Jalan Terdekat Menuju Bahagia

MARI kita renungkan kalimat bijak sastrawan terkenal Syekh Ali Thanthawi. Beliau banyak menulis buku yang berkaitan dengan sejarah, kisah, pelajaran hidup dan nasehat-nasehat. Beberapa buku beliau saya beli di TimurTengah, saya baca dan sering juga saya kutip dalam tulisan dan ceramah saya.

Kali ini saya kutipkan dawuh yang berkaitan dengan bahagia. Beliau berkata: “Kebahagiaan itu bukanlah karena harta dan bukan pula karena rumah bak istana. Bahagia itu adalah karena kebahagiaan hati. Jalan paling dekat menuju bahagianya hati adalah dengan memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang lain. Kenikmatan paling dahsyat adalah kenikmatan karena telah mempersembahkan kebaikan.”

Bacalah lagi kalimat di atas dan renungkan kedalaman maknanya. Ternyata bahagia sejati itu sangat berkaitan dengan manfaat atau makna tau guna yang bisa kita persembahkan kepada orang lain sehingga orang lain itu merasa bahagia. Karena itulah maka menolong atau membantu orang lain bernilai mulia dalam pandangan agama, sementara merongrong bahagia orang lain, menipu dan membuat mereka menderita adalah sangat tercela.

Ada kalimat lain yang semakna dengan kalimat bernas di atas, yaitu: “Anda akan melihat keindahan hidup dan menikmati kebahagiaan hidup saat Anda mampu “menanam” keindahan dan kebahagiaan di jalan hidup orang lain.”

Ingin bahagia? Bahagiakan orang lain. Semakin lama membuat orang lain menderita, semakin mendalam penderitan sang pelaku. Mintalah maaf jika telah bersalah dan membuat orang lain menderita. Semoga hal itu bisa membuatnya sedikit lega bahagia, pada gilirannya akan menjadikan sang peminta maaf juga sedikit lega dan bahagia. Diamnya orang yang disakiti, ditipu dan dipecundangi tidak selalu berarti dia lupa dan tak lagi mempertanyakan. Takutnya, diamnya adalah laporan dan tuntutan kepada Allah atas ketaknyamanan yang dialaminya. Bahagiakan orang lain. Salam, AIM.[*]

Oleh KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK


Pesona Kebahagiaan Seorang Mukmin

Habib Abu Muhammad berkata: ”Diantara kebahagiaan seseorang adalah jika meninggal dunia terputus pula dosanya” (Hilyah Al-Auliya wa Thabaqah Al-Ashfiya : 8/296).

Bagi orang beriman kematian adalah sebuah kebahagian ketika ia selalu menjalani hidupnya dengan ketaatan pada Allah Ta’ala. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Bukanlah kekayaan itu adalah banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati” (HR. Muslim no.6446, Muslim no. 1051).

Terlebih lagi tatkala selama hidupnya Allah Ta`ala mudahkan langkahnya untuk gemar beramal shalih yang dilandasi iman yang kuat, maka tabungan kebahagian akan terus bertambah dan inilah nikmat di atas nikmat dengan balasan terbaik dari Allah Ta`ala. Amal jariyah yang dilakukannya akan terus mengalir sampai hari kiamat. Subhanallah betapa pemurah dan maha adilnya Allah Ta`ala. Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Barangsiapa yang memberi contoh yang baik dalam Islam, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakannya sedikitpun dan barangsiapa yang memberi contoh keburukan dalam Islam, maka baginya dosa dan dosa orang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang yang mengikutinya sedikitpun” (Diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Al-Ilmu bab Man sanna sunnatan hasanah au sayyiah ; 16/226).

Demikianlah kabar bahagia agar orang beriman selalu bersemangat berbuat kebaikan dan selalu besiap-siap dengan balasan-Nya setelah ajal tiba. Membekali diri dengan bekal terbaik selama di dunia serta tidak mudah tertipu fatamorgananya. Nabi Shallallaahu `alaihi wa sallam berwasiat “Jika cahaya telah masuk ke dalam hati, maka akan menjadi lapang dan tenang”. Mereka bertanya “Dan apakah tanda-tandanya wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda “Kembali ke kampung kekekalan, berpisah dengan kampung penuh penipuan dan bersiap-siap untuk kematian sebelum kehadirannya” (Zadul Ma’ad, Ibnu Qoyyim 2/23).

