Shalat di Gereja, Apa Hukumnya?

Setiap agama mempunya tempat khusus bagi penganutnya untuk beribadah. Umat Islam beribadah di mushalla dan masjid, umat kristiani di gereja, umat hindu di pura, umat buddha di wihara, dan lain sebagainya.

Bagaimana jika ada orang Islam yang hidup di tengah-tengah umat lain, lalu dalam satu kondisi dia tidak bisa melaksanakan shalat di mushalla, masjid, dan tempat lainnya karena situasi yang mendesak? Bagaimana hukumnya jika hanya ada gereja yang merupakan tempat satu-satunya di sebuah wilayah?

Dalam hal ini, Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menjelaskannya secara ringkas. Dalam situs milik Al-Qaradhawi disebutkan bahwa ada sebuah pertanyaan yang berbunyi,

“Apakah diperbolehkan bagi seorang muslim untuk melaksanakan shalat di gereja jika tidak menemukan tempat lain dalam kondisi yang sangat mendesak, seperti halnya sebagian umat Islam yang berada di negara-negara Eropa?

Syaikh Al-Qaradhawi menjawab,

اَلْحَمْدُ لِلهِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنِ اتَّبَعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ

Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan shahabat-sahabatnya, serta orang-orang yang mengikutinya hingga Hari Kiamat kelak. Amma Ba’du

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan At-Tirmidzi disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Aku telah diberikan lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku…”

Di antara yang beliau sebutkan dalam hadits itu adalah “Bumi ini dijadikan bagiku sebagai tempat sujud (masjid) dan tempat yang suci. Siapa saja di antara umatku yang mendapati waktu shalat, maka hendaklah dia shalat (di mana saja).”

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seluruh penjuru bumi (selain tempat yang bernajis) merupakan masjid (dalam makna umum) bagi setiap muslim serta tempat sujud dan berdoa baginya. Namun demikian, melaksanakan shalat di tempat ibadah agama lain hendaklah dihindari sebisa mungkin agar tidak terjadi fitnah dan kecurigaan.

Seandainya, seseorang tidak mendapatkan tempat lain sama sekali, maka dia boleh saja shalat di gereja sesuai dengan makna umum hadits di atas yaitu semua penjuru bumi adalah milik Allah Ta’ala dan merupakan masjid bagi kaum muslimin.

Dalam satu riwayat diterangkan, Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu pernah diminta seseorang melaksanakan shalat di Gereja Kebangkitan.

Umar menjawab,

“Tidak. Saya tidak ingin melaksanakan shalat di gereja ini sehingga tidak ada kaum muslimin yang hidup setelah saya, lalu mengatakan, ‘Di gereja ini Umar pernah shalat.’, setelah itu mereka menjadikan gereja ini sebagai tempat shalat mereka.”

Itulah alasan yang dipaparkan oleh Umar. Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat.

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Dalil-Dalil yang Digunakan Kalangan yang Mewajibkan Cadar

Fulana setelah menikah untuk kedua kali (suami pertama meninggal), ia makin rajin mengikuti kajian keislaman. Kemudian ia memutuskan untuk mengenakan cadar atau niqab. Suaminya kaget dengan perubahan tersebut. Setelah diberikan alasan, sang suami memahami dan menerima keputusan istrinya itu.

Fulana adalah satu dari sekian muslimah yang memutuskan untuk memakai cadar. Kalangan yang mewajibkan cadar menilai setiap wanita wajib menutup muka (memakai niqab) berangkat dari pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat wanita yang wajib ditutup. Selain itu, wajah perempuan dinilai tak halal dilihat oleh lawan jenis yang bukan mahram.

Dalil-dalil yang disampaikan para penganut cadar adalah wajib antara lain:

A. Surat An-Nuur: 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.” (QS. An-Nur: 31).

Dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas`ud, bagi mereka yang berpandangan wajib, bahwa yang dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat dari kecantikan. Sementara yang dimaksud dengan `yang biasa tampak` bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju.

Akan tetapi riwayat ini berbeda dengan riwayat yang shahih dari ashab termasuk riwayat Ibnu Mas`ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi`in bahwa yang dimaksud dengan `yang biasa nampak darinya bukanlah wajah, tetapi celak mata (al-kuhl ) dan cincin. Riwayat ini kata Ibnu Hazm adalah riwayat yang paling shahih.

B. Surat Al-Ahzab: 59

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu`min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Ahzab:59)

Adalah ayat yang paling utama dan paling kerap dikemukakan oleh penganut wajibnya cadar. Mereka mengutip pendapat para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita untuk menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata untuk melihat. Riwayat dikutip dari pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Ubaidah As-Salmani dan lainnya, meskipun tak ada kesepakatan di antara mereka tentang makna `jilbab` dan makna `menjulurkan`.

