Hukum Thiyarah (Tathayyur, Menganggap Sial karena Sesuatu)

Ahlus Sunnah tidak percaya kepada thiyarah atau tathayyur. Tathayyur atau thiyarah yaitu merasa bernasib sial karena sesuatu[2]. Diambil dari kalimat: زَجَرَ الطَّيْرَ (menerbangkan burung).

Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H) rahimahullah berkata: “Dahulu, mereka suka menerbangkan atau melepas burung, jika burung itu terbang ke kanan, maka mereka menamakannya dengan ‘saa-ih’, bila burung itu terbang ke kiri, mereka namakan dengan ‘baarih’. Kalau terbangnya ke depan disebut ‘na-thih’, dan manakala ke belakang, maka mereka menyebutnya ‘qa-id’. Sebagian kaum bangsa Arab menganggap sial dengan ‘baarih’ (burungnya terbang ke kiri) dan menganggap mujur dengan ‘saa-ih’ (burungnya terbang ke kanan) dan ada lagi yang berpendapat lain.” [3]

Tathayyur (merasa sial) tidak terbatas hanya pada terbangnya burung saja, tetapi pada nama-nama, bilangan, angka, orang-orang cacat dan sejenisnya. Semua itu diharamkan dalam syari’at Islam dan dimasukkan dalam kategori perbuatan syirik oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena orang yang bertathayyur menganggap hal-hal tersebut membawa untung dan celaka. Keyakinan seperti ini jelas menyalahi keyakinan terhadap taqdir (ketentuan) Allah Azza wa Jalla.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (wafat th. 1421 H) rahimahullah : “Tathayyur adalah menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau yang diketahui. Seperti yang dilihat yaitu, melihat sesuatu yang menakutkan. Yang didengar seperti mendengar burung gagak, dan yang diketahui seperti mengetahui tanggal, angka atau bilangan. Tathayyur menafikan (meniadakan) tauhid dari dua segi:

Pertama, orang yang bertathayyur tidak memiliki rasa tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla dan senantiasa bergantung kepada selain Allah.

Kedua, ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya dan merupakan sesuatu yang termasuk takhayyul dan keragu-raguan.” [4]

Ibnul Qayyim rahimahullah kembali menuturkan: “Orang yang bertathayyur itu tersiksa jiwanya, sempit dadanya, tidak pernah tenang, buruk akhlaknya, dan mudah terpengaruh oleh apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka menjadi orang yang paling penakut, paling sempit hidupnya dan paling gelisah jiwanya. Banyak memelihara dan menjaga hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mudharat kepadanya, tidak sedikit dari mereka yang kehilangan peluang dan kesempatan (untuk berbuat kebajikan-pent.).” [5]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: ‘Ini disebabkan (usaha) kami.’ Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [Al-A’raaf: 131]

Ibnu Jarir ath-Thabari (wafat th. 310 H) rahimahullah dalam Tafsiirnya mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan bahwa apabila pengikut Fir’aun mendapat keselamatan, kesuburan, keuntungan, kemakmuran dan banyak rizqi, serta menemukan kesenangan duniawi, mereka mengatakan: ‘Kami memang lebih pantas mendapatkan semua ini.’ Sebaliknya, manakala tertimpa kejelekan berupa kekeringan, bencana dan musibah, mereka bertathayyur kepada Musa Alaihissallam dan orang-orang yang besertanya, yakni melemparkan penyebabnya kepada Musa dan orang-orangnya. Mereka mengatakan: ‘Sejak kedatangan Musa, kita kehilangan kemakmuran, kesuburan dan tertimpa krisis.’”

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa keberuntungan, kemakmuran, dan keburukan serta bencana kaum Fir’aun dan yang lainnya tidak lain adalah ketetapan yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui sehingga mereka menuduh Musa Alaihissallam dan pengikutnya sebagai penyebabnya.”[6]

Thiyarah termasuk syirik yang menafikan kesempurnaan tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan syaithan berupa godaan dan bisikannya.

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” [7]

Dalam Shahiih Muslim disebutkan, dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Di antara kami ada orang-orang yang bertathayyur.” Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Itu adalah sesuatu yang akan kalian temui dalam diri kalian, akan tetapi janganlah engkau jadikan ia sebagai penghalang bagimu.’” [8]

Dengan ini beliau mengabarkan bahwa rasa sial dan nasib malang yang ditimbulkan dari sikap tathayyur ini hanya pada diri dan keyakinannya, bukan pada sesuatu yang ditathayyurkan. Maka prasangka, rasa takut dan kemusyrikannya itulah yang membuatnya bertathayyur dan menghalangi dirinya untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, bukan apa yang dilihat dan didengarnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan permasalahan tersebut kepada umatnya tentang kesesatan tathayyur supaya mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan kepada mereka suatu alamat atau tanda atas kesialan, atau menjadikannya sebab bagi apa yang mereka takutkan dan khawatirkan. Supaya hati mereka menjadi tenang dan jiwa mereka menjadi damai di hadapan Allah Yang Mahasuci.

Telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

‘Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’” [9]

Pengharaman thiyarah didasarkan pada beberapa hal:
1. Dalam thiyarah terkandung sikap bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala

2. Thiyarah melahirkan perasaan takut, tidak aman dari banyak hal dalam diri seseorang, sesuatu yang pada gilirannya menyebabkan kegoncangan jiwa yang dapat mempengaruhi proses kerjanya sebagai khalifah di muka bumi.

3. Thiyarah membuka jalan penyebaran khurafat dalam masyarakat dengan jalan memberikan kemampuan mendatangkan manfaat dan mudharat atau mempengaruhi jalan hidup manusia kepada berbagai jenis makhluk yang sebenarnya tidak mereka miliki. Pada gilirannya, itu akan mengantar kepada perbuatan syirik besar.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]

Sumber: https://almanhaj.or.id/2397-hukum-thiyarah-tathayyur-menganggap-sial-karena-sesuatu.html

Ridha Sikap Terbaik Menghadapi Takdir Dibenci

KETAHUILAH bahwasanya dalam menghadapi takdir yang tidak disenangi, seorang hamba terbagi dalam tiga keadaan:

a. Dia ridha dengan takdir tersebut

Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya… ” (At-Taghabun [64]: 11).

Al-Qamah berkata, “Maksud musibah dalam ayat di atas adalah sebuah musibah yang menimpa seseorang dan dia menyadari bahwa takdir tersebut datang dari sisi Allah, kemudian ia pasrah dan ridha dengannya.”

