Gambaran Menawan Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

DALAM buku “Lathâ`ifu al-Ma’ârif fîmâ limawâsim al-‘Âm min al-Wadzâ`if” (1999: 234), Ibnu Rajab al-Hanbali menukil gambaran menawan dari ulama terkait bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Di antaranya adalah apa yang diutarakan oleh Abu Bakar al-Warraq al-Balkhi rahimahullah, dan sebagian ulama lainnya.

“Bulan Rajab,” tutur Abu Bakar al-Balkhi rahimahullah, “adalah bulan bertanam. Sedangkan Sya’ban adalah bulan pengairan tanaman. Adapun Ramadhan adalah bulan panen tanaman.” Bila diperhatikan secara saksama, apa yang dianalogikan olehnya begitu menawan.

Penggambaran Rajab dan Sya’ban sebagai bulan atau momentum untuk bertanam dan pengairan adalah di antara upaya persiapan untuk menuju panen raya Ramadhan. Bagi yang menghendaki sukses besar di bulan penuh berkah, mau tidak mau harus menyiapkannya dengan baik, utamanya bulan Rajab dan Sya’ban.

Terlebih, kalau melihat tradisi salaf, persiapan mereka bukan saja sejak bulan Rajab, tapi enam bulan sebelum Ramadhan. Artinya mereka sangat serius dalam menghadapi Ramadhan. Ibarat petani, mereka sudah menyiapkan benih-benih amal dan segenap sarananya untuk dipanen di ‘tanah subur Ramadhan’.

Pada kesempatan lain, Abu Bakar al-Balkhi rahimahullah memberi tamsil lain. “Perumpaan bulan Rajab,” gumam beliau, “laksana angin. Sedangkan Sya’ban bagaikan mendung. Dan Ramadhan seperti hujan.”

Begitu indah gambaran ini. Bulan Rajab diibaratkan seperti angin yang menghembuskan amal-amal kebaikan, yang kemudian kian menggumpal di bulan Sya’ban sehingga menjadi mendung amal kebaikan, yang kemudian akan menjadi hujan berkah, rahmat, dan maghfirah di bulan Ramadhan.

Sebagian ulama juga memberi gambaran menarik mengenai tiga bulan ini, “Tahun laksana pohon. Bulan Rajab adalah masa berdaun; Sya’ban saat bercabang;  sedangkan Ramadhan adalah waktu untuk memetik (buah). Para pemetiknya adalah orang-orang beriman.”

Gambaran pohon ini juga sangat menarik. Bila satu tahun penuh diibaratkan pohon, maka Rajab adalah masa di mana daun pohon amal saleh bertumbuh. Kemudian diikuti dengan bulan Sya’ban yang menggambarkan amal-amal kebaikan semakin intensif dan bercabang. Puncaknya adalah Ramadhan, yaitu: ketika persiapan-persiapan serius di bulan Rajab dan Sya’ban bisa dipetik buahnya di bulan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah.

Apa yang digambarkan ulama terkait bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan tadi, bukan saja menunjukkan bagaimana pentingnya persiapan amal menuju Ramadhan, tapi di sisi lain juga menggambarkan hal lain yang jarang terpikirkan: dengan berbekal iman dan takwa, mereka mampu memilih diksi yang indah dalam menggambarkan romantisme bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.

Itulah yang membedakan mereka dengan yang lainnya. Amalan-amalan yang dipersiapkan bukan sekadar masalah kebenaran dan kebaikan yang mesti dijalani sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, namun mereka juga tidak meninggalkan keindahan.

Kebenaran, kebaikan dan keindahan mampu mereka tuangkan dalam bentuk tamsil sastrawi yang harmoni sejak dari persiapan hingga Ramadhan. Persiapan amal yang dilakukan bukan sekadar rutinitas fisik, tapi bagaimana bisa menjalaninya dengan asyik.

Dengan menyiapkan amal di bulan Rajab, Sya’ban hingga Ramadhan, seakan mereka sebagai petani mujur yang siap panen raya;  atau sinergi harmonis antara angin, mendung hingga hujan; atau pohon yang daunnya bersemi, rantingnya bertumbuh hingga menghasilkan buah ranum yang bisa dipetik di bulan Ramadhan.*/Mahmud Budi Setiawan

 

HIDAYATULAH

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini! Dengan aplikasi ini, Anda juga bisa ngecek Porsi Haji dan Visa Umrah Anda.

 

Isra-Miraj, Cara Allah Hibur Rasulullah di Tahun Kesedihan

Isra Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makah ke Masjidil Al Aqsa di Yerusalem (Isra), kemudian dilanjutkan menuju langit ke Sidratul Muntaha (Mi’raj) dengan tujuan menerima wahyu Allah SWT. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada 621 M, dua tahun setelah wafatnya sang istri Siti Khadijah dan paman Rasulullah, Abu Thalib.

Pada suatu hari Rasulullah SAW diundang menginap di rumah kerabatnya, yaitu rumah Umm Hani’, putri Abu Thalib. Jika waktu tiba, selama kunjungan tersebut, keluarga tersebut akan melakukan shalat berjamaah. Usai shalat berjamaah, Rasulullah tidur sejenak kemudian mengunjungi Ka’bah di malam hari. Ketika beliau di sana, rasa kantuk menghampiri dan beliau pun tertidur di Hijr.

“Ketika aku sedang tidur di Hijr,” cerita Rasulullah SAW, “Jibril datang kepadaku dan mengusikku dengan kakinya. Aku segera duduk tegap. Setelah kulihat tidak ada apa- apa, aku berbaring kembali. Ia datang lagi untuk kedua kalinya. Ketiga kalinya, ia mengangkatku.

