Bolehkah Ejakulasi di Luar Rahim Agar tak Hamil?

DALAM literatur fiqh Islam, istilah Azl diartikan sebagai tindakan suami mencabut kemaluan dalam berhubungan ketika mendekati ejakulasi dan mengeluarkan sperma di luar rahim agar tidak terjadi pembuahan. Bagaimana hukumnya dalam Islam?

Secara hukum setidaknya ada empat pandangan berbeda menyikapi masalah Azl ini:

1. Boleh secara mutlak

Pendapat ini dilansir oleh kalangan Syafiiyyah dengan berdasarkan hadits Shahih yang diriwayatkan dari Jabir radhiallahu ‘anha:

“Kami melakukan Azl dimasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara Alquran turun, jika saja hal itu larangan niscaya Alquran akan melarang kami melakukannya,” (Mutafaq Alaih/Sunan Ibnu Maajah Vol 1 Hal 620),

“Kami melakukan `azl pada masa Rasulullah. Kabar tersebut sampai kepada beliau, tetapi beliau tidak melarangnya,” (HR Muslim).

Akan tetapi menurut An-Nawawy (Ulama Syafiiyyah) dalam Syarh Muslim menegaskan apabila Azl dilakukan demi menghindari kehamilan hukumnya makruh secara mutlak baik ada kerelaan pihak istri atau tidak karena tindakan Azl dianggap memutus keturunan.

2. Makruh apabila ada hajat

Pernyataan ini dipegang oleh kalangan Hanabilah dengan dasar beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Umair dan Ibnu Umair yang membenci Azl karena dapat mengurangi jumlah keturunan yang dianjurkan syara Sabda Rasulullah “Menikahlah kalian dan memperbanyak keturunan”

3. Boleh apabila ada kerelaan Istri

Pendapat ini dari Imam Ahmad berdasarkan sebuah hadis dari Umair yang diriwayatkan Ibnu Majah:

Dari Umar ibn al-Khattab berkata: “Nabi melarang perbuatan `azl terhadap wanita merdeka kecuali seizinnya”. (HR Ibnu Maajah Vol 1 Hal 620)

Perlunya kerelaan dari pihak istri ini dikarenakan istri memiliki Hak atas anak sehingga dengan tindakan Azl akan menghilangkan haknya namun apabila istri memberikan memberikan izin hukumnya tidak makruh.

4. Haram

Pendapat ini dilansir oleh kalangan Dhohiriyyah dengan tendensi hadits yang diriwayatkan dari Judzamah:

“Sesungguhnya para shahabat bertanya tentang Azl, Nabi menjawab hal itu adalah pembunuhan anak dengan samar” (HR. Muslim)

[Sumber: Nihaayah Almuhtaaj Vol 7 Hal 137, Almughny Ibnu Qudaamah Vol 5 Hal 41]

 

 

3 Hal Harus Dihindari Saat Suami Istri Bertengkar

BERTENGKAR adalah hal yang lumrah dalam berumah tangga. Bertengkar boleh saja, asal kedua pihak bisa bersikap dewasa. Bahkan, kadang bertengkar bisa menumbuhkan saling pengertian dan rasa kasih sayang, sesudahnya.

Namun, ada tiga hal yang harus dihindari saat bertengkar. Apa saja?

Hindari KDRT. Dalam Alquran Allah membolehkan seorang suami untuk memukul istrinya ketika sang istri membangkang. Sebagaimana firman Allah di surat An-Nisa:

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan tidak tunduk, nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya..(QS. An-Nisa: 34)

Namun perintah memukul ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan batasan yaitu,

1. Tidak boleh di daerah kepala, sebagaimana sabda beliau, “jangan memukul wajah.”

2. Tidak boleh menyakitkan. Batasan ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam khutbah beliau ketika di Arafah.

“Jika istri kalian melakukan pelanggaran itu, maka pukullah dia dengan pukulan yang tidak menyakitkan.”(HR. Muslim 1218)

Atha bin Abi Rabah pernah bertanya kepada Ibnu Abbas,
“Saya pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa maksud pukulan yang tidak menyakititkan?’ Beliau menjawab, “Pukulan dengan kayu siwak (sikat gigi) atau semacamnya.” (HR. At-Thabari dalam tafsirnya, 8/314).

Tetapi, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang hebat bukahlah orang yang sering menang dalam perkelahian. Namun orang hebat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika marah.” (HR. Bukhari 6114 dan Muslim 2609).