Imam At Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala apabila mencintai sebuah kaum, maka Dia mengujinya. Barangsiapa yang ridha maka dia mendapatkan keridhaan dan siapa yang benci maka dia hanya akan mendapatkan kebencian.

Dalam salah satu doanya Rasulullah menyebutkan: “Aku memohon kepada-Mu sikap ridha setelah mendapatkan takdir.” (HR An-Nasa’i).

Salah satu hal yang bisa memotivasi seorang mukmin untuk bersikap ridha dengan takdir Allah adalah merealisasikan makna keimanannya, sebagaimana sabda Rasulullah,

Menakjubkan bagi seorang mukmin, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menetapkan sesuatu bagi seorang mukmin kecuali (sesuatu itu-edt) baik baginya.

Seseorang datang menemui Rasulullah dan meminta kepada beliau untuk berwasiat kepadanya, dengan wasiat yang ringkas dan padat. Rasulullah bersabda:

Janganlah engkau menuduh Allah (salah) dalam keputusan yang telah ditetapkan-Nya kepadamu.” (HR Ahmad).

Abu Darda radiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya apabila Allah Subhanahu Wa Ta’alamenetapkan sebuah takdir, Dia ingin agar takdir tersebut diterima dengan ridha.” Sikap ridha adalah jika seorang hamba tidak menginginkan selain apa yang dia rasakan, baik kesukaran atau kemudahan.

Umar bin Abdul Aziz radiyallahu anhu berkata, “Saya berada di waktu pagi dan tidak memiliki rasa senang, kecuali terhadap kejadian-kejadian qadha’ dan qadar (takdir).”

b. Sabar menerima musibah

Tingkatan ini diperuntukkan bagi orang yang tidak bisa ridha dengan keputusan Allah. Sikap ridha adalah karunia yang dianjurkan dan disunnahkan, sementara sabar adalah sesuatu yang secara pasti diwajibkan kepada seorang mukmin.

Kesabaran memiliki kebaikan yang banyak. Allah memerintahkan untuk bersabar dan menjanjikan pahala yang besar kepada pelakunya, sebagaimana firman-Nya:

“…Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar [39]: 10).

Perbedaan antara ridha dan sabar bahwa sabar merupakan sikap menahan dan menjaga diri dari marah sekalipun ada perasaan sakit, dan menginginkan hilangnya sakit tersebut.

Juga menjaga anggota badan dari melakukan tindakan-tindakan yang menggambarkan ketidaksukaan, seperti keluhan dengan lisan, gerakan tangan atau gambaran tanda-tanda kemarahan di wajahnya.

Ada pun ridha adalah ketenangan hati dan kelapangan jiwa, menerima takdir Allah dan tidak menginginkan hilangnya kedukaan itu, sekalipun merasakan sakit dalam dirinya. Dengan demikian, keridhaannya telah membuat semuanya ringan, karena hatinya telah dipenuhi yakin dan ma’rifah (mengenal Allah).

c. Marah dengan keputusan Allah

Dengan bersikap seperti ini, seseorang bisa dinyatakan keluar dari lingkup orang-orang yang bertawakal menuju kelompok orang-orang yang menuduh Allah Rabb semesta alam dengan kejelekan, na’udzubillahi min dzalik!

Untuk lebih memahami ketiga sikap di atas, kita perlu mengetahui bahwa dalam menghadapi segala sesuatu yang tidak disukainya, seorang hamba memerlukan enam prinsip:

1. Prinsip tauhid

Yaitu bahwa segala sesuatu telah dikehendaki, diciptakan, dan ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.

2. Prinsip adil

Yaitu bahwa sesungguhnya Allah akan tetap menjalankan hukum-Nya dan adil dalam keputusan-Nya.

3. Prinsip rahmat

Maksudnya, seseorang memiliki pendirian bahwa rahmat Allah dalam semua ketentuan-Nya mengalahkan murka dan kemarahan-Nya.

4. Prinsip hikmah

Yaitu pemahaman yang menyebutkan bahwa sesungguhnya hikmah Allah mengharuskan demikian. Allah tidak pernah menakdirkan sesuatu yang sia-sia, tidak pula menetapkan sesuatu yang tidak berguna.

5. Prinsip al-hamdu (pujian)

Yaitu pemahaman bahwa sesungguhnya Allah memiliki pujian yang sempurna dalam segala segi.

6. Prinsip al-‘ubudiyah (dan ini yang paling tinggi dan mulia)

Yakni pemahaman yang berawal dari sebuah kesadaran bahwa manusia hanyalah seorang hamba dari segala aspek, berlaku ke atasnya semua hukum dan keputusan majikannya, dengan hukuman atas keberadaannya sebagai seorang hamba yang dimiliki.

Dia Subhanahu Wa Ta’ala memperlakukannya di bawah hukum yang telah ditentukan-Nya, sebagaimana dia menjalankannya di bawah hukum-hukum agama. Hal itu merupakan tempat dijalankan segala keputusan-Nya.*Dr. Hani Kisyik, dikutip dari bukunya Kunci Sukses Hidup Bahagia.

 

HIDAYATULLAH

Sedikit Memperturutkan Hawa Nafsu, Sedikit Pula Kelelahannya

ORANG yang paling besar ke-rahah (senang memperturutkan kesenangan dunia)-annya, terlampau gemar akan kesenangan dan kelezatannya, dan paling giat mengejar kemewahannya, adalah juga (orang) yang paling besar kepayahannya dan kesulitannya. Paling banyak menghadapi ancaman bahaya dan paling sering diliputi kerisauan, kegundahan, dan kesedihan. Sebagai contoh para raja dan hartawan.

Ada pun seseorang yang paling sedikit merasakan kerahahan serta kelezatan duniawi, dan paling sedikit kegemaran dalam mencari kemewahan, adalah juga yang paling ringan kepayahan dan kesulitan yang dihadapinya. Paling sedikit bahaya yang mengancamnya, dan paling sedikit kerisauan dan kegundahan yang dialaminya. Contohnya, kaum fakir miskin (yang sabar).

Hal itu disebabkan kelezatan dunia, kesenangan, serta gejolak syahwatnya, pada hakikatnya lebih banyak mengakibatkan kekeruhan hati, kesusahan, dan kegelisahan. Dan bahwa orang yang bersaing, berebut, dan cemburu untuk mendapatkan kelezatan dunia, sungguh amat banyak jumlahnya. Itu pulalah penyebab makin besarnya kesulitan, bahaya, serta kegundahan yang dialami dalam upaya memperolehnya, menikmatinya, menjaganya, serta mengembangkannya. Dan, makin berlipat gandalah –bersamaan dengan itu– segala kesulitan, bahaya, kegelisahan, dan kegundahan hati, dengan bertambah gencarnya pencarian dan memuncaknya kegemaran padanya.

