Masyarakat Jangan Euforia Sambut Pembukaan Umrah

Ketua Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Haji dan Umroh (Gapura) Baluki Ahmad mengatakan, masyarakat hendaknya jangan euforia ketika tahu bahwa ibadah umrah sudah dibuka. Sebab, pada pada kenyataannya ibadah tersebut masih terjadi banyak pembatasan-pembatasan karena masih terjadinya pandemi Covid-19.

“Jadi jangan euforia ketika tahu umrah dibuka. Ingat untuk melakukannya tidak sebebas dahulu sebelum Covid-19 muncul. Sampai sekarang meski pun sudah bisa dilakukan tapai masih terjadi banyak pembatasan,” kata Baluki Ahmad di Jakarta, Rabu (27/10).

Baluki mengatakan, kenyataan bahwa umrah kini bisa dilaksanakan dengan tak sebebas sebelum masa pandemi harus dikatakan supaya masyarakat jangan kecewa. Apalagi umrah di masa pandemi ini harganya jauh lebih mahal dan rumit karena banyak memenuhi persyaratan tambahan.

”Jadi jamaah umrah jangan berpikir atau anggap misalnya umrah kali ini bisa dilakukan seperti masa lalu sebelum pandemi, misalnya bisa melakukan umrah berkali-kali dan bebas ke luar masuk beribadah di Masjidil Haram. Sekarang semuanya dibatasi. Umrah bisa dilakukan sekali dan berada di Masjidil Haram pun dibatasi waktunya. Untuk masuk ke sana pun harus mendaftar dahulu. Harapan kami janganlah umrah di masa masih pandemi ini sama dengan masa lalu,” ujar Baluki.

Pada sisi lain, sebagai pengusaha travel haji umrah, pihaknya juga merasa sampai sekarang masih belum berani secara terbuka memberangkatkan jamaah umrah. Ini karena harus mempelajari dan memperhatikan suasana yang terjadi. Dan yang terpenting secara perlahan memahami seluruh regulasi yang ada terkait soal penyelanggaraan umrah.

”Pada sisi lain, kita juga percaya, keadaan ekonomi belum pulih. Masyarakat pasti tahu hal mana yang akan didahulukan dalam soal pemenuhan kebutuhan hidup dan ibadah mereka. Masyarakat pasti menjaga hal yang pokok dahul terpenuhi, baru kemudian yang bukan pokok. Nah, melakukan umrah juga kami sadar akan diberlakukan seperti itu,” tegas Baluki.

Namun, demikian lanjutnya, pihanya tentu saja gembira bila pandemi sudah mulai mereda. Pemerintah Arab Saudi juga secara perlahan mulai melonggarkan aturan. Ke depan diharapkan situasi akan terus membaik. Semua pihak bisa menjalankan ibadah umrah dengan leluasa seperti dahulu.

”Banyak kabar baik saat ini tentu saja. Jamaah umrah kini mulai memadati tanah suci, meski masih banyak aturan. Tempat tawaf di sekeliling Ka’bah mulai disesaki peziarah. Ini tentu membahagiakan bagi kami. Ke depan mudah-mudahan situasi ini membaik. Masyarakat pun terus sadar dengan menjaga dan mematuhi protokol kesehatan agar pandemi ini makin cepat berakhir. Kita akhirnya bisa umrah kembali secara leluasa seperti dahulu,” kata Baluki Ahmad menandaskan.

IHRAM

Pelacur yang Masuk Surga Berkat Selamatkan Anjing

Islam mengajarkan berbelaskasihan terhadap binatang

Allah SWT membuka pintu surga bagi siapa pun hamba-Nya yang berbuat baik. Salah satunya, adalah pelacur. Cerita ini datang dari hadits Bukhari.

Dikisahkan, di sebuah sumur, hanya ada anjing dan seorang wanita pelacur itu. Mereka saling kehausan. Namun, air yang tersisa hanya cukup diminum salah satu dari mereka. Akhirnya, pelacur itu memberikan air kepada anjing.

عن أبي هريرة – رضي الله عنه -، قال النبي – صلى الله عليه وسلم  غُفِر لامرأةٍ مومِسَةٍ مرت بكلب على رأس رَكيٍّ كاد يقتله العطش، فنزعت خفها فأوثقته بخمارها، فنزعت له من الماء فَغُفِر لها بذلك

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata ‘Anjing ini hampir mati kehausan.’ Lalu dilepaslah sepatunya kemudian diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum.” (HR Bukhari)

Satria Nova mengatakan dalam buku Masuk Surga Lewat Pintu Belakang, dari kejadian tersebut bisa diambil pelajaran, yaitu sesungguhnya rahmat Allah sangat luas. Dia akan menurunkan bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya. 

Wanita pelacur itu diampuni dosa-dosanya hanya karena menolong seekor anjing yang dalam ajaran Islam merupakan hewan yang haram dagingnya dan najis.

Menurut beberapa ulama dibolehkan anjing polisi yang digunakan untuk melacak, untuk berburu, dan menjaga tanaman. 

