Semua Masih Punya Harapan Hijrah

Subhanallah walhamdulillah, sungguh sebesar apapun dosa seseorang selama ia masih hidup, berarti masih ada harapan untuk baik. Dan sungguh tiada kesempatan terindah dalam sejarah hidup di dunia selain kesempatan taubat. Sebaliknya sealim kayak apapun seseorang,  selama ia masih hidup, bisa saja ia kemudian kufur nikmat.

Karena itulah Allah melarang diri kita merasa paling suci. “Jangan sekali kali kalian merasa paling suci, karena hanya Allah yang paling tahu siapa yg paling bertakwa.” (QS An-Najm: 32). Semua kita punya aib, hanya saja masih ditutupi Allah. Jadi,  jangan sinis, jangan pesimistis, apalagi memvonis, semua boleh hancur, semua sudah terjadi, tetapi semua masih punya harapan hijrah, yakni berpindah dari akhlak dan perikehidupan yang buruk kepada akhlak dan perikehidupan yang baik. Allahu akbar.

Ingat sahabatku! Sebesar apapun dosa seorang hamba, sungguh rahmat dan ampunan Allah lebih besar dari dosa hamba-Nya sebanyak apapun. Simaklah kalam Allah ini dengan  iman,  “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53).

Berita gembira dari Rasulullah, “Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR Muslim). Betapa sayang dan  cintanya Allah kepada hamba-Nya yang bertaubat, alhamdulillah.

Allahumma ya Allah ampunilah seluruh dosa dosa kami, terimalah taubat kami, dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang istiqomah taat hingga Engkau mewafatkan kami. Aamiin.

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

REPUBLIKA

 

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Ustaz Arifin Beberkan Keistimewaan Umrah

Pimpinan Majelis Az-Zikra Ustadz Muhammad Arifin Ilham hari ini, Kamis (22/12/2016) berangkat menunaikan ibadah umrah. Seperti biasa, Ustadz Arifin Ilham hanya berangkat umrah sekali dalam setahun.

“Alhamdulillah, pagi ini Arifin dilepas oleh para sahabat tercinta fillah, untuk pergi menunaikan ibadah umrah, di Majelis Az-Zikra Sentul, Bogor,” kata Ustadz Arifin Ilham kepada Republika.co.id, Kamis (22/12/2016).

Arifin mengemukakan, banyak sekali fadhilah atau keistimewaan ibadah umrah.  “Banyak sekali keistimewaan ibadah umrah, sehingga mendorong kita lebih semangat menunaikannya,” ujarnya.

Pertama, kata Arifin, umrah adalah jihad sebagaimana ibadah haji. Ia mengutip hadits Rasulullah SAW, dari Aisyah yang  bertanya kepada Rasulullah,  “Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan umrah.” (HR Ibnu Majah)

Fadhilah kedua, kata Arifin, menghapus dosa di antara dua umrah. Arifin mengutip hadits Rasulullah SAW dari Abu Hurairah, “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR Bukhari  dan Muslim)

Keistimewaan ketiga ibadah umrah adalah menghilangkan kefakiran dan mendapatkan  hadiah surge Allah SWT. Arifin mengutip hadits Rasulullah SAW dari Abdullah,  “Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga,” (HR An Nasai, Tirmidzi dan Ahmad)

Arifin menegaskan, masih banyak hikmah lainnya menunaikan ibadah umrah. “Misalnya, doa mustajab, dan perjalanannya penuh berkah Allah,” tuturnya.

“Selain itu, umrah adalah napak  tilas perjalanan nabi Allah Ibrahim dan Nabi Muhammad. Umrah juga menumbuhkan kekuatan iman. Umrah juga merupakan gladi resik kematian, dengan pakaian ihram, penyemangat ibadah. Tidak kalah pentingnya, umrah membawa hijrah dan tobat nasuha,” papar Ustadz Muhammad Arifin Ilham.

 

sumber: Republika Online

Waspadai Bahaya Ujub

Subhanallah. Sungguh hanya Allah yang Mahasuci. Selain-Nya, pasti berbintik noda, kotor, hitam, pekat, dan legam. Terjerumus pada dosa bahkan terjerembap pada jejaring maksiat halus, seperti merasa dirinya paling saleh, paling dermawan, paling benar jihadnya, paling taat, dan paling bersih.

Tiada godaan terhebat dari seorang yang sukses rezekinya, jabatannya, popularitasnya, ilmunya, dan keturunannya kecuali bangga dan kagum pada dirinya sendiri. Merasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling suci. Dan sungguh, inilah penyakit hati orang sukses termasuk tentu “si penulis” ini. Begini-begitu kan kesannya saja. Padahal aib dan kekurangan seabrek-abrek. Untungnya saja, aib kita semua masih ditutupi Allah. Kalau dibuka, pasti sangat malu dan hina.

“Jangan kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS al-Qashash:76).  “Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa.” (QS an-Najm:32). Rasulullah mengingatkan dengan mengulang sampai tiga kali, “Takutlah kalian pada al-Uzba”, yaitu bangga dan kagum pada diri sendiri.

Ketika Rasulullah SAW mengingatkan dengan sabdanya tersebut, di hadapan beliau adalah para sahabat yang mulia. Mereka saleh-saleh dan para penghapal Alquran. Karena itu, dosa ujub boleh jadi jebakan dan jerat halus, tapi mematikan bagi para pelakunya, yang kebanyakan dari kalangan orang-orang hebat. Dosa ujub ini lebih halus dari langkah semut.

Bisa jadi kesannya tawadhu, tetapi di hati ingin dipuji. Sangat marah jika dihina ternyata karena berharap dipuji. Inilah Dho’ful aqli wal-iimaani, tanda lemahnya akal dan iman. Padahal jelas sangat rugi, sudah capek-capek beramal, tapi hancur karena ujub.

Karena itu sahabatku, seringlah duduk di majelis ilmu dan zikir. Saat  menengadah dan menatap wajah guru, rontoklah kebanggaan diri. Duduklah bersama fakir miskin, yatim piatu, orang-orang susah, ziarahilah kuburan, perkuat puasa sunah, tadaburkan Alquran, perhebat istighfar, dan selalu harus sempatkan diri secara khusus muhasabah diri selesai shalat malam, “Siapa aku, dari mana, di mana, dan mau ke mana akhirnya aku?”

Sungguh tidak pantas bangga diri kecuali hanya Allah yang Mahasuci dan Terpuji. “Tiga hal yang membinasakan; kekikiran yang  diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR Thabrani).

Sifat ujub membawa akibat buruk dan menjerat kepada kehancuran, baik bagi pelakunya maupun bagi amal perbuatannya. Di antara dampak dari sifat ujub tersebut adalah membatalkan pahala. Seseorang yang merasa ujub dengan amal kebajikannya, pahalanya akan gugur dan amalannya menguap karena Allah tidak akan menerima amalan kebajikan sedikit pun, kecuali dengan ikhlas karena-Nya.

Allahumma ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang Kau ridhai, minal mukhlishiin. Berilah kami rezeki teragung, yaitu sifat ikhlas dan bersihkan hati kami dari riya, sum’ah, ujub, dan semua penyakit hati. Aamiin.

 

Oleh: Muhammad Arifin Ilham

sumber: Republika ONline