Kebahagian hakiki akan dirasakan orang mukmin ketika ia bersungguh-sungguh mengoreksi dan meninggalkan dosa atau amalan buruk yang sangat mungkin ditiru atau dilakukan orang lain. Betapa merana dan sengsaranya seorang yang terbiasa berbuat jelek lantas perbuatan tersebut diwariskan kepada orang lain. Sungguh merugi orang yang terbiasa membiarkan dirinya terjerumus dari perilaku menyimpang yang dimurkai Allah Ta`ala. Alangkah bagusnya ungkapan bijak Asy-Syathibi, beliau berkata “Berbahagialah orang yang meninggal dunia dan terputus pula dosanya. Dan celakalah orang yang meninggal dunia sementara dosanya tetap tinggal 100 tahun dan 200 tahun sehingga ia disiksa di alam kuburnya karena dosa itu, dan dia akan mempertanggungjawabkannya hingga dosa itu tidak lagi dikerjakan oleh manusia”. (Al-Muwaqafat Fi `Ushul Asy-Syariah Asy-Syathibi ; I/229).

Perbuatan dosa bisa membuat kesengsaraan ketika pelakunya sengaja menyebarluaskan kepada orang lain. Kebahagiaan hakiki hanya dinikmati ketika seorang hamba selalu berlindung dan berdo`a kepada Allah Ta`ala agar dihindarkan dari dosa-dosa yang mampu menghilangkan rona kebahagiaan di hati orang-orang mukmin. Meski terkadang orang yang melakukan berbagai kemaksiatan dan kedurhakaan seolah merasakan kebahagiaan, namun sejatinya itulah kebahagiaan semu dan khayali, bukan kebahagiaan hakiki.

Seorang yang bertaqwa akan terus berupaya melakukan amalan-amalan hati, lisan, dan anggota badan, yang sesuatu itu terkadang dalam pandangan manusia sesuatu yang berat dan beresiko namun sejatinya di sisi-Nya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri yang perkara ini dicintai Allah dan Rasul-Nya. Bukanlah sebuah kebahagiaan ketika perkara itu dimurkai-Nya. Inilah diantara kunci penting yang mampu membuat seorang mukmin merasakan manisnya hidup dalam beribadah kepada-Nya.

Semoga Allah senantiasa mengokohkan kebenaran di hati orang beriman agar selalu memperbanyak amal kebajikan, memberinya nikmat hidup sehingga mampu merasakan kebahagiaan sejati sebagaimana perintah-Nya.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11575-pesona-kebahagian-seorang-mukmin.html

Kaya Bukan Ukuran Mulia, Miskin Bukan Kehinaan

JIKA kita disuruh memilih dua pilihan; kaya atau miskin, tentu kita akan memilih menjadi kaya daripada orang miskin. Hal ini sangatlah wajar dan masuk akal. Bahkan mungkin tidak ada orang yang mau dirinya jadi orang miskin.

Dengan kekayaan (uang) melimpah, kita bisa memperoleh segala yang kita butuhkan dan menikmati fasilitas yang barangkali orang lain tak mampu menikmatinya. Inilah jawaban praktis yang umumnya dilontarkan oleh mayoritas orang. Namun begitu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan ke-Mahatahuan akan hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik oleh hamba-hamba-Nya, ternyata kaya dan miskin mutlak harus ada. Apa jadinya jika dunia ini hanya dipenuhi oleh orang kaya saja, atau sebaliknya. Jelas roda kehidupan tidak akan berputar dengan baik.

Kaya dan miskin adalah ketetapan dari Allah yang harus disikapi dengan bijak, menurut kacamata Islam. Ketahuilah bahwasanya kemiskinan dan kekayaan hanyalah ujian. Kaya atau miskin bukan urusan mulia atau hina. Kekayaan bisa berarti siksaan, sedangkan kemiskinan bisa jadi karunia.

