Apakah Mati untuk Dilupakan?

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seluruh nikmat yang telah Dia berikan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya, sahabatnya, dan pengikutnya yang senantiasa istiqamah mengikuti sunnah-sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga akhir zaman.

Saudariku… seringkali kita melakukan segala upaya dan daya untuk menggapai kenikmatan dunia. Kenikmatan dunia berupa harta, pangkat, prestasi, dan jabatan merupakan kebahagiaan yang hakiki di dunia sehingga kita lupa bahwa kehidupan akhirat adalah  kehidupan yang sebenarnya setelah kematian. Hamid al-Qaishari berkata,

كُلُّنَا قَدْ أَيْقَنَ الْمَوْتَ، وَمَا نَرَى لَهُ مُسْتَعِدًّا، وَكُلُّنَا قَدْ أَيْقَنَ بِالْجَنَّةِ وَمَا نَرَى لَهَا عَامِلاً، كُلُّنَا قَدْ أَيْقَنَ بِالنَّارِ وَمَا نَرَى لَهَا خَائِفاً، فَعَلَام تَفْرَحُوْنَ؟! وَمَا عَسَيْتُمْ تَنْتَظِرُوْنَ؟! الْمَوْتُ، فَهُوَ أَوَّلُ وَارِدٍ عَلَيْكُمْ مِنْ أَمْرِ اللهِ بِخَيْرٍ أَوْ بَشَرٍ، فِيا إِخْوَتَاهْ! سِيْرُوْا إِلَى رَبِّكُمْ سِيْراً جَمِيْلاً

“Setiap kita yakin dengan adanya kematian, namun kita tidak melakukan persiapan untuk menghadapinya. Setiap kita yakin dengan adanya surga, namun kita tidak melakukan amal kebaikan untuk mendapatkannya. Setiap kita yakin dengan adanya neraka, namun kita tidak merasa takut terhadapnya. Lantas, apa yang membuat kalian merasa gembira? Apa yang kalian tunggu dan harapkan dari dunia? Kematian, ia akan datang kepada kalian dengan membawa berita dari Allah; kebaikan ataupun keburukan. Wahai saudaraku, persiapkanlah perjalanan menghadap Allah dengan sebaik-baiknya.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 384)

Ingatlah akan kematian! Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali-‘Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتِ.

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Ahmad, an-Nasa`i, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no.1210)

Dari hadits tersebut, kematian bukanlah perkara yang mudah. Kematian adalah pemutus kenikmatan, menghilangkan kebahagiaan, dan penyebab kesedihan. Allah Ta’ala tentu akan mengujimu dengan berbagai masalah, musibah, dan cobaan.

Persiapkan kematian! Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

أَفْضَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُمْ لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka adalah orang-orang yang berakal.” (HR. Ibnu Majah no. 3454, dihasankan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Orang-orang shalih akan selalu memikirkan dan mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya. Mereka bersungguh-sungguh ketika melakukan amalan-amalan kebaikan seolah-olah mereka akan meninggal pada hari tersebut. Mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum masa matimu.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 7846, dishahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no.3355)

Kematian tidak pernah hilang dari pikiran dan ingatan orang-orang shalih. Apabila disebutkan kematian, mereka langsung terdiam, tertunduk, tidak dapat berkata apapun, dan merasa seolah-olah mereka sedang menghadapinya hingga menangis. Mereka merasa kurangnya persiapan dan sedikitnya perbekalan amalan ketika akan menghadapi kematian. Padahal mereka adalah orang-orang yang shalat sebanyak 1.000 rekaat setiap harinya, tidak pernah keluar dari masjid selama 20 tahun lamanya, dan telah mengkhatamkan al-Qur`an lebih dari 18.000 kali semasa hidupnya. Sebaliknya, ada manusia yang diperintahkan untuk menyiapkan perbekalan sebelum menghadapi kematian, diajak untuk berjalan menuju Allah dengan melakukan ketaatan dan beribadah kepada-Nya, dan diperingatkan  bersabar untuk tidak bermaksiat di dunia demi mendapatkan kenikmatan yang hakiki, yaitu kenikmatan di akhirat, tetapi mereka hanya duduk, diam, bermalas-malasan, bermain-main, dan lebih mementingkan kehidupan dan kebahagiaan di dunia daripada kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan di akhirat nanti.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melupakan kematian dan memperbanyak mengingat kematian.

