36 Jemaah Indonesia Wafat di Tanah Suci, Mayoritas Sakit Jantung

Mekah – Sejak pemberangkatan jemaah gelombang pertama pada Jumat, 28 Juli, hingga hari ini, Jumat (18/8/2017), total 36 jemaah wafat di Madinah dan Mekah. Sebagian besar karena sakit jantung dan gangguan pernafasan.

Berdasarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), 6 jemaah wafat yang tercatat hari ini terdiri dari 3 di Mekah dan 3 di Madinah. Semuanya meninggal karena sakit. Di bawah ini identitasnya:

1. Sumaryam binti Kerti Mat (62), kelompok terbang (kloter) 53 Embarkasi Surabaya (SUB 53) meninggal karena serangan jantung di pemondokan Mekkah.

2. Emdenis bin Mukhtarudin (60), kloter 16 Embarkasi Padang (PDG 16) meninggal karena gangguan pernafasan di pemondokan Mekah karena gangguan pernapasan.

3. Sutomo bin H Sosro Harsono (83), kloter 22 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 22) meninggal karena tumor ganas di rumah sakit Mekah

4. Purni binti Pungut Minan (65), kloter 23 Jakarta, meninggal karena serangan jantung di rumah sakit Madinah.

5. Iyah binti Saari Ili (50), kloter 40 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 40) meninggal karena serangan jantung di pemondokan Madinah.

6. Solikhin bin Mursidik Dipawikrama (60), kloter 46 Embarkasi Solo (SOC 46) meninggal karena gangguan pernafasan di rumah sakit Madinah.

Sementara, 30 jemaah yang meninggal sebelumnya adalah:

1. Umi Nadiroh Yunus Husen (76), Kloter 5 Embarkasi Surabaya (SUB 05), meninggal di RS Al Ansaar Madinah karena serangan jantung, Senin 31 Juli 2017.

2. Agus Salim Mulia Siregar (54), Kloter 2 Embarkasi Medan (MES 02) wafat meninggal akibat trauma pada tulang leher. Jamaah terjatuh di halaman Masjid Nabawi Madinah pada Selasa 1 Agustus 2017.

3. Indriyani Wahadi Wiyono (66), Kloter 2 Embarkasi Solo (SOC 02), meninggal di RS Al Ansaar Madinah karena penyakit jantung, Rabu 2 Agustus 2017.

4. Sukamto bin Sudarman Muryadi (60), Kloter 16 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 16), meninggal di RS Al Ansaar Madinah, karena serangan jantung, Kamis 3 Agustus 2017.

5. Hadiarjo Singarejo Singaleksana Kasenet (87), kloter 1 Embarkasi Solo (SOC 01), meninggal di pemondokan Madinah karena serangan jantung, Kamis 3 Agustus 2017.

6. Ilebbi binti Jinatta Lepu (71), kloter 8 Embarkasi Makassar (UPG 08), meninggal di pelataran Masjid Nabawi karena serangan jantung, Kamis 3 Agustus 2017.

7. Sarnata Sarun (74), kloter 5 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 05), meninggal di hotel karena serangan jantung di Madinah, Kamis 3 Agustus 2017.

8. Amnah Hasri Husin binti Husin (49), Kloter 2 Embarkasi Medan (MES 02), meninggal karena serangan jantung di Madinah, Jumat 4 Agustus 2017.

9. Supono Suseno Satari (54), Kloter 7 Embarkasi Surabaya (SUB 07), meninggal di halaman Masjid Nabawi karena serangan jantung, Sabtu 5 Agustus 2017.

10. Mudjiono Sukibat (62), kloter 8 Embarkasi Surabaya (SUB 08), meninggal di pemondokan Madinah karena serangan jantung, Sabtu 5 Agustus 2017.

