Kematianmu Akan Jelaskan Siapa Dirimu

Sungguh, dalam kematian banyak ibrah, pelajaran, yang bisa diambil manusia yang hidup. Kehidupan dunia cuma sesaat, apalagi saat ini di mana usia pengharapan hidup manusia semakin singkat. Katakanlah enampuluh tahun. berapa usiamu sekarang? 40 tahun? Itu berarti 20 tahun lagi engkau akan meninggalkan dunia fana ini. Duapuluh tahun bukan waktu yang lama. Ia sangat dan sangat singkat. Ketika engkau bertemu dengan kawan-kawanmu semasa SMA, bukankah seperti baru kemarin engkau merayakan kelulusan dan berpisah dengan mereka? Padahal itu sudah berlalu lebih dari duapuluh tahun lalu.

Sekarang, bisa jadi engkau dihormati karena ada bintang di pundak dengan baju seragam dan tongkat komando di tangan.

Sekarang, bisa jadi engkau merasa dunia milikmu karena jutaan orang berada di dalam genggaman tanganmu. Engkau merasa besar dan mirip dengan tuhan.

Sekarang, engkau bebas menyiksa manusia hanya karena dugaan, bahkan sampai menghilangkan nyawanya. Padahal dia rajin beribadah ke masjid. Engkau merasa sebagai pedang keadilan, menurut versimu sendiri, tentunya.

Tapi lihat, beberapa tahun lagi engkau akan menemui kematian. Ya, kematian. Waktunya tidak bisa ditunda sedetikpun, atau dipersingkat. Kematian itu pasti adanya.

Apakah nanti ketika engkau mati, tanah akan menerimamu dengan lapang?

Apakah nanti ketika engkau mati, jasadmu mengeluarkan bau bangkai yang sangat busuk atau harum laksana kesturi?

Apakah nanti ketika kau mati, jutaan orang akan menangis sedih atau malah merayakan dengan kegembiraan?

Apakah ketika kau mati nanti, wajahmu akan berseri-seri laksana bulan purnama, atau malah menghitam dan kehilangan cahaya kebaikan? Jika di dunia saja wajahmu sudah kusam, perutmu menggelembung laksana diisi jutaan larva, maka bagaimanakah lagi dengan kematianmu kelak?

Engkau mungkin saat ini tidak sadar, dan mungkin merasa bisa hidup seratus tahun lagi, tapi tahukah engkau jika malaikat maut senantiasa menguntitmu dari dekat, melebihi dekatnya dengan urat nadimu?

Hanya orang-orang beruntung dan ikhlas yang selalu mengingat kematian. Bukan mengingat dunia. Kematian akan menjelaskan siapa hakikat dirimu. Apakah kamu itu pengikut iblis atau pengikut Muhammad SAW. Kematian akan menerangkan kepada yang hidup, siapa dirimu. Sudah siapkah segala perbekalan untuk itu?

 

ERA MUSLIM

 

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!

Pulsa Handphone dan Ayat-Ayat Kematian

Kita pernah menghadapi kondisi yang sangat mendesak dan membutuhkan ponsel untuk menghubungi seseorang. Sayangnya, ketika ingin menghubungi, ada suara dari bot operator yang menyatakan pulsa kita tidak mencukupi alias habis. Ingin menggunakan paket data internet, ternyata tidak ada jaringan dan paket data sudah habis. Di posisi seperti itu kita seperti mati gaya dan juga mati guna.

Peristiwa habisnya pulsa, baik untuk internetan maupun komunikasi sambungan telepon ini memang benar-benar serupa dengan diri kita. Hape adalah diri kita, dan pulsa adalah nyawanya. Tidak sama persis memang, karena hape masih menyala tapi mengalam disfungsi sebagai alat komunikasi.

Pertanyaan saat ini; jika pulsa habis kita bisa langsung beli, bagaiman jika nyawa kita habis? Sebuah pertanyaan yang retoris. Nyawa yang sudah dicabut tidak akan kembali dan tidak besi di toko nyata maupun toko maya mana pun.

