Belajar dari Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Dunia

Tak diragukan lagi, riwayat hidup terbaik yang mungkin akan terus dibaca dan diperbincangkan banyak orang adalah riwayat tokoh-tokoh besar dan para ilmuwan, salah satunya Ibnu Sina (908-1037), as-Syaikh ar-Rais. Banyak orang mungkin belum mengetahui guncangan-guncangan ringan dan sentakan kecil dalam kehidupan sehari-hari Ibnu Sina, yang boleh jadi juga menimpa setiap orang, terutama orang-orang yang memiliki kapasitas intelektual, kebersahajaan, dan kesabaran yang tinggi.

Ibnu Sina (Avicenna), dokter filsuf muslim yang dikenal dengan sebutan as-syaikh ar-rais (syekh tertinggi). Setelah melewati masa kecil yang luar biasa, Ibnu Sina belajar pada sejumlah ilmuwan besar dan mempelajari berbagai disiplin ilmu.

Singkat cerita, sejak berumur 10 tahun Ibnu Sina telah hafal Al-Quran dan menguasai dasar agama, tata bahasa arab (nahwu-sharaf), manthig (logika), dan bayan (ilmu tentang gaya bahasa). Ibnu Sina juga seorang matematikawan, ia ahli dalam hitung-hitungan, hansadah, dan aljabar. Ilmu manthig, filsafat, hikmah pun tuntas dipelajari dalam hitungan hari. Dikarenakan sudah tidak ada guru lagi yang bisa mengajarinya, maka Ibnu Sina memutuskan untuk mempelajari ilmu kedokteran dan membaca buku-buku tentang dunia kedokteran secara otodidak. Ia terus membaca dan membaca. Hal inilah yang harusnya bisa kita tiru. Ketika semua orang telah terlelap, Ibnu Sina masih terjaga. Ia masih menaruh lampu minyak di sampingnya, lampu cahaya redupnya bisa menerangi lembar-lembar buku yamg sedang ia baca. Berkat kepandaian dan kebersahajaannya, ia menjadi dokter bagi kaum miskin. Tangannya bagai obat yang menyembuhkan berbagai penyakit.

Sejak kanak-kanak, Ibnu Sina bergaul dengan kalangan ulama dan ilmuwan. Ia menghabiskan banyak waktu untuk menggeluti berbagai bidang keilmuan dan menulis buku. Inilah yang kemudian membuat orang-orang di lingkaran kekuasaan terus berupaya menyingkirkan Ibnu Sina, karena merasa dengki melihat kemampuan dan kharisma pemikir hebat itu. Namun dalam kekalutan dan ketidaknyamanan itulah Ibnu Sina dapat melahirkan magnum opus Al-Qanun fi at-Thibb dan as-Syifa’ yang telah menggemparkan khazanah keilmuan-khususnya kedokteran-diseluruh belahan dunia.

Dalam buku maha karyanya, as-Syifa’, buku yang menitikberatkan pengkajian pada filsafat. As-syifa’ terdiri dari 18 jilid dan merupakan salah satu karya terpenting Ibnu Sina. Dalam buku ini, ilmu pengetahuan dibagi menjadi tiga; metafisika, fisika, dan matematika. Sedangkan dalam bukunya Al-Qanun, Ibnu Sina membagi dalam beberapa risalah. Risalah pertama terkait dengan definisi ilmu kedokteran dan penjelasan terperinci tentang organ tubuh manusia. Risalah kedua menjelaskan jenis-jenis obat dan beberapa hal yang dihasilkan dari obat-obatan. Dalam bukunya Ibnu Sina mencatat ada 785 jenis tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan sebagai obat. Risalah ketiga berisi tentang penjelasan penyakit yang diderita oleh penduduk lokal Khawarizm, sebab-sebabnya, tanda-tandanya, dan cara pengobatannya. Risalah keempat membahas semua jenis penyakit yang dikenal hingga kini. Risalah kelima juga terkait dengan obat-obatan dan peracikannya.

