka.” Ia terbangun dari tidurnya lalu memuji dan bersyukur kepada Allah.

Kisah Hatim Al-Asham ini disadur dari ‘Kisah-kisah Pertolongan Allah’, karya Mahdi Shahih Hunar, yang ditulis ulang dalam buku ‘Misteri Wukuf di Arafah oleh Ustaz Muhammad Rusli Amin dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Mawardi.

 

 

sumber: Republika Online