Teror Kaum Neo Khawarij, Kanker Ganas di Tubuh Umat Islam?

Serangan teror yang terjadi adalah manivestasi pemikiran Khawarij era klasik

Para ulama ushul fiqih sepakat bahwa semua perintah di dalam agama dilengkapi dengan tata cara pelaksanaannya, baik perintah itu bersifat wajib maupun sunnat. Mereka hanya berbeda pendapat tentang apakah tata cara pelaksanaan perintah itu datang bersamaan dengan perintah, lebih dulu, atau belakangan.  Umar bin Abdul Azis mengatakan siapapun yang bergegas melaksanakan perintah tanpa belajar dulu tata cara pelaksanaannya, maka dia akan lebih banyak membuat kerusakan daripada kebaikan.  

Jihad, tablig, menegakkan hukum Allah SWT, menegakkan keadilan, mencegah kemunkaran, semua adalah perintah agama. Siapapun yang hendak menjalankan perintah tersebut harus belajar dulu tata cara pelaksanaannya dengan benar.  

Para ulama sejak zaman salaf saleh selalu mengingatkan tentang hubungan amal perbuatan dan ibadah yang benar dengan etika dan ilmu. Dalam Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah mengutip para ulama yang mengatakan bahwa ilmu hanya bisa didapatkan dengan adab, dan ibadah hanya akan sah jika didasari ilmu.  

Putra Imam Ahmad bin Hanbal menyampaikan wasiat dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad, dari Imam Syafi’i, dari Imam Malik, yang mengatakan siapapun tidak boleh mempelajari ajaran agama Islam hanya melalui bacaan, catatan, atau kitab. Dia harus mempelajarinya dari seorang guru yang juga memiliki guru dengan silsilah jalur transmisi keilmuan yang muttashil sampai generasi para sahabat.  

Mereka yang hanya belajar agama dari catatan atau buku, disebut sebagai kaum suhufi dan mushafi. Sejak zaman salaf saleh, orang yang demikian ini dianggap daif, atau tidak valid keilmuannya dan tidak boleh diambil pendapatnya. 

Dari sini kita bisa memahami kenapa di kalangan Ahlussunnah wal-Jama’ah hanya empat mazhab yang terus diajarkan sampai saat ini, padahal Imam Bukhari, setelah lama bermazhab Syafi’i dan belajar Mazhab Hanafi, dia berhasil mencapai derajat mujtahid muthlaq dan memiliki mazhab sendiri. Mazhab Imam Bukhari, Imam Laits, Sufyan Al-Tsauri, dan lain-lain tidak diajarkan sebagai mazhab yang baku hari ini karena pemahaman Islam mereka yang juga benar itu, tidak diajarkan di setiap generasi oleh para guru.  

Imam Muslim dan Imam Baihaqi yang ahli hadis dan hafal Alquran itu sampai meninggal dunia memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan cara mengikuti Madzhab Syafi’i. Dalam catatan Ibnu Hajar dan ibnu Taimiyah, kebanyakan ahli hadis yang juga hafal Alquran itu tetap bermazhab, kecuali Abu Dawud dan Imam Bukhari.  

Mayoritas umat Islam yang disebut dengan kelompok Ahlussunnah Wal-Jama’ah mengikuti etika berislam seperti ini sehingga tetap selamat di atas jalan yang benar. Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa di antara mereka ada yang menjadi mujtahid, tetapi sebelum sampai pada derajat mujtahid itu, mereka juga mengaji dan mempelajari ajaran agama melalui guru-guru yang benar. 

Ada pula yang tetap berada pada level taqlid, dan ini adalah kelompok mayoritas. Mereka juga sah ibadahnya. Lalu ada sebagian ulama yang mumpuni keilmuannya tetapi tidak sampai derajat mujtahid. Ibnu Taimiyah menyebutnya dengan kelompok muttabi’. 

Di luar kelompok ini ada kaum muda, dalam artian muda usia maupun muda pemahaman agamanya, yang di dalam catatan sejarah Islam selalu membuat kegaduhan dan kerusakan. Mereka tidak peduli pada silsilah transmisi keilmuan melalui jalur sanad yang ketat. Mereka sangat semangat memurnikan Islam dan menegakkan keadilan serta hukum Allah SWT, tetapi tidak memiliki ilmu dan pemahaman yang benar. Mereka inilah yang kemudian diidentifikasi sebagai kaum Khawarij.   

