Awas, Takut Hantu Bisa Syirik

ADA yang bertanya, apakah ketakutan akan hantu termasuk sirik? Ustaz Ammi Nur Baits menjawab sbb:

Pertama, perasaaan takut yang dialami manusia ada dua, takut yang disertai pengagungan dan takut yang merupakan bagian dari tabiat.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

Takut ada beberapa macam. Diantaranya takut disertai merendahkan dan menghinakan diri, serta pengagungan kepada yang ditakuti. Yang diistilahkan dengan khauf as-sirri (takut yang samar). Takut semacam ini hanya boleh diberikan untuk Allah. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dengan memberikan rasa takut semacam ini kepada selain Allah, berarti dia telah melakukan syirik besar. Seperti orang yang takut kepada berhala, atau orang mati, atau orang yang dianggap wali. Disertai keyakinan bahwa mereka bisa memberi manfaat dan madharat. Sebagaimana yang dilakukan para penyembah kubur.

Yang kedua, takut yang merupakan bagian dari tabiat manusia (khauf thabii). Takut semacam ini hukum asalnya mubah. Sebagaimana firman Allah yang menceritakan tentang Musa,

Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut dan mengendap-endap. (QS. al-Qashas: 21)

Oleh karena itu, rasa takut seseorang terhadap sesuatu yang membahayakan atau yang bisa mengganggu, tidak termasuk kesyirikan. Karena tujuan kita bukan untuk mengagungkannya, atau meyakini bahwa dia bisa memberi manfaat dan madharat dengan sendirinya. (al-Qoul Mufid Syarh Kitab at-Tauhid, 2/67).

Kedua, berdasarkan keterangan di atas, penting bagi kita untuk memahami perbedaan khouf siri dengan khauf thabii. Karena dengan ini kita bisa memahami batasan, kapan rasa takut itu terhitung kesyirikan.

Disamping keterangan Imam Ibnu Utsaimin di atas, ada keterangan Syaikh Sholeh Alu Syaikh tentang batasan khauf iri dan khauf tabiat. Beliau menjelaskan,

Khouf siri adalah seseorang takut kepada selain Allah azza wa jalla karena anggapan, yang ditakuti bisa memberikan gangguan kepadanya tanpa sebab. Takut semacam inilah yang hanya khusus untuk Allah. Allah bisa menakdirkan sakit bagi hamba tanpa ada sebab apapun yang dia ketahui. Dia mampu mentakdirkan kematian bagi hamba tanpa sebab apapun yang dia tahu.

Namun jika ketakutan itu karena sebab yang kita ketahui, lalu dia takut ada jin yang menjadi sebab bahaya, dan ini bagian dari tabiat, misalnya takut masuk ke tempat-tempat tidak berpenghuni atau melewati tempat yang gelap, dia takut dengan hantu atau jin, semua ini termasuk sebab.

Namun yang dimaksud khauf siri misalnya,dia takut akan ditangkap wali atau ditangkap jin tanpa sebab. Maksudnya, dia meyakini bahwa jin itu memiliki kekuatan dan kemampuan yang bisa mengancamnnya tanpa sebab.

Jika rasa takut itu takut tabiat bukan takut keyakinan, namun takut karena pengaruh sifat lemah manusia, bukan takut karena keyakinan terhadap jin, namun takut terhadap gangguan mereka, misalnya di rumah angker, maka rasa takut semacam ini termasuk takut tabiat, dan tidak termasuk takut yang haram, tidak pula takut yang statusnya kesyirikan. (Ittihaf as-Sail, Syarh Aqidah Thahawiyah, volume 43).

Keterangan lain tentang batasan khouf, disampaikan Syaikh Sulaiman bin Abdillah,

Makna khoouf siri adalah seorang hamba takut kepada selain Allah dia akan menimpakan keburukan dengan kehendaknya dan kemampuannya, tanpa harus bertemu langsung dengannya. Semacam ini syirik besar, karena dia meyakini ada selain Allah yang bisa memberi manfaat dan madharat secara tidak langsung. Allah berfirman, (yang artinya) “Takutlah kalian hanya kepada-Ku.” (Taisir al-Aziz al-Hamid, Syarh Kitab Tauhid, 1/24).

Dari beberapa keterangan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa rasa takut bisa bernilai ibadah (khouf siri) jika memenuhi beberapa kriteria berikut,

Disertai perasaan mengangungkan kepada yang ditakuti (at-Tadzim)

Merasa hina dan rendah kepada yang ditakuti (al-Khudhu wa at-Tadzallul)

Meyakini bahwa yang ditakuti bisa memberi manfaat dan madharat secara tidak langsung dan tanpa sebab.

Takut Kepada Jin & Hantu

Bagian ini yang menjadi rancu, apakah takut kepada jin termasuk khouf siri ataukah sebatas takut karena tabiat. Kita tidak bisa memberikan penilaian secara umum. Karena tidak semua bentuk takut kepada jin termasuk khouf siri. Ada bentuk takut kepada jin yang termasuk takut tabiat.

Pertama, takut kepada jin disertai pengagungan dan merendahkan diri di hadapan mereka, ini termasuk takut kesyirikan. Ciri khas takut semacam ini, ketika ada orang yang hendak melewati tempat sunyi atau dianggap angker, dia akan tetap mendatangi tempat itu, sambil mohon pamit dan minta izin.

Contoh kasus yang sering kita jumpai di masyarakat, ada orang yang ketika hendak melewati kuburan, atau jalan yang hawanya angker, dia minta izin untuk lewat. Mbah, nyuwun sewu, mau lewat.

Kebiasaan semacam ini termasuk tradisi orang musyrikin jahiliyah. Allah berfirman, meceritakan salah satu komentar jin tentang manusia,

“Ada beberapa orang di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa.” (QS. al-Jin: 6).