Referensi:

Penulis: Ressa Ulimaz Amalia

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/10155-apakah-mati-untuk-dilupakan.html

Musim Kematian

Kemarin lusa, sambil hujan-hujan saya berkendara dari utara ke selatan. Sepanjang jalan, saya berpapasan dengan tiga ambulan. Semua membunyikan sirine meminta jalan.

Saya membaui aura kegentingan di kota ini. Rumah-rumah sakit hampir penuh. Penguasa kota sudah memikirkan untuk menutup kota untuk mencegah penyebaran penyakit.

Hari ini saya membuka media sosial hanya untuk mendapati ucapan berita duka cita. Banyak orang meninggal. Sebagian saya kenal. Sebagian tidak.

Tidak ada satupun menyebut mereka meninggal karena penyakit yang sekarang menjadi pandemi ini. Semua orang tidak ingin bicara tentang penyakit itu. Bahkan enggan menyebut namanya. Termasuk saya.

Penyakit ini membawa malapetaka tidak saja untuk mereka yang terinfeksi. Juga untuk mereka yang bugar. Jika satu kematian diumumkan karena penyakit ini, orang-orang yang berkontak dengan yang terinfeksi harus diisolasi.

Ada satu rumah harus diasingkan. Bisa juga satu kampung harus diisolasi.

Semikian beratnya, orang menghindar untuk menyebutnya. Jika ada pertanyaan, si A meninggal karena apa? Oh, dia meninggal karena jantung. Karena stroke. Karena darah tinggi. Orang tidak mau menyebut penyakit itu. Karena petaka berenteng yang harus mereka pikul.

Pagi ini, saya membaca berita bahwa penyakit ini tidak saja mematikan orang biasa. Ia juga membunuh tenaga kesehatan dan para dokter. Menurut sebuah data, 945 tenaga kesehatan telah meinggal karena penyakit ini. Hingga saat ini ada kurang lebih 350 dokter dan tenaga kesehatan terinfeksi sekalipun telah divaksinasi.

Akhir-akhir ini kasus infeksi meningkat tajam. Tidak terlalu sulit mencari datanya.

Namun, tidak sedikit pula yang tidak percaya. Satu penelitian tahun lalu di Jakarta akhir tahun lalu memperlihatkan bahwa satu dari lima responden percaya bahwa penyakit ini adalah “konspirasi yang diciptakan para elit global.”

Pandemi ini membutuhkan rasa percaya (trust) khususnya rasa percaya pada otoritas. Tidak saja kepercayaan kepada otoritas politik yang membuat kebijakan publik tetapi pada otoritas keahlian. Harus ada pengakuan bahwa ada orang yang memang terspesialisasi dan ahli tentang penyakit ini.

Epidemi ini tidak hanya pertarungan melawan virus. Dia juga adalah pertarungan melawan virus disinformasi. Pertarungan merebut otoritas dan upaya legitimasi atau delegitimasi terhadapnya.

Selama pandemi ini kita juga menyaksikan keriuhan pertarungan informasi/disinformasi ini di media sosial. Grup-grup WA, FB, Twitter, penuh dengan perang informasi.

Orang-orang awam berteori dan menuduh kiri kanan. Yang tak kalah menakjubkannya, bahkan orang-orang yang seharusnya kompeten ikut bertarung dalam pembentukan persepsi ini. Bahkan seorang mantan menteri kesehatan, yang juga terpidana korupsi, menjadikan isu pandemik ini sebagai caranya “berjuang” untuk kaum lemah. Barangkali itu cara termudah untuk seorang terpidana korupsi untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik.

Semakin kontroversial sebuah informasi, semakin menarik ia perhatian, dan semakin populerlah para ‘messenger’ atau pembawa pesannya . Sebagian bahkan memonetisasi popularitasnya itu.

Namun ini ada akibatnya. Kebencian kepada tenaga-tenaga kesehatan semakin memuncak. Seorang dokter di Jawa Timur mengatakan bahwa anak buahnya dilempari kotoran manusia karena mendiagnosa bahwa pasiennya menderita penyakit ini.

Pertarungan persepsi ini melahirkan anarki. Tidak ada kepemimpinan. Tidak ada kebenaran. Semua orang mencoba mengeruhkan air dan memancing didalamnya.

Melihat semua itu, saya bertanya, lalu kita harus bagaimana? Untuk saya persoalannya sederhana namun rumit. Saya kira, cara terbaik untuk menghadapi pandemi ini adalah dengan kepercayaan terutama kepada sains.