Dalam cerita wanita pelacur dan anjing, tidak semua manusia yang ada di posisi wanita itu bisa melakukan hal yang sama. Bahkan, masih ada banyak yang tidak berbagi kepada sesama manusia sendiri di tengah kondisi yang sangat kehausan.

Oleh karena itu, hebatnya wanita itu, rela menolong walaupun hanya untuk seekor anjing dan membiatkan dirinya kehausan. Bisa dilihat ketulusan dan keikhlasannya yang luar biasa. 

KHAZANAH REPUBLIKA

Mana Bukti Cintamu pada Nabi?

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman.

Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,  “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”[1] Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib.

Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta’ala berfirman,

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.”[2] Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri.

‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata,

لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).”[3]

Mengapa Kita Harus Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan :

Alasan pertama: berkaitan dengan sosok yang dicintai

Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada umatnya. Sebagaimana Allah Ta’ala mensifati beliau dalam firman-Nya,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)

Alasan kedua: berkaitan dengan faedah yang akan diperoleh jika seseorang mencintai nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara faedah tersebut adalah:

[1] Mendapatkan manisnya iman

Dari Anas radhiyallahu ’anhu , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.[4]

[2] Akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”[5]

Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamAnta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).” Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”[6]

[3] Akan memperoleh kesempurnaan iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”[7]

Dengan dua alasan inilah tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.[8]

Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Pertama: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun

Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ

Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma’il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim.[9]

Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”[10]

Kedua: Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 1-4)

Ketiga: Beradab di sisi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.[11]

Keempat: Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat .”[12]

Kelima: Berhakim kepada ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”[13]

Keenam: Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Membela dan menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: 8)

Di antara contoh pembelaaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan, Anas bin Nadhr pada perang Uhud mengatakan, ”Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan para sahabat dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan kaum musyrik.”  Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya. Anas lalu berkata, ”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” ”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya,” ujar Sa’ad. Anas bin Malik berkata, ”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.”[14]

Bentuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengharuskan beberapa hal, di antaranya:

[1Membela para sahabat Nabi –radhiyallahu ’anhum-

Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.[15]

Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10)

Sungguh aneh jika ada yang mencela sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah). Mereka sama saja mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik dan selainnya rahimahumullah mengatakan, “Sesungguhnya Rafidhah hanyalah ingin mencela Rasul. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu jelek, maka berarti sahabat-sahabatnya juga jelek. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu sholih, maka sahabatnya juga demikian.[16] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun Rafidhah, maka merekalah orang-orang yang sering mencela sahabat Nabi dan perkataan mereka. Hakikatnya, apa yang ada di batin mereka adalah mencela risalah Muhammad.”[17]

[2] Membela para isteri Nabi, para Ummahatul Mu’minin –radhiyallahu ’anhunna-

Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang mencela Abu Bakr, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh.” Ada yang menanyakan pada Imam Malik, ”Mengapa bisa demikian?” Beliau menjawab, ”Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah, pen),

يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 17)”[18]

Ketujuh: Membela ajaran (sunnah) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Termasuk membela ajaran beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq  dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membela panji sunnah ini dengan sabdanya,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.”[19]

Kedelapan: Menyebarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.[20] Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.

Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah

Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa di antara bukti cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menyebarkan sunnah (ajaran) beliau. Oleh karenanya, konsekuensi dari hal ini adalah dengan mematikan bid’ah, kesesatan dan berbagai ajaran menyimpang lainnya. Karena sesungguhnya melakukan bid’ah (ajaran yang tanpa tuntunan) dalam agama berarti bukan melakukan kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta.[21] Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.[22]

Kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.[23]

Contoh cinta Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang keliru adalah dengan melakukan bid’ah maulid nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.”[24]

Pandangan Ulama Ahlus Sunnah Tentang Maulid Nabi

[Pertama] Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal “Di bulan Rabi’ul Awwal dan Bid’ah Maulid”. Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Rabi’ul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ‘ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘ied sebagaimana digariskan oleh syari’at. … Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya[?] Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah yang mungkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini.

Jika dalam maulid terdapat kebaikan,lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya, juga tabi’in dan yang mengikuti mereka [?] Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah. …”

Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, “Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan [?]”[25]

[Kedua] Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”.

Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah).  Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.”[26]

Penutup

Cinta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bukanlah dengan merayakan Maulid. Hakikat cinta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti (ittiba’) setiap ajarannya dan mentaatinya. Semakin seseorang mencintai Nabinya maka dia juga akan semakin mentaatinya. Dari sinilah sebagian salaf mengatakan:

لهذا لما كَثُرَ الأدعياء طُولبوا بالبرهان ,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ

Tatkala banyak orang yang mengklaim mencintai Allah, mereka dituntut untuk mendatangkan bukti. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron: 31).[27] Orang yang cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu hanya mau mengikuti ajaran yang beliau syariatkan dan bukan mengada-ada dengan melakukan amalan yang tidak ada tuntunan, alias membuat bid’ah.