Ibnu Katsir menjelaskan,

Kami para jin merasa lebih mulia dibandingkan manusia, karena mereka meminta perlindungan kepada kami. Yaitu ketika mereka melewati lembah atau tempat asing di darat maupun lainnya. Dan ini kebiasaan masyarakat arab jahiliyah. Mereka memohon perlindungan terhadap raja jin yang diyakini menguasai tempat itu, agar mereka dilindungi dari segala hal yang membahayakannya.

Ketika jin menyaksikan manusia meminta perlindungan kepadanya, karena rasa takut mereka kepada jin, maka manusia itu menambah bagi jin itu rasa sombong, dengan ketakutan mereka dan kerendahan mereka. Sehingga manusia menjadi sangat takut kepada jin dan sering memohon perlindungan kepada jin. (Tafsir Ibn Katsir, 8/239).

Kedua, takut tabiat. Takut kepada hantu yang berpenampilan jelek, termasuk takut tabii.

Diantara cirinya, orang akan mejauhi tempat yang dia takuti. Dia tidak semakin mendekat apalagi memohon izin. Namun dia akan menghindar dan menjauhi tempat itu. Dia takut dengan wajah jelek hantu, atau takut dibuat kaget atau takut dicekik, diganggu, dst.

Termasuk orang yang tidak berani melewati kuburan sendirian, karena khawatir akan muncul wajah menakutkan, dan menyeramkan.

insyaaAllah takut semacam ini tidak sampai derajat kesyrikan.

Jangan Lupa Baca Doa

Sebagai ganti agar manusia tidak berlindung kepada jin ketika merasa takut dengan gangguan makhluk halus, terutama pada saat melewati tempat yang menakutkan, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membekali doa,

Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan.

Dari Khoulah bintu Hakim Radhiyallahu anha, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

” Barangsiapa yang singgah di suatu tempat, kemudian membaca: Audzu bi Kalimaatillaahit Taammaati Min Syarri Maa Kholaq maka tidak akan ada yang membahayakannya sampai dia berpindah dari tempat itu”(HR. Muslim 7053, Turmudzi 3758 dan yang lainnnya).

 

INILAH MOZAIK

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Riya Adalah Syirik Kecil

PADA dasarnya, sifat manusia sangatlah senang untuk ingin dipuji, ingin dihormati dan dihargai. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa mengatakan bahwa sifat ingin dipuji merupakan syahwat khofiyyah manusia.

Sebagaimana seseorang jika lapar dia akan bersyahwat dengan makanan, jika melihat wanita akan bersyahwat dengan wanita tersebut, maka demikian juga jika ada kesempatan untuk menonjolkan kebaikan atau kelebihan yang ada pada dirinya maka dia akan lakukan apapun untuk memenuhi syahwat ingin dipujinya tersebut. Maka tak heran jika ada seseorang yang rela berkorban besar untuk memuaskan syahwat ingin mendapat ketenaran, sanjungan dan penghormatan tersebut.

Betapa banyak para dermawan yang ingin disanjung yang kemudian dia rela mengerluarkan uangnya hanya agar mendapat pujian. Tak peduli seberapa banyak uang yang dia keluarkan yang terpenting dia mendapat sanjungan. Betapa banyak juga para ustadz yang ingin dikenal memiliki ilmu yang tinggi, dia rela menghabiskan banyak waktu menghafal dalil ini itu hanya untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain.

Jangankan waktu, jangankan harta, bahkan nyawa pun tak segan ia pertaruhkan untuk meraih pujian. Dalam sebuah hadist shahih riwayat muslim dikatakan bahwa seorang mujahid rela mempertaruhkan nyawanya hanya agar mendapat julukan sang pemberani dari manusia. Seakan dia mujahid pemburu pujian itu tak peduli walaupun harus mati yang terpenting dia bisa merasakan kelezatan dipuji-puji dihadapan manusia. Naudzubillah min dzalik.

Sifat ingin dipuji, ingin dihargai, dan ingin dihormati oleh manusia itulah pangkal dari penyakit riya. Maka sungguh riya inilah penyakit hati yang sangat berbahaya. Samar namun mematikan. Riya mengakibatkan amalan ibadah tak diterima oleh Allah swt. Bahkan Rasullullah shollallahualaihi wasallam mengatakan bahwa riya adalah syirik kecil.

“Sesungguhnya riya adalah syirik kecil”

(HR. Ahmad & Al-Hakim)

Begitu berbahayanya penyakit riya ini maka banyak orang berbondong-bondong mencari ilmu dan pelajaran tentangnya, apa saja kerugiannya, dalil-dalil yang melarangnya dan bagaimana cara agar terhindar dari penyakit riya ini. Meski demikian, manusia tetaplah manusia yang tak luput dari tipu daya syaitan.

Sebagai ilustrasi, mungkin pernah kita mendengar seseorang berkata,”Bukannya saya riya, tapi kesuksesan ini adalah hasil dari kerja keras saya”. “Bukannya saya riya, tapi sejak saya rajin bersedekah saya merasa lebih tenang”

“Bukannya saya riya, tapi memang saya merasa ada yang kurang jika tidak bangun sholat malam”

Kalimat pembuka bukannya saya riya inilah yang sesungguhnya membuka pintu riya tanpa sadar. Sebelum dirinya dituduh riya dia berupaya membela diri dengan mengatakan kata-kata ini. Dia ingin menutup-nutupi riya-nya tersebut dengan mengatakan bukannya saya riya.

