Resep ‘Obat Kuat’ Hadapi Musibah

MENYAKSIKAN  musibah yang terjadi belakangan, kiranya tak berlebih menyebut Indonesia sebagai negeri darurat musibah. Betapa tidak, bencana terus menimpa bumi pertiwi secara maraton. Belum lekang duka atas musibah gempa bumi yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, disusul peristiwa serupa di Palu, Banten dan kemudian Sukabumi.

Belum selesai proses pemulihan, fisik maupu psikis dari korban, kembali bangsa ini ditimpa musibah, Tsunami di selat Sunda, khususnya Lampun dan Banten. Sama dengan dua kejadian sebelumnya, bencana ini telah memporak-porandakan bangunan-bangunan, dan merenggut nyawa ratusan orang.

Sebagai orang beriman, tentulah memaknai musibah ini secara bijak dan benar. Sebab kalau tidak, keadaan ini bisa menggiring diri kepada pribadi yang merugi. Seperti bersikap putus asa. Karena merasa tidak ada lagi daya untuk meneruskan hidup. Tersebab, segala yang dimiliki, mulai dari harta, hingga sanak keluarga secara sekejap hilang dari sisi. Merasa tak mendapat lagi tumpuan hidup.

Lebih jauh dari, bahkan bisa menjerumuskan diri kepada kekufuran kepada Allah. Menganggap Dia Dzat yang tidak adil. Bahkan zholim, karena telah menimpakan musibah yang telah memusnah segala hal yang dipunyai. Seperti sindiran Allah yang tertera dalam suran al-Fajr;

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Maka adapun manusia, apa bila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apa bila Tuhan mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinaku.” (QS: al-Fajr: 15-16)

Na’udzubillah min dzalik. Jangan sampai ada kaum muslimin yang tengah terkena musibah, terjerembab dalam hal ini. Karena sungguh Allahberlepas dari segala tuduhan buruk itu. Hanya kerugian nan berlipat ganda bagi mereka bersikap demikian.

Pertama; ia telah kehilangan apa-apa yang dimiliki. Yang kedua, ia semakin jauh dari sumber keselamatan (dunia dan akhirat); Allah. Tuhan semesta alam. Ibarat kata pepatah; sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Teladan Hamba Shalih

Dalam kitab ‘Qishashu al-Anbiya,’ pada bab Kisah Nabi Ayyub as, Ibnu Katsir mengutip, al-Lait telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa pada hari kiamat nanti Allah swt akan berhujah dengan Nabi Sulaiman as kepada orang-orang kaya. Dengan Nabi Yusuf  as kepada hamba sahaya. Dan dengan Nabi Ayyub as, kepada orang-orang tertimpa musibah. Dijelaskan, Ibnu Asakir juga meriwayatkan hal serupa.

Kita fokuskan pembahasan pada ketetapan dijadikannya Nabi Ayyub as, sebagai hujjah bagi orang-orang tertimpa musibah di dunia. Itu tidak lain, karena Ayyub merupakan hamba Allah yang pernah diuji dengan musibah yag sangat berat.

Seperti sabda Nabi Muhammad ﷺ; “Orang yang mendapat cobaan yang paling berat adalah para nabi kemudian orang-orang sholih, kemudian orang-orang semisalnya, dan seterusnya.” (HR. Ahmad)

Apa cobaan yang menimpa Nabi Ayyub??

Sebelum masuk ke bagian itu, ada baiknya, sedikit digambarkan profil nabi Ayyub sebelum mendapat ujian. Sehingga tergambar secara utuh, bagaimana pedih dan berat ujian yang menimpa.

 

Seperti yang ditulis oleh Ibnu Katsir pada buku di atas. Mulanya Nabi Ayyub adalah orang terpandang di kaumnya. Ia memiliki kekayaan nan melimpah ruah. Baik berupa peternakan, maupun lahan pertanian yang terbentang luas di daerah Huruan. Kehidupan keluarganya pun diliputi suka-cita dan kebahagiaan. Ia memiliki beberapa anak.

Keadaan ini berjalan sekian lama. Sampai 70 tahunan. Namun, atas kehendak Allah swt, musibah demi musibah secara bergilir menyapa Nabi Ayyub. Seluruh anak dan ternaknya mati. Usahanya pertaniannya guling tikar, hingga akhirnya jatuh miskin. Tidak hanya itu, dirinya pun tertimpa satu penyakit, di mana tidak ada secuil daging dari tubuhnya pun selamat, kecuali lidah dan hatinya.