Ibnu Sina hidup pada masa pergolakan politik yang panjang, situasi yang kemudian berakibat kurang baik bagi peribadinya. Permainan politik ibarat buah paling pahit yang pernah diciptakan Allah. Sejarah telah menzaliminya. Namun, setelah itu, sunatullah menunjukan kenyataan yang berbeda. Ibnu Sina dimuliakan dengan kematiannya.

Dari kisah hidup Ibnu Sina tersebut, ada dua hal menarik yang bisa diambil hikmah yaitu pentingnya membaca dan menulis. Pertama, membaca membukakan cakrawala pemikiran kita sehingga membentuk pola pikir  yang kritis. Membaca menjadikan manusia berintelektual tinggi. Kedua menulis, bisa kita lihat sekarang, karya Ibnu Sina sampai sekarang masih menjadi rujukan dalam dunia kedokteran. Meskipun sudah wafat, beliau masih bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Jadi begitu banyak pahala yang bisa kita dapatkan melalui goresan pena yang ditorehkan, tak terkecuali ketika kita sudah berada di alam kubur sekalipun.

 

Bersama Dakwah

Di Usia 10 Tahun, Ibnu Sina Sudah Hafal Alquran

— Ibnu Sina atau Avicenna memiliki nama lengkap Abu Ali al Huseyn bin Abdullah bin Hassan Ali bin Sina. Ilmuwan berdarah Persia ini menulis karya ilmiah pertamanya di usia 21 tahun. Al-Majmu demikian judul karya ilmiah tersebut, yang mengulas beragam ilmu pengetahuan. 

Ibnu Sina lahir pada 980 M atau 370 H di Afsyanah, sebuah kota kecil di dekat Bukhara, Uzbekistan. Sepanjang hidupnya, Muslim jenius ini telah menghasilkan 450 karya ilmiah. Namun dari jumlah itu, hanya sekitar 240 karya yang tersisa.

Sebanyak 150 karya mengupas tentang filsafat, 40 kitab tentang kedokteran, dan karya-karya lainnya memuat beragam ilmu pengetahuan mulai dari filsafat, astronomi, kimia, geografi, matematika, geologi, psikologi, teologi, logika, fisika, hingga seni puisi.

Salah seorang temannya, Abu Ubaid al-Jurjani pernah bercerita, Ibnu Sina memiliki karakter yang cukup unik. Salah satunya, ia suka mengagumi diri sendiri. Dan faktanya, Ibnu Sina memang dikagumi banyak orang karena kejeniusannya. 

Tak hanya menguasai beragam ilmu pengetahuan, Ibnu Sina juga memiliki perhatian besar kepada ilmu keagamaan. Hal inilah yang mendorongnya untuk menghafal Alquran. Beberapa sumber menyebut, Ibnu Sina telah hafal Alquran pada usia 10 tahun. 

Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina juga dikenal sebagai sosok yang mandiri dalam pemikiran. Ayahnya yang berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniyah. 

Sejak kecil, Ibnu Sina memperlihatkan kepandaian yang luar biasa. Ilmu kedokteran dipelajarinya saat berusia 16 tahun. Tak hanya mempelajari teori kedokteran, dia juga merawat orang sakit berdasarkan pengetahuannya sendiri. 

Berkat melayani orang sakit, Ibnu Sina pun menemukan metode-metode baru dalam perawatan. Dia menjadi seorang dokter sejak usia 17 tahun. Dia semakin terkenal sebagai dokter sejak berhasil menyembuhkan Raja Dinasti Samaniah, Nuh bin Mansur. 

Tak hanya Nuh bin Mansur, ia juga berhasil menyembuhkan sejumlah penguasa lain, di antaranya Ratu Sayyidah dan Sultan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamadan, dan Alaud Dawla dari Isfahan. 

Ibnu Sina baru berusia 22 tahun ketika sang ayah wafat. Sepeninggal ayahnya, dia kemudian berkelana untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Kota pertama yang ia tuju adalah Jurjan.

Di salah satu kota kecil di Timur Tengah ini ia bertemu dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan al-Biruni yang kemudian menjadi gurunya. Setelah itu, dia berkeliling ke sejumlah kota di Iran seperti Rayy dan Hamadan.

