Kesabaran, Bekal Perjalanan Menuju Surga

SETIAP kita pasti memimpikan, mencita-citakan untuk masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala, tempat yang penuh dengan kenikmatan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Aku telah menyiapkan sesuatu (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata manusia, belum pernah terdengar oleh telinga manusia dan belum terlintas dalam benak manusia.” (HR Bukhari nomor 3005 versi Fathul Bari nomor 3244 dan Muslim nomor 5050 versi Syarh Muslim nomor 2824)

Sungguh luar biasa kenikmatan di surga (kita mohon kepada Allah supaya kita dimasukkan ke dalam surga-Nya).

Namun tidak semudah yang dibayangkan, perlu perjuangan, perlu pengorbanan untuk bisa masuk ke dalam kenikmatan tersebut, untuk bisa kita meraih surga Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pun pernah bersabda:

“Surga di kelilingi dengan hal-hal yang sangat amat menyusahkan manusia.” (HR Muslim nomor 5049 versi Syarh Muslim nomor 2822)

Penuh dengan onak dan duri, penuh dengan krikil-krikil tajam, penuh dengan halangan dan rintangan, penuh dengan cobaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Apakah kalian mengira kalian akan masuk surga? Sedangkan belum sampai kepada kalian, belum menimpa kalian apa-apa yang menimpa orang-orang yang sebelum kalian dari cobaan, dari ujian sampai Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan orang-orang beriman bersama beliau mengatakan kapan datangnya pertolongan Allah? Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (QS al-Baqarah: 214)

Ini lah yang wajib kita yakini perjalanan menuju surga itu dipenuhi dengan duri-duri yang tajam, dipenuhi dengan krikil-krikil yang sangat tajam yang jika kaum muslimin mau mengharapkan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib untuk dia melewatinya dengan penuh kesabaran.

Oleh karena itulah tidak akan mungkin orang itu bisa meraih surga Allah kecuali dengan perjuangan, pengorbanan dan betul-betul kesabaran yang sangat amat luar biasa, oleh karena itulah Allah berfirman:

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS al Baqarah: 155)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al ‘Ashr: 1-3)

Bahkan Imam Ahmad rahimahullah mengatakan karena sangat pentingnya kesabaran ini Allah pun menyebutkannya di dalam lebih 90 ayat di dalam alquran. Perjalanan menuju surga itu harus ditempuh dengan kesabaran karena surga dikelilingi duri-duri yang tajam, dipenuhi dengan halangan dan rintangan.

Kita wajib untuk bersabar, bersabar dalam mentaati Allah, bersabar dalam meninggalkan maksiat kepada Allah dan bersabar dalam menghadapi musibah-musibah yang Allah timpakan kepada kita.

[Ustadz Abdurrahman Thoyib, Lc]

 

INILAH OZAIK

Sabar Meski Diludahi

Khorizie H Dasir mengingat kembali pengalamannya menjadi petugas haji. Ketika di Tanah Suci pria paruh baya itu menyapa seorang jamaah entah siapa namanya. Sapaan itu tak dibalas dengan kata-kata. Kesopanannya justru dibalas dengan ludah.

“Saya tidak memarahinya…tidak,” kata dia di hadapan tim media center haji (MCH) Ahad (27/5) setelah pembekalan petugas haji.

Khorizie justru memeluk jamaah tadi yang mengalami keterbelakangan mental. Hatinya berkata menjadi petugas haji harus melayani, menjaga sikap dan emosi. Jangan pernah sedikit pun terbesit keinginan untuk memarahi mereka.

“Yang sabar ya pak, Allah akan memberi kita yang terbaik,” ujar dia kepada jamaah tersebut.

Masih ada pengalaman pahit lainnya melayani petugas haji. Dia pernah mengalami gangguan penglihatan. Pengobatan mata dia jalani. Satu bola matanya sembuh. Tapi lainnya tidak lagi berfungsi sampai detik ini.

Pengalaman itu sengaja dikisahkannya kepada 780 petugas haji yang akan berangkat ke Tanah Suci. Ratusan pasang mata menatap ekspresi Direktur Bina Haji tersebut, tersentuh dengan penjelasannya tentang permasalahan dan tantangan menjadi petugas haji.

