Pesan al-Ghazali Agar Sukses Dunia Akhirat

Imam al-Ghazali pernah menulis kumpulan nasihat yang ditujukan kepada muridnya. Nasihat tersebut merupakan permintaan khusus sebagai bekal sang murid agar sukses dunia akhirat. Petuah bijak itu sedianya,hanya lewat lisan, tetapi sang murid menginginkan kekekalan wasiat tersebut.

Tokoh yang berjuluk Hujjat al-Islam itu akhirnya mengabulkan lewat karyanya yang berjudul Ayyuha al-Walad al-Muhib. Risalah ini juga dikenal dengan sebutan Ar-Risalah al-Waladiyah lantaran banyaknya kata walad dalam risalah tersebut.


Hal mendasar yang digarisbawahi tokoh bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i itu, yakni Muslim menurutnya harus memiliki iman dan amalan yang saleh serta kejernihan jiwa. Apa yang ditulisnya merupakan kasih sayang kepada murid.

Walaupun surat ini pada mulanya ditujukan khusus untuk murid Imam al Ghazali, isi dan kandungannya berlaku untuk umum. Bagi sosok yang tersohor dengan sebutan Algazel di Barat pada abad pertengahan itu, mereka yang sedang menuntut ilmu perlu memahami untuk apa melakukan itu. Jangan sampai salah berniat.

Langkah awal dalam menuntut ilmu adalah niat yang baik. Niat seperti itu akan mengarahkan seseorang kepada ilmu yang bermanfaat, bukan yang sekadar memberikan pemahaman, tetapi akhirnya tidak berguna baik bagi sendiri maupun orang lain.


Menuntut ilmu bukan sekadar untuk menjadi pintar. Bukan pula untuk memarginalkan orang lain. Pengarang karya monumental bertajuk Ihya’ Ulumiddin ini mengingatkan, ketika berilmu, maka seseorang memiliki beban tersendiri. Dia seakan ingin menasihati, tak ada gunanya berilmu, jika ilmu yang didapat justru mencelakai orang lain.

Sungguh tak berguna jika ilmu yang didapat digunakan untuk kemaksiatan dan keangkuhan. Sebab, jika demikian adanya, sesungguhnya orang seperti itu adalah yang dimaksud dalam hadis berikut, Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu, tetapi tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.

 

sumber: Republika Online

Muliakanlah Akhlak dengan Baca Alquran

SYEKH Abdul Aziz bin Baz mengatakan, di antara prasyarat yang mengantarkan pada akhlak Islami adalah memperbanyak membaca Alquran serta mentadabburi maknanya.

Setelah itu bersungguh-sungguh untuk berperilaku dengan akhlak yang sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam Alquran mengenai sifat-sifat para hamba-Nya yang saleh. Hal ini dapat mengantarkan kita pada akhlak yang mulia.

Demikian juga hendaknya memperbanyak duduk bersama orang-orang baik dan berakrab-akrab dengan mereka. Juga dengan memperbanyak membaca hadis-hadis saheh dari Nabi Shallallahualaihi Wasallam yang menunjukkan tentang akhlak mulia.

video_syiar_islam

 

Demikian juga hendaknya banyak membaca kisah-kisah orang terdahulu dalam kitab-kitab sirah nabawiyyah dan sejarah Islam, yaitu membaca bagaimana sifat dan akhlak orang-orang saleh di masa itu. Semua hal ini dapat mengantarkan kita pada akhlak yang mulia dan beristiqamah di atasnya.

Namun sebab yang paling besar adalah Alquran. Dengan banyak membacanya serta mentadaburi maknanya dengan benar-benar menghadirkan hati yang penuh keinginan tulus untuk berakhlak mulia ketika membaca Alquran dan mentadaburi-nya. Inilah hal terbesar yang bisa mengantarkan kepada akhlak mulia, dengan juga memberi perhatian yang serius terhadap hadis-hadis saheh dari Nabi Shallallahualaihi Wasallam tentang akhlak mulia. []

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2342307/muliakanlah-akhlak-dengan-baca-alquran#sthash.ilWAk0er.dpuf

Tahukah Anda Berapa Jumlah Sahabat Nabi?

PERTAMA, tidak mungkin bisa memastikan berapa jumlah sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena mereka terpencar ke berbagai negeri, daerah, dan penjuru bumi. Bahkan di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri, tidak ada yang mengumpulkan daftar nama-nama orang yang masuk Islam, siapa yang lahir di keluarga muslim, dst. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Kaab bin Malik radhiyallahu anhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis panjang tentang kisah beliau yang tidak ikut perang tabuk. Kaab mengatakan,

Kaum muslimin yang ikut bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat banyak. Tidak ada kitab yang mampu menuliskan semua nama mereka, demikian pula tidak ada orang yang mampu mengahafalnya. (HR. Bukhari 4418 dan Muslim 2769)

Kedua, ada sebagian ulama yang menegaskan angka tertentu ketika menyebut jumlah sahabat. Namun pendapat semacam ini adalah hasil ijtihad mereka. Diantaranya adalah al-Hafidz Abu Zurah ar-Razi (guru Imam Muslim). Beliau menegaskan bahwa jumlah sahabat ada 114.000 orang. Keterangan beliau ini disebutkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami 2:293.

As-Safarini dalam Ghizaul Albab mengatakan,

Catatan: Abu Zurah Ar-Razi menyebutkan bahwa jumlah sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam lebih dari 100.000 dan diriwayatkan bahwa jumlah mereka 114.000. Yang menegaskan angka ini adalah as-Suyuthi rahimahullah dalam al-Khashais al-Kubro (Ghizaul Albab, 1:37).

Diantara ulama lainnya adalah al-Iraqi. Beliau menyebutkan,

As-Saji meriwayatkan dalam al-Manaqib, dengan sanad jayid (bisa diterima), dari ar-Rafii, beliau menyatakan, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal, sementara jumlah kaum muslimin ketika itu ada 60 ribu. Yang 30 ribu tinggal di Madinah dan 30 ribu tinggal di berbagai suku arab dan suku lainnya.”