Dari 450 karyanya, yang paling dikenal adalah As-Syifa dan Al-Qanun fi At-Tibb (The Canon of Medicine). Buku yang ditulis pada 1025 itu menjadi acuan dan referensi para dokter selama berabad-abad.

Karya-karya Ibnu Sina pernah disatukan dalam satu buku besar berjudul Essai de Bibliographie Avicenna yang disusun oleh Pater Dominican di Kairo. 

Kiprah gemilang Ibnu Sina di jagat ilmu pengetahuan berakhir ketika ia wafat pada Juni 1037 di Hamadan, Iran.

sumber: Republika Online

Sejak Kecil, Ibnu Sina Belajar Menghafal Alquran

Dunia Islam memanggilnya dengan nama Ibnu Sina. Namun di kalangan orang-orang Barat, ia dikenal dengan panggilan Avicenna. Ia merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter pada abad ke-10. Selain itu, Ia juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Dan sebagian besar karyanya adalah tentang filsafat dan pengobatan.

Bagi banyak orang, Ibnu Sina adalah ‘Bapak Pengobatan Modern’. Selain itu, masih banyak lagi sebutan lainnya yang ditujukan padanya, terutama berkaitan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib atau The Canon of Medicine yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 H/ 980 M di Afsyanah, sebuah kota kecil di wilayah Uzbekistan saat ini. Ayahnya yang berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniah (204-395 H/819-1005 M).

Sejak kecil, Ibnu Sina sudah menunjukkan kepandaian yang luar biasa. Di usia 5 tahun, ia telah belajar menghafal Alquran. Selain menghafal Alquran, ia juga belajar mengenai ilmu-ilmu agama. Ilmu kedokteran baru ia pelajari pada usia 16 tahun. Tidak hanya belajar mengenai teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit dan melalui perhitungannya sendiri, ia juga menemukan metode-metode baru dari perawatan.

Profesinya di bidang kedokteran dimulai sejak umur 17 tahun. Kepopulerannya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur (976-997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Banyak tabib dan ahli yang hidup pada masa itu tidak berhasil menyembuhkan penyakit sang raja sebelumnya.

Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, paling tidak untuk sementara selama sang raja dalam proses penyembuhan. Tapi Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang luas makin bertambah.

 

sumber: republika Online

Risalah Ibnu Sina

Ibnu Sina menulis tentang pengobatan patah tulang dalam dua risalah yang termuat dalam buku keempatal-Qanun. Risalah pertama berjudul, patah tulang secara keseluruhan dan yang kedua bertajuk patah tulang pada setiap bagian tulang secara terpisah.

Menurut Abdul Nasser Kaadan PhD, seorang dokter spesialis bedah tulang kelahiran Suriah, pada risalah pertama, Ibnu Sina mengupas penyebab patah tulang, jenis-jenisnya, bentuk-bentuk patah tulang, metode perawatan, dan komplikasi.

Patah atau fracture adalah hilangnya sambungan pada tulang, begitu Ibnu Sina mendefinisikan patah tulang dalam al-Qanun fi-l-Tibb.

Dalam risalah pertamanya, sang dokter legendaris itu kemudian menetapkan jenis-jenis patah tulang, seperti patah melintang, memanjang, atau campuran keduanya.

Menurut Ibnu Sina, gejala atau tanda-tanda patah biasanya berupa rasa sakit, bengkak, dan kelainan bentuk otot. Apabila tubuh mengalami tanda-tanda itu, Ibnu Sina menganjurkan agar segera dilakukan diagnosis.

Selain itu, Ibnu Sina juga memaparkan pengobatan patah tulang pada anak-anak lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Ibnu Sina juga sudah mampu menetapkan waktu penyembuhan beragam jenis patah tulang.

 

sumber: Republika Online

Ibnu Sina dan Pengobatan Tulang

Ibnu Sina sungguh luar biasa. Dokter Muslim legendaris sepanjang zaman itu terbukti menguasai berbagai macam pengobatan.

Berbagai jenis pengobatan telah ditulisnya dalam 43 kitab kedokteran, salah satunya yang paling monumental adalah Qanun fi-l-Tibb atau Canon of Medicine.

