Tabiat Kematian

Kematian itu suatu kepastian bagi setiap jiwa (QS 3:185).Namun, mayoritas manusia takut mati atau dengan ungkapan lain, belum siap menghadapinya.Masih banyak mimpi yang belum tercapai, masih segudang harapan hidup yang belum terwujud. Ada juga yang merasa belum waktunya bertobat! Nanti setelah tua baru mende kat ke masjid dan mushala!

Sekarang waktunya menikmati hidup dahulu! Ini prinsip hidup sebagian manusia! Mengingat kematian dengan mengenal tabiat dan karekte ristiknya adalah bagian upaya menghadapinya. Rasulullah SAW bersabda: Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapuskan dosa, dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia.

Dengan mengenali tabiat kematian akan mendorong seseorang untuk mempersiapkan bekal kematian, menghindari perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada kemaksiatan dan mendorong berlaku takwa.

Pertama, kematian adalah puncak setiap makhluk di muka bumi. Kematian merupakan penghujung bagi setiap yang bernyawa di dunia ini (QS 55:26-27).

Kedua, kematian adalah garis finis perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat.

Ketiga, kematian merupakan tanda kebesaran Allah yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya (QS 6:61).

Keempat, kematian mencerminkan keadilan Allah SWT kepada makhluknya, tidak pandang bulu dalam menimpakan kematian ini (QS 29:57). Kelima, kematian merupakan pemutus segala kelezatan hidup, menghentikan total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala yang (semula menjadi) kebiasaannya (QS 23:80).

Keenam, kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak bisa diha langi oleh harta benda, anak, dan kawan serta teman.

Ketujuh, Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan (QS 63:11). Kedatangannya tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi, mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah SWT karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.

Kedelapan, sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena kedahsyatannya.

Cukuplah kematian sebagai nasihat bagi kita, cukuplah kematian menjadikan hati bersedih akan bekal kita yang masih kurang, cukuplah kematian menjadikan air mata berlinang. Penyebab perpisahan dengan saudara tercinta. Penghalang segala kenikmatan dan pemutus segala cita-cita. Cukuplah kematian sebagai pelajaran, kita akan mengalaminya.Wallahu a’lam.

 

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN

REPUBLIKA

Renungkanlah Kematian Anda

NABI Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sering merenungkan kematiannya sendiri. Latihan ini meluaskan pemahaman beliau tentang misteri kehidupan dan memperdalam pengalaman kasih sayangnya.

Beliau pernah bersabda, “Satu-satunya penasihat yang kau butuhkan adalah kematianmu.”

Dalam proses mencapai keputusan penting, renungkanlah kematian Anda. Latihan ini dengan cepat menyusun ulang prioritas dan nilai.

Latihan spiritual lain Rasulullah adalah melakukan ziarah kubur dan berdoa di sana. Beliau kerap melakukan ini di tengah malam.

Dalam salah satu kegiatan beliau sebelum wafat, Rasul berdoa semalam suntuk di sebuah makam seraya memohon rahmat dari Allah untuk para orang yang sudah wafat.

Praktik ini, ujar Rasul, membangun sifat rendah hati, lembut hati, dan keberanian di dalam diri kita. [Wajah Sejuk Agama]

INILAH MOZAIK

Jangan Berpakaian Hitam Saat Kematian

KITA sering menyaksikan hampir setiap ada kematian, banyak orang-orang yang melayat atau keluarga yang tengah berduka, menggunakan pakaian serba hitam. Apakah syariat Islam mengajarkan hal itu?

Ternyata, tengenakan pakaian hitam saat tertimpa musibah, terutama karena kematian anggota keluarga, merupakan simbol yang tidak ada asalnya.

Seharusnya ketika seseorang yang tertimpa musibah melaksanakan hal-hal yang telah diajarkan syariat, yaitu mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlifli khoiron minha (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami dikembalikan. Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah aku pengganti yang lebih baik).

Jika ia mengucapkannya dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, Allah Subhanahu wa Taala akan membalasnya dengan pahala dan memberikan pengganti yang lebih baik.

