Radikalisme No, Istiqomah Yes!

Islam mencela sikap ghuluw (berlebih-lebihan), radikalisme, ekstrimisme, terorisme atau istilah semisalnya, karena akan membawa banyak dampak negatif seperti penganiyaan diri, terputus dari ketaatan, menghalagi manusia dari agama dan menodai keindahan agama Islam.

Oleh karena itu, banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang mencela perbuatan ghuluw ini, di antaranya dalil-dalil yang secara jelas mencela sikap ghuluw, seperti firman Allah:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

“Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu”. (QS. An-Nisa’: 171)

Ayat ini sekalipun ditujukan kepada ahli kitab tetapi maksudnya adalah untuk memberikan peringatan kepada umat ini agar menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan murka Allah kepada umat-umat sebelumnya.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

“Wahai sekalian manusia, waspadalah kalian dari sikap berlebih-lebihan dalam agama karena sikap berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian” (HR. Nasa’i 3057 dengan sanad shohih).

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ, قَالَهَا ثَلاَثًا

“Celakalah orang-orang yang berlebihan, beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali” (HR. Muslim: 2670).

Adapun, berpegang teguh dan komitmen dengan ajaran Islam, maka ini diperintahkan olrh Allah dab rasulNya, tidak ada kaitannya dengan radikalisme sedikitpun.

Allah ta’ala berfirman:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. (QS. Az Zukhruf: 43)

Jadi radikal dan ekstrim itu adalah melampui garis Syariat. Adapun komitmen dan tegar dalam prinsip agama -sekalipun banyak orang menyelisihi- sesuai bimbingan ulama maka itu adalah perintah dan kewajiban dari Robbul Alamin.

Radikal no, istiqomah, yes! Jangan dicampur aduk…

***

Penulis: Ust. Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Artikel: Muslim.or.id

Do’a Agar Diteguhkan Hati dalam Ketaatan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Pada kesempatan kali ini kita masih melanjutkan macam-macam do’a yang singkat namun penuh makna yang dibawakan oleh Imam An Nawawi rahimahullah dalam kitab beliau Riyadhus Sholihin. Semoga bermanfaat.

Do’a Agar Diteguhkan Hati dalam Ketaatan

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa; “Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!] (HR. Muslim no. 2654). An Nawawi membawakan hadits ini dalam bab, “Allah membolak-balikkan hati sekehendak-Nya.”

Faedah hadits:

  1. Hati manusia berada di antara dua jari dari sekian jari Allah yang Maha Pemurah. Allah memalingkan hati manusia tersebut  sesuai kehendak-Nya.
  2. Jika sudah mengetahui demikian, maka hendaklah setiap hamba rajin memohon pada Allah agar diberi hidayah dan keistiqomahan serta agar tidak menjauh dari jalan yang lurus.
  3. Jika seorang hamba bergantung dan bersandar pada dirinya sendiri, tentu ia akan binasa.
  4. Hendaknya hamba menyerahkan segala usahanya kepada Allah Ta’ala dan janganlah ia berpaling dari-Nya walaupun sekejap mata.
  5. Hendaklah setiap hamba memohon kepada Allah agar terus menerus diteguhkan hati  dalam ketaatan dan tidak sampai terjerumus dalam maksiat atau kesesatan.
  6. Di sini dikhususkan hati karena jika hati itu baik, maka seluruh anggota badan lainnya juga ikut baik.

Semoga do’a bisa kita amalkan. Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Referensi:

Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, cetakan Dar Ibnul Jauzi, jilid II, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Syarh Riyadhish Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, jilid IV, cetakan ketiga, tahun 1424 H

Diselesaikan sore hari, 8 Jumadil Awwal 1431 H (22/04/2010) di Pangukan-Sleman

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

Istiqamah Hingga Akhir Hayat

Perjalanan hidup tidaklah mudah, banyak aral melintang. Godaan syubhat dan syahwat terus mendatangi kita di setiap hari, sejak terbangun hingga kembali ke pembaringan. Duhai celakanya kita jika tidak bisa mengarunginya.