Insya Allah, pada kesempatan selanjutnya kita akan membahas kerancuan yang dikemukakan oleh orang-orang yang menyatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendukung acara Maulid Nabi. Semoga Allah mudahkan.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Diselesaikan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal 1431 H, di Pangukan-Sleman.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/2150-mana-bukti-cintamu-pada-nabi.html

Mengapa Aku Sulit Bersyukur?

Saudaraku, adakah orang yang tidak menyayangi diri sendiri?

Jika pun ada, tentu hal itu berdasarkan sebab-sebab yang menjadikannya tidak peduli terhadap diri sendiri. Sebab-sebab berupa cita-cita yang tidak tercapai, pekerjaan yang sulit didapat, jodoh yang tak kunjung bertemu, ekonomi yang kian memburuk, hubungan kekerabatan yang kian retak, dan segala permasalahan duniawi lainnya yang apabila tidak disikapi dengan mengedepankan keimanan yang kokoh, tentu akan membawa seseorang pada kekecewaan dan keputusasaan.

Pentingnya iman yang kokoh

Iman yang kokoh sejatinya adalah suatu perkara yang amat penting dan semua orang menyadarinya sebagai prioritas yang mesti selalu ditingkatkan kualitasnya. Namun, betapa banyak pula orang yang mengabaikan pentingnya memprioritaskan iman. Sehingga apapun yang menimpanya, tetap saja ia melihatnya dari sudut pandang negatif. Terlebih lagi, jika hal itu adalah cobaan berupa permasalahan-permasalahan duniawi, akan semakin menambah kekecewaan dan keputusasaannya terhadap karunia Allah. Na’udzubillah …

Padahal, apabila ia melihat karunia Allah berupa kesehatan, waktu luang, dan berbagai kenikmatan, yang sejatinya sangat jelas bisa terlihat itu, tentu ia akan merasakan betapa Allah sangat menyayangi dan mengasihinya. Adapun segala permasalahan duniawi yang dihadapi, maka dengan keimanan yang kokoh, ia akan mampu untuk bersikap bijak dengan mengembalikan semuanya kepada ketentuan (takdir) yang telah Allah tetapkan.

Dengan kokohnya iman, syukur menjadi hal yang niscaya untuk selalu diucapkan seorang hamba dalam situasi dan keadaan apapun yang menimpanya. Selalu ada celah untuk melihat karunia Allah yang amat luas meski di tengah-tengah terpaan berbagai cobaan yang sedang Allah timpakan kepadanya.

Syukur seorang hamba akan kembali kepada hamba itu sendiri

Adapun syukur yang terucap dari bibir seorang hamba, dan segala amal perbuatannya, sebagai pengejewantahan rasa syukur itu merupakan kebaikan yang kembali kepada dirinya sendiri. Hal tersebut tidak sedikit pun mempengaruhi atau pun menambah kemuliaan kerajaan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An-Naml: 40)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bahwasanya ayat ini semakna dengan firman Allah dalam surat Fussilat ayat 46 ‘Barangsiapa yang mengerjakan amal yang salih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri’. Senada pula dengan firman Allah dalam surat Ar -Ruum ayat 44, ‘Dan barang siapa yang beramal salih, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).’”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mempertegas betapa Allah Ta’ala Maha Tunggal tidak membutuhkan apapun dari makhluk-makhluk-Nya.

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً

“Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin di antara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim)

Sangat jelas bahwa syukur merupakan perkara yang tidak mempengaruhi kemuliaan Allah Ta’ala. Justru, syukur menjadikan kita mendapatkan berbagai tambahan nikmat dari Allah sebagaimana firman-Nya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Bagaimana cara meningkatkan kualitas keimanan?

Saudaraku, kita menyadari bahwa tidak ada hal yang dapat membuat kita menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur kecuali keimanan yang kokoh. Kita pun mengetahui bahwa iman yang kokoh itu tidak akan hadir dalam hati kecuali dengan meningkatkan kualitas keimanan itu sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara meningkatkan kualitas keimanan itu?

Allah Ta’ala berfirman,

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

“Supaya keimanan mereka bertambah bersama keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)

Pertama, memohon kepada Allah agar dianugerahkan iman yang kokoh dan keistiqamahan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250)

Kedua, senantiasa mempelajari ilmu-ilmu syar’i. Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”  (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ketiga, mempelajari Al-Qur’an dan men-tadabburinya. Allah Ta’ala berfirman,

أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab Al-Qur’an yang kami turunkan kepadamu yang penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang memiliki akal dapat mengambil pelajaran.” (QS. Shad: 29 )

Keempat, mempelajari dan mengamalkan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amalan-amalan yang dapat meningkatkan kualitas keimanan. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman: [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya; [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah; [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana merealisasikan rasa syukur agar mendapatkan nikmat dari Allah?

Lantas, bagaimana agar kita dapat merealisasikan rasa syukur agar mendapatkan nikmat dari Allah?

