Suami Dilarang Mencari-cari Aib Istrinya

DALAM suatu hadits riwayat al Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahualaihi wasalam melarang laki-laki yang bepergian dalam waktu yang lama, pulang menemui keluarganya di waktu malam. Hal itu karena dikhawatirkan laki-laki tersebut akan mendapati berbagai kekurangan dan cela istrinya.

Dan barangsiapa mencari-cari aib saudara sesama muslim, Allah akan mencari-cari aibnya. Barangsiapa dicari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun dia berada di ruang tersembunyi dalam rumahnya.

Dan ingatlah sabda Rasulullah shalallahualaihi wasalam,

“Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.” (HR Muslim)

“dan orang orang yang menuduh istri mereka berzina, padahal mereka tidak mempunyai saksi saksi selain diri mereka sendiri, maka kesaksian satu orang dari mereka adalah bersumpah empat kalli dengan nama Allah bahwa sesungguhnya dia adalah termasuk orang orang yang benar (dalam tuduhannya) dan kelima kalinya (ia mengucapkan) bahwa laknat Allah akan menimpa dirinya jika ternyata ia tergolong orang orang yang berdusta.” (QS An-Nuur:6-7)

Ayat tersebut memberi ketentuan untuk melindungi istri dari tuduhan suami. Karena tuduhan itu dapat merusak kehormatan dan harga diri istri. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengaturan ketat agar suami tidak sembarangan menuduh istrinya berzina tanpa bukti yang dipertanggung jawabkan menurut syariat Islam.

Dari muawiyah Al-Qusrayiri, ia berkata: “Saya pernah datang kepada Rasulullah.” Ia berkata lagi: “Saya lalu bertanya: Ya Rasulullah, apa saja yang engkau perintahkan (untuk kami perbuat) terhadap istri-istri kami?’ Beliau bersabda: janganlah kalian memukul dan janganlah kalian menjelek-jelekan mereka’.” (HR Abu Dawud)

Rasulullah melarang para suami menjelek jelekan atau merendahkan martabat istri. Suami dilarang menggunakan kata yang bernada merendahkan dan menghina martabat istri baik di hadapannya maupun dihadapan orang lain. Walaupun istri berasal dari keluarga yang lebih rendah status ekonominya dibanding dirinya.

Hendaknya seorang suami bersabar dan menahan diri dari kekurangan yang ada pada istrinya, juga ketika istri tidak melaksanakan kewajibannya dangan benar. Rasulullah shalallahualaihi wasalam bersabda,

“Bersikap baiklah kepada para istri. Karena mereka tercipta dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atas. Jika kamu hendak meluruskannya niscaya kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Maka bersikap baiklah kepada para istri.” (Muttafaqunalaih)

Hadits ini memiliki pelajaran yang sangat agung, diantaranya; meluruskan bengkoknya istri harus dengan lembut sehingga tidak mematahkannya, namun juga tidak dibiarkan saja, karena jika dibiarkan, dia tetap bengkok. Apalagi jika bengkoknya itu bisa menjalar menjadi kemaksiatan atau kemunkaran.

Usahakan berkomunikasi dengan lembut dan penuh kesabaran pada suami. Biasanya, masalah banyak muncul karena masalah komunikasi. [Ustazah Dra.Indra Asih]

 

INILAH MOZAIK

25 Tips Jitu untuk Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri

Sebagai insan biasa, siapa pun pasti melakukan kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja, baik sudah berumah tangga ataupun belum. Kesalahan yang sama juga tak luput dari pasangan suami istri.

Bagaimana menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara suami istri? Berikut tips yang disampaikan oleh Batsinah As-Sayyid Al-Iraqi dalam bukunya.

1. Sebaiknya masing-masing pasangan suami istri harus bisa memperlihatkan pandangan yang nyata terhadap perselisihan di antara pasangan suami istri. Karena hal tersebut terkadang bisa menjadi faktor pencentus adanya percakapan dan saling kesepahaman.

2. Cara-cara yang dilakukan pasangan suami istri ketika menghadapi pertikaian di rumah tangga bisa dengan cara menuntaskannya.

3. Hendaklah pasangan suami istri mengucapkan kata-kata yang baik ketika berbicara. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa kata-kata yang pedas dan ungkapan yang kasar sangat berpengaruh walaupun pertikaian telah selesai.

4. Ketika perselisihan terjadi, hendaklah suami istri duduk bersama.

Sebab, berdiri ketika menghadapi pertikaian adalah cara yang salah yang bisa membuat pertikaian menjadi berlangsung lama. Sehingga, kesulitan akan semakin menancap di hati dan menjadi menyesakkan dada dan membuat hati semakin runyam.

5. Ketika akan menuntaskan perselisihan, maka harus menyeluruh terhadap semua aspek dan harus dengan penuh keikhlasan dan lapang dada.