Setiap kita tentunya ingin untuk bisa menjadi orang yang shalih. Namun apa daya, kadang diri ini lemah dan kalah. Kalah sudah kebodohan kita oleh syubhat. Kalah sudah jiwa kita oleh syahwat. Kalah dan patah, berkali-kali. Namun wahai saudaraku, jangan biarkan beberapa kesalahan tersebut membuat jiwa kita mengalah dan menyerah, tetaplah istiqamah.

Saudaraku, kehidupan ini hanya sekali. Dan di sana hanya adalah pilihan kenikmatan abadi atau siksa abadi. Semua yang akan kita dapatkan nanti tergantung apa yang kita lakukan saat ini. Selalu ingatlah saudaraku, bahwa semua perjuangan untuk istiqamah akan mendapatkan hasil yang indah di akhirat. Dan sungguh Allah telah berfirman mengenai orang-orang yang istiqamah.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Al-Ahqaf ayat 13)

Yakinlah saudaraku bahwa istiqamahmu tidak akan berakhir pahit, tidak akan sia-sia semua lelah dan payah yang engkau lakukan karena-Nya. Satu butir debu pun akan engkau temui balasannya di surga kelak, di akhirat kelak, di negeri yang terasa jauh namun sejatinya negeri itu dekat.

Dan jika dirimu sekarang sedang merasa lemah, merasa patah,… janganlah engkau berputus asa. Mintalah kepada Allah agar memberi keteguhan, berdoalah dan bergeraklah mengerjakan amal-amal shalih. Sesungguhnya hal tersebut akan dapat membuat semangat kembali muncul, serta mendatangkan penjagaan Allah terhadap diri kita.

Dan jika dirimu sekarang sedang merasa lemah, merasa patah,… teruslah berbenah, jangan pernah berputus asa. Sungguh sahabat Ibnu Mas’ud yang mulia pernah berkata:

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Kebinasaan itu ada pada dua perkara, yaitu merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa bangga terhadap diri sendiri.” (muslimah).

Jagalah imanmu, wahai saudaraku. Tegakkan kakimu di atas kebenaran, jangan mundur dan jangan merasa lemah. Sesungguhnya Allah selalu bersamamu. Istiqmahlah hingga akhir hayat. (haryo/dakwatuna.com)

DAKWATUNA

Buah dari Istiqomah

Secara hukum akal, Istiqomah dalam segala sesuatu pasti akan membuahkan hasil yang besar. Dalam urusan dunia saja Istiqomah dan ketelatenan akan menghasilkan hasil yang luar biasa, apalagi dalam urusan akhirat.

Amalan kecil yang terus dilakukan secara Istiqomah lebih baik daripada amal besar yang dilakukan sekali dua kali saja.

Istiqomah akan membuahkan hasil yang beragam dan tak pernah terputus. Istiqomah adalah salah satu pintu dari pintu-pintu kebaikan yang membawa keberkahan bagi yang melaksanakannya.

Kita seringkali bersemangat dalam melakukan kebaikan, tapi yang sangat sulit adalah ber-istiqomah dalam menjalankannya. Bila kita ingin bahagia di dunia dan akhirat, maka Istiqomah adalah jalan terbaik untuk meraihnya.

Adapun buah yang akan dihasilkan oleh Istiqomah antara lain :

1. Melimpahnya kebaikan.

Yakni melimpahkan kenikmatan materi untuk ciptaan Allah secara umum. Seperi yang disebutkan dalam Surat Jin :

وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَٰمُواْ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسۡقَيۡنَٰهُم مَّآءً غَدَقٗا

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.” (QS.Al-Jinn:16)

2. Keamanan di hari kiamat.

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqomah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (QS.Al-Ahqaf:13)

Selamatnya seseorang dari rasa takut dan kesedihan di akhirat adalah termasuk berkah teragung di hari kiamat.