Adapun menggunakan pakaian tertentu, misalnya pakaian hitam atau lainnya, tidak ada asalnya, bahkan ini merupakan perkara batil dan tercela. []

Sumber : Fatawa al-Marah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 65 dan Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, Darul Haq Cetakan VI 2010

Mati itu Pasti

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia, menggolongkan kita sebagai ahli takwa. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron [3] : 185)

Saudaraku, kematian itu pasti terjadi. Setiap orang pasti akan mengalami mati yang waktu, tempat dan caranya adalah rahasia Allah Swt. Manusia lahir memang berurutan, namun manusia mati tidak berurutan. Ada kalanya yang usianya masih muda bahkan masih bayi meninggal dunia lebih dahulu daripada yang sudah tua. Ada kalanya yang sehat bugar tiba-tiba meninggal dunia, padahal di tempat yang lain ada yang sudah sakit-sakitan tapi sehat kembali dan panjang usia. Maasyaa Allah, kematian adalah rahasia Allah.

Jika kita tafakuri dari kematian ini maka kita bisa menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini sangatlah terbatas. Dibatasi oleh kematian yang kedatangannya bisa sangat tiba-tiba atas kehendak Allah Swt. Dan, jika kita mati maka tidak ada satupun sekecil apapun yang bisa kita bawa dari dunia ini. Keluarga kita, harta kekayaan kita, semua akan ditinggalkan. Yang kita bawa tiada lain hanyalah catatan amal perbuatan kita.

Oleh karena itu, hidup kita yang serba terbatas dan sangat singkat ini adalah hanya untuk beramal sholeh. Sungguh merugilah kita jika sudah hidup sangat singkat di dunia hanya diisi dengan kemaksiatan dan kesia-siaan. Dan, semakin rugi jikalau kita mati dalam keadaan suul khotimah. Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita dengan hidayah-Nya, sehingga kita tergolong orang-orang yang beruntung dengan husnul khotimah. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Amalan Saleh jadi Pembela Orang-Orang Mukmin di Alam Kuburnya

Alam kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta. Dia mendapat cahaya di sana, lalu tubuhnya dikembalikan kepada asal mulanya.

 

Melalui Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya bila seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya, ia mendengarkan suara sandal saudara-saudaranya saat mereka meninggalkannya. Jika ia seseorang mukmin maka shalat akan berada di atas kepalanya, puasa berada di samping kanannya, zakat di samping kirinya, perbuatan baik berupa sedekah, shalat sunnah, perbuatan makruf dan berbuat baik kepada manusia berada di ujung kakinya.

Lalu ia didatangi dari sisi atas, maka shalatnya berkata, “Tidak ada jalan dari arahku.” Lalu ia didatangi dari sisi kanan maka puasanya berkata, “Tidak ada jalan dari arahku.” Lalu ia didatangi dari sisi kiri, maka zakatnya berkata, ”Tidak ada jalan dari arahku.” Lalu ia didatangi dari sisi bawah maka perbuatan baiknya yang berupa sedekah, shalat sunnah, perbuatan makruf dan berbuat baik kepada manusia berkata, ”Tidak ada jalan dari arahku.”

Kemudian dikatakan kepadanya, “Duduklah! Ia pun duduk dan matahari telah dinampakkan kepadanya seakan-akan hampir terbenam, lalu ditanya, ’Tahukah kamu siapakah orang yang bersama kamu itu?Apa pendapatmu mengenai dirinya? Apa kesaksianmu atas dirinya? Orang itu menjawab, “Biarkanlah aku mendirikan shalat.” Mereka menjawab, ”Sesungguhnya kamu akan mendirikannya, akan tetapi jawablah pertanyaan kami, tahukah kamu siapakah orang yang bersama kamu itu? Apa pendapatmu mengenai orang itu? Dan apa kesaksianmu atas orang itu?’

Ia menjawab, “Ia adalah Muhammad, Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ia telah datang dengan kebenaran dari Allah.” Kemudian dikatakan kepada orang itu, “Atas hal itu kamu hidup, atas hal itu kamu mati dan dengan itu Insya Allah kamu akan dibangkitkan.” Seraya dibukakan satu pintu dari pintu-pintu surga, ia diberitahu, “Inilah tempatmu di dalam surga, dan segala hal yang telah Allah sediakan untukmu.”

Ia pun senang dan gembira. Lalu dibukakan untuknya satu pintu dari pintu-pintu neraka dan ia diberitahu, “Inilah tempatmu dan segala hal yang telah Allah sediakan untukmu jika engkau bermaksiat kepada Allah.” Ia pun bertambah senang dan gembira.

Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta. Ia mendapat cahaya di sana, lalu tubuhnya dikembalikan kepada asal mulanya, bentuknya dijadikan bentuk yang indah, yaitu burung yang memakan tanaman surga, dan itulah yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’alafirmankan,

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)

Sedangkan untuk orang kafir, jika ia didatangi dari sisi atas, di sana tidak ada apa-apa. Ketika didatangi dari sisi kanan, di sana tidak ada apa-apa. Ketika didatangi dari sisi kiri, di sana tidak ada apa-apa. Dan ketika didatangi dari sisi kaki, di sana tidak ada apa-apa.