6. Menjauhi cara-cara yang bisa menimbulkan pertengkaran. Pihak yang merasa menang atas pihak yang lainnya akan dengan cepat menyulut api permusuhan ketika terjadi gesekan ringan.

7. Ketika menyelesaikan pertikaan harus menjauhi cara-cara memvonis dan penuh keangkuhan dan pengingkaran. Karena hal ini akan memperuncing akar perselisihan.

8. Untuk kita semua, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah suri tauladan. Beliau tidak pernah bersikap kasar atau keras. Justru beliau bersabda, Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya.

9. Ingatlah pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Sesungguhnya orang yang buruk di mata Allah pada hari Kiamat adalah orang yang dijauhi oleh masyarakat untuk berlindung dari kejahatannya.

10. Ketahuilah wahai suamiku tercinta bahwa perselisihan dan sikap kasar terhadap istrimu, khususnya apabila sang istri mencintai dan menyayangimu, maka hal itu bisa menjadi penyebab yang paling dominan sang istri untuk sering merasa cemas dan gelisah karena memang tabiatnya yang sangat sensitif.

11. Jangan bersikap pongah dengan garis keturunan, harta, kecantikan dan ilmu pengetahuan. Sebab, hal ini bisa mengoyak hubungan pernikahan.

12. Ketika akan memecahkan sebuah permasalahan, maka jangan menentukan keputusan apa pun kecuali setelah dipelajari baik-baik.

13. Permasalahannya harus dipahami dengan baik. Apakah hal tersebut adalah pertikaian sebenarnya ataukah hanya karena kesalahpahaman?

Mengungkapkan hakikat yang sebenarnya adalah tujuan yang diinginkan masing-masing suami istri. Mempersempitnya secara terang-terangan dan secara langsung bisa membantu untuk menghilangkan kesalah pahaman ini yang menjadi sumber permasalahannya.

14. Introspeksi diri dan mengetahui kekurangan diri terhadap Allah Ta’ala yang Mahaagung dan Mahamulia, maka dengan hal ini engkau akan menganggap kecil kesalahan yang menimpamu yang disebabkan oleh orang lain.

15. Ketahuilah wahai suami dan istri bahwa sebuah musibah yang ditimpakan selalu dikarenakan sebuah dosa.

Salah satu bentuk musibah adalah terjadinya penentangan dari seseorang yang engkau cintai. Muhammad bin Sirin berkata, “Aku mengetahui musibah yang menimpaku dari tingkah laku istriku dan binatang tungganganku.”

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

 

Berlanjut ke 25 Tips Jitu untuk Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri (Bagian 2)

25 Tips Jitu untuk Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri (Bagian 2)

Lanjutan dari 25 Tips Jitu untuk Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri

16. Memperkecil pertikaian dan membatasi bentuknya agar jangan tersebar di antara orang banyak atau keluar dari ruang lingkup suami istri.

17. Menentukan objek pertikaian dan memfokuskan pikiran padanya dengan tidak merujuk kepada kesalahan-kesalahan dan sikap-sikap tidak baik yang telah berlalu atau membuka catatan-catatan masa lalu. Karena hal itu bisa memperlebar ruang lingkup pertikaian.

18. Masing-masing pasangan suami istri sebaiknya membicarakan kesulitannya sesuai pemahamannya.

Jangan sampai menjadikan pemahamannya yang benar yang tidak pernah salah. Semua ini bisa dibicarakan dan didiskusikan. Sesungguhnya hal tersebut bisa dicarikan jalan keluarnya.

19. Di awal pembicaraan sebaiknya disebutkan beberapa poin kesepakatan, sisi baik dan kelebihan-kelebihannya. Karena hal tersebut bisa melembutkan hati dan menjauhkan setan, menyamakan persepsi dan mempermudah sikap saling mengalah dari segala perasaan yang ada di hati.

20. Janganlah engkau menjadikan seluruh hak dianggap sama di depan matamu.

Justru engkau harus membesarkannya atau engkau menjadikannya sebagai hak-hak yang tidak wajib sama sekali untuk dikerjakan yang justru engkau dituntut untuk mengerjakannya.

21. Mengakui hak merupakan sikap baik.

Oleh karena itu, engkau harus selalu mengakui kesalahanmu ketika kesalahanmu telah jelas dan jangan berusaha berkelit. Kedua belah pihak harus mempunyai sikap berani dan percaya diri untuk mengakui kesalahannya.

22. Sesungguhnya sikap mengakui kesalahan adalah jalan menuju kebenaran.

Sebaiknya pihak yang bertikai untuk mengucapkan ucapan terima kasih dan memuji pihak yang telah mengakui kesalahannya. “Mengakui kesalahan adalah lebih baik daripada berkecimpung di dalam kebathilan.”