“Aku bangkit dan berdiri di sampingnya. Jibril mengajakku menuju pintu masjid. Di sana ada seekor binatang putih, seperti peranakan antara kuda dan keledai dengan sayap di sisi tempat menggerakkan kakinya. Langkahnya sejauh mata memandang,”

Rasulullah SAW menceritakan bagaimana beliau menunggangi Buraq, nama binatang tersebut, bersama malaikat yang menunjukkan jalan dan mengukur kecepatannya seperti menunggang kuda yang menyenangkan.

Perjalanan ke Yerusalem (Isra’)

Mereka melaju ke utara Yatsrib dan Khaybar, sampai tiba di Yerusalem. Kemudian mereka bertemu dengan para Nabi seperti Ibrahim, Musa, Isa dan nabi- nabi yang lain. Ketika beliau shalat di tempat ibadah itu, mereka menjadi makmum di belakangnya.

Lalu ada dua gelas disuguhkan kepada Nabi dan ditawarkan kepadanya. Satu berisi anggur dan satu lagi susu, dan beliau mengambil gelas berisi susu.

Jibril berkata: “Engkau telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan memberi petunjuk kepada umatmu, hai Muhammad! Anggur itu terlarang bagimu,”

Perjalanan ke langit (Mi’raj)

Kemudian seperti yang pernah terjadi pada nabi yang lain, kepada Nuh, Ilyas, dan Isa, juga Maryam, Muhammad SAW diangkat keluar dari kehidupan ini menuju langit. Dari Masjid Al-Aqsa, Beliau kembali mengendarai Buraq, yang menggerakkan sayapnya terbang ke atas.

Bersama malaikat yang kini menampakkan wujud aslinya, Beliau Mi’raj melampaui ruang, waktu dan bentuk lahiriah bumi lalu melintasi ke tujuh langit. Di sana Beliau bertemu kembali dengan para nabi yang shalat bersamanya di Yerusalem. Namun, di Yerusalem mereka tampak seperti hidup di bumi. Sementara Nabi kini melihat mereka dengan wujud ruhani sebagaimana mereka melihat Beliau.

Rasulullah SAW kagum dengan perubahan mereka. Mengenai Nabi Yusuf As, ia berkomentar: “Wajahnya laksana cahaya rembulan saat purnama. Ketampanannya tidak kurang dari setengah ketampanan yang ada saat ini,”

Puncak Mi’rajnya adalah di sidrat al-muntaha — begitulah yang disebut dalam Alquran. Di salah satu tafsir tertua berdasarkan hadis Nabi dikatakan: “Sidrat al-muntaha berakar pada singgasana (Arsy). Itu menandakan puncak pengetahuan setiap orang yang berpengetahuan baik malaikat maupun rasul. Segala sesuatu di atasnya adalah misteri yang tersembunyi, tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah semata,”

Pada puncak semesta, Jibril tampak di hadapan Beliau dalam segenap kemegahan malaikatnya, seperti saat pertama kali diciptakan. Disebutkan dalam QS An- Najm (53), ayat 16-18: “(Muhammad melihat Jibril) ketika sidrat al-muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar,”

Menurut tafsir, Cahaya Ilahi turun meliputi sidrat al-muntaha, juga meliputi segala sesuatu di sisinya. Mata Rasulullah SAW menatapnya tanpa berkedip dan tanpa berpaling darinya. Hal itu merupakan jawaban atau salah satu jawaban atas permohonan yang tersirat dalam ucapannya. “Aku berlindung kepada Cahaya keridhoan-Mu,”

Di sidrat al-muntaha, Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima puluh kali dalam sehari semalam bagi umatnya. Kemudian beliau menerima wahyu yang berisi ajaran pokok Islam:

“Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan dari Tuhannya, demikian pula orang- orang yang beriman kepada Allah. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat- malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya dan rasul- Rasul-nya.

Dan mereka berkata: ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun dengan yang lain dari rasul-rasul-Nya,’ dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat’. Mereka berdoa: ‘Ampunilah kami, Ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali’.”

Mereka kemudian turun melintasi tujuh langit tempat mereka naik. Setelah Rasulullah SAW dan malaikat turun ke Yerusalem, mereka kembali ke Mekah melewati banyak kafilah ke arah selatan. Ketika mereka tiba di Ka’bah, waktu itu masih malam dan Rasulullah SAW kembali ke rumah keponakannya, Umm Hani’ dan menceritakan Isra’ dan Mi’raj kepada keponakannya.

Umm Hani’ menuturkan: “Wahai Rasulullah, jangan ceritakan ini kepada masyarakat, karena engkau akan dianggap berbohong. Mereka akan menghinamu,” Rasulullah SAW menjawab: “Demi Allah aku akan menceritakan kepada mereka,”

Keyakinan Abu Bakar dan gelar As- shiddiq

Beliau pergi ke masjid dan menceritakan tentang perjalanannya ke Yerusalem. Musuh-musuhnya merasa senang karena mereka memiliki alasan untuk menghina Rasulullah. Karena setiap orang Quraisy tahu bahwa perjalanan kafilah dari Makkah ke Syria membutuhkan waktu sebulan untuk berangkat dan sebulan untuk kembali.

Sekelompok orang pergi menemui Abu Bakar dan bertanya: ” Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu sekarang tentang sahabatmu itu? Ia mengatakan, telah pergi ke sana dan shalat di sana, lalu kembali ke Makkah,”

“Jika ia berkata demikian, itu benar,” jawab Abu Bakar penuh keyakinan. “Dimana keganjilannya? Beliau mengatakan kepadaku bahwa berita-berita datang kepadanya dari langit ke bumi dalam satu jam sehari atau semalam. Maka, aku percaya dia pergi dari bumi ke langit dalam semalam.”