Tanpa disadari seseorang yang merasa aman dengan kalimat-kalimat seperti ini sesungguhnya dia telah terjebak oleh talbis (perangkap) syaitan. Walaupun dia telah berusaha menutup dan mencegah riya dengan kata-kata itu namun hati manusia sangatlah lemah. Bahkan tidak menutup kemungkinan seseorang bisa menjadi lebih leluasa mengatakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya karena merasa telah mendapat perlindungan dari kata-kata itu. Dan tentu ini berbahaya karena semakin membuka peluang munculnya riya.

Oleh karena itu saudaraku, hendaklah seorang beriman itu hati-hati terhadap jebakan syaitan yang memang dibuat indah di mata manusia. Jangan sampai karena kita ingin terhindar dari riya kita mengatakan bukannya saya riya. Jangan sampai karena kita tak ingin berbuat sombong kemudian kita mengatakan bukannya saya sombong dan berbagai jenis kata basa basi lainnya yang sejatinya malah menegaskan bahwa seseorang itu hendak melakukan riya atau kesombongan.

Meskipun demikian, hal ini bukan berarti kita menuduh saudara kita yang mengatakan bukannya saya riya dia pasti riya. Namun ini hanyalah sebagai renungan sekaligus pengingat bagi diri kita bahwa sangat mungkin hati kita tergelincir pada perkara-perkara halus yang mengantar kepada riya. Terkadang kita mengucapkan bukannya saya riya, tapi ternyata itu hanyalah sebagai muqoddimah untuk diri kita melakukan riya. Terkadang kita mengatakan bukannya saya sombong ternyata itu hanyalah sebagai pengantar dari diri kita untuk kemudian menyombongkan diri. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari jebakan penyakit hati dan memberikan kita hati yang bersih. [Ahmad Fauzan ‘Adziimaa/bersamadakwa]

 

MOZAIK

Riya, Syirik Kecil Paling Menakutkan Rasulullah

SYEIKH Ibnu Athaillah al Iskandari, wafat 709 H, menuturkan, dari Mahmud ibn Labid diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik yang paling kecil.”

Para sahabat pun bertanya, “Apa syirik terkecil itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” “Wahai saudaraku, jadikanlah amal ibadahmu sebagai amal yang tulus hanya karena Allah, sehingga engkau bisa mendapatkannya dalam timbangan amal kebaikanmu di akhirat kelak.

Allah berfirman,”Pada hari ketika tiap tiap jiwa mendapatkan segala hasil perbuatan baiknya berada di hadapannya.” (Ali Imran 30).”

“Amal yang ikhlas laksana mutiara mutiara. Bentuknya kecil, namun mahal nilainya. Orang yang kalbunya senantiasa sibuk bersama Allah lalu ia bisa mwngalahkan hawa nafsu dan ujian yg muncul secara tepat, maka orang tersebut lebih baik daripada mareka yang banyak melakukan salat dan puasa sementara kalbunya sakit, dipenuhi keinginan untuk dikenal dan hasrat mendapatkan kesenangan.

Ada yg berpendapat bahwa perhatian seorang zuhud adalah bagaimana memperbanyak amal, sementara perhatian orang arif (mengenal Allah) adalah bagaimana memperbaiki kondisi jiwa dan mengarahkan kalbu hanya kepada Allah semata.” []

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2377936/riya-syirik-kecil-paling-menakutkan-rasulullah#sthash.qYlp3M0N.dpuf

Awas! Akar Syirik Berasal dari Rumah Tangga

RASULULLAH shallallahu alaihi wasallam telah menyifati kesyirikan sebagai sesuatu yang sangat lembut dan sulit disadari adanya, sehingga ia sering kali terjadi di luar kesadaran pelakunya.

Sampai-sampai beberapa ragam kesyirikan pun bisa terjadi dalam kehidupan rumah tangga dan tidak di sadari oleh keluarga tersebut. Malahan, banyak di antara kesyirikan yang sudah sangat kental dengan pola kehidupan sebagian keluarga. Berbagai kesempatan dan keadaan yang ada selalu saja mengundang terjadinya kesyirikan. Tidak hanya dalam bulan Muharrom saja, namun hampir sepanjang tahun mereka bergelut dengan kesyirikan. Naudzu billah, kita berlindung kepada Alloh azza wajalla.

Di sini akan kita sebutkan sebagian bentuk kesyirikan, khurofat dan takhayul serta kebidahan yang sering terjadi dalam rumah tangga. Semoga dengan mengetahuinya kita bisa menghindar darinya. Dan semoga menjadi pelajaran berharga bagi saudara-saudara kita yang mau kembali ke jalan tauhid yang lurus.

1. Keyakinan adanya hari nahas (hari sial atau hari petaka). Yaitu keyakinan bahwa pada setiap tiga bulan dalam dua belas bulan pasti ada hari-hari nahasnya. Sehingga manusia dilarang bercocok tanam, bepergian, dan mendirikan rumah pada hari-hari nahas tersebut. Sebab diyakini bila itu dilakukan maka akan celaka atau tertimpa cobaan.

2. Tumpeng robyong untuk Selamatan Penganten dan lainnya. Tumpeng robyong ialah gunungan nasi putih di puncaknya diberi telur rebus, terasi bakar, bawang merah dan cabai, semuanya ditusuk memakai bilah bambu dan cabainya diletakkan paling atas. Pada lereng tumpeng ditaruh bermacam-macam sayur (kulupan: jawa). Tumpeng ini dihidangkan untuk meminta keselamatan yang kekal.