Penyakit ini berjalan begitu lama, hingga ia disingkirkan oleh kaumnya di tempat pembuangan sampah. Ia hanya ditemani oleh sang istri yang setia. Sedangkan orang-orang disekitarnya, pada menjauh, tak terkecuali sanak saudaranya.

Mereka jijik menyaksikan perawakan Ayyub yang tengah tergerogoti penyakit. Dan mereka khawatir tertular. Semakin hari penyakit Ayyub bertambah parah. Di sisi yang lain, sang istri mulai kepayahan untuk mencukup konsumsi. Sebab, ia sulit mendapat pekerjaan, karena terus ditolak. Hingga akhirnya beliau berinisiatif menjual kepang rambutnya. Menjadi gundullah sang istri.

Tergambar dengan jelas, betapa kondisi nabi Ayyub saat itu, berubah 180 derajat, dari keadaan sebelum. Mulanya hidup penuh dengan kemuliaan, kebahagiaan, dan kehormatan, kini berganti dengan kesengsaraan yang sangat. Pelecehan, pengucilan, penistaan, serta pengasingan dari masyarakat.

 

Lalu, patah harapkah Nabi Ayyub dengan kondisi demikian? Tidak sama sekali. Dan itu tercermin dari jawabannya, ketika suatu hari, sang istri meminta agar sang suami memunajatkan doa kepada Allah, agar disembuhkan.

“Duhai Ayyub, seandainya engkau berdoa memohon kepada Tuhan-Mu, niscaya Dia akan menyembuhkanmu.” Terhadap permintaan ini, Ayyub menjawah;

“Aku telah menjalani hidup dalam keadaan sehat selama tujuh puluh tahun. Oleh sebab itu, tidak sewajarnyakah jika aku bersabar kepada Allah dalam menjalani ujian yang lebih pendek dari tujuh puluh tahun?”

Laa haula wa laa quwwata illa billah.Alangkah dahsyat jawaban yang diberikan Nabi Ayyub di atas. Dan perkataan itu hanya bisa keluar dari lisan orang-orang yang relung hatinya dipenuhi keimanan. Ia jadikan musibah sebagai wahana pendekatan diri kepada Allah. Dan itu yang dilakukan oleh Nabi Ayyub. Dengan lisan dan hatinya yang masih ‘sehat,’ ia terus berdzikir kepada Allah.

Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ

Pada akhirnya, Nabi Ayyub as sukses melalui ujian berat itu. Sebagai imbalan, Allah kemudian mengembalikan seluruh apa yang tadinya hilang. Bahkan melipat gandakannya. Turun hujan emas dan perak memenuhi dua lumbung milik nabi Ayyub. Tubuhnya kembali segar, bahkan jauh lebih muda. Ia pun kembali dikaruniai anak, yang jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya.

Kebahagiaan dan keberkahan hidup pun menaungi nabi Ayyub dan keluarga. 

 

Kokohkan Iman

Sebagaimana telah sedikit disinggung di atas, bahwa iman kepada Allah menjadi kata kunci keberhasilan Nabi Ayyub menghadapi musibah. Untuk itu, memperkokoh iman menjadi keniscayaan, agar juga ikut jejak Nabi Ayyub, sukses dalam melalui musibah.

Jaminan kebahagiaan, jelas dijanjikan Allah untuk mereka yang bersabar dalam menghadapi musibah. Tidak meraung-raung. Menyakar-nyakar wajah dan pipi. Apa lagi sampai menuduh Allah yang bukan-bukan. Namun, sekali lagi, hal buruk ini hanya bisa dihindari oleh mereka yang bersabar. Dan kesabaran itu hanya diperoleh oleh mereka yang hatinya diterangi cahaya iman.

Sabda Rasulullah ﷺ; “Sungguh menakjubkan (‘ajaban) urusan orang beriman itu. Sesungguhnya setiap urusannya baginya ada kebaikan. Dan perkara itu tidak berlaku melainkan kepada orang mukmin. Sekiranya ia diberi sesuatu yang menggembirakan lalu dia bersyukur, maka kebaikan baginya. Dan sekiranya apa bila dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar, maka kebaikan baginya.” (HR. Muslim.)