Golongan ini selalu merasa lebih sholih, lebih benar, dan lebih baik Islamnya dibandingkan dengan siapapun. Dalam hadis-hadits tentang Khawarij disebutkan bahwa pemuka Khawarij bahkan merasa lebih adil dari Rasulullah SAW, merasa lebih saleh dan lebih baik dari Abu Bakar, Umar, dan para sahabat lain. 

Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, mereka melakukan aksi politik besar pertama pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, meskipun yang terkenal adalah ketika mereka melakukan perlawanan terhadap Ali bin Abi Thalib.  

Ibnu Katsir mengatakan bahwa demonstran Khawarij yang membunuh Utsman bin Affan itu adalah kaum baru Islam, bukan para sahabat Rasulullah. Mereka menuduh Ustman dengan tuduhan tidak menegakkan keadilan, melakukan nepotisme, dan tidak menegakkan syariat Islam dengan benar. Seandainya mereka memahami ajaran Islam dengan baik, mereka tidak akan menuduh Utsman bin Affan, menantu Rasulullah yang dijamin masuk surga itu dengan tuduhan-tuduhan keji.  

Ketika mereka melawan Ali bin Abi Thalib dan pasukannya, mereka juga merasa sebagai orang-orang yang menegakkan keadilan dan hukum Allah. Mereka menuduh Ali bin Abi Thalib sebagai orang yang tidak mnegakkan hukum dan syariat Allah. Padahal Ali bin Abi Thalib yang juga dijamin masuk surga itu tentu jauh lebih paham tentang ajaran Islam daripada mereka. 

Dari sini kita juga paham kenapa kaum Khawarij hari ini, yang disebut Syekh Ali Jumah dan para ulama Al Azhar Mesir sebagai Khawariju al-‘Ashr atau Neo Khawarij, begitu mudah membunuh, menteror, dan menyakiti orang. Jangankan non-Muslim, sesama orang Islampun mereka bunuh dan mereka teror. Itulah yang dilakukan Alqaeda, ISIS, JAD, dan ratusan kelompok Neo Khawarij lainnya.  

Khawarij sebagai sebuah mazhab hanya tersisa kelompok Ibadhiyah yang saat ini dianut oleh sekelompok kecil umat Islam di salah satu negara Teluk. Tetapi sebagai sikap beragama, kaum Khawarij ini berada di mana-mana. Meskipun mereka sendiri terkadang tidak menyadari dan mengklaim bahwa perilakunya dalam beragama dan berpolitik sama persis dengan ajaran kaum Khawarij.  

Hadits-hadits mengenai kelompok dan perilaku kaum Khawarij ini sangat banyak jumlahnya. Para ulama juga mengakui validitas hadits-hadits tersebut. Dan Rasulullah menyebutkan bahwa Khawarij adalah seburuk-buruknya manusia. Di dunia ini banyak manusia keji, tetapi Rasulullah menyebut Khawarij sebagai makhluk paling buruk, bukan lainnya.  

Rasulullah menyebut ciri-ciri kaum Khawarij yang sangat rajin beribadah, yang jika para sahabat beliau membandingkan ibadah mereka dengan ibadah kaum Khawarij, para sahabat nabi pun merasa kalah rajin. Kaum Khawarij juga sangat fanatik dengan Alquran, tetapi tidak paham ajaran Islam dalam Alquran, sehingga mereka suka mengacungkan senjata kepada sesama Muslim sambil menuduh mereka dengan tuduhan musyrik atau tuduhan kafir.  

Mereka rajin membaca Alquran, tetapi hanya lewat kerongkongan mereka saja, tidak masuk ke dalam hati. Bahkan Rasulullah menyebutkan bahwa Islam keluar dari dada mereka seperti anak panah yang melesat dari busur dan menembus binatang buruan.