Kemudian Abu Bakar mendatangi masjid dan mengulang pembenarannya. “Jika itu yang dikatakan Beliau, maka itu benar,”

Karena itu Rasulullah SAW memberinya gelar ‘As- Shiddiq’ yang artinya ‘saksi kebenaran’ atau ‘orang yang meyakini kebenaran’. Selain itu, sebagian orang yang menganggap cerita ini sulit diterima mulai berpikir ulang. Sebab, Rasulullah SAW menggambarkan beberapa kafilah yang beliau temui dalam perjalanan pulang.

Beliau juga mengatakan dimana mereka berada dan kapan mereka diperkirakan tiba di Makkah. Ternyata setiap kafilah tiba tepat seperti yang diperkirakan. Begitu pula dengan ciri-ciri yang Beliau gambarkan.

Kepada orang-orang yang berada di masjid, Rasulullah SAW hanya menceritakan mengenai perjalanannya ke Yerusalem. Namun, ketika beliau bersama Abu Bakar dan sahabat lainnya beliau menceritakan mi’raj nya ke langit ketujuh, menceritakan sebagian yang telah Beliau lihat, yang selebihnya diceritakan di tahun-tahun kemudian, seringkali dalam menjawab pertanyaan.

 

REPUBLIKA

Pakar Fisika Jelaskan Fenomena Perjalanan Isra Mi’raj

Isra Mi’raj adalah sebuah fenomena perjalanan yang sangat mungkin terjadi dan bisa dijelaskan kemungkinannya dari sisi keilmuan masa kini. Hal ini disampaikan Dosen Fisika Institut Pertanian Bogor (IPB) Husin Alatas kepada Republika.co.id,Jumat (13/4).

“Kita tidak bisa tahu mekanisme atau cara pastinya perjalanan Isra Mi’raj tersebut seperti apa, kita hanya bisa membahasnya mungkin atau tidak, dan itu sangat mungkin,” kata pakar biofisik, optik dan fisika teori ini.

Mulai dari Isra yang merupakan perjalanan dari Makkah ke Palestina. Prof Husin mengatakan fenomena tersebut bisa dijelaskan dengan teknologi yang ada saat ini. Seseorang bisa melakukan perjalanan dari satu posisi ke posisi lain di muka bumi dalam waktu singkat.

“Sekarang ada pesawat yang memungkinkannya terjadi, dahulu memang tidak terpikirkan, saudagar perlu berbulan-bulan perjalanan,” katanya.

Ini Makna Spiritual Isra Mi’raj

Peraih penghargaan dari Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia ini menegaskan mekanisme atau cara Isra tidak bisa dipastikan, wallahualam. Tapi, Isra bisa ditelaah kemungkinannya dengan sains saat ini. Teknologi modern kini mengenal pesawat sebagai sarana perjalanan singkat dalam satu malam itu. Dalam riwayat, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan ini dengan buraq.

“Saya tidak punya penjelasan ilmiah tentang buraq, tapi ia analog dengan pesawat, sebagai wahana atau sarana,” kata Prof Husin.

Menurutnya, yang menarik adalah Mi’raj yang merupakan perjalanan Rasulullah SAW untuk menemui Allah SWT di Sidratul Muntaha. Prof Husin mengatakan banyak spekulasi yang bisa menjelaskan fenomena ini. Mulai dari spekulasi apakah perjalanan tersebut beserta jasad Rasulullah atau hanya bersifat perjalanan ruhiyah atau imateril.

“Baik dengan jasad atau tidak, dua-duanya memungkinkan,” kata dia.

Namun jika memaparkan kemungkinannya, maka ada banyak spekulasi atau teori yang bisa dijelaskan. Mulai dari kemungkinan Nabi Muhammad SAW melakukan Mi’raj dengan jasad, maka ada teori relativitas dan fisika partikel yang bisa disodorkan.

“Ada prinsip kesetaraan energi dan materi, bahwa secara prinsip materi bisa berubah jadi energi dan sebaliknya, kalau berubah jadi energi dia punya kecepatan cahaya,” katanya.

Selain itu ada teori yang sedang berkembang saat ini tentang dimensi ekstra. Misal, jarak titik A ke titik B sangat jauh. Tapi ada jalan tikus yang memungkinkan waktu perjalanannya sangat singkat. Jalan tikus inilah yang disebut dimensi ekstra, yang menyebabkan perjalanan menjadi lebih cepat.

“Ada beberapa fenomena alam yang menunjukkan indikasi dimensi ekstra itu ada, artinya fenomena alam ini hanya bisa dijelaskan kalau ada dimensi ekstra tadi,” kata dia.

Contohnya adalah fenomena gravitasi. Menurutnya, gravitasi adalah gaya paling lemah dari semua gaya yang ada di alam. Ia diduga bisa bocor ke dimensi lain.

“Idenya muncul dari lubang hitam, lubang cacing, lubang putih, Nah ini spekulasi, apakah Mi’raj itu perjalanan dimensi lain? Mungkin, apa mekanismenya seperti itu? wallahualam,” kata dia.

Selain itu, jika Mi’raj adalah perjalanan ruhiyah, hal ini juga memungkinkan. Saat ini, masih belum ada pemahaman tentang kesadaran. Apakah kesadaran itu merupakan entitas yang terpisah dari badan atau tidak.

“Sekarang jika kesadaran itu entitas yang terpisah dari jasad, maka ada konsep ruh dan ya, Rasulullah bisa Mi’rajnya secara ruhiyah,” kata dia.

Isra dan Mi’raj, Perjalanan Mahadahsyat Rasulullah

Dua spekulasi mi’raj ini dimungkinkan oleh sains masa kini. Saat ini, sains juga belum bisa menjelaskan konsep Sidratul Muntaha, langit ketujuh atau istilah lainnya. Ini adalah konsep sekian zaman dan penafsirannya berbeda tentang apa itu langit.

Husin menjelaskan bahkan sekarang ilmu pengetahuan malah makin bingung tentang konsep langit ketujuh. Karena alam semesta ini sangat luas dan tidak bisa diamati secara keseluruhan. Kemampuan teknologi sangat terbatas sehingga yang muncul hanya spekulasi.