Kemudian ia diperintahkan, “Duduklah! Ia pun duduk dengan gemetar ketakutan, kemudian ia ditanya, ”Apakah kamu tahu orang yang ada sebelum kalian itu (Nabi Muhammad SAW)? Ia balik bertanya, ”Orang yang mana? Bahkan ia tidak tahu namanya. Kemudian ia diberitahu, ”(Namanya) Muhammad.” Orang itu menjawab, ”Aku tidak tahu, aku hanya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, aku pun mengatakan hal serupa.”

Dikatakan kepada orang itu, “Atas hal itu kamu hidup, atas hal itu kamu mati dan dengan itu insya Allah kamu akan dibangkitkan.” Seraya dibukakan satu pintu dari pintu-pintu neraka, ia diberitahu, ”Inilah tempatmu di dalam neraka, dan segala hal yang telah Allah sediakan untukmu.” Ia pun sedih dan menyesal.

Lalu dibukakan untuknya satu pintu dari pintu-pintu surga dan ia diberitahu, “Inilah tempatmu dan segala hal yang telah Allah sediakan untukmu jika engkau taat kepada Allah.” Ia pun bertambah sedih dan menyesal. Kemudian kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya saling bersilang. Itulah kehidupan yang sempit yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya,

Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghidupkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha: 124)

Dalam riwayat lain terhadap orang saleh disebutkan, “Orang itu akan didatangi di dalam kuburnya, ketika ia didatangi dari sisi kepala, bacaan Al-Qur’annya membelanya. Ketika didatangi dari arah tangan, sedekah membelanya dan ketika didatangi dari sisi kaki, perjalanannya ke masjid membelanya.”

 

Sudirman STAIL (Sumber buku: Ada Apa Setelah Mati, penulis: Husain bin Audah Al-Awayisyah.

HIDAYATULLAH

 

 

Sahabat Rasul Sya’ban RA yang Menyesal Saat Sakaratul Maut

Seorang sahabat Rasulullah SAW, Sya’ban ra memiliki kebiasaan unik. Dia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiapa shalat berjamaah dan I’tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.

Pada suatu pagi, saat shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW merasa heran karena tidak mendapati Sya’ban ra pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihat Sya’ban ra.

Shalat Subuh pun sengaja ditunda sejenak, untuk menunggu kehadiran Sya’ban. Namun yang ditunggu belum datang juga. Karena khawatir shalat Subuh kesiangan, Rasulullah pun memutuskan untuk segera melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Hingga shalat Subuh selesai pun Sya’ban belum datang juga.

Selesai shalat Subuh Rasul pun bertanya lagi “Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Rasul pun bertanya lagi “Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?” Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia tahu persis dimana rumah Sya’ban.

Rasulullah sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya tersebut, meminta diantarkan ke rumah Sya’ban.  Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.

Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya’ban pada waktu shalat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya’ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Tanya Rasulullah.

“Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” jawab wanita tersebut.

“Bolehkah kami menemui Sya’ban ra, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” ucap Rasul.

Dengan berlinangan air mata, istri Sya’ban ra menjawab “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian, istri Sya’ban ra bertanya “Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.

“Di masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban.

Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

“Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain. Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah.

Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.

Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukurang roti Arab (sekitar tiga kali ukuran  rata-rata roti Indonesia). ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yabg lebih indah. Masya Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Seseungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan.

 

REPUBLIKA

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!

Kematianmu Akan Jelaskan Siapa Dirimu

Sungguh, dalam kematian banyak ibrah, pelajaran, yang bisa diambil manusia yang hidup. Kehidupan dunia cuma sesaat, apalagi saat ini di mana usia pengharapan hidup manusia semakin singkat. Katakanlah enampuluh tahun. berapa usiamu sekarang? 40 tahun? Itu berarti 20 tahun lagi engkau akan meninggalkan dunia fana ini. Duapuluh tahun bukan waktu yang lama. Ia sangat dan sangat singkat. Ketika engkau bertemu dengan kawan-kawanmu semasa SMA, bukankah seperti baru kemarin engkau merayakan kelulusan dan berpisah dengan mereka? Padahal itu sudah berlalu lebih dari duapuluh tahun lalu.

Sekarang, bisa jadi engkau dihormati karena ada bintang di pundak dengan baju seragam dan tongkat komando di tangan.