3. Menjadi sebab kecintaan Malaikat kepada seorang hamba sehingga ia mendapatkan bantuan dan kekuatan dari Malaikat tersebut.

نَحْنُ أَوْلِيَآؤُكُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat.” (QS.Fushilat:31)

4. Kabar gembira berupa surga.

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS.Fushilat:30)

5. Kesuksesan dan keberuntungan.

Sebenarnya poin kelima ini memiliki satu makna dengan poin sebelumnya, karena Surga adalah kesuksesan terbesar.

Rasulullah Saw bersabda :

إِن تَستَقِيمُوا تُفلِحُوا

“Bila engkau ber-istiqomah maka engkau akan beruntung (berhasil).”

6. Keselamatan.

Karena Istiqomah adalah tempat perlindungan seorang mukmin dari jebakan kesalahan.

Sayyidina Ali bin Abi tholib berkata :

من لزم الإستقامة لزمته السلامة

“Siapa yang menjalankan Istiqomah maka ia pasti akan selamat.”

7. Kemuliaan di dunia dan akhirat.

Sayyidina Ali bin Abi tholib berkata :

عَلَيكَ بِمَنهَجِ الإستِقَامَة فَإِنَّهُ يكسبك الكَرَامة و يكفيك الملامة

“Hendaknya engkau ber-istiqomah, karena hal itu akan mendatangkan kemuliaan dan akan menghindarkanmu dari cercaan.”

8. Kebahagiaan.

Sayyidina Ali bin Abi tholib berkata :

أَفضَلُ السَّعَادَة اِستِقَامَة الدِّين

“Sebaik-baik kebahagiaan adalah Istiqomah dalam agama.”

Semoga bermanfaat..

KHAZANAH ALQURAN

Agar Bertahan Diatas Sirothol Mustaqim

Allah Swt Berfirman :

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS.Al-An’am:153)

Ayat ini ingin menjelaskan bahwa manusia diperintahkan oleh Allah Swt untuk selalu berada dalam Sirothol Mustaqim (jalan yang lurus). Dan hendaknya ia menjauhi semua jalan yang tidak akan mengantarkannya menuju kepada Allah.

Kemudian setelah seseorang menemukan Sirothol Mustaqim dan berjalan di atasnya, maka ia masih diperintahkan untuk menjaga diri sepanjang hidupnya agar tidak terlepas dan tidak berpaling dari jalan tersebut.

Karena itu kemudian Allah mewajibkan pada setiap kali kita Sholat untuk mengucapkan :

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS.Al-Fatihah:6)

Kalimat yang kita ulangi di setiap Sholat ini menunjukkan bahwa bertahan di atas Sirothol Mustaqim adalah sebuah masalah prinsip yang harus di raih dan di jaga oleh setiap manusia.

Karena disana banyak setan jin dan manusia yang dengan segala upayanya ingin menarik kita agar keluar dari Sirothol Mustaqim sebagaimana dalam Al-A’raf ayat ke-16.

Lalu pertanyaannya, bagaimana cara agar kita mampu terus berada dalam Sirothol Mustaqim ?

Jawabannya adalah dengan Istiqomah yang membuat kita bertahan di atas jalan yang lurus. Istiqomah artinya selalu mengikuti ketentuan-ketentuan Allah.

Kata Istiqomah adalah kata yang simpel dan penuh makna yang digunakan oleh Rasulullah Saw ketika ingin menerjemahkan arti Islam.

Bukankah dalam suatu riwayat diceritakan bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah Saw dan berkata :

“Katakanlah kepadaku suatu ungkapan dalam Islam yang aku tidak akan tanyakan kepada siapapun selainmu.”

Rasulullah Saw menjawab :

“Katakanlah aku beriman kepada Allah lalu beristiqomah-lah !”

Karenanya salah satu perintah dalam Al-Qur’an kepada Nabi Saw adalah :

فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِير

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS.Hud:112)

Istiqomah memang sulit tapi hanya dengan beristiqomah kita akan mampu bertahan di atas Sirothol Mustaqim.