Dan jangan lupa, Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah memukul wanita maupun budak dengan tangan beliau sedikitpun. Padahal beliau berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim 2328).

Hindari Caci-maki

Siapapun kita, tidak akan bersedia ketika dicaci maki. Karena itulah, syariat hanya membolehkan hal ini dalam satu keadaan, yaitu ketika seseorang dizalimi. Syariat membolehkan orang yang didzalimi itu untuk membalas kedzalimannya dalam bentuk cacian atau makian.

Allah berfirman, “Allah tidak menyukai Ucapan buruk (caci maki), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya.”(An-Nisa: 148)

Karena itulah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menasihatkan jangan sampai seseorang mencaci pasangannya. Apalagi membawa-bawa nama keluarga atau orangtua, yang umumnya bukan bagian dari masalah.

Beliau bersabda, “Jangan kamu menjelekannya”

Dalam Syarh Sunan Abu Daud dinyatakan, “Jangan kamu ucapkan kalimat yang menjelekkan dia, jangan mencacinya, dan jangan doakan keburukan untuknya..” (Aunul Mabud Syarh Sunan Abu Daud, 6/127).

Allah berfirman, “Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS. Al-Ahzab: 58)

Jaga Rahasia Keluarga

Bagian ini penting untuk kita perhatikan. Hal yang perlu disadari bagi orang yang sudah keluarganya, jadikan masalah keluarga sebagai rahasia anda berdua. Karena ketika masalah itu tidak melibatkan banyak pihak, akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Terkait tujuan ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menasihatkan, “Jangan kamu boikot istrimu kecuali di rumah”

Ketika suami harus mengambil langkah memboikot istri karena masalah tertentu, jangan sampai boikot ini tersebar keluar sehingga diketahui banyak orang. Sekalipun suami istri sedang panas emosinya, namun ketika di luar, harus menampakkan seolah tidak ada masalah. Kecuali jika anda melaporkan kepada pihak yang berwenang, dalam rangka dilakukan perbaikan. Wallahu alam. []

Wahai Para Suami, Ingatlah Tujuan Pernikahan

Pejamkan kedua matamu, renungkan dan lihatlah siapakah sebenarnya dirimu! Matamu saja tidak cukup untuk melihat siapakah kamu sebenarnya, tetapi butuh bantuan mata mata yang lain; mata orang lain, perspektif syari’at, ajaran agama dan pengalaman bangsa-bangsa lain.

Ingat, mata-mata manusia selalu tertuju padamu dan berharap banyak kepada peranmu. Dalam sebuah syair disebutkan,

Hati-hati manusia haus dahaga

Dan hanya di jari-jemarimu kesegaran mereka

Mata-mata manusia letih dan nanar

Dan kamulah tidur nyenyak dan impian mereka

Dalam kehidupan ini, kamu tidak sendirian. Di sana banyak orang yang digariskan oleh Allah berada dalam kekuasaanmu. Dalam genggaman tanganmu terdapat wewenang mutlak karena kamu pantas memikul tanggung jawab yang diberikan Allah kepadamu. Jadi, kamu adalah harapan semua kalangan ketika kamu benar-benar menjadi laki-laki hebat. Oleh karena itu, sekarang buang semua hal yang ada dalam telapak tanganmu.

Apakah kamu mengetahui tujuan pernikahan? Pernikahan adalah terbentuknya suatu keluarga dengan misi-misi agung. Misi-misi tersebut antara lain adalah:

1. Pernikahan adalah suatu proses menuju jiwa dan raga yang paripurna.

Orang yang hidupnya membujang, maka pada hakikatnya ia dalam kekurangan; baik secara psikologi, nalar, dan kedewasaannya. Orang yang memiliki perasaan dan kepekaan yang tinggi serta memiliki pandangan mendalam adalah orang yang mampu membedakan antara orang yang telah menikah dan bujangan.

Perbedaan itu dapat diketahui, baik dari bicara, alur berpikir, kematangan, dan keharmonisan pergaulannya.

2. Lahirnya generasi yang menjunjung tinggi martabatmu di dunia dan di akhirat, memberi aroma kebahagiaan dalam hidupmu, mendoakanmu pasca-kematianmu dan lahirnya keturunan dengan cara yang benar dan selamat.

Umar bin Khathab berkata,

“Sungguh saya selalu memaksa diri saya untuk bercampur dengan istriku dengan harapan semoga Allah memberiku keturunan yang senantiasa bertasbih dan ingat kepada-Nya.”