Ali bin Abi Thalib pernah meminta Ibnu Abbas untuk berbicara dengan kaum Khawarij dan memberi penjelasan tentang ayat-ayat Alquran serta ajaran Islam yang dipahami secara salah oleh mereka. Sekali datang, Ibnu Abbas pernah membuat delapan ribu orang Khawarij taubat.  

Kaum Khawarij yang tersisa dan terus melawan Ali bin Abi Thalib kemudian diperangi Ali dan pasukannya. Saat itu, Ali dan pasukannya sedang bersiap untuk berangkat perang melawan kafir harbi. Tetapi Ali memutuskan untuk mendahulukan memerangi kaum Khawarij yang saleh, khusyuk, dan anti maksiat itu terlebih dahulu. Kesalehan, kekhusyukan, dan ghirah Islam yang tinggi tanpa didasari ilmu dan pemahaman Islam yang benar, selalu menjadi masalah sejak masa Rasulullah.  

Dalam mukadimah Syarah Muslim karya Imam Nawawi maupun Syarah ‘Ilal al-Tirmidzi karya Ibnu Rajab, disebutkan bahwa orang-orang khusyuk, saleh, dan zuhud tetapi tidak berilmu, menjadi musuh bersama para ahli hadits dan para ulama karena mereka mengacaukan ajaran agama Islam. Sebagian ada yang menjadi Khawarij, sebagian lagi menjadi penyebab kesesatan dan kerancuan ajaran Islam.  

Rasulullah tidak mengkafirkan kaum Khawarij, meskipun menyebut mereka sebagai makhluk terburuk. Ali bin Abi Thalib menyebut mereka orang-orang tersesat, tetapi tidak mengkafirkan mereka. Al Azhar Mesir juga tidak mengkafirkan Khawarij ISIS. Bagaimanapun, mereka itu beragama Islam. Mereka itu tersesat. Mereka adalah penyakit, layaknya kanker. Dan penyakit itu ada di dalam tubuh kita, umat Islam.     

Rasulullah  SAW memberitahukan kepada kita umat Islam, bahwa kaum Khawarij itu akan selalu ada sampai akhir dunia.  Mereka bisa menjelma menggunakan nama apa saja. Berupa kelompok teror maupun kelompok politik radikal. Mereka menjadi bagian dari ujian umat Islam.

Tugas dan kewajiban kita adalah berusaha menghentikan kejahatan dan kekejian mereka, melalui usaha-usaha pengajaran yang benar maupun tindakan-tindakan tegas dan pendekatan keamanan. Seperti yang dilakukan Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas.  

Tetapi jika kita tidak mengakui bahwa penyakit bernama Khawarij itu ada di dalam tubuh umat kita, maka usaha menangani penyakit itu juga akan semakin sulit. Bagaimana kita akan mengobati suatu penyakit, jika penyakit itu tidak diakui keberadaannya. Padahal yang menyebutkan keberadaan penyakit itu adalah Rasulullah SAW sendiri. 

Bibit radikalisme adalah ideologi dan ajaran yang salah. Bukan ketidakadilan yang ada dalam persepsi kaum Khawarij. Apakah kita akan membenarkan tindakan kaum Khawarij yang membunuh Utsman bin Affan karena mereka merasa ada masalah ketidak-adilan? Wallahu A’lam. 

Oleh Ali Mashar Lc MSi, Sekretaris PP MDS Rijalul Ansor  

KHAZANAH REPUBLIKA

Radikalisme No, Istiqomah Yes!

Islam mencela sikap ghuluw (berlebih-lebihan), radikalisme, ekstrimisme, terorisme atau istilah semisalnya, karena akan membawa banyak dampak negatif seperti penganiyaan diri, terputus dari ketaatan, menghalagi manusia dari agama dan menodai keindahan agama Islam.

Oleh karena itu, banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang mencela perbuatan ghuluw ini, di antaranya dalil-dalil yang secara jelas mencela sikap ghuluw, seperti firman Allah:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

“Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu”. (QS. An-Nisa’: 171)

Ayat ini sekalipun ditujukan kepada ahli kitab tetapi maksudnya adalah untuk memberikan peringatan kepada umat ini agar menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan murka Allah kepada umat-umat sebelumnya.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

“Wahai sekalian manusia, waspadalah kalian dari sikap berlebih-lebihan dalam agama karena sikap berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian” (HR. Nasa’i 3057 dengan sanad shohih).