Akan tetapi apabila diteliti lebih jauh, ada inkonsistensi nukilan pendapat dari Ibnu Abbas tentang wajibnya cadar. Sebab dalam tafsir di surat An-Nuur yang berbunyi (kecuali yang zahir darinya), Ibnu Abbas justru memiliki pendapat yang sebaliknya.

Ulama yang tak mewajibkan niqab mengatakan; ayat ini sama sekali tak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi wanita, baik secara bahasa maupun secara kebiasaan (‘urf). Sebab yang diperintahkan justru menjulurkan kain ke dadanya, bukan ke mukanya. Tak ditemukan ayat lainnya pula yang memerintahkan untuk menutup wajah.

C. Surat Al-Ahzab: 53

Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini istiri-istirinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.`(QS. Al-Ahzab: 53)

Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup wajah mereka dan bahwa wajah termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada istri Nabi, namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, karena para istri Nabi itu adalah teladan dan contoh yang harus diikuti.

Selain itu alasannya untuk menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki yang melihat ataupun buat para istri nabi. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (istri nabi).

Apabila disimak lebih mendalam, ayat ini tak bicara masalah kesucian hati yang terkait dengan zina mata antara para sahabat Rasulullah SAW dengan para istrinya. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan pikiran mereka yang ingin menikahi para istri nabi nanti setelah nabi meninggal dunia.

Sementara perintah untuk meminta dari balik tabir, merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan para istri Nabi. Tak ada kaitannya dengan `al-Ibratu bi `umumil lafzi laa bi khushushil ayah`. Ayat ini memang khusus membicarakan akhlak pergaulan dengan istri nabi. Dan mengqiyaskan antara para istri nabi dengan seluruh wanita muslimah adalah qiyas yang kurang tepat, qiyas ma`al-fariq. Karena para istri nabi memang memiliki standar akhlak yang khusus.

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS.Al-ahzab:32)

Wallahua’lam.

 

[Paramuda/BersamaDakwah]

 

Inilah 3 Cara Menghindari Kesedihan (Bagian 3)

Di antara cara berdzikir yang paling agung adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan membaca Al-Qur`an.

Sungguh bahagia orang yang Allah Ta’ala jadikan Al-Qur`an sebagai penyegar dalam hatinya, cahaya dalam dadanya, penawar kesedihannya, pemusnah kegalauan dan kepedihannya, dan penggiringnya ke arah rahmat dan keridhaan Allah Ta’ala.

Dalam kaitan ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis, dimana mereka mengingat Allah, melainkan mereka dikelilingi para malaikat, dipayungi rahmat Allah, dituruni ketenteraman, dan Allah ceritakan hal-ihwal mereka di kalangan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Adapun dzikir-dzikir yang sangat penting dan patut untuk diamalkan, antara lain adalah dzikir-dzikir pada dua penghujung siang.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِيْنَ

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf: 205).

Di antara kasih-sayang Allah dan karunia-Nya atas hamba-hamba-Nya–sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam– adalah Dia akan memberi balasan bagi orang yang banyak mengucapkan wirid atau dzikir-dzikir.

Dengan balasan itu diharapkan akan tumbuhlah semangat mereka untuk melakukannya. Contohnya, seperti sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ di waktu pagi dan sore (masing-masing) seratus kali, maka pada hari kiamat takkan ada seorang pun yang datang dengan membawa sesuatu yang lebih utama dari apa yang dia bawa, kecuali orang mengucapkan seperti yang dia ucapkan atau lebih dari itu.” (HR. Muslim).

Begitu juga, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي فَمَاتَ مِنْ لَيْلَتِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Penghulu istighfar adalah, ‘Allaahumma Anta Rabbii laa ilaaha illaa Anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu. A’uudzu bika min syarri maa shana’tu, abuu`u laka bi ni’matika ‘alaiya, wa abuu`u bi dzanbii faghfir lii. Fa innahuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa Anta’,

(Ya Allah, Engkaulah Rabb-ku, tidak ada sesembahan selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku setia pada perintah-Mu dan janjiku kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa-apa yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu [yang diberikan] kepadaku, dan aku mengakui dosaku.

Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau). Barangsiapa mengucapkan kalimat ini di waktu sore lalu meninggal pada malam harinya, maka dia masuk Surga. Dan, barangsiapa mengucapkannya di waktu pagi lalu meninggal pada hari itu, maka dia masuk Surga.” (HR. Al-Bukhari)

Sesungguhnya konsistensi seorang muslim terhadap wirid-wirid yang syar’i akan membuahkan kedamaian jiwa, ketenteraman, rasa aman, dan terpelihara. Selain itu, ini adalah hal yang telah teruji kebenarannya.

Demikian dikutip dari kitab Salwa Hazin karya Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-Utsaim. Semoga bermanfaat. Aamiin.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Inilah 3 Cara Menghindari Kesedihan (Bagian 2)

2. Bersedekah dan memberi infak di jalan kebaikan dalam rangka mencari ridha Allah Ta’ala

Dengan bersedekah dan berbuat kebajikan kepada sesama makhluk, dada menjadi lapang, hati menjadi lega, kesulitan menghilang, dan dijauhkan dari sifat kikir. Sedekah dan infak adalah bukti atas adanya iman.