 

 

Setelah menyebutkan keterangan ini, al-Iraqi berkomentar, “Meskipun demikian, semua ulama yang menulis tentang sahabat, daftar nama yang mereka kumpulkan dalam karyanya, belum mencapai angka 10.000. Padahal mereka menyebutkan sahabat yang meninggal di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yang sezaman dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan sahabat yang ketemu Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika masih kecil.”

Dan ternyata, bilangan ini tidak melenceng jauh dari kebenaran. Karena beberapa riwayat menunjukkan bahwa jumlah sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam kurang lebih pada angka itu. Ibnul Qoyim mengatakan, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar menuju Tabuk, bersama 30.000 pasukan. Di antara mereka, yang 10.000 pasukan berkuda.” (Zadul Maad, 3:462).

Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab, tahun 9 Hijriyah. Itu artinya, perang ini terjadi dua tahun sebelum wafatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sementara itu, ketika peristiwa Tabuk, tidak ada sahabat yang mampu jihad yang tidak itut perang, kecuali Kaab bin Malik dan dua temannya. Jika kita gabungkan dengan sahabat wanita dan anak-anak, serta mereka yang tidak mampu berperang, tidak menyimpang jauh jika jumlah mereka di sekitar 100.000.

Kemudian, disebutkan oleh jabir bin Abdillah, ketika beliau menjelaskan prosesi haji wada. Jabir mengatakan, “Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam salat di masjid, lalu naik Unta namanya al-Qashwa. Setelah beliau berada di atas dataran tinggi Baida, aku memandang sejauh pandangan mataku di depan penuh manusia, yang berkendaraan dan yang berjalan kaki, di samping kanan juga sejauh mata memandang, di kiri juga demikian, dan di belakang juga demikian. (HR. Muslim 1218)

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam berangkat haji Wada dari Madinah ke Mekah, beberapa orang dari berbagai suku ikut bergabung, termasuk penduduk mekah yang belum lama masuk Islam. Semoga Allah meridai mereka dan menjadikan kita mampu mengikuti mereka dengan baik.

[Referensi: Fatwa Islam, no. 108008]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2343652/tahukah-anda-berapa-jumlah-sahabat-nabi#sthash.1MrcbNcw.dpuf

Muslim Harus Miliki Cita-Cita Tinggi

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit,” demikian motivasi yang populer di negeri ini dalam hal untuk bercita-cita.

Tentu saja beragam respon bermunculan, terlebih ungkapan hebat itu muncul saat Indonesia baru saja lahir sebagai bangsa. Namun, pernah kah kita sadari bahwa sebuah kalimat hebat tidak mungkin lahir dari hati dan pikiran yang tak bernilai?

Bernilai artinya punya etos juang tinggi, empati mendalam terhadap penderitaan bangsanya sendiri. Dan, itulah yang dirasakan oleh para pahlawan bangsa terdahulu.

Dan, karen aitu, Albert Einstein (1879 – 1955) lebih mendorong penduduk dunia menjadi manusia yang bernilai. “Cobalah untuk tidak menjadi seorang yang sukses, tapi jadilah seorang yang bernilai.”

Ungkapan ini terasa relevan di zaman sekarang. Faktanya memang tidak sedikit. Misalnya ada anak yang malas belajar tapi lulus juga. Kalau standar sukses adalah lulus, maka buat apa lulus tanpa nilai pribadi yang kuat.

Oleh karena itu, Islam sangat mengutuk orang yang tidak mau berpikir. Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menulis, “Barangsiapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya ia akan menunjukkan untuk mencari kedudukan ang paling mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”

“Maka,” lanjut Ibn Al-Jauzi, “Seorang yang berakal sudah seyogyanya bisa sampai pada puncak dari apa yang dia mampu. Sekiranya masuk akal bagi seorang anak manusia untuk naik ke langit, maka menurutku merupakan kekurangan yang paling jelek kalau dia sudah merasa puas di bumi.

Seandainya kenabian bisa diraih dengan kesungguhan upaya, maka menurutku orang yang bermalas-malasan untuk merahnya berada di jurang kehinaan yang dalam. Hanya saja kalau itu semua memang tidak mungkin, maka seharusnya dia mencari apa yang mungkin (dia lakukan).

Dan, sejarah hidup yang elok menurut para ahli hikmah adalah keluarnya jiwa menuju puncak kesempurnaannya mungkin bisa digapai dalam bidang ilmu dan amal.”

Capaian anak Adam memang tidak bisa sim salabim, sekali jadi, atau sistem kebut semalam. Ada proes yang harus dilalui, ada ‘mahar’ yang mesti dibayar. Sekedar menemukan lampu pijar, Edison harus rela melakukan 1000 kali lebih percobaan. Bahkan Sultan Muhammad Al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel setelah berabad-abad lamanya cita-cita tinggi keluarga khalifah ingin mewujudkannya.

Oleh karena itu, sebagai apapun diri kita, di usia berapapun, dan dimanapun berada, cita-cita hendaknya terus berkobar-kobar di dalam dada.

Ibn Al-Jauzi memberikan saran yang sangat realistis bagi kita semua. “Sekiranya engkau bisa melewati setiap sosok ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Karena mereka adalah manusia (biasa), dan engkau pun juga manusia (biasa). Dan tidaklah seseorang duduk (berpangku tangan) kecuali dikarenakan hina dan rendahnya cita-cita.”