3. Upacara tingkep atau tingkepan. Ialah serangkaian kegiatan yang melibatkan wanita hamil, orang tua bahkan mertuanya serta dukun. Upacara ini dilakukan pada usia tujuh bulan kehamilan, jatuh pada hari Rabu atau Sabtu tanggal ganjil sebelum tanggal lima belas. Si wanita hamil tersebut dimandikan dengan air yang diberi berbagai bunga, dimandikan oleh dukun atau kerabat yang paling tua, dengan gayung buah kelapa. Upacara ini disertai dengan pembuatan beberapa tumpeng dan sesajen, di antaranya ialah tumpeng robyong. Upacara yang memayahkan dan tak bisa dipahami oleh logika akal sehat ini bertujuan agar janinnya selamat dan lahir sebagai bayi yang sehat sebagaimana permintaan mereka dalam upacara tersebut. Ritual ini selain menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kesyirikan juga merupakan tradisi orang-orang musyrik terdahulu. Di negeri kita ini, khususnya di tanah Jawa, upacara ini terus diwarisi oleh sebagian masyarakat kita sampai kini.

4. Sesajen (sajian) di bawah kolong tempat tidur ibu nifas dan bayinya. Ialah berbagai sajian yang diterangi sebuah pelita kecil siang-malam, terbuat dari minyak kelapa dan seutas tali untuk sumbu. Di sampingnya ditaruh pisau atau pedang mainan, dan payung mainan terbuat dari bambu dan kertas. Dilengkapi dengan tanaman obat seperti dlingo dan bangle. Ada pula sebutir ubu yang digambari arang dan kapur sirih seperti kepala orang dengan mata melotot lebar. Semuanya diletakkan di kolong tempat tidur ibu nifas dan bayinya selama lima pekan sejak hari kelahiran. Tujuannya agar ibu dan bayinya selamat dari segala gangguan roh jahat dan segala penyakit karena telah disiapsiagakan penangkalnya, yaitu sesaji tersebut. Ini merupakan kesyirikan.

5. Memakai gelang, ikat pinggang, benang dan semacamnya untuk tolak bala. Termasuk hal ini ialah mengikatkan tali di perut bayi atau pergelangan tangannya. Yaitu tali khusus berwarna hitam campur merah yang diikatkan di perut dan tangan bayi, ada yang menyebutnya tali kendit. Tujuannya untuk tolak bala, agar anak tersebut tidak diganggu oleh roh jahat dan agar selamat dari bahaya sakit dan penyakit.

6. Masih pada anak-anak, berupa azimat tolak bala. Berupa secarik kertas yang ditulisi serangkaian huruf Arab namun tak terbaca meski sarat maknamenurut mereka(ada yang menyebutnya rajah). Ditulis pada tengah malam Jumat kliwon lalu dibungkus dengan kain dan semisalnya untuk dipakaikan sebagai kalung. Tujuannya agar anak terhindar dari berbagai penyakit, tidak mudah terkejut, dan lain-lainnya.

7. Azimat serupa dibuat untuk suami atau istri yang mandul. Untuk istri yang mandul, dicarikan pangkal batang pisang sobo dicampur dengan beberapa bahan jamu lainnya untuk diminum. Sedang bagi suami yang mandul, harus puasa selama tujuh hari dengan dibacakan surat Inna anzalnaahu (mungkin maksudnya surat al-Qodarpen.) seribu kali pada malam Jumat, dan ketika hendak berhubungan suami-istri masing-masing harus mengenakan azimat tersebut. Tujuannya agar mendapatkan keturunan.

8. Bagi para pedagang, pemilik toko, kedai, warung dan lain-lainnya, di rumah maupun di luar rumah dibuatlah azimat pelaris. Azimat ditulis di kertas pada malam Kamis Legi atau Senin Legi. Diletakkan di sekitar barang dagangan atau lebih utama di peti tempat uang. Tujuannya agar dagangannya laris terjual.

Dan masih banyak kesyirikan-kesyirikan lainnya yang masih belum kami sebutkan di sini. Semoga dengan mengetahui pokok-pokoknya akan kita ketahui yang lainnya.

Pengaruh jelek maupun baik, mara bahaya maupun kemanfaatan, semuanya Alloh-lah yang mengaturnya. Dia-lah yang menimpakan mara bahaya, Dia pula yang memberi kemanfatan. Tidak ada satu makhluk pun yang kuasa melakukannya selain Alloh semata. Dia azza wajalla berfirman:

Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Alloh. Jika Alloh hendak mendatangkan kemadhorotan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemadhorotan itu? Atau jika Alloh hendak memberi rohmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rohmat-Nya? Katakanlah: “Cukuplah Alloh bagiku.” Kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakal.” (QS. az-Zumar [39]: 38)

Jadi, mara bahaya bukan ditolak oleh hari, bulan maupun tahun tertentu. Bukan pula oleh tumpeng robyong, sesaji, gelang, ikat pinggang, gelang, benang, tali kendit, azimat atau rajah maupun yang lainnya. Semua perkara tersebut tidak memberikan manfaat apa pun, malah sangat besar bahayanya. Sebab mara bahaya terjadi atas kehendak Alloh subhanahu wataala, sehingga tidak ada yang kuasa menolaknya selain diri-Nya azza wajalla. Bila penolakan mara bahaya diminta dari selain-Nya, jelas itu merupakan kesyirikan. Sungguh syirik ialah dosa yang paling berbahaya.