Mengapa orang yang istiqomah akan selalu berada di atas Sirothol Mustaqim ?

Mungkin disana kita akan menemukan banyak jawaban, tapi salah satunya adalah karena orang yang beristiqomah akan selalu di dampingi oleh Malaikat. Bukankah Allah Berfirman :

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS.Fushilat:30)

Orang yang Istiqomah selalu didampingi Malaikat dan orang yang selalu didampingi Malaikat akan selalu dibimbing agar tidak keluar dari Sirothol Mustaqim.

Bagaimana cara agar bisa terus berada di atas Sirothol Mustaqim ?

Beristiqomah lah dalam memegang Syariat!

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Istiqomah Membawa Tenang

SAUDARAKU air menetes, lembut, kecil, tapi istiqomah, setetes demi setetes, maka batu yang keras pun menjadi cekung bahkan berlubang. Ini adalah sunnatulloh, bahwa istiqomah itu adalah kekuatan. Istiqomah itu mengundang karomah, kemuliaan.

Para kekasih Allah Swt itu cirinya ada dua. Pertama, adalah yakin. Dan yang kedua, adalah istiqomah. Orang yang istiqomah akan mendapat banyak keutamaan. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat [41] : 30).

Jadi dari ayat ini kita bisa benar-benar yakin bahwa orang-orang yang istiqomah hanya menyembah kepada Allah Swt., tanpa mempersekutukannya sedikitpun dengan sesuatu apapun, maka Allah akan mengkaruniakan kepadanya derajat kekasih Allah. Dan, Allah akan menurunkan malaikat kepadanya yang kemudian buahnya adalah ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan.

Makanya orang yang istiqomah itu, berada di dalam situasi seberat apapun, sesulit apapun, dia bisa tetap tenang. Ketenangan ini tidak bisa diminta kepada manusia, tidak bisa dibeli, bahkan tidak bisa dirampok. Karena ketenangan itu adalah milik Allah Swt. dan Allah yang akan memberikannya kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.

Allah Swt berfirman, “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48] : 4)

Orang yang istiqomah tidak akan takut pada urusan-urusan duniawi, karena yang ia takutkan hanyalah takut Allah tidak ridho kepadanya. Orang yang istiqomah tidak akan gelisah oleh urusan dunia dan seisinya, karena baginya dunia ini tak ada artinya selain sekedar tempat singgah belaka. Tak ada yang lebih berharga baginya selain Allah Swt.

Ketika seorang hamba Allah sudah memiliki pendirian dan sikap yang mantap seperti ini, maka in syaa Allah hatinya tak mudah goyah oleh bisikan-bisikan syaitan. Langkahnya akan mantap menempuh jalan yang Allah ridhoi. Ia akan tetap kokoh meski berbagai ujian datang bertubi-tubi. Ujian-ujian malah akan menjadikan dirinya semakin kuat dalam keistiqomahan. Jika sudah demikian, in syaa Allah, Allah yang akan mendatangkan kepadanya berbagai pertolongan, kemudahan, kecukupan dan ketenangan

Saudaraku, semoga kita termasuk kepada golongan hamba Allah yang senantiasa berupaya untuk istiqomah. Wallohualam bishowab. [*]

Oleh KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Ayat Paling Berat di Seluruh Alquran: Istiqomah

AYAT tentang Istiqomah ini adalah ayat yang paling berat konsekuensinya. Yakni, penerimaan kita terhadap perintah untuk tetap beristiqomah, khususnya dalam pelaksanaannya manakala harus bersikap menghadapi orang-orang zalim, termasuk penguasa.

Allah Swt berfirman:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Huud 112).

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain dari pada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan” (QS. Huud 113).