11. Diah Rialati Kasbullah (51), Kloter 5 Embarkasi Solo (SOC 05), meninggal di RS Al Ansaar karena sakit pernapasan, Senin 7 Agustus 2017

12. Samidi Ciro Sentono (69), Kloter 8 Embarkasi Batam (BTH 08), meninggal di RS King Fahd Madinah karena serangan jantung, Senin 7 Agustus 2017.

13. Marfuah (74), Kloter 17 Embarkasi Surabaya (SUB 17), meninggal di RS Al Dar Madinah, Senin 7 Agustus 2017.

14. Engkos Kostiman bin Darya (76), Kloter 6 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 06), meninggal di pemondokan Mekah karena hipertensi dan serangan jantung pada Rabu 9 Agustus 2017.

15. Slamet Tari Achad (62), Kloter 7 Embarkasi Surabaya (SUB 07), meninggal di rumah sakit Mekkah karena saluran pencernaan pada Kamis 10 Agustus 2017.

16. Siti Aminah Janip Sain (52), Kloter 11 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 11), meninggal di pemondokan Mekah karena serangan jantung, Sabtu 12 Agustus 2017.

17. Risda Yarni Muhammad Rasyid (47), Kloter 6 Embarkasi Batam (BTH 06), meninggal di pemondokan Madinah karena serangan jantung, Sabtu 12 Agustus 2017.

18. Imas Yuhana Misbah (61), Kloter 3 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 03) meninggal di pemondokan Mekkah karena serangan jantung pada Minggu, 13 Agustus 2017.

19. Ilyas Muhammad Jasa (64), kloter 8 Embarkasi Batam (BTH 08), meninggal di rumah sakit Mekah pada Minggu, 13 Agustus 2017.

20. Ramlah Abdul Jalil Silalahi (69), Kloter 3 Embarkasi Medan (MES 03), meninggal di pemondokan Madinah karena serangan jantung, Minggu 13 Agustus 2017.
21. Dahlia Hanum binti Zaenal Nasution (61), Kloter 8 Embarkasi Medan (MES 08) di RSAS Mekkah karena serangan jantung, 13 Agustus 2017.

22. Jembar bin Untung Semo (62), Kloter 18 Embarkasi Surabaya (SUB 18) di RSAS Madinah karena gangguan pernapasan, 14 Agustus 2017.

23. Suyahtri binti Kasmi Tohjoyo (51), Kloter 17 Embarkasi Surabaya (SUB 17) di RSAS Mekkah karena serangan jantung, 14 Agustus 2017.

24. Kusno bin Kadari Mursadi (75), Kloter 41 Embarkasi Surabaya (SUB 41) di RSAS Madina karena penyakit pencernaan, Senin 14 Agustus 2017.

25. Utami binti Kasan Kasti (46), Kloter 40 Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS 41) di RSAS Madina karena gangguan sirkulasi darah, pada Senin 14 Agustus 2017.

26. Ida Rosika P binti Marasaman Hsb (78), Kloter 7 Embarkasi Medan (MES 07) di pondokan Mekkah karena serangan jantung, 15 Agustus 2017.

27. Razali Haka bin Abdul Karim (82), Kloter 16 Embarkasi Batam (BTH 16) di masjid Mekkah karena serangan jantung, 15 Agustus 2017.

28. Dadang Iskandar bin Eman (65), Kloter 75 Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS 75) di RSAS Madinah karena serangan jantung, 15 Agustus 2017.

29. Nasimah bin Mochamad Sahlan (66), Kloter 46 Embarkasi Solo (SOC 46) di pondokan karena gangguan sirkulasi darah, 15 Agustus 2017.

30. Bedjo Al Djuwahir bin Poncokromo (73), Kloter 5 Embarkasi Surabaya (SUB 05) di pemondokan Mekkah karena serangan jantung pada Rabu, 16 Agustus 2017. (try/bag)

DETIK

Kiswah Ka’bah Dinaikkan, Tanda Dimulai Musim Haji Tahun Ini

Saban tahun, Kiswah, atau kain hitam yang menutupi Ka’bah dinaikkan dan bagian yang rentan kemudian ditutup dengan spanduk berwarna putih sepanjang dua meter.