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan cara bagaimana agar kita dapat merealisasikan rasa syukur agar mendapatkan dan memperoleh janji Allah terhadap orang-orang yang bersyukur tersebut, yaitu:

Pertama, menyadari bahwa segala kenikmatan itu adalah karunia Allah.

Kedua, memuji Allah atas kenikmatan tersebut.

Ketiga, memohon keridaan Allah dengan cara memanfaatkan segala kenikmatan tersebut dalam ketaatan kepada-Nya.[Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hal. 187]

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan keimanan yang kokoh bagi kita agar kita menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur sehingga mendapatkan keridaan-Nya dalam segala urusan duniawi dan ukhrawi kita.

wallahu a’lam bisshawab

Penulis: Fauzan Hidayat

Sumber: https://muslim.or.id/69744-mengapa-aku-sulit-bersyukur.html

Nabi Mengenalkan Islam dengan Pendekatan Secara Manusiawi

Banyak orang dalam konteks cara beragama, masih sebatas formalitas saja meneladani baginda Nabi. Misalnya sekadar pakaian, jenggot, atribut dan aksesoris semata. Secara begitu, sangat miris bila kita tidak menirukan cara berpikir Nabi sebagai sunnah; menduplikasi kecerdasan nabawi beliau menjadi kurikulum di sekolah-sekolah, khususnya lembaga pendidikan Islam. Nabi mengenalkan Islam dengan pendekatan secara manusiawi.

Dakwah Islam Nabi, seringkali (banyak) disalahpahami dengan identitas perang dan pedang. Padahal Nabi adalah sosok manusia Agung yang mengenalkan Islam sebagai agama dialog, agama cinta, dan agama yang memanusiakan manusia. Sosoknya yang cerdas nan lemah lembut itu dihadirkan dalam buku “Nabi Muhammad Bukan Orang Arab?”.  Buku kumpulan essai itu mengandung pesan teduh dan pastinya memberikan stimulus pada pembaca supaya mampu merenung-insafi cara beragama dan bernegara secara santun sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Nabi.

Dalam buku yang ditulis oleh Ach. Dhofir Zuhry atau biasa disapa Gus Dhofir ini menarasikan sikap dan cara pandang keagamaan Nabi untuk tidak rasis terhadap penganut Agama lain. Terlebih sesama muslim ada yang masih menghujat satu dengan yang lainnya.

Ironi kebangkitan gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama menjadikan Islam dangkal. Barangkali,” menjadikan diri sebagai Arab” seakan lebih penting daripada menjadi Islam, menjadi corak Indonesia. Sepertinya tepat apa yang telah  disinyalir dalam buku terbitan Quanta Elexmedia Komputindo ini, bahwa tidak harus menjadi Arab karena Indonesialah identitas kita sebenarnya. Dan hal ini juga sudah dicontohkan Nabi, betapa pentingnya rasa nasionalisme dalam diri. Kita tetap dapat berislam dengan berindonesia, tetap menjalankan nilai-nilai sembari menjaga tradisi leluhur.

Baginda Rasul merupakan pemikir besar yang dibekali sifat Fathonah dalam dirinya. Isinya bukan semata-mata untuk bersujud secara pribadi. Seperti para Rasul lainnya, baginda Nabi adalah perancang “peradaban sujud” itu sendiri.

Sangat menyayangkan apabila sifat Fathonah Nabi tercemarkan oleh kaum cuti nalar dengan sekedar menggunakan atribut jahiliyah, memonopoli kebenaran dan kerap menyerang tradisi Islam Nusantara. Narasi serampangan yang mereka gaungkan, hanya semata untuk menggulingkan kaum sarungan, yang terus menjaga tradisi keilslaman leluhur. Mereka yang tak begitu ramah terhadap keindonesiaan adalah dalih mereka untuk memurnikan Islam dari Tahayyul, Bid’ah, Khurafat dan amar makruf nahi mungkar.

Nabi kita mengajari untuk tidak gampang gegabah menghakimi siapapun yang berbeda. Membangun interaksi dan hidup memebaur dengan mereka yang liyan memang tidak dilarang oleh kitab suci (Q.S. Al-Mumtahanah:8-9).

Bukankah Nabi sudah mencontohkan dengan hidup membaur di tengah-tengah masyarakat nonmuslim, ahli kitab, Yahudi, Nasrani, kaum pagan? Bahkan, mertua Nabi sendiri Huyay, ayahandan dari Sayyidah Shafiyah adalah seorang Yahudi! (hal:75).

Menghayati manusia dan kemanusiaan adalah perkara yang krusial sebelum mempelajari Tuhan dan Agama. Karena, bila suatu saat kita hendak membela Agama, maka sadarkan diri kita bahwa kita bukanlah Tuhan yang memiliki otoritas benar-salah dan dapat dengan mudah mengkafir-kafirkan manusia lain.