Orang tentu akan bertanya, sains yang mana? Karena kaum yang tidak percaya juga punya sain dan isaintis. Mereka juga mahir mengutip teori ini dan itu.

Dalam hal ini, saya percaya pada sains arus utama (mainstream). Saya percaya pada kesepakatan para ahli, pada apa yang ditemukan dan disetujui oleh banyak ahli.

Biasanya mereka yang tidak percaya akan penyakit ini akan menganggap ketundukan pada hal-hal yang mainstream itu adalah tanda kepengecutan. Tanda kelemahan. Pokoknya sama sekali tidak heroik.

Anti-mainstream adalah perlawanan. Ketidakpercayaan pada ahli dan kekuasaan adalah kebodohan. Anarki adalah puncak kebebasan.

Sekalipun hal-hal itu menarik untuk saya, dan sepanjang hidup saya berusaha untuk tidak menjadi mainstream, saya juga tunduk pada keadaan sekeliling saya.

Terlalu banyak tangisan dan duka. Terlalu banyak kesakitan dan kegagalan. Tidak ada kepemimpinan — bahkan ironisnya mereka yang seharusnya memimpin juga menyebarkan berita-berita bohong dan memanipulasi informasi.

Pandemi ini bisa diakhiri kepercayaan bahwa penyakit ini ada dan saling bekerjasama untuk mengatasinya. Penyakit ini hanya bisa diakhiri hanya dengan aksi-aksi kolektif (collective actions). Sekalipun penyakit ini menuntut pemisahan sosial (social distancing), penyelesaiannya membutuhkan kerjasama sosial secara kolektif.

Pandemi ini tidak akan berakhir jika ada orang-orang yang terus menerut mengeruhkan air dan memancing didalamnya. Mereka yang menyemburkan kegagahan atas nama rakyat miskin tetapi ternyata memancing keuntungan daripadanya.

Pada akhirnya, yang paling diperlukan adalah kerendahan hati untuk mengakui bahwa pandemi ini ada dan perlu diatasi bersama. Dengan rendah hati. Anti-hero banget, bukan?

ISLAMI

Kematian Pasti Datang

Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang senantiasa mengingat waktu datangnya kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan tampak buahnya di dalam amal perbuatannya.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, maka dia pasti menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara gaib dan perkara yang tampak, lalu Allah akan memberitakan kepada kalian apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap jiwa pasti merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kematian.” (QS’ al-Hijr: 99)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkan olehnya untuk hari esok…” (QS. Al-Hasyr: 18)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kalian kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 198)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Tidak ada waktu bagi seorang mukmin untuk bersantai-santai kecuali ketika dia sudah berjumpa dengan Allah.”

Suatu ketika ada yang berkata kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, “Wahai Abu Sa’id, apa yang harus kami perbuat? Kami berteman dengan orang-orang yang senantiasa menakut-nakuti kami sampai-sampai hati kami hendak melayang.” Maka beliau menjawab, “Demi Allah! Sesungguhnya jika kamu berteman dengan orang-orang yang senantiasa menakut-nakuti dirimu hingga mengantarkan dirimu kepada keamanan, maka itu lebih baik daripada kamu bergaul dengan teman-teman yang senantiasa menanamkan rasa aman hingga menyeretmu kepada situasi yang menakutkan.”

Seorang penyair mengatakan:

Wahai anak Adam, engkau terlahir dari ibumu seraya melempar tangisan

Sedangkan orang-orang di sekelilingmu tertawa gembira

Maka, beramallah untuk menyambut suatu hari tatkala mereka melempar tangisan

Yaitu hari kematianmu, ketika itu engkaulah yang tertawa gembira

Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang senantiasa mengingat waktu datangnya kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan tampak buahnya di dalam amal perbuatannya.”

Syaikh Abdul Malik al-Qasim berkata, “Betapa seringnya, di sepanjang hari yang kita lalui kita membawa [jenazah] orang-orang yang kita cintai dan teman-teman menuju tempat tinggal tersebut [alam kubur]. Akan tetapi seolah-olah kematian itu tidak mengetuk kecuali pintu mereka, dan tidak menggoncangkan kecuali tempat tidur mereka. Adapun kita; seolah-olah kita tak terjamah sedikit pun olehnya!!”