3. Menjaga wanita yang berada dalam dekapan tanganmu dan menjadi curahan kasih sayangmu.

Karena pada saat itu, dua jenis manusia bertemu atas dasar cinta, saling menghormati, kesamaan fitrah yang dapat mewujudkan kepuasan dan berujung pada terciptanya kasih sayang dan keseimbangan antara fitrah dan kehidupan.

Dengan demikian, sempurnalah penjagaan diri mereka berdua secara lahir dan batin, kemudian bermunculanlah generasi unggul yang dapat memakmurkan dan menyemarakan bumi Allah.

Dengan pernikahan, kamu berhak mendapat panggilan mulia dari Allah dengan disaksikan semua makhluk kelak di hari kiamat,

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” (QS. Al-Zuhruf: 70).

Pemahaman manusia tentang pernikahan sangat beragam; ada yang menikah karena faktor kebutuhan, ada yang karena motif kemaslahatan, ada juga yang hanya karena mengikuti tradisi yang berlaku, dan ada pula yang tidak memiliki motif sama sekali di balik pernikahannya. Allah berfirman,

قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ

setiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. (QS. Al-A’raf: 160).

Oleh karena itu, hendaknya para suami mengingat kembali misi dan tujuan pernikahan. Demikian dikutip dari karya Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Dawud dalam buku Kado Pernikahan.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Kewajiban Muslimah Terhadap Suaminya

Ikatan pernikahan sangat dimuliakan dalam Islam, menjaga dengan pagar yang kokoh serta menjadikannya salah satu tanda kebesaranNya.

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dun dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang…” (Ar-Rum: 21)

Suatu kalimat sederhana, yang dengannya Allah menghalalkan berbagai perkara yang sebelumnya haram bagi mereka berdua. Kemudian tumbuh rasa saling memahami antara suami dan istri dalam menjalani roda kehidupan. Inilah yang menguatkan ikatan pernikahan yang dengan ikatan ini akan lestari keturunan anak manusia dan akan terjadi proses pergantian generasi.

Rasulullah SAW bersabda, ”Pilihlah (wanita) untuk (tempat) nuthfahmu, nikahkanlah (mereka) yang kufu, dan nikahkanlah (para wanita) dengan mereka.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini umum, mencakup pilihan pria atas wanita dan pilihan wanita atas pria. Karenanya, syariat mewajibkan persetujuan bagi wanita berakal dan telah balig. Jika dia tidak memberi persetujuan dan tidak ridha dinikahi, dia boleh memilih. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Al-Khansa binti Khidam.Masalahnya bahkan lebih dari itu.

Kisah Barirah ketika dia telah dimerdekakan dan suaminya masih berstatus sebagai budak. Barirah memilih untuk berpisah dengan suaminya karena tidak suka kepada suaminya, Rasulullah pun tidak memaksanya, meski suaminya sangat mencintainya. (HR Bukhari).

Wanita bebas memilih, tetapi siapakah yang layak dia pilih?

Seorang muslimah hendaknya mengutamakan orang yang beragama dan berakhlak mulia daripada yang lainnya. Begitu pula dirinya yang juga dipilih-oleh calon suami-karena kekayaannya, kecantikannya, keturunannya, dan agamanya. Ujung-ujungnya, yang beruntung ialah yang memilih wanita karena agamanya. Demikian juga bagi wanita, dia akan beruntung jika memilih pria yang beragama.

Nabi bersabda:

“Jika seorang laki-laki yang kau ridhai agama dan akhlaknya melamar (anak perempuan)mu maka nikahkanlah dia. Jika tidak, akan timbul fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR Ibnu Majah).

Seorang muslimah senantiasa menaati suaminya selama suaminya itu tidak bermaksiat kepada Allah. Nabi menjelaskan dalam sabdanya.

“Sekiranya aku (boleh) menyuruh seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya kusuruh para istri untuk bersujud kepada suami-suami mereka.” (HR Ibnu Majah).

Di dalam ajaran Nabi Muhammad SAW, sujud hanya boleh dilakukan kepada Allah. Hadits ini menerangkan kedudukan dan derajat seorang suami, sampai-sampai Rasulullah menjadikannya sebagai jalan surga dan neraka bagi seorang istri.

Beliau juga menjelaskan bahwa melayani suami dengan baik, setara dengan nilai jihad fii sabilillah.