Selain itu, pengaruh bersedekah terhadap jiwa dan timbulnya ketenangan serta kedamaian dalam hati setelah bersedekah adalah hal yang sudah teruji kebenarannya.

Oleh karena itu, amatilah olehmu suatu hari ketika kamu bersedekah, pasti kamu rasakan tidak seperti keadaanmu di hari yang lain ketika kamu tidak bersedekah.

Dalam ayat Al-Qur’an bahkan dinyatakan bahwa tidak ada rasa khawatir dan kesedihan datang kepada orang-orang yang bersedekah dan berinfak. Allah Ta’alaberfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 262)

Ibnul Qaiyim Rahimahullah menuturkan,

“Sesungguhnya sedekah itu mempunyai dampak yang sangat menakjubkan dalam menolak berbagai macam bencana, meski sedekah itu berasal dari orang yang berbuat durhaka, atau orang yang berbuat zhalim, atau bahkan dari orang kafir sekalipun.

Dengan sedekah, Allah Ta’ala menolak berbagai macam bencana dari pelakunya. Ini adalah hal yang sudah dimaklumi di kalangan manusia, baik orang-orang khusus maupun orang-orang awam. Seluruh penduduk bumi mengakui hal ini karena mereka telah mengalaminya.”

3Banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala

Dzikir kepada Allah Ta’ala juga mempunyai pengaruh yang menakjubkan untuk melapangkan dada, menenangkan jiwa, memberi kedamaian di hati, turunnya ketenteraman, dan menghilangkan kegalauan dan kesedihan dari dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Inilah 3 Cara Menghindari Kesedihan

Seorang muslim mengimani dengan sepenuh hati bahwa musibah apa pun yang menimpanya dalam kehidupan ini, tidak lain karena sudah ada ketentuannya dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, apa pun yang ditakdirkan menimpanya tidak mungkin meleset darinya, dan apa pun yang tidak ditakdirkan atasnya tidak mungkin akan mengenainya.

Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala telah mencatat semua yang Dia takdirkan di alam semesta ini, sebagaimana Dia firmankan,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).

Selain itu, diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ مَقَادِيرَ كُلَّ شَيْءٍ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Sesungguhnya Allah telah mencatat takdir segala sesuatu limapuluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”(HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

Dari sinilah, maka seorang muslim disyariatkan untuk melakukan upaya-upaya yang dapat membantunya menghindari kesedihan. Yang dimaksud di sini adalah menyebutkan upaya-upaya yang dapat membantu seseorang untuk menghindari sumber-sumber kesedihan.

Manusia sebenarnya mampu menghindari sumber-sumber kesedihan, maka Allah Ta’ala melarang Nabi-Nya untuk menyerah begitu saja kepada kesedihan sebagaimana tercantum di beberapa ayat dalam Al-Qur`an, di antaranya, firman Allah Ta’ala,

وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ

Dan janganlah engkau (Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang dengan mudah kembali menjadi kafir.” (QS. Ali Imran: 176).

Sekali lagi bahwa yang dimaksud di sini hanyalah sakadar menyebutkan upaya-upaya yang dapat membantu seseorang untuk menghindari kesedihan, agar dia berusaha menunaikannya.

Sedangkan berhasil atau tidaknya upaya tersebut, hal tersebut tetap ada di tangan Allah Ta’ala. Manusia hanyalah dokter bagi dirinya sendiri.

Adapun upaya-upaya yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Berusaha meningkatkan dan memantapkan iman dalam hati

Iman adalah nikmat paling agung yang Allah Ta’ala karuniakan kepada orang yang dikehendaki-Nya di antara makhluk-makhluk-Nya, sebagaimana Dia firmankan,

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 17).

Iman adalah nikmat yang membuat umur manusia menjadi bersih, hidupnya menjadi berkah, menghapus ketergantungan hatinya pada dunia dan segala gemerlapnya, beralih ketergantungannya kepada Rabbnya, serta membuatnya selalu berusaha menggapai keridhaan-Nya.

Begitu juga, iman itu memberi kepada manusia kemauan yang teguh dan memperkuat keterikatannya dengan Allah Ta’alaHal tersebut dikarenakan orang mukmin itu yakin bahwa segala urusannya ada dalam genggaman Allah Azza wa Jalla, hanya kepada-Nya segala urusan itu kembali.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

 

Peran Wanita Jangan Dilupa

OLEH Makmun Nawawi

Ketika beberapa orang terlambat dalam pasukan berkuda tentara Islam dalam Perang Yarmuk, mereka mendatangi kaum Muslimah yang di barisan belakang pasukan. Di antara mereka ada Abu Sufyan, dan di antara barisan Muslimah itu ada istri Abu Sufyan (Hindun binti Utbah).