Kharizie menjelaskan, mereka semua harus siap dengan berbagai situasi lapangan yang tak terprediksi. Nanti pasti ada jamaah lelah terduduk seorang diri di pelataran masjid suci. “Apakah jamaah itu ditinggalkan sementara kalian berzikir dan beribadah? Jangan. Itu zalim. Kalian mendapatkan amanah sebagai petugas haji. Laksanakan dengan baik,” imbuh dia.

Amanah petugas haji bukan sekadar melaksanakan rukun Islam kelima. Lebih jauh dari itu, mereka harus memastikan kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan ibadah haji. Tugas mereka adalah membina, melayani, dan melindungi jamaah haji. Kalau mau fokus beribadah sendiri, tambah dia, jangan jadi petugas.

Apakah menjadi petugas berarti tak boleh beribadah? Khorizie menjelaskan, ibadah boleh saja, tapi yang menjadi prioritas adalah jamaah haji. Membina, melayani, dan melindungi jamaah haji juga ibadah. Pahala dari Yang Mahakuasa akan datang jika petugas mengemban amanahnya dengan baik.

Kalian, tegas Direktur Bina Haji, bukan melayani tamu biasa, tapi orang-orang pilihan Allah, duyufur rahman. Melayani mereka dengan baik adalah yang paling utama.

Dengan melaksanakan kewajiban sebagai petugas haji sebaik mungkin, para tamu Allah akan melaksanakan rukun Islam kelima. Kalau tidak ada yang membimbing, sementara mereka tidak benar melaksanakan ibadah haji, maka Allah akan mempertanyakan kinerja petugas haji. “Harus siap mempertanggungjawabkan itu,” kata dia.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengimbau petugas haji menjalankan tugas dengan cinta. Siapa pun jamaahnya wajib mendapatkan prmbinaan, pelayanan, dan perlindungan.

 

IHRAM

Ridha Sikap Terbaik Menghadapi Takdir Dibenci

KETAHUILAH bahwasanya dalam menghadapi takdir yang tidak disenangi, seorang hamba terbagi dalam tiga keadaan:

a. Dia ridha dengan takdir tersebut

Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya… ” (At-Taghabun [64]: 11).

Al-Qamah berkata, “Maksud musibah dalam ayat di atas adalah sebuah musibah yang menimpa seseorang dan dia menyadari bahwa takdir tersebut datang dari sisi Allah, kemudian ia pasrah dan ridha dengannya.”

Imam At Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala apabila mencintai sebuah kaum, maka Dia mengujinya. Barangsiapa yang ridha maka dia mendapatkan keridhaan dan siapa yang benci maka dia hanya akan mendapatkan kebencian.

Dalam salah satu doanya Rasulullah menyebutkan: “Aku memohon kepada-Mu sikap ridha setelah mendapatkan takdir.” (HR An-Nasa’i).

Salah satu hal yang bisa memotivasi seorang mukmin untuk bersikap ridha dengan takdir Allah adalah merealisasikan makna keimanannya, sebagaimana sabda Rasulullah,

Menakjubkan bagi seorang mukmin, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menetapkan sesuatu bagi seorang mukmin kecuali (sesuatu itu-edt) baik baginya.

Seseorang datang menemui Rasulullah dan meminta kepada beliau untuk berwasiat kepadanya, dengan wasiat yang ringkas dan padat. Rasulullah bersabda:

Janganlah engkau menuduh Allah (salah) dalam keputusan yang telah ditetapkan-Nya kepadamu.” (HR Ahmad).

Abu Darda radiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya apabila Allah Subhanahu Wa Ta’alamenetapkan sebuah takdir, Dia ingin agar takdir tersebut diterima dengan ridha.” Sikap ridha adalah jika seorang hamba tidak menginginkan selain apa yang dia rasakan, baik kesukaran atau kemudahan.

Umar bin Abdul Aziz radiyallahu anhu berkata, “Saya berada di waktu pagi dan tidak memiliki rasa senang, kecuali terhadap kejadian-kejadian qadha’ dan qadar (takdir).”

b. Sabar menerima musibah

Tingkatan ini diperuntukkan bagi orang yang tidak bisa ridha dengan keputusan Allah. Sikap ridha adalah karunia yang dianjurkan dan disunnahkan, sementara sabar adalah sesuatu yang secara pasti diwajibkan kepada seorang mukmin.