Diriwayatkan oleh at Tirmidzi dari Ibnu Abbas bahwa Abu Bakar ra berkata kepada beliau saw: Wahai Rasulullah saw kami melihat anda beruban (pertanda tua). Beliau saw menjawab : telah membuat aku beruban (tua) Surat Huud dkk. Dan dikatakan bahwa sesungguhnya yang membuat beruban (tua) Rasulullah SAW dari surat Huud adalah firmanNya : “. fastaqim kamaa umirta” Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar!

Imam Az Zamakhsyari dalam tafsir Kasysyaf Juz II/416 menyebut bahwa Ibnu Abbas mengatakan: Tidak ada ayat di seluruh Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah saw yang lebih berat dan lebih sulit dari pada ayat ini.

Allah SWT meminta Nabi saw agar bersikap istiqomah. Dia berfirman: fastaqim; “Bersikaplah istiqomah”. Tuntutan Allah SWT kepada Nabi Muhammad dan umatnya agar terus menerus di jalan yang lurus tanpa menyimpang ke kiri dan ke kanan. Untuk itu seorang muslim harus senantiasa waspada, selalu menilai halal-haram, mendisiplinkan perasaan yang mau melenceng sedikit atau banyak.

Menurut Imam Az Zamakhsyari (idem), lafazh waman taba maaka mengandung pengertian bahwa seruan bersikap istiqomah itu juga ditujukan kepada orang-orang yang telah bertobat dari kekufuran dan beriman kepadamu (wahai Muhammad saw).

Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa Sufyan bin Abdullah as Tsaqafi berkata : Aku berkata wahai Rasulullah saw : Katakanlah kepadaku dalam Islam, suatu ucapan yang aku tak akan bertanya lagi tentang hal itu sesudahmu. Rasulullah saw menjawab : “Katakanlah : Aku beriman kepada Allah, lalu tetapilah”

Istiqomah bukan berlebihan

Bersikap istiqomah bukan berarti bersikap berlebihan. Allah SWT berfirman: Walaa tathghau janganlah kalian melampaui batas. Artinya janganlah kalian melampaui batas-batas hukum Allah SWT. Larangan ini diberikan setelah perintah untuk istiqomah adalah sebagai antisipasi agar manusia tidak berlebihan, sehingga mempersulit pelaksanaan aturan agama Allah (diinullah). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah 185).

Tidak boleh berpihak kepada orang zalim

Salah satu tanda sikap istiqomah seseorang adalah manakala dirinya diminta untuk mendukung atau paling tidak menyetujui dan diam atas tindakan kezaliman yang dilakukan seseorang. Allah SWT berfirman walaa tarkanuu ila janganlah cenderung. Lafazh Walaa tarkanuu berasal dari kata ar rukun yang artinya bersandar dan diam pada sesuatu serta ridha kepadanya.

Ibnu Juraij mengatakan janan cenderung kepadanya, Qathadah mengatakan : Jangan bermesraan dan jangan mentaatinya, Abu Aliyah mengatakan : Jangan meridai perbuatan-perbuatannya.

Larangan cenderung tersebut ditujukan kepada orang-orang mukmin agar tidak cenderung terhadap orang-orang yang melakukan tindakan kezaliman. Allah SWT berfirman alladziina dzolamu orang-orang yang berbuat zalim yakni, ahli perbuatan syirik dan maksiat, orang-orang kasar yang melampaui batas, orang-orang yang puna kekuatan dan kekuasaan mereka.

Allah melarang cenderung kepada mereka karena dalam kecenderungan itu terkandung pengakuan atas kekufuran, kedzaliman dan kefasikan mereka. Pengakuan itu dipandang sebagai peran serta dalam dosa dan siksa.

Imam Sufyan at Tsuari berkata: Di neraka Jahanam nanti ada satu lembah yang tidak dihuni oleh orang kecuali para pembaca Alquran yang suka berkunjung kepada raja. Imam Auzai mengatakan: Termasuk yang dibenci oleh Allah adalah ulama yang suka berkunjung kepada penguasa.

Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi Rasulullah saw bersabda: Siapa yang berdoa atau mengajak orang zalim tetap berkuasa, maka dia telah menyukai orang itu bermaksiat kepada Allah di bumiNya.