“Sains itu belum punya kelengkapan untuk menjelaskan fenomena ini, tapi kalau ditanya mungkin atau tidak? itu sangat mungkin,” kata dia.

Prof Husin menyampaikan, baginya ini semua adalah fenomena keimanan yang memicu orang untuk berpikir. Manusia tidak bisa memahami kejadian sesungguhnya, katanya, tapi bisa menginspirasi kemungkinan perjalanan itu.

“Fenomena ini bisa memicu orang untuk mencari tahu mekanisme, tentang pergi ke bintang lain tidak harus lewat jalan konvensional,” kata dia.

Pria yang telah mempublikasikan puluhan tulisan ilmiah ini mengingatkan pada sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq tentang Isra Mi’raj. Perjalanan ini adalah domain keimanan. Saat ditanya percaya atau tidak, Abu Bakar menjawab ‘lebih dari itu pun aku percaya’. “Ini memang di luar batas imajinasi kita, yang penting sekarang adalah oleh-oleh dari Isra Mi’raj ini, bahwa kita diajari Isra Mi’raj secara individu (shalat),” katanya.

 

REPUBLIKA

Inilah 10 Hikmah Isra Miraj

Dalam kedahsyatan Isra Miraj, terkandung banyak hikmah yang sangat bermanfaat bagi umat. Berikut ini 10 hikmah Isra Miraj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

1. Tasliyah

Hikmah isra miraj yang pertama adalah tasliyah (hiburan) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bayangkanlah cobaan bertubi-tubi yang menimpa Rasulullah dan umat Islam di Makkah. Lalu pada tahun 10 kenabian, Rasulullah kehilangan dua orang yang paling dicintai; Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib.

Khadijah adalah istri pertama beliau. Wanita pertama yang beriman kepada beliau dan menjadi pendukung dakwah yang setia dengan segala dukungan jiwa dan hartanya. Ketika Rasulullah menghadapi masalah, Khadijah yang menemani dan memotivasi beliau. Ketika Rasulullah butuh dana untuk berdakwah, membebaskan budak dan membantu fakir miskin, saudagar wanita kaya raya itu yang memberikan dukungan finansial. Maka wafatnya Khadijah adalah duka bagi beliau.

Setelah Khadijah wafat, tak berselang lama kemudian, paman beliau Abu Thalib juga wafat. Padahal Abu Thalib, dengan kedudukan beliau sebagai tokoh dan sesepuh di Makkah, selalu melindungi Rasulullah. Jika ada yang hendak menyakiti atau mencelakakan Rasulullah, Abu Thalib tampil pasang badan untuk melindungi keponakannya itu. Wafatnya Abu Thabil menambah duka Rasulullah.

Bersama wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, yang berarti hilangnya dua tokoh penting pelindung dakwah Rasulullah, orang-orang kafir Quraisy semakin massif mengintimidasi Rasulullah. Dakwah di Makkah serasa tak bisa bergerak. Tribulasi meningkat berlipat-lipat. Wajar jika Rasulullah menyebut tahun itu sebagai amul huzn (tahun duka cita).

Pada saat seperti itulah kemudian Allah memperjalankan Rasulullah dengan isra miraj. Sebagai bentuk tasliyah, Rasulullah melihat tanda-tanda kekuasaan Allah baik di bumi maupun di langit. Sekaligus menegaskan bahwa dakwah Islam pasti akan menang.

2. Rasulullah pemimpin para Nabi

Isra’ mi’raj juga menegaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin para Nabi dan Rasul. Hal itu terbukti saat berada di Masjid Al Aqsha. Setibanya di sana, beliau shalat dua rakaat mengimami ruh para Nabi. Hal itu terjadi sebelum beliau naik mi’raj ke langit.

Menjadi imam sholat merupakan penanda bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin dan penghulu para Nabi dan rasul.

3. Islam agama fitrah

Di antara rangkaian peristiwa isra miraj, setelah sholat dua rakaat di Baitul Maqdis, Jibril membawakan dua wadah minuman kepada Rasulullah. Satu wadah berisi susu dan satu wadah berisi khamar.

Tanpa ragu, Rasulullah memilih susu. Lantas Malaikat Jibril pun berkata kepada Rasulullah, “Sungguh engkau telah memilih fitrah (kesucian).” Peristiwa ini menguatkan bahwa Islam adalah agama fitrah dan kesucian.

4. Kedudukan Masjid Al Aqsha

Di antara hikmah isra miraj adalah menunjukkan kedudukan penting dan mulia Masjid Al Aqsha. Masjid Al Aqsha memiliki kaitan erat dengan Masjidil Haram. Rasulullah berangkat isra’ dari Masjidil Haram menuju Masjid Al Aqsha. Di sini beliau mengimami para Nabi lalu bertolak menuju langit.

Masjid Al Aqsha merupakan tempat isra’ Rasulullah dan kiblat pertama umat Islam. Karenanya umat Islam harus mencintai Masjid Al Aqsha dan mempertahankannya dari segala upaya penjajah Yahudi yang hendak mencaplok dan merobohkannya.

5. Urgensi shalat

Isra’ mi’raj juga menunjukkan kedudukan shalat yang agung. Jika perintah lain cukup dengan wahyu melalui Malaikat Jibril, perintah shalat langsung diturunkan Allah kepada Rasulullah tanpa perantara Jibril. Shalat ini pula yang menjadi inti tasliyah (hiburan) bagi hambaNya.

Mengenang isra miraj, kita harus mengingat intinya ini: shalat. Jika isra miraj adalah tasliyah, maka shalat adalah inti tasliyah ini. Beruntunglah orang yang bisa menikmati shalat dan bisa khusyu’ saat shalat. Sebab ia telah menemukan tasliyah hakiki. Rasulullah dan para sahabat telah mencapai level ini.

