Doa untuk Pengungsi Rohingya

Dengan terus menyebut 99 nama indahMu
Dengan selalu memuji dan memuja keagunganMu
Hari ini kuhaturkan haru-biru dalam doaku

Tuhanku
Mata batinku berkaca-kaca menyaksikan petaka ini
Nestapa saudaraku bangsa Rohingya yang terusir atau diusir dari negerinya
Menjadi pengungsi untuk menghindari perang dan kezaliman
Meninggalkan tanah airnya untuk mencari suaka dan rasa damai

Rohingya adalah manusia
Tapi kedurjanaan telah merendahkan martabatnya
Diburu dengan desing peluru
Dianiaya dengan segala jenis senjata

Tuhanku
Hari ini telah kusaksikan kemanusiaan yang dihinakan
Kemanusiaan yang dikremus atas nama kekejian
Justru oleh manusia sebangsa dan setanah airnya

Dunia sudah seharusnya terjaga dari teror dan horor memilukan ini
Umat manusia dimana pun berada harus terusik dengan ulah tangan-tangan kotor ini
Saat rasa kemanusiaan telah dinistakan
Mimpi buruk harus diakhiri

Tuhanku
Lidahku kelu mengucap salam dan rindu
Terapung di kelopak mataku nasib para pengungsi Rohingya itu
Perempuan renta dan bayi tanpa dosa
Harus tersapu badai saat berlari dari negerinya

Bukankah agama tidak mengajarkan kekerasan dan tipu-daya?
Bukankah agama hanya mengajarkan kebajikan dan kasih-sayang pada sesama walau berbeda etnis dan agamanya?

Kucium daging terbakar dari negeri Myanmar
Kemanusiaan yang memar oleh agama yang ingkar
Kenapa api kesumat dan nyala dendam harus berkobar?

Takbirku membiru di pucuk lidahku
Takbirku membiru dalam dadaku
Meratapi kedegilan dan kegilaan ini
Myanmar terus mencakari nalar dan getar keimananku

Tuhanku
Tancapkan kuku keadilanMu
Mekarkan wangi bunga pada bumi Myanmar
Taburkan biji tasbih dan kedamaian pada bangsa Rohingya
Rasa damai dan kemerdekaan yang sejatinya
Amin

[HM. Nasruddin Anshoriy Ch]

 

INILAH MOZAIK

Muslim Rohingya di Myanmar, Begini Sejarahnya

UMAT Muslim di Myanmar terbilang minoritas. Tetapi, meski hanya kaum minoritas, tak membuat mereka sampai berpaling dari Islam. Mereka tetap berpegang teguh pada agamanya. Hingga, kini kita tahu bahwa mereka mengalami suatu ujian yang sangat berat. Dimana keberadaan mereka di negaranya sendiri tak aman lagi.

Jika kita melihat sejarah masuknya muslim ke negara itu, mereka datang dengan perdamaian. Tak ada sedikit pun kekerasan yang terjadi. Memang, seperti apa sejarah masuknya Islam di Myanmar?

Sejarawan menyebutkan bahwa umat Islam tiba di wilayah Arakan bertepatan dengan masa Daulah Abbasiyah yang tengah dipimpin oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Kaum muslimin tiba di wilayah tersebut melalui jalur perdagangan. Dengan cara damai. Bukan peperangan apalagi penjajahan.

Karena umat Islam semakin banyak dan terkonsentrasi di suatu wilayah, jadilah ia sebuah kerajaan Islam yang berdiri sendiri. Kerajaan tersebut berlangsung selama 3,5 abad. Dan dipimpin oleh 48 raja. Yaitu antara tahun 1430 – 1784 M. Banyak peninggalan-peninggalan umat Islam yang terwarisi di wilayah tersebut. Ada masjid-masjid dan madrasah-madrasah. Di antara masjid yang paling terkenal adalah Masjid Badr di Arakan dan Masjid Sindi Khan yang dibangun tahun 1430 M.

Pada tahun 1784 M, Arakan diserang oleh raja Budha dari suku Burma yang bernama Bodawpaya (masa pemerintahan 1782-1819 M). Kemudian ia menggabungkan wilayah Arakan ke dalam wilayahnya, agar Islam tidak berkembang di wilayah tersebut. Sejak saat itu bencana umat Islam Arakan pun dimulai. Peninggalan-peninggalan Islam, masjid dan madrasah, dihancurkan. Para ulama dan da’i dibunuh. Budha dari suku Burma terus-menerus mengintimidasi kaum muslimin dan menjarah hak milik mereka. Mereka juga memprovokasi orang-orang Magh untuk melakukan hal yang sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama 40 tahun. Sampai akhirnya berhenti dengan kedatangan penjajah Inggris.