Begitu juga kemanfaatan, tertolaknya mara bahaya, keselamatan, keberuntungan, keberhasilan dan kesuksesan, keturunan atau anak-anak, dan rezeki apapun, semua datangnya hanya dari Alloh azza wajalla semata. Dia-lah yang menyelamatkan dan Dia azza wajalla juga yang memberi rezeki. Firman-Nya azza wajalla:

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Dan tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai di daratan, maka sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. (QS. Luqman [31]: 32)

Dia subhanahu wataala juga berfirman:

Sesungguhnya Alloh, Dia-lah Maha Pemberi Rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. adz-Dzariyat [51]: 58)

Maka, kenalilah kesyirikan agar bisa menghindar darinya, sebagaimana Anda mengenal tauhid guna menunaikannya. Dengan begitu, kita telah berusaha menyelamatkan diri dan keluarga kita dari kekekalan di neraka. Semoga Alloh subhanahu wataala memberikan taufiq-Nya. [Al Ustaz Abu Ammar Abdul Adhim al-Ghoyami/Alghoyami]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2378805/awas-akar-syirik-berasal-dari-rumah-tangga#sthash.Zk0Kegmc.dpuf

Akibat Dosa Besar

Syirik (menyekutukan atau menyelingkuhi Allah SWT) merupakan musuh akidah tauhid, karena bertentangan secara langsung dengan tauhid uluhiyyah (keesaan Dzat Allah), sehingga orang yang menyekutukan Allah berarti membuat tuhan tandingan selain Allah.

Hal ini berakibat fatal, yaitu: rusaknya iman tauhid, karena syirik merupakan dosa paling besar. Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah SWT selama pelakunya (musyrik) tidak bertaubat kepada-Nya.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS an-Nisa’ [4]: 48).

Dosa besar ternyata tidak hanya syirik, melainkan sangat beragam dan hampir pasti sering dilakukan oleh sebagian manusia. Menurut Nabi SAW, ada tujuh macam dosa besar yang dapat membinasakan manusia.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda: “Jauhilah tujuh dosa yang dapat membinasakan. Shahabat bertanya: Apa itu ya Rasulullah? Jawab Nabi SAW: (1) syirik kepada Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali yang hak (dibenarkan), (4) makan harta riba, (5) memakan harta anak yatim, (6) melarikan diri dari peperangan (pengecut), dan (7) menghukum mati para  mukminat yang  baik-baik dengan tuduhan zina” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Disadari atau tidak, sebagian dosa tersebut pernah diperbuat manusia, terutama jika hatinya gelap atau tidak lagi disinari oleh cahaya Ilahi. Jika hati nurani manusia telah terkunci mati, hidupnya akan dijajah oleh hawa nafsu dan godaan setan.

Apabila ketujuh dosa tersebut dilakukan, maka akibatnya, para pendosa besar itu pasti akan binasa, menjadi manusia yang berperilaku liar seperti binatang buas, dan hidupnya sengsara dan tidak bermakna, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ancaman Allah terhadap pendosa besar di akhirat kelak adalah masuk neraka Jahannam.

Di antara faktor penyebab seseorang berbuat dosa besar adalah kurang dan lemahnya iman, kerasnya hati, kuatnya bujuk rayu setan, pengaruh lingkungan pergaulan yang buruk, derasnya arus materialisme, kuatnya iming-iming menjadi kaya dengan jalan pintas, dan minimnya pendidikan agama yang memadai.

Selain itu, dosa besar boleh disebabkan oleh taklid buta, mengikuti kepercayaan nenek moyang yang keliru, seperti dosa syirik yang diperbuat oleh masyarakat Jahiliyah.

Mereka menyembah berhala karena orang tua dan nenek moyang mereka melakukan hal yang sama. Karena itu, pendidikan tauhid harus mampu merubah sikap mental peserta didik untuk tidak taklid buta lagi, dan ditransformasi menjadi ittiba’  (mengikuti ajaran atas dasar pemahaman ilmu pengetahuan) dan sikap tajdid (pembaruan pemikiran).

Namun demikian, sebesar apapun dosa yang dilakukan manusia, Allah itu Maha Pengampun dan Penerima taubat.  Jika pelaku dosa besar ini mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, pasti Allah Swt akan mengampuninya.

Dalam hal ini, Ibn ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada yang disebut dosa besar jika diakhiri dengan istighfar (bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah); dan tidak  yang disebut dosa kecil jika dilakukan secara terus-menerus.” (HR. Ibn Abi ad-Dunya)

Karena itu, jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil; karena jika dibiarkan dan terus-menerus dilakukan, maka dosa kecil itu akan menjadi dosa besar.

Sebaliknya jangan pernah berkecil hati terhadap dosa besar; karena dosa besar ini akan segera mengecil, dan bahkan menjadi nihil, jika pelakukan bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan memohon ampunan Allah Swt, serta berkomitmen untuk tidak pernah mengulanginya lagi.

Pada saat melakukan dosa besar, seseorang boleh jadi bersikap acuh takacuh. Pendosa besar mungkin tidak pernah tahu akan akibat dan konsekuensi logis yang akan dialaminya. Yakinlah bahwa perbuatan dosa, apalagi dosa besar, akibatnya juga besar.

Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Pada saat di dunia, hati pendosa besar akan semakin kelam dan perilaku juga buruk, sedangkan di akhirat nanti, ancaman hukuman siksa neraka pasti tidak akan bisa dihindari, selama sang pendosa tidak bertaubat, kembali ke jalan yang benar dan beristighfar.

Semoga kita termasuk hamba-Nya yang selalu bertaubat, beristighfar, dan memohon pertolongan kepada-Nya, dalam kondisi suka maupun duka, di saat menderita apalagi saat bahagia, untuk tidak sama sekali melakukan dosa besar, karena akibatnya pasti lebih besar: dosa-dosa itu tidak diampuni dan dibalas dengan siksa neraka yang superdahsyat.

 

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

sumber: Republika Online

 

Mengenal Tauhid (Mengesakan Tuhan) dan Syirik (Menyekutukan Tuhan)

Apabila anda belum membaca artikel sebelumnya tentang Konsep Tuhan yang Benar, diharapkan anda membaca artikel tersebut terlebih dahulu agar lebih memahami artikel tentang tauhid ini. Silahkan klik disini untuk membaca artikel tentang Konsep Tuhan yang Benar.