Kesabaran memiliki kebaikan yang banyak. Allah memerintahkan untuk bersabar dan menjanjikan pahala yang besar kepada pelakunya, sebagaimana firman-Nya:

“…Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar [39]: 10).

Perbedaan antara ridha dan sabar bahwa sabar merupakan sikap menahan dan menjaga diri dari marah sekalipun ada perasaan sakit, dan menginginkan hilangnya sakit tersebut.

Juga menjaga anggota badan dari melakukan tindakan-tindakan yang menggambarkan ketidaksukaan, seperti keluhan dengan lisan, gerakan tangan atau gambaran tanda-tanda kemarahan di wajahnya.

Ada pun ridha adalah ketenangan hati dan kelapangan jiwa, menerima takdir Allah dan tidak menginginkan hilangnya kedukaan itu, sekalipun merasakan sakit dalam dirinya. Dengan demikian, keridhaannya telah membuat semuanya ringan, karena hatinya telah dipenuhi yakin dan ma’rifah (mengenal Allah).

c. Marah dengan keputusan Allah

Dengan bersikap seperti ini, seseorang bisa dinyatakan keluar dari lingkup orang-orang yang bertawakal menuju kelompok orang-orang yang menuduh Allah Rabb semesta alam dengan kejelekan, na’udzubillahi min dzalik!

Untuk lebih memahami ketiga sikap di atas, kita perlu mengetahui bahwa dalam menghadapi segala sesuatu yang tidak disukainya, seorang hamba memerlukan enam prinsip:

1. Prinsip tauhid

Yaitu bahwa segala sesuatu telah dikehendaki, diciptakan, dan ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.

2. Prinsip adil

Yaitu bahwa sesungguhnya Allah akan tetap menjalankan hukum-Nya dan adil dalam keputusan-Nya.

3. Prinsip rahmat

Maksudnya, seseorang memiliki pendirian bahwa rahmat Allah dalam semua ketentuan-Nya mengalahkan murka dan kemarahan-Nya.

4. Prinsip hikmah

Yaitu pemahaman yang menyebutkan bahwa sesungguhnya hikmah Allah mengharuskan demikian. Allah tidak pernah menakdirkan sesuatu yang sia-sia, tidak pula menetapkan sesuatu yang tidak berguna.

5. Prinsip al-hamdu (pujian)

Yaitu pemahaman bahwa sesungguhnya Allah memiliki pujian yang sempurna dalam segala segi.

6. Prinsip al-‘ubudiyah (dan ini yang paling tinggi dan mulia)

Yakni pemahaman yang berawal dari sebuah kesadaran bahwa manusia hanyalah seorang hamba dari segala aspek, berlaku ke atasnya semua hukum dan keputusan majikannya, dengan hukuman atas keberadaannya sebagai seorang hamba yang dimiliki.

Dia Subhanahu Wa Ta’ala memperlakukannya di bawah hukum yang telah ditentukan-Nya, sebagaimana dia menjalankannya di bawah hukum-hukum agama. Hal itu merupakan tempat dijalankan segala keputusan-Nya.*Dr. Hani Kisyik, dikutip dari bukunya Kunci Sukses Hidup Bahagia.

 

HIDAYATULLAH

Sabar Menyikapi Sakit

Sikap sabar dalam menghadapi penyakit pun penting. Allah menyayangi hamba-Nya yang ditimpa penderitaan. Berprasangka bahwa sakit yang ditimpakan padanya adalah cara untuk lebih dekat kepada Allah SWT.

Orang sakit jangan sampai berputus asa. Sikap putus asa bisa membuat orang jatuh dalam pengobatan syirik, bahkan bunuh diri. Jika pun sakit yang didapatkan bahkan hingga menyebabkan meninggal, hal itu merupakan ketetapan Allah SWT, maka sebaiknya katakan Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.

Mantan Ketua Umum PP Persis Maman Abdurrahman mengatakan sakit yang menimpa manusia dapat dari berbagai sumber. Namun, pada dasarnya penyakit yang datang akibat dari perilaku manusia yang tidak menjaga tubuhnya dengan baik.

Ketika seseorang tertimpa penyakit, harus mencari pengobatan yang halal sesuai sunnah. “Berobatlah kalian, setiap penyakit selalu ada obatnya,” ujarnya.