Sebaliknya, makin lemah keinginan meraih kelezatan dunia dan makin redup kegemaran memperolehnya, makin sedikit pula kepayahan, bahaya, kegelisahan, dan kegundahan yang dialami. Itulah sebabnya Anda melihat para raja dan hartawan adalah orang-orang yang paling lelah hidupnya, paling banyak mengalami kegundahan dan keresahan, serta paling besar ancaman yang dihadapinya. Sehingga, mereka bersedia berjudi dengan nyawanya dan mengorbankan hidupnya demi meraih idaman hatinya dan memenuhi syahwat nafsunya atau demi menjaga miliknya dan mengembangkannya. Keadaan seperti itu dapat disaksikan dengan jelas oleh setiap orang yang menggunakan akalnya.

Ada pun kaum fakir miskin, mereka itu adalah manusia yang paling sedikit kegundahan dan kegelisahannya disebabkan oleh sedikitnya tuntutan akan kelezatan dunia dan kemewahan hidup. Hal itu juga disebabkan oleh lemahnya keinginan mereka untuk meraih hal-hal tersebut, baik dengan cara sukarela — seperti keadaan para ahli zuhud–, atau karena terpaksa seperti dalam keadaan kaum yang lemah. Yakni, orang-orang yang tidak membiarkan hati mereka membicarakan kehidupan duniawi yang berlebih-lebihan, dan karena itu tidak berkeinginan untuk meraihnya atau bersusah payah mempertahankannya. Sebagai akibatnya, sedikit pula kepayahan dan kegundahan yang mereka alami.

Ketahuilah bahwa orang yang hanya mencari kehidupan untuk hidupnya sehari, lebih sedikit kepayahan dan kegundahannya daripada yang mencari kecukupan untuk hidupnya seminggu. Orang yang mencari kecukupan untuk seminggu lebih sedikit kegundahannya daripada yang mencari kecukupan untuk sebulan. Dan, yang mencari kecukupan sebulan lebih sedikit kegundahannya daripada yang mencari kecukupan untuk setahun.

Selanjutnya, orang yang mencari kecukupan untuk dirinya sendiri lebih sedikit kepayahan dan kegundahannya daripada yang mencari kecukupan untuk dirinya sendiri ditambah untuk orang lain. Makin banyak tuntutan hidup, makin besar pula kepayahan dan kesulitan serta kegundahan dan kegelisahan. Dengan demikian, kesenangan dan kerahahan duniawi yang diperoleh seorang manusia, semuanya itu berada di atas sebuah lengan neraca, sedangkan kepayahan, bahaya, serta kegundahan yang dialami dan dideritanya berada di sebuah lengan neraca lainnya. Persis sama banyaknya, kendati ada kemungkinan salah satu dari keduanya sedikit lebih banyak atau lebih ringan. Manusia dalam hal ini memang agak berbeda antara yang satu dan lainnya.

Inilah yang diperoleh oleh kedua kelompok dalam kehidupan dunia. Ada pun di akhirat kelak, masing-masing masih akan mengalami balasannya sendiri-sendiri. Para pencari kelezatan duniawi dan pengumbar syahwat hawa nafsu akan mengalami balasan yang berupa perhitungan, hukuman, dan malapetaka. Demikian pula kaum tak berpunya yang ikhlas, yang –di dunia ini– terhalang atau menahan diri dari kelezatan duniawi dan syahwat hawa nafsu. Mereka itu akan menerima balasan berupa kehormatan, kenikmatan, kejayaan, dan kesenangan. Semua itu telah dikenal dan masyhur dalam berbagai berita, dalam Al-Quran dan hadis-hadis yang amat panjang sebutannya dan sangat sulit dicakup bilangannya.

Oleh sebab itu, jika Anda benar-benar menginginkan “kerahahan sejati” dalam kehidupan dunia, Anda dapat memperolehnya dengan meninggalkan kerahahan di dalamnya. Kepada seorang bijak bestari pernah diajukan pertanyaan, “Untuk siapakah akhirat itu?”

Jawabnya, “Untuk siapa yang mencarinya.”

Ketika ditanyakan pula, “Untuk siapakah dunia itu?” Jawabnya ialah, “Untuk siapa yang meninggalkannya.”

Ibrahim bin Adham rahimahuliah (seorang pangeran dari Balakh yang meninggalkan istana demi mencari kepuasan batin dengan mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala) pernah berkata kepada seorang miskin yang dilihatnya sedang murung, “Jangan risau dan jangan bersedih hati, kawan. Sekiranya para raja mengetahui ‘ke-rahah-an (sejati)’ yang sedang kita alami, niscaya mereka akan memerangi kita dengan pedang untuk merebutnya.”

Ada pun sebab Ibrahim bin Adham mengeluarkan diri dari kemewahan kehidupan dan melepaskan kerajaannya yang fana ialah ketika pada suatu siang ia melongok dari istananya, dilihatnya seorang pengemis sedang berteduh di bawah dinding istana itu. Sang pengemis mengeluarkan sekerat roti dari buntelannya, lalu minum air. Selesai itu tidur dengan sangat lelapnya dalam bayang-bayang istana.

Ibrahim bin Adham sangat terkesan dan kagum akan keadaan orang itu dan merasa iri atas ke-rahahan (sejati)nya. Ia memerintahkan seorang pengawal istana agar menghadapkan orang itu apabila ia telah terjaga. Ketika orang itu datang, Ibrahim berkata kepadanya, “Telah Anda makan roti itu dalam keadaan lapar, lalu merasa kenyang dengannya?”

“Ya,” jawab orang itu.

“Dan, Anda telah tidur dan puas beristirahat?” “Ya,” jawabnya lagi. •

Mendengar itu, Ibrahim berkata kepada dirinya sendiri, “Jika nafsu manusia dapat merasakan kepuasan dengan sesuatu seperti ini, apa artinya kemewahan dunia ini bagiku?”

Pada malam harinya, Ibrahim bin Adham keluar dari istananya, meninggalkan kebiasaan hidupnya sebelum itu, dan mencurahkan semua waktunya menuju Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, jadilah ia seorang tokoh sufi yang besar.