Saat peristiwa meninggalnya ibu penulis, ada sebuah kejadian yang membuat direnungkan sehingga lahir gagasan ini. Handphone penulis dalam keadaan mati. Itu terjadi pada malam hari saat istirahat. Baru paginya ketika hape menyala banyak notifikasi memberitahukan itu.

Saat Malaikat Maut Mencabut Nyawa

Percaya kepada malakul maut yang memiliki tugas mencabut nyawa, qabdhul arwah, adalah kredo seorang muslim.

Dalam kitab “Al-Minhah Al-Ilhaiyah fi Tahdzib SYarh Ath-Thahawiyah Li Imam Ali bin Abil Izz Al-Hanafi” yang ditakhrij oleh Abdul Akhir Hummad Al-Hanafi disebutkan: “Dan kita beriman kepada malakul maut, yang diutus untuk mencabut roh seluruh manusia.”

Allah pun menegaskan dalam beberapa ayat tentang kematian. Tentang pencabutan nyawa. Seperti ayat-ayat berikut:

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan. (QS. As-Sajdah: 11)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لا يُفَرِّطُونَ
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. Al-An’am-61).

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرٰى إِلٰى أَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ إِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran ) Allah bagi kaum yang berpikir.

Itulah kematian. Hadirnya memberikan pesan kepada siapapun agar melipatgandakan kualitas amal diri. Pulsa memiliki masa berlaku dan kita mengetahuinya. Sementara nyawa kita tidak tahu kapan masa berlakunya berakhir. [@paramuda/BersamaDakwah]

 

BERSAMA  DAKWAH

Pelajaran Kematian

Suatu hari, Harun al-Rasyid pergi berburu. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang yang bernama Buhlul. Lalu, Harun berkata, “Berilah aku nasihat, wahai Buhlul!” Laki-laki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, di manakah bapak dan kakekmu, sejak Rasulullah hingga bapakmu?” Harun menjawab, “Semuanya telah mati.” Di mana istana mereka?” tanya Buhlul. “Itu istana mereka,” jawab Harun. “Di situ istana mereka, dan di sini kuburan mereka. Bukankah sekarang istana itu sedikit pun tidak memberi manfaat bagi mereka?” tanya Buhlul.

“Kamu benar. Tambahlah nasihatmu, wahai Buhlul!” kata Harun. “Wahai Amirul Mukminin, engkau diberi kekuasaan atas perbendaharaan Kisra dan diberi umur panjang. Lalu, apa yang bisa kau perbuat? Bukankah kuburan adalah terminal akhir bagi setiap yang hidup, kemudian engkau akan disidang tentang berbagai masalah?” “Tentu,” jawab Harun.

Setelah itu al-Rasyid pulang dan jatuh sakit. Setelah beberapa hari sakit, sampailah ajal menjemputnya. Pada detik-detik terakhir kehidupannya, ia berteriak, “Kumpulkanlah semua tentaraku.” Maka, datanglah mereka ke hadapan Harun al-Rasyid, lengkap dengan pedang dan perisai. Saking banyaknya sehingga tak ada yang tahu jumlahnya kecuali Allah. Semuanya berada di bawah komandonya. Mereka melihat Harun menangis sambil berkata, “Wahai Zat yang tidak pernah kehilangan kekuasaan, kasihanilah hamba-Mu yang telah kehilangan kekuasaan ini.”

Tangisan itu tak berhenti hingga ajal mencabut nyawanya. Itulah sepenggal kisah yang memberikan pelajaran (ibrah) berharga kepada kita tentang nasihat kematian. Bahwa kematian tidak pilihpilih, anak kecil atau dewasa, muda atau tua, laki atau perempuan, kaya atau miskin, dan pejabat atau rakyat.