Kaum Muslimah itu tahu kalau mereka (kaum pria Muslimin) lari dari perang. Maka, mereka pun berseru, “Hai, kaum lelaki Muslimin, mau pergi ke mana kalian, yang lari dari barisan perang? Di mana posisi kalian sebagai tentara Allah? Padahal Allah melihat dan menatap kondisi kalian, maka takutlah kalian kepada-Nya.”

Kemudian, Hindun, istri Abu Sufyan, mencabut tiang tenda dan memukulkan nya ke kepala kuda suaminya sambil berkata, “Hai, Ibnu Sakhr (julukan Abu Sufyan), kembalilah ke medan laga jihad, memerangi musuh.

Jadikanlah dirimu sebagai tebusan untuk meraih ridha Allah sehingga Allah mengampuni dosa-dosamu yang lalu. Ingatlah hari-hari ketika engkau mengobarkan dan menggebah orangorang untuk menentang Rasulullah SAW dan membantu kaum kufur dan musyrik untuk memerangi beliau.”

Narasi ini hanya cuplikan kecil dari karya besar yang sudah diguratkan oleh wanita Muslimah dalam kancah perjuangan Islam. Dalam sejarah, mereka bukan hanya menunaikan tugas domestik dalam keluarga dengan menyemai benih-benih generasi Islam ideal. Mereka juga setia mene mani kaum pria dalam mempertahan kan “izzah(keagungan) Islam. Mereka berjibaku dengan kaum pria dalam jihad fi sabilillah dengan mengobarkan heroisme Islam. (At-Taubah: 71).

Bahkan, orang yang pertama kali mengimani Rasulullah adalah wanita, yaitu istri beliau, Khadijah RA; orang yang pertama kali syahid dalam Islam juga dari kalangan wanita, yaitu Sumayyah binti Khayyath; dan yang pertama kali hilang penglihatannya dalam mempertahankan akidah pun wanita, yaitu Zunairah, karena muka dan kepalanya dipukul bertubi-tubi oleh Abu Jahal sehingga matanya terluka parah dan akhirnya buta sama sekali.

Ketika Bai’ah Aqabah yang kedua, kaum Muslimah pun amat kuat hasratnya agar berpartisipasi. Nusaibah binti Ka’ab ikut di dalamnya dan ia gugur saat berjihad dengan suaminya (Zaid bin Asim) dalam Perang Uhud, dengan luka di 12 tempat.

Di antara 70 orang yang pertama kali masuk Islam, lebih dari setengahnya, yaitu 37, adalah kaum wanita. Dan jangan dilupa pula peran Fatimah binti al-Khattab dalam mengislamkan saudaranya, Umar bin Khattab, sehingga menjadi suplemen yang luar biasa bagi Islam.

Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi wanita Muslimah modern untuk mengaktualisasikan perannya dalam pentas kehidupan umat, yang terus digempur dengan aneka tantangan.

 

OLEH Makmun Nawawi

REPUBLIKA

Ketika Kuabaikan Panggilan Salat Berjemaah

DERU suara truk-truk pengangkut bahan bakar mulai memecah kesunyian pagi. Suara mesin berkapasitas 8.000 cc juga terdengar berderik keras mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menarik tangki-tangki besar muatannya.

Sesekali dentuman hidrolik melepaskan angin membuat tembok mushala tempatku tidur bergetar. Mataku masih terasa pedih untuk dapat kubuka. Kusempatkan melirik handphone di sampingku. Masih pukul 3.30 pagi. Dengan malas aku mencoba duduk sambil bersandar di tembok. Kulihat temanku Dimas masih tertidur dengan pulas.

Sesekali terlihat keletihan di wajahnya yang belum pulih benar setelah seharian mendampingi operator. Tak lama kemudian terdengar suara panggilan bagi para sopir dan awak mobil untuk berkumpul.

“Mas, bangun! Sebentar lagi sudah mulai operasi” seruku sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Tak perlu waktu lama untuk dia bangun dan mengambil tasnya yang berisi laptop yang penuh dengan kode-kode program baru yang sudah kami upload ke server tadi malam.

Dengan langkah gontai kami pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Usapan air di muka kami betul-betul menyegarkan wajah kami.

“Mas, kita harus pastikan sistem yang di upload semalam berjalan dengan baik”, kataku kepada Dimas. “Iya, saya akan stand by supaya operasional lancar” jawab Dimas. Temanku yang satu ini memang bisa diandalkan untuk urusan mengotak-atik sistem baru.

Sesampainya kami di depan pintu ruang operasi kuketuk pintu tiga kali. “Srek srek”, suara sandal terdengar mendekati pintu. “Eh mas Rinto, nginep kantor to kang”, kata Pak Ari. “Iyo pak, takutnya telat malah ganggu operasional”, jawabku sambil menuju sofa tamu yang ada di depan meja operasional.

Segera kuambil laptop dalam tasku. Kubuka perlahan layar laptop dan kuisikan password. Setelah loading beberapa saat, aku segera membuka aplikasi proyek yang sedang kami kerjakan.