Dengan uraian di atas, Anda mengetahui bahwa kesenangan-kesenangan duniawi, kelezatan-kelezatannya, serta pengumbaran syahwat nafsu di dalamnya, semua itu mengundang kepayahan, bahaya, kegundahan, kerisauan, dan kesedihan. Makin besar yang “itu” makin besar pula yang “ini”, dan makin patut seorang manusia menderita karenanya. Sebaliknya, makin sedikit kelezatan, kerahahan, dan pengumbaran syahwat nafsu di dalamnya, makin sedikit pula kepayahan, bahaya, kegundahan dan kerisauannya, serta makin damai pula hati manusia karenanya.

Di samping itu semua, masih ada lagi risiko dan konsekuensi di akhirat bagi mereka yang berfoya-foya di dunia. Dan, masih ada pula kemuliaan yang disediakan bagi siapa yang meninggalkan tuntutan hawa nafsu duniawi dan yang berpaling darinya, baik secara sukarela maupun karena terpaksa. Demikianlah, semuanya itu terang dan jelas bagi siapa saja yang memerhatikannya dan bersikap tulus terhadap dirinya sendiri.*Al-Allamah ‘Abdullah Al-Haddad, dari bukunya Meraih Kebahagiaan Sejati.

 

HIDAYATULLAH

Ini Cara Membangun Semangat Melaksanakan Shalat Tahajud

KITA mengetahui bahwa tidak mudah bisa konsisten bangun pada sepertiga malam terakhir untuk melakukan shalat Tahajud karena berbagai sebab. Mungkin, terkadang kita tidur terlalu larut malam, keletihan, atau bisa jadi sedang sakit, dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal-hal semacam itu, berikut beberapa kiat yang dapat Anda coba agar bisa bangun malam untuk melaksanakan shalat Tahajud.

Pertama, beribadahlah secara ikhlas hanya karena mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana Dia telah memerintahkan dalam firman-Nya:

Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (hal menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS A1-Bayyinah [98]: 5).

Kedua, meyakini bahwa Allah-lah yang memerintahkan hamba untuk menegakkan shalat malam. Jika seorang hamba menyadari bahwa Rabb-nya, yang Mahakaya lagi tidak memerlukan sesuatu apa pun dari hamba, telah memerintahnya untuk mengerjakan shalat malam, maka ia pasti akan mengerti betapa pentingnya ibadah itu bagi dirinya.

Ketiga, memahami keutamaan qiyamul lail dan kedudukan orang-orang yang mengerjakan ibadah tersebut di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Orang yang terbiasa qiyamul lail bisa dikategorikan sebagai orang bertakwa. Salah satu kriteria orang bertakwa terdapat dalam firman Allah, “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan pada waktu pagi sebelum fajar.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 17-18).

Keempat, berusahalah semaksimal mungkin meninggalkan dosa dan maksiat karena dosa dan maksiat dapat memalingkan hamba dari kebaikan.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh radiyallahu anhu berkata, “Apabila tidak mampu mengerjakan shalat malam dan puasa pada siang hari, engkau adalah orang yang terhalang dari (kebaikan) lagi terbelenggu. Dosa-dosamu telah membelenggumu.”

Kelima, berusaha semaksimal mungkin meniru perilaku kaum Salaf dan orang-orang saleh terdahulu –dari kalangan sahabat, tabiin, dan sesudahnya– tentang keseriusan mereka dalam hal mengejar pahala shalat malam.

Abu Dzar Al-Ghifari radiyallahu anhu pernah berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah penasihat untuk kalian dan orang yang sangat mengasihi kalian, kerjakanlah shalat oleh kalian pada kegelapan malam guna bekal ke (alam) kubur, berpuasalah di dunia untuk terik panas hari kebangkitan, dan bersedekahlah sebagai rasa takut terhadap hari yang penuh dengan kesulitan.”

Keenam, memendekkan angan-angan dan banyak mengingat kematian. Hal ini penting karena dapat memicu semangat seorang hamba dalam melaksanakan ketaatan dan menghilangkan rasa malas. Dari Ibnu Umar, beliau berkata, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallammemegang bahuku seraya berkata, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara yang sekadar berlalu.”

Ketujuh, mengingat nikmat kesehatan dan waktu luang (guna bersegera melaksanakan shalat malam). Hal ini sebagaimana diriwayatkan Ibnu ‘Abbas radiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam menasihati seorang lelaki seraya bersabda, “Dua nikmat yang banyak manusia melalaikannya: kesehatan dan waktu luang.”

Kedelapan, segeralah tidur pada awal malam. Dalam hadist Abi Barzakh radiyallahu anhu, beliau berkata, “Adalah (Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam) membenci tidur sebelum (mengerjakan shalat) Isya dan berbincang-bincang setelah (mengerjakan shalat Isya) tersebut.”

Kesembilan, menjaga adab tidur yang dituntunkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, seperti tidur dalam keadaan berwudhu, membaca surah “tiga qul” (yakni Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas), ayat kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, zikir-zikir yang disyariatkan untuk dibaca ketika tidur, serta tidur dengan bertumpu di atas rusuk kanan.

Kesepuluh, menghindari berbagai sebab yang melalaikan seorang hamba terhadap shalat malamnya. Para ulama menyebutkan bahwa di antara sebab tersebut adalah terlalu banyak makan dan minum, terlalu meletihkan diri pada siang hari dengan berbagai amalan tidak bermanfaat, tidak melakukan qailulah (tidur siang), dan selainnya.

Diriwayatkan bahwa iblis menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakariya alaihis salamdengan membawa banyak sendok. Yahya bertanya kepadanya, “Ada apa dengan sendok-sendok itu?” Iblis menjawab, “Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menjebak manusia.”

Yahya bertanya lagi kepadanya, “Apakah engkau mendapatkan sesuatu pada diriku yang bisa kau jerat dengan perangkapmu itu?”

Iblis menjawab, “Ya. Pada suatu malam, engkau sangat kenyang sehingga aku bisa membuatmu merasa berat untuk mengerjakan shalat malam.” Yahya berkata, “Kalau begitu, sesudah ini, aku tidak akan mau berkenyang-kenyang selamanya.” Iblis kemudian berkata, “Baiklah, tetapi hal itu janganlah engkau nasihatkan kepada orang lain sesudahmu.”

Demikianlah, beberapa kiat yang bisa kita coba praktikkan agar mudah mengerjakan shalat malam. Semoga uraian ini dapat menjadi pendorong bagi kita agar lebih bersemangat dalam melaksanakan shalat malam.*Haris Priyatna dan Lisdy Rahayu, dari bukunya Amalan Pembuka Rezeki.