Kematian akan menyambangi siapa saja yang bernyawa (QS Ali Imran [3]:185). Tidak ada tawar-menawar, setiap orang memiliki ja tahnya masing-masing (QS al-A’raf [7]: 34). Karena itu, Nabi SAW memerintahkan kepada kita agar selalu mengingat dan menyiap kan bekal untuk menghadapi kematian (HR Nasa`i, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah).

Ad-Daqqaq RA berkata, “Barang siapa yang banyak mengingat mati, ia diberi kemuliaan dengan tiga perkara: segera bertobat, hati bersifat qanaah, dan rajin dalam beribadah. Barang siapa yang lupa terhadap mati, ia disiksa dengan tiga perkara: menunda-nunda tobat, tidak ridha dengan menahan diri dari meminta, dan malas dalam beribadah.”

Alquran telah menjelaskan akan datangnya kematian dengan berbagai kondisi. Antara lain, kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia meskipun ia berusaha menghindari risiko kematian (QS Ali Imran [3]: 154).

Kematian akan mengejar siapa pun meskipun ia berlindung di balik benteng yang tinggi dan kokoh (QS an-Nisa [4]: 78), kematian mengejar siapa pun meskipun ia lari menghindar (QS al-Jumu’ah [62]: 8), kematian datang secara tiba-tiba (QS Luqman [31]: 34), dan kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat (QS al-Munafiqun [63]: 11).

Terkait dahsyatnya kematian (sakaratul maut), Nabi SAW bersabda, “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.” (HR Tirmidzi). Dalam hadis lain, “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutra. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutra yang tersobek?” (HR Bukhari).

Dalam atsar (pendapat) para sahabat Nabi SAW. Seperti Ka’ab al-Ahbar berpendapat: “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan ke dalam perut seseorang. Lalu, seorang laki-laki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itu pun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa.”

Kemudian, Imam Ghozali berpendapat: “Rasa sakit yang dirasa kan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke selu ruh anggota tubuh sehingga bagi orang yang sedang sekarat merasa kan dirinya ditarik-tarik dan dicerabuti dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki.” Semoga kita dapat meraih husnul khatimah. Amin.

Oleh:  Imam Nur Suharno

Dua Penasihat Kematian dari Rasulullah

ADAKALANYA manusia membutuhkan nasihat dalam kehidupannya, agar hatinya tidak keras membatu, pikirannya tidak lalai, dan tidak tertipu kenikmatan dunia apalagi tergoda rayuan setan untuk berbuat keburukan.

Dalam hal ini Rasulullah meninggalkan dua jenis penasihat kematian, ialah yang bersuara dan tidak bersuara. Kedua penasihat ini tidak hentinya memberikan nasihat.

Penasihat kematian yang pertama adalah Alquran. Ia selalu menasihati kita dengan memperdengarkan ayat-ayat Allah. Alquran mengingatkan manusia dan menyadarkan orang-orang yang lalai, juga untuk menambah keimanan orang-orang mukmin.

“Maka berilah peringatan dengan Alquran orang yang takut dengan ancaman-Ku.” (QS Qaf [50]: 45)

Penasihat yang tidak bersuara adalah kematian. Dan kematian merupakan penasihat paling berharga. Selalu mengintai setiap saat tanpa mengenal waktu. Namun kita manusia terlalu sering menutup telinga tidak mendengarnya. Kita disibukkan dengan urusan dunia. Menjadikan kita lupa bahwa kematian mengancam jiwa setiap hari, setiap jam, menit, dan detik kehidupan.

Adakah kita rasa penasihat yang lebih berharga dari ini:

“Jika suatu waktu kita dihadapkan dengan seseorang yang hidup, dengan wajah yang berseri-seri, lisannya berbicara, dan memiliki keinginan terhadap dunia, tetapi dengan seketika orang tersebut kaku tak bergerak, wajah yang berseri-seri berubah menjadi pucat, lisan yang fasih berbicara berubah bungkam seribu bahasa. Dan seseorang yang tadinya sangat nyaman untuk kita pandang, ternyata telah terkubur dalam liang lahat. Kalau sudah begitu, adakah penasihat yang lebih berharga dari kematian?”