 

Pada tahun 1824 M, Inggris menguasai Burma. Kemudian kerajaan Britania itu menggabungkan wilayah itu dengan persemakmurannya di India. Pada tahun 1937 M, Inggris memisahkan Burma dan wilayah Arakan dari wilayah kekuasaannya di India. Maka Burma menjadi wilayah kerajaan Inggris tersendiri yang bernama Burma Britania. Tidak bernaung di wilayah India lagi.

Tahun 1942 M, bencana besar menimpa kaum muslimin Rohingya. Orang-orang Budha Magh membantai mereka dengan dukungan senjata dan materi dari saudara Budha mereka suku Burma dan suku-suku lainnya. Lebih dari 100.000 muslim pun tewas dalam peristiwa itu. Sebagian besar mereka adalah wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya melarikan diri dari Burma. Karena pedih dan mengerikannya peristiwa tersebut, kalangan tua –saat ini- yang menyaksikan peristiwa itu senantiasa mengingatnya dan mengalami trauma.

Pada tahun 1947 M, Burma mempersiapkan deklarasi kemerdekaan mereka di Kota Panglong. Semua suku diundang dalam persiapan tersebut, kecuali umat Islam Rohingya. Pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris memerdekakan Burma secara penuh disertai persyaratan masing-masing suku bisa memerdekakan diri dari Burma apabila mereka menginginkannya. Namun suku Burma menyelisihi poin perjanjian tersebut. Mereka tetap menguasai wilayah Arakan dan tidak mendengarkan suara masyarakat muslim Rohingya dan Budha Magh yang ingin merdeka. Mereka pun melanjutkan intimidasi terhadap kaum muslimin.

Dari sejarah itu, ternyata, sudah sejak lama, kaum Muslim Rohingya mengalami berbagai macam penderitaan. Tetapi sungguh, mereka amat sangat kuat dalam menghadapi ujian itu. Terbukti, hingga saat ini, masih ada di antara mereka yang menetap di kampung halamannya. Hal ini semata-mata mereka yakin bahwa pertolongan Allah pasti tiba. []

 

 

Sumber: kisahmuslim.com/MuslimPos

Inilah Gembong Genk Teroris Buddha Myanmar

Biksu Buddha Ashin Wirathu mendadak jadi sorotan dunia. Tragedi pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya banyak dikaitkan dengan Ashin. Wajahnya yang tenang, pakaiannya yang sederhana seperti biksu pada umumnya ternyata jauh bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya.

Media barat tak kurang mulai dari Majalah Time, New York Times, sampai Washington Post melabelinya sebagai pembenci muslim. Ashin Wirathu disebut sebagai penggerak kaum Buddha di Myanmar menyerang Muslim Rohingya.

Wajah Ashin menghias sample Majalah Time, ’The Face of Buddhist Terror’ demikian judul besarnya. Time juga di dalam berita menyebut sosok Ashin Wirathu sebagai Bin Laden Bangsa Burma.

“Sekarang bukan saatnya untuk diam,” kata Ashin seperti dikutip Time, Rabu 20 Mei 2015. Apa yang disampaikan biksu berumur 46 tahun itu merujuk kepada kekerasan yang dilakukan pada Muslim Rohingya.

ashin-wirathuSosok Ashin ini tak hanya menarik minat Time saja, The Washington Post juga menyorot sepak terjang Ashin yang disebut sebagai pemimpin teroris Buddha yang menggerakan pembantaian Rohingya.

“Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila,” tutur Ashin seperti mengutip Washington Post. Anjing gila yang dimaksud Ashin tak lain merujuk pada Muslim Rohingya.

Ashin pun dengan terang-terangan di depan ‘jamaah’nya dalam ceramah di sebuah kuil menyebut Muslim Rohingya sebagai musuh. New York Times menulis jelas bagaimana kebencian Ashin pada kaum Rohingya.

“Saya bangga disebut sebagai umat Buddha garis keras,” tutur Ashin seperti dikutip dari New York Times.