23. Tidak wajib menggunakan pengakuan atas kesalahan sebagai senjata untuk mengintimidasi. Justru harus disimpan di dalam buku catatan kebaikan dan keutamaan dan sisi-sisi baik di dalam hubungan suami istri.

24. Bersikap sabar menghadapi tabiat asli dari kedua belah pihak seperti sikap cemburu dari pihak suami atau istri dan mengetahui tabiat jiwa dan memperlakukannya dengan baik dengan cara yang lemah lembut.

25. Merasa ridha terhadap pembagian Allah Taala.

Apabila sang istri atau suami melihat adanya kebaikan, maka ia segera memuji Allah dengan sebanyak-banyaknya dan apabila ia melihat selain hal itu berupa keburukan.

Masing-masing keduanya tahu bahwa pertikaian dan kesulitan dan perbedaan pendapat akan selalu ada di setiap orang. Kesempurnaan hanya milik Allah Taala semata.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

 

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Istri Wajib Melindungi Suami dari Keburukan

AYAT 187 surah Al-Baqarah yang merupakan ayat terakhir dari rangkaian lima ayat shiyam, mengemukakan secara jelas salah satu ketetapan bagi orang yang sedang puasa, yaitu tidak boleh melakukan hubungan suami isteri.

Tentu saja larangan ini berlaku hanya pada saat yang ditetapkan bagi aktivitas puasa yaitu antara shubuh dengan maghrib. Di luar itu, Allah berfirman pada ayat ini: Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa, bercampur dengan isterimu.

Pernyataan ini kemudian dirangkai dengan kalimat yang sangat menarik: Mereka adalah pakaian bagimu (sekalian), dan kamu (sekaliannya) adalah pakaian bagi mereka.

Pakaian adalah sesuatu yang menutupi tubuh untuk menjaganya dari sengatan cuaca, melindungi dari sesuatu yang menggores menimbulkan luka, dan sekaligus memperindah pemakainya. Maka dengan ungkapan tadi Allah menandaskan kewajiban isteri untuk melindungi suaminya dari segala hal buruk yang mengganggu penampilannya di hadapan Allah maupun sesama manusia. Kewajiban yang sama juga meski diltunaikan oleh suami terhadap isterinya.

Ada dua gangguan yang berpotensi menerpa suami maupun isteri. Fitrah suami yang jujur dapat diganggu oleh nafsu serakah, sikap sederhana dapat disisihkan oleh keinginan bermegah mewah yang ditiupkan syaithan kepadanya.

Maka isteri harus memposisikan diri sebagai pengingat dan pelurus, dengan kata-kata maupun sikap yang maruf pantas menurut etika masyarakat. Begitu pula bila isteri cenderung kepada hal-hal yang tidak baik menurut Allah dan tidak pantas menurut lingkungan sosialnya, suami harus menjadi penjaganya dari bisikan-bisikan syaithan itu. Apa lagi suami ditetapkan Allah sebagai pemimpin rumah tangganya (QS 4:34).

Hakekat pemimpin adalah penanggung jawab; maka segala masalah yang terjadi dalam rumah tangga, suamilah yang pertama-tama akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Swt.

Sungguh indah sekali Al-Quran ini. Ketika menyampaikan ketetapan hukum tentang puasa, diselipkan di dalamnya akhlak karimah dalam rumah tangga.

Sama halnya dengan ayat-ayat shiyam lainnya yang kita bicarakan beberapa hari terakhir ini. Dalam ayat 185 disampaikan fungsi Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu, dan pemisah antara yang benar dengan yang salah.

Pada ayat 186 dikemukakan betapa dekat Allah Swt kepada orang-orang yang beriman, yang berarti dekat pula perlindungan-Nya, dan kebaikan-kebaikan-Nya yang tidak berbatas. Sungguh kami bersyukur kepada-Mu ya Allah, atas limpahan segala Kasih-Mu.[Sakib Machmud]

 

MOZAIK

Menggauli Istri Secara Bersamaan Dilarang

SEORANG pelaku poligami bertanya, bolehkah ia yang saat ini memiliki dua istri mencampuri istri-istrinya pada waktu yang bersamaan? Bagaimana hukumnya dalam Islam?

Untuk pertanyaan itu, ustaz menjawab sebagai berikut. Sesungguhnya seorang suami yang menggauli dua istrinya sekaligus akan membawa pengaruh negatif bagi istri-istrinya itu sendiri selain dari penampakkan aurat seorang istri kepada istri yang lainnya.