Penasihat yang tidak bersuara itu lebih dekat daripada kedipan mata kita. Jangan pernah mengira bahwa ia begitu jauh. Saat kematian datang, kita berandai-andai supaya Allah menundanya. Sungguh disayangkan, kita tidak akan menemukan kesempatan itu lagi. Harapan itu percuma.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS, Al-Munafiqun [63]:9)

Dan belanjakanlah (infaqkanlah) sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS, Al-Munafiqun [63]:10)

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun [63]:11)

 

INILAH MOZAIK

 

 

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Kematian yang Tak Terduga

SYAIKH At-Thantawi menceritakan sebuah kisah yang menggambarkan kematian yang datang secara tiba-tiba.

Beliau mengisahkan satu kejadian yang bisa menggetarkan keimanan kita. Dikisahkan, Ada sebuah bus yang berisi penuh dengan penumpang. Kemudian si supir tiba-tiba menginjak rem.

Para penumpang bertanya, ”Ada apa?”

Dia berkata, ”Saya berhenti karena orang tua itu melambai agar dapat naik bus.”

Para penumpang keheranan, ”Kami tidak melihat siapa pun.”

Sang supir kembali berkata sembari menunjuk ke kiri bis,”Lihatlah! Dia disana!”

Mereka para penumpang kembali mengulangi bahwa mereka tidak melihat siapa pun. Sopir itu kemudian kembali berkata,” sekarang lihatlah, dia sudah masuk ke dalam bus.”

Melihat situasi yang tidak masuk akal, para penumpang kembali berseru,”Demi Alloh! Kami tidak melihat siapa pun!” mereka mengira si sopir bercanda, atau mungkin berhalusinasi.

Tiba-tiba si supir terdiam dan kepalanya terkulai ke depan. Sang sopir meninggal di kursinya. Mungkinkah yang dimaksud si sopir adalah malaikat yang bertugas mencabut nyawanya? Wallahu a’lam.

Yang jelas, Alloh  telah berfirman di dalam QS Al-A’rof ayat 34.

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (ajalnya); Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”

Ada juga kisah lainnya yang juga dikisahkan oleh syaikh Ali At-Thantawi. Dikisahkan bahwa ada seorang sopir truk di suriah yang mengambil penumpang di tengah jalan.  Ia memberinya tumpangan. Penumpang itu duduk di bagian belakang truk. Tidak ada atap atau penutupnya.

Di bagian belakang truk tersebut ada peti mati yang telah dipersiapkan untuk proses pemakaman. Hujan mulai turun dan penumpang itu menyadari bahwa itu adalah peti mati yang besar. Ia memutuskan untuk masuk ke dalamnya sehingga tidak kehujanan. Kemudian ada penumpang lain yang naik ke atas truk. Ia juga naik ke belakang. Ia kemudian memilih duduk di pinggir peti mati tersebut.  Selama hujan, penumpang kedua berpikir bahwa ia sendirian saja di dalam bak.

Kemudian, penumpang pertama mengulurkan tangannya dari peti untuk memeriksa apakah hujan sudah reda. Dan ia tidak memberi tahu kepada penumpang kedua yang belum menyadari kehadirannya.  Ketika melihat hal itu, penumpang kedua takut setengah mati. Ia menyangka bahwa itu adalah orang yang mati hidup kembali. Saking takutnya penumpang kedua terjengkang mundur, jatuh dan kepalanya terbentur. Ia sekarat seketika.

Inilah rahasia Alloh. Kematian seseorang kadang tidak terduga. [Mubarak]

 

Bersama Dakwah

Berbagi Iklan Kematian

“SETIAP yang bernyawa pastilah merasakan kematian.” “Ketika tiba ajal mereka, tak akan mundur walau sedikitpun dan tak akan maju.” Demikian Allah berfirman dalam kitab suci al-Qur’an. Kematian adalah sebuah keniscayaan, namun sayangnya tak banyak yang tahu dan mau mencari tahu tentang hakikat kematian itu sendiri.