Definisi dan Kategori:

Islam meyakini ‘Tauhid’ yang tidak hanya berarti beriman pada Tuhan yang Maha Esa, melainkan lebih dari itu. Tauhid secara harfiah berarti ‘bersaksi akan ke-Maha Esa-an Tuhan’ yang berarti ‘menegaskan sifat Maha Esa dari Tuhan’ dan berasal dari kata kerja bahasa Arab ‘Wahhada’ yang berarti ‘mengesakan.”

Tauhid dapat dibagi menjadi tiga kategori.

  1. Tauhid ar-Rububiyah
  2. Tauhid al-Asmaa-was-Sifaat
  3. Tauhid al-ibadah.
  1. Tauhid ar-Rububiyah (mengesakan Tuhan)

Kategori pertama adalah ‘Tauhid ar-Rububiyah’. ‘Rububiyah’ berasal dari kata “Rabb” yang berarti Tuhan Yang Maha Memelihara Alam Semesta beserta isinya. Oleh karena itu Tauhid ar-Rububiyah berarti bersaksi akan keesaan Tuhan Semesta Alam. Kategori ini berdasarkan konsep bahwa hanya Allah (swt) yang menciptakan segala hal dari ketiadaan. Dia adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Penjaga alam semesta beserta isinya, tanpa memerlukan apapun dari alam semesta atau mengharapkan sesuatu dari alam semesta.

  1. Tauhid al-Asmaa was-Sifaat (mengesakan nama dan sifat-sifat Allah):

Kategori kedua adalah ‘Tauhid al Asmaa was Sifaat’ yang berarti mengesakan nama dan sifat-sifat Allah. Kategori ini dibagi menjadi lima aspek:

(i) Definisi tentang Allah harus merujuk sebagaimana yang dijelaskan oleh-Nya dan Nabi Muhammad s.a.w. Definisi tentang Allah harus sesuai dengan penjelasan oleh-Nya sendiri dan Rasulullah s.a.w tanpa memberikan makna lain kepada nama dan sifat-sifat-Nya selain yang dijelaskan oleh-Nya dan Nabi Muhammad s.a.w.

(ii) Allah harus disebut sebagaimana Ia menyebut diri-Nya

Allah tidak boleh diberikan nama-nama atau sifat-sifat baru. Misalnya Allah tidak dapat diberi nama Al-Ghaadib (Yang Maha Memurkai), meskipun dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan hadist, Allah murka. Hal ini dikarenakan Allah dan Nabi Muhammad tidak pernah menggunakan nama ini.

(iii) Allah disebut tanpa memberikan-Nya sifat dari makhluk-Nya

Ketika menyebut Tuhan, kita jangan sampai memberikannya sifat-sifat dari ciptaan-Nya. Misalnya dalam Bibel, Tuhan digambarkan menyesali pikiran buruk-Nya sama seperti yang manusia lakukan ketika menyadari kesalahan mereka. Hal ini benar-benar bertentangan dengan prinsip Tauhid. Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan apapun dan oleh karenanya Dia tidak pernah menyesal.

Poin penting berkenaan dengan sifat-sifat Allah ada dalam Al Qur’an di Surat Ash-Syuura

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” [Al-Qur’an 42:11]

Mendengar dan melihat adalah kemampuan yang juga dimiliki manusia. Namun, berkenaan dengan Tuhan, maka penglihatan dan pendengaran Tuhan tidak sama dengan makhluk ciptaan-Nya. Kita tidak bisa membayngkan dan membandingkan penglihatan dan pendengaran Tuhan dalam hal kesempurnaan, tidak seperti manusia yang membutuhkan telinga dan mata, dimana kemampuan penglihatan dan pedengaran manusia juga terbatas dalam hal ruang dan waktu.

(iv) Makhluk Tuhan tidak boleh memakai sifat-sifat-Nya

Menyebut/memanggil manusia dengan sifat-sifat Tuhan juga bertentangan dengan prinsip Tauhid. Misalnya, menyebut seseorang dengan sebutan “dia yang tidak memiliki awal atau akhir (abadi).”

(v) Nama Tuhan tidak dapat diberikan kepada makhluk-Nya

Beberapa nama Tuhan dalam bentuk terbatas, seperti ‘Rauf’ atau ‘Rahim’ adalah nama-nama yang diizinkan untuk manusia sebagaimana Allah telah menggunakan nama-nama itu untuk para nabi; tapi ‘Ar-Rauf’ (Maha Shaleh) dan ‘Ar-Rahim’ (Maha Penyayang) hanya dapat digunakan jika diawali dengan ‘Abdu’ yang berarti ‘hamba.’ Dengan demikian menamai seseorang ‘Abdur-Rauf’ atau ‘Abdur- Raheem’ dibolehkan dalam Islam. Demikian pula ‘Abdur-Rasul’ (hamba Rasulullah) atau ‘Abdun-Nabi’ (hamba Nabi) tidak boleh digunakan.

  1. Tauhid al-ibadah (mengesakan Tuhan dalam Ibadah):

(i) Definisi dan makna ‘Ibadaah’:

‘Tauhid al-ibadah’ berarti mengesakan Tuhan dalam ibadah. Ibaadah berasal dari kata Arab ‘Abd’ yang berarti hamba. Jadi ibadah berarti penghambaan dan penyembahan.

(ii) Ketiga kategori tersebut harus diikuti secara bersamaan.