Sayup-sayup terdengar suara adzan Subuh mulai menggema. Aku masih meneruskan membaca baris-baris program komputer. Rasa penasaran intelektualku makin membuncah memenuhi seluruh ruang kesadaranku. Sudah beberapa kali kuotak-atik aplikasi ini, namun tak kunjung kutemukan solusi atas kendala logika otomasi di menu sistem tersebut. “Mas, kenapa datanya masih belum bisa terintegrasi ya?” seruku pada Dimas yang tak kalah pusing.

“Sepertinya masih terkendala di koneksi databasenya”, jawabnya sambil menaikkan kacamata minusnya. Aku kembali terhanyut dalam rentetan baris kode logika pemrograman yang tertata rapi di layar komputer. Aku mencoba keras untuk berpikir memecahkan teka-teki permasalahan namun belum terlihat juga masalah yang terjadi.

Kulayangkan pandanganku ke tembok. “Teng…..Teeeng” suara jam dinding berdentang keras.
“Astaghfirullah, sudah jam lima!” seru Dimas mengingatkan. “Ayuk, salat Subuh dulu mas” kata Dimas. Aku terhenyak karena subuh sudah lewat dari tadi. Segerak kuiikuti Dimas buru-buru ke kamar mandi dan berwudhu.

Setelah salat subuh sebentar, kami kembali duduk di depan laptop sambil menganalisa gambar
jaringan komputer. “Nah aku sudah ketemu mas, ada masalah di salah satu setup paramater kita dan sudah kubereskan,” serunya dengan wajah gembira.

“Ok, segera kamu setup saja biar cepet kelar nih” seruku. “Aku sudah bosen di sini ngerjain itu melulu, ngga kelar-kelar,” ocehku sambil mengacungkan jempol pada rekanku. “Kriing…kriiing” tiba-tiba handphoneku berbunyi.

“Assalamualaikum, Ayah” dari handphone kudengar celoteh anakku. “Waalaikum salam sayang”, jawabku. “Adik sudah salat?” tanyaku kembali kepada anakku. “Sudah, Yah. Tadi juga ikut Bunda Tahajud.” Tukasnya sambil ketawa ngikik. “Tut…tut…tut”, tidak terdengar lagi jawaban dari handphone. Mungkin kepencet sehingga terputus.

Aku sudah kembali hanyut dalam pekerjaanku. Aku memang sangat menyenangi pekerjaanku. Jika
sudah bergelut di depan laptopku, aku bisa berjam-jam duduk tanpa bergeser dari bangku tempatku menyandarkan tubuhku. Terkadang aku berkerja dengan keras sekali bukan karena loyalitasku tetapi lebih cenderung karena memuaskan rasa intelektualku. Seringkali salat berjemaah maupun makan siangku terlewat begitu saja karena begitu asyiknya di depan komputerku.

Siang ini aku sudah cukup puas dengan hasil kerjaku dan rekan kerjaku karena beberapa masalah sudah berhasil aku selesaikan. Sambil minum teh hangat, aku berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerja seniorku di kantin. Dari dinding kaca kantin dapat kulihat beberapa sopir truk berkerumun menunggu antrean pengiriman. Asap rokok yang dinyalakan oleh mereka mulai masuk ke ruang kantin tempat kami berbincang. Tiba-tiba kami dikejutkan suara pintu yang terbuka.

“Mas Rinto, aplikasinya kembali ngga konek. Antrean semakin panjang dan tolong segera dibantu,” seru Dimas yang dari tadi berada di ruang kerjanya.

Aku pun kembali bergegas menuju ruangan di samping kantin. Beberapa kabel jaringan yang ada kucabut, dan kucolok kembali. “Mas, tolong dicek apakah sudah kembali konek atau tidak?” seruku pada Dimas yang dari tadi bengong di belakangku. “Belum, Mas,” jawabnya sambil teriak dari dalam kantor.

Sementara itu antrean para sopir yang sudah mulai mengular menaikkan tingkat stressku. “Pak, lama banget sih” kata para sopir truk yang sudah tidak sabar. “Sabar pak, sabar.
Orang sabar itu disayang Allah,” jawabku sekenanya. “Kayaknya perlu dicek antenanya di atas atap mas Rinto” usul Dimas yang dari tadi ikut stress mendengar omelan para sopir. “Ok deh mas Dimas, aku naik ke atas atap ya, kamu jaga di sini dan kasih tau kalau sudah bisa nyambung kembali,” kataku sambil berlalu menuju tangga belakang.

Dengan perlahan aku mulai menaiki tangga belakang dengan hati-hati. Sesampainya di atap, aku mulai berjalan mengikuti coran tembok menuju antena berbentuk parabola yang menjadi
penghubung koneksi jaringan di kantorku. Kulihat lampu indikator pada antena tersebut tidak menyala. Dengan segera kucabut kabel yang tercolok di perangkat tersebut kemudian kutancapkan kembali. “Dimaaas, sudah nyambuuuung?” teriakku dari atas atap. “Sudah mas, wokeeeeh.”