Berobat dapat didapatkan dari bahan-bahan herbal maupun dari rekayasa biologis dan kimiawi. Tentu, bahan yang berasal dari kimia harus dari bahan yang halal.

Setelah mencari cara untuk mengobati penyakit, kemudian harus bertawakal pada Allah SWT dan bersabar. Berdoa ketika meminum obat, “Aku berlindung kepada Allah dari keagungan dan kemuliaan dan kekuasaannya, dari kejelekan dari apa yang aku dapatkan dan temukan.”

Karena, dalam obat itu mungkin ada yang membahayakan sehingga perlu berlindung kepada Allah SWT. Orang yang berobat ke pengobatan alternatif dan mengandung syirik harus dijauhi.

Doa yang dipanjatkan untuk orang yang sakit penting agar dapat lekas sembuh. “Tidak masalah jika pengobatan dengan berdoa pada Allah SWT asalkan tidak dikomersialisasikan,” Maman menerangkan.

Doa yang didampingi dengan sabar membawa ketenangan hati. Ketenangan hati merupakan bagian dari akselarasi kesembuhan karena melapangkan dada. “Kalau hanya mengaduh dan marah karena sakit, justru akan bertambah sakit,” ujarnya.

Laba-laba Beri Pelajaran Kesabaran dan Ketekunan

PERNAHKAH kau memperhatikan laba-laba dan mengamati betapa mengagumkan ia menggunakan waktunya? Dengan kecepatan dan kewaspadaan, a menganyam jaring-sarangnya yang menakjubkan itu; sebuah rumah yang dihiasinya untuk beragam keperluannya.

Bila, misalnya, lalat jatuh tertungging ke dalam jaring itu, laba-laba itu buru-buru menyergapnya mengisap darah makhluk kecil itu dan membiarkan bangkai itu mengering untuk digunakannya sebagai makanannya.

Tapi kemudian datanglah penghuni rumah dengan membawa sapu, dan dalam sekejap saja, jaring-sarang, lalat dan laba-laba itu pun lenyap ketiga-tiganya sekaligus!

Jaring laba-laba itu melambangkan dunia, lalat itu melambangkan rizki Allah bagi makhlukNya dan laba-laba itu adalah makhluk-Nya. Andaikan seluruh dunia ini jatuh ke tanganmu, tetap saja kau dapat kehilangan semua itu dalam sekejap saja.

Kau hanya bayi di jalan makrifat; namun kau berdiri sia-sia di luar tabir. Jangan tuntut tempat dan kedudukan jika kau cukup panai. Dan ketahuilah, hai pandir yang tak peduli, bahwa dunia ini diserahkan pada lembu jantan. Ia yang memandang genderang dan bendera sebagai tanda keagungan tak akan pernah menjadi darwis; benda-benda itu hanyalah siul angin lebih kecil nilainya daripada mata uang terkecil.

Tahanlah kuda kebodohanmu yang melata bagai siput itu, dan janganlah terpedaya karena memiliki kekuasaan. Bila macan tutul itu sudah terkuliti, maka hidupmu pun akan terenggut hilang.

Bukalah mata cita-cita yang sejati dan temukan Jalan Keruhanian itu; langkahkan kakimu di Jalan Tuhan dan carilah istanaNya yang luhur. Sekali kau melihatnya, maka kau tak akan terikat lagi pada gemerlap dunia ini.[IslamIndonesia]

 

INILAH MOZAIK

Kesabaran Selamatkan Seribu Penyesalan

“SEBUAH kesabaran di saat-saat kemarahan tiba, akan menyelamatkan kita dari seribu penyesalan di kemudian hari,” kata sahabat Ali ibnu Abi Talib ra.

Sabar itu adalah kendali kehidupan. Di saat dibuai oleh kesenangan hanyalah sabar yang dapat mengendalikannya sehingga tidak membawa kepada jurang kebinasaan. Dan di saat terhimpit oleh kesulitan hidup juga hanya sabar yang akan mengendalikannya, sehingga kesabaran itu membawa kepada keberuntungan dunia-akhirat.