Hanya mengimani dua kategori Tauhid tanpa menerapkan Tauhid-al-ibadah tidaklah berguna. Al-Qur’an memberikan contoh tentang orang-orang musyrik (penyembah berhala) di zaman Rasulullah yang hanya mengimani dua kategori Tauhid. Hal ini difirmankan dalam Al Qur’an:

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?[Al-Qur’an 10:31]

Pesan yang serupa diulangi dalam Surat Az-Zukhruf dalam Al-Qur’an:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?[Al-Qur’an 43:87]

Orang-orang kafir Mekkah mengetahui bahwa Allah (swt) adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Penguasa mereka. Namun mereka bukan Muslim karena mereka juga menyembah berhala selain Allah. Allah (swt) menyebut mereka sebagai ‘kuffar’ (orang-orang kafir) dan ‘musyrikin’ (penyembah berhala dan orang-orang yang menyekutukan Allah).

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” [Al-Qur’an 12: 106]

Jadi ‘Tauhid al-ibadah’ atau mengesakan Tuhan dalam ibadah adalah aspek yang paling penting dari Tauhid. Hanya Allah (swt) saja yang layak disembah dan hanya Dia yang dapat memberikan manfaat kepada manusia yang menyembah-Nya.

Syirik

  1. Definisi Syirik: menghilangkan salah satu kategori tauhid yang dijelaskan di atas atau tidak memenuhi persyaratan Tauhid disebut sebagai ‘syirik’. ‘Syirik’ secara harfiah berarti menyekutukan. Dalam istilah Islam, syirik berarti menyekutukan Allah dan hal ini setara dengan menyembah berhala.
  1. Syirik adalah dosa terbesar yang tidak akan diampuni Allah:

Al-Qur’an menggambarkan dosa terbesar dalam Surat An-Nisaa’:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [Al-Qur’an 4:48]

Pesan yang sama diulangi dalam ayat berikut:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [Al-Qur’an 4: 116]

  1. syirik menjerumuskan manusia ke dalam api neraka:

Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam (Yesus putra Maria)”, padahal Al Masih (Yesus) sendiri berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allahq, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” [Al-Qur’an 5:72]

  1. Ibadah dan Ketaatan kepada selain Allah:

Allah berfirman dalam Surat Ali ‘Imran:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [Al-Qur’an 3:64]

Allah berfirman:

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Qur’an 31:27]

Analisis tentang Konsep Tuhan dalam berbagai Agama menunjukkan bahwa monoteisme merupakan bagian penting dari setiap agama-agama besar di dunia. Namun, sangat disayangkan sebagian dari penganut agama ini melanggar ajaran kitab suci mereka sendiri dan telah menyekutukan Tuhan.

Dengan menganalisis kitab-kitab suci dari berbagai agama, saya menemukan bahwa semua kitab suci dari berbagai agama menasihati umat manusia untuk beriman dan tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semua kitab suci berbagai agama mengutuk orang yang menyekutukan Tuhan, atau menyembah Tuhan dalam bentuk gambar/berhala. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al-Qur’an 22:73]

Dasar dari agama adalah menerima petunjuk dari Ilahi. Menolak petunjuk dari Tuhan dapat berakibat fatal bagi manusia. Sementara kita telah membuat langkah besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, kedamaian yang sejati masih hilang dari diri kita. Semua paham ‘isme’ seperti ateisme, liberalisme, sosialisme, komunisme, dan lain-lain telah gagal menyediakan kedamaian yang sejati tersebut.

Kitab suci dari berbagai agama-agama besar menasihati umat manusia untuk mengikuti apa yang baik dan menghindari yang jahat. Semua kitab suci mengingatkan umat manusia yang baik akan diberikan hadiah oleh Tuhan dan kejahatan tidak akan luput dari hukuman Tuhan!

Pertanyaan yang perlu kita tanyakan adalah, kitab suci dari agama manakah yang memberikan kita ‘instruksi manual’ yang benar yang kita butuhkan untuk mengatur kehidupan individu dan kolektif kita? Kitab suci agama manakah yang mengajarkan kita tentang keesaan Tuhan dengan benar? Jawabannya adalah agama Islam seperti yang sudah dijelaskan di atas dan pada artikel sebelumnya tentang Konsep Tuhan yang benar dan artikel Kenapa Hanya Boleh Memilih Islam Sementara Semua Agama Mengajarkan Kebenaran?

Saya berharap dan berdoa agar Allah menuntun kita semua menuju Kebenaran (Aamiin).

 

 

 

Ditulis oleh: Dr. Zakir Naik dari irf.net

sumber:Lampu Islam

Parahnya Praktek Syirik Di Masa Kini

Dahulu orang-orang musyrik jahiliyyah di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perbuatan syirik ketika dalam kondisi lapang saja

 

Kesibukan dunia, menjadikan sebagian besar manusia tidak peduli lagi dengan urusan agamanya. Banyak perintah Allah tidak dilaksanakan dan berbagai macam perbuatan kemaksiatan dilakukan. Perbuatan kemaksiatan dengan segala macam bentuknya menjadi hal yang biasa dan lumrah untuk dilakukan. Termasuk juga perbuatan maksiat yang paling bahaya, dosa besar yang paling besar, dan kezaliman yang paling zalim, yaitu perbuatan syirik.

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa kesyirikan akan terus ada pada setiap zaman. Termasuk di zaman kita hidup sekarang ini, berbagai bentuk ritual kesyirikan terjadi dimana-mana. Bahkan kesyirikan hasil tipu daya iblis yang terjadi di masa kini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi di masa jahiliyyah saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Kenapa bisa demikian ? Simak uraian singkat dalam artikel berikut.

Kini, Syirik Terjadi Dalam Uluhiyyah dan Rububiyyah

Orang musyrikin zaman jahiliyyah hanya melakukan kesyirikan dalam masalah uluhiyyah(peribadatan). Mereka tetap mengakui tentang rububiyyah Allah, bahwa hanya Allah saja yang mencipta, memberi rezeki, dan mengatur segala urusan mereka. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (Yunus: 31).