Imam Az Zamakhsyari (idem) mengutip riwayat yang menyebut bahwa ketika Imam Az Zuhri bergaul dengan para penguasa yang terkenal tidak memenuhi hak-hak masyarakat dan tidak meninggalkan kebatilan, maka ada seseorang mengirimi surat nasihat kepadanya agar menjauhi fitnah.

Dalam suratnya itu antara lain dia menyebut bahwa tindakan bergaul rapat dengan penguasa zalaim itu akan menimbulkan konsekwensi akan dijadikan oleh para penguasa itu sebagai poros (legitimasi) beredarnya kebatilan yang mereka lakukan, jembatan (pengakuan) atas bencana yang mereka timbulkan, dan sebagai tangga (pembenaran) atas kesesatan mereka, juga akan menimbulkan keraguan para ulama, dan akan menjadi tambatan atau ikutan orang-orang bodoh.

Orang itu menutup surat dengan kalimat: “Betapa banyak (keuntungan) yang mereka ambil dari anda disamping kerusakan yang mereka timbulkan kepada anda”. []

Kaidah-Kaidah Penting Memahami Hakikat Istiqomah (bag. 5)

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya. Wa ba’du.
Alhamdulillah kami dapat kembali melanjutkan serial artikel Kaidah-Kaidah Penting Memahami Hakikat Istiqomah.

Kaidah ketujuh: tidak menggantungkan keistiqomahan pada amal pribadinya.

Seseorang yang telah mencapai istiqomah tidak boleh tertipu dengan banyaknya amal shalih dan ketaatan yang ia lakukan. Karena sejatinya, seseorang masuk ke dalam surga bukan karena banyaknya amal shalih dan ketaatan, melainkan karena rahmat Allah kepadanya.

فَإِنَّهُ لا يُدْخِلُ أَحَدًا الجَنَّةَ عَمَلُهُ

Tidak ada seorangpun yang masuk surga karena amalnya.

قَالُوا : وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

Para sahabat menanggapi, “Tidak juga engkau wahai Rasulullaah?”

قَالَ : وَلا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ

Beliau menjawab : “Tidak pula diriku, hanya saja Allah telah menutupnya dengan ampunan dan rahmat-Nya.” (HR. Bukhari No. 6467)

Adapun amal shalih yang ia lakukan sebagai sebab datangnya rahmat Allah, sedangkan rahmat Allah tidak mungkin diberikan kepada orang yang hatinya ujub dan lalai dari kekhawatiran akan diterima atau tidaknya amalan.

Kaidah kedelapan : buah keistiqomahan di dunia adalah istiqomah di atas shirat pada hari kiamat.

Ash-shirat adalah adalah jembatan yang terbentang di punggung neraka jahannam. Seluruh manusia akan melewati jembatan ini. Keadaan dan kemampuan manusia ketika melewati ash-shirat bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat keistiqomahan mereka di dunia di atas jalan Allah Ta’ala. Ada yang melewati shirat secepat kilat, seperti hembusan angin, ada yang berlari, berjalan, merangkak, bahkan ada yang tejerembab dan terhentak ke neraka jahannam. Semua kondisi tersebut menggambarkan keistiqomahan mereka di dunia.
Allah berfirman,

وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tidaklah kalian dibalas kecuali karena apa yang dulu kalian lakukan.” (QS. An-Naml: 90)

Kaidah kesembilan : syubhat dan syahwat adalah dua penghalang istiqomah.