Cita-cita Rasulullah

Dalam riwayat Ahmad dan An-Nasa`i, dari Abu Sukainah radhiyallahu ‘anhu dari salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dengan sanad yang jayyid, disebutkan:

لَمَّاأَمَرَالنَّبيُّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِحَفْرِالْخَنْدَقِعَرَضَتْلَهُمْصَخْرَةٌحَالَتْبَيْنَهُمْوَبَيْنَالْحَفْرِفَقَامَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَوَأَخَذَالْمِعْوَلَوَوَضَعَرِدَاءَهُنَاحِيَةَالْخَنْدَقِوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَثُلُثُالْحَجَرِوَسَلْمَانُالْفَارِسِيُّقَائِمٌيَنْظُرُفَبَرَقَمَعَضَرْبَةِرَسُوْلِاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبَرْقَةٌثُمَّضَرَبَالثَّانِيَةَوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَالثُّلُثُاْلآخَرُفَبَرَقَتْبَرْقَةٌفَرَآهَاسَلْمَانُثُمَّضَرَبَالثَّالِثَةَوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَالثُّلُثُالْبَاقِيوَخَرَجَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفَأَخَذَرِدَاءَهُوَجَلَسَ،قَالَسَلْمَانُ: يَارَسُوْلَاللهِرَأَيْتُكَحِيْنَضَرَبْتَمَاتَضْرِبُ َرْبَةًإِلاَّكَانَتْمَعَهَابَرْقَةٌ. قَالَلَهُرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ: يَاسَلْمَانُ،رَأَيْتَذَلِكَ؟فَقَالَ: إِي،وَالَّذِيبَعَثَكَبِالْحَقِّيَارَسُوْلَاللهِ. قَالَ: فَإِنِّيحِيْنَضَرَبْتُالضَّرْبَةَاْلأُولَىرُفِعَتْلِيمَدَائِنُكِسْرَىوَمَاحَوْلَهَاوَمَدَائِنُكَثِيْرَةٌحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالَلَهُمَنْحَضَرَهُمِنْأَصْحَابِهِ: يَارَسُوْلَاللهِ،ادْعُاللهَأَنْيَفْتَحَهَاعَلَيْنَاوَيُغَنِّمَنَادِيَارَهُمْوَيُخَرِّبَبِأَيْدِيْنَابِلاَدَهُمْ. فَدَعَارَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِذَلِكَ. ثُمَّضَرَبْتُالضَّرْبَةَالثَّانِيَةَفَرُفِعَتْلِيمَدَائِنُقَيْصَرَوَمَاحَوْلَهَاحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالُوا: يَارَسُوْلَاللهِادْعُاللهَأَنْيَفْتَحَهَاعَلَيْنَوَيُغَنِّمَنَادِيَارَهُمْوَيُخَرِّبَبِأَيْدِيْنَابِلاَدَهُمْ. فَدَعَارَسُولُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِذَلِكَ. ثُمَّضَرَبْتُالثَّالِثَةَفَرُفِعَتْلِيمَدَائِنُالْحَبَشَةِوَمَاحَوْلَهَامِنَالْقُرَىحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَعِنْدَذَلِكَ: دَعُواالْحَبَشَةَمَاوَدَعُوْكُمْ،وَاتْرُكُواالتُّرْكَمَاتَرَكُوْكُمْ

“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penggalian Khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul batu tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk. Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?” Kata Salman: “Demi Dzat yang mengutus anda membawa kebenaran, betul wahai Rasulullah.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”

Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”

Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”

Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”

Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terjadilah apa yang diberitakan oleh beliau. Kedua negara adikuasa masa itu berhasil ditaklukkan kaum muslimin, dengan izin Allah.

Jadi, milikilah cita-cita tinggi, dan gantungkan cita-cita itu kepada Allah yang memiliki sifat Ash-Shomad (tempat segala sesuatu bergantung). Sebab, jika Allah yang menghendaki, apapun pasti terjadi, termasuk cita-cita dari para hamba-Nya. Wallahu a’lam.*

 

sumber: Hidayatullah

Tiga Fase Usia dalam Hidup Kita

Di antara adab yang perlu diperhatikan oleh seseorang dan para pendidik adalah adab dalam menjalani fase-fase usia. Ketidaksesuaian dalam menjalani fase-fase ini bisa menyebabkan perilaku seseorang menjadi buruk atau bahkan biadab.

Al-Qur’an membagi fase umur manusia kepada tiga bagian, yaitu lemah, kemudian kuat, kemudian lemah dan beruban.

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعۡفٍ۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ ضَعۡفٍ۬ قُوَّةً۬ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ۬ ضَعۡفً۬ا وَشَيۡبَةً۬‌ۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ‌ۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡقَدِيرُ (٥٤)

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. [QS: ar-Rum ayat 54]

Ibn Katsir di dalam Tafsirnya saat menjelaskan tentang ayat ini menulis,

Kemudian ia keluar dari rahim ibunya, lemah, kurus, dan tak berdaya. Kemudian ia tumbuh sedikit demi sedikit sampai ia menjadi seorang anak, lalu ia mencapai usia baligh, dan setelahnya menjadi seorang pemuda, yang merupakan kekuatan setelah kelemahan. Kemudian ia mulai menjadi tua, mencapai usia paruh baya, lantas menjadi tua dan uzur, kelemahan setelah kekuatan, maka ia kehilangan ketetapan hati, tenaga untuk bergerak, serta kemampuan berperang, rambutnya menjadi kelabu dan sifat-sifatnya, zahir dan batin, mulai berubah.

Kita bisa menyebut fase yang pertama sebagai fase kanak-kanak, yang kedua fase dewasa, dan yang terakhir fase tua. Hal ini karena kanak-kanak dan orang tua memang berada dalam fase kelemahan, sementara kekuatan ada pada usia dewasa.

Namun berapakah batasan usia pada masing-masing fase tersebut? Dalam hal ini usia baligh, atauusia lima belas tahun,merupakanbatas usia dari kanak-kanak ke dewasa dan usia enam puluh tahun, kurang lebih, merupakan saat-saat peralihan ke usia tua.