Meskipun kaum musyrikin jahiliyyah menyekutukan Allah dalam ibadah, mereka tetap meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakan mereka dan memberi rezeki serta mengatur urusan mereka.

Lalu bagaimana keadaan musyrikin di zaman sekarang ini? Di antara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut selatan adalah Nyi Roro Kidul. Ada pula yang meyakini bahwa ada Jin sebagai penguasa Gunung Merapi. Ada pula yang meyakini bahwa yang mengatur urusan hasil panen mereka adalah Dewi Sri. Padahal tidak ada seorang pun yang dapat mengatur alam semesta kecuali Allah Ta’ala. Ini adalah hak khusus Allah dalam rububiyyah-Nya.

Dahulu kaum musyrikin masih mending, mereka hanya melakukan kesyirkan dalam uluhiyyah, namun tetap mengakui rububiyyah. Adapun kesyirikan zaman ini, terjadi dalam masalahrububiyyah dan uluhiyyah. Sungguh, betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Allah, Sang Pencipta alam semesta !

Kini, Syirik Terjadi Di Waktu Senang dan Susah

Dahulu orang-orang musyrik jahiliyyah di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perbuatan syirik ketika dalam kondisi lapang saja. Tatkala merkeka dalam kesempitan dan kesusahan, mereka meninggalkan perbuatan syirik dan hanya mentauhidkan Allah. Mereka tinggalkan sesembahan mereka dan hanya berdoa meminta kepada Allah saja. Allah kisahkan tentang kodisi mereka :

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Namun tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (Al Ankabut : 65).

وَإِذَا مَسَّكُمُ الْضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلاَّ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإِنْسَانُ كَفُوراً

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al Isra’:67)

Itulah keadaan musyrikin zaman dahulu. Mereka melakukan kesyrikan tatkala kondisi lapang. Namun tatkala dalam kondisi kesulitan dan kesempitan, mereka hanya berdoa kepada Allah saja.

Bandingkan dengan kodisi musyrikin di masa kini. Perbuatan syirik terjadi setiap saat, baik kondisi senang maupun susah. Ketika kondisi senang, misalnya ada acara pernikahan, hendak membangun rumah, sehabis panen hasil pertanian, mereka melakkan perbuatan syirik dengan memberi sesaji kepada selain Allah. Demikian pula dalam kondisi kesulitan. Tatkala ada musibah bencana, memberikan sesaji kepada selain Allah sebagai tolak bala. Tatkala ada barang yang hilang, meminta bantuan ke paranormal. Tatkala menderita sakit, datang berobat kepada dukun. Demikianlah kondisi musyrikin zaman ini, kesyirikan terjadi saat kondisi senang maupun susah.

Kini, Ahli Maksiat Dijadikan Sesembahan

Objek sesembahan kaum muyirkin zaman dahulu lebih mending daripada kaum musyrikin zaman ini. Kaum musyrikin zaman dulu menyembah Nabi, malaikat dan orang-orang shalih. Sebagian dari mereka ada juga yang menjadikan benda-benda mati sebagai sesembahan seperti matahari, bulan. batu, pohon, dan berhala. Benda-benda tersebut adalah benda mati, yang notabene tidak pernah bermaksiat kepada Allah.

Bagaimana dengan sesembahan musyrikin zaman ini? Adapun musyrikin zaman ini, banyak di antara mereka menjadikan kuburan orang-orang ahli maksiat sebagai sesembahan. Banyak orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen. Dikisahkan bahwa mereka berdua adalah seorang anak dan ibu tiri (permaisuri raja) dari kerajaan Majapahit yang berzina, kemudian mereka diusir dari kerajaan dan menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat terkabul jika melakukan perbuatan zina seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya. Sehingga sebagai syarat mendapatkan keberkahan diharuskan berzina terkebih dulu.

Lihatlah, betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal daripada orang-orang musyrik sekarang ini. Sesembahan mereka adalah makhluk yang mulia, atau minimal benda-benda mati yang tidak pernah berbuat maksiat kepada Allah. Adapun musyrikin zaman ini, orang-orang yang sudah jelas ahli maksiat di masa hidupnya, kuburannya dijadikan sesembahan selain Allah. Allahul musta’an.

Bentengi Diri Dengan Tauhid

Pembaca yang dirahmati Allah, sungguh fenomena kesyirikan telah merebak di sekitar kita. Dari kesyirikan yang tersembunyi sampai bentuk yang paling dhohir, baik itu syirik besar maupun syirik kecil. Di kota hingga pelosok desa marak dengan kegiatan syirik. Kesyirikan di zaman ini tidak mengenal waktu, baik siang maupun malam, baik dalam kondisi susah maupun senang. Media yang beredar juga tak ketinggalan menawarkan berbagai bentuk kesyirikan. Bahkan para cendekiawan muslim yang dianggap tokoh agama pun ikut andil dalam mendakwahkan kesyirikan.

Wahai saudaraku, hati ini sangat lemah.  Sungguh, dengan fenomena tersebut, hati kita memiliki kecenderungan untuk jatuh ke dalam perbuatan syirik. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali membentengi diri kita dengan ilmu tauhid yang benar dan berusaha untuk mempelajari kesyirikan agar kita dapat menjauhinya. Usaha doa pun harus senatiasa kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan kita di atas jalan tauhid sampai ajal menjemput kita.

Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

***

Sumber bacaan : Syarh Al Qawaidul Arba’ karya Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah

Penulis : dr. Adika Mianoki

Artikel Muslim.or.id