Keduanya tak lebih dari ujian; mana yang mulia atau mana yang hina tergantung bagaimana masing-masing di antara kita menyikapi ujian tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinaku.’ Sekali-kali tidak (demikian).” (QS. Al-Fajr: 15-17)

Ayat di atas menerangkan bahwasanya Allah Ta’ala menguji hamba-Nya dengan memberikan kenikmatan dan melimpahkan rezeki atasnya. Allah juga menguji manusia dengan sempitnya rezeki. Keduanya adalah ujian dan cobaan.

Kemudian Allah menyanggah atas anggapan orang bahwa terbukanya pintu rezeki dan melimpahnya harta adalah bukti Allah memuliakannya, dan sempitnya rezeki pertanda Allah menghinanya. Allah menyanggah anggapan itu, “Sekali-kali tidak demikian!”

Yakinlah, anggapan orang-orang itu tidaklah benar. Terkadang Allah menyiksa dengan nikmat-Nya dan memberikan nikmat dengan cobaan-Nya.

Oleh karena itu, anggapan orang yang mengatakan apabila seseorang diberi kekayaan harta yang melimpah pasti hal itu pertanda Allah memberikan kebaikan kepada dirinya adalah tidak benar. Sebab, kekayaan itu sendiri merupakan bentuk ujian dari Allah. Lulus atau tidaknya seseorang akan terlihat sejauh mana ia mempergunakan hartanya di jalan Allah. Berapa banyak orang yang celaka karena diuji dengan kekayaan!

Harta tak selalu menjadi sumber kebahagiaan bagi pemiliknya. Pikiran tegang memburunya, memeras keringat ketika mendapatkannya, dan kekhawatiran akan lenyapnya harta dalam genggamannya menghantui pikiran. Ujung dari siksa itu berupa penyesalan mendalam saat perpisahan antara dirinya dengan hartanya benar-benar terjadi; mungkin lenyap oleh bencana, atau lantaran ajal yang memisahkan ia dengan hartanya. Pintu yang terakhir ini hanya tinggal menunggu waktu, tak satu pun manusia yang mampu mengelak darinya.

Kalaupun mereka mampu merasakan manisnya hasil jerih payah yang diupayakannya, toh tak akan bertahan lama. Karena muara harta dari tangan pemburu dunia dan lalai dari agamanya, tak akan jauh dari kesenangan berbau maksiat. Dan pasti, kesenangan itu akan berbuntut penderitaan di dunia, kesengsaraan di akhirat, kecuali siapa saja yang mau bertaubat.

Semua alasan di atas menjadikan kita tidak kesulitan memahami maksud firman Allah Ta’ala:

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.“ (QS. At-Taubah: 55)

Ya, harta yang Allah tumpahkan atas mereka itu adalah untuk menyiksa mereka, bukan untuk memuliakan mereka.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Hidup Susah Tak Lupa Bersedekah, penulis: Abu Ahmad Abdul Fattah)

 

HIDAYATULAH

Bukti Nyata tentang Kebahagiaan Orang Beriman

SERINGKALI kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau dan karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, nama aslinya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi. Nama Kunyah beliau adalah Abul Abbas.

Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah Taala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Taala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun sering mengatakan berulang kali pada Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”
Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan tatkala beliau berada di dalam penjara, padahal di dalamnya penuh dengan kesulitan, namun beliau masih mengatakan, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan, “Sebenarnya orang yang dikatakan dipenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal Allah azza wa jalla. Sedangkan orang yang ditawan adalah orang yang masih terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan).” Bahkan dalam penjara pun, Syaikhul Islam masih sering memperbanyak doa agar dapat banyak bersyukur pada Allah, yaitu doa: Allahumma ainni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik (Ya Allah, aku meminta pertolongan agar dapat berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik pada-Mu). Masih sempat di saat sujud, beliau mengucapkan doa ini. Padahal beliau sedang dalam belenggu, namun itulah kebahagiaan yang beliau rasakan.