 

HIDAYATULLAH

Berhijrah untuk Melepaskan Himpitan Hidup

APAKAH dunia serasa begitu sempit menghimpit sendi-sendi kehidupan kita? Kebutuhan dan penghasilan yang tidak seimbang, sehingga kegalauan finansial sering datang menghantui pada malam dan siang hari? Mungkin salah satu jalan keluarnya adalah berhijrah. Pindah tempat tinggal dan mencari jalan rezeki yang lebih mudah.

Pindah atau hijrah bisa menjadi sebuah solusi permasalahan kehidupan, terutama rezeki, yang selalu menghimpit kehidupan banyak manusia. Allah berfirman di dalam Al-Quran:

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (an-Nisa’: 100)

Hijrah sebagaimana dikatakan oleh Imam Raghib al-Asfahani adalah keluar dari negeri kafir menuju negeri iman, sebagaimana Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah di jalan Allah, menurut Rasyid Ridha, harus dalam arti sejati. Maksudnya, tujuan orang melakukan hijrah itu untuk mendapatkan ridha Allah dengan menegakkan agama-Nya. Hal itu merupakan kewajiban yang dicintai Allah. Hijrah juga bertujuan untuk menolong saudara-saudara seagama dan seiman yang menyelamatkan diri dari orang-orang kafir.

Yang dimaksud ayat di atas agar manusia berani dan mau melakukan hijrah. Sedangkan yang dimaksud dengan hijrah di jalan Allah, bisa jadi umum, yaitu semua jalan yang diizinkan dan diperintahkan oleh Allah. Tempat hijrah seharusnya merupakan sebuah tempat yang lebih luas.

Apa yang dilakukan pemerintahan Presiden Soeharto dengan program transmigrasinya, bisa jadi termasuk hijrah. Beberapa keluarga memilih untuk pindah dari tanah Jawa yang sudah padat penduduknya, ke Kalimantan dan Sumatera yang penduduknya relatif lebih jarang. Di sana, para transmigran disediakan tempat tinggal dan bekerja demi mencari rezeki yang berkah dan halal.

Banyak keluarga yang kemudian menjadi penduduk baru di sana, akhirnya menjadi orang-orang sukses dan berkecukupan. Namun, ada juga yang pulang ke tanah kelahirannya karena satu dan lain alasan. Meskipun demikian, orang-orang yang bertransmigrasi dan sukses di tempat tinggalnya yang baru itu, jelas merasakan kemudahan dalam membuka pintu-pintu rezeki yang telah disediakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di bumi yang luas ini.

Di dalam potongan ayat di atas, Allah memberikan janji kepada orang-orang yang berhijrah. Janji itu setidaknya mencakup dua hal; pertama, tempat hijrah yang luas dan kedua, rezeki yang banyak.

Janji pertama yang diterjemahkan sebagai tempat hijrah yang luas ini, bisa jadi bukan sebuah tempat dalam arti yang sesungguhnya. Imam Fakhrur Razi menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah orang yang berhijrah dari tempatnya menuju tempat lain, kemudian dia menjadi orang sukses di tempat baru itu, serta banyak mendapatkan kenikmatan dan rezeki. Akibatnya, musuh-musuh orang tersebut kebakaran jenggot dan menyesal karena memusuhi orang tersebut.

Sedangkan janji yang kedua dalam ayat itu adalah mendapatkan rezeki berupa kekayaan harta yang banyak. Penafsiran itu disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas radiyallahu anhu, ‘Atha’, adh-Dhahhak, dan mayoritas ulama. Bisa jadi rezeki yang dimaksud tidak selalu berupa harta, tetapi berupa jalan kebenaran dan petunjuk dari Allah. Dengan kata lain, luas dan banyaknya rezeki yang dijanjikan Allah, bisa jadi berupa harta atau kenikmatan Allah yang lain.

Fakta di sekitar kita menunjukkan, masih banyak orang yang meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengais rezeki ke luar kota, ibu kota, luar pulau, bahkan ke luar negeri menjadi TKI dan TKW. Mereka semua adalah bukti bagaimana hijrah menjadi salah satu kunci untuk membuka pintu rezeki Allah, terlepas apakah mereka berangkat karena yakin terhadap janji Allah ataupun tidak.

Apabila kita menengok sejarah Rasulullah dan para sahabatnya yang hijrah dari Makkah ke Madinah, tentu kita akan mendapatkan bukti dari janji Allah untuk membukakan pintu rezeki kepada manusia yang berhijrah. Rasulullah dan Abu Bakar meninggalkan Makkah tanpa membawa harta benda apa pun, kemudian Allah memberikan kelapangan rezeki di tempat hijrah yang baru, Madinah.

Sebagian sahabat ada yang meninggalkan hartanya di Makkah, lalu dihadang di tengah jalan agar mau memberitahukan tempat simpanan harta kekayaan mereka di Makkah. Namun di tempat hijrahnya, mereka mendapatkan penggantinya berupa harta yang melimpah dan berkah.

Banyak sahabat Rasulullah yang saat tinggal di Makkah merupakan orang-orang yang miskin dan fakir. Namun, setelah mereka hijrah ke Madinah, Allah membalik nasib mereka dan membukakan banyak pintu rezeki untuk mereka.

Tidak sedikit di antara sahabat merupakan orang-orang yang rendah status sosialnya lagi lemah. Namun, setelah mereka berhijrah, Allah memberikan kemuliaan dan menjadikan mereka para pemimpin yang tidak kekurangan harta. Begitulah jika orang mukmin berhijrah dengan penuh keyakinan tanpa rasa takut, demi menjalankan aturan Allah. Tidak mungkin Allah membiarkan mereka sengsara hanya karena urusan rezeki.

Tidak hanya berhenti dari Makkah ke Madinah saja. Silakan membaca sejarah para sahabat Rasulullah. Banyak sekali sahabat yang dahulu dihina, direndahkan, bahkan disiksa di Makkah, menjadi orang-orang yang sangat dihormati dan disegani di Madinah. Mereka menjadi orang kaya dan penguasa. Lihat pula, bagaimana mereka menjadi para pemimpin di wilayah-wilayah kekuasaan umat Islam yang baru di Mesir, Irak, Suriah, dan berbagai wilayah kekuasaan umat Islam lainnya. Para sahabat yang telah berhijrah dari tanah kelahirannya, tidak lagi menjadi orang-orang Islam yang lemah, miskin, dan mudah ditindas.