6. Memurnikan barisan dakwah

Di antara hikmah isra miraj adalah memurnikan barisan dakwah. Sebentar lagi, Rasulullah hendak mencapai fase baru yakni hijrah dan mendirikan negara Islam di Madinah. Maka Allah memurnikan barisan dakwah dengan isra miraj.

Orang-orang yang tidak kuat aqidahnya dan mudah goyang keyakinannya, mereka murtad setelah diberitahu tentang isra miraj. Adapun yang imannya kuat, mereka justru semakin kuat imannya.

Iman yang kuat dan tak pernah goyah inilah kunci soliditas barisan mujahid dakwah. Di Madinah nanti akan terjadi banyak peperangan. Tanpa soliditas, pasukan Islam bisa tercerai berai. Dengan soliditas yang dibangun di atas iman yang kuat dan aqidah yang kokoh, pasukan Islam tegar menghadapi segala jenis peperangan, konspirasi dan segala macam kesulitan.

7. Keberanian Rasulullah

Isra miraj juga menunjukkan keberanian Rasulullah yang sangat tinggi dalam berdakwah. Beliau terang-terangan menyampaikan isra miraj kepada orang-orang Makkah. Meskipun kafir Quraisy tidak akan percaya bahkan mencemooh dan mengolok-olok, Rasulullah tetap menyampaikan.

Ketika mereka minta bukti empiris, Rasulullah pun memberikan bukti itu dengan pertolongan Allah. Ketika mereka minta diterangkan bagaimana Baitul Maqdis bahkan pintu-pintunya, Malaikat Jibril datang membawakan gambaran Baitul Maqdis di atas sayapnya. Rasulullah pun menjelaskan pintu-pintu Baitul Maqdis, membuat tercengang orang-orang kafir Quraisy yang sebagian pernah ke sana dan mengamatinya.

Merasa Rasulullah tahu persis Masjidil Aqsha, mereka minta diceritakan tentang rombongan unta kafilah dagang mereka. Logikanya, jika Rasulullah menempuh perjalanan Masjidil Haram – Baitul Maqdis, Rasulullah juga melewati rombongan unta mereka.

Lalu Rasulullah menceritakan kondisi tiga rombongan unta mereka. Mendengar apa yang disampaikan Rasulullah benar-benar sesuai fakta, mereka terheran-heran namun justru mendustakan. “Engkau adalah tukang sihir,” kata Walid bin Mughirah diikuti orang-orang kafir Quraiys lainnya.

8. Keimanan yang paling sempurna

Keimanan umat yang paling sempurna adalah imannya Abu Bakar. Ketika orang-orang kafir Quraisy mengabarkan bahwa Muhammad mengatakan telah isra miraj, beliau langsung mempercayainya. “Jika yang mengatakan Rasulullah, aku percaya,” demikian logika keimanan Abu Bakar sehingga beliau mendapat gelar Ash Shiddiq.

Demikianlah logika keimanan dan konsekuensi syahadat risalah. Ketika kita sudah beriman bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka kita akan membenarkan seluruh yang beliau bawa. Meskipun kadang akal kita tidak mampu menggapainya, seperti keajaiban peristiwa isra miraj ini.

9. Balasan perbuatan baik dan buruk

Dalam isra’ mi’raj, Rasulullah juga diperlihatkan surga dan neraka. Beliau diperlihatkan nikmat surga dan para penduduknya. Beliau juga diperlihatkan kesengsaraan penghuni neraka dengan siksa sesuai keburukan mereka di dunia.

Beliau diperlihatkan bagaimana siksa untuk orang yang suka ghibah, orang yang berzina, orang yang makan harta anak yatim, dan lain-lain. Semua ini lantas beliau sampaikan kepada umat untuk mencegah penyakit masyarakat yang terjadi kala itu. Ini hikmah isra miraj kesembilan.

10. Memperhatikan Masjid Al Aqsha

Setelah Rasulullah menyampaikan peristiwa isra’ mi’raj, para sahabat menjadi perhatian terhadap Masjid Al Aqsha yang saat itu berada dalam kekuasaan Romawi. Mereka memiliki azam untuk membebaskan masjid itu. Kelak di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Masjid Al Aqsha bisa dibebaskan hingga berada di pangkuan Islam.

Pembahasan lengkap mulai definisi hingga kronologis peristiwa bisa dibaca di artikel Isra Miraj

Demikian 10 hikmah isra mi’raj. Semoga bermanfaat bagi kita untuk memetik hikmah-hikmah itu dan menjadikan hidup kita lebih baik dari waktu ke waktu.

 

[Muchlisin BK/BersamaDakwah]

Isra dan Mi’raj, Perjalanan Mahadahsyat Rasulullah

Pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam dijemput malaikat Jibril dan Buraq untuk melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj untuk menerima perintah shalat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Perjalanan yang ditempuh dalam satu malam itu disebut-sebut sebagai pelipur lara untuk Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang ditinggal wafat dua orang yang paling dicintainya, istrinya, Khadijah radiallahu anhu, dan pamannya, Abu Thalib.

Isra

Perjalanan malam hari dari Makkah ke Yerusalem berjarak 1.507,9 kilometer. Penerbangan dengan pesawat terbang saat ini memakan waktu 1 jam 52 menit. Sebelum sampai ke Baitul Maqdis, Malaikat Jibril membawa Rasulullah singgah ke Madinah, Bukit Thursina, dan Bethlehem untuk melakukan shalat. Di Baitul Maqdis, Rasulullah mengimani shalat 125 ribu nabi.

Mi’raj

Rasulullah naik ke  Sidratul-Muntaha ditemani Malaikat Jibril dan menunggangi Buraq untuk bertemu dengan Allah.

Langit 1, Bertemu Nabi Adam alaihissalam.