Tatkala beliau masuk dalam sel penjara, hingga berada di balik dinding, beliau mengatakan, “Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al Hadid: 13). Itulah kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang memiliki keimanan yang kokoh. Kenikmatan seperti ini tidaklah pernah dirasakan oleh para raja dan juga pangeran. Para salaf mengatakan, “Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”

 

INILAH MOZAIK

Tak Kemaruk Maka Bahagia

SAAT saya tinggal di rumah salah satu tokoh muslim Auckland New Zealand. Kemarin dhuhur saya dijemput di bandara dan langsung dibawa ke rumah ini untuk kemudian menjalankan “tugas dinas harian.”

Kesan pertama akan kota bisnis ini adalah damai dan asri. Tatanan rumah tak ada yang tinggi, setiap rumah dipenuhi rumput dan tanaman. Cuaca sejuk mendukung, jalanan bersih tanpa sampah, pohon-pohon rapi berdiri sepanjang jalan.

Pak Hanhan yang menjemput saya, yang sudah puluhan tahun tinggal di sini, bercerita bahwa masyarakat asli Auckland ini adalah sederhana. Bahasa ringannya adalah “yang penting hidup, yang penting sehat.” Rumahnya rata-rata sama tak bermodel gaya rumah orang kaya Indonesia. Kalau ada rumah besar mewah, bisa dipastikan itu milik pendatang atau imigran. Inilah jenis tamu yang menyaingi tuan rumah. Karena kesederhanaan inilah maka kedamaian dan kebahagiaan hidup menjadi terasa.

Namun bagi sebagian orang, kesederhanaan hidup secukupnya dan apa adanya seperti ini dianggap kurang menantang, kurang kompetitif, dan kurang dinamis. Lalu muncullah persaingan, lahirlah kompetisi yang tak begitu sehat. Dengan tanpa sadar, kerakusan, ketamakan atau sikap kemaruk mulai tumbuh. Lahirlah premanisme dengan berbagai bentuknya. Ini mulai ada di Auckland bagian selatan.

Kaidah sederhana itu mendamaikan sungguh menemukan bukti di daerah ini. Tadi malam saat saya ceramah di sebuah gedung pemerintah, Mt Eden Memorial Hall, terlihat sekali wajah damai itu, wajah tanpa ketergesa-gesaan, wajah tanpa kerutan kening, wajah yang selalu berhiaskan senyuman dan sapaan. Ingin damai bahagia? Jangan tamak, jangan kemaruk. Syukuri apa yang ada. Salam, AIM. [*]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2384702/tak-kemaruk-maka-bahagia#sthash.DjYUfhsk.dpuf

Sederhanakah Jalan Bahagia?

Memilih produk untuk digunakan adalah salah satu hal yang harus diperhatikan. Terlebih, apa yang dipakai di dalam tubuh maupun di luar tubuh dan harus dipastikan bahwa produk yang dikenakan halal.

Menurut Ir. Osmena Gunawan, Wakil Direktur LPPOM MUI, menjelaskan bahwa setiap orang butuh mengkonsumsi barang halal. Terlebih segala macam produk yang melekat di tubuh sangat berpengaruh kepada nilai ibadah yang dilakukan. Karena, pada dasarnya ketika seseorang beribadah apa yang digunakan di tubuh harus memiliki sesuatu yang halal.

“Karena itu, menggunakan produk halal sangat penting. Hal ini sangat baik untuk semua orang,” kata Ir. Osmena Gunawan, Wakil Direktur LPPOM MUI saat ditemui di acara Hansaplast menerima sertifikasi Halal MUI, Jakarta, Senin (12/06/2017).

Sebagai plester nomor satu di Indonesia, Hasaplast memperhatikan hal tersebut. Dengan melewati berbagai proses, akhirnya Hansaplast menerima sertifikasi hala dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat – Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Sertifikasi ini berlaku untuk 20 varian Hansaplast yang diproduksi di Indonesia, Malang, Jawa Timur.