‘Amar bin Yasir radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat dan pelajaran. Cukuplah keyakinan sebagai kekayaan. Dan cukuplah ibadah sebagai kegiatan yang menyibukkan.”

al-Harits bin Idris berkata: Aku pernah berkata kepada Dawud ath-Tha’i, “Berikanlah nasehat untukku.” Maka dia menjawab, “Tentara kematian senantiasa menunggu kedatanganmu.”

Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian niscaya akan menjadi sedikit kegembiraannya dan sedikit kedengkiannya.”

Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Aku senang dengan kemiskinan, karena hal itu semakin membuatku merendah kepada Rabbku. Aku senang dengan kematian, karena kerinduanku kepada Rabbku. Dan aku menyukai sakit, karena hal itu akan menghapuskan dosa-dosaku.”

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat sebuah perkara yang meyakinkan yang lebih mirip dengan perkara yang meragukan daripada keyakinan manusia terhadap kematian sementara mereka lalai darinya. Dan tidaklah aku melihat sebuah kejujuran yang lebih mirip dengan kedustaan daripada ucapan mereka, ‘Kami mencari surga’ padahal mereka tidak mampu menggapainya dan tidak serius dalam mencarinya.”

Salah seorang yang bijak menasehati saudaranya, “Wahai saudaraku, waspadalah engkau dari kematian di negeri [dunia] ini sebelum engkau berpindah ke suatu negeri yang engkau mengangan-angankan kematian akan tetapi engkau tidak akan menemukannya.”

Ibnu Abdi Rabbihi berkata kepada Mak-hul, “Apakah engkau mencintai surga?” Mak-hul menjawab, “Siapa yang tidak cinta dengan surga.” Lalu Ibnu Abdi Rabbihi pun berkata, “Kalau begitu, cintailah kematian; karena engkau tidak akan bisa melihat surga kecuali setelah mengalami kematian.”

Sumber: Aina Nahnu min Ha’ula’i, Jilid 1. Karya Abdul Malik al-Qasim

Sumber: https://muslim.or.id/66507-kematian-pasti-datang.html

5 Hikmah Allah SWT Mematikan Manusia di Dunia

Allah SWT menciptakan manusia dan akan mematikannya di dunia

Setiap yang bernyawa pasti akan mati, termasuk manusia. Kelahiran manusia di dunia semata hanyalah untuk mempersiapkan kematian. Namun, kematian memiliki hikmah yang apabila dipahami akan mendatangkan ketakwaan. 

Setidaknya ada lima hikmah mengapa Allah SWT mematikan manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam situs Mawdoo3

Hikmah yang pertama yaitu mempertegas kekuasaan Allah SWT, khususnya sejak proses penciptaan manusia. Kemudian, menjalani kehidupannya di bumi. Hingga akhirnya, manusia meninggal dunia. Semua itu terjadi hanya karena kekuasaan Allah SWT. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman: 

فَلَوْلَا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ*تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ “Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (QS Al Waqiah 86-87). 

Hikmah kedua, mengenalkan hakikat manusia melalui kematian. Karena, Allah menciptakan manusia tidak sia-sia, tetapi untuk alasan dan tujuan yang besar.

Hikmah ketiga, Allah SWT mempercayakan manusia sebagai khalifah di bumi. Mereka berhasil hidup berdampingan satu sama lain. Jika manusia tidak melahirkan keturunan, maka manusia sebagai khalifah di muka bumi ini akan sirna.  

Hikmah keempat, Allah mematikan manusia dari dunia ini untuk mengetahui mereka yang mematuhi-Nya dan mereka yang tidak mematuhi-Nya. Dalam Alquran, Allah berfirman: 

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Mahapengampun.” (QS Al Mulk 2) 

Hikmah kelima, merasakan nikmat besar dari Allah SWT. Jika bukan karena kematian, manusia tidak akan bisa hidup di bumi, dan manusia tidak akan mendapat tempat yang baik di dalamnya.

Sumber: mawdoo3

KHAZANAH REPUBLIKA

Yuk Sadarkan Diri dengan Ingat Kematian!

CUKUPLAH kematian sebagai pelembut hati, pengucur air mata, pemisah dengan keluarga dan sahabat, dan pemutus angan-angan”


Mengingat kematian, mendampingi orang yang menghadapi sakratul maut, mengantar jenazah, mengingat gelap dan beratnya siksa kuburan niscaya akan membangunkan jiwa kita dari tidurnya, menyadari kelalaiannya, membangkitkan semangatnya, menggelorakan nilai perjuangannya dan mengembalikannya segera kepada Allah.