Imam Fakhrur Razi menjelaskan kesimpulan tafsir dari ayat di atas: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala seakan-akan mengatakan: ‘Wahai manusia, apabila kalian membenci hijrah dari tanah kelahiranmu hanya karena takut mendapatkan kesulitan dan ujian dalam perjalanan, maka sekali-kali jangan demikian, karena Allah akan memberi kalian berbagai nikmat dan pahala yang besar dalam hijrah kalian. Hal itu akan menyebabkan rendahnya musuh-musuh kalian dan lapangnya rezeki dalam hidup kalian.”

Bukti bahwa hijrah merupakan salah satu kunci pembuka pintu rezeki Allah adalah firman-Nya:

Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik baik pemberi rezeki.” (al-Hajj: 58)

Rezeki dari Allah tidak terbatas pada harta benda dunia. Namun, rezeki yang abadi di akhirat itu jauh lebih penting dan mulia.

Firman Allah ini dengan gamblang memberikan janji rezeki yang baik berupa surga kelak di akhirat. Rezeki yang tidak hanya dalam bentuk harta dunia yang fana, melainkan rezeki yang bersifat abadi, yaitu dalam kehidupan manusia di surga.

Ayat di atas hampir sama dengan firman Allah:

Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nisa’:100)

Tidak ada salahnya jika kita kembali menggugah kesadaran kita tentang rezeki Allah yang tidak hanya terbatas dengan harta benda. Sebaiknya persepsi kita dalam hal ini lebih dikembangkan, sehingga kita menyadari bahwa yang jauh lebih penting adalah rezeki yang abadi di akhirat. Demikianlah persepsi dan pemahaman orang-orang yang bertakwa sesungguhnya.

Kita pun perlu menyegarkan pemahaman bahwa rezeki harta di dunia diberikan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki, baik orang-orang mukmin atau orang-orang kafir sekalipun. Namun, kenikmatan surga di akhirat tidak akan diberikan oleh Allah, kecuali kepada orang-orang mukmin yang berani berhijrah sesuai tuntunan Allah. Jangan sampai terlena dengan rezeki harta, sehingga menjadi orang-orang yang disinggung Allah dalam firman-Nya berikut ini.

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (ar-Rad: 26).*Nur Faizin M., M.A, dari bukunya Rezeki Al-Quran-Solusi Al-Quran untuk yang Seret Rezeki

 

HIDAYATULLAH

Kepada Binatangpun, Muslim Berkasih Sayang

SUATU hari seorang anak mendapati seekor kucing masuk ke dapur dan mencuri ikan bakar kesukaannya, tidak lama kemudian anak itu mengambil tongkat dan memukul sekeras-kerasnya kucing tersebut, beruntung kucing itu dapat menghindar sehingga anak itu pun semakin kesal dan kecewa.

Sikap anak yang demikian mungkin wajar mengingat masih terbatas pengetahuannya terutama tentang bagaimana bersikap atau tepatnya beradab terhadap makhluk hidup dalam hal ini adalah binatang.

Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk mengenalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Islam tidak saja mengatur tentang bagaimana hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga memberikan aturan tentang bagaimana hubungan manusia dengan binatang.

Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqih Sunnah menukil sebuah hadits tentang sedekah kepada hewan atau binatang.

“Suatu ketika seseorang berjalan di suatu jalan ia merasakan kehausan kemudian ia menemukan sebuah sumur. Ia turun di dalamnya minum dan keluar, tiba-tiba ada seekor anjing yang menjilat tanah karena kehausan. Orang tersebut berkata di dalam hatinya, sungguh anjing ini merasakan kehausan seperti aku merasakan sebelumnya. Ia turun lagi ke dalam sumur, setelah sampai di dalam, ia memenuhi sepatunya dengan air lalu menggigitnya dan membawanya naik ke atas. Air tersebut ia minumkan kepada anjing, karena itu Allah berterima kasih kepada-nya dan mengampuni dosa-dosanya.

 

Para sahabat bertanya, wahai Rasulullah apakah dalam berbuat baik kepada binatang ada pahala untuk kami? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, “Dalam berbuat baik kepada setiap yang memiliki hati yang masih basah ada pahalanya,” hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Mengacu pada hadis tersebut, kemuliaan hidup, keagungan akhlak seseorang, tidak semata-mata diperoleh dengan cara berakhlak kepada sesama manusia semata, tetapi juga kasih sayang kepada binatang.

Oleh karena itu sikap keras, kasar, dan tidak peduli, merupakan satu sikap yang setiap orang harus menjauhkan dalam diri dan kehidupannya. Sebab ketika seseorang mampu berbuat baik kepada binatang ada jaminan pahala yang luar biasa dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalam konteks hadis di atas disebutkan bahwa Allah berterima kasih kepada-nya dan mengampuni dosa-dosanya. Hal ini menunjukkan betapa mengasihi binatang atau bersedekah kepada binatang merupakan amal yang tidak kecil nilai dan derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jadi penting bagi kita mengingatkan anak, anggota keluarga, bahkan mungkin kita sendiri untuk tidak kasar terhadap binatang, sekalipun seekor kucing mencuri ikan di dapur. Sebab perilaku kucing yang demikian itu tidak akan membuat kita kesulitan mendapatkan makanan yang lain. Lebih jauh kalau kita mau merenung, mengapa kucing sampai mencuri, sebenarnya menunjukkan bahwa hampir-hampir tidak ada manusia yang peduli kepadanya.

Jika kita pernah mengalami atau bahkan melakukan seperti anak kecil yang bersikap kasar terhadap seekor kucing, maka kini saatnya kita sadar bahwa tanggung jawab kita bukan semata berbuat baik kepada manusia tetapi juga kepada binatang yang ada di sekeliling kita, di mana kita bisa memberi makan untuk binatang-binatang itu, sehingga mereka tidak perlu mencuri lagi dan kepedulian kita kepada binatang ini boleh jadi menjadi sebab Allah Ridho kepada kita, insya Allah.

 

Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Suatu ketika seekor anjing terus berputar-putar di sekitar sumur, tiba-tiba seorang pelacur Bani Israil melihatnya, ia segera melepas sepatunya untuk mengambilkan air lalu meminumkannya, wanita itu pun mendapat ampunan dari Allah atas perbuatannya tersebut.” (HR. Bukhari).

Mari kita perhatikan sekali lagi dua hadis di atas yang dinukil oleh Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah.