Tak ingin tahukah kedahsyatan sakaratul maut, saat kematian tiba? Tak ingin tahukah tentang kehidupan pasca-kematian? Bagaimana kita kelak di alam kubur, bagaimanakah malam pertama kita di alam kubur? Bagaimanakah perjumpaan kita dengan dua malaikat yang akan bertanya kepada kita di alam kubur kelak?

Kita pasti mati. Tinggal menunggu waktu. Tak inginkah kita mati tersenyum, kembali kepadaNya dengan damai? Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sungguh membuat penasaran. InsyaAllah akan kami bajas tuntas dalam Training Sehari bertema “Menjemput Kematian dengan Senyum (Renungan dan Terapi Kehidupan Islami) bersama saya dan team.

Untuk Kabupaten Sumenep angkatan pertama akan diadakan tanggal 24 Februari 2017. Untuk Surabaya akan diadakan pada 5 Maret 2017. Semoga kita semua bisa menikmati jalan hidup di dunia ini dan menikmati jalan kematian menuju Allah SWT. Salam, AIM. [*]

 

oleh: KH Ahmad Imam Mawardi

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2360704/berbagi-iklan-kematian#sthash.z7WnE4Dy.dpuf

 

Takut Pada Kematian

ADA seorang sastrawan Mesir yang sangat terkenal. Kepandaiannya mengungkapkan rasa yang tersembunyi dalam kalimat-kalimat yang indah mengagumkan tak ada yang bisa membantahnya.

Dia adalah peraih hadiah nobel sastra. Namanya Najib Mahfoudh. Mereka yang tak memiliki kemampuan seperti itu tak perlulah iri. Bisa jadi memiliku keahlian di bidang lain, seperti pengungkap rasa dengan senyum dan air mata.

Saat ini saya ingin berbagi satu kalimat yang disampaikan oleh Najib Mahfoudh itu yang sangat dalam maknanya. Kalimat itu berbunyi, “Rasa takut itu tak mencegah –datangnya– kematian. Rasa seperti itu hanya mencegah –lancarnya jalan–kehidupan.” Jelas sekali kalimat indah ini mencoba untuk mengungkapkan kebanyakan rasa yang ada di benak kebanyakan manusia, yakni takut mati.

Ditakuti atau tidak, kematian pasti datang pada waktunya. Mau menjauh dari kematian ternyata malah ketemu dengannya di waktu dan tempat bersembunyi. Ada orang yang lari menjauh dari medan perang karena takut kilauan pedang dan lesatan anak panah, ternyata terjatuh ke dalam lubang yang dihuni oleh ular berbisa. Lalu, dia mati dengan terhina.

Takut pada kematian hanya akan membuat manusia menjadi murung, tak bergairah hidup, malas bekerja dan putus asa karena menganggap bahwa semuanya akan segera berakhir. Dia lupa bahwa hidup masih akan terus berlanjut entah sampai kapan.

Dia pun lupa bahwa setelah kematian kita, ada kehidupan orang lain yang berkaitan dengan kehidupan kita. Oleh karena itu yang perintahkan bukanlah takut kepada kematian, melainkan takut kepada Allah dan bersiap-siap untuk kematian.

Teruslah berbuat, teruslah bekerja dan teruslah beribadah untuk bekal kematian. Nikmati jalan hidup kita masing-masing dengan dan dalam cara yang disukai Allah. Hapuskan kemurungan, buanglah kegelisahan. Semoga panjang umur dalam beramal. Salam, AIM, sahabat dan saudaramu

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2361424/takut-pada-kematian#sthash.V4yg8TQf.dpuf


Baca juga: Kematian itu Sunatullah, Jangan Takut

Kematian yang Dikenang

KITA pasti mati, apakah saat ini, besok, lusa atau entah kapan. Itu bukanlah suatu masalah besar. Yang masalah besar adalah apa yang kita tinggalkan setelah kematian kita dan apakah kira-kira yang akan kita dapatkan setelah kematian itu, atau bagaimanakah kita setelah kematian itu.