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ, قَالَهَا ثَلاَثًا

“Celakalah orang-orang yang berlebihan, beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali” (HR. Muslim: 2670).

Adapun, berpegang teguh dan komitmen dengan ajaran Islam, maka ini diperintahkan olrh Allah dab rasulNya, tidak ada kaitannya dengan radikalisme sedikitpun.

Allah ta’ala berfirman:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. (QS. Az Zukhruf: 43)

Jadi radikal dan ekstrim itu adalah melampui garis Syariat. Adapun komitmen dan tegar dalam prinsip agama -sekalipun banyak orang menyelisihi- sesuai bimbingan ulama maka itu adalah perintah dan kewajiban dari Robbul Alamin.

Radikal no, istiqomah, yes! Jangan dicampur aduk…

***

Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Artikel: Muslim.or.id

Ini Pengertian Radikalisme dan Apa Bahayanya?

Baru-baru ini, pemerintahmenyatakan dengan tegas akan melakukan penanggulangan yang serius terhadap paham dan gerakan radikalisme. Pemerintah sedang melakukan sejumlah evaluasi terkait cara-cara pencegahan radikalisme. Selain itu, pemerintah mencoba menyematkan istilah baru terhadap kata radikalisme agama menjadi “manipulator agama”. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memahami betul ancaman dan keharusan melawan paham dan gerakan radikalisme.

Dalam beberapa tahun belakangan, paham dan gerakan-gerakan radikalisme di seluruh belahan dunia, bahkan pula di Indonesia memang semakin merebak dan mengkhawatirkan. Ditambah dengan derasnya arus informasi era 4.0 yang membuat paham dan gerakan radikalisme ini menjadi semakin masif dan mengglobal. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi kita semua.Dalam kenyataannya, radikalisme bukanlah monopoli satu agama saja. Tetapi hampir semua agama juga menghadapi problem yang sama. Yakni terdapat sebagian pemeluknya yang gagal memahami pesan-pesan luhur agama. Sehingga membonsai agama untuk melegalkan teror dan kekerasan.

Secara definitif, radikalisme merupakan suatu paham atau gagasan yang menginginkan adanya perubahan sosial-politik dengan menggunakan cara-cara ekstrem. Termasuk cara-cara kekerasan, bahkan juga teror. Kelompok-kelompok yang berpaham radikal ini menginginkan adanya perubahan yang dilakukan secara drastis dan cepat, walaupun harus melawan tatanan sosial yang berlaku di masyarakat.

Selain itu, yang perlu dikhawatirkan dengan maraknya paham radikalisme ini adalah adanya nilai-nilai intoleransi yang diajarkan oleh kelompok-kelompok radikalisme. Kelompok-kelompok yang terpapar oleh paham radikalisme ini kurang bisa menerima adanya perbedaan. Menganggap paham atau ajaran yang dianut kelompok diluarnya adalah salah. Misalnya dalam hal ibadah. Pastilah dalam menjalankan ibadah setiap agama mempunyai cara yang berbeda-beda. Namun, kelompok-kelompok radikalisme ini tidak mewajari perbedaan-perbedaan seperti itu. Kelompok ini juga kurang terbuka dalam menerima kritikan dan saran dari pihak lain.

Dalam konteks agama Islam, diajarkan bahwa perbedaan seharusnya dijadikan sebagai kekayaan sekaligus keindahan, agar kita senantiasa bersikap saling menghargai satu sama lain. Sebagaimana Allah swttelah menjadikan umatnya secara berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tidak lain agar satu sama lain dapat saling mengenal dan menghargai. Dengan ini, seharusnya umat manusia, terutama umat muslim dapat mewajari adanya perbedaan. Lebih dari itu, diajarkan pula bahwa Islam tidak didakwahkan dengan paksaan.