Pertama, yang ditolong adalah seekor anjing. Kita sama-sama mengerti bahwa anjing bagi umat Islam adalah binatang yang begitu jarang berinteraksi di dalam kehidupannya. Tetapi siapapun yang menolong anjing Allah berikan ampunan bahkan Allah berterima kasih kepadanya. Apalagi kalau bukan anjing, katakanlah menolong kucing, ayam, burung ataupun binatang lainnya, berarti Allah memberikan kemuliaan yang lebih baik untuk siapapun yang menolongnya.

Kedua,  disebutkan bahwa yang menolong seekor anjing yang berputar-putar di sumur itu ternyata adalah seorang pelacur. Atas sikapnya yang bersegera menolong anjing yang kehausan itu juga menjadikan sebab Allah memberikan ampunan kepadanya.

Dengan kata lain Allah seakan-akan tidak peduli dengan apa yang selama ini menjadi perbuatan maksiat pelacur tersebut. Allah langsung mengampuninya. Hal ini menunjukkan bahwa betapa kasih sayang, atau tepatnya bersedekah atau mungkin berakhlak kepada binatang juga merupakan amalan yang tidak boleh kita tinggalkan. Wallahu a’lam.*

 

Foto: Syeikh Usamah Al-Azhar sedang bermain dengan kucing

HIDAYATULLAH

Calon Jamaah Haji yang Wafat Bisa Digantikan Ahli Waris

Mulai tahun 2018 ini Kementerian Agama (Kemenag) mulai memberlakukan kebijakan baru tentang penggantian calon jamaah haji yang meninggal dunia. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Nizar Ali menyebutkan, calon jamaah haji yang wafat dan telah masuk dalam daftar estimasi keberangkatan bisa digantikan oleh ahli warisnya. Proses penggantiannya pun, lanjut Nizar, bisa langsung dilakukan tanpa mendaftar ulang.

“Karena ini bagian dari porsi warisan. Kalau dikembalikan biaya hajinya kan eman-eman (sayang). Rasanya tidak adil kalau tak bisa digantikan,” jelas Nizar saat meresmikan revitalisasi Asrama Haji Padang, Sumatra Barat, Rabu (7/3).

Nizar menyebutkan, kebijakan ini sudah melalui pembahasan dengan Komisi VIII DPR. Kalau tak ada halangan, kebijakan penggantian calon jamaah haji yang wafat ini bisa berjalan tahun 2018 ini.

Pembahasan soal penggantian calon jamaah haji yang wafat sebetulnya sudah dilakukan sejak lama. Kebijakan ini bermula dari kepedulian bagi keluarga calon jamaah haji yang meninggal dunia. Dikhawatirkan, kesedihan anggota keluarga semakin bertambah bila kuota haji yang seudah dibayar lunas terpaksa dikembalikan.

Kementerian Agama mencatat, kuota haji tahun 2018 sebanyak 221 ribu orang dengan rincian 204 ribu jamaah haji reguler dan 17 ribu jamaah haji khusus. Sementara itu khusus Sumatra Barat terdapat 4.628 kuota jamaah haji, termasuk petugas.

 

REPUBLIKA

Jalur Sutra Berperan Penting dalam Penyebaran Syiar Islam

Sejak kaum Muslimin menguasai semenanjung Arabia pada abad ketujuh, agama Islam segera menyebar ke berbagai penjuru Asia dan Afrika, bahkan sampai pula ke Eropa. Khusus di Asia, Jalur Sutra memiliki peranan strategis dalam penyebaran syiar Islam.

Berawal dari berdirinya Dinasti Umayyah pada 661 di Damaskus, bangsa Arab mulai memperluas pengaruh Islam hingga ke Pakistan di sebelah timur dan Andalusia (Spanyol) di sebelah barat. Kemudian, sejak 750, dinasti-dinasti Islam yang didirikan oleh bangsa Arab dan non-Arab semakin memperkuat pengaruh Islam di Asia Tengah, Afrika Utara, dan Asia Kecil.

“Lewat Jalur Sutra, Islam menyebar hingga ke bagian paling timur wilayah Kekaisaran Tang di Cekungan Tarim, dan selanjutnya menyeberang ke sungai Indus di anak benua India,” ungkap sejarawan dari Universitas Hawaii AS, John D Szostak, dalam karyanya The Spread of Islam Along the Silk Route.

Menurutnya, Islamisasi di Asia lewat Jalur Sutra sebenarnya sudah dimulai sejak awal abad kedelapan. Mulanya penduduk yang mendiami daerah-daerah yang dilalui jalur tersebut masih menganggap Islam sebagai “agama Arab”. Namun, persepsi itu perlahan-lahan mulai berubah seiring menyatunya Islam dengan kebudayaan masyarakat setempat.

Pada pertengahan abad kedelapan, kaum Muslimin praktis menguasai bagian barat Jalur Sutra. Perdagangan pun menjadi faktor utama kedua dalam penyebaran Islam, setelah penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Muslim.

Selama abad pertengahan, para pedagang Muslim pergi merantau hingga ke ibu kota Dinasti Tang, Chang-an, dan kota-kota lainnya di wilayah Kekaisaran Cina. Sebagian dari mereka ada yang kembali ke kampung halamannya masing-masing begitu kegiatan perdagangan mereka selesai. Namun, tidak sedikit pula dari kaum Muslimin yang memilih menetap di wilayah yang telah disediakan Pemerintah Cina untuk mereka.

Szostak mengungkapkan, Kaisar Tang memberikan tanah yang luas di pinggiran barat Cina untuk tentara Muslim sebagai imbalan atas bantuan mereka dalam menumpas Pemberontakan An Shi pada 757. “Tidak hanya itu, 50 tahun berikutnya Dinasti Tang juga mengizinkan kaum Muslimin untuk menetap Yunnan (wilayah selatan Cina),” ujarnya.

Pada masa-masa selanjutnya, banyak pria Muslim yang menikahi perempuan Tionghoa dan melahirkan generasi Islam baru di Cina. Peristiwa ini menjadi sejarah awal pembentukan komunitas Muslim asli Tionghoa atau yang sekarang dikenal dengan sebutan suku Hui.

 

REPUBLIKA

Jalur Sutra, Ekspedisi Cheng Ho, dan Islam di Nusantara

Jalur Sutra memiliki posisi strategis dalam proses masuknya Islam ke nusantara. Pakar sinologi Tan Ta Sen menyebutkan, salah satu tokoh Muslim yang ikut berperan dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah Laksamana Cheng Ho (yang hidup antara 1371-1433). Dia dianggap sebagai pembuka “Jalan Sutra Baru” dari Cina ke Asia Tenggara melalui jalur laut.