Kemampuan seorang suami sangatlah terbatas untuk bisa memberikan kepuasan yang sama kepada kedua istrinya yang digaulinya secara bersamaan itu baik di dalam permainan-permaianan jimanya maupun tempat ditumpahkan spermanya. Hal ini akan memunculkan kecemburuan bahkan kebencian di dalam diri istrinya yang tidak merasa terpuaskan oleh suaminya sementara dia menyaksikan secara langsung bahwa kepuasan itu dirasakan oleh istrinya yang lain.

Abdul Wahab Hamudah, penulis kitab “Ar Rasul Fii Baitih” mengatakan bahwa cemburu merupakan salah satu pembawaan wanita yang khas. Kecemburuan merupakan watak wanita dan memiliki bentuk yang bermacam-macam. Seorang perempuan umumnya cemburu kepada jenisnya yang berpenampilan cantik, walau perempuan itu bukan saingannya terhadap laki-laki yang dicintainya. Perasaan cemburu itu lebih-lebih terhadap perempuan yang benar-benar menjadi saingan atau madunya.

Selain itu kaum perempuan juga begitu cemburu atau tidak senang dengan memperlihatkan ekspresi sinisme, karena melihat seorang perempuan yang berhias secara mencolok atau berpakaian secara berlebih-lebihan, sehingga tampak tak wajar.” (lihat: Romantika dan Problematika Rumah Tangga Rasul hal 127).

Tentunya kecemburuan seorang istri terhadap istri suaminya yang lain akan jauh lebih besar jika sudah menyangkut perihal hubungan seks diantara mereka dengan suaminya terlebih lagi jika satu sama lain saling melihat mereka berhubungan.

Hal lainnya adalah didalam persetubuhan yang dilakukan seorang suami dengan kedua istrinya secara bersamaan memungkinkan di antara kedua istrinya akan saling memandang aurat mereka dan hal ini diharamkan menurut kesepakatan para fuqaha berdasarkan sabda Rasulullah saw ,”Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki (lain) dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita (lain) dan berada didalam satu selimut.” (HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

Dengan demikian tidak diperbolehkan bagi seorang suami menggauli kedua istrinya secara bersamaan dalam satu tempat tidur atau menggauli salah satunya dengan disaksikan oleh istrinya yang lain.

Dibolehkan baginya untuk menggauli seorang istrinya setelah ia menggauli istrinya yang di lain di tempat yang terpisah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw yang berkeliling untuk menggauli istri-istrinya dalam satu malam.

Diriwayatkan dari Qatadah berkata bahwa Anas bin Malik pernah bercerita kepada kami bahwa Nabi saw pernah menggilir istri-istrinya dalam satu waktu sehari semalam dan jumlah mereka ada sebelas orang.

Qatadah mengatakan,Aku bertanya kepada Anas,Seberapa kuat beliau saw? Dia menjawab,Kami pernah memperbincangkannya bahwa kekuatan beliau saw sebanding dengan (kekuatan) tiga puluh orang.” Said berkata dari Qatadah,Sesungguhnya Anas menceritakan kepada mereka bahwa jumlah istri-istrinya saw adalah sembilan orang.” (HR. Bukhori). Wallahu Alam [ ]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2377911/menggauli-istri-secara-bersamaan-dilarang#sthash.BZYMY9TO.dpuf

Kenapa Menurut Rasulullah , Tidur Harus Berbaring di Lambung Kanan?