Dalam hal ini, Allah ta’ala berfirman:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya:

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah,maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 256)

Dalam konteks Indonesia, karena karakteristik masyarakatnya yang majemuk, maka perbedaan ragam budaya sebenarnya sudah menjadi hal yang wajar dan lumrah. Secara geografis, letak wilayah kita sudah tersebar dan membentuk kepulauan. Secara demografis, kita terdiri dari beragam ras dan etnis. Secara sosiologis, kehidupan bangsa kita sejak dahulu pun sudah mengajarkan sikap toleransi.Karena itu, jangan sampai keragaman ini dirusak oleh virus-virus ekstremisme dan radikalisme.

Trilogi Toleransi

Ada tiga model toleransi yang lazim dipraktikkan. Pertama,toleransi antar sesama (intern)umat beragama. Dalam tradisi Islam, perbedaan bukan perkara baru. Munculnya empat madzhab fiqih menjadi bukti sahih betapa dunia Islam sangat menghargai perbedaan. Meski berbeda, empat imam besar tersebut tidak pernah saling menyalahkan apalagi saling mengkafirkan. Justeru perbedaan membuat mereka saling melengkapi.

Tak terhitung pula jumlah kitab yang ditulis ulama muslim terdahulu untuk mengkaji, membandingkan, dan kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda dengan argumen masing-masing. Perbedaan pemikiran dimaknai sebagai bagian ikhtiar mencari kebenarandan kebaikan bersama. Tidak terbatas hanya pada hukum fiqih, perbedaan pendapat di kalangan umat Islam terjadi di bidang ilmu lain, seperti tafsir, syarah hadis, ulumul quran, ulumul hadis, tauhid, tarikh, maqashidus syariah, dan lain sebagainya.

Kedua, toleransi antar umat beragama. Meski Islam dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia, bukan berarti agama lain layak dinafikan. Mesti dibangun kesadaran bahwa kita hidup di sebuah negara yang menjamin kebebasan beragama. Apapun agamanya, kita wajib saling menghormati. Tak perlu mencampuri apalagi menghina agama lain.Dalam kehidupan lintas agama, Islam memiliki konsep yang sangat tegas dan toleran. Seperti firman Allah:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya:

“Untukmu agamamu,  untukku agamaku.” (Q.S. al-Kafirun: 6)

Dengan demikian, toleransi antarumat beragama termasuk salah satu risalah penting dalam sistem teologi Islam. Karena sedari awal, Islamtelah memberikan petunjuk bagaimana cara menghadapi keberagamaan dengan arif dan bijaksana.

Ketiga, toleransi dalam kehidupan bernegara. Adalah bagian dari sunnatullah,Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, dan agama. Masyarakat muslim merupakan satu di antara enam pemeluk agama lainnya. Demikian pula, agama Islam telah dianut oleh beragam suku di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, pasti akan banyak dijumpai bentuk praktik keberagamaan. Salah satunya adalah tercerminkan dalam berbagai ormas keagamaan.

Toleransi dalam Kearifan Lokal

Dilihat dari sejarahnya, leluhur bangsa kita sudah mencontohkan nilai-nilai toleransi. Teringat bagaimana dulu para wali songo menyebarkan ajaran agama Islam di Nusantara melalui beragam media yang disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat. Selain melakukan misi menyebarkan ajaran Islam, hal ini dilakukan pula, karena para wali menghargai keragaman budaya yang dimiliki di daerah setempat. Hal ini merujuk pada perintah Allah swt dalam surah al-Anbiya’ayat 107. Bahwa diutusnya Nabi Muhammad saw adalah untuk menjadi rahmat. Menebar kedamaian dan keadaban. Begitupun apa yang dilakukan oleh para wali songo dalam menyebarkan ajaran Islam adalah semata-mata untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi semua.

Kini, kita sebagai umat muslim, juga mempunyai misi untuk menyebarkan agama Islam yang rahmatan lil alamin, harus bisa bersikap moderatdan toleran, terutama menanggapi ragam budaya yang ada. Wujud sikap yang toleranini dapat dilalukan menggunakan kearifan lokal sebagai perantaranya.  Rasa toleransi rasanya sudah menjadi ruh bagi bangsa Indonesia dan juga masyarakatnya.