Sekarang, bisa jadi engkau merasa dunia milikmu karena jutaan orang berada di dalam genggaman tanganmu. Engkau merasa besar dan mirip dengan tuhan.

Sekarang, engkau bebas menyiksa manusia hanya karena dugaan, bahkan sampai menghilangkan nyawanya. Padahal dia rajin beribadah ke masjid. Engkau merasa sebagai pedang keadilan, menurut versimu sendiri, tentunya.

Tapi lihat, beberapa tahun lagi engkau akan menemui kematian. Ya, kematian. Waktunya tidak bisa ditunda sedetikpun, atau dipersingkat. Kematian itu pasti adanya.

Apakah nanti ketika engkau mati, tanah akan menerimamu dengan lapang?

Apakah nanti ketika engkau mati, jasadmu mengeluarkan bau bangkai yang sangat busuk atau harum laksana kesturi?

Apakah nanti ketika kau mati, jutaan orang akan menangis sedih atau malah merayakan dengan kegembiraan?

Apakah ketika kau mati nanti, wajahmu akan berseri-seri laksana bulan purnama, atau malah menghitam dan kehilangan cahaya kebaikan? Jika di dunia saja wajahmu sudah kusam, perutmu menggelembung laksana diisi jutaan larva, maka bagaimanakah lagi dengan kematianmu kelak?

Engkau mungkin saat ini tidak sadar, dan mungkin merasa bisa hidup seratus tahun lagi, tapi tahukah engkau jika malaikat maut senantiasa menguntitmu dari dekat, melebihi dekatnya dengan urat nadimu?

Hanya orang-orang beruntung dan ikhlas yang selalu mengingat kematian. Bukan mengingat dunia. Kematian akan menjelaskan siapa hakikat dirimu. Apakah kamu itu pengikut iblis atau pengikut Muhammad SAW. Kematian akan menerangkan kepada yang hidup, siapa dirimu. Sudah siapkah segala perbekalan untuk itu?

 

ERA MUSLIM

 

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!

Pulsa Handphone dan Ayat-Ayat Kematian

Kita pernah menghadapi kondisi yang sangat mendesak dan membutuhkan ponsel untuk menghubungi seseorang. Sayangnya, ketika ingin menghubungi, ada suara dari bot operator yang menyatakan pulsa kita tidak mencukupi alias habis. Ingin menggunakan paket data internet, ternyata tidak ada jaringan dan paket data sudah habis. Di posisi seperti itu kita seperti mati gaya dan juga mati guna.

Peristiwa habisnya pulsa, baik untuk internetan maupun komunikasi sambungan telepon ini memang benar-benar serupa dengan diri kita. Hape adalah diri kita, dan pulsa adalah nyawanya. Tidak sama persis memang, karena hape masih menyala tapi mengalam disfungsi sebagai alat komunikasi.

Pertanyaan saat ini; jika pulsa habis kita bisa langsung beli, bagaiman jika nyawa kita habis? Sebuah pertanyaan yang retoris. Nyawa yang sudah dicabut tidak akan kembali dan tidak besi di toko nyata maupun toko maya mana pun.

Saat peristiwa meninggalnya ibu penulis, ada sebuah kejadian yang membuat direnungkan sehingga lahir gagasan ini. Handphone penulis dalam keadaan mati. Itu terjadi pada malam hari saat istirahat. Baru paginya ketika hape menyala banyak notifikasi memberitahukan itu.

Saat Malaikat Maut Mencabut Nyawa

Percaya kepada malakul maut yang memiliki tugas mencabut nyawa, qabdhul arwah, adalah kredo seorang muslim.

Dalam kitab “Al-Minhah Al-Ilhaiyah fi Tahdzib SYarh Ath-Thahawiyah Li Imam Ali bin Abil Izz Al-Hanafi” yang ditakhrij oleh Abdul Akhir Hummad Al-Hanafi disebutkan: “Dan kita beriman kepada malakul maut, yang diutus untuk mencabut roh seluruh manusia.”

Allah pun menegaskan dalam beberapa ayat tentang kematian. Tentang pencabutan nyawa. Seperti ayat-ayat berikut:

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan. (QS. As-Sajdah: 11)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لا يُفَرِّطُونَ
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. Al-An’am-61).

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرٰى إِلٰى أَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ إِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran ) Allah bagi kaum yang berpikir.