Pada abad ke-10 M dokter kelahiran Asfana, sebuah wilayah dekat Bukhara, Turkistan, itu juga telah menguasai pengobatan tulang patah.

Keahlian sang dokter dalam mengobati patah tulang diungkapkan Abdul Nasser Kaadan PhD, seorang dokter spesialis bedah tulang kelahiran Suriah dalam tulisannya bertajuk Bone Fractures in Ibn Sinas Medicine.

Penjelasan Ibnu Sina tentang pengobatan tulang patah hampir sama dengan buku-buku kedokteran modern, papar Kaadan yang juga seorang sejarawan kedokteran. Menurut Kaadan, Ibnu Sinamembahas pengobatan tulang secara runut.

Dia mengawali penjelasannya tentang patah tulang secara umum.Galen dari dunia Islam, begitu Ibnu Sina kerap dijuluki, membahaspengobatan patah tulang secara detail. Mulai dari penyebab, jenis-jenisnya, bentuk-bentuk patah tulang, metode perawatan, dan komplikasi.

Ibnu Sina telah menjelaskan beragam jenis patah tulang yang terjadi di setiap tulang, papar Kaadan yang tulisannya dimuat dimuslimheritage.com.

 

 

sumber: Republika Online

Ibnu Sina Jadi Dokter di Usia 17 Tahun

Ibnu Sina atau Avicenna memiliki nama lengkap Abu Ali al Huseyn bin Abdullah bin Hassan Ali bin Sina. Ilmuwan berdarah Persia ini menulis karya ilmiah pertamanya di usia 21 tahun. Al-Majmu demikian judul karya ilmiah tersebut, yang mengulas beragam ilmu pengetahuan.

Sejak kecil, Ibnu Sina memperlihatkan kepandaian yang luar biasa. Ilmu kedokteran dipelajarinya saat berusia 16 tahun. Tak hanya mempelajari teori kedokteran, dia juga merawat orang sakit berdasarkan pengetahuannya sendiri.

Berkat melayani orang sakit, Ibnu Sina pun menemukan metode-metode baru dalam perawatan. Dia menjadi seorang dokter sejak usia 17 tahun. Dia semakin terkenal sebagai dokter sejak berhasil menyembuhkan Raja Dinasti Samaniah, Nuh bin Mansur.

Tak hanya Nuh bin Mansur, ia juga berhasil menyembuhkan sejumlah penguasa lain, di antaranya Ratu Sayyidah dan Sultan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamadan, dan Alaud Dawla dari Isfahan.

Ibnu Sina baru berusia 22 tahun ketika sang ayah wafat. Sepeninggal ayahnya, dia kemudian berkelana untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Kota pertama yang ia tuju adalah Jurjan.

Di salah satu kota kecil di Timur Tengah ini ia bertemu dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan al-Biruni yang kemudian menjadi gurunya. Setelah itu, dia berkeliling ke sejumlah kota di Iran seperti Rayy dan Hamadan.

Dari 450 karyanya, yang paling dikenal adalah As-Syifa dan Al-Qanun fi At-Tibb (The Canon of Medicine). Buku yang ditulis pada 1025 itu menjadi acuan dan referensi para dokter selama berabad-abad.

Karya-karya Ibnu Sina pernah disatukan dalam satu buku besar berjudul Essai de Bibliographie Avicenna yang disusun oleh Pater Dominican di Kairo. Kiprah gemilang Ibnu Sina di jagat ilmu pengetahuan berakhir ketika ia wafat pada Juni 1037 di Hamadan, Iran.

 

Sumber: Republika ONline

Ibnu Sina Hafal Alquran di Usia 10 Tahun

Ibnu Sina atau Avicenna memiliki nama lengkap Abu Ali al Huseyn bin Abdullah bin Hassan Ali bin Sina. Ilmuwan berdarah Persia ini menulis karya ilmiah pertamanya di usia 21 tahun. Al-Majmu demikian judul karya ilmiah tersebut, yang mengulas beragam ilmu pengetahuan.

Ibnu Sina lahir pada 980 M atau 370 H di Afsyanah, sebuah kota kecil di dekat Bukhara, Uzbekistan. Sepanjang hidupnya, Muslim jenius ini telah menghasilkan 450 karya ilmiah. Namun dari jumlah itu, hanya sekitar 240 karya yang tersisa.