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan salinglah mengingatkan kepada kesabaran. (Dengannya) semoga kamu semua beruntung. Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang bersabar! [ Imam Shamsi Ali]

 

INILAH MOZAIK

Balasan Orang Sabar ialah Tak Terhingga

BANYAK pelajaran dari para Nabi yang bisa kita gali. Di antaranya dari kisah Nabi Ayyub alaihis salam yang dikenal penyabar. Apalagi sifat utama yang diajarkan oleh beliau adalah kesabaran. Dan memang kita sebagai seorang muslim diperintahkan memiliki sifat sabar.

Mulai dari para Rasul ulul azmi diperintahkan bersabar, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (QS. Al-Ahqaf: 35)

Lihat juga ketika Nabi Yunus alaihis salam mendapatkan ujian juga diperintahkan bersabar, “Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (QS. Al-Qalam: 48)

Dan kita diperintahkan bersabar dan mengharap pertolongan Allah, “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

Ingatlah akan pahala bagi orang yang bersabar, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Ibnu Juraij menyatakan, “Telah sampai padaku bahwa pahala amal mereka yang sabar tidaklah dihitung sama sekali, namun terus ditambah hingga tak terhingga.” (Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6: 443)

As-Sudi mengatakan bahwa balasan orang yang sabar adalah tak terhingga. (Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6: 443)

 

INILAH MOZAIK

Kenapa Kita Butuh Sabar dalam Ketaatan?

SYAIKH Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan pula bahwa dalam melakukan ketaatan itu butuh kesabaran yang terus menerus dijaga karena:

(1) Ketaatan itu akan membebani seseorang dan mewajibkan sesuatu pada jiwanya,
(2) Ketaatan itu terasa berat bagi jiwa, karena ketaatan itu hampir sama dengan meninggalkan maksiat yaitu terasa berat bagi jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan. Demikianlah perkataan beliau-

Sabar dalam Menjauhi Maksiat

Ingatlah bahwa jiwa seseorang biasa memerintahkan dan mengajak kepada kejelekan, maka hendaklah seseorang menahan diri dari perbuatan-perbuatan haram seperti berdusta, menipu dalam muamalah, makan harta dengan cara bathil dengan riba dan semacamnya, berzina, minum minuman keras, mencuri dan berbagai macam bentuk maksiat lainnya. Seseorang harus menahan diri dari hal-hal semacam ini sampai dia tidak lagi mengerjakannya dan ini tentu saja membutuhkan pemaksaan diri dan menahan diri dari hawa nafsu yang mencekam.

Sabar Menghadapi Takdir yang Pahit

Ingatlah bahwa takdir Allah itu ada dua macam, ada yang menyenangkan dan ada yang terasa pahit. Untuk takdir Allah yang menyenangkan, maka seseorang hendaknya bersyukur. Dan syukur termasuk dalam melakukan ketaatan sehingga butuh juga pada kesabaran dan hal ini termasuk dalam sabar bentuk pertama di atas. Sedangkan takdir Allah yang dirasa pahit misalnya seseorang mendapat musibah pada badannya atau kehilangan harta atau kehilangan salah seorang kerabat, maka ini semua butuh pada kesabaran dan pemaksaan diri. Dalam menghadapi hal semacam ini, hendaklah seseorang sabar dengan menahan dirinya jangan sampai menampakkan kegelisahan pada lisannya, hatinya, atau anggota badan.

Semoga bermanfaat. [M. Abduh Tuasikal, MSc]

 

INILAH MOZAIK

Sabar Saat Berkuasa

Dalam satu kesempatan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memanggil semua anaknya. Khalifah berkata, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan. Pertama, menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk neraka. Kedua, kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk surga (tidak menggunakan uang rakyat). Wahai anakanakku, aku telah memilih surga.”

Sikap tegas ditunjukkan oleh Khalifah Umar. Jabatan bukan untuk meraih kekayaan dengan melabrak keadilan. Kekuasaan harus diper gunakan sebagai alat untuk menebar kemanfaatan. Butuh kesabaran semua pihak, yang mempersepsi kekuasaan sebagai alat menimbun kekayaan. Sikap istiqamah menjaga amanah walau desakan dan rayuan datang seperti gelombang. Sekali saja memberi toleransi, maka secara pasti penyelewengan itu akan terjadi.