Prosedur itu dilakukan setiap tahun sebagai tindakan pencegahan untuk mencegah Kiswah dari menjadi rusak. Kain Kiswah lazimnya disentuh oleh para Jamaah sedang mereka bertawaf, kata Direktur Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Ka’bah, Dr Muhammad Bajouda.

Kiswah dinaikkan setiap tahun sebagai simbol dimulainya musim haji, lapor situs Arab News.

Sebelum ini, Kiswah dinaikkan pada hari pertama Zulhijjah sebagai mengumumkan dimulainya ibadah itu.

“Dengan berkurangnya jumlah Jamaah, tanggal menaikkan Kiswah dikedepankan karena jumlah Jamaah sangat sedikit dan agak sulit untuk banyak jamaah datang pada waktu itu,” Dr. Muhammad dikutip Arabnews.

Namun dengan kondisi ekonomi yang membaik dan transportasi yang lebih baik, tanggal itu diubah ke pertengahan Zulkaeda, lapor Arab News.

Dia mengatakan jumlah Jamaah, yang melebihi dua juta, adalah salah satu alasan untuk menaikkan Kiswah, yaitu untuk memeliharanya.

Kiswah dinaikkan dari mataf, yaitu tiga meter dari ketinggian Ka’bah 14 meter. Saldo 11 meter masih terus menutupi Ka’bah sampai 12 haribulan Muharram, “kata Dr. Muhammad.

Kiswah akan dikonversi setahun sekali, pada musim haji, pada pagi hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Ia akan ditutup kembali sampai 12 Muharram, lapor Arab News.

Pada hari kedelapan bulan Zulhijjah setiap tahun, semua bagian yang dihiasi sulaman emas dialihkan, “kata dia.

Sebagaimana diketahui, Kiswah adalah kain hitam dengan hiasan kaligrafi dari ayat-ayat Al-Quran dari benang emas yang menghiasi Ka’bah. Ketinggian mencapai 14 meter, panjang 47 meter dan berat hampir 700 kilogram. Setiap tahun Saudi mengganti Kiswah melalui acara khusus. *

 

HIDAYATULLAH

18 Ribu Lebih Jamaah Tiba di Makkah, Ini Tips Jaga Kesehatan

Kedatangan jamaah haji dari Madinah ke Makkah akan terus berlangsung hingga 21 Agustus mendatang.

Jamaah haji Indonesia mulai diberangkatkan dari Madinah sejak Sabtu, 5 Agustus 2017. Sampai hari ini, lebih dari 18 ribu jamaah atau 45 kloter telah tiba di Kota Makkah Al-Mukaromah, Arab Saudi.

Kedatangan jamaah haji dari Madinah ke Makkah akan terus berlangsung hingga 21 Agustus mendatang. Mereka yang baru tiba di Makkah, akan melaksanakan ibadah umrah, setelah sebelumnya  mengambil mikot di Bir Ali.

Konsultan Bimbingan Ibadah Daker Makkah, Aswadi Syuhadak, menganjurkan jamaah untuk beristirahat terlebih dahulu setibanya di hotel, dan tidak langsung umrah.

 

“Jangan memaksakan diri sehingga dikhawatirkan akan menggangu kesehatan diri sendiri nanti,” kata Aswadi di Makkah, Rabu (09/08/2017) lansir laman resmi Kementerian Agama, Kamis (10/08/2017).

Senada dengan Aswadi, Humas Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Makkah, dr Ayesha, mengimbau jamaah tidak memaksakan langsung beribadah bila kondisi fisik tidak memungkinkan/lelah.

Ia pun membagikan beberapa tips menjaga kesehatan jelang umrah. Pertama, jika hendak ke masjid, sebaiknya jamaah berangkat 2 jam sebelum kondisi masjid sangat penuh.