Hadits dari Barra bin ‘Azib ra : Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Jika kalian hendak tidur di pembaringan, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah kamu dengan berbaring di lambung kananmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini mengajarkan kepada umat Islam agar berbaring dilambung kanan. Pada saat itu tak ada yang mengetahui apa alasan dibalik sunah tersebut, tetapi kini melalui penelitian yang panjang para ilmuwan berhasil mengungkapkan rahasia di balik anjuran tersebut. Dan berikut ini akan dijelaskan rahasia dari berbagai posisi tidur.
Tidur Dengan Tengkurap
Dr. Zafir al-Attar berkata “Seseorang yang tidur dengan cara tengkurap di atas perutnya setelah suatu periode tertentu akan mengalami kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya akan menekan ke arah dada yang menghalangi dada untuk merenggang dan berkonstraksi saat bernafas. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan oksigen yang dapat mempengaruhi kinerja jantung dan otak.”
Peneliti dari Australia telah menyatakan bahwa terjadi peningkatan kematian pada anak-anak sebesar tiga kali lipat saat mereka tidur tengkurap dibandingkan jika mereka tidur dengan posisi menyamping. Sedangkan Majalah “Times” mempublikasikan hasil sebuah penelitian di Inggris yang menunjukan peningkatan tingkat kematian mendadak pada anak-anak yang tidur tengkurap.
Fakta-fakta tersebut sejalan dengan apa yang diajarkan dalam Islam, sebagaimana Abu Hurairah RA meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW bahwa beliau pernah melihat seorang pria yang sedang tidur dengan posisi tengkurap, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya.” (HR Tirimizi dan Ahmad-hasan lighairihi)
Tidur Terlentang
Dr. Zafir al-Attar menjelaskan bahwa saat seseorang tidur dengan cara terlentang, maka hal ini akan menyebabkan orang tersebut bernafas melalui mulutnya. Hal ini disebabkan karena pada saat kita tidur terlentang maka mulut kita akan terbuka, dikarenakan meregangnya rahang bawah.
Manusia harusnya bernafas melalui hidung, bukan mulut. Hal ini dikarenakan pada hidung terdapat bulu-bulu halus dan lendir yang dapat menyaring kotoran yang ikut terhisap bersama udara yang kita hirup. Bernafas melalui mulut merupakan salah satu penyebab seseorang rawan terkena flu. Selain itu bernafas lewat mulut akan menyebabkan keringnya rongga mullut sehingga dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada gusi.
Tidur Dengan Menyamping Ke Kiri
Tidur miring ke kiri ternyata jugalah tidak baik untuk kesehatan, terutama organ jantung. Hal ini dikarenakan saat kita tidur pada posisi ini, maka paru-paru sebelah kanan, yang berukuran besar, akan menekan kearah paru-paru. Hal ini akan berpengaruh kepada kinerja jantung, terutama kepada orang yang berusia lanjut.
Tidur Dengan Menyamping Ke Kanan
Inilah posisi tidur terbaik yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pada saat kita tidur dalam posisi ini jantung hanya akan terbebani oleh paru-paru kiri yang berukuran kecil. Selain itu tidur dengan cara ini akan menenpatkan hati pada posisi yang stabil. Selain itu posisi ini juga sangat baik bagi pencernaan, penelitian menunjukkan saat kita tidur dengan menyamping ke kanan, makanan akan mampu dicerna oleh usus dalam 2,5 sampai 4,5 jam. Sedangkan dalam posisi tidur yang lain makanan baru akan selesai dicerna setelah 5 sampai 8 jam.

Tafsir Mawaddah dan Rahmah

Di antara tujuan pernikahan disebutkan dalam Surat Ar Rum ayat 21, agar suami istri mendapatkan mawaddah dan rahmah.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Rum: 21)

Apa itu mawaddah dan rahmah? Dalam Tafsir Al Qurthubi, dikutip penjelasan Ibnu Abbas bahwa mawaddah adalah cintanya seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya untuk tidak menimpakan sesuatu yang tak disukainya.

Lebih jauh, Muhammad Al Ghazali menerangkan tentang rahmah. “Rahmah itu,” terangnya dalam Qadhaya al Mar’ah bainat Taqalid ar Rakidah wal Wafidah, “tidak muncul dari kasih sayang ketika melihat pipinya yang indah, akan tetapi ia muncul dari dalam hati yang bersih, akhlak yang baik dan latar belakang yang mulia.”

Jadi, mawaddah adalah cinta yang timbul karena pertimbangan fisik atau materi. Karena istrinya adalah seorang wanita yang memiliki sesuatu yang menarik kemudian suami mencintainya, itulah mawaddah. Seseorang yang melihat istrinya kemudian timbul hasrat dan dengannya mereka saling bercinta, itulah mawaddah.

Sedangkan rahmah adalah cinta yang tidak mempertimbangkan fisik melainkan karena faktor non fisik; ruhiyah, akhlak dan sejenisnya. Rahmah inilah yang membuat pasangan suami istri tetap bersama meskipunsudah tua. Rahmah inilah yang membuat suami istri tetap setia meskipun tak bisa lagi saling bercinta. Rahmah inilah yang membuat suami istri tetap saling menyayangi meskipun tidurnya saling berpunggungan. Rahmah inilah yang menjelaskan mengapa kakek-kakek dan nenek-nenek tetap bersama dan saling menjaga.

Maka jika ingin keluarga kita abadi hingga maut memisahkan, dua sayap cinta mawaddah dan rahmah ini harus kita punya. Hubungan yang hanya didasari oleh mawaddah, ia hanya bisa bertahan beberapa tahun. Sesudah kulit keriput, rambut memutih dan mata rabun, rahmah-lah yang bekerja. Maka, temukan alasan non fisik yang membuat kita mencintai pasangan kita.

[Muchlisin BK/Bersamadakwah]

Membatasi Keturunan, Bolehkah Menurut Syariat? (Bagian 2)

Membatasi jumlah keturunan dan mencegah kehamilan juga termasuk salah satu perilaku jahiliyah dan merupakan sikap berburuk sangka terhadap Allah Ta’ala serta melemahkan eksistensi Islam yang terdiri dari banyaknya sumber daya manusia yang saling terkait satu dengan lainnya.