Itulah kematian. Hadirnya memberikan pesan kepada siapapun agar melipatgandakan kualitas amal diri. Pulsa memiliki masa berlaku dan kita mengetahuinya. Sementara nyawa kita tidak tahu kapan masa berlakunya berakhir. [@paramuda/BersamaDakwah]

 

BERSAMA  DAKWAH

Pelajaran Kematian

Suatu hari, Harun al-Rasyid pergi berburu. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang yang bernama Buhlul. Lalu, Harun berkata, “Berilah aku nasihat, wahai Buhlul!” Laki-laki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, di manakah bapak dan kakekmu, sejak Rasulullah hingga bapakmu?” Harun menjawab, “Semuanya telah mati.” Di mana istana mereka?” tanya Buhlul. “Itu istana mereka,” jawab Harun. “Di situ istana mereka, dan di sini kuburan mereka. Bukankah sekarang istana itu sedikit pun tidak memberi manfaat bagi mereka?” tanya Buhlul.

“Kamu benar. Tambahlah nasihatmu, wahai Buhlul!” kata Harun. “Wahai Amirul Mukminin, engkau diberi kekuasaan atas perbendaharaan Kisra dan diberi umur panjang. Lalu, apa yang bisa kau perbuat? Bukankah kuburan adalah terminal akhir bagi setiap yang hidup, kemudian engkau akan disidang tentang berbagai masalah?” “Tentu,” jawab Harun.

Setelah itu al-Rasyid pulang dan jatuh sakit. Setelah beberapa hari sakit, sampailah ajal menjemputnya. Pada detik-detik terakhir kehidupannya, ia berteriak, “Kumpulkanlah semua tentaraku.” Maka, datanglah mereka ke hadapan Harun al-Rasyid, lengkap dengan pedang dan perisai. Saking banyaknya sehingga tak ada yang tahu jumlahnya kecuali Allah. Semuanya berada di bawah komandonya. Mereka melihat Harun menangis sambil berkata, “Wahai Zat yang tidak pernah kehilangan kekuasaan, kasihanilah hamba-Mu yang telah kehilangan kekuasaan ini.”

Tangisan itu tak berhenti hingga ajal mencabut nyawanya. Itulah sepenggal kisah yang memberikan pelajaran (ibrah) berharga kepada kita tentang nasihat kematian. Bahwa kematian tidak pilihpilih, anak kecil atau dewasa, muda atau tua, laki atau perempuan, kaya atau miskin, dan pejabat atau rakyat.

Kematian akan menyambangi siapa saja yang bernyawa (QS Ali Imran [3]:185). Tidak ada tawar-menawar, setiap orang memiliki ja tahnya masing-masing (QS al-A’raf [7]: 34). Karena itu, Nabi SAW memerintahkan kepada kita agar selalu mengingat dan menyiap kan bekal untuk menghadapi kematian (HR Nasa`i, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah).

Ad-Daqqaq RA berkata, “Barang siapa yang banyak mengingat mati, ia diberi kemuliaan dengan tiga perkara: segera bertobat, hati bersifat qanaah, dan rajin dalam beribadah. Barang siapa yang lupa terhadap mati, ia disiksa dengan tiga perkara: menunda-nunda tobat, tidak ridha dengan menahan diri dari meminta, dan malas dalam beribadah.”

Alquran telah menjelaskan akan datangnya kematian dengan berbagai kondisi. Antara lain, kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia meskipun ia berusaha menghindari risiko kematian (QS Ali Imran [3]: 154).

Kematian akan mengejar siapa pun meskipun ia berlindung di balik benteng yang tinggi dan kokoh (QS an-Nisa [4]: 78), kematian mengejar siapa pun meskipun ia lari menghindar (QS al-Jumu’ah [62]: 8), kematian datang secara tiba-tiba (QS Luqman [31]: 34), dan kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat (QS al-Munafiqun [63]: 11).

Terkait dahsyatnya kematian (sakaratul maut), Nabi SAW bersabda, “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.” (HR Tirmidzi). Dalam hadis lain, “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutra. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutra yang tersobek?” (HR Bukhari).

Dalam atsar (pendapat) para sahabat Nabi SAW. Seperti Ka’ab al-Ahbar berpendapat: “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan ke dalam perut seseorang. Lalu, seorang laki-laki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itu pun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa.”

Kemudian, Imam Ghozali berpendapat: “Rasa sakit yang dirasa kan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke selu ruh anggota tubuh sehingga bagi orang yang sedang sekarat merasa kan dirinya ditarik-tarik dan dicerabuti dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki.” Semoga kita dapat meraih husnul khatimah. Amin.

Oleh:  Imam Nur Suharno