“Jadi luangkan waktu lebih banyak untuk menghindari shalat di luar masjid,” tuturnya.

 

Jika terlambat, menurutnya, jamaah akan shalat di pelataran masjid atau bahkan di jalan raya yang sangat panas.

“Faktor risiko dehidrasi, heat stroke, dan kaki melepuh harus sangat diwaspadai,” sambungnya.

Kedua, ia berpesan kepada jamaah agar membawa alat pelindung diri, seperti: masker, kaos kaki, kantong kresek untuk menyimpan sendal, sajadah, makanan ringan, dan air minum.

“Ingat suhu saat ini dikisaran 45-50 derajat celsius dengan tingkat kelembaban yang sangat rendah,” terang dr Ayesha.*

 

HIDAYATULLAH

Kabar Jemaah Telantar, Kadaker: Jangan Asal Posting di Medsos!

Madinah – Unggahan seseorang di Facebook soal jemaah bernama Slamet asal Jember telantar membuat petugas kaget. Sebab, Slamet sejauh ini dalam kondisi baik. Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Amin Handoyo, meminta jemaah atau pihak lain tak asal posting.

“Ada WA Center, jangan asal posting di media sosial. Kalau ingin penyelesaian, silakan lewat itu (WA Center),” kata Amin di kantor Daker, Kamis (10/8/2017).

Nomor WA Center Kantor Urusan Haji (KUH) Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah adalah 050 35000 17, sedangkan call center 9200 1 3210. Layanan ini berpadu dengan aplikasi SiskoPPIH (Sistem Komunikasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) dan teruji saat seorang jemaah kehilangan tas berisi Rp 40 juta. Dalam 3 jam, masalah terselesaikan.

“Kalau asal posting, mungkin niatnya lain,” kata Amin.

Sekadar diketahui, kondisi Slamet tak seperti gambaran unggahan di Facebook, Rabu (9/8). Di situ disebutkan, Slamet sakit stroke dan telantar. Enam hari di Madinah, ia baru sekali beribadah ke Masjid Nabawi. Itu pun ditempatkan di area yang panas.

Dalam pengecekan, Slamet memang sakit stroke. Ia lebih banyak berbaring di kamar Hotel Borg Almoktarah, pemondokan sektor 5 Madinah. Menurut dokter pendamping, hal itu keinginan Slamet sendiri. Karena jika duduk atau beraktivitas, dia tidak nyaman.

Kunjungan petugas ke Slamet dan jemaah yang berisiko sakit, dilakukan tiap hari. Jika Slamet ingin beribadah, maka petugas siap menggendong maupun mencarikan kursi roda.

“Petugas selalu siap. Kalau ada masalah, silakan menghubungi,” tutupnya.
(try/nkn)

 

DETIK

WA Center Haji Permudah Petugas Tindaklanjuti Aduan Jemaah

Madinah (Kemenag) — Ping! Wa Center Kantor Urusan Haji berbunyi, menandai adanya pesan yang masuk. Setelah dicek, pesan itu berupa laporan kehilangan tas tentangan jemaah saat turun pesawat. Dilaporkan juga bahwa isi tas tersebut adalah uang senilai tidak kurang dari Rp40juta.

“Info laporan ini kemudian disebarkan ke group bandara, berikut penjelasan tentang ciri-ciri tas. Selang 3 jam, tas sudah ditemukan dan isinya masih utuh,” demikian penjelasan Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dumyathi Basori, Selasa (01/08).

Peristiwa lainnya, lanjut Dumyathi, adalah tentang ditemukannya jemaah lansia yang lupa arah jalan pulang. Laporan masuk WA Center dari seseorang bernama Cece. Dia menginformasikan kalau dirinya menemukan seorang nenek di jalan yang tidak tahu jalan kembali ke hotel.

Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti petugas Sistem Informasi dan Komunikasi PPIH (Siskoppih). Kepada pelapor, petugas meminta detil keterangan terkait lokasi keberadaan nenek dan persoalannya. Berbekal informasi tentang lokasi, Siskoppih langsung mencari petugas pendukung PPIH di lapangan sekitar Masjid Nabawi yang terpantau dari layar tracking Siskoppih.

Muncullah nama Junaidi lengkap dengan photo diri. Photo Junaidi yang muncul di layar monitor Siskoppih itu dicapture dan langsung dikirim kepada yang bersangkutan untuk menindaklanjuti permasalahan.

“Junaidi Rosidi Syamsuddin awalnya akan menuju masjid untuk shalat. Setelah menerima perintah, dia pun langsung bergerak menindaklanjutinya,” ujar Dumyathi.

Junaidi bergerak ke lokasi sang Nenek ditemukan sebagaimana info pelapor. Setelah menemukan, Junaidi mengantarnya ke hotel tempat menginap dan mempertemukan dengan rombongannya. “Semua pergerakan Junaidi dalam menindaklanjuti arahan ini terpantau dalam monitor Siskoppih.

Kantor Urusan Haji (KUH) Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah telah merilis call center, serta SMS dan WA center untuk penyelenggaraan ibadah haji 1438H/2017M. Untuk nomor call center adalah 9200 1 3210, sedang SMS dan Wa Center adalah 050 35000 17.

Ahmad Dumyati Basori mengatakan, kedua nomor tersebut diharapkan dapat menjadi media komunikasi antara jemaah dengan petugas bila ada kebutuhan layanan. Begitu juga bagi orang lain saat mengetahui keberadaan jemaah yang membutuhkan layanan. “Kita akan standby 24 jam selama musim haji,” terang Dumyathi.

Menurutnya, cara kerja call center, sms dan wa center, serta Siskoppih ini dikendalikan dari Kantor Urusan Haji Jeddah sebagai markaz kendali seluruh daerah kerja, baik Daker Makkah, Madinah, maupun Bandara. Proses penerimaaan aduan, tindak lanjut, konfirmasi, dan distribusi perintah ke petugas di lapangan di semua daker, dilakukan dari pusat komando.

“Namun, di setiap daker dipasang juga layar monitor untuk mengetahui sebaran petugas yang ada di wilayahnya masing-masing,” tandasnya.

Dumyathi menilai, pola kerja Siskoppih & call center yang terintegrasi seperti ini, sangat efektif dan efisien. Sebab, petugas lapangan yang berada di lokasi terdekat bisa langsung diarahkan untuk memberikan bantuan atau menindaklanjuti aduan. Dengan demikian, tidak perlu mengirim orang dari kantor daker.

 

KEMENAG

 

 

—————————————————————-
Download-lah Aplikasi CEK PORSI HAJI dari Smartphone Android Anda agar Anda juga bisa menerima artikel keislaman ( termasuk bisa cek Porsi Haji dan Status Visa Umrah Anda) setiap hari!
—————————————————————-

Jamaah Cardiovasculaar Diseases Agar Bawa Obat Sendiri

Tingginya angka jamaah haji wafat karena serangan jantung, cukup membuat khawatir tim kesehatan haji Indonesia di Tanah Suci. Karenanya, Kabid Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Etik Retno Wiyati mengimbau, jamaah haji untuk membawa obat-obatan yang biasa dikonsumsi sesuai jumlah dan dosis yang cukup selama 40 hari.

Imbauan itu khususnya bagi pasien Cardiovasculaar Diseases atau jantung yang telah melakukan pemeriksaan tahap satu atau sesuai keterangan kesehatan yang tercantum pada buku kesehatan haji. Membawa obat-obatan sendiri, lanjut Etik, akan memudahkan jamaah untuk mengkonsumsinya. Sebab, obat-obatan di Arab belum tentu sama atau cocok bagi si pasien.