Inilah resep ‘obat kuat’ yang ditawarkan Islam bagi kaum mukminin, dalammenghadapi musibah itu. Wallahu ‘alamu sish-shawab.*/

 

 Khairul HibriPengajar di STAI Luqman al-Hakim, Surabaya, dan kordinator PENA Jatim       

HIDYATULLAH

Pahala Tanpa Batas Bagi Orang-orang yang Sabar

DENGAN sepenuh hati, sekarang saya ingin mengajak Anda untuk bersiap membaca ayat berikut. Saat membacanya, Anda jangan sampai melupakan kandungan maknanya.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Q.S. al-Zumar [39]: 10).

Apa pendapat Anda, andai tanah tandus karena kekurangan air, lalu Allah menurunkan hujan penuh keberkahan ke tanah itu? Apa gerangan hasilnya?

Hati Andalah tanah tandus itu, sementara ayat di atas adalah hujan deras penuh keberkahan yang mengguyurnya.

Para mufasir mengatakan, “Bermacam karunia akan dicurahkan tanpa batas pada orang yang sabar. Mengapa hanya orang yang sabar? Sebab, mereka sabar menghadapi musibah yang diturunkan Allah di dunia. Mereka tidak mengeluh sedikitpun, sedih, dan marah pada musibah yang menimpa mereka. Mereka rela dengan keputusan dan takdir Allah di dunia itu. Sebagai balasannya, Allah tidak akan melakukan perhitungan alam mereka di akhirat.”

Oleh karena itu, saya berani menyimpulkan, satu-satunya amal yang tidak diketahui pahalanya adalah sabar. Suatu contoh, pahala amal-amal kebajikan dilipatgandakan menjadi 10 kali. Bahkan, pahala infak dilipatgandakan menjadi 700 kali. Namun lihatlah sabar, pahalanya tidak terbatas!

Betapa bahagia hati seseorang yang teresapi oleh ayat di atas. Lebih-lebih, bila ayat itu kemudian terpatri rapi di dalam hatinya. Pastilah ia akan merasakan betapa nikmatnya bersabar itu. [amru muhammad khalid]

Pahala Orang Sabar tidak Berbatas

HAKIKATNYA, kesabaran itu tidak memiliki batas, sebagaimana ganjaran yang Allah sediakan bagi mereka yang bersabar pun tidak memiliki batas. Allah berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 10:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Ibnu Al-Jauzi mengatakan dalam Tashil li Ulumi At-Tanzil, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Ayat ini dapat ditafsirkan dengan dua makna.

Pertama, orang yang sabar akan mendapatkan balasan pahala atas kesabarannya dan Allah tidak menghisab amalannya. Mereka inilah yang dijanjikan masuk surga tanpa hisab.

Kedua, balasan orang yang melakukan kesabaran itu tidak terbatas, lebih banyak dari apa yang diperhitungkan dan lebih besar daripada apa yang ditakar di mizan pahala, inilah pendapat mayoritas ulama.

Sabar juga merupakan amalan yang agung, sampai-sampai Allah katakan bahwasanya Dia bersama orang yang sabar, sebagaimana firman-Nya, “Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal ayat 46)

Dari ayat ini dapat kita katakan, ketika kita memilih untuk tidak bersabar berarti kita telah memilih untuk melepaskan kebersamaan Allah berupa rahmat dan perlindungan-Nya. Dengan kesabaran pun Allah akan mengangkat seseorang menjadi pemimpin umat, panutan, dan kedudukan yang mulia.

Allah berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS As-Sajdah ayat 24)

Demikian besar rahmat dan ganjaran yang Allah berikan bagi orang-orang yang bersabar. Pahala dan keutamaan yang begitu besar diantaranya maiyah (kebersamaan) dari Allah, pahala tanpa batas, serta kedudukan yang mulia, semestinya menjadikan seseorang berkeinginan kuat dan terpacu untuk mewujudkan hakikat kesabaran itu sendiri, yakni kesabaran yang tak berbatas.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang dikaruniai kesabaran yang luas oleh Allah Ta’ala. Aamiin.

INILAH MOZAIK

Sabar dalam Ikhtiar

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah dan hanya kembali kepada-Nya. Semoga Allah Yang Maha Menatap, senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita sehingga kita senantiasa berjalan pada jalan yang lurus. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada sang kekasih Allah, baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman,“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang mumin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. At Taubah [9] : 105)

Saudaraku, Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk berikhtiar secara maksimal dan sempurna. Namun, sayangnya kita seringkali tergesa-gesa. Kita selalu ingin segera keinginan kita terwujud. Padahal keinginan manusia itu seringkali didorong hawa nafsu, dan belum tentu baik menurut Allah untuk kita.