Kini kondisi muslim Rohingya memang mengkhawatirkan. Mereka terusir dari rumah mereka di Myanmar. Pemerintah setempat pun bahkan tak bisa berbuat banyak terhadap kekerasan yang terjadi. Mereka memilih untuk pergi menjadi pengungsi.

Ada 1.000-an muslim Rohingya yang saat ini terdampar di Aceh dan Sumatera Utara. Mereka tak mau kembali ke Myanmar karena menghadapi pembantaian.

Ashin Wirathu menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat Myanmar. Dia menanamkan ketakutan suatu saat kelompok Muslim minoritas akan menguasai negara yang dulu dikenal dengan nama Burma itu.

 

Kemunculan Ashin Wirathu

muslim-rohingya_mediumSepuluh tahun lalu, publik belum pernah mendengar nama biksu dari Mandalay tersebut. Pria kelahiran 1968 itu putus sekolah pada usia 14 tahun. Setelah itu, dia memutuskan untuk menjadi biksu.

Nama Ashin Wirathu mencuat setelah dia terlibat dalam kelompok ekstremis antimuslim “969” pada 2001. Karena aksinya, pada 2003 dia dihukum 25 tahun penjara. Namun, pada 2010 dia sudah dibebaskan bersama dengan tahanan politik lainnya.

Ashin Wirathu Jadi Tokoh Masyarakat

Setelah peraturan Pemerintah Myanmar melonggar, Ashin Wirathu makin aktif bersuara di media sosial. Ashin menyebarkan pesan melalui rekaman ceramah yang diunggah di YouTube dan Facebook. Sampai saat ini, dia berhasil menjaring sekira 37 ribu pengikut.

Pada 2012, ketika pertumpahan darah antara Rohingya dan Buddhis terjadi di Provinsi Rakhine, Ashin semakin dikenal dengan pidato penuh amarahnya.

Ceramah dia selalu dimulai dengan kalimat yang berbunyi, “Apapun yang kamu lakukan, lakukanlah sebagai seorang nasionalis”. Saat ditanya, apakah dia adalah “Bin Laden Burma”, pria itu tidak menampiknya.

 

Keinginan Ashin Wirathu

Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.

Ashin juga mengkambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi. Dia terus mengulang alasan tak masuk akal soal tingkat reproduksi Muslim yang tinggi.

Biksu itu mengklaim perempuan Buddhis dipaksa pindah agama. Dia memimpin kampanye yang mendesak Pemerintah Myanmar mengeluarkan peraturan yang melarang perempuan Buddhis menikah dengan pria beragama lain tanpa izin pemerintah.

 

Lawan Ashin Wirathu

Ashin memimpin sekelompok massa yang berani melakukan kekerasan demi mempertahankan pandangannya. Pengaruh kuat Ashin menyebabkan setiap orang yang berbeda pandangan akan menjadi target pendukungnya.

Masyarakat sesungguhnya takut dengan kekejaman kelompok Ashin. Namun, Ashin tetap mendapat dukungan banyak orang mengenai status kewarganegaraan Rohingya.

 

Tanggapan Biksu Lainnya

Banyak orang ingat peristiwa pada 2007 di Myanmar. Saat itu, para bisku buddha memimpin perlawanan terhadap kekuasaan mliter di Myanmar. Pesan Ashin saat itu tidak mendapat dukungan banyak orang.

Namun, banyak biksu di Myanmar yang memilih bungkam menghadapi Ashin. Sebagian lainnya, takut diserang Ashin. Sulit untuk memprediksi seberapa kuat pengaruh Ashin di kalangan biksu.

Ashin Wirathu memimpin lebih dari 2.500 biksu di biara Mandalay. Ketika ia menyelenggarakan konferensi mengenai perlindungan perempuan, para biksu memenuhi biaranya.

Beberapa biksu melontarkan kritikan atasnya. Seorang biksu bernama U Ottara mengaku kaget mendengar komentar-komentar yang disampaikan para biksu.

“Saya merasa sangat sedih. Saya bisa bilang, kata-kata yang mereka ucapkan bukanlah kata-kata yang digunakan seorang biksu,” kata Ashin kepada BBC, Rabu (20/5/2015). Beberapa biksu khawatir bila kekejaman Ashin ditangkap dunia internasional sebagai representasi ajaran Buddha.