Usia lima belas tahun adalah waktu yang tidak terlalu lama sejak seorang anak mencapai usia baligh, sehingga membuat seorang anak tidak perlu melewati masa peralihan yang terlalu panjang untuk memasuki usia dewasa. Tentang batas usia ini ada penjelasan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Ibn Umar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  memanggil saya agar hadir ke hadapannya menjelang Perang Uhud dan ketika itu saya berusia empat belas tahun, dan beliau tidak mengijinkan saya untuk ikut berperang. Kemudian beliau memanggil saya untuk hadir ke hadapannya menjelang Perang Khandaq ketika saya berusia lima belas tahun dan beliau mengijinkan saya untuk berperang.” Nafi’ berkata, “Saya datang kepada Umar bin Abdul Aziz yang merupakan Khalifah pada waktu itu dan menyampaikan riwayat tersebut kepadanya. Ia berkata, ‘Usia ini (lima belas tahun) adalah batas antara anak-anak dan orang dewasa.’ Dan ia memerintahkan kepada para gubernurnya untuk memberikan tunjangan kepada siapa saja yang telah mencapai usia lima belas tahun.” (HR Bukhari)

Adapun batas antara fase dewasa dan tua kurang lebih ada di sekitar usia enam puluh tahun. Hal ini dengan memperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umarwafat pada usia enam puluh tiga tahun, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik (HR Muslim), dan ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum ajma’inwafat di usia yang sama.

Rasulullah dan Abu Bakar wafat saat masih berada dalam kekuatan dan keduanya mengalami sakit serta menjadi lemah karenanya hanya beberapa hari menjelang wafat. Sementara Umar wafat karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah.

Ada riwayat di dalam Siyar A’lam al-Nubala’ karya al-Dzahabi bahwa kurang dari sebulan sebelum wafatnya beliau mengangkat tangan ke langit dan berdoa, “Ya Allah, usiaku telah tua, kekuatanku melemah, dan rakyatku menyebar luas, maka kembalikanlah aku kepada-Mu tanpa melakukan penganiayaan dan kezaliman.”

Selain itu, mereka yang berada di fase dewasa juga perlu memperhatikan batas usia empat puluh tahun, sebagaimana al-Qur’an menyebut secara khusus tentang usia ini: “…sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ….” Karena pada usia inilah, seperti disebutkan Ibn Katsir di dalam Tafsirnya, “kemampuan berpikir seseorang, pemahaman, serta kesabarannya mencapai puncak kematangan. Juga dikatakan bahwa biasanya seseorang tidak akan mengubah jalannya [cara hidup dan karakternya, pen.] saat ia mencapai usia empat puluh tahun.” Ini adalah saat seseorang mencapai usia kematangan dan berada dalam puncak kedewasaan dan kemandirian.

Adab Menjalani Fase Usia

Seorang Muslim perlu memahami fase-fase ini dan mengambil perhatian atas diri sendiri dan orang lain agar ia tidak sampai melanggar adab-adabnya.

Di antara adab terkait fase usia ini adalah mereka yang berada di fase kuat atau dewasa harus bertindak sesuai kapasitasnya dan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab. Karena mereka adalah orang-orang yang berada di puncak fase usia dan yang paling memiliki kemampuan, maka dia harus melindungi dan mengayomi orang-orang yang berada di fase usia yang lain, bukan malah meninggalkan, tak peduli, apalagi sampai menindas. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak mengakui hak-hak orang tua kamimaka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah).

Begitu pula mereka yang berada pada fase-fase usia lainnya harus mengetahui adab-adab yang perlu dilakoninya. Seorang anak atau mereka yang berusia lebih muda, misalnya, perlu menghormati orang-orang yang lebih tua dan mendahului dalam memberi salam. “Yang muda harus memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak,” sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhari).

Hilangnya adab terhadap usia bisa berdampak sangat serius. Ada hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebut bahwa ada tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak memandang kepada mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, di antaranya adalah orang tua yg berzina (HR. Muslim sebagaimana disebutkan di dalam Riyadhal-Shalihin). Hal ini disebabkan perilaku ini menunjukkan pelan

ggaran adab yag serius terhadap fase usia yang dilaluinya. Seorang yang sudah tua sebenarnya berada dalam kelemahan, termasuk dalam urusan syahwat atau dorongan seksual. Jika dorongan syahwat sudah jauh berkurang tapi masih saja bermaksiat dan berzina, ini merupakan hal yang sangat keterlaluan. Selain itu, fase usia yg dilaluinya adalah fase terdekat dengan kematian, maka bagaimana mungkin ia masih sempat melakukan dosa besar? Padahal seharusnya ia menjadi orang yang paling banyak mengingat kematian.

Di antara persoalan serius di jaman modern ini berkenaan dengan fase usia adalah dimundurkannya batas waktu antara fase kanak-kanak dan dewasa. Anak-anak pada hari ini belum dianggap dewasa sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun atau bahkan lebih. Masa-masa di antara baligh dan usia sekitar dua puluh tahun disebut sebagai masa transisi atau biasa dikenal sebagai masa remaja, sebuah periode pertumbuhan yang dahulunya tidak ada.

UNICEF dalam laporannya pada tahun 2011 menyebut umur 10-19 tahun sebagai usia remaja (http://www.unicef.org/adolescence/files/SOWC_2011_Main_Report_EN_02092011.pdf), sementara PBB menyebut mereka yang berusia di antara 15 dan 24 tahun sebagai pemuda (youth), tetapi penjelasan terhadap terma ini kurang lebih sama dengan apa yang dipahami masyarakat modern tentang remaja, yaitu “a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence” (http://www.un.org/esa/socdev/documents/youth/fact-sheets/youth-definition.pdf). Yang terakhir ini membuat fase kedewasaan seorang anak menjadi semakin mundur dan lambat.

Anak-anak sebetulnya mengalami perubahan penting secara fisik dan psikologis menjadi seorang dewasa saat mereka baligh dan, setelah melewati periode transisi yang singkat, bisa diterima secara sosial sebagai bagian dari masyarakat dewasa saat mereka berusia 15 tahun, sebagaimana di jelaskan di awal artikel ini. Hal ini sejalan dengan perkembangan natural pada fisik serta kesiapan psikologis dan sosial pada manusia secara umum.

Penundaan yang terlalu lama dari batas usia ini akan menimbulkan kekacauan konsep serta kerusakan adab pada diri seorang anak. Ia yang seharusnya sudah memasuki fase kekuatan dipaksa untuk tetap berada dalam fase lemah, atau fase yang samar-samar, tidak lemah tapi juga tidak kuat.