“Kami memahami kebutuhan konsumen di Indonesia yang menginginkan produk yang aman digunakan. Karena itu, kami sangat bangga dapat menerima sertifikasi Halal ini yang merupakan wujud dari komitmen hansaplast dalam menyediakan produk dengan standar kualitas tinggi dan memenuhi persyaratan halal,” tambahnya. (tka)

 

– See more at: http://gayahidup.inilah.com/read/detail/2384814/penting-menggunakan-produk-halal#sthash.niKrnBsR.dpuf

Bahagia Tak Layak Jika Dinikmati Sendirian

BAHAGIA itu belum layak dinamai bahagia kecuali ada satu atau lebih orang lain yang ikut berserikat dalam kebahagiaan itu. Bahagia sendirian itu lebih layak disebut arogansi, kesombongan dan eksklufisme diri yang di dalam ilmu kejiwaan disebut sebagai bagian gangguan kejiwaan.

Bisa dibayangkan ada seseorang yang sendirian duduk di restoran mewah di hotel termewah, memesan semua makanan terenak untuk dimakan sendirian. Lalu dia senyum-senyum sendiri sambil setengah teriak pada setiap orang yang lewat: “enak, nyaman, istimewa, mantap menunya.” Orang waras yang lewat pasti akan menganggapnya memiliki kelainan jiwa.

Derita itu tidak layak disebut derita kecuali derita itu hanya dipikul sendirian. Sakit hati sendiri, menangis sendiri dan menjerit sendirian adalah potret derita yang sempurna. Karenanya, jangan biarkan sahabat dan saudara kita menderita sendirian. Ulurkan tangan dan bangkitkan mereka yang menderita dari deritanya, temani mereka dan ajaklah untuk tersenyum karena esok pagi bisa mempersembahkan kisah lain yang tak sama dengan yang dipikirkannya.

Islam itu menjadi agama terindah karena Islam mengajarkan kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan untuk semua. Perintah untuk saling menasehati dan perintah untuk saling berbagi adalah perintah yang sangat prinsipil yang akan memampukan orang yang mengamalkannya menjadi orang-orang pilihan. Berhentilah saling menjelekkan dan berhentilah saling menjegal. Bergandeng tangan sambil tersenyum sungguh terlihat lebih menyenangkan.

Marilah tersenyum manis dan tebarkan senyum termanis itu pada orang yang ada di dekat kita sekarang. Berikan sesuatu yang bisa dengan ikhlas diberikan sebagai pelaksanaan dari saling berbagi. Ucapkan kalimat yang baik yang menenangkan dan menenteramkan orang lain, termasuk berkomentar atas status ini. Kemudian, rasakan tambahan bahagia yang akan memenuhi hati kita. Salam, AIM. [*]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2284112/bahagia-tak-layak-jika-dinikmati-sendirian#sthash.S0mkG9Nn.dpuf

Boleh Jadi Mereka yang Bahagia

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

SAUDARAKU, maaf kalau saya mengulangi cerita ini. Misalkan di sebuah kampus berlabel Islam diadakan acara unjuk keprihatinan terhadap Palestina. Di sana disampaikan kata-kata yang menggugah hingga puisi-puisi yang sedih dan pilu.

Acara untuk Palestina seperti ini baik dan bagus. Tetapi, sesekali kita coba bertanya, manakah yang lebih memprihatinkan antara kondisi di Palestina dan keadaan kita sendiri?

Rasanya lebih memprihatinkan kondisi di kampus berlabel Islam itu. Mengapa? Karena ketika berlangsungnya acara,para mahasiswa dan mahasiswinya terbiasa berdesak-desakan dengan sikap dan pakaian yang tidak terjaga. Sedangkan orang-orang di Palestina yang dibombardir,bisa jadi hatinya tidak lepas dari Allah SWT.

Tentu saja tidak hanya bagi yang di kampus, tapi kita semua. Seperti jaringan televisi di Palestina lebih sulit disaksikan dibanding di tempat kita. Akibatnya,mereka bisa lebih fokus membaca dan banyak yang hafal al-Quran. Sedangkan kita lebih hafal jadwal siaran langsung sepak bola, sinetron, drama,dan seterusnya.