Berdasarkan pertimbangan di atas maka Majelis Majma Al-Fiqhi Al-Islami telah sepakat untuk menetapkan bahwa membatasi jumlah keturunan tidak dibolehkan secara mutlak.

Adapun mencegah kehamilan dan mengatur jarak kehamilan secara kasuistik (pada orang-orang tertentu) dikarenakan adanya suatu kemudaratan yang pasti, seperti seorang wanita yang tidak dapat melahirkan secara normal sehingga setiap kali melahirkan harus melalui operasi caesar.

Jika demikian, maka wanita tersebut tidak apa-apa membatasi jumlah keturunannya atau mengatur jarak kehamilan. Menunda kehamilan juga boleh dilakukan karena alasan yang dibenarkan syariat atau karena alasan kesehatan atas nasihat dokter muslim yang terpercaya.

Bahkan, boleh jadi syariat tidak membolehkan seorang wanita hamil apabila para dokter muslim yang dapat dipercaya memutuskan bahwa kehamilan dapat membayakan jiwa sang ibu.

Adapun seruan untuk membatasi jumlah keturunan atau mencegah kehamilan secara umum maka syariat tidak membolehkannya karena faktor-faktor yang telah dipaparkan di atas.

Di samping itu, lebih besar lagi dosanya apabila pemimpin suatu negara mewajibkan hal ini kepada rakyatnya.

Padahal, pada saat yang sama seluruh anggaran negara digunakan untuk berlomba-lomba dalam pengadaan senjata untuk menjajah dan menghancurkan, sebagai ganti dari pemberdayaan serta pembiayaan untuk pengembangan sektor ekonomi, pembangunan, dan kebutuhan rakyat.

Hanya Allah-lah yang kuasa memberikan taufiq dan hidayah, dan semoga Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para shahabat-shahabatnya.

*****

Demikian dikutip dari kitab Ittihaf Uli Al-Albab Bi Huquq Ath-Thifli Wa Ahkamih fi Su`al Wa Jawab yang disusun oleh Al-Ustadz Abu Abdullah Ahmad bin Ahmad Al-‘Isawi.

Penulis berharap, semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian dan terutama bagi penulis sendiri. Aamiin ya Rabbal Alamin.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Membatasi Keturunan, Bolehkah Menurut Syariat?

Dewasa ini, sejumlah negara di dunia menetapkan undang-undang untuk membatasi keturunan bagi penduduknya dengan beragam alasan. Di antaranya ada menetapkan satu anak, dua anak, atau jumlah lainnya.

Keterbatasan anggaran, perekonomian yang sulit, dan kemiskinan yang merata menjadi alasan utama negara tertentu untuk menetapkan program pembatasan keturunan bagi warganya.

Kita dapat memaklumi, jika negara tersebut sekuler atau mayoritas non muslim. Namun, yang sangat disayangkan adalah jika terjadi pada negara mayoritas Islam.

Namun demikian, di sisi lain, ada pula negara yang membebaskan jumlah anak yang lahir dari rahim seorang ibu. Sekarang timbul pertanyaan, apakah membatasi keturunan itu boleh menurut syariat Islam?

Untuk menjawab pertanyaan ini cukup dengan menukil ketetapan Majma Al-Fiqhi Al-Islami Ad-Dauli (Akademi Fikih Islam Internasional) pada Muktamar III yang membahas tentang seputar pertanyaan ini. Berikut keputusan muktamar tersebut:

*****

Segala puji bagi Allah Ta’ala dan semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi yang tidak ada Nabi setelahnya, kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Amma ba’du

Berdasarkan pertimbangan Majelis Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami pada muktamar III di Makkah Al-Mukarramah pada tanggal 23-30/4/1400 Hijriyah tentang masalah membatasi jumlah keturunan atau yang mereka sebut dengan istilah halusnya Keluarga Berencana, setelah terjadi diskusi dan tukar pikiran maka majelis menetapkan sebagai berikut:

Mengingat syariat Islam mendorong untuk memperbanyak anak kaum muslimin, hingga tersebar ke berbagai penjuru dunia, maka keturunan yang banyak merupakan salah satu nikmat yang besar bagi umat Islam dan anugerah agung yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.

Banyak sekali dalil dari syariat Islam, baik dari Al-Qur’an maupun dari sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menunjukkan bahwa membatasi jumlah kelahiran atau mencegah kehamilan adalah perbuatan yang bertentangan dengan fitrah insani yang telah ditetapkan Allah terhadap umat manusia.

Di samping itu, juga bertentangan dengan syariat agama Islam yang telah diridhai Allah sebagai pedoman untuk hamba-hamba-Nya.