Al-Quran akan begitu kering makna saat kita tak lagi merentangkan pikiran dan merendahkan hati untuk menyelami maknanya. Mengkaji tafsir-tafsir terpecah (mu’tabarah) adalah cara untuk terus memperbarui keimanan dan pemahaman kita. Pun begitu, baginda Nabi hanyalah bagian dari sekedar dari masa lalu usang tentang agama ketika kita enggan menggali makna, mempelajari dengan tekun terhadap pemimpin Agung ini.

Maka sebuah keanehan, bahwa, ternyata saudara kita sendiri banyak yang ingin menjadi Arab maupun Eropa dengan cara mencaci keindonesiaan mereka sendiri. Lagipula untuk apa membangga-banggakan asal-usul jika yang dibutuhkan umat adalah pendidikan dan keteladanan.

Setiap orang bertakwa adalah keluarga Nabi. Ukuran kemuliaan setiap orang bukanlah dari suku, pangkat, jabatan, gelimang harta yang banyak, namun ketakwaannya kepada Allah Swt. Siapa pun saja yang memenuhi kualifikasi takwa, menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama, otomatis adalah keluarga Nabi. Bahkan yang mampu menjalankan nilai-nilai Al-Quran adalah keluarga Allah Swt.

Ada seruan yang disampaikan Gus Dhofir dalam bukunya ini, bahwa orang yang ingin meraih kebahagiaan dengan cara menolak Indonesia, anti Pancasila, membenarkan teroris, berlagak sok Arab hanya akan membuat orang itu semakin tidak bahagia. Justru sebaliknya dia sendirilah yang ujung-ujungnya gila dan mati berdiri.

Lazimmnya, tempat terbaik untuk memulai hidup yang berkualitas adalah tempat di mana Anda tinggal sekarang. Jika demikian, setiap kali Anda berandai-andai untuk tinggal atau berada di tempat lain demi menghindari keadaan saat ini, pada saat yang sama Anda telah menjauhkan diri dengan kebahagiaan Anda sendiri. (Hal:95-96).

Buku setebal 207 halaman ini memiliki bahasa yang ringan untuk dibaca. Bahasa yang interaktif seolah Gus Dhofir mengajak pembaca untuk diajak saling berdialog dan mendiskusikan sebuah problema. Penuh akan sarat makna dan hikmah di setiap babnya, yang membuat pembaca terus merenungi akan realita keagamaan yang terjadi di saat ini.

Identitas Buku:

Judul: Nabi Muhammad Bukan Orang Arab?

Penulis: Ach Dhofir Zuhry

Tebal: xi+207

Tahun:2020

Penerbit: Quanta Elexmedia Komputindo

ISBN978-623-00-1301-0

BINCANG SYARIAH

Hakikat Merayakan Maulid Nabi Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani merupakan salah seorang tokoh besar ahlussunnah waljamaah di Mekkah. Ulama yang wafat pada 15 Ramadhan 1425 H (29 Oktober 2004 M) ini dikenal produktif menulis kitab dalam berbagai bidang keilmuan, salah satunya adalah kitab ḥaul al-Iḥtifāl Biżikrā Maulid an- Nabi asy-Syarîf. Kitab ini berisikan argumen-argumen beliau dalam membela tradisi maulid nabi, terutama untuk menangkis beberapa tudingan batil dari pihak-pihak yang menolak tradisi maulidan. Apa hakikat merayakan maulid Nabi?

Di pembahasan awal dalam kitab tersebut (hal. 8-10), Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menegaskan bahwa perayaan maulid Nabi bukanlah ibadah hari raya tambahan sebagaimana yang dituduh oleh golongan yang tidak maulid. Hari raya Islam hanya ada dua;  idul fitri & idul adha. Buktinya, tidak ada bentuk & tata cara yang baku (given) dalam merayakan maulid, juga tidak ketentuan khusus mengenai waktu dan tempat pelaksanaanya. Semuanya dikembalikan kepada penyelenggaranya masing-masing.

Jadi, tradisi maulid Nabi yang berkembang di masyarakat tak lain adalah salah satu bentuk suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Maulid yang diejawantahkan dalam berbagai ekspresi & aktivitas, salah satunya adalah berkumpul untuk mendengar perjalanan hidup Nabi SAW, mendengarkan pujian-pujian untuknya, memberi makanan untuk orang miskin &  yang membutuhkan, juga menebarkan kebahagiaan untuk para pecinta Nabi.

Maka, mengekspresikan kebahagiaan & suka cita atas lahirnya baginda Nabi harusnya tidak pernah terikat dan terbatas dengan waktu tertentu. Kita bisa mengungkapkannya kapan saja. Namun, suka cita tersebut akan menemukan momennya saat tiba bula Rabiul Awwal, bulan kelahiran Nabi, terlebih bila bertepatan pada tanggal 12. Dengan demikian, orang-orang yang merayakannya akan lebih terikat secara emosional dengan momen kelahiran baginda Nabi.