Allah berfirman: “setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” AL Hasan berkata: “Kematian telah menelanjangi dunia sehingga tidak menyisakan kegembiraan bagi orang yang berakal”

Orang yang banyak mengingat kematian akan ringan baginya semua kesulitan hidup. Orang yang banyak mengingat kematian akan dimuliakan dengan tiga hal: segera bertobat, ketenangan hati dan semangat ibadah.

Suatu hari Ibnu Muthi melihat rumahnya, dia terkesima dengan keindahannya lalu dia menangis seraya berkata: “Kalau tidak karena kematian niscaya aku akan gembira denganmu”.

Ibnu Munkadir berkata tentang seseorang yang sering ziarah kubur: “Orang ini menggerakkan hatinya dengan mengingat kematian.” Karenanya Rasulullah selalu mengajak para sahabat untuk memperbanyak mengingat kematian, dengan mengingat mati akan melapangkan dada, menambah ketinggian frekuensi ibadah.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:”Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan oleh Al Bani di dalam kitab Shahih Al Jami)

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai orang ke-sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri). [Ustaz Didik Hariyanto]

INILAH MOZAIK

Takut pada Kematian Buat Lebih Dekat dengan Allah

Kita perlu mengingat kematian agar tetap fokus pada tujuan hidup.

Duduk di hadapan dokter dengan perasaan runtuh. Dokter memvonis kanker payudara di usiaku 34 tahun dengan seorang bayi berumur 16 minggu.

“Apakah saya akan mati?” itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulutku.

“Tidak hari ini atau besok,” jawabnya. Jawaban yang menyebalkan, pikirku saat itu dan saya berpikir untuk melarikan diri saat itu.

Rosulullah saw bersabda :
“Ingat Penghancur Kesenangan-kematian,” (at-tirmidzi)

Selama ini saya, Trudi Best (34 tahun) telah gagal mengingat bahwa kematian akan datang. Namun ketika berhadapan langsung dengan kematian itu, ini cukup mengejutkan.

“Saya punya rencana. Ini bukan bagaimana yang saya harapkan, hidup saya berjalan dengan baik. Saya berharap bisa menjadi tua, saya ingin melihat anak-anak saya tumbuh dewasa. Namun tidak ada yang dijamin,” ungkapnya.

“Kehidupan dunia ini hanyalah kenikmatan yang memperdayakan,” (Al-Quran 3: 185 ).

Trudi lalu berujar, bahwa selama ini ia menyibukkan diri dengan pendidikan, karier, pernikahan, dan kehidupan sosial. Melompat dari satu tujuan hidup ke tujuan berikutnya, menghitung pencapaian yang telah diraih. Tapi lupa bagaimana bersyukur atas nikmat itu, dan berpikir bahwa tidak akan selama tinggal di dunia ini.

“Apa yang telah saya persiapkan untuk kehidupan selanjutnya,” ujar Trudi.

Nabi Muhammad saw bersabda :

“Tempat berteduh bagi orang-orang beriman pada Hari Kebangkitan (kiamat) adalah amal pahalannya,” (At-Tirmidzi).

Trudi menuturkan, tidak harus kaya untuk beramal, bahkan senyum pun adalah amal. Jika kita mampu membayar TV kabel, ponsel dan koneksi internet, tentu kita bisa menyisihkan sesuatu untuk beramal.

Amal sambungnya, adalah investasi untuk akhirat nanti. Amal pun tidak melulu dengan uang, bahkan waktu Anda pun adalah amal jika diberikan dengan keikhlasan. Seperti menjadi sukarelawan di masjid, membantu mengajar anak-anak di madrasah, mengunjungi orang tua yang merasa kesepian.

“Setiap perbuatan baik adalah pahala yang akan bersaksi untuk Anda di hari kiamat,” tegas Trudi.

Ia mengakui, memikirkan kematian adalah hal tabu di sebagian besar budaya. Namun, kita perlu mengingat kematian agar tetap fokus pada tujuan hidup.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku,” (Al-Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56).

Trudi kembali mengingat di hari-hari ketika ia divonis kanker. Ia diliputi rasa takut karena tidak memiliki persiapan dan amal yang cukup untuk bertemu Allah SWT.
 