Langit 2, Bertemu Nabi Isa alaihissalam dan Nabi Yahya alaihissalam.

Langit 3, Bertemu Nabi Yusuf alaihissalam.

Langit 4, Bertemu Nabi Idris alaihissalam.

Langit 5, Bertemu Nabi Harun alaihissalam.

Langit 6, Bertemu Nabi Musa alaihissalam.

Langit 7, Bertemu Nabi Ibrahim alaihissalam.

 

Bait-Ul Ma’mur

Di sini, 70 ribu malaikat shalat setiap harinya. Malaikat Jibril hanya mampu mengantarkan Rasulullah sampai di sini.

Sidratul-Muntaha

Rasulullah bertemu Allah dan menerima perintah shalat wajib 50 waktu yang kemudian diringankan menjadi lima waktu dalam satu hari satu malam.

Pelajaran Isra Mi’raj Nabi SAW

Setiap bulan Rajab, kaum Muslimin memperingati peristiwa fenomenal sekaligus mukjizat teragung, yaitu Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Jumhur sepakat bahwa perjalanan itu dilakukan oleh Nabi SAW dengan jasad dan roh.

Isra adalah perjalanan Nabi SAW dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsha (di al-Quds, Palestina). Mi’raj adalah kenaikan Nabi SAW menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk. Semua itu ditempuh dalam semalam.

Peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada tahun ke-10 dari Nubuwah, ini pendapat al-Manshurfury. Menurut riwayat Ibnu Sa’d di dalam Thabaqat-nya, peristiwa ini terjadi 18 bulan sebelum hijrah. Dengan tujuan untuk menenteramkan perasaan Nabi SAW; sebagai nikmat besar yang dilimpahkan kepadanya.

Lalu, agar Nabi SAW merasakan langsung adanya pengawasan dan perlindungan Allah SWT, karena sebelumnya Nabi mengalami kesulitan dan penderitaan selama menjalankan dakwah dan kehilangan orang-orang yang sangat dicintai, yaitu Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah binti Khuwailid; untuk menunjukkan pada dunia bahwa Nabi SAW merupakan Nabi yang teristimewa; untuk menunjukkan keagungan Allah (QS al-Isra’ [17]: 1, QS al-An’am [6]: 75, dan QS Thaha [20]: 23); dan untuk menguji keimanan umat manusia.

Mengapa perjalanan Isra Mi’raj dimulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha? Peristiwa ini memberikan isyarat bahwa kaum Muslimin di setiap tempat dan waktu harus menjaga dan melindungi Rumah Suci (Baitul Maqdis) dari keserakahan musuh Islam. Hal ini juga mengingatkan kaum Muslimin zaman sekarang agar tidak takut dan menyerah menghadapi kaum Yahudi yang selalu menodai dan merampas Rumah Suci.

Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Nabi SAW dipertemukan dengan para nabi terdahulu, hal ini merupakan bukti nyata adanya ikatan yang kuat antara Nabi SAW dan nabi-nabi terdahulu.

Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan aku dengan nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah ba ngunan, kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut, kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Ketika orang-orang mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi indahnya, jika batu batu ini diletakkan?” Akulah batu bata itu, dan aku adalah penutup para nabi.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis shahih diriwayatkan, Nabi SAW mengimami para nabi dan rasul terdahulu dalam shalat jamaah dua rakaat di Masjidil Aqsha. Kisah ini menunjukkan pengakuan bahwa Islam adalah agama Allah terakhir yang diamanahkan kepada manusia. Agama yang mencapai kesempurnaannya di tangan Nabi SAW.

Pilihan Nabi SAW terhadap minuman susu, ketika Jibril menawarkan dua jenis minuman, susu dan khamr, merupakan isyarat secara simbolis bahwa Islam adalah agama fitrah. Yakni, agama yang akidah dan seluruh hukumnya sesuai dengan tuntunan fitrah manusia. Di dalam Islam, tidak ada sesuatu pun yang bertentangan dengan tabiat manusia.

Perjalanan Isra Mi’raj dalam rangka menerima perintah shalat dari Allah, tanpa melalui perantara. Hal ini menunjukkan pentingnya shalat bagi kaum Muslimin. Shalat yang dilakukan akan dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih bermakna.

Jika pelajaran dari Isra Mi’raj ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan, dapat membawa perubahan kehidupan menjadi lebih baik. Semoga.

10 Fakta Isra Mi’raj yang Perlu Anda Tahu

Isra Mi’raj adalah peristiwa fenomenal yang menjadi salah satu mukjizat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Betapa luar biasanya Isra Mi’raj terangkum dalam 10 poin ini.

1. Makna Isra

Secara etimologi, Isra berasala dari أَسْرَى yang artinya berjalan di waktu malam. Isra adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Isra’ : 1)

2. Makna Mi’raj

Mi’raj secara etimologi berarti naik atau alat yang dipergunakan untuk naik. Secara istilah, mi’raj adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.

أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى * وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى * عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى * عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى * إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى * مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى * لَقَدْ رَأَى مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An-Najm : 12-18)

3. Isra Mi’raj terjadi dalam semalam

Isra mi’raj terjadi dalam satu malam. Bahkan tidak sampai semalam penuh. Hal ini merupakan keajaiban yang luar biasa.

Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha di Palestina berjarak sekitar 1.500 Km. Makkah – Palestina itu biasa ditempuh 40 hari dengan perjalanan onta. Sedangkan Rasulullah bisa menempuhnya hanya beberapa jam. Ini saja sudah merupakan keajaiban. Apalagi untuk naik ke Siratul Muntaha.

4. Tahun duka

Sebelum peristiwa Isra dan Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditinggalkan oleh dua orang yang sangat berperan besar dalam dakwah beliau: Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib. Ummul Mukminin Khadijah sangat dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dialah wanita dan bahkan manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang mukminah yang mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah Islam, dan juga seorang istri, yang darinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai anak (keturunan).