Mengingat bahwa kelompok yang menyeru untuk membatasi keturunan atau mencegah kehamilan bertujuan memperdaya kaum muslimin, untuk mengurangi jumlah populasi mereka secara umum serta masyarakat Arab dan rakyat tertindas pada khususnya.

Tujuannya tidak lain adalah agar mereka mampu untuk menjajah negara kaum muslimin, mengusir dan merampas kekayaan di negara-negara Islam.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Mari Menjaga Kemuliaan Rumah Kita

KEMULIAAN rumah (hurmah al-bayt) sebenarnya tidak ditarik dari sejumlah hukum, sebagaimana kasus pemisahan antara pria dan wanita dalam kehidupan Islam, juga tidak dinukil dari satu riwayat maupun aktivitas sejumlah Sahabat dan kaum muslim yang lain, dengan seluruh rinciannya.

Namun, kemuliaan (kehormatan) rumah ini merupakan hukum obyek tertentu, yang dinyatakan oleh Alquran dengan dalil yang qathi. Karena itu kemuliaan (kehormatan) rumah bagi pemiliknya ini merupakan hukum yang qathi, baik dari aspek sumber maupun maknanya.

Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian agar kalian (selalu) ingat (QS an-Nur [24]: 27).

Allah SWT melanjutkan:

Jika kalian tidak menemui seorang pun di dalamnya, janganlah kalian masuk sebelum kalian mendapat izin. Jika dikatakan kepada kalian, “Kembalilah,” maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih bersih bagi kalian. Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian kerjakan (QS an-Nur [24]: 28).

Kedua nas di atas merupakan dalil yang qathi dari aspek sumbernya, karena diambil dari Alquran, juga dari segi maknanya, yang dengan tegas menyatakan kemulian (kehormatan) rumah bagi pemiliknya. Karena itu, rumah tidak boleh dimasuki, kecuali dengan izin pemiliknya, baik rumah tersebut berpenghuni maupun tanpa penghuni. Jadi, kemuliaan (kehormatan) rumah tersebut ditegaskan melalui larangan memasukinya, kecuali dengan izin.

Dengan demikian, siapa saja yang memasuki rumah seseorang tanpa seizin penghuni atau pemiliknya, dia sesungguhnya telah menodai kehormatan rumah tersebut, dan tentu bisa dinyatakan telah melakukan keharaman. Alasannya, karena ada larangan menodai kehormatan rumah yang dinyatakan dengan tegas oleh dalil, baik dari aspek sumber maupun maknanya. Maka dari itu, status hukum ini harus dijalankan, dan siapa saja yang mengingkari hukum ini, maka dia bisa dinyatakan kafir.

Inilah status hukum tentang kehormatan rumah. Ini merupakan hukum syariah untuk rumah, bukan untuk bangunannya. Hukum untuk rumah, dari aspek rumah itu sendiri, bukan karena berpenghuni atau tidak. Sebab, status hukum tersebut berkaitan dengan rumah dan kemuliaannya. Menodai kehormatan (kemuliaan) rumah itu identik dengan memasuki rumah tanpa izin. Dengan begitu, menjaga kehormatan (kemuliaan) rumah berarti tidak memasuki rumah, kecuali dengan izin.

Adapun apa yang menjadi konsekuensi dari memasuki rumah, apakah bisa dianggap menodai kehormatan (kemuliaan) rumah atau tidak? Inilah yang menjadi pertanyaan, termasuk menggeledah rumah untuk mencari barang bukti.

Untuk menjawab masalah ini, bisa diambil dari ayat yang sama, dan dari kondisi rumah yang diberikan solusi oleh ayat tersebut. Perlu dicatat, meski ayat di atas melarang masuk ke rumah seseorang, larangan masuk ini juga mencakup larangan untuk melakukan apa saja yang menjadi konsekuensi memasuki atau berada di rumah tersebut. Karena itu, apa saja yang menjadi konsekuensi dari memasuki rumah atau berada di dalam rumah tersebut hukumnya sama dengan larangan memasuki rumah itu sendiri. Sebab, hukum haramnya memasuki rumah tidak hanya menyatakan keharaman memasukinya saja, tetapi juga menyatakan keharaman melakukan apa saja di dalam rumah tersebut sebagai akibat dari memasukinya. Maka dari itu, kalau memasuki rumah tanpa izin hukumnya haram, dan dianggap menodai kehormatan (kemuliaan) rumah tersebut, hukum yang sama juga berlaku untuk aktivitas apapun yang dilakukan oleh orang lain di rumah tersebut. Kesimpulan di atas diambil darimanthuq dan dari dalalah iltizam dua ayat di atas.

Pertanyaannya kemudian: apakah izin tersebut harus dari kepala rumah tangga, ataukah cukup izin dari penghuninya, atau izin yang dimaksud adalah izin dari Pembuat syariah?