Sebanyak 150 karya mengupas tentang filsafat, 40 kitab tentang kedokteran, dan karya-karya lainnya memuat beragam ilmu pengetahuan mulai dari filsafat, astronomi, kimia, geografi, matematika, geologi, psikologi, teologi, logika, fisika, hingga seni puisi.

Salah seorang temannya, Abu Ubaid al-Jurjani pernah bercerita, Ibnu Sina memiliki karakter yang cukup unik. Salah satunya, ia suka mengagumi diri sendiri. Dan faktanya, Ibnu Sina memang dikagumi banyak orang karena kejeniusannya.

Tak hanya menguasai beragam ilmu pengetahuan, Ibnu Sina juga memiliki perhatian besar kepada ilmu keagamaan. Hal inilah yang mendorongnya untuk menghafal Alquran. Beberapa sumber menyebut, Ibnu Sina telah hafal Alquran pada usia 10 tahun.

Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina juga dikenal sebagai sosok yang mandiri dalam pemikiran. Ayahnya yang berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniyah.

 

sumber: Republika Online

Pengobatan Ala Rasulullah (2-habis)

Terkait bumbu makanan, Rasulullah menyunahkan menyediakan garam mentah pendamping makanan. Karena, garam yang dicampurkan dalam makanan yang dimasak kandungan yodiumnya akan hilang.

Ustaz Tengku menjelaskan bahwa Rasulullah pun melarang umat untuk menahan buang air kecil karena dapat menganggu kinerja ginjal. Untuk itu, aturan terminal buang air kecil sebenarnya telah dibuat.

“Saat kita berwudhu, biasanya kita akan masuk ke kamar mandi. Waktu-waktu berwudhu merupakan waktu yang telah diatur sebagai terminal buang air kecil,” ujarnya.

Selain itu, ada pengobatan yang disunahkan saat telah terkena penyakit. Berbekam merupakan teknik pengobatan dengan menyedot darah beku untuk melancarkan aliran darah.

Teknik bekam ini sebenarnya telah ada sejak zaman Nabi Ayub. Dahulu pengobatan dengan menyedot darah beku, yakni dengan sengatan lebah dan hisapan lintah.

Satu pengobatan yang kurang populer dan menurut Rasulullah umatnya tidak menggunakan, yaitu meletakkan sejenak besi panas pada telapak kaki yang disebut kai. “Besi panas ini yang disentuhkan pada kaki, dua hingga tiga detik akan terasa dikejutkan untuk memperlancar aliran darah,” katanya.

Pada zaman Rasul juga mengenal rukyah, pengobatan Nabi dengan cara membaca al-Fatihah di depan air dan disiramkan kepada orang yang sakit. Rukyah ini juga dapat dilakukan dengan membaca al-Fatihah serta mencampur tanah dan air liur dan dioleskan pada bagian yang sakit.

Pengobatan modern
Ustaz Tengku Zulkarnaen mengatakan bahwa pengobatan modern boleh digunakan dan tidak masalah. Rasulullah pun tidak menolak cara-cara modern.

Pengobatan modern diperbolehkan asalkan jelas garis halal dan haramnya. Seperti Rasul yang ditawari pengobatan dengan memakan hati kodok, tetapi menolaknya karena memakan kodok merupakan hal yang haram.

Begitu juga dengan pengobatan insulin untuk penyakit diabetes. Insulin diperbolehkan asalkan bersumber dari insulin sapi, bukan insulin dari hewan yang haram seperti babi.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zainal Abidin mengatakan, teknologi kedokteran semakin berkembang. Namun, sejauh ini teknologi kodekteran modern masih dalam koridor Islam sesuai Alquran dan sunah Nabi.

“Pada dasarnya pengobatan tersebut telah ada sejak zaman Nabi Muhammad, tetapi tidak persis sama karena terus berkembang selama tidak membuat orang menjadi syirik atau murtad maka pengobatan diperbolehkan,” ujarnya. Menurut Zaenal, bahan pengobatan yang digunakan pun tidak boleh melanggar ketentuan syariat Islam.