Sedangkan Abu Thalib adalah paman beliau. Meskipun tidak masuk Islam, Abu Thalib berjasa besar dalam dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Thalib yang selama ini membela Rasulullah, Abu Thalib yang selama ini pasang badan ketika Quraisy akan mencelakakannya, Abu Thalib yang selama ini membuat orang Quraisy berpikir panjang ketika hendak menyakiti Rasulullah.

Dua orang itu meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam tahun yang sama, dan kemudian dakwah menjadi lebih sulit dengan hilangnya dua pendukung besar dakwah. Karena itu, ahli sejarah menyebut tahun itu sebagai amul huzni; tahun duka cita.

Duka itu semakin lengkap, manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencoba membuka jalur dakwah baru, Thaif. Thaif yang sejuk dan hijau diharapkan menjadi lahan dakwah baru yang mau membuka diri menerima Islam. Namun ternyata, Thaif tidak kalah bengis dalam merespon dakwah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diusir, bahkan disertai dengan cacian dan dilempari batu hingga kaki beliau berdarah-darah.

5. Isra Mi’raj menjadi tasliyah

Dalam kesedihan mendalam seperti itulah kemudian Allah SWT meng-isra mi’raj-kan beliau. Hingga jadilah peristiwa Isra dan Mi’raj itu menjadi tasliyah (pelipur lara) yang sangat luar biasa bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Melalui isra mi’raj Allah tunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya

Dalam isra dan mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditunjukkan kekuasaan Allah di bumi dan di langit. Bahwa jika Allah berkenan, mudah saja bagi-Nya untuk mempercepat kemenangan dakwah, sebagaimana Allah juga dengan mudah dapat mempercepat perjalanan hamba-Nya; bahkan dengan kecepatan melebihi cahaya.

Allah juga menunjukkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa meskipun untuk sementara dakwahnya ditolak di bumi, ia sangat dimuliakan di langit. Ketika berada di langit, Rasulullah bertemu dengan para Nabi yang semuanya memuliakan beliau.

7. Dalam isra mi’raj Rasulullah bertemu para Nabi

Dalam banyak hadits shahih diterangkan bahwa dalam isra mi’raj Rasulullah bertemu para Nabi. Mereka menyambut dan memuliakan Rasulullah. Sebagai bukti bahwa Rasulullah adalah pelanjut kafilah para Nabi dan penutup mereka.

8. Mendapat perintah shalat 5 waktu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan perintah shalat wajib dalam Isra Mi’raj ini. Di sinilah salah satu keistimewaan shalat; jika ibadah yang lain diwajibkan melalui wahyu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di bumi, maka untuk mewajibkan shalat Allah memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke langit. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa semula shalat itu diwajibkan 50 waktu, yang kemudian menjadi 5 waktu.

9. Dalam isra mi’raj Rasulullah diperlihatkan nikmat surga dan siksa neraka

Dalam perjalanan isra mi’raj itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga diperlihatkan nikmat surga dan azab neraka; yang semakin mengokohkan beliau dalam mengemban dakwah berikutnya.

10. Hanya orang beriman yang mempercayai isra mi’raj

Esok harinya sepulang dari Isra Mi’raj, Makkah menjadi gempar ketika Rasulullah menceritakan Isra Mi’raj yang dialaminya. Orang-orang kafir seperti Abu Jahal semakin menjadi dalam mengejek beliau. Bahkan sebagian orang yang telah masuk Islam menjadi murtad setelah mendengar peristiwa itu. Iman mereka tidak sampai di sana. Demikian pula akalnya.

Namun tidak demikian dengan Abu Bakar. Ketika orang-orang menyampaikan berita Isra Mi’raj padanya, Abu Bakar hanya bertanya: “Apakah benar itu dari Muhammad Rasulullah?” ketika dijawab benar, Abu Bakar menimpali, “Kalau itu dikatakan Rasulullah, pastilah benar adanya!”. Demikianlah keimanan Abu Bakar yang luar biasa, selalu membenarkan Rasulullah hingga sebagian ulama berpendapat sebab peristiwa inilah Abu Bakar digelari Ash-Shidiq.

Demikianlah sikap manusia. Tidak semuanya beriman, tidak semuanya siap menerima kebenaran. Dan iman yang paling utama adalah iman seperti Abu Bakar.

 

[Muchlisin BK/Bersamadakwah]

Fakta dan Sejarah Mengapa Bulan Rajab Begitu Istimewa

DALAM kalender Islam terdapat beberapa bulan yang dimuliakan. Salah satunya adalah bulan Rajab. Apa artinya bulan Rajab dan apa keistimewaannya?

Seperti dilansir dari AboutIslam, Senin (19/3/2018), dijelaskan bahwa Rajab adalah salah satu Bulan Suci di antara beberapa bulan lain (yaitu Dhul-Qi’dah, Dhul-Hijjah, Muharram, dan Rajab), pada bulan Rajab terjadi peristiwa keajaiban Al Isra ‘dan Al Mi’raj. Peristiwa itu mengingatkan kita untuk melindungi tempat-tempat yang disucikan, yakni di Palestina.

Almarhum cendekiawan Muslim, Sheikh Ahmad Ash-Sharabasi, profesor ilmu kepercayaan dan filosofi Islam di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir menyatakan, Bulan Rajab adalah bulan Arab dan Islam dalam kalender Hijriah. Kata rajab berasal dari kata tarjib, yang dalam bahasa Arab, menunjukkan kemuliaan. Alasan di balik nama ini bagi orang-orang Arab adalah saat yang mulia.