Menurut Etik, ibadah haji merupakan ibadah fisik yang menuntut kondisi sehat dan bugar. Karenanya, para jamaah yang memiliki riwayat Cardiovasculaar Diseases agar aktif melakukan kontak medis dengan tenaga medis kesehatan minimal dua kali sehari.

Guna mendikteksi dini, Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) akan melihat manifest kesehatan jamaah untuk melakukan imbauan kondisi kesehatan. TKHI juga akan berkoordinasi dengan pembimbing ibadah terkait prosesi ibadah pasien Cardiovasculaar Diseases.

Etik  mengingatkan, agar jamaah tidak memaksakan diri mengejar ibadah sunah dengan pergi ke Masjidil Harram setiap hari. Menurutnya, jamaah harus fokus kepada ibadah yang wajib. “Ini yang harus kita berikan pengertian kepada jamaah,” ujarnya di Makkah, kemarin.

Etik menambahkan, bahwa cuca panas sangat berpengaruh dengan kondisi kesehatan jamaah. Cuaca panas akan memicu kondisi seseorang mudah dehidrasi sehingga memicu riwayat kesehatan yang sudah ada dari Tanah Air.

“Tim KKHI siaga. Bila ada redektesi gangguan tersebut, maka akan dilakuksan tindakan dan merujuk ke KKHI atau ke Rumah Sakita Arab Saudi (RSAS),” ujarnya.

 

IHRAM

Antara Haji Mabrur dan Haji Mardud

HAJI mabrur, gelar yang dikejar oleh setiap orang yang berhaji.

Gelar ini merupakan puncak prestasi seorang jemaah haji. Begitu tinggi nilainya, hingga Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam salah satu hadisnya: “Haji mabrur, tiada balasan yang pantas baginya, kecuali surga.” (HR Tabrani dari Ibnu Abbas)

Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Kebalikannya adalah haji mardud (haji yang ditolak).

Tidak mudah mengetahui apakah ibadah haji seseorang itu diterima atau ditolak Allah SWT. Ini urusan yang sifatnya sangat pribadi antara seorang makhluk dengan Tuhannya. Sama dengan apakah salat dan puasa seseorang diterima di sisi Allah SWT.

Namun satu hal yang pasti, gelar mabrur itu dapat diupayakan untuk diraih. Itulah sebabnya, baik orang yang pergi haji maupun keluarga, saudara dan orang-orang sekampungnya kerap berdoa, “Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang Engkau terima (mabrur), dan dosa kami adalah dosa yang diampuni, jadikanlah sa’i kami yang merupakan tanda syukur, serta perniagaan yang tidak merugi.”

Meski sulit diukur, sebetulnya mabrur atau tidaknya ibadah haji seseorang dapat dilihat dari beberapa tanda. Al Hasan Al Bishriy sewaktu memberi tafsir tentang haji mabrur mengatakan, “Setelah pulang dari haji mulailah hatinya rindu kepada akhirat dan dunia tidak mengikat hatinya lagi.” (HAMKA, Tanya Jawab Soal Islam).

Secara fisik, mabrurnya ibadah haji seseorang dapat dilihat dari beberapa perubahan dalam kehidupan keseharian. Contohnya: dia bertambah rajin salat fardhu maupun sunah. Gemar membaca Alquran dan buku-buku agama, senang bersedekah, berzakat dan menolong orang-orang yang berada dalam kesulitan. Ia pun lebih ramah, bersahabat dan hormat menghadapi orang lain, lebih sabar dalam menghadapi kesukaran dan problematika kehidupan. Ia juga lebih beradab dan sopan dalam berpakaian, berkata-kata dan bertingkah laku, serta lebih senang berbuat sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak.

 

MOZAIK

 

baca juga: Awas Menyandang Gelar Haji Termasuk Riya

Sujinah Penjual Tiwul dan Doanya yang Sederhana di Tanah Suci

Madinah – Sujinah (60), penjual jajanan tradisional asal Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, bersyukur bisa berhaji yang diimpikan sejak lama. Matanya berbinar saat menceritakan bagaimana bisa berhaji dan doanya yang sederhana.