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki juga menegaskan, bahwa orang yang merayakan maulid nabi tidak pernah mengklaim bahwa tradisi ini adalah satu-satunya bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad, sehingga yang tidak merayakan tradisi ini dianggap tidak mencintai Nabi. Perayaan ini tak lain adalah salah satu-bukan satu-satunya- ekspresi cinta kita kepada beliau, juga salah bukti bahwa kita ingin mengikuti Nabi. Dengan demikian, orang yang tidak merayakannya bukan berarti tidak mencintai & mengikuti beliau.

Maka, tradisi maulid Nabi tidak perlu untuk dinilai sebagai bid’ah atau tidak. Sebab, ia bukanlah bentuk ibadah murni (mahdhah) baru yang dibuat-buat. Ia hanyalah sebuah forum yang mengumpulkan banyak orang, sebagaimana forum-forum yang biasa manusia adakan di dunia ini, seperti rapat, event, seminar dan lainnya.

Namun, forum ini bukanlah sekadar forum biasa yang mengumpulkan banyak orang. Forum ini menjadi perantara mulia menuju tujuan yang juga mulia. Salah satunya menjadi wasilah untuk mempertebal keimanan dan cinta kita kepada Nabi Muhammad dengan mengeksplorasi sifat, budi pekerti, perilaku keseharian dan ibadah beliau. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih “hukum hal yang menjadi perantara sesuai dengan hukum maksud yang ingin dicapai”

Dari titik inilah, tradisi maulid menjadi perantara besar serta kesempatan emas bagi da’i, kyai, ustaz, dalam menggencarkan dakwahnya kepada masyarakat. Maka wajib bagi mereka untuk menyampaikan segala hal tentang Nabi Muhammad, mulai dari perjalanan dakwah beliau, menyebut akhlak & adab beliau, sampai bagaimana beliau berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.di samping juga menyampaikan materi ceramah lainnya secara umum.

Akhir kata, sebagaimana yang ditegaskan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam mukadimah kitab ini mengenai hakikat merayakan maulid Nabi, perdebatan tentang perayaan maulid Nabi yang muncul secara rutin tiap tahun harusnya dianggap selesai. Perhatian kita seharusnya berfokus pada hal yang lebih besar dari sekadar perdebatan tahunan ini.

Ada banyak problematika besar menanti untuk kita selesaikan, seperti bagaimana umat Islam terlepas dari belenggu perpecahan, permusuhan, kemiskinan, ketertinggalan dan kemunduran. Bila hal itu dilakukan, tentu masih ada secercah harapan agar umat Islam kembali memiliki peradaban maju sebagaimana yang telah dicapai oleh salafus shalih.  Wallahu a’lam

BINCANG SYARIAH

14 Orang yang Doanya Dikabulkan Allah SWT

Allah SWT mengabulkan doa orang-orang terpilih

Ketika seorang Muslim berdoa kepada Allah SWT, tentu akan berharap doa tersebut dikabulkan. 

Namun Allah memiliki kriteria tersendiri bagi orang-orang yang doanya mudah dikabulkan. Sedikitnya 14 orang yang doanya cepat dikabulkan Allah SWT yaitu sebagai berikut:  

Pertama, doa orang yang sangat membutuhkan. Kedua orang yang terzalimi. Ketiga, doa orang tua untuk anak-anaknya. Keempat doa imam yang adil. Kelima, doa orang yang saleh. 

Keenam, doa anak yang saleh untuk orang tuanya. Ketujuh, doa musafir. Kedelapan, doa orang yang berpuasa ketika berbuka. 

Kesembilan, doa diam-diam seorang Muslim untuk saudaranya. Kesepuluh, doa seorang Muslim selama dia tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan hubungan kekerabatan. 

Kesebelas, doa orang yang bertaubat. Keduabelas, doa orang yang umroh dan berhaji. Ketigabelas, doa seorang mujahid. 

Keempatbelas, doa orang yang bangun di sepertiga malam. Dari Abu Hurairah RA Nabi SAW bersabda:

الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ السَّحَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak yaitu pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang dizalimi, Allah angkat di atas awan pada hari kiamat.”  

KHAZANAH REPUBLIKA

Arab Saudi Batalkan Masa Tunggu 14 Hari untuk Jamaah Umroh

Kerajaan Arab Saudi membatalkan persyaratan jamaah yang ingin melakukan umroh harus menunggu 14 hari sebelum melakukan ibadah itu. Kementerian Haji dan Umroh Saudi mengatakan langkah itu dilakukan setelah kapasitas operasional Masjidil Haram untuk umroh dan sholat meningkat secara signifikan menyusul pencabutan pembatasan terkait Covid-19 baru-baru ini.

“Sejalan dengan perkembangan pada tahap ini, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan pada tanggal yang tersedia untuk melakukan umroh, Kementerian Haji dan Umroh Saudi membuat kebijakan ini untuk jamaah. Kondisi ini tidak lagi diperlukan dan akan mencapai peluang yang adil untuk semua karena permintaan yang tinggi,” kata Kepala Perencanaan dan Strategi di kementerian tersebut Amr Al-Maddah, dilansir dari The New Arab, Senin (25/10).