Sungguh bentuk ketaatan paling utama dari seorang istri salihah kepada suaminya dan merupakan bentuk baktinya kepada suaminya ialah hendaknya dia memenuhi berbagai keinginan suami, seperti yang telah disyariatkan. Yaitu hak untuk menikmati kehidupan bersuami-istri dengan utuh dan sempurna serta bergaul dengannya secara baik karena memang inilah tujuan pokok pernikahan.

Seorang istri salihah hendaknya memerhatikan kegemaran suami dalam hal makanan, pakaian, ziarah, obrolan, dan semua yang terlihat dalam kesehariannya. Apabila setiap istri memenuhi keinginan suami maka kehidupan mereka akan semakin bahagia, tenteram, dan penuh kedamaian. Namun, jika sang istri durhaka kepada suaminya dan tidak memenuhi haknya maka sang istri berada dalam laknat Allah dan Malaikat sehingga suaminya meridhainya.

Puasa sunnah bahkan tidak boleh dilakukan seorang istri jika dia sedang bersama suaminya, kecuali dengan izin suami.

Seorang istri salihah juga diperintah untuk tidak berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta (jika suaminya bakhil) dari batasan yang sewajarnya. Nabi bersabda, “Ambillah secukupnya untukmu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR Bukhari).

Istri shalihah juga bertanggung jawab mendidik dan mengatur perabot rumah agar menjadi tempat tinggal yang nyaman dan tenteram.

Nabi bersabda, “Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari).

Tabiat yang dituntut dari seorang istri agar hidup bersama dengan kehidupan yang mulia, tercermin dalam sifat menerima apa adanya (qanaah), mau mendengar (sam’u) dan taat (tha’ah), menjaga kebersihan lahir batin, mengatur waktu makan, menjaga ketenangan saat istirahat, menjaga harta, menjaga rahasia dan menaati perintah suami.

Apabila seorang istri memenuhi kriteria di atas pasti Allah SWT dan ridha suaminya akan diperolehnya. Adapun salah satu cara mengambil hati suami adalah dengan memuliakan dan menghormati orangtua dan saudaranya.

Wallahua’lam.

[@paramuda/BersamaDakwah]

Pasutri Jemaah Haji di Imbau Tidak Bercampur Dalam Satu kamar

Makkah (PHU)—Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi meminta pasangan suami istri jemaah haji untuk tidak bergabung satu kamar hotel. Pasutri itu harus menempati kamar-kamar yang sudah ditentukan PPIH Arab Saudi.

Imbauan itu disampaikan Kepala Seksi Akomodasi PPIH Daerah Kerja Makkah Ihsan Faisal saat ditemui di Daker Syisyah pada Kamis (09/08).

“Jamaah haji dilarang bercampur dengan lain jenis di kamar pemondokan. Mereka harus menempati kamar-kamar yang sudah ditentukan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi,” tegas Ihsan.

Kebijakan ini, kata ihsan bukan dibuat oleh pemerintah Indonesia saja, tapi juga termasuk dalam Ta’limatul Haj (peraturan) dari Pemerintah Arab Saudi. Ihsan juga meminta kepada seluruh jemaah haji mengindahkan peraturan tersebut.

“Kebijakan itu bukan hanya dari pemerintah Indonesia, tapi juga Pemerintah Saudi. Ta’limatul Hajj mengatakan demikian,” katanya.

Pihaknya sampai saat ini belum mendapatkan laporan jemaah lelaki dan perempuan yang bercampur dalam satu kamar. Jika jemaah melanggarnya, maka petugas haji akan memberikan teguran dan mengarahkan mereka ke kamar masing-masing. Hal sama juga dilakukan pengawas haji dari Pemerintah Arab Saudi dan Muassasah ketika meninjau hotel jemaah.

Larangan bercampur ini dimaksudkan untuk menjaga muruah (harga diri) jemaah haji selama berada di Tanah Suci. Lagi pula, kata Ihsan, satu kamar terdiri dari empat sampai enam orang. PPIH tidak mungkin menempatkan enam orang berbeda jenis kelamin dalam satu kamar.

Keterbatasan tempat juga menjadi alasan lainnya. Banyak jamaah haji dari berbagai negara berdatangan ke Tanah Suci. Mereka tinggal di berbagai hotel dengan menaati taklimatul hajj yang dikeluarkan Pemerintah Saudi.

“Taklimatul hajj menjadi rujukan penyelenggara haji dari berbagai negara. Pemerintah Saudi membuatnya untuk kemaslahatan dan kelancaran pelaksanaan haji di Tanah Suci,” imbuhnya.