Di desa, Sujinah biasa dipanggil Sujinah Tiwul. Tiwul dilekatkan karena Sujinah berjualan tiwul. Namun menurut Sujinah, ia tak hanya berjualan tiwul tapi juga jajanan tradisional lain seperti gethuk, cenil, dan tape singkong.

“Dijual ke beberapa pasar,” kata Sujinah dalam bahasa Jawa halus.

Sujinah bicara sambil duduk di kursi lobi di Hotel Mawaddah An Nour tempatnya menginap selama di Madinah, Selasa (1/8/2017) sekitar pukul 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS).

Sujinah didampingi 2 temannya menunggu lift kosong. Antrean siang itu cukup padat. Selain jemaah Indonesia, ada jemaah Thailand, Malaysia, dan negara lain di hotel yang berjarak kurang lebih 250 meter dari Masjid Nabawi itu.

Bagaimana Sujinah berangkat haji? Dia mengaku menyisihkan uang hasil jualan jajanan untuk biaya haji. Ia mendaftar pada tahun 2010. Dan akhirnya tahun ini, dia ‘dipanggil’ ke Tanah Suci.

Sujinah tergabung dalam kelompok terbang SUB 05 Embarkasi Surabaya. Pesawatnya berangkat pada Sabtu (29/7) malam, dan mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah pada Minggu (30/7) dini hari.

“Sejak tiba (di Madinah), saya tiap hari ke Masjid Nawabi untuk arbain. Saya juga sudah ke Raudhah,” ucap Sujinah.

Arbain adalah salat 5 waktu tanpa putus sebanyak 40 kali di Masjid Nabawi. Sedangkan Raudhah adalah area di sekitar mimbar dan makam Nabi Muhammad SAW di dalam kompleks Masjid Nabawi. Bagi kaum muslim, doa di 2 tempat tersebut memiliki nilai lebih.

Apa yang menjadi doa Sujinah di Raudhah dan Masjid Nabawi? “Keinginan saya sederhana. Semoga saya dan keluarga sehat, juga hidup cukup (berkecukupan). Doa nggak pakai bahasa Arab, yang penting tersampaikan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Sujinah adalah satu dari puluhan ribu jemaah Indonesia yang berjuang demi bisa berhaji. Dia menabung hasil kerja kerasnya sedikit demi sedikit. Pada saat bersamaan, dia menunda keinginan-keinginan duniawi. Ketelatenan dan kesabaran itu berbuah manis.

Hingga hari ini, lebih 28 ribu jemaah Indonesia telah tiba di Madinah. Mereka, tentu saja termasuk Sujinah, akan berada di kota di utara Kota Mekkah ini selama 8-9 hari. Selanjutnya jemaah akan beringsut ke Mekkah untuk mengikuti prosesi haji. Mimpi Sujinah Tiwul sejak lama kini segera terealisasi. (try/elz)

 

DETIKcom

Menabung 20 Tahun, Tukang Tahu Ini Akhirnya Naik Haji

Keinginan kuat menjalankan ibadah haji terlihat dari sosok Dedi Somantri (63 tahun), warga Kampung Selaawi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Lelaki yang sehari-harinya berjualan tahu keliling ini sudah 20 tahun menabung agar bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Perjuangan untuk menggapai cita-citanya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tahun ini Dedi direncanakan berangkat ke Baitullah dengan tergabung dalam kelompok Terbang (Kloter) 87 Jakarta dan akan berangkat pada 22 Agustus 2017. “Saya mulai berjualan tahu keliling sejak 1990 lalu,” ujar Dedi kepada Republika.co.id, Kamis (27/7).