Dengan demikian, sabar dibutuhkan tak hanya ketika diberi musibah dan ujian semata. Karakter tersebut harus dilatih ketika sedang di puncak kekuasaan, kekayaan, dan kedigdayaan. Tentu saja tidak hanya kepada diri sendiri, tetapi juga anggota keluarga lainnya. Kritik yang ditujukan hendaknya dianggap sebagai obat: pahit rasanya, tetapi menyehatkan.

Sabar saat sedang berkuasa itu jauh lebih berat karena secara esensial itu terkait erat dengan pengendalian diri. Bersabar untuk tidak mengguna kan kekuasaan dengan semena-mena, melampaui batas, agar kekuasaan itu dipergunakan untuk menyejahterakan umat, bukan hanya sekelompok kera bat. Sepenuh hati melayani, memper baiki diri dan proses kekuasaan dalam memajukan umat.

Tentu saja tak ada yang berbeda antara bersabar dan bersyukur. Mensyukuri amanah kekuasaan dengan mengendalikan diri, bekerja keras, cerdas, dan ikhlas untuk memajukan umat. Dengan demikian, sabar dan syukur merupakan dua hal yang beriringan dan saling melengkapi. Untuk dapat bersyukur di kala dibe ri nikmat dan bersabar di kala menda patkan ujian, dibutuhkan iman. Sebaikbaiknya nikmat adalah iman. Dengan iman, manusia akan se lalu meletakkan kehidupannya kepada Tuhan, sejak bangun tidur hingga tidur kembali.

Allah SWT mengingatkan dalam surah al-Baqarah ayat 216: “Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi ka lian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”

Mereka yang tak terpilih, tidak harus sedih berkepanjangan, boleh jadi itu jalan terbaik. Demikian pula yang menang dan berkuasa, hendaknya tak merasa itu jalan terbaik. Justru itu sebagai awal beban berat memenuhi amanah kekuasaan. Sadarilah bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali atas kehendak Allah Yang Mahakuasa. Di sinilah pentingnya iman dan pe ngetahuan, syukur dan sabar. Sebab, ter nyata kita tidak tahu tentang apa pun dari apa yang Allah SWT anugerahkan.

 

Oleh: Iu Rusliana

REPUBLIKA

Sesungguhnya Allah Beserta Orang-Orang yang Sabar

HAKIKATNYA kesabaran itu tidak memiliki batas, sebagaimana ganjaran yang Allah sediakan bagi mereka yang bersabar pun tidak memiliki batas. Allah berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 10:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Ibnu Al-Jauzi mengatakan dalam Tashil li Ulumi At-Tanzil, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Ayat ini dapat ditafsirkan dengan dua makna.

Pertama, orang yang sabar akan mendapatkan balasan pahala atas kesabarannya dan Allah tidak menghisab amalannya. Mereka inilah yang dijanjikan masuk surga tanpa hisab.

Kedua, balasan orang yang melakukan kesabaran itu tidak terbatas, lebih banyak dari apa yang diperhitungkan dan lebih besar daripada apa yang ditakar di mizan pahala, inilah pendapat mayoritas ulama.

Sabar juga merupakan amalan yang agung, sampai-sampai Allah katakan bahwasanya Dia bersama orang yang sabar, sebagaimana firman-Nya, “Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal ayat 46)

Dari ayat ini dapat kita katakan, ketika kita memilih untuk tidak bersabar berarti kita telah memilih untuk melepaskan kebersamaan Allah berupa rahmat dan perlindungan-Nya. Dengan kesabaran pun Allah akan mengangkat seseorang menjadi pemimpin umat, panutan, dan kedudukan yang mulia.

Allah berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS As-Sajdah ayat 24)

Demikian besar rahmat dan ganjaran yang Allah berikan bagi orang-orang yang bersabar. Pahala dan keutamaan yang begitu besar diantaranya maiyah (kebersamaan) dari Allah, pahala tanpa batas, serta kedudukan yang mulia, semestinya menjadikan seseorang berkeinginan kuat dan terpacu untuk mewujudkan hakikat kesabaran itu sendiri, yakni kesabaran yang tak berbatas.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba yang dikaruniai kesabaran yang luas oleh Allah Ta’ala. Aamiin. []

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2370826/sesungguhnya-allah-beserta-orang-orang-yang-sabar#sthash.WRJAzHhL.dpuf