Hal ini bisa terlihat dari aktivitas yang kita lakukan sehari-harinya atau pada momen tertentunya. Misalnya saat hari perayaan Idul Fitri. Sesekali masyarakat non-muslim pun turut membantu menjaga kekhusyukan umat muslim saat melaksanakan shalat Idul Fitri. Begitupun yang dilakukan umat muslim saat datangnya perayaan hari Nyepi di Bali, masyarakat yang beragama Islam turut menghargai dengan tidak melakukan aktivitas yang mengganggu pada hari itu.

Selain itu, sikap toleransi beragama juga terekam dalam beberapa jejak bangunan, misalnya letak wilayah Masjid Istiqlal Jakarta yang bersebelahan dengan Gereja Katedral. Begitupun dengan bangunan Masjid di Kudus yang bersebelahan dengan bangunan Vihara. Contoh sikap toleransi yang sering kita lakukan sehari-hari misalnya adalah tidak menyalakan musik dengan volume yang besar saat adzan tiba, bersikap belasungkawa kepada tetangga yang meninggal dunia, bertukar makanan dengan tetangga, dan banyak lainnya.

Apabila sikap-sikap toleransi terus tumbuh, maka kehidupan di masyarakat dapat senantiasa harmonis, walau berada ditengah-tengah keanekaragaman budaya yang ada. Rasa toleransi ini kemudian dapat menjadi penopang keharmonisan masyarakatdan dunia.Karena pentingnya toleransi ini dijadikan sebagai prinsip hidup bersama, tanggal 16 November 2019 kemarin, masyarakat dunia bersama-sama merayakan Hari Toleransi Internasional.

Hari itu diperingati untuk meningkatkan kesadaran tentang prinsip-prinsip toleransi. Sekaligus untuk menghormati keragaman budaya, kepercayaan, dan tradisi. Juga ditekankan pentingnya memahami risiko-risiko yang disebabkan dari sikap intoleransi. Semoga kedepan, kita terus tumbuh dalam baluran rasa toleransi yang tinggi terhadap sesama. Segala bentuk ajaran yang merujuk pada sikap intoleransi tentunya harus dihindari, karena sejatinya kita hidup dalam keberagaman.

*Tulisan ini pernah dimuat di bulletin Muslim Muda Indonesia

ISLAMIco

Mengajarkan Peperangan dan Jihad Bukan Berarti Mengajarkan Radikal

Kali ini kita akan membahas isu radikalisme yang sedang marak di Indonesia

Teladan dari Generasi Terbaik Umat Islam

Mengajarkan dan menjelaskan peperangan dan jihad bukan berarti mengajarkan sikap radikal kepada anak-anak dan kaum muslimin. Perhatikan bagaimana generasi terbaik dahulu, mereka mengajarkan kepada anak-anak mereka sirah, sejarah dan pemerangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib – Zainul ‘Abidin- berkata,

كنا نعلم مغازي النبي صلى الله عليه و سلم وسراياه كما نعلم السورة من القرآن

“Dulu kami diajarkan tentang (sejarah) peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana al-Qur’an diajarkan kepada kami” [Al-Jaami’ li akhlaaqir raawi 2/195]

Kita tahu bagaimana dahulu para Sahabat belajar dan mengajarkan al-Quran, yaitu belajar setiap 10 ayat dan tidak akan lanjut pelajaran apabila belum paham. Demikian juga peperangan, jihad dan sirah yang diajarkan kepada anak-anak mereka, tentu diajarkan dengan rinci, detail dan sesuai dengan hikmah. Tidak didapatkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang radikal dan mengajarkan kekerasan, kekejaman dan kedzaliman.

Ibrah dalam Setiap Perjuangan Para Pahlawan

Dahulu kita juga belajar perang-perang kemerdekaan seperti “perang ambarawa, perang surabaya dll”, bahkan beberapa koran memberitakan sebagai peperangan jihad kaum muslimin di Indonesia melawan penjajah. Peperangan ini diajarkan dalam sejarah Indonesia kepada anak-anak Indonesia, akan tetapi tidak muncul perasaan ingin menyerang negara lain atau perasaan ingin membalas dendam pada negara yang dahulu pernah menjajah Indonesia (kami perlu tekankan bahwabukan Arab yang menjajah indonesia, tapi oknum tertentu sangat benci banget dengan Arab, alias ‘alasan’ ngeles untuk benci Islam

Mengajarkan peperangan dan jihad dalam Islam juga bukan untuk jadi radikal tetapi mengambil ibrah kepahlawanan dan perjuangan dalam Islam. Secara umum demikianlah kisah-kisah sejarah diceritakan agar kita dapat mengambil ibrah dan pelajaran.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi ‘alaihis salamdan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yusuf: 111).