“Apakah saya siap untuk bertemu dengan Allah? Jawabannya jelas, tidak. Apakah saya sudah cukup menyembah Tuhanku? Tidak,” ujar Trudi.

Tapi di saat seperti itulah, saat ia merasa rapuh, Trudi mengaku sangat membutuhkan Allah. Di saat seperti itu, ia menjadi lebih taat, sholat dengan tepat waktu, berdoa dengan lebih khusyu, dan lebih rajin membaca Alquran.

“Pertolongan Allah datang kepadaku. Allah memiliki segalanya di tangan-Nya dan hanya berkat Cinta dan Rahmat-Nya kita dapat bangun dengan sehat dan bugar untuk menghadapi hari berikutnya. Tidak ada keraguan bahwa Dia adalah Tuhan yang laik disembah,” ungkap Trudi.

Setelah diagnosis, tambah Trudi, dunia tampak seperti tempat yang berbeda, seolah-olah penglihatannya telah menajam. Ada begitu banyak keindahan, tidak hanya lingkungan alam yang paling menakjubkan, tapi di pinggiran kota pun keindahan begitu nampak. “Luangkan waktu untuk memperhatikan matahari terbenam, bulan dan bintang, kebaikan di antara manusia,” ungkapnya.

Ada banyak hal ungkap Trudi, yang sering kita anggap remeh. Seperti bangun di pagi hari di tempat tidur yang hangat dan nyaman, makan sarapan yang sehat, menikmati kopi, pergi ke supermarket dan meletakkan makanan di troli, memandikan anak, menidurkannya, lalu memeriksanya, melihat mereka tidur dalam kebahagiaan yang tidak bersalah.

“Ini adalah rutinitas biasa yang biasa, kami tidak memikirkannya, bahkan kami mengeluh tentang hal itu. (Setelah didiagnosis) Saya belajar untuk menikmati hal-hal duniawi, dalam rutinitas sehari-hari,” ucap dia.

Kehidupan terus bergerak, setelah menjalani rangkaian pengobatan, Allah memberikan kesembuhan atas kanker tersebut. Trudi mengaku sangat istimewa  hingga dapat melaluinya dan lebih menghargai hidup.

“Saya memiliki wawasan yang langka, untuk seseorang seusia saya, tentang kerapuhan kesehatan dan realitas kematian. Saya akan terus dipantau secara teratur untuk memastikan bahwa kanker itu tidak muncul kembali,” ucapnya.

KHAZANAH REPUBLIKA

Beruntung Ingat Kematian

Diantara hal yang harus kita hindari adalah meremehkan setiap amal kebaikan sekecil apapun dan menyepelekan kemaksiatan sekecil apapun. Karena Allah menyimpan ridhanya dalam setiap amal kebaikan dan menyimpan amarahnya dalam setiap kemaksiatan.

SULAIMAN bin Mahran meriwayatkan, “Ada seseorang sedang duduk bersama Nabi Sulaiman alaihis salam (AS). Tiba-tiba ada tamu yang masuk, lalu pandangan matanya terpaku kepada teman Nabi Sulaiman AS itu.

Ketika tamu itu keluar, ia bertanya, “Wahai Nabiyullah, siapakah orang yang datang menemui Anda tadi?” Beliau menjawab, “Ia adalah malaikat maut.”

Ia berkata, “Wahai Nabiyullah, saya lihat ia terus memelototiku, jangan-jangan ia hendak mencabut nyawaku.” “Lantas, apa rencanamu?” Ia menjawab, “Wahai Nabi, saya mohon agar Anda sudi memerintahkan angin untuk membawaku ke pulau seberang lautan yang paling jauh.”

Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Sulaiman untuk melakukannya, lalu beliau memerintahkan angin. Dan angin pun membawa orang itu ke tempat yang ia kehendaki.  Belum lama ia sampai di tempat itu, malaikat maut pun datang dan langsung mencabut nyawanya.

Kemudian malaikat maut kembali mendatangi Sulaiman. Nabi Sulaiman bertanya, “Saya perhatikan tadi kamu memelototi temanku?” Malaikat menjawab, “Ya, karena aku tadi heran terhadapnya. Mengapa ia masih bersamamu di sini? Sedangkan aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di negeri Hindia yang paling jauh. Ketika saya keluar, lalu diperintah “Cabutlah nyawanya, karena ia sudah di tempatnya”, lalu aku mendatanginya, dan ternyata ia sudah berada di tempat di mana aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya, lalu aku cabut nyawanya.”