Alasan Pemerintah Myanmar Tidak Menghentikan Ashin Wirathu

Setelah hampir setengah abad dikuasai militer, kini Myanmar dipimpin oleh warga sipil. Namun, bentrokan antar agama memperlambat reformasi negara itu.

Sebagian orang percaya, Ashin diterima pemerintah kareana dia menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.

Tanggapan Perempuan Myanmar

Kaum perempuan Myanmar adalah satu-satunya kelompok yang konsisten menentang pandangan Ashin Wirathu. “Dia memberi reputasi buruk untuk negara kita. Dia menodai jubah biksu yang dia gunakan,” kata Sekretaris Jenderal Liga Perempuan Burma, Tin Tin Nyo.

Dia juga mengatakan, kampanye Ashin Wirathu yang mengusulkan peraturan yang membatasi perempuan menikahi pemeluk agama lain, bukanlah bentuk perlindungan perempuan melainkan bentuk kontrol atas perempuan.

“Perempuan dapat memutuskan sendiri siapa yang ingin dia nikahi. Perempuan dapat memilih sendiri agama yang ingin dianut,” kata Tin Tin Nyo

 

sumber: SatuIslam.org

Save Rohingya, Jangan Bilang ‘Bukan Urusan Saya’

“SEGITU bencinyakah mereka pada Islam?”

“Ngomong sama siapa, Bro?”

“Ish, tiba-tiba datang aja, ente. Kalau masuk rumah orang baca salam dulu, ke…”

“Udah dari tadi kali. Kata istri ente, ente lagi khusyuk ngetik. Ya udah ane samperin ke mari. Lagi ngetik apaan sih?”

“Ane lagi nulis artikel tentang Rohingya. Kasihan banget mereka…”

“Oo… yang terdampar di Aceh itu kan?”

“Bener, Bray. Mereka itu udah berminggu-minggu di tengah lautan. Ditolak Thailand dan Malaysia. Akhirnya, dengan izin Allah, nelayan Aceh menemukan mereka dan membawanya ke Indonesia…”

 

 

sumber: Islam Pos

 

Baca juga: Jejak Rekam Radikalisme Biksu Wirathu Pembenci Etnis Rohingya

Jejak Rekam Radikalisme Biksu Wirathu Pembenci Etnis Rohingya

Biksu radikal Budha, Ashin Wirathu, menjadi figur yang saat ini dinilai paling bertanggungjawab atas krisis SARA yang melanda etnis minoritas Rohingya.

Diketahui biksu Ashin Wirathu adalah pemimpin kampanye para biksu mendukung usulan Presiden Myanmar, Thein Sein, untuk mengirim etnis Muslim Rohingya ke negara ketiga yang entah di mana.

Sebelum krisis Rohingya mengemuka saat ini, silsilah radikalisme yang pernah dilakukan Wirathu ternyata telah berlangsung sejak lama.

Dikutip dari berita yang dimuat berbagai media, Wirathu sejak tahun 2001 diketahui telah mempromosikan kampanye nasionalis kelompok “969” yang di antaranya memboikot bisnis Muslim Myanmar.

Seperti terpapar paranoia, Wirathu melancarkan aksinya secara massif. Karena kampanyenya itu pada tahun 2003 pria berkepala plontos ini dipenjara selama 25 tahun karena menghasut kebencian agama.

Saat itu, Wirathu membagikan selebaran anti-Muslim yang menyebabkan 10 Muslim dibunuh di Kyaukse. Namun pada tahun 2010 Wirathu dibebaskan karena amnesti umum.

Pada Juni 2012 kekerasan pecah antara Muslim Rohingya etnis Rakhine dengan umat Budha di negara bagian Rakhine.

September 2012 Wirathu memimpin kampanye para biksu mendukung usulan Presiden Thein Sein untuk mengirim Rohingya ke negara ketiga. Akhirnya pada Oktober 2012 kekerasan lebih besar pecah di Rakhine

Maret 2013 terjadi pertempuran antaragama di Meiktila yang menewaskan 40 orang dan memaksa 13.000 orang mengungsi. Saat itu, stiker dan plakat kelompok 969 yang dipimpin Witathu didistribusikan ke seluruh Myanmar.

Biksu radikal berwajah dingin ini lahir pada tahun 1968 di Kyaukse, dekat Mandalay. Ia mulai bergabung dengan kebiksuan di tahun 1984.*

 

sumber: Hidayatullah.com