Kalau kita ingin menikmati hasil, ketahuilah bahwa hasil itu hanya sebentar, dan belum tentu ada setelah kita berusaha. Adapun yang semestinya lebih kita nikmati adalah proses ikhtiarnya ketika kita berusaha mendapatkan hasil yang kita tuju. Sebagai contoh, seorang ibu yang tengah hamil. Jikalau ia tidak sabar, ingin segera bayinya lahir padahal usia kandungannya baru tiga bulan, maka tentu itu keinginannya itu bukanlah sesuatu yang baik dan benar.

Sedangkan jika sang ibu menjalani dengan penuh sabar usia kandungan hingga waktu kelahiran tiba, maka ikhtiar sang ibu akan menjadi ladang amal sholeh baginya. Dan pada waktu yang Allah kehendaki, bayinya akan lahir dan menjadi pelipur lara baginya yang telah sekian lama menunggu.Maa syaa Allah.

Bersabarlah dalam menjalani proses ikhtiar. Bersabarlah dalam setiap langkah, tetesan keringat, dan rasa lelah. Bersabarlah pula ketika hasil yang kita temui ternyata tidak sesuai dengan pengharapan kita ketika menjalani ikhtiar, karena sesungguhnya amal sholeh kita ada dalam kesungguhan ikhtiar kita, terlepas dari apapun hasilnya nanti.

Lantas bagaimana ikhtiar yang sungguh-sungguh itu? Kesungguhan berikhtiar ditandai dengan kerelaan untuk berkorban. Seorang pelajar yang ingin meraih prestasi tinggi di sekolahnya, harus rela mengorbankan keinginannya lebih banyak main atau nongkrong. Ia pun harus rela mengorbankan sebagian dari waktu tidur malamnya untuk bangun dan menunaikan sholat Tahajud sebagai kesungguhan doa kepada Allah Swt.

Allah Swt. berfirman,“(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(QS. Ash Shoff [61] : 11)

Semoga kita tergolong orang-orang yang bersabar dalam memaksimalkan ikhtiar. Yakinilah bahwa hasil hanyalah bonus dari Allah setelah kesungguhan menjalani ikhtiar sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Dan, Allah pasti mengetahui setiap niat dan kesungguhan kita dalam berikhtiar, tidak ada yang sia-sia di hadapan-Nya.WAllahualam bishowab. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

 

INILAH MOZAIK

Sabar dalam Musibah

Tak terperikan kesedihan yang merundung hati Ummu Salamah. Sang Suami Abu Salamah baru saja meninggal di pangkuannya. Abu Salamah menderita luka-luka hebat selepas kepulangannya dari Perang Uhud. Ia harus menjanda dan membesarkan anak-anaknya yang telah yatim.

Rasulullah SAW pun datang bertakziyah agar meredakan lara di hati Ummu Salamah. Rasulullah SAW berpesan agar Ummu Salamah bisa tabah dan tegar dalam menghadapi musibah. “Siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan),” sabda Rasulullah SAW.

Rasulullah pun menasihatinya. Orang yang bersabar dan ikhlas ketika ditimpa suatu kehilangan, maka Allah SAW akan memberikan ganti yang lebih baik dari itu. Rasulullah SAW pun sempat mendoakan Ummu Salamah, “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya, dan berilah ia pengganti yang lebih baik untuknya.”

Benar saja, setelah Ummu Salamah menyelesaikan idahnya dan menjanda, ia mendapatkan ganti yang lebih baik atas kehilangan suaminya. Rasulullah SAW sendiri yang ternyata datang melamarnya. Ummu Salamah dinikahi Rasulullah SAW pada Syawal. Siapakah figur suami yang lebih baik dari Rasulullah SAW?

Demikianlah hakikat orang yang tabah dan sabar ketika ditimpa suatu musibah. Seseorang harus meyakini dan menyadari, segala sesuatu yang dimilikinya di dunia ini pada hakikatnya adalah milik Allah. Manusia hanya “dipinjamkan” dan diberi amanah untuk memelihara dan merawatnya. Manusia diperbolehkan memanfaatkannya dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT. Suatu saat nanti, barang pinjaman tersebut akan diambil oleh Sang Empu. Dialah Allah SWT.

Tak ada alasan untuk berduka kerena kehilangan suatu barang yang sejatinya bukanlah miliknya. Tak ada pula alasan berbangga karena dititipkan Allah SWT harta benda. Lihatlah tukang parkir, kendati mobil dan motornya banyak terparkir di halamannya, ia tak pernah sombong. Ketika orang yang punya mobil dan motor mengambil titipannya, ia tak pernah bersedih. Karena ia yakin, mobil dan motor tersebut bukanlah miliknya.