“Siapa yang menanam dia akan memanen” adalah layak untuk menjadi renungan kita. Apa yang telah kita tanam selama ini untuk akhirat kelak?

Beberapa pemilik istana telah meninggal lama sekali. Di antara mereka ada yang dikenang dan kebanyakan mereka adalah dilupakan. Orang-orang terkaya di dunia sudah juga banyak yang mati sejak lama. Di antara mereka ada yang sampai kini didoakan dan kebanyakan dari mereka malah sudah tak pernah terdengar namanya.

Para pendekar yang melegenda juga sudah banyak yang wafat. Beberapa di antaranya masih diabadikan sejarah dengan pujian kehebatannya. Kebanyakan mereka sudah dilupakan semua orang.

Bertanyalah sekarang mengapa sebagian diingat, didoakan dan diabadikan sejarah dan mengapa kebanyakan mereka dilupakan dan dihapus dari ingatan sejarah. Jawabnya adalah, salah satunya, yang dikenang dan didoakan itu telah banyak berbuat kebaikan untuk orang lain, hidup untuk orang lain, bukan hanya untuk dirinya. Mereka yang tak berbuat untuk orang lain, tak punya pena untuk menuliskan namanya dalam relung hati orang lain.

Mereka yang dikenang dan didoakan orang banyak adalah mereka yang menjadi pusat nilai kebajikan, menjadi lumbung kemaslahatan, dan menjadi rujukan kedamaian. Jangan bangga menjadi pejabat kalau belum mensejahterakan rakyat. Jangan bangga menjadi pendekar kalau belum memberikan rasa aman pada masyarakat. Jangan bangga menjadi orang kaya sebelum mampu membantu orang-orang miskin dan kelaparan. Hiduplah kini untuk nanti karena masih ada hari esok setelah hari ini. Salam, AIM. [*]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2342160/kematian-yang-dikenang#sthash.RY3lJi30.dpuf

Rumi: Dukacita Kematian

Pangeran umat manusia (Muhammad) sungguh mengatakan bahwa tak seorang pun yang meninggalkan dunia ini
Merasa sedih dan menyesal karena telah mati; sebaliknya, dia bahkan sangat menyesal karena telah kehilangan kesempatan,
Seraya berkata pada dirinya, “Mengapa tak kujadikan kematian sebagai tujuanku kematian sebagai gudang menyimpan segala keberuntungan dan kekayaan,
Dan mengapa, karena tampak ganda, aku tambatkan hidupku pada bayang-bayang yang mudah lenyap dalam sekejap?”

Dukacita kematian tiada hubungannya dengan ajal, karena mereka asyik dengan wujud keberadaan yang menggejala
Dan tak pernah memandang seluruh buih ini bergerak dan hidup karena Sang Lautan.
Bila Sang Lautan telah menepiskan buih ke pantai, pergilah ke kuburan dan lihatlah mereka!

Tanyakan kepada mereka, “Di manakah arus gelombangmu kini?” dan dengarlah jawaban bisu mereka, “Tanyakan kepada Sang Lautan, bukan kepada kami”.
Bagaimana buih dapat melayang tanpa ombak? Bagaimana debu terbang ke puncak tanpa angin?
Bila kaulihat debu, lihatlah pula Sang Angin; bila kau lihat buih, lihat pula Sang Samudra Tenaga Penciptan.

Mari, perhatikanlah, karena pernglihatan batinlah satu-satunya yang paling berguna dalam dirimu: selebihnya adalah keping-keping lemak dan daging, pakaian dan pembungkus (tulang dan nadi).
Leburkanlah seluruh tubuhmu ke dalam Penglihatan Batin: lihat, lihat, lihatlah!
Sekilas hanya sampai pada satu dua depa jalan; pandangan cermat akan alam duniawi dan spiritual menyampaikan kita pada Wajah Sang Raja.

[Rumi]

 

sumber:Mozaik Islam