Semangat Belajar Sejarah Islam

Para ulama dahulu sangat senang dengan pelajaran sejarah, sirah dan peperangan. Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata,

الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلي من كثير من الفقه؛ لأنها آداب القوم وأخلاقهم

“Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikh, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)” [Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi,  I/509 no.819]

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraen

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/53291-mengajarkan-peperangan-dan-jihad-bukan-berarti-mengajarkan-radikal.html

Belajar Agama, Mengikis Radikalisme

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Saya membuka artikel ini menyebutkan permisalan dalam al-Quran.

Allah menyatakan bahwa satu-satunya orang yang bisa memahami permisalan dalam al-Qur’an adalah orang yang berilmu.

Allah berfirman,

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Demikianlah berbagai perumpamaan (permisalan) yang kami berikan kepada manusia. Dan tidak ada yang bisa merenungkan maknanya kecuali orang yang berilmu.” (QS. al-Ankabut: 43)

Dulu para sahabat merasa sedih, ketika mereka membaca ayat al-Quran, sementara mereka tidak mampu memahami maknanya. Sahabat Amr bin Murah radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

ما مررت بآية من كتاب الله لا أعرفها إلا أحزنني، لأني سمعت الله تعالى يقول: وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ

“Setiap kali saya membaca ayat al-Quran yang tidak saya pahami maknanya, maka saya sangat sedih. Karena saya mendengar firman Allah, (yang artinya): “Demikianlah berbagai perumpamaan (permisalan) yang kami berikan kepada manusia. Dan tidak ada yang bisa merenungkan maknanya kecuali orang yang berilmu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/280).

Sudah saatnya kita mendekat, memahami ayat-ayat al-Quran dan permisalan yang Allah sebutkan di dalamnya, agar kita tergolong orang yang dipuji al-Quran.

Diantara permisalan yang Allah sebutkan dalam al-Quran adalah permisalan pengaruh hujan terhadap bumi. Allah berfirman,

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Allah telah menurunkan air hujan dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari logam yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, dia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. ar-Ra’du: 17)

Allah memisalkan wahyu – yang merupakan sumber kehidupan bagi hati – sebagaimana air yang merupakan sumber kehidupan bagi bumi. Permisalan semacam ini banyak kita jumpai dalam dalil al-Quran maupun hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya dalam hadis dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا

“Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang Allah berikan kepadaku, seperti hujan lebat yang turun di muka bumi…” (HR. Bukhari 79)

Selanjutnya, Allah memisalkan hati manusia sebagaimana layaknya lembah yang bisa menampung air hujan.

Hati yang luas, dia bisa menampung banyak ilmu, sebagaimana lembah yang besar, bisa menampung banyak air. Sebaliknya, hati yang sempit, hanya bisa menampung sejumlah ilmu sesuai ukurannya.

Lembah di Musim Kering & Hujan

Lembah, sungai, selokan, ketika di musim kering, yang terlihat di permukaan adalah sampah dan kotoran. Dedaunan, sampah domestik, ranting-ranting pohon, terlihat berserakan di dasar sungai yang kering.

Seperti itu pula suasana hati manusia, ketika jauh dari ilmu dan wahyu. Yang nampak di permukaan adalah noda-noda hati, disebabkan banyaknya dosa yang dilakukan manusia.

Ketika hujan turun, air memenuhi lembah-lembah itu, lalu mengalir ke sungai-sungai. Di saat itulah, terlihat semua sampah terangkat. Sampah-sampah itu mengambang di permukaan, mengalir bersama aliran sungai. Demikian pula hati manusia yang penuh dengan noda dosa, ketika sering dihujani dengan ilmu agama, mendengarkan nasehat al-Quran dan sunah, maka noda-noda hati akan mulai terangkat, hingga akhirnya mengambang di permukaan.