Serunya membalas teriakanku. “Sip deh” batinku sambil merasa puas atas kemampuanku. Aku pun berjalan kembali melintas atap untuk kembali turun. Sesudah sampai di dinding, aku mencoba melangkahkan kaki arah tangga, tapi nahas. Tangga yang licin membuat kakiku terpeleset sehingga aku harus bertumpu pada tanganku di salah satu genteng. “Kreek” suara atap patah tertarik oleh tanganku karena tak mampu lagi menahan berat tubuhku. Tak ayal lagi, tubuhku melayang di udara, bumi siap menerima hempasan tubuhku. “Buk, Aduuuh” Aku berteriak kesakitan dan kulihat langit menjadi gelap.

“Tit…tit…tit” suara teratur itu terdengar di telingaku. Saat kubuka mataku, aku ternyata sedang terbaring di sebuah kamar yang serba putih. Perlahan-lahan aku mencoba mengingat kembali memori terakhirku. Ketika aku teringat kejadian kemarin, aku menduga bahwa ini adalah rumah sakit. Kucoba menggerakkan kakiku, ternyata sakit sekali.

“Ayah sudah siuman?” kudengar suara putriku ada didekatku. Aku menolehkan wajahku ke arah suara itu. “Alhamdulilah Sayang, ayah sudah baikan” jawabku sambil tanganku mengusap-usap kepalanya. Aku begitu bahagia masih bisa bertemu dan melihat kembali anakku.

“Alhamdulilah, Fathin senang lihat Ayah sudah baikan. Fathin bersyukur banget sama Allah. Doa Fathin terkabul. Tadi Fathin doain ayah biar segera sembuh”, celoteh anakku yang memang dari kecil ceriwis sekali dan rona wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang luar biasa. Sambil berjingkrak-jingkrak dia berlari ke pangkuan ibunya untuk mengabarkan berita gembira bahwa ayahnya sudah siuman.

Kupandangi lekat-lekat anakku. Begitu mudahnya anak ini berbahagia dengan kembalinya kesadaran diriku. Tapi bagaimana mungkin, sebelumnya aku dengan seluruh kesehatan badanku tak mampu untuk mensyukurinya? Bagaimana mungkin aku tidak memenuhi panggilanmu untuk salat berjemaah di saat Engkau berikan harta yang sudah mencukupi kebutuhanku? Begitu sombongnya diriku menganggap dapat menyelesaikan masalah-masalah pekerjaan, padahal itu semua adalah ilham dari-Mu. Kini aku yakin bahwa jatuhnya diriku ini pun adalah kuasa-Mu untuk dapat kembali menyadarkanku agar kembali ke jalan-MU.

“Allahuakbar…Allahuakbar”, suara gema adzan Dzuhur yang sayup-sayup kudengar tak terasa telah melelehkan mataku. Hari ini aku hanya bisa mendengar panggilan-Mu tanpa bisa memenuhinya karena peringatan-Mu kepadaku. Aku berjanji akan kembali bersegera memenuhi seruan-Mu, sebelum Engkau benar-benar meminta pertanggungjawaban hidupku. Terima kasih ya Allah telah Kau ingatkan hamba-Mu.
[Riswanto Warih Prabowo, Aktivis Dakwah Kampus ITB’ 99]

 

INILAH MOZAIK

Doa agar Kita Terhindar dari Penyakit Hati

SETELAH sebelumnya kita membahas hati yang sehat menurut Alquran. Kali ini kita akan menyebutkan 12 tipe hati yang sakit. Apa saja hati yang sakit menurut Alquran?

1. Hati yang Berpenyakit. Yaitu hati yang tertimpa penyakit seperti keraguan, kemunafikan dan suka memuaskan syahwat dengan cara yang haram. “Sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (QS.al-Ahzab:32)

2. Hati yang buta. Yaitu hati yang tidak dapat melihat dan menemukan kebenaran. “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS.al-Hajj:46)

3. Hati yang alpa. Yaitu hati yang lalai dari Alquran. Karena terlalu disibukkan dengan hal-hal duniawi dan syahwat yang menyesatkan. “Hati mereka dalam keadaan lalai.” (QS.al-Anbiya:3)

4. Hati yang berdosa. Yaitu hati yang menutupi kesaksian atas sebuah kebenaran. “Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” (QS.al-Baqarah:283)

5. Hati yang sombong. Yaitu hati yang congkak dan enggan mengakui Ke-Esaan Allah. Ia semena-mena melakukan kedzaliman dan permusuhan. “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS.Ghafir:35)

6. Hati yang kasar. Yaitu hati yang tidak memiliki kasih sayang dan belas kasihan. “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS.Ali Imran:159)