Di Palestina sulit mencari tempat bermain,sehingga mereka bisa lebih sering ke masjid. Sulit rasanya membayangkan kalau mereka harus bermain atau rekreasi ke Israel. Sedangkan kita ada macam-macam tempat wisata, piknik hingga diskotik, yang bisa kita sebutkan sendiri di mana saja yang sudah pernah dikunjungi.

Nah, saudaraku. Begitulah kira-kira kita harus berhati-hati ketikamelihat atau menyikapi kelapangan dan kesempitan. Keduanya sama-sama ujian. Tapi sebetulnya ujian kelapangan atau kesenangan itu lebih melalaikan. Seperti merendahkan orang yang diberi ujian kesempitan atau kesusahan.

Misalkan ketika lebaran,ada yang ditakdirkan Allah bisa mencicil atau merental mobil bagus untuk dibawa pulang kampung. Lalu dalam perjalanan dia melihat ada rombongan pemudik lain yang duduk di dalam bak mobil, sehingga menjadi lupa danberkata,”Memang rezeki tiap orang berbeda-beda, tergantung amal.”

Padahal masing-masingnya sedang diberi ujian. Ujian yang berbeda, dan ridhoAllah adalah bagi yang bisa selamat dan lulus dari ujiannya. Bisa jadi saat yang membawa mobil bagus itu sedang merendahkannya, orang yang duduk dalam bak mobil justru sedang kuat-kuatnya berdoa. Hatinya lebih ingat kepada Allah,seperti orang di Palestina tadi.

Begitulah kalau tidak hati-hati. Kelapangan benar-benar bisa membuat makin lupa. Contoh lain, dalam suasana lebaran bertemu teman masa kecil, lalu menyapanya,”Saya dengar saudara masih bekerja sebagai cleaning service? Hal ini tidak boleh dibiarkan, nanti akan saya coba membawanya ke sidang paripurna.” Temannya yang cleaning service jadi bingung, “Asal bukan sidang pidana sajalah.”

Lalu ketika bertemu kawan yang lain, “Saya dengar saudara masih belum menikah?” Atau, “Saudara belum punya anak?” Atau,”Saudara masih menumpang di rumah mertua? Yang sabar, saya sekarang punya istri, tiga anak serta rumah pribadi di samping rumah dinas juga kebetulan saja.” Atau mungkin mau membantu tapi tetap sombong,”Hari pertama masuk kerja nanti saya ada rapat direksi, saudara tunggu saja di Pos Satpam. Nanti pasti saya panggil, dan pasti bisa saya tolong.”

Padahal cleaning cervice, yang belum menikah, belum punya anak, belum punya rumah sendiri atau rumahnya masih sederhana, bisa jadi lebih ingat kepada Allah. Mereka yang tidak jarang menjadi alamat kata “kasihan”, boleh jadi lebih dibahagiakan oleh Allah daripada yang mangasihani mereka.

Oleh sebab itu, kita benar-benar keliru kalau membayangkan bahagia ketika mendengar kata “orang kaya,” “pejabat,” “berpangkat,” “terkenal,” dan lainnya. Karena orang yang punya rumah bagus dan kasur empuk belum tentu bisa tidur sepulas tidurnya tukang becak di pinggir jalan.

Mungkin ada saudara yang berpikir, misalkan kalau orang kaya itu punya hiburan lebih banyak atau bisa melancong ke mana-mana. Justru biasanya yang suka melancong atau mencari hiburan itu disebabkan tidurnya kurang pulas. Uang yang dimiliki membuatnya memikirkan berbagai keinginan hingga pusing sendiri.

Nah, saudaraku. Kalau kita makin lupa bahwa kelapangan atau kesenangan adalah ujian, maka semakin terus lalai dan menganggap tidak membutuhkan lagi pertolongan Allah. Padahal, demi Allah tidak akan pernah bahagia bagi orang yang melupakan-Nya. “Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi bahagia.” (QS. ar-Rad [13]: 28)

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2247244/boleh-jadi-mereka-yang-bahagia#sthash.HNupz0Kx.dpuf