Berkorban untuk “Konten” demi Mengejar Popularitas

Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi orang terkenal. Berbagai cara pun dilakukannya. Mulai dari mempertontonkan kemampuannya, memposting rutinitas kesehariannya, hingga membuat konten adegan berbahaya. Ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Sebagai contoh, pernah ada dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari sisi kanan, satu lagi dari sisi kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Satu remaja selamat, sedangkan satunya meninggal tertabrak truk tersebut. Untuk apa itu semua? Hanya untuk konten, supaya terkenal.

Berkorban untuk “konten”

Tak jarang orang melakukan adegan berbahaya untuk dijadikan konten di media sosial miliknya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik perhatian netizen sehingga ia menjadi viral. Ya, rasa takut dengan resiko dari perbuatannya itu telah terkalahkan dengan keinganannya untuk menjadi viral. Tak jarang yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Padahal dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang membahayakan.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ)حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا(

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh dhirar.”  (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi hadis ini memiliki jalur-jalur yang saling menguatkan)

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan dharar dan dhirar. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dharar adalah kemudaratan yang terjadi tanpa niat, sedangkan dhirar adalah kemudaratan yang terjadi dengan niat (dalam keadaan mengetahui). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan keduanya (baik “dharar” ataupun “dhirar”), dan dhirar lebih parah karena kemudaratan tersebut terjadi dengan niat. (Ta’liqat ‘Ala Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 107)

Beratnya menjadi orang terkenal

Tanpa disadari, sebenarnya menjadi orang terkenal itu berat. Orang yang dikenal banyak manusia akan lebih susah menjaga keikhlasannya dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa saja di mata manusia. Ketenaran seringkali membuai seseorang sehingga terlena dari mengingat Allah Ta’ala. Ibadah dan amal saleh yang dikerjakannya pun terkadang menjadi tidak ikhlas untuk Allah Ta’ala semata, melainkan supaya diketahui orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan menjaga keikhlasan itu sangatlah berat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ

“Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat  daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami’ul ‘Ulum Wal-Hikam, 1: 70)

Basyr bin Al-Harits Al-Hafiy mengatakan,

لا أعلم رجلا أحب أن يعرف إلا ذهب دينه فافتضح. مااتقى الله من أحب الشهرة. لا يجد حلاوة الاخرة رجل يحب أن يعرفه الناس

“Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar, kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran sungguh ia kurang bertakwa pada Allah. Orang yang ingin tenar tidak akan mendapatkan kelezatan di akhirat.” (Ta’thirul Anfas, hal. 284)

Allah mencintai hamba yang khafiy

Bukankah salah satu alasan seseorang ingin terkenal adalah supaya dilihat, dibanggakan, dianggap penting, dan dicintai manusia? Sudah selayaknya seorang hamba lebih menginginkan untuk dicintai Allah Ta’ala daripada dicintai manusia. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang tidak berambisi untuk menjadi orang terkenal. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

“Sungguh, Allah mencintai hamba-Nya yang bertakwa, al-ghaniy (merasa cukup dari manusia dan bersandar hanya kepada Allah), al-khafiy (tersembunyi dan tidak suka mengusahakan diri untuk terkenal).” (HR. Muslim no. 2965 dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)

Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan;

الخفي: هو الذي لا يظهر نفسه، ولا يهتم أن يظهر عند الناس، أو يشار إليه بالبنان، أو يتحدث الناس عنه

“Al-khafiy yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.” (Syarah Riyadush Shalihin, 3: 511)

Terkenal di dunia vs. Terkenal di langit

Orang terkenal di dunia akan ‘dilihat’ oleh manusia, dijadikan bahan perbincangan dan ‘diperhatikan’ oleh banyak orang. Hal itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tersebut. Namun perlu diingat, keterkenalan di dunia tidak dibawa sampai akhirat nanti. Kalau selama di dunia mungkin orang-orang akan peduli dan dengan sukarela membantunya jika ada permasalahan, namun kelak di akhirat orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Seorang raja di dunia dan seorang rakyat jelata akan diperlakukan sama, tergantung dengan amalannya di dunia, bukan tergantung keterkenalannya di dunia. Semua pujian dan like-nya di media sosial tak lagi berguna.