Diubahnya definisi dan batasan waktu antara anak-anak dan dewasa telah merusak konsep adab terkait fase usia. Seseorang yang seharusnya sudah mulai menjalani adab sebagai seorang dewasa malah terus berperilaku seperti anak-anak atau malah ‘dihalalkan’ untuk tidak beradab karena mereka dianggap sedang menjalani masa transisi yang penuh gejolak. Ia menjadi kurang memiliki rasa tanggung jawab, yang merupakan salah satu ciri kedewasaan, dan seringkali tak sungkan melakukan berbagai jenis pelanggaran. Sebagian bahkan sangat membenci tanggung jawab, seperti yang dikutip James E. Gardner (1992: 41) dalam Memahami Gejolak Masa Remaja tentang ucapan seorang remaja di Amerika:

Inilah kata yang paling kubenci – tanggung jawab. Aku selalu harus bertanggung jawab terhadap diriku sendiri, terhadap orang lain, atau terhadap sesuatu …. Persetan dengan tanggung jawab. Aku tidak menginginkannya. Taik dengan tanggung jawab!

Ini baru ucapan dan sikap yang tak pantas, belum termasuk berbagai bentuk kenakalan dan perilaku tak bertanggung jawab dari anak-anak yang biasa disebut sebagai remaja, seperti bullying, perilaku seks yang bebas, penggunaan obat-obat terlarang, serta jiwa yang labil dan kecenderungan bunuh diri.Sebetulnya bukan para remaja ini yang salah pada asalnya, tetapi masyarakat modern-lah yang telah mengacaukan batasan usia serta meninggalkan adab-adab yang menjadi tuntutan di dalamnya. Akibatnya, banyak sikap dan perilaku anak-anak serta pemuda pada hari ini yang menjadi tak beradab.

Karena itu tidak ada jalan untuk memperbaiki keadaan ini selain dengan menetapkan kembali fase usia pada batas-batasnya yang alami dan sesuai dengan tuntunan agama, serta dengan memahami dan menghidupkan adab-adab yang sesuai padamasing-masing fase usia tersebut.*/Jakarta,25 Dzulhijjah 147/ 27 September 2016

 

 

Oleh: Alwi Alatas

Penulis buku Revolusi Jilbab Kasus Pelarangan Jilbab di SMA Negeri se-Jabodetabek, 1982-1991

sumber: Hidayatullah

 

 

Tahun Ini, 30 Ribu Penduduk Zionis Tewas karena Kecelakaan Lalin

Hidayatullah.com–Media lokal wilayah pendudukan Ynet News (3/12/2016) menyebutkan bahwa pada tahun 2016 korban tewas karena kecelakaan dari pemukim wilayah pendudukan penjajah Zionis mencapai 32.959. Dari angka tersebut, 5038 korban berasal dari kalangan anak-anak. Angka kematian yang cukup tinggi ini melebih jumlah kematian yang disebabkan karena peperangan.

Media itu juga menyebutkan bahwa bertambahnya jumlah korban karena kecelakaan lalu lintas setiap tahun mengalami peningkatan.

Pada tahun 2016 jumlah korban tewas dari kalangan pengemudi meningkat menjadi 15 persen, sedangklan dari kalangan pengendara kereta api meningkat 20 persen. Sedangkan untuk mengendara motor, jumlah tewas menurun 16 persen dan untuk pejalan kaki, jumlah tewas juga menurun 10 persen.*

Rep: Sholah Salim

Editor: Thoriq

Teguhkan Iman, Hilanglah Kehinaan

PERNAHKAH terbayang dalam benak kita, bagaimana perasaan Muhammad kecil kala hidup tanpa ayah dan saat enam tahun beliau sudah terpisah dari ibunda tercintanya. Saat ada kesempatan berlari-lari bersama teman sebayanya, kemudian beliau terjatuh, kepada siapa beliau merintih memanggil?

Teman-temannya yang memiliki ayah dan ibu dengan sigap akan memanggil, “Ayah, Ibu, aku jatuh.” Tetapi tidak demikian dengan putra Abdullah itu.

Andai itu dialami maka hatinya pasti bergetar, tenggorokannya terasa sempit dan kelopak matanya akan tergenangi ari mata yang terus ia tahan agar tak tumpah menjadi ari mata, meeski itu sangat sulit. Dan, tentu saja beliau harus bisa membesarkan hatinya sendiri.

Sejak kecil Rasulullah Muhammad Shallallahu alayhi wasallam sudah akrab dengan kesusahan demi kesusahan. Tetapi, itulah yang nantinya membentuk kekuatan kepribadian di dalam hatinya. Jadi, menjalani hidup dengan tahap suka-dukanya, jangan pernah membuat diri kita lemah iman dan lemah semangat.

“Pada awalnya, kesulitan bisa mengecilkan hati, tetapi setiap kesulitan pasti akan berlalu. Setiap keputusasaan diikuti harapan; setiap kegelapan diikuiti sinar matahari,” demikian gubah Rumi dalam salah satu bait puisinya.

Oleh karena itu, apapun fase hidup yang kita alami atau hadapi, fokuslah kepada iman, sebab itulah satu-satunya diri terbebas dari mental negatif yang merusak diri.

وَلَاتَهِنُواوَلَاتَحْزَنُواوَأَنْتُمُالْأَعْلَوْنَإِنْكُنْتُمْمُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali-Imran [3]: 139).

Allah memuji orang-orang yang mau memelihara, menjaga dan menguatkan imannya, “…Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]: 5).

Sedemikian pentingnya iman, Sayyidina Ali radhiyallahu anhu berkata, “Barangsiapa menginginkan kemuliaan tanpa kehinaan, wibawa tanpa kekuasaan, kecukupan tanpa harta, kedudukan tanpa dukungan nasab, maka hendaknya ia mengeluarkan nafsunya dari hinanya kemaksiatan menuju mulianya ketaatan (iman).”

إِنَّٱلَّذِينَءَامَنُواْوَعَمِلُواْٱلصَّـٰلِحَـٰتِيَہۡدِيهِمۡرَبُّہُمبِإِيمَـٰنِہِمۡ‌ۖ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya.” (QS. Yunus [10]: 9).