Jawabannya, ayat tersebut berbentuk mutlak. Ayat tersebut menyatakan: hatta tastanisu(hingga kalian meminta izin) dan hatta yudzana lakum” (hingga kalian diizinkan). Dari kata”idzn” tersebut bisa dipahami, bahwa “hatta yudzana lakum” ini dinyatakan dalam bentukmajhul, tanpa menyebutkan pemberi izin. Dari sini bisa disimpulkan, bahwa siapa saja yang mempunyai kewenangan untuk mengizinkan masuk ke rumah, maka izinnya cukup bagi seseorang untuk memasuki rumah tersebut. Apakah orang yang memberi izin tersebut kepala rumah tangga, atau penghuninya, selama dia berakal (waras) dan mumayyiz. Dengan catatan, selama dia mempunyai kewenangan untuk memberi izin. Sebab, izin ini hanya diakui sebagai izin jika diberikan oleh orang yang mempunyai kewenangan untuk memberi izin tersebut. Inilah pemahaman literal dari konteks “Izin masuk”.

Adapun pemahaman secara literal tentang konsekuensi memasuki rumah, maka harus diteliti terlebih dulu:

(1) Jika aktivitas di dalam rumah tersebut merupakan konsekuensi dari izin tersebut, seperti kebolehan untuk duduk atau berdiri di dalamnya, maka izin memasuki rumah tersebut sekaligus menjadi izin untuk berdiri dan duduk di dalamnya.

(2) Jika aktivitas tersebut bukan merupakan konsekuensi dari izin tersebut, seperti melakukan penggeledahan, makan, minum, tidur atau yang lain, maka izin memasuki rumah tersebut tidak bisa serta-merta menjadi izin untuk melakukan penggeleda-han, makan, minum dan tidur di dalamnya.

Dalam konteks yang kedua ini, selain izin yang diberikan oleh tuan atau penghuni rumah, maka dibutuhkan adanya izin Pembuat syariah sehingga berbagai aktivitas ini bisa dilakukan di dalam rumah tersebut. Adanya izin dari tuan atau penghuni rumah untuk memasuki rumahnya tidak cukup bagi seseorang sehingga dia bisa menggeledah rumahnya. Apalagi aktivitas penggeledahan rumah ini merupakan aktivitas tajassus (memata-matai), yaitu tafahush al-akhbar (memeriksa dan menginvestigasi berbagai informasi dan dokumen), yang jelas-jelas diharamkan di dalam Islam (Lihat: QS al-Hujurat [49]: 12).

Karena itu, aparat negara tidak boleh masuk ke rumah rakyatnya tanpa izin dari tuan atau penghuninya. Jika dia diizinkan masuk, dia pun tidak boleh menggeledah rumah tersebut. Dia juga tidak boleh melakukan tindakan apapun di dalamnya, meski dengan maksud untuk melakukan riayatu as-syuun (mengurus urusan rakyatnya). Tindakan ini hukumnya haram dilakukan oleh negara dan aparatnya, sekalipun atas perintah Khalifah. Sebab, perintah tersebut bertentangan dengan perintah Allah SWT. Dalam hal ini, perintah Allahlah yang harus dilaksanakan. Apalagi perintah tersebut melanggar keharaman tajassus.

Hanya saja, ada kondisi darurat yang mengharuskan untuk memasuki rumah tersebut, seperti menyelamatkan penghuni rumah saat rumah tersebut terbakar, atau rumah tersebut tenggelam, atau menolong orang sebatang kara yang sakit di rumahnya dan hendak dibawa berobat, atau tindakan lain yang bertujuan untuk menghilangkan bahaya dari rumah tersebut. Namun, jika bahaya tersebut tidak dinyatakan oleh nas, seperti mencari pencuri di dalam rumah, menggeledah isi rumah, atau sejenisnya, maka alasan bahaya tersebut tidak bisa menjadi justifikasi untuk melakukan tindakan di dalam rumah tersebut.

Mengenai alasan “mengurus urusan rakyat”, alasan tersebut tidak bisa digunakan oleh negara untuk memasuki rumah rakyatnya, termasuk menangkap orang yang melakukan perbuatan haram di dalamnya dengan cara yang salah. Karena “mengurus urusan rakyat” ini tidak berarti boleh mengharamkan yang halal, dan menghalalkan yang haram; kecuali jika kewajiban “mengurus urusan rakyat” mengharuskan negara untuk memasukinya seperti memasang instalasi listrik, saluran telpon, air minum dan sebagainya. Dalam hal ini, izin untuk memasuki rumah berarti termasuk izin untuk melakukan pemasangan instalasi dan saluran di dalamnya. []

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2362081/mari-menjaga-kemuliaan-rumah-kita#sthash.dCfK4gTn.dpuf