Ketika Allah mengambil apa yang telah ia titipkan kepada manusia, tak ada alasan bagi manusia untuk bersedih. Malah, sepatutnya ia bersyukur karena telah lunas amanahnya dalam memelihara titipan Allah dan semakin sedikit hisabnya di akhirat kelak.

Bagi Ummu Salamah, sungguh berat baginya atas kepergian suami tercinta. Siapa yang tak akan berduka di kala orang yang disayangi telah pergi untuk selamanya. Namun, itulah dunia. Ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.

Allah berjanji, siapa hambanya yang bersyukur dengan suatu nikmat, maka nikmat tersebut akan ditambah (QS Ibrahim [14] :7). Demikian pula, siapa yang bersabar akan kehilangan sesuatu, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya’, melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).

Jadi, sebesar apa pun musibah berupa kehilangan harta benda atau orang yang dicinta, yakinlah dengan sabar dan ikhlas pasti akan diberikan pahala dari Allah SWT. Kemudian, Allah berjanji untuk memberikan ganti yang lebih baik dari itu, jika orang yang ditimpa musibah benar-benar sabar dan ikhlas kepada Allah.

Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. Tidak ada kerugian bagi orang beriman dalam kondisi apa pun ia berada. “Sungguh ajaib urusan orang beriman itu, apa pun yang datang kepadanya semuanya berujung kebaikan. Jika ia diberikan kenikmatan ia bersyukur, itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu baik baginya,” jelas Rasulullah SAW dalam sabdanya. (HR Muslim).

Kesabaran, Bekal Perjalanan Menuju Surga

SETIAP kita pasti memimpikan, mencita-citakan untuk masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala, tempat yang penuh dengan kenikmatan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Aku telah menyiapkan sesuatu (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata manusia, belum pernah terdengar oleh telinga manusia dan belum terlintas dalam benak manusia.” (HR Bukhari nomor 3005 versi Fathul Bari nomor 3244 dan Muslim nomor 5050 versi Syarh Muslim nomor 2824)

Sungguh luar biasa kenikmatan di surga (kita mohon kepada Allah supaya kita dimasukkan ke dalam surga-Nya).

Namun tidak semudah yang dibayangkan, perlu perjuangan, perlu pengorbanan untuk bisa masuk ke dalam kenikmatan tersebut, untuk bisa kita meraih surga Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun pernah bersabda:

“Surga di kelilingi dengan hal-hal yang sangat amat menyusahkan manusia.” (HR Muslim nomor 5049 versi Syarh Muslim nomor 2822)

Penuh dengan onak dan duri, penuh dengan krikil-krikil tajam, penuh dengan halangan dan rintangan, penuh dengan cobaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Apakah kalian mengira kalian akan masuk surga? Sedangkan belum sampai kepada kalian, belum menimpa kalian apa-apa yang menimpa orang-orang yang sebelum kalian dari cobaan, dari ujian sampai Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan orang-orang beriman bersama beliau mengatakan kapan datangnya pertolongan Allah? Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (QS al-Baqarah: 214)

Ini lah yang wajib kita yakini perjalanan menuju surga itu dipenuhi dengan duri-duri yang tajam, dipenuhi dengan krikil-krikil yang sangat tajam yang jika kaum muslimin mau mengharapkan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib untuk dia melewatinya dengan penuh kesabaran.

Oleh karena itulah tidak akan mungkin orang itu bisa meraih surga Allah kecuali dengan perjuangan, pengorbanan dan betul-betul kesabaran yang sangat amat luar biasa, oleh karena itulah Allah berfirman:

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS al Baqarah: 155)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al ‘Ashr: 1-3)

Bahkan Imam Ahmad rahimahullah mengatakan karena sangat pentingnya kesabaran ini Allah pun menyebutkannya di dalam lebih 90 ayat di dalam alquran. Perjalanan menuju surga itu harus ditempuh dengan kesabaran karena surga dikelilingi duri-duri yang tajam, dipenuhi dengan halangan dan rintangan.

Kita wajib untuk bersabar, bersabar dalam mentaati Allah, bersabar dalam meninggalkan maksiat kepada Allah dan bersabar dalam menghadapi musibah-musibah yang Allah timpakan kepada kita.

[Ustadz Abdurrahman Thoyib, Lc]

 

INILAH OZAIK