Rajab memiliki keistimewaan, salah satunya adalah bulan yang suci. Rajab disebut juga Rajab Al-Haram yang dalam bahasa Arab artinya Rajab Suci. Disebut demikian karena ini adalah salah satu dari empat Bulan Suci, di mana pada bulan tersebut dilarang menganiaya diri sendiri. Ini sudah menjadi kebiasaan dan praktik tradisional yang dilakukan orang Arab selama berabad-abad.

Ayat dalam Al Qur’an yang merujuk tentang bulan-bulan suci terdapat di Surat At-Tawbah, yang mana Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS : At-Tawbah 9:36)

Bulan Suci yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu Dhul-Qi’dah, Dhul-Hijjah, Muharram, dan Rajab. Itulah sebabnya Rasulullah saw bersabda, “Waktu telah kembali ke keadaan semula, yang telah terjadi ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Tahunnya dua belas bulan, empat di antaranya adalah yang suci: Tiga berturut-turut, yaitu Dhul-Qi’dah, Dhul-Hijjah, dan Muharram, dan (yang keempat) Rajab (dari suku) Mudar, yaitu antara Jumada (Thani) dan Sha’ban. (HR : Al-Bukhari dan Muslim)

Bulan Rajab juga disebut Rajab Al-Fard (bahasa Arab artinya Rajab tersendiri) karena bulannya terpisah dari tiga bulan lain yang waktunya berturut-turut, yaitu Dhul-Qi’dah, Dhul-Hijjah dan Muharram. Kemudian 5 bulan setelah itu barulah bulan Rajab.

Rajab juga memiliki nama lain, yaitu Rajab Mudar. Lewat sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan mengapa disebut demikian, “Dan (yang keempat) Rajab (dari suku) Mudar, yang antara Jumada (Thani) ) dan Sha’ban. (HR : Al-Bukhari dan Muslim).

Maksudnya, Mudar adalah suku di Arab. Dimanai Rajab Mudar karena suku tersebut dulu sangat menghormati bulan ini dan melindungi kesuciannya.

Istilah lain untuk menyebut bulan Rajab adalah Bulan Al-Israa ‘dan Al-Mi`raj. Dikatakan demikian karena Rajab menyaksikan terjadinya Al-Israa ‘dan Al-Mi`raj, perjalanan malam yang istimewa dan kenaikan Nabi ke langit ketika mendapat wahyu dari Allah SWT.

Mengenai perjalanan Isra-Mi’raj, dijelaskan dalam firman Allah SWT di Alquran.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS : Al-Israa ’17: 1)

Sementara untuk penjelasan Mi’raj, (kenaikan Nabi Muhammad ke langit), dijelaskan dalam surah An-Najm 53:7-18. “Sedang dia berada di ufuk yang tinggi.”

Dari beberapa penjelasn di atas, jelas sudah mengapa bulan Rajab sangat istimewa. Ada peristiwa penting di bulan tersebut, yaitu Isra dan Mi;’raj. Kemudian dimuliakan oleh salah satu suku di Arab, terdapat kebaikan dan keberkahan di dalamnya.

 

OKEZONE.com

Doa Rasulullah SAW Saat Memasuki Bulan Rajab

Dalam Islam, terdapat empat bulan haram yang artinya bulan yang dimuliakan, yakni bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan ini, Al-Qur’an menjelaskan:

Rasulullah mencontohkan, saat memasuki bulan Rajab beliau membaca:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ

“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Dilansir dari laman nu.or.id, selain berdzikir dan berdoa, pada bulan Rajab umat Islam juga dianjurkan untuk puasa sebanyak-banyaknya, sebagaimana juga pada bulan-bulan haram lainnya.

Sebutan sebagai bulan haram merujuk sejarah dilarangnya umat Islam mengadakan peperangan pada bulan-bulan itu. Wallâhu a’lam.

Hadis Keutamaan Rajab

Berikut beberapa hadis yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa bulan Rajab:
Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab beliau berdoa:“Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).

“Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari, maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan.”

Riwayat al-Thabarani dari Sa’id bin Rasyid: “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana berpuasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya…..”

‘Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut”.

Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Rajab itu bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku.”

Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini”.

TRIBUN NEWS

 

Sultan Sokoto Serukan Umat Islam Amati Bulan Baru Rajab

Sultan Sokoto, Alhaji Sa’ad Abubakar III, menyerukan umat Islam untuk mengawasi atau mengamati bulan baru dari bulan Rajab 1439 Hijriyah. Kesultanan menyerukan hal tersebut di Sokoto, kota di barat laut Nigeria, dalam sebuah pernyataan yang ditandatangi oleh Prof Sambo Junaidu, Wazirin Sokoto sekaligus Ketua Komite Penasehat dalam Urusan Agama untuk Dewan Kesultanan.

“Ini untuk menginformasikan Umat Muslim bahwa Sabtu, 17 Maret, yang sama dengan 29 hari Jimada Assaniya 1439 H, akan menjadi hari untuk mencari bulan baru Rajab 1439 H,” demikian pernyataan Sultan Sokoto, seperti dilansir di Daily Post Nigeria, Sabtu (17/3).

Oleh karena itu, umat Islam Sokoto diminta untuk mulai mengawasi bulan baru dari Rajab 1439 H pada Sabtu. Selanjutnya, umat Islam diminta untuk melaporkan kemunculannya kepada kepala distrik atau desa terdekat untuk komunikasi selanjutnya kepada Sultan.

Kesultanan juga mendo’akan untuk perdamaian dan persatuan di negara tersebut, di samping mengimbau umat Islam untuk sungguh-sungguh berdo’a demi pembangunan dan pertumbuhan yang berkelanjutan di daerah tersebut. Bulan Rajab adalah bulan ketujuh dari kalender Islam qomariyah (Hijriyah).

Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Bulan ini menjadi istimewa karena salah satunya merupakan terjadinya peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW untuk menerima perintah shalat lima waktu. Di samping itu, umat Islam banyak melakukan amalan.

 

REPUBLIKA