Berbeda dengan orang yang terkenal di langit, yakni di kalangan malaikat. Orang yang terkenal di langit akan didoakan oleh malaikat. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa di antara orang yang terkenal di langit adalah orang yang senantiasa berzikir mengucapkan kalimat tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa ilaaha illallah) dan tahmid (Alhamdulillaah) (di riwayat lain disebutkan pula kalimat takbir (Allahu Akbar)). Dari an-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 إنَّ مما تذكرون من جلالِ اللهِ : التَّسبيحَ والتهليلَ والتحميدَ ، ينعطِفْنَ حولَ العرشِ ،  لهن دويٍّ كدويِّ النحلِ ، تُذَكِّرُ بصاحبها ، أما يحبُّ أحدُكم أن يكونَ له – أو لا يزالُ له – من يُذكِّرُ به

“Sesungguhnya di antara (kalimat zikir) yang kalian ucapkan dari keagungan Allah seperti tasbih, tahlil, dan tahmid akan berputar mengelilingi ‘Arsy, dan mengeluarkan dengungan seperti suara lebah karena menyebut-nyebut nama orang yang mengucapkan kalimat zikir tersebut. Tidakkah suka seorang di antara kalian membacanya, atau senantiasa akan disebut namanya oleh kalimat zikir itu?” (HR. Ibnu Majah no. 3809, dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 3358 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1568)

Tidakkah kita lebih bahagia saat nama kita tak asing dan harum di langit, dikenal Allah Ta’ala sehingga saat menghadap Allah Ta’ala kelak nama kita sudah dikenal?

Saat ketenaran tak berguna di hari hisab

Kelak, manusia akan menghadap Allah Ta’ala sendiri, walaupun semasa di dunia ia menjadi orang terkenal dan selalu didampingi banyak orang.

ما مِنكُم أحَدٌ إلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ليسَ بيْنَهُ وبيْنَهُ تُرْجُمانٌ، فَيَنْظُرُ أيْمَنَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ مِن عَمَلِهِ، ويَنْظُرُ أشْأَمَ منه فلا يَرَى إلَّا ما قَدَّمَ، ويَنْظُرُ بيْنَ يَدَيْهِ فلا يَرَى إلَّا النَّارَ تِلْقاءَ وجْهِهِ، فاتَّقُوا النَّارَ ولو بشِقِّ تَمْرَةٍ

“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali nanti akan diajak bicara oleh Rabbnya, tanpa ada seorang penerjemah antara dia dengan Rabbnya. Lalu, ia memandang ke arah kanannya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Ia juga memandang ke arah kirinya, namun ia tidak melihat kecuali amal yang telah dilakukannya. Dan ia memandang ke depannya, namun ia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan bersedekah sepotong belahan kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cukuplah peringatan akan hari hisab mengingatkan kita bahwa ketenaran di dunia tidaklah membantunya kelak di hari hisab. Bahkan, ketenaran yang akhirnya membuatnya riya’ bisa menyebabkan ia menjadi orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis sahih,

“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid, hingga dipanggil seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan ini?”

Dia pun menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh mati syahid.”

Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, Engkau telah berdusta. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pejuang dan sebutan itu pun sudah engkau dapatkan.”

Kemudian orang tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.

(Yang kedua) seorang pria yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya dan mampu membaca (serta menghafal) Al-Qur’an. Dia dipanggil (untuk dihisab) dengan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya. Dia pun mengakuinya. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”

Dia menjawab, “Aku telah menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan aku membaca (dan menghafal) Al-Qur’an.”

Allah Ta’ala pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut sebagai alim ulama. Engkau membaca (dan menghafal) agar disebut qari’, dan gelar itu sudah engkau dapatkan.”

Kemudian pria tersebut diseret secara tengkurap hingga dilemparkan ke api neraka.

Dan orang (yang ketiga yang didahulukan hisabnya pada hari kiamat) adalah seorang yang Allah Ta’ala melapangkan kehidupan baginya dan mengaruniainya semua jenis harta kekayaan. Dia dipanggil (untuk dihisab) seraya ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya dan dia pun mengakuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang telah kamu kerjakan terhadap kenikmatan-kenikmatan ini?”

Dia pun menjawab, “Tidak ada satu pun dari jalan yang Engkau inginkan untuk diinfakkan padanya kecuali telah aku infakkan semua demi Engkau, ya Allah!”

Allah Ta’ala  pun berkata kepadanya, “Sungguh, engkau telah berdusta. Engkau lakukan itu semua agar engkau disebut sebagai dermawan, dan sebutan itu sudah engkau dapatkan.”

Lalu diperintahkan agar dia diseret secara tengkurap kemudian dilemparkan ke api neraka.”

(HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang senantiasa istikamah, ikhlas melakukan amalan karena Allah Ta’ala.

***

Penulis: Apt. Pridiyanto

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/79820-berkorban-untuk-konten-demi-mengejar-popularitas.html