Kematian itu pasti. Hari ini atau esok, ia akan datang tepat sesuai waktu yang dijanjikan. Sikap terbaik menghadapi hal itu yaitu sedini mungkin mempersiapkan diri agar mati Husnul khatimah bukan su’ul khatimah.

Bagi orang-orang shaleh terdahulu, kematian merupakan bahan pembicaraan yang menarik. Mereka selalu memperhatikan masalah ini dengan sungguh-sungguh.

Sufyan Ats-Tsaury, Yusuf bin Asbath dan Wuhaib bin Al-Warad dalam satu majelis sedang serius membicaraknn masalah tersebut. Ats-Tsauri berkata, “Sebelum hari ini, saya tidak suka jika kematian segera mendatangiku. Tetapi, hari ini aku mengharapkan kematian.” Yusuf bertanya, “Mengapa demikian?” Ats-Tsauri menjawab, “Karena aku takut fitnah!” Yakni takut terseret arus fitnah yang terjadi di tengah manusia, di mana manusia banyak yang mulai melupakan akhirat dan memburu dunia, kemaksiatan pun mulai tampak kentara.

Tetapi Yusuf memiliki pandangan lain, “Adapun saya, tidak membenci jika masih diberi kesempatan untuk hidup lama.” Ats-Tsauri bertanya, “Mengapa engkau membenci kematian?” Yusuf menjawab, “Agar aku dapat bertemu dengan suatu hari yang aku bisa bertaubat di dalamnya dan beramal shalih.” Bagi Yusuf, panjang umur berarti banyaknya kesempatan untuk beramal, bukan untuk berfoya-foya atau berbuat dosa.

Lalu keduanya bertanya kepada Wuhaib yang sejak tadi diam, “Lalu, bagaimana menurut pendapatmu wahai Wuhaib?” Wuhaib menjawab, “Saya tidak memilih ini dan itu, apa yang aku suka adalah apa yang disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”

Maksud Wuhaib saat kematian yang paling ia sukai adalah saat yang dicintai Allah. Ia ingin kematian datang saat Allah ridha kepadanya. Jika detik itu adalah saat Allah paling ridha, ia rela jika harus dikehendaki mati segera. Namun jika umur panjang lebih baik baginya, dan lebih diridhai Allah, iapun menyukainya. Mendengar jawaban itu, Sufyan berkata, “Demi Allah, engkau seorang pemimpin agama.”

Begitulah tiga pandangan ulama tentang waktu kematian yang paling mereka sukai. Namun semua mengarah kepada satu titik, yakni husnul khatimah (akhir yang baik).

Husnul khatimah merupakan kematian yang sangat diharapkan oleh setiap muslim. Untuk mencapai hal itu tentu butuh persiapan yang sungguh-sungguh sebagaimana yang dilakukan ketiga orang alim tersebut. Kita tidak boleh berhenti untuk selalu berdoa disamping upaya ikhtiar dalam menjalani kehidupan. Diantara hal yang harus kita hindari adalah meremehkan setiap amal kebaikan sekecil apapun dan menyepelekan kemaksiatan sekecil apapun.

Karena sesungguhnya Allah menyimpan ridhanya dalam setiap amal kebaikan dan menyimpan amarahnya dalam setiap kemaksiatan. Bisa jadi Allah meridhai pekerjaan yang kita anggap remeh dan mengabaikan segala amal yang kita anggap besar dan patut dibanggakan.

Begitu juga ketika kita menjalankan kemaksiatan yang menurut kita dosa kecil tetapi Allah marah dan memasukkan kita ke neraka. Untuk itu upaya terus melanggengkan membaca doa agar mendapat akhir yang baik tidak boleh terlupakan, sebagai bukti kerelaan Allah atas kita. Kemudian disertai upaya untuk menghindar dari perbuatan dzalim dan kemaksiatan dengan sabar.

Untuk mendapatkan husnul khatimah, berdasar keterangan para ulama, yaitu selalu istiqomah melakukan ketaatan dan takut kepada Allah serta segera bertaubat dari perbuatan haram yang melumurinya. Tidak berkecimpung di dalam dosa-dosa besar dengan disengaja, seperti ghibah, adu domba, makan hasil riba’, berdusta, sumpah palsu, saksi palsu, berzina dll. Dan yang paling penting menjauhi perbuatan yang paling dilarang Allah yaitu menyekutukan-Nya.