Pekan lalu, Masjidil Haram di kota Makkah mulai beroperasi dengan kapasitas penuh. Jamaah sholat akan melakukan ibadah harian seperti biasa untuk pertama kalinya sejak pandemi virus corona. 

Para petugas di Makkah menghilangkan stiker di lantai yang memandu orang-orang untuk menjaga jarak sosial di dalam dan di sekitar Masjidil Haram. Sementara langkah-langkah jarak sosial dicabut, pihak berwenang mengatakan pengunjung harus sepenuhnya divaksinasi terhadap virus corona dan harus terus memakai masker di halaman masjid.

Arab Saudi mengumumkan pada Agustus mereka akan mulai menerima orang asing yang sudah divaksinasi. Umroh dapamasa t dilakukan kapan saja dan biasanya menarik jutaan orang dari seluruh dunia, seperti halnya haji.

Pada Juli, hanya sekitar 60 ribu penduduk yang telah divaksinasi diizinkan mendaftar haji. Pandemi Covid-19 sangat merugikan. Haji merupakan penghasil pendapatan utama bagi Kerajaan. Pendapatan dari haji menghasilkan Rp 169 triliun per tahun.

Menjadi tuan rumah umroh dan haji adalah masalah prestise bagi penguasa Saudi, yang menjaga situs-situs paling suci Islam. Saat ini, Arab Saudi mendaftarkan lebih dari 547 ribu kasus virus corona dan 8.760 kematian. 

IHRAM

Kemenag Minta Kanwil Sosialisasikan Kembali Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid

Jakarta (Kemenag) — Kementerian Agama meminta jajarannya kembali mensosialisasikan tuntunan tentang penggunaan pengeras suara di masjid. Permintaan itu tertuang dalam Surat Edaran Dirjen Bimas Islam nomor B.3940/DJ.III/HK.00.07/08/2018 tanggal 24 Agustus 2018.

Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin menjelaskan, tuntunan penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, dan mushalla itu sudah ada sejak 1978. Permintaan untuk mensosialisasikan kembali tuntunan tersebut tertuang dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978.

“Hingga saat ini, belum ada perubahan,” kata Muhammadiyah Amin di Jakarta,  Jumat (24/08).

Menurutnya,  Instruksi Dirjen Bimas Islam ini antara lain menjelaskan tentang keuntungan dan kerugian penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, dan mushalla. Salah satu keuntungannya adalah sasaran penyampaian dakwah dapat lebih luas.

Namun, penggunaan pengeras suara juga bisa mengganggu orang yang sedang beristirahat atau penyelenggaraan upacara keagamaan. “Untuk itu, diperlukan aturan dan itu sudah terbit sejak 1978 lalu,” tegasnya.

Dalam instruksi tersebut, lanjut mantan Rektor IAIN Gorontalo ini, dipaparkan bahwa pada dasarnya suara yang disalurkan keluar masjid hanyalah adzan sebagai tanda telah tiba waktu salat.

“Pada dasarnya suara yang disalurkan keluar masjid hanyalah adzan sebagai tanda telah tiba waktu salat. Demikian juga sholat dan doa pada dasarnya hanya untuk kepentingan jemaah ke dalam dan tidak perlu ditujukan keluar untuk tidak melanggar ketentuan syariah yang melarang bersuara keras dalam salat dan doa. Sedangkan dzikir pada dasarnya adalah ibadah individu langsung dengan Allah SWT karena itu tidak perlu menggunakan pengeras suara baik kedalam atau keluar,” demikian Amin membacakan salinan instruksi.

Hal lain yang terdapat dalam instruksi ini terkait waktu penggunaan pengeras suara. Amin mengatakan, instruksi Dirjen secara jelas dan rinci sudah mengatur waktu-waktu penggunaan pengeras suara.

“Misalnya, pengeras suara bisa digunakan paling awal 15 menit sebelum waktu Salat Subuh, dan sebagainya,” jelas Muhammadiyah Amin.

Melaui surat edaran yang diterbitkan hari ini,  Muhammadiyah Amin meminta Kanwil Kemenag untuk kembali mensosialisasikan instruksi Dirjen Bimas Islam 1978. “Kami meminta segenap jajaran, dapat mensosialisasikan kembali aturan tersebut,” katanya.

“Kami juga minta Kantor Urusan Agama (KUA) maupun penyuluh agama di seluruh Indonesia untuk ikut mensosialisasikannya,” jelas Amin.

Hal itu misalnya dilakukan dengan menggandakan instruksi Dirjen tentang penggunaan pengeras suara pada masjid, langgar, dan mushalla  lalu membagikannya kepada masyarakat sambil dijelaskan substansinya. Instruksi tersebut juga agar dijadikan sebagai bahan pembinaan keagamaan yang dilakukan kepada masyarakat.

Dengan disosialisasikan kembali aturan penggunaan pengeras suara, Muhammadiyah Amin berharap masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sama tentang aturan tersebut.