Fakhruddin Ar-Razi dalam bukunya “Ajaibul Qur’an” menuliskan bahwa ada empat tanda orang yang beriman. Yaitu; 1) tidak mengeluh ketika mendapat musibah; 2) beramal tidak untuk dilihat (dipuji) orang); 3) bersabar atas tindakan buruk manusia dan tidak membalas; 4) tetap lembut kepada para hamba-Nya meskipun sikap mereka beragam.

Demikianlah yang ditauladankan oleh Rasulullah bersama kaum Muslimin dalam Perang Badar. Secara kalkulasi rasio, umat Islam tidak akan pernah bisa melawan, apalagi menang. Tetapi, kekuatan iman kepada Allah menjadikan keadaan 180 derajat berbalik. Umat Islam yang hanya 300 orang bisa mengalahkan 1000 orang kafir.

وَلَقَدْنَصَرَكُمُاللَّهُبِبَدْرٍوَأَنْتُمْأَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ

“Dan sungguh, Allah telah menolong kalian dalam Perang Badar, padahal kalian dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, agar kalian mensyukuri-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 123).

Seperti itu pula yang sebelumnya juga dialami oleh Nabi Nuh dan kaumnya yang beriman. Intimidasi dan kebiadaban yang dilakukan kaum kafir terhadap Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman pada akhirnya tergantikan oleh kemenangan dari-Nya.

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيۡنَـٰهُ وَمَن مَّعَهُ ۥ فِى ٱلۡفُلۡكِ وَجَعَلۡنَـٰهُمۡ خَلَـٰٓٮِٕفَ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِنَا‌ۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُنذَرِينَ (٧٣)

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS. Yunus [10]: 73).

Oleh karena itu, sesulit apapun, atau sebahagia apapun hidup ini, jangan pernah sengsarakan iman di dalam dada. Sebab, tanpa iman, kita tak berarti apa-apa. Sebaliknya, dengan iman, seberat apapun ujian hidup, semua pasti berlalu dengan pertolongan-Nya.

Rumi menulis, “Tenanglah, hanya tangan Tuhan yang dapat mengangkat beban di hatimu.”Wallahu a’lam.*

 

sumber: Hidayatullah

Jaga Lisan Jangan Disalahgunakan

APA yang membuat Allah murka kepada Fir’aun, di antaranya adalah karena lisannya yang sengaja dibiarkan bablas dalam kesesatan.

فَقَالَأَنَارَبُّكُمُالْأَعْلَى

“Berkata (Fir’aun), ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at [79]: 24).

Ucapan Fir’aun itu mengemuka setelah beragam tipu daya dan kejahatan ia lakukan dengan penuh kepongahan demi mempertahankan kuasanya karena ilusi dari mimpi yang dialaminya bahwa kelak akan ada orang yang menghancurkan kekuasaannya.

Namun, kebenaran tak pernah memihak kekuasaan dan sebaliknya, siapapun yang memilih jalan kebathilan, kebinasaan pasti akan menemui dan menyeretnya. Dan, siapapun yang memilih kebathilan akan hidup dengan khayalan, dan siapa yang teguh dalam kebenaran, akan tegar dalam terjaganya nalar (akal sehat).

Menjaga Lisan, Selamat

Al-Qur’an merinci bagaimana kemudian Fir’aun terperangkap dalam ketakutan sehingga kehilangan rasionalitasnya, sehingga jadilah ia sosok pemimpin yang otoriter dan anti dengan masukan atau saran dari pihak lain.

قَالَفِرْعَوْنُمَاأُرِيكُمْإِلَّامَاأَرَى

“Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” (QS. Al-Mu’min [40]: 29).

Bahkan, kala kebenaran masuk ke dalam dada para tukang sihir, yang membuat mereka beriman kepada Allah Ta’ala, Fir’aun semakin pongah dan mengatakan hal-hal yang sama sekali sulit dicerna akal sehat.

قَالَآمَنتُمْلَهُقَبْلَأَنْآذَنَلَكُمْإِنَّهُلَكَبِيرُكُمُالَّذِيعَلَّمَكُمُالسِّحْرَفَلَسَوْفَتَعْلَمُونَلَأُقَطِّعَنَّأَيْدِيَكُمْوَأَرْجُلَكُممِّنْخِلَافٍوَلَأُصَلِّبَنَّكُمْأَجْمَعِينَ

“Fir’aun berkata: “Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya.” (QS. Asy-Syuara [26]: 49).

Sungguh, ucapan-ucapan Fir’aun ini karena merasa diri selalu benar, paling berkuasa, sehingga rasionalitasnya beku dan hatinya sulit menerima cahaya kebenaran. Akibatnya, semakin berkata, ia semakin mengundang murka Allah Ta’ala. Dan, seperti jamak diketahui, akhirnya Fir’aun tenggelam di tengah lautan bersama kesombongan dan bala tentaranya yang angkuh dan tidak pernah mau berpikir.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memfungsikan lisan, jangan pernah bersandar pada jabatan, kekuasaan atau pun pengaruh. Sebab, kebenaran tak bersahabat dengan siapapun, kecuali manusia yang komitmen terhadapnya (kebenaran).

Pepatah Arab mengatakan, “Jagalah lisanmu dan berhati-hatilah dengan perkataannya karena seseorang itu dapat selamat dengan lisan dan dapat celaka dengan lisan.”

Maka, jangan sampai kebenaran ditinggalkan sementara sangkaan manusia yang dangkal berpikirnya justru dijadikan acuan, seperti Fir’aun mempercayai Haman yang licik lagi pemarah, sehingga diri terperosok kedalam kehinaan gara-gara lisan.

Ibn Athaillah berkata, “Sebodoh-bodoh manusia adalah yang meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan manusia lainnya.”

Dan, meninggalkan keyakinan terhadap kebenaran atas alasan apapun disebut oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai kebathilan. “Kebatilan itu melawan kebenaran.”