Allah berfirman,“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (An-Nisa’: 48).

Orang yang serius dalam mengharapkan husnul khatimah tercermin dalam amal shalih yang istiqamah. Sedangkan cara paling ampuh agar istiqamah adalah dengan memperbanyak zikrul maut (banyak mengingat mati). Dengannya, seseorang akan selalu berusaha dalam kondisi amal yang paling baik.

Menurut Ad-Daqaaq  orang yang banyak mengingat mati akan dimuliakan dengan tiga perkara, segera bertaubat, qana’ah, dan rajin dalam melakukan ibadah. Sebaliknya, yang melupakan kematian akan diganjar dengan tiga musibah, yaotu menunda taubat, hatinya tak pernah merasa cukup dan malas dalam beribadah. (At-Tadzkirah I/8, al-Qurthubi).

Karena itulah orang yang mengingat kematian termasuk beruntung. Karena kematian itu sendiri sudah pasti.  Semoga Allah menjadikan kita hamba yang husnul khatimah. Amin* Bahrul Ulum

HIDAYATULLAH

Karena itulah orang yang mengingat kematian termasuk beruntung. Karena kematian itu sendiri sudah pasti.  Semoga Allah menjadikan kita hamba yang husnul khatimah. Amin* Bahrul Ulum

Mati itu Pasti

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia, menggolongkan kita sebagai ahli takwa. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron [3] : 185)

Saudaraku, kematian itu pasti terjadi. Setiap orang pasti akan mengalami mati yang waktu, tempat dan caranya adalah rahasia Allah Swt. Manusia lahir memang berurutan, namun manusia mati tidak berurutan. Ada kalanya yang usianya masih muda bahkan masih bayi meninggal dunia lebih dahulu daripada yang sudah tua. Ada kalanya yang sehat bugar tiba-tiba meninggal dunia, padahal di tempat yang lain ada yang sudah sakit-sakitan tapi sehat kembali dan panjang usia. Maasyaa Allah, kematian adalah rahasia Allah.

Jika kita tafakuri dari kematian ini maka kita bisa menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini sangatlah terbatas. Dibatasi oleh kematian yang kedatangannya bisa sangat tiba-tiba atas kehendak Allah Swt. Dan, jika kita mati maka tidak ada satupun sekecil apapun yang bisa kita bawa dari dunia ini. Keluarga kita, harta kekayaan kita, semua akan ditinggalkan. Yang kita bawa tiada lain hanyalah catatan amal perbuatan kita.

Oleh karena itu, hidup kita yang serba terbatas dan sangat singkat ini adalah hanya untuk beramal sholeh. Sungguh merugilah kita jika sudah hidup sangat singkat di dunia hanya diisi dengan kemaksiatan dan kesia-siaan. Dan, semakin rugi jikalau kita mati dalam keadaan suul khotimah. Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita dengan hidayah-Nya, sehingga kita tergolong orang-orang yang beruntung dengan husnul khotimah. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Siapa Yang Menjamin Umurmu Bisa Bertahan Hingga Esok Hari

Siapa Yang Menjamin Umurmu Bisa Bertahan Hingga Esok Hari

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

Jangan berangan-angan bahwa bila kamu hidup di pagi hari; akan bisa bertahan hingga sore. Atau bila kamu hidup di sore hari; akan mampu bertahan hingga pagi. Karena betapa banyak orang yg hidup di pagi hari, akhirnya tdk bertahan hingga sore. Sebaliknya, betapa banyak orang hidup di waktu sore, akhirnya tidak bertahan hingga waktu pagi.

Betapa banyak orang memakai baju sendiri, akhirnya baju tersebut dilepas oleh pemandi jenazah. Betapa banyak orang yg meninggalkan keluarganya, lalu mereka menyiapkan makan siang atau makan malam untuknya, tapi akhirnya dia tidak bisa menyantapnya. Dan betapa banyak orang yg tidur, akhirnya dia tidak bangun lagi dari kasurnya.

Intinya: bahwa seseorang jangan sampai memanjangkan angan-angannya.Tapi, hendaknya dia waspada, cerdas, giat, dan tidak malas.

[Syarah Riyadhus Sholihin, jilid 3, bab: mengingat kematian dan memendekkan angan]

 

sumber: Vvanita