Syubhat merupakan kerancuan pemikiran dalam beragama sehingga terjadi penyimpangan, sedangkan istiqomah menuntut untuk komitmen di atas cara beragama yang benar. Syubhat dapat diobati dengan menuntut ilmu agama berdasarkan al-Qur’an dan sunnah serta memahaminya dengan pemahaman shalafus shalih.
Sedangkan syahwat adalah berbagai keinginan nafsu yang bertentangan dengan syariat. Bisa jadi telah sampai padanya ilmu yang benar, namun syahwatnya menghalanginya untuk mengamalkan ilmu tersebut dan lebih condong pada nafsu yang tak sejalan dengan syariat. Obat untuk penyakit syahwat adalah sabar, menundukan hati dan pandangannya dari syahwat dunia.
Hendaknya kita senantiasa memohon petunjuk kepada Allah untuk diistiqomahkan di jalan yang benar dan dijauhkan dari nafsu yang merusaknya.

Kaidah kesepuluh : tasyabbuh dengan kaum kafir akan menjauhkan diri dari istiqomah.

Tasyabbuh yaitu menyerupai kaum kafir dalam perkara yang menjadi kekhususan mereka. Tasyabbuh dengan mereka menghasilkan dua kerusakan: yaitu kerusakan dari sisi ilmu maupun amal.
Kita memohon petunjuk kepada jalan yang lurus dan dijauhkan dari tasyabbuh kepada kaum kafir disetiap rakaat dalam shalat

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan (jalan) orang yang dimurkai dan bukan pula (jalan) orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)
Orang-orang yang dimurkai adalah kaum yahudi yang mereka rusak dari sisi amal, yaitu mereka berilmu tentang kebenaran namun enggan mengamalkannya. Sedangkan orang yang sesat adalah kaum nashrani yang rusak dari sisi ilmu, dimana mereka bersemangat beramal tanpa ilmu. Adapun orang yang diberi nikmat adalah kaum muslimin yang mereka beramal dengan ilmu. Ayat ini menunjukkan rusaknya tasyabbuh dengan kaum kafir karena menjadi sebab dijauhkannya dari istiqomah.

Disarikan dari kitab ‘Asyru Qawaaid Fil Isiqomah karya Syaikh Abdur Razzaq bi Abdul Muhsin Al-Badr, Daarul Fadhilah, cet. I 1431 H.
Referensi lain:
Terjemahan Al-Quran Al-Kariim

Penulis: Titi Komalasari
Murojaah: Ustadz Ratno, Lc

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11305-kaidah-kaidah-penting-memahami-hakikat-istiqomah-bag-5.html

Kaidah-Kaidah Penting Memahami Hakikat Istiqomah (bag. 4)

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya. Wa ba’du.
Alhamdulillah kami dapat kembali melanjutkan serial artikel Kaidah-Kaidah Penting Memahami Hakikat Istiqomah.

Kaidah keempat: istiqomah yang dituntut adalah as-sadaad, jika tidak mampu maka berusaha mendekati (derajat istiqomah)
As-sadaad yaitu berusaha seoptimal mungkin mencocoki al-qur’an dan sunnah
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda

فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَأَبْشِرُوْا

Luruslah, mendekatlah dan berilah kabar gembira..” (HR. Bukhari)
Yang dituntut dalam bab istiqamah adalah as-sadaad (lurus), tidak pernah melenceng dan tidak berbelok dari jalan kebenaran, inilah kesempurnaan istiqomah seorang hamba.
Namun, tidak mungkin seorang hamba tidak pernah berbuat kesalahan. Yang terpenting, kita tidak sengaja untuk terjerumus dalam kesalahan dan segera kembali ke jalan yang lurus ketika sadar mulai melenceng dari kebenaran. Inilah yang dimaksud dengan mendekati lurus, yaitu senantiasa rujuk kepada al-qur’an dan sunnah setelah sebelumnya tergelincir.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6)

Penyebutan istighfar setelah perintah istiqomah adalah isyarat bahwa seorang hamba pasti punya kekurangan dalam istiqomah walaupun ia telah berusaha secara optimal.
Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullaah menjelaskan maksud ayat di atas

إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ لَابُدَّ مِنْ تَقْصِيرٍ فِي الِاسْتِقَامَةِ الْمَأْمُورِ بِهَا، فَيُجْبَرُ ذَلِكَ بِالِاسْتِغْفَارِ الْمُقْتَضِي لِلتَّوْبَةِ وَالرُّجُوعِ إِلَى الِاسْتِقَامَةِ، فَهُوَ كَقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذٍ ((اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا))