Meski dilarang bercampur, jemaah tak kehilangan akal. Ada sepasang jamaah haji yang izin kepada petugas sektor untuk menginap di sejumlah hotel mewah dekat Masjid al-Haram. Di sana mereka beristirahat beberapa malam. Setelah itu kembali ke hotel yang sudah ditentukan PPIH untuk bersiap menghadapi puncak haji.

Kementerian Agama (Kemenag) telah menyiapkan 165 hotel dengan 54 ribu kamar bagi jamaah Indonesia selama di Makkah pada musim haji 1439H/2018M. Semuanya tersebar di tujuh wilayah: Jarwal, Misfalah, Raudhah, Mahbas Jin, Syisyah, Aziziah, Rei Bakhsy. Jarak terjauh mencapai 4.390 meter dan yang terdekat 900 meter.

Sebanyak 16 hotel di antaranya disewa secara tahun jamak (multiyears) selama tiga tahun. Tidak banyak pemilik yang menawarkan hotel untuk disewa multi years. Sebab, mereka ingin mendapat keuntungan lebih.(mch/ha)

Diaper untuk Sang Suami dan Rahasia Berkah

Ustaz Amru biasa dipanggil namanya. Ia mengalami sebuah kejadian yang tak disangka. Kecelakaan. Kecelakaan tunggal karena menghindari lubang jalan raya. Ia dalam perjalanan khidmat untuk dakwah.

Motorik saraf bagian belakang putus.

Kencing sudah tidak lagi terasa. Harus menggunakan kateter. Kateter Atau Catheter adalah sebuah tabung yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk mengeluarkan atau memasukkan cairan ke dalam rongga tubuh. Paling umum, kateter dimasukkan melalui uretra ke kandung kemih untuk mengalirkan urin.

Ia harus menggunakan diaper. Hidupnya banyak di tempat tidur atau di atas kursi roda.

Usianya masih terbilang muda dan sedang berada di usia produktif.

Ketika teman-teman atau kerabat berkunjung, tak ada sama sekali guratan kesedihan atau keluhan padanya. Ia tetap bercerita tentang kecelakaan secara detail tapi dia tidak pernah menangis atau sekadar berkaca-kaca sekalipun.

Justru ia malah mengatakan, “Bahkan jika Allah mencabut kakiku, setidaknya saya masih punya hati untuk beribadah kepada Allah.”

Istrinya tak kalah hebat. Ia rajin mengganti diapers dan kateter setiap waktunya. Mereka tetap hidup dalam cinta meski belum dikaruniai seorang anak. Sang suami sudah tidak bisa memberikan nafkah batin.

Lihatlah, betapa barokahnya hidup mereka berdua. Tetap mensyukuri keadaan dan menikmati episode yang diberikan oleh Allah.

Ubay bin Ka’ab RA, merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW. Ia mendengar hadits soal sakit demam. “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka”. (HR. Al-Bazzar, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash Shohihah no. 1821).

Ia pun pulang dan mengangkat tangan. “Ya Allah, berikanlah aku penyakit demam Ya Allah. Jika penyakit demam itu bisa menggugurkan dosaku.”

Permohonan Ubay bin Ka’ab dikabulkan oleh Allah SWT. secara kontan. Ia pun sakit demam. Dari sore hingga pagi.

Bukan berarti kita harus meminta sakit kepada Allah SWT. Akan tetapi bagaimana ketika sakit kita makin dekat sama Allah.

Sakit bukan penghalang untuk mendekat kepada Allah. Justru di situlah keberkahan terletak. Sakit itu berkah jika membuat kita makin dekat dengan Allah. Sehat yang tidak membuat taat, bukanlah nikmat yang barokah.

Kita kerap mengartikan barokah dengan apa yang disenangi jiwa kita. Kesenangan pribadi. Padahal tidak demikian. Kondisi yang makin bertambah kebaikan atau berkurangnya “nikmat” tapi makin bikin hati tenang dan dekat dengan Allah SWT. Semoga kita senantiasa dinaungi keberkahan.

BERSAMA DAKWAH

Kenapa Laki-Laki Pemimpin bagi Wanita?