Teknologi kedokteran modern pun awalnya ditemukan oleh tokoh Islam, Ibnu Sina. Ia adalah tokoh kedokteran Muslim yang terkenal mengembangkan kedokteran modern.

Zaenal mengaku dalam kedokteran modern, sebuah pengobatan yang berbeda, misalkan pengobatan tradisional perlu diteliti bahan, alat, tujuan, dan dampak pengobatan tersebut secara ilmiah.

Seperti bekam, perlu diteliti sterilnya bahan, tujuan, dan alasan penggunaan pengobatan tersebut, kemudian disesuaikan dengan ilmu kedokteran modern. Karena, kedokteran modern bersumber dari standar pendidikan, baik kompetensi dokter maupun alat dan obat yang digunakan.

Sejak zaman Ibnu Sina, telah ada pendidikan untuk mencapai kompetensi seorang dokter meskipun belum semodern saat ini. Sehingga, Ibnu Sina pun secara tegas menolak adanya dokter-dokter palsu. “Ia membentuk Dewan Kedokteran untuk menertibkan dokter-dokter palsu,” kata Zaenal.

Ibnu Sina juga tidak menerima seseorang yang mengaku dapat menyembuhkan sebagai dokter, tetapi tidak memiliki dasar pengetahuan dan teknik kedokteran.

 

 

 

Oleh: Ratna Ajeng Tejomukti

Para Kesatria di Taman Sejarah

Dunia Islam banyak melahirkan sederet tokoh-tokoh Muslim yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Islam. Masing-masing memiliki kemampuan dan kompetensi yang spesifik dalam bidang keilmuan. Ada pakar hadis, pakar tafsir, ahli fikih, tokoh sufi, sang jenderal, wanita salehah, dan lain sebagainya.

Selain itu, ada juga tokoh Muslim yang dikenal dengan berbagai penemuannya, seperti Ibnu Sina (Avicenna) dengan ilmu kedokterannya, Al-Ghazali dengan ilmu kesufiannya, Ibnu Rusyd (Averroes) dengan filsafat, Aljabar dengan ilmu matematika, Al-Biruni dengan ilmu astronominya, dan lain-lainnya.

Kemampuan dan keilmuan mereka itu sudah tak diragukan lagi. Mereka sangat terkenal di dunia Barat. Kisah-kisah mereka itu dapat ditelusuri dalam berbagai buku sejarah dan kitab-kitab klasik yang ditulis oleh para ulama salafiyah (masa lalu).

Namun demikian, ada pula tokoh-tokoh yang sangat berjasa dalam dunia Islam yang tak banyak disebut dalam berbagai literatur sejarah itu. Padahal, mereka juga memiliki kontribusi yang besar dalam sejarah Islam. Kalaupun disebutkan, sedikit sekali kisah mereka diceritakan.

Misalnya, siapakah wanita yang menjadi gurunya dari kaum para pria, jenderal terbesar dalam sejarah Islam, raja terbesar sedunia, laksamana yang alim, para penguasa yang memiliki kesempurnaan dalam memerintah, para penyair cinta suci, hakim yang teliti, dan ulama sejati dari Damaskus. Lalu, ada budak yang menjadi raja, pencetus peringatan Maulid Nabi SAW, tokoh kamus, dan ulama yang juga pejuang dari Marakesy (Maroko).

Kisah-kisah mereka yang heroik dan mengagumkan itu bisa dijadikan pelajaran bagi umat dewasa ini. Syekh Ali Ath-Thonthowi, seorang ulama Al-Azhar, merangkum kisah-kisah mereka itu dalam kitab Rijaal Min At-Tarikh (Para Kesatria di Taman Sejarah).

Para Kesatria di Taman Sejarah ini telah memberikan bukti kemampuan dan kehebatan mereka dalam mewarnai sejarah perjalanan Islam. Mereka adalah orang-orang yang jujur, ikhlas, dan senantiasa mengamalkan ajaran Islam dengan penuh konsekuen dan tanggung jawab.

Sumber: Pusat Data Republika/Syahruddin El Fikri