Allah berfirman pada ayat di atas,

فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا

“maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang..”

Seperti inilah pengaruh ilmu yang bersumber dari al-Quran dan sunah, ketika berhasil ditampung oleh batin manusia, maka ilmu ini akan mengangkat setiap noda batin, lalu menghilang tanpa ada yang mempedulikannya.

Sebagaimana ketika tukang emas hendak membersihkan emas dari campurannya, dia panaskan emas itu, hingga terpisahkan antara emas murni dan kotorannya.

Allah berfirman pada ayat di atas,

وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ

Dan dari logam yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil…

Kotoran dan noda itu terbuang, tanpa ada yang menampungnya. Sementara bagian yang bermanfaat bagi manusia, tetap berada di bawah dan tidak hilang.

Seperti itu pula hati manusia. ketika dihujani ilmu agama, maka ilmu ini akan mengikis sifat-sifat sombong, keras, dengki, hasad, dan aneka noda hati lainnya. Sementara sifat-sifat baiknya akan tetap bertahan, dan tidak hilang.

Allah berfirman pada ayat di atas,

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

Adapun buih itu, dia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi…

Karena itu, mustahil orang yang belajar al-Quran dan sunah, kemudian dia menjadi durhaka kepada kedua orang tuanya, apalagi menjadi radikal. Kalaupun itu terjadi, bisa kita pastikan bahwa ajaran yang dia pelajari adalah ajaran yang menyimpang. Seperti ajaran kelompok konservatif, semacam NII, LDII, atau lainnya.

Siapapun tidak perlu takut untuk belajar agama melalui bimbingan seorang ustad ahlus sunah. Tidak perlu khawatir akan menjadi radikal, keras terhadap sesama, dan sifat menakutkan lainnya. Sesungguhnya Allah tidak menurunkan al-Quran, agar hati manusia menjadi keras atau semakin sengsara.

Allah berfirman,

طه – مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى

Thaahaa – Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.. (QS. Thaha: 1-2)

Seperti itulah, Allah membuat permisalan dalam al-Quran,

كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Demikianlah Allah membuat beberapa perumpamaan. (QS. ar-Ra’du: 17)

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/35929-belajar-agama-mengikis-radikalisme.html

Cerita Nasir Abbas, Disadarkan Lewat Keselamatan

TerorisSetiap orang Indonesia rasanya tidak akan asing dengan nama Nasir Abbas. Ia merupakan mantan petinggi Jamaah Islamiyah, kelompok yang terkait sejumlah serangan teror di Indonesia.

Pengamat Radikalisme dan Terorisme, Nasir Abbas, mengungkapkan pengalaman gelap semasa menjalani masa tahanan, karena terlibat sejumlah aksi teror di Indonesia. Kala itu, terdapat satu pertanyaan yang tidak pernah lepas dari benaknya, adalah tentang Tuhan yang tidak membiarkannya mati.

Padahal, lanjut Nasir, ia merupakan salah satu orang yang paling dicari di Indonesia karena dianggap sebagai salah satu otak sejumlah ledakan bom. Bahkan, ia sempat mencoba bunuh diri saat ditangkap, dengan mencoba mengambil senjata dan melukai dua petugas kepolisian yang melakukan penangkapan.

“Saya sadar setiap kesusahan itu karena tangan kita sendiri, artinya ada yang salah dari yang saya lakukan,” kata Nasir.

Nasir sendiri memang mengakui tidak melakukan aksi teror secara langsung, melainkan mengajarkan orang-orang di Jamaah Islamiyah tentang senjata. Namun, ia menyadari tindakan yang dilakukan tetap memberi andil dan terlibat aksi teror, terutama pengetahuannya.

Kini, kehidupan Nasir Abbas memang telah berubah drastis dari masa lalu, dan malah banyak membantu pihak berwajib ataupun pemerintah. Ia banyak disibukkan untuk membantu memberi pemahaman kepada masyarakat luas, akan berbahayanya radikalisme dan terorisme.

 

sumber: Republika Online