“Ayat ini merupakan isyarat bahwa pasti terdapat kekurangan dalam merealisasikan istiqomah. Kemudian kekurangan itu bisa ditutupi dengan beristighfar (memohon ampun). Dan istighfar ini memiliki konsekuensi untuk bertaubat dan kembali istiqomah. Sehingga keadaan ini sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz, “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan iringilah perbuatan buruk itu dengan kebaikan untuk menghapusnya.”

Saudariku, seseorang yang ingin menggapai derajat istiqomah tentu akan senantiasa merasa kurang dalam amalnya sehingga senantiasa istighfar dan bertaubat kepada Allah.

Kaidah kelima: istiqomah mencakup perkataan, perbuatan dan niat.

Maksudnya, seluruh sikap kita dituntut untuk istiqomah, baik yang lahir berupa perkataan dan perbuatan, maupun yang batin berupa niat yang lurus. Inilah hakikat kesempurnaan istiqomah, yaitu sejalannya perkataan, perbuatan dan hati di atas kebenaran sesuai al-qur’an dan sunnah.
Bagaimana agar perkataan, perbuatan dan niat bisa istiqomah? Kuncinya ada pada perbaikan qalbu, sebagaimana kaidah ‘pokok istiqomah adalah istiqomahnya qalbu’. Walaupun qalbu hanyalah segumpal daging, namun seluruh tubuh bertindak sesuai arahannya.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةُ،

Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baik pulalah seluruh jasad dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Segumpal daging itu adalah qalbu.” (HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)

Kaidah keenam: istiqomah harus lillah, billah wa ‘ala amrillah.

Lillah maknanya ikhlas kepada Allah, yaitu menempuh jalan istiqomah karena ikhlas mengharap balasan dan ridho Allah Ta’ala. Tidaklah Allah memerintahkan suatu ketaatan dan membalasnya kecuali agar hamba mengikhlaskan amal hanya untuk-Nya.
Allah berfirman

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Billah artinya, meminta pertolongan Allah agar di tetapkan di atas keistiqomahan. Seorang hamba diperintahkan untuk istiqomah dan menempuh sebabnya, namun keistiqomahan adalah pemberian Allah, maka hendaknya kita meminta tolong kepada Allah untuk bisa menempuh sebab-sebabnya dan kokoh di atas jalan istiqomah. Dalam banyak dalil, Allah menggandengkan perintah beribadah dengan perintah untuk memohon pertolongan kepadanya.
Allah berfirman dalam ummul qur’an

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Rasulullah juga menegaskan perintah memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap amal
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ

Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (untuk menjalankannya).” (HR. Muslim No. 2664)
Dan ‘ala amrillah, yaitu istiqomah dengan menempuh jalan yang benar sesuai syariat Allah.
Allah berfirman

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

Maka istiqomahlah kamu (di atas jalan yang benar) sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud: 112)

Seseorang yang menginginkan istiqomah hendaknya mengikhlaskan niatnya kepada Allah, memohon pertolongan kepada-Nya dan menjaga batasan-batasan Allah berupa perintah dan larangan-Nya.
Wallaahu a’lam, semoga bermanfaat. Simak terus pembahasan tentang kaidah-kaidah untuk memahami hakikat istiqomah di artikel muslimah.or.id selanjutnya, in syaa Allah.

Disarikan dari kitab ‘Asyru Qawaaid Fil Isiqomah karya Syaikh Abdur Razzaq bi Abdul Muhsin Al-Badr, Daarul Fadhilah, cet. I 1431 H.
Referensi lain:
Terjemahan Al-Quran Al-Kariim

Penulis: Titi Komalasari
Murojaah: Ustadz Ratno, Lc

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11311-kaidah-kaidah-penting-memahami-hakikat-istiqomah-bag-4-2.html