Wahai Muslimah! Suamimu Surgamu atau Nerakamu?

Alloh SWT menciptakan manusia tidak lain supaya beribadah kepada-Nya serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Maka sudah menjadi keadilan Alloh telah menciptakan surga dan neraka sebagai imbalan bagi manusia sebagai imbalan atas amal perbuatannya saat di dunia.

Tentunya sahabat Muslimah semuanya mendambakan surga sebagai tempat kembali. Namun untuk menuju surga kita mesti pandai menitinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Disisi lain, kita tentunya juga berpikir dari sisi manakah kita akan mendapatkan surga tersebut. Dibalik kekhawatiran atas kemampuan mendapatkan surga di akhirat, sebagai muslimah kita tentunya harus selalu berikhtiyar dan berpikir. Sehingga kita bermuhasabah dan senantiasa meningkatkan kebaikan menjadi sifat dan karakter muslimah. Yakinlah… sesungguhnya selalu berusaha dan terus berdo’a semoga kita mampu menggapainya.

Salah satu sisi yang tidak bisa kita hindarkan adalah kedudukan kita sebagai istri. Dari kedudukan sebagai istri ini kita menyadari diri bahwa memiliki pemimpin yang bernama suami. Lewat pintu RIDHO suamilah salah satu jalan pintu surganya seorang istri.  Rasululloh SAW bersabda:

Artinya: “Dari Hushain bin Mihshan ia berkata: Bibiku bercerita kepadaku, ‘Aku pernah datang kepada Rasululloh untuk suatu keperluan, maka beliau bersabda:’ Wahai fulanah sudah bersuamikah kamu?’ Sudah jawabku. Beliau bersabda lagi “Bagaimana kewajibanmu terhadap suamimu?” Aku menjawab: “Aku melayaninya dengan sungguh-sungguh kecuali dalam hal yang aku tidak mampu” Beliau bersabda lagi:”Bagaimana kedudukanmu darinya? Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu” ( H.R Hakim).

Sahabat Muslimah….

Dari hadits di atas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa seorang wanita yang telah menikah sesungguhnya wajib baginya melayani suami sesuai dengan kemampuan. Karena sesungguhnya surga atau neraka seorang istri melekat padanya. Makna melekat disini maksudnya bahwa surga atau nerakanya seorang istri sangatlah tergantung pada akhlaq dan pelayanan kepada suami.

Maka haruslah difahami sahabat muslimah. Dikala seorang muslimah belum menikah, ketaatannya jatuh pada Ibu dan Bapaknya dan bila sudah menikah maka ketaatannya jatuh kepada suami. Maka bila sahabat muslimah telah menikah haruslah berusaha mencari ridho suaminya dalam melaksanakan segala yang diinginkannya selama tidak bertentangan dengan syari’at. Semakin banyak amalan yang dikerjakan seorang istri dalam rangka menjalankan ketaatan kepada suaminya maka semakin banyak pula pahala yang akan dia dapatkan, apabila ia menjalankannya dengan penuh keikhlasan sebagai seorang istri.

Ketaatan dalam menjalankan segala perintah suami ini meliputi pada dhohir jasad maupun hati. Dalam artian ketaatan seorang istri berhubungan dengan wujud dhohir dalam bentuk pakaian, perilaku, bahkan cara berdandandan yang terpenting adalah gaya bicara. Ketaatan ini juga menjangkau sampai pada urusan hati yang berhubungan dengan kesukaan. Umpama warna favorit, tingkat kepedasan makanan dan yang lain sebagainya. Sadarilah bahwa suami adalah pemimpin kita.

Ada kisah seorang isteri dizaman Rosulullah SAW yang diwasiyati oleh suaminya agar tidak meninggalkan rumah selama suaminya melakukan safar/perjalanan keluar. Walau apapun yang terjadi. Kemudian datang kabar pada isteri tersebut bahwa ibunya sakit parah. Hingga datang kabar yang ketiga kalinya dengan memberi kabar bahwa ibunya telah wafat. Ia teringat dengan pesan suami, karena ketaatannya wanita tersebut pun hanya mengucapkan “Innalillahi wa Inna ilaihi roojiuun”.

Sahabat Muslimah….

Mari kita tengok sekilas potret seorang shohabiyah juga putri Rasululloh yaitu Fathimah Az Zahra. Perkataan ini berasal dari suaminya Fathimah yaitu Ali Radhiallohu ‘anhu:

“Fathimah menjalankan alat penggilingan sampai terlihat bekas penggilingan pada tangannya (ngapal) Jawa, ia mencari air dengan geriba sampai ada bekas geriba di lehernya, ia membersihkan rumah sampai bajunya penuh debu, ia menyalakan tungku api sampai pakaiannya kotor dan terkena musibah karenanya dan sungguh Fathimah menggiling adonan sampai tangannya melepuh”.

Subhanallah…

Inilah gambaran seorang istri yang bisa meraih impian menjadi bidadari bagi suaminya di dunia maupun di akherat. Lalu bagaimana dengan kita sahabat Muslimah?

Saat ini di zaman modern teghnologi semakin canggih butuh air tinggal pencet, menanak nasi tinggal pencet, memasak tinggal pencet. Semua serba mudah namun sudahkah kita bersyukur atas semua fasilitas yang ada atau justru kita malah semakin menjadi seorang yang manja, pemalas lebih menyibukkan dengan hal-hal yang tidak penting, na’udzubillah min dzalik.

Sahabat Muslimah…

Semoga kita sebagai seorang wanita yang mampu menjadi istri yang benar-benar menjadi idaman bagi setiap keluarga, yang mampu meraih ridho suami tuk menggapai ridho Alloh dan mendapatkan surga sebagai balasan apa yang kita upayakan. Wallohua’lam bisshowab.

Sumber: VOA Islam