Sebelum berdagang tahu keliling, dia sempat berjualan abu gosok dan dedak selama 10 tahun atau tepatnya pada 1980. Sehari-harinya, dia berjalan kaki menjajakan tahu Sumedang mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Rute berjualannya mulai dari Pasar Cisaat, Kabupaten Sukabumi, hingga ke Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi.

Meskipun hidup dalam keterbatasan, Dedi mempunyai niat yang sungguh-sungguh untuk menunaikan ibadah haji yang dimulai sejak 1990 lalu. Pada tahun itu, dia menabung sejumlah uang untuk bisa mendaftar ibadah haji. Awalnya, dia menabung uang rata-rata sebesar Rp 3.000 per hari. Seiring perjalanan waktu, jumlah uang yang ditabungnya bertambah menjadi Rp 30 ribu per hari.

Menurut Dedi, penghasilannya sehari-hari dari berjualan tahu dan lontong keliling rata-rata mencapai Rp 50 ribu. Dari jumlah itu ditabungkan sebesar Rp 30 ribu dan sisanya Rp 20 ribu untuk makan serta memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Setelah menabung sejak 1990 hingga 2012 akhirnya terkumpul uang sebesar Rp 25 juta,” kata dia.

Dedi Somantri, penjual tahu keliling menjadi calon haji yang berangkat tahun ini. (Foto: Riga Nurul ImanRepublika)

Dengan modal uang tersebut, dia memberanikan diri untuk mendaftar haji ke Kementerian Agama (Kemenag) pada 10 Mei 2012. Setelah menunggu selama lima tahun, akhirnya Dedi bisa berangkat menunaikan ibadah haji pada 2017.

Selepas mendaftar, dia tetap menabung sebagai bekal untuk menunaikan ibadah haji sebesar Rp 1 juta sebulannya sejak 2012 lalu. Hingga lima tahun berlalu, tabungan tambahannya telah mencapai sebesar Rp 15 juta. “Niatnya, ibadah haji sujud di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi,” kata dia.

Dedi sudah melakukan persiapan, mulai dari belajar tata cara ibadah haji dan persiapan fisik. Selepas menunaikan ibadah haji, dia berencana akan beristirahat sejenak di Pesantren Al Hidayah yang dekat dengan rumahnya. Pesantren tersebut adalah tempatnya belajar dan beribadah.

Salah seorang tetangga Dedi, Mamah Salamah (63 tahun) mengatakan, warga setempat sudah mengetahui perihal Dedi yang akan berangkat menunaikan rukun Islam kelima. “Orangnya memang ulet dalam mencari rezeki dan berniat untuk menunaikan ibadah haji,” ujar Mamah.

Menurut dia, Dedi sehari-harinya berjualan tahu keliling dengan berjalan kaki sejak pagi hingga sore hari. Mamah pun berharap Dedi bisa menunaikan ibadah haji dengan lancar dan pulang dengan selamat.

 

IHRAM

Kursi Roda Jamaah Haji Diberi Pita Warna

Semua koper jamaah haji akan diberi tanda pita yang sama dengan stiker yang ditempel di buku paspor. Kursi roda jamaah haji juga akan diberi pita warna serupa, stiker, dan bendera Indonesia.

“Masalah kursi roda ini krusial karena pada tahun lalu banyak jamaah kehilangan kursi roda yang dibawa dari Tanah Air,” kata Kepala Daker Bandara Arsyad Hidayat saat meninjau kesiapan fasilitas di Bandara Amir Mohammed Bin Abdulaziz, Madinah, Kamis pagi (27/7).

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, banyak kursi roda milik jamaah ditaruh di bagian lost and found (barang hilang) karena tidak ada identitas. Letak bagian barang hilang ini juga posisinya jauh dari lokasi jamaah di bandara sehingga mereka kesulitan mendapatkan kursi rodanya.

“Coba bayangkan bagaimana jamaah yang sudah tua, yang sangat membutuhkan kursi roda tapi tidak bisa mendapatkan kursi rodanya,” ujarnya.

 

IHRAM