ALLAH Taala berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisaa : 34)

Laki-Laki adalah Pemimpin bagi Wanita

Yang dimaksud adalah laki-laki sebagai pemimpin bisa memaksakan orang dalam rumah untuk menjalankan kewajiban kepada Allah, dan melarang mereka dari larangan Allah. Juga dinyatakan sebagai pemimpin karena laki-laki bertanggungjawab memberikan nafkah kepada istri berupa pakaian dan tempat tinggal.

Apa sebab sampai laki-laki dikatakan sebagai pemimpin? Sebab pertama, karena laki-laki telah dilebihkan dari perempuan. Dilebihkan di sini dalam beberapa hal:
– Dalam masalah kepemimpinan hanya laki-laki yang berhak.
– Kenabian dan kerasulan hanya diberikan kepada laki-laki.
– Ibadah-ibadah dipimpin oleh laki-laki seperti ibadah jihad, shalat ied, dan shalat Jumat.
– Dalam hal berpikir dan kesabaran, laki-laki lebih unggul daripada perempuan.

Sebab kedua, karena laki-laki yang bertanggungjawab memberikan nafkah kepada para istri.

 

INILAH MOZAIK

Cara Hubungan Intim yang Memuaskan dan Berpahala

SEMUA hal yang mengikuti syariah Islam akan membawa kebaikan, termasuk ketika akan melakukan hubungan suami-istri dengan pasangan. Tidak hanya mendapatkan kepuasan biologis, tetapi juga pahala dari kegiatan tesebut.

Menurut ajaran Islam, sangat dianjurkan untuk pasangan suami-istri sebelum melakukan hubungan suami-istri adalah melakukan foreplay (pemanasan). Rasulullah SAW bersabda bahwa jangan terburu-buru melakukan hubungan suami-istri sebagaimana hewan, melainkan perlahan-lahan sampai kedua pasangan siap.

Pemanasan yang dimaksud adalah melakukan sentuhan-sentuhan di bagian sensitif, membicarakan sesuatu, dsb.

Hubungan suami-istri tanpa disertai pemanasan sama halnya dengan kekejaman. Ada tiga golongan orang yang kejam, salah satunya adalah orang yang bercinta dengan istri tanpa melakukan foreplay.

Untuk itu, mintalah pada suami untuk melakukan foreplay sebelum bercinta jika dia meminta langsung pada menu utama.

Tujuan utama melakukan foreplay sebelum berhubungan suami-istri adalah kenikmatan dan kepuasan kedua pasangan. Terlebih jika pasangan tersebut melakukannya saat malam pertama.

Seorang istri atau suami pasti akan merasa malu-malu. Untuk itu sangat dianjurkan untuk foreplay. Foreplay akan membantu kamu dan pasangan kamu merasa rileks dan menghilangkan tegang saat sebelum menyantap menu utama.

 

INILAH MOZAIK

Zina Hati bagi Pasangan Suami Istri

DARI Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas menjelaskan kepada kita hakikat zina hati yang dilakukan manusia. Membayangkan melakukan sesuatu yang haram, yang membangkitkan syahwat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sejenis, itulah zina hati. Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam riwayat yang lain bersabda: “Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)

Bagaimana jika yang dibayangkan adalah suami atau istrinya? Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan, “Jika seseorang membayangkan melakukan hubungan dengan suaminya atau istrinya maka tidak masalah. Karena pada asalnya dia dibolehkan untuk bersentuhan, melihat tubuhnya. Sementara membayangkan jelas lebih ringan dibanding itu semua, namun jika yang dibayangkan adalah selain suami atau istri, hukumnya terlarang.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih, no. 72166)

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Tiga Resep Agar Suami tidak Selingkuh

DI ANTARA resep menggapai sakinah, mawaddah wa rahmah dan agar suami tidak berselingkuh hendaklah para istri memperhatikan tiga hal dari para suami mereka, yaitu mata, perut dan kemaluan.

1. Mata
Istri harus pandai berdandan dan selalu berusaha tampil menyenangkan suami, jangan sampai mata suami melihat yang tidak menyenangkan dari isteri.

2. Perut
Istri berupaya membuatkan makanan kesukaan atau permintaan suami dan jangan sampai di rumah tidak ada makanan.

3. Kemaluan
Istri berusaha tampil seksi dalam berpakaian, mesra, romantis dan memuaskan syahwat suami.

Jika para istri telah melakukan tiga resep di atas insya Allah suami tidak akan pernah berselingkuh walau digoda oleh wanita tercantik dan terseksi di dunia.

Selamat mencoba dan semoga sukses, sehidup sesurga, aamiin. [kajianislam]

 

INILAH MOZAIK

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!