Kisah tersebut bermula pada awal abad ke-15 silam. Kala itu, Cheng Ho mendapat tugas dari Kaisar Yongle dari Dinasti Ming untuk melakukan ekspedisi maritim ke sejumlah kawasan dunia. Dalam sejarah Cina, ekspedisi tersebut dikenal dengan istilah “Pelayaran Harta Karun” yang salah satu tujuannya adalah untuk membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara lain di luar Cina.

Pada 1405, Laksamana Cheng Ho dan armadanya pun mulai berlayar mengarungi samudra. Rute yang mereka lalui dimulai dari Laut Cina Selatan, Selat Malaka, Samudra Indonesia, Teluk Persia, Laut Merah, hingga mencapai kawasan tanduk Afrika. Ekspedisi yang memakan waktu selama 28 tahun ini menghasilkan tujuh pelayaran. Enam di antaranya berlangsung pada era Kaisar Yongle (yang memerintah sejak 1402-1424), sedangkan pelayaran terakhir dilakukan pada masa Kaisar Xuande (1425-1435).

Pada tiga pelayaran pertamanya, Cheng Ho berhasil mencapai Kalikut di pantai barat daya India. Selanjutnya, pada perjalanan keempat, sang laksamana dan rombongannya sampai ke Hormuz di Teluk Persia. “Dalam pelayaran berikutnya, armada Cheng Ho melakukan perjalanan lebih jauh ke semenanjung Arabia dan Afrika Timur,” tulis Robert Finlay dalam buku The Voyages of Zheng He.

Di Indonesia, Cheng Ho sempat singgah ke Sumatra dan Jawa. M Ikhsan Tanggok dan kawan-kawan dalam buku, Menghidupkan Kembali Jalur Sutra Baru, menuliskan, Cheng Ho dan armadanya pernah mampir ke Semarang, Jawa Tengah. Kehadirannya di kota itu bertujuan untuk memperbaiki kapalnya yang sedang rusak parah akibat dihantam ombak. Dengan ditemani anak buahnya, Ma Huan dan Gei-Hsin, Cheng Ho tidak lupa mengunjungi masjid Cina di Semarang untuk melakukan shalat di sana.

“Masjid yang digunakan Cheng Ho untuk shalat tersebut diyakini sebagai masjid Cina tertua di Semarang yang didirikan antara 1411-1412,” tulis Ikhsan dan kawan-kawan.

Pada saat ekspedisi Cheng Ho di Asia Tenggara, di nusantara sedang tumbuh dan berkembang kerajaan-kerajaan Islam, seperti Kesultanan Aceh, Cirebon, Banten, dan Samudra Pasai. Karenanya, kehadiran Cheng Ho di nusantara tidak mengalami banyak hambatan karena banyaknya saudara sesama Muslim yang dia jumpai di negeri kepulauan ini.

 

REPUBLIKA

Bolehkah Memakai Perhiasan Berlafaz Allah?

Wanita mana yang tidak suka perhiasan? Perhiasan ibarat fitrah bagi seorang wanita. Wanita  diperbolehkan memakai perhiasan, bahkan dalam bentuk emas atau pakaian sutra. Hal ini merujuk pada keumuman makna ayat surah az-Zukhruf ayat 18. “Dan apakah patut orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.”

Ayat ini berbicara tentang anak perempuan. Sehingga, makna orang yang berprehiasan adalah kesenangan seorang wanita. Ayat ini diperkat sebuah hadis yang diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, dan an-Nasa’i. Dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi SAW mengambil sutra di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, kemudian bersabda, “Dua hal ini terlarang bagi laki-laki dari umatku.” Dalam riwayat Ibnu Majah ditambahkan, “… dan diperbolehkan bagi wanita.”

Sehingga, tak ada keraguan bahwa dijadikan cinta perempuan salah satunya kepada perhiasan. Tapi, bagaimana jika perhiasan itu, misalkan, kalung atau cincin bertuliskan asma Allah SWT?

Kaum wanita harus berhati-hati terhadap hal ini. Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam al-jami’ Fii Fiqhi an-Nisa mengomentari hadis dari Anas bin Malik RA, ia berkata, “Apabila Nabi memasuki tempat buang air besar, beliau selalu menanggalkan cincinnya.” (HR al-Khamsah kecuali Ahmad). Hadis ini juga dishahihkan Imam at-Tirmidzi dengan manambahkan cincin itu bertuliskan “Muhammad Rasulullah”.

Syekh Kamil Muhammad mengatakan, tidak boleh membawa sesuatu yang terdapat nama Allah ke dalam kamar mandi. Tapi, ada sebab-sebab khusus diperbolehkannya membawa masuk cincin atau kalung yang bertulis nama Allah jika khawatir akan hilang. Dengan syarat, ditutupi. Tersirat dalam hal ini, diperbolehkannya perhiasan dengan lafaz Allah.

Namun, ada pendapat lain yang tegas melarang pemakaian perhiasan dengan lafaz Allah. Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi mengatakan, tidak boleh menggunakan perhiasan emas yang bertuliskan lafaz Allah.

Komite yang saat itu diketuai Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ini beralasan, perhiasan tersebut sering digunakan untuk menolak bala. Tak jarang terjadi pelecehan atas lafaz Allah tersebut, seperti tertidur di atasnya dan memakainya di tempat-tempat yang dilarang untuk membawa benda yang mengandung nama Allah.

Terlebih, jika perempuan Muslimah memakai kalung atau perhiasan berlafaz Allah agar berbeda dari wanita Nasrani yang memakai salib dan Yahudi yang memakai bintang David. “Menghindari Muslimah menyerupai Nasrani dan Yahudi,” ujar Lembaga Fatwa Arab Saudi.

Jika menggunakan sebagai penolak bala atau jimat, Syekh Yusuf Qaradhawi menyebut, sebagian orang memperbolehkan jimat dari Alquran dan sebagian lain melaranganya. Tapi, pendapat terkuat, kata Syekh Qaradhawi, semua bentuk jimat tidak diperbolehkan. Alasannya, hadis-hadis yang melarang jimat bersifat umum.

Nabi SAW ketika mengingingkari seseorang yang memakai jimat, beliau tidak menanyakan kepadanya apakah jimatnya dari Alquran atau tidak. Syekh Yusuf Qaradhawi mengungkapkan, perbuatan memakai jimat dengan lafaz Allah atau ayat Alquran lain sama saja merendahkan dan menghinakan Alquran.

 

REPUBLIKA