Orang yang telah masuk dalam kebatilan tidak akan bisa berpikir benar dan berkata benar. Di sinilah lisan menjadi sebab datangnya kehinaan demi kehinaan. Sebab tidak ada perkataan dari pelaku kebatilan, melainkan melawan akal sehat, menista kebenaran, dan memendam prinsip keadilan, sehingga apa yang diucapkannya selalu menjerumuskan manusia pada kesesatan demi kesesatan.

Tiga Orang yang Tak Diajak Allah Bicara

Oleh karena itu Rasulullah berpesan, “Tahanlah lisanmu, hendaklah rumahmu memberi kelapangan bagimu, dan menangislah atas kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu, mari jaga lisan. Sebab dari lisan itulah tampak apakah diri dalam kebenaran, masih berimah atau telah jauh menyimpang dari jalan Tuhan. Hasan Al-Bashri berkata, ‘Tidak memahami agamanya orang yang tidak menjaga lisannya.”

Atas dasar itu, gunakanlah lisan untuk meluruskan kesalahan, menegakkan keadilan, dan menebar kemaslahatan, apalagi jika diri diamanahi Allah kuasa dan jabatan, dimana setiap ucapan sangat diperhatikan dan bisa merubah keadaan. Jangan malah disalahgunakan, seperti Fir’aun yang akhirnya tenggelam dalam kebinasaan dan kehinaan demi kehinaan. Wallahu a’lam.*

 

 

37 Cara Melembutkan Hati

Dalam hadist Arba’in Rasulullah bersabda: “… Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad itu, dan bila ia rusak maka rusaklah pula seluruh jasad.  Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati bisa menjadi keras karena bermaksiat; bukan hanya karena melakukan dosa besar, namun meremehkan dosa kecil dan mengulang-ulangnya pun dapat mengeraskan hati.   Selain itu, hati juga bisa menjadi keras dengan banyak berangan-angan, dan berkumpul dengan orang yang berhati keras akan semakin merusak hati.  Kita juga perlu waspada karena banyaknya tertawa juga mengeraskan hati.
Akibat buruk dari hati yang keras antara lain merasa hampa makna dari hal-hal yang kita lakukan.  Kenikmatan ibadah dan khusyu’ tidak akan bisa dirasakan oleh hati yang keras.  Bila Anda pelajar atau penuntut ilmu dan merasa kesulitan untuk faham akan ilmu yang diajarkan, boleh jadi dan sangat mungkin hal tersebut dikarenakan kerasnya hati.  Mau tidak mau wajah kita sebagai refleksi hati pun turut serta mempresentasikan hati yang keras dengan raut yang tak kalah kerasnya.  Tentu saja orang-orang dan teman kita yang merasakan kerasnya hati kita akan menjauh, baik cepat atau lambat.
Bila di waktu ini, detik ini kita merasa  keras hati, lembutkanlah lagi hati dengan:
1.Berdoa kepada Allah memohon dilembutkan hati 
Dia-lah yang berkuasa membolak-balikkan hati, mudah bagi Allah membalikkan hati yang keras menjadi lembut.  Seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk melembutkan hati, tidak akan berhasil bila Allah  tidak menghendakinya.