7. Hati yang terkunci. Yaitu hati yang tidak mau mendengarkan hidayah dan enggan merenungkannya. “Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya.” (QS.al-Jatsiyah:23)

8. Hati yang keras. Yaitu hati yang tidak dapat diluluhkan oleh keimanan. Tak dapat terpengaruh oleh nasihat dan peringatan. Dan ia berpaling dari mengingat Allah. “Dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS.al-Maidah:13)

9. Hati yang lalai. Yaitu hati yang menolak untuk mengingat Allah dan mendahulukan hawa nafsu dibanding ketaatan kepada-Nya. “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS.al-Kahfi:38)

10. Hati yang tertutup. Yaitu hati yang tertutup rapat sehingga tidak dapat ditembus oleh ayat-ayat Allah dan sabda-sabda Nabi. Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. (QS.al-Baqarah:88)

11. Hati yang jauh (dari kebenaran). Yaitu hati yang melenceng jauh dari cahaya kebenaran. “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.” (QS.Ali Imran:7)

12. Hati yang ragu. Yaitu hati yang selalu diombang-ambingkan oleh keraguan. “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (QS.at-Taubah:45)

Inilah 12 tipe hati yang sakit menurut Alquran. Semoga hati kita terhindar dari 12 tipe ini. Karena itu perbanyaklah berdoa, “Duhai yang membolak-balikkan hati. Tetapkan hati kami diatas agama-Mu.” [Khazanahalquran]

 

INILAH MOZAIK

 

Baca juga:  Nilai Manusia Terletak pada Hatinya

Kunut Subuh dalam Pandangan Empat Mazhab

SYAIKH Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya: Bagaimana pendapat empat Imam Madzhab mengenai qunut? Syaikh rahimahullah menjawab: Pendapat imam madzhab dalam masalah qunut adalah sebagai berikut.

Pertama: Ulama Malikiyyah. Mereka berpendapat bahwa tidak ada qunut kecuali pada shalat shubuh saja. Tidak ada qunut pada shalat witir dan shalat-shalat lainnya.

Kedua: Ulama Syafiiyyah. Mereka berpendapat bahwa tidak ada qunut dalam shalat witir kecuali ketika separuh akhir dari bulan Ramadhan. Dan tidak ada qunut dalam shalat lima waktu yang lainnya selain pada shalat shubuh dalam setiap keadaan (baik kondisi kaum muslimin tertimpa musibah ataupun tidak, -pen). Qunut juga berlaku pada selain shubuh jika kaum muslimin tertimpa musibah (yaitu qunut nazilah).

Ketiga: Ulama Hanafiyyah. Disyariatkan qunut pada shalat witir. Tidak disyariatkan qunut pada shalat lainnya kecuali pada saat nawaazil yaitu kaum muslimin tertimpa musibah, namun qunut nawaazil ini hanya pada shalat shubuh saja dan yang membaca qunut adalah imam, lalu diaminkan oleh jamaah dan tidak ada qunut jika shalatnya munfarid (sendirian).

Keempat: Ulama Hanabilah (Hambali). Mereka berpendapat bahwa disyariatkan qunut dalam witir. Tidak disyariatkan qunut pada shalat lainnya kecuali jika ada musibah yang besar selain musibah penyakit. Pada kondisi ini imam atau yang mewakilinya berqunut pada shalat lima waktu selain shalat Jumat.

Sedangkan Imam Ahmad sendiri berpendapat, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan qunut witir sebelum atau sesudah ruku.

Inilah pendapat para imam madzhab. Namun pendapat yang lebih kuat, tidak disyariatkan qunut pada shalat fardhu kecuali pada saat nawazil (kaum muslimin tertimpa musibah). Adapun qunut witir tidak ada satu hadits shahih pun dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan beliau melakukan qunut witir. Akan tetapi dalam kitab Sunan ditunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan Al Hasan bin Ali bacaan yang diucapkan pada qunut witir yaitu “Allahummah diini fiiman hadayt “. Sebagian ulama menshahihkan hadits ini. Jika seseorang melakukan qunut witir, maka itu baik. Jika meninggalkannya, juga baik. Hanya Allah yang memberi taufik. (Ditulis oleh Syaikh Muhammad Ash Sholih Al Utsaimin, 7/ 3/ 1398)

Adapun mengenai qunut shubuh secara lebih spesifik, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan dalam fatwa lainnya. Beliau pernah ditanya: “Apakah disyariatkan doa qunut witir (Allahummah diini fiiman hadayt ) dibaca pada rakaat terakhir shalat shubuh?”

Beliau rahimahullah menjelaskan: “Qunut shubuh dengan doa selain doa ini (selain doa “Allahummah diini fiiman hadayt “), maka di situ ada perselisihan di antara para ulama. Pendapat yang lebih tepat adalah tidak ada qunut dalam shalat shubuh kecuali jika di sana terdapat sebab yang berkaitan dengan kaum muslimin secara umum. Sebagaimana apabila kaum muslimin tertimpa musibah -selain musibah wabah penyakit-, maka pada saat ini mereka membaca qunut pada setiap shalat fardhu. Tujuannya agar dengan doa qunut tersebut, Allah membebaskan musibah yang ada.”