Selengkapnya,  lihat infografis berikut:

KEMENAG RI

8 Syarat Menjadi Imam dalam Sholat Berjamaah, Wajib Tahu!

Syarat menjadi imam sholat berjamaah perlu dipenuhi sebab seorang imam harus mampu memimpin para makmumnya. Rasulullah SAW pernah menjelaskan syaratnya dalam beberapa hadits.
Berikut salah satunya,

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَائَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَ فِي رِوَايَةٍ: سِنًّا، وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. [رواه مسلم]

Artinya: Rasulullah SAW bersabda, “Yang mengimami suatu kaum (jamaah) itu hendaklah yang paling baik bacaan kitab Allah (Al Quran) nya. Jika di antara mereka itu sama, maka hendaklah yang paling tahu tentang sunnah, dan apabila di antara mereka sama pengetahuannya tentang as-Sunnah, hendaklah yang paling dahulu berhijrah, dan apabila di antara mereka sama dalam berhijrah, hendaklah yang paling dahulu memeluk Islam’. Dalam riwayat lain disebutkan: “Yang paling tua usianya. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya.” (HR. Muslim).


Arti imam secara istilah adalah orang yang memimpin dalam sholat berjamaah. Imam dalam sholat dimaknai sebagai orang yang sholatnya diikuti orang lain dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam syariat. Sebagaimana dikutip dari Ibnu Abdin dalam kitab Hasyiyah.

Dirangkum dari buku Fikih Empat Madzhab Jilid 2 karya Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, berikut syarat seorang imam sholat

8 syarat menjadi imam sholat berjamaah


1. Beragama Islam
Imam yang beragama Islam menjadi salah satu syarat sah dalam sholat berjamaah. Hal ini diamini oleh seluruh ulama dan kaum muslimin. Bagi non muslim yang melaksanakan sholat dan mengaku menjadi seorang muslim, maka sholatnya tidak sah dan harus diulang kembali.

2. Baligh
Tidak sah hukum sholat fardhu orang dewasa jika menjadi makmum dari anak kecil yang mumayyiz. Hal ini disepakati oleh imam bersar tiga mazhab. Adapun jika anak kecil yang mumayyiz menjadi imam bagi anak-anak seumurannya, maka sholatnya dianggap sah.

3. Berjenis kelamin laki-laki
Menurut Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, tidak sah hukum sholat fardhu berjamaah bila dipimpin oleh seorang wanita atau khunsa (berkelamin ganda) sementara makmumnya ada yang laki-laki. Namun, sah bagi seorang wanita bila dipimpin oleh wanita lainnya atau juga seorang khunsa.

Hukum tersebut disepakati oleh tiga mazhab selain mazhab Maliki. Sebab mazhab Maliki melarang keras seorang wanita atau khunsa menjadi imam, siapapun itu makmumnya.

4. Berakal sehat
Hukumnya menjadi tidak sah bila sholat berjamaah diimami oleh orang hilang kewarasan atau gila.

“Tidak sah sholat yang dilakukan di belakang mereka (orang linglung dan mabuk) berdua, sebagaimana tidak sah sholat mereka juga.” tulis Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi.

Adapun jika ada orang gila yang terkadang waras dan terkadang tidak, maka sah sholat berjamaah jika dipimpin olehnya saat dalam keadaan waras.

5. Mampu membaca
Syarat imam sholat lainnya adalah seorang imam harus dapat membaca jika makmumnya mampu membaca. Maksud membacanya di sini adalah mampu membaca bacaan Al Quran.
Untuk membaca rukun (seperti surat Al Fatihah), imam bukan hanya dituntut untuk sekadar mampu saja, namun diharuskan untuk membacanya dengan baik dan benar. Sementara itu, bagi imam yang buta huruf masih dibolehkan menjadi imam bila ia memiliki makmum yang juga buta huruf.

6. Bebas dari hadats kecil dan besar
Mayoritas ulama sepakat bahwa sholat menjadi tidak sah apabila dipimpin oleh imam yang berhadats atau terkena najis. Namun jika seorang Imam tidak mengetahui bahwa dirinya berhadats saat sholatnya sudah selesai, maka sholat tetap dianggap sah.

7. Bebas dari pelat lidah
Lancar dalam pelafalan huruf hijaiyyah dan tidak tertukar antara huruf satu dengan yang lain menjadi salah satu syarat imam dalam sholat berjamaah. Kepemimpinan orang yang altsag (mengganti sebuah huruf dengan huruf lain) hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki kondisi sama sepertinya.

8. Bukan seorang makmum
Menurut mazhab Syafi’i, tidak sah sholat seseorang jika ia mengangkat orang lain untuk menjadi imamnya. Sementara orang tersebut masih menjadi makmum kepada imam lain.

Syarat-syarat menjadi imam ini perlu dipahami sebab hal ini juga memiliki kaitan dengan keabsahan dalam sholat yang dikerjakan. Nah, semoga penjelasan di atas dapat dipahami ya!

DETIKHIKMAH