2.Membaca Al Quran dan mentadaburinya
Al Quran adalah bacaan terbaik, mulia, penuh hikmah, dan terjaga kemuliaanya hingga hari kiamat.  “Sesungguhnya Al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia.  Pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh).  Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.  Diturunkan dari Tuhan semesta alam“(QS Al Waqiah:77-80).   Al Quran berisi kisah-kisah orang terdahulu yang dapat diambil pelajaran di dalamnya.  Allah juga menceritakan tentang janji surga dan ancaman tentang neraka di dalam Al Quran.  Dengan demikian kita diingatkan kembali hakikat kehidupan ini, tentang masa lalu untuk diambil hikmahnya, tentang masa sekarang dan masa depan di akherat yang menjadikan kita akan merasa yakin dengan janji dan pertolongan Allah pada orang-orang yang bertakwa.
3.Membaca Sirrah Nabawiyah 
Sirrah Nabawiyah berkisah tentang kehidupan Rasulullah dari lahir hingga wafat.  Di dalamnya kita akan mendapati cerita masa kecil Rasulullah sebagai anak yatim yang mandiri, masa remaja sebagai pemuda yang dipercaya, dan masa kerasulan yang penuh perjuangan, dan ketegaran.  Dengan membacanya kita akan mengetahui betapa Rasulullah  sangat mencintai kita sebagai umatnya, bagaimanakah dengan kita?  Dengan membaca Sirrah Nabawiyah kita dapat mempelajari contoh terbaik kelembutan hati dari Rasulullah yang selalu dibimbing Allah.
4.Memperbanyak dzikir
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”(QS. Ar Ra’d:28).  Janji Allah bagi orang-orang yang berzikir mengingat Nya adalah menentramkan hati.  “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau dududk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”
5.Mengasihi anak yatim
“Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya : sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi ? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.”[HR Thobroni, Targhib, Al Albaniy : 254].  Seseorang yang mengasihi anak yatim berarti dia memposisikan hati dan dirinya sebagai ayah atau ibu atau saudara bagi mereka.  Maka secara naluriah akan terhimpun rasa kasih sayang dan kelembutan hati di dalamnya.  Dengan demikian tidak mengherankan bahwa salah satu hikmah menyantuni dan mengasihi anak yatim adalah memlembutkan hati. Dalam hadistnya Rasulullah bersabda “Kasihilah yang ada di bumi maka yg dilangit akan mengasihimu”
6.Saling menasihati dalam kebaikan
Berkumpulah bersama orang-orang sholeh,  dan pilihlah orang-orang sholeh sebagai sahabat terbaik kita.  Sahabat yang sholeh akan saling menasihati dan mengingatkan dalam kebaikan.  Nasehat adalah cinta, begitu dituturkan oleh sahabatku yang sholeh dan baik hati.  Bila kita berkumpul dengan orang yang hatinya lembut dan dekat dengan Allah niscaya kita bisa merasakan cinta mereka dalam bentuk nasehat kebaikan yang terus mengingatkan di saat kita lupa, menguatkan di saat lemah untuk kembali kuat berikatan istiqomah di jalan-Nya.
7.Banyak mengingat dosa dan kematian
Dalam upaya melembutkan hati, perbanyaklah mengingat dosa dan kematian.  Dengan mengingat akan datangnya kematian, kita akan menyadari bagaimana kesiapan kita menghadapi saat itu.  Menyadari kembali dosa kita satu tahun yang lalu, kemudian satu bulan yang lalu, satu minggu yang lalu, satu hari yang lalu, satu jam yang lalu, bagaimana bila dibandingkan kualitas amal kita detik ini.  Sadar akan banyaknya dosa dan belum siapnya kita menghadapi kematian mengingatkan kita; sampai kapan kita akan mempertahankan kerasnya hati, apa yang bisa dibanggakan dengan kerasnya hati, mengingatkan akan hilangnya nikmat bermunajat kepada Allah.
8. Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.
9. Takut tidak menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak Allah itu pasti diminta pertanggungjawabannya.
10. Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalan syaithan.
11. Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.
12. Takut akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang kita lakukan.
13. Takut mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah.
14. Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.
15. Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur.
16. Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita lakukan.
17. Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut
dan lebih tajam dari pedang.
18. Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.
19. Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.
20. Takut terhadap nikmat Allah yang kita rasakan siang dan malam sedang kita tidak bersyukur.
21. Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita.
22. Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.
23. Kekhawatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada
hari timbangan ditegakkan.
24. Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami dan harta
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki
urusan ini kecuali pada Allah.
25. Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, karena terkadang riya’ itu
memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullah
pernah berkata kepada dirinya sendiri. “Berbicaralah engkau wahai diri. Dengan
ucapan orang sholeh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan engkau melaksanakan amal
orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis”.
26. Jika kita ingin sampai pada derajat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak
seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.
27. Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.
28. Ketahuilah bahwa amal sholeh dengan keistiqomahan jauh lebih disukai Allah
daripada amal sholeh yang banyak tetapi tidak istiqomah dengan tetap melakukan dosa.
29. Ingatlah setiap kita sakit, bahwa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat
dan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.
30. Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sehat.
31. Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran
dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka khayalkanlah bahwa kita yang
sedang diusung.
32. Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kita
sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan
menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap
mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, dan
mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.
33. Lihatlah dunia dengan pandangan I’tibar (pelajaran) bukan dengan pandangan
mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.
34. Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah kita
sanggup menghadapi panasnya jahannam?
35. Di antara akhlak wanita mu’minah adalah menasihati sesama mu’minah.
36. Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakan kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal sholeh maka diajauh lebih baik di sisi Allah. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baiksedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari saya di sisi Allah.”
37. Takut akan adzab dan prahara di alam kubur.
Hadis riwayat Aisyah ra. istri Nabi saw.:
Rasulullah saw. bersabda: Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya
Begitulah, menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan Allah, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah. Kesibukan dan rutinitas kita yang menguras tenaga dan pikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak diimbangi dengan “makanan-makanan” hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati… Padahal sebagai seorang mukmin, dalam melihat berbagai macam persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.

“Ya Allah, Sang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini pada ketaatan agamaMu”, Amin

http://nabungamalsholeh.blogspot.com/2011/03/37-cara-melembutkan-hati.html

Perjuangan Ratiba Ahel Menghidupi Keluarganya di Gaza

Perang yang terjadi di Suriah benar-benar telah merenggut kebahagiaan banyak orang, mereka harus menyaksikan tewasnya orang-orang tercinta, rumah-rumah dihancurkan, negeri diluluhlantakkan bahkan mereka harus keluar dari negeri sendiri dan berjuang bertahan hidup di negeri orang lain.

 

Ratiba Ahel, seorang wanita asal Palestina yang sudah menetap di Suriah dipaksa untuk meninggalkan rumahnya akibat petempuran yang terjadi di Suriah.

Saat ini ia tinggal di Gaza dan kehidupannya di Gaza sedikit lebih baik dari Suriah, meskipun ia tidak mendapatkan uang untuk menenuhi kebutuhan hidupnya.

Suami Ratiba sendiri terkena serangan jantung, dan tidak dapat melakukan pekerjaan berat, oleh karewna itulah Ratiba Ahel, harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup ia dan keluarganya.

Sulit sekali mencari pekerjaan di daerah konflik seperti Gaza, namun Ratiba tetap berusaha untuk melakukan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya asalkan itu halal.

Ratiba Ahel mencoba usaha dengan membuat makanan dan permen yang kemudian ia jual kepada puluhan keluarga di Gaza.

Wanita asal Palestina itu sudah memulai usaha tersebut sejak 3 tahun lalu.

Dimana ketika itu ia kehilangan semua barang miliknya di Damaskus Selatan, akibat blokade dan serangan yang dilakukan rezim Assad terhadap kota Damaskus.

Bahkan ia dipaksa untuk meninggalkan Damaskus, hingga akhirnya Ratiba dan 6 anggota keluarganya pergi meninggalkan Suriah menuju Mesir kemudian ke Gaza. Dan di Gaza lah Ratiba dan keluarga membuka lembaran hidup baru.

Diceritakan Zaman Al Wasl, usaha tersebut berawalnya dari anak Ratiba, Abdul Rahman yang meminta dibuatkan makanan untuk acara disekolahnya, kemudian orang-orang di sekolah Rahman mendapati bahwa makanan buatan ibunya Rahman lezat, hingga orang-orang tersebut memesan kepada Ibu Rahman untuk membuatkan makanan.

berawal dari hal itu lah, wanita asal Palestina tersebut mulai merintis usahanya.

Di samping menerima pesanan makanan dari penduduk Gaza, Ratiba juga mulai mendistribusikan paket makanan ke sebuah toko-toko dan mal.

Motasim, anak Ratiba yang membantu ibunya memasak di dapur, menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut merupakan sumber utama yang mereka miliki untuk mendapatkan penghasilan. (Eka Aprila)

 

sumber:Bumi Syam