 

INILAH MOZAIK

Perbedaan Allah, Rabb, dan Ilah

Ayat kedua surah al-Fatihah menegaskan: Alhamdulillah Rabb al- A’alamin (Segala puji bagi Allah Tu han segenap alam). Allah SWT tidak mengatakan, Alhamdulli Rabb al-‘alamin (segala puji bagi Tuhan segenap alam).

Dalam artikel terdahulu sudah dijelaskan secara umum tentang Allah sebagai nama bagi Zat Yang Maha Agung (lafdh al-jalalah), tidak boleh ada sesuatu apa pun berhak menggunakan nama itu selain diri-Nya. Kata ini mutlak hanya nama-Nya Dia Yang Maha Tunggal (Ahadiyyah). Karena itu, kata Allah satu-satunya nama Tuhan yang tidak memiliki bentuk jamak.

Berbeda dengan kata Rabb yang mempunyai bentuk jamak (arbab) dan kata Ilah yang juga memiliki bentuk jamak (alihah). Kata Allah yang tergabung dari huruf alif, lam, lam, ha memiliki keunikan yang tidak terjadi pada nama-nama lain- Nya. Jika dibuang huruf alif masih tetap terbaca “lillah” berarti “un tuk Allah”. Jika dibuang satu huruf lam maka masih tetap terbaca “la hu” berarti “untuk-Nya”. Jika di buang se mua huruf lam maka ma sih tetap dapat dibaca “Hu” kata ganti (dhamir) dari Allah berarti “Dia”.

Nama ini sulit dilacak akar katanya dari mana. Ada yang mengatakan, dari bahasa Hebrew (Ibrani), “El” kemudian membentuk kata “Eloh” berarti Tuhan. Ada yang mengatakan dari bahasa Arab sendiri, seakar kata yang membentuk kata Ilah, yakni aliha-ya’lahu berarti menyembah, mengabdi, kemudian Ilah berarti Tuhan. Allah nama dari diri-Nya sebagai Ahadiyyah, sebagai entitas utama dan pertama (al-ta’ayyun alawwal).

Sedangkan kata Rab nama dari diri-Nya sebagai entitas kedua (al-ta’ayyun al-tsani). Nama Rabb selevel dengan al-Asma al-Husna. Meskipun dikatakan entitas kedua, tetapi masih tetap keberadaan-Nya (al-hadharat al-Ilahi), karena itu disebut entitas permanen (al-a’yran al-tsabitah). Entitas ini tidak termasuk kategori dalam dalam arti entitas-entitas selain Allah (kullu ma siwa Allah).

Entitas-entitas berikutnya, ya itu entitas ketiga (al-ta’ayyun altsalits) dan seterusnya itulah yang disebut alam. Meskipun bukan diri-Nya, alam merupakan manifestasi lanjutan (tajalli) dari diri-Nya.

Kata Rabb adalah nama Tuhan dalam level Wahidiyyah. Lafaz Rabb tidak termasuk dalam al- Asma al-Husna, tetapi mungkin bisa disebut sebagai cover dari totali tas nama-nama-Nya yang tergabung di dalam al-Asma’ al-Husna. Kata Rabb juga digunakan sebagai nama terhadap Tuhan lain selain Allah SWT. Rab juga mempunyai bentuk jamak, yaitu arbab (Tuhantuhan). Berbeda dengan kata Allah tidak memiliki bentuk mufrad, apa lagi jamak.

Penggunaan kata Rabb banyak digunakan di dalam Alquran, khususnya ayat-ayat Makkiyah. Ayat-ayat yang turun di Madinah lebih banyak menggunakan nama eksplisit Allah SWT.

Ayat-ayat pendek yang tergabung di dalam juz ‘Amma pada umum nya menggunakan kata “Rabb”. Ayat yang paling pertama Allah turunkan ialah Iqra’ biismi Rabbik (bacalah dengan nama Tuhanmu), bukannya menggunakan Iqra’ bi ism Allah (Bacalah dengan nama Allah).

Hal ini bisa dipahami karena kata Allah belum begitu familiar dalam masyarakat Arab saat itu. Yang lebih populer ialah Rabb. Contoh kasus terjadi ketika Perjanjian Hudaibiyah, sebagaimana diungkapkan dalam hadis Bukhari, yang menceritakan pimpinan delegasi kaum kafir Quraisy, menolak kalimat pembuka perjanjian: Bismillah al-Rahman al-Rahim, lalu mengusulkan gantinya: Bismik Allahumma.

Kata “Allahumma” biasa disinonimkan dengan “Ya Rabb”. Nabi pada akhirnya menerima usulan tersebut. Seolah-olah nabi tidak mempersoalkan kata Allah dan Rabb.

 

 

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal

REPUBLIKA