Menu Sehat Lansia Saat Puasa

POLA makan dengan nutrisi seimbang merupakan salah satu penunjang seorang lansia agar lancar menjalani puasa. Karenanya, penting mengetahui  menu sehat yang bisa diasup selama mereka melakukan ibadah puasa sehingga kesehatannya pun tetap terjaga.

Menu sehat sendiri ialah komposisi makanan bergizi saat Anda berbuka puasa, setelah melakukan shalat tarawih sampai dengan sahur. Komposisi gizi yang tepat bisa menjaga kesehatan tubuh seorang lansia saat menjalani aktivitas harian.

Lantas, bagaimana contoh menu yang sehat berpuasa untuk seorang yang sudah dalam usai lanjut?

Berikut, Dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, KGer, FINASIM seorang dokter spesialis penyakit dalam di RS. Cipto Mangunkusumo menjelaskan contoh menu sehat berpuasa bagi semua orang yang sudah dalam usia lanjut:

Sebelum sholat maghrib

-Mengonsumsi kurma sebanyak tiga buah
-Semangkuk kecil buah dan selada

Sesudah sholat maghrib

Nasi sebanyak satu setengah gelas
-Pepes ayam atau daging ayam sebanyak satu potong
-Tumis tempe sebanyak tiga sdm
-Sayur asem sebanyak satu mangkuk
-Mengonsumsi satu pisang setelah makan makanan berat

Sesudah shalat tarawih

-Mengonsumsi roti tawar sebanyak dua lapis berisi telur

Saat sahur

-Nasi sebanyak satu setengah gelas
-Semur daging sebanyak satu potong
-Tahu bacem sebanyak satu potong
-Sayur sup semangkuk
-Satu potong buah semangka

Sementara, kata Dr. Edy, bila Anda lansia yang tergolong mengonsumsi obat-obatan setiap harinya, sangat dianjurkan untuk kontrol sebelum memulai puasa Ramadhan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan resep mengenai berapa jumlah obat yang harus dikonsumsi saat menjalani puasa nanti. Menurutnya, pasti ada perubahan bila seorang lansia di hari biasa mengonsumsi obat tiga kali dalam sehari, dan saat puasa yang hanya boleh makan setelah buka puasa dan sahur.

Qalbinur Nawawi

Jurnalis

sumber:  Okezone.com

“Masjid Mobile”, Inovasi Baru Tempat Shalat di Bandung

Sering merasa kesulitan mencari tempat untuk menunaikan ibadah shalat ketika datang ke konser musik atau pertandingan sepak bola? Kini hal tersebut bukan masalah lagi karena di Kota Bandung tersedia masjid portabelyang bisa berpindah-pindah lokasi.

Mobile Masjid adalah sebuah inovasi baru dalam pelayanan shalat di Kota Bandung. Ide ini digagas oleh Muhammad Sobirin, Direktur Yayasan Masjid Nusantara.

“Jadi kita membuat membuat fasilitas yang bisa melayani shalat di mana pun dan kapan pun. Sasaran kita adalah tempat keramaian yang jauh dari mushala, konser musik, dan tempat bencana,” kata Sobirin saat ditemui di Sasana Budaya Ganesha, Kota Bandung, Jumat (26/6/2015).

Disebut masjid portabel lantaran minibus Isuzu L300 berwarna hitam berpadu hijau dan putih yang dimodifikasi khusus oleh Yayasan Masjid Nusantara membawa segudang peralatan yang cukup banyak untuk membuat masjid dadakan di mana pun dan kapan pun.

“Tergantung permintaan di mana yang dibutuhkan. Tapi kalau tidak ada permintaan kita keliling-keliling cari tempat keramaian yang sangat butuh tempat shalat,” tuturnya.

Isi dari mobil sumbangan dari Rumah Zakat tersebut mengangkut tanki air berkapasitas 5.000 liter yang bisa dimanfaatkan puluhan umat islam untuk berwudhu. Selain itu, ada juga karpet shaf, genset, sound system, mimbar, hingga peralatan pribadi yang bisa dipakai bergantian seperti mukena, sarung hingga sandal jepit untuk wudhu.

Saking lengkapnya, masjid portabel ini bahkan bisa menggelar shalat Jumat yang memiliki syarat harus diikuti oleh 40 orang lebih jemaat.

“Ini pertama kali di Indonesia. Masjid ini bisa digunakan sampai 70 orang,” tuturnya.

Tidak hanya peralatan untuk shalat saja, masjid keliling ini juga menyediakan imam (pempimpin shalat).

Masjid portabel ini baru tersedia satu unit di Kota Bandung. Sobirin berharap kembali mendapatkan donatur agar bisa menambah armada Mobile Masjid anyar agar bisa memenuhi antusiasme masyarakat yang mulai tinggi terhadap keberadaan masjid bongkar pasang ini.

Selain itu, kelemahan masjid ini adalah ketika datang hujan. Sebab, masjid portabel ini cuma beratapkan langit.

“Kalau hujan ya terpaksa kita berhenti beroperasi,” jelasnya.

Sekali lagi, Sobirin berharap ada donatur yang bisa menyumbang untuk kelangsungan Mobile Masjid ini. Dia punya rencana untuk menambah armada yang memiliki bodi lebih besar agar bisa mengangkut peralatan lebih banyak.

Selain itu, armada tersebut dipastikan lebih canggih karena disertai dengan perpustakaan dan jaringan wifi.

“Kalau mobil ini masih 1.0. Rencananya akhir tahun 2015 Kita ingin tambah yang 2.0, lebih besar kapasitas, yang dibawa lebih banyak. Di dalam mobil bisa jadi tempat shalat untuk perempuan,” paparnya.

 

sumber: Kompas.com

Do’a Setelah Shalat Witir

Apakah Ada Do’a Setelah Shalat Witir?

 

Jawab:

ADA, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pada saat witir membaca surat“Sabbihisma Robbikal a’laa” (surat Al A’laa), “Qul yaa ayyuhal kaafiruun”(surat Al Kafirun), dan “Qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Kemudian setelah salam beliau mengucapkan,“Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga. (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3: 406. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan di akhir witirnya,“Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik”.

Artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri. (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). []

Sumber: E-book Ringkasan Panduan Ramadhan Bekal Meraih Penuh Berkah, Penulis Muhammad Abduh Tuasikal

 

sumber: Islam Pos

Kenali Bahaya Tidur Setelah Sahur

DI bulan Ramadhan ini Allah telah mewajibkan kita semua berpuasa sebagaimana Ia telah mewajibkan kepada orang2 sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab, seperti dalam firman-Nya, “Hai orang2 yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah: 183). Namun sebelum melaksanakan ibadah puasa, kita dianjurkan untuk makan sahur.

Salah satu sunnah puasa adalah mengakhirkan makan sahur, di jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat yang merupakan generasi pertama umat Islam tersebut tidak tidur setelah sahur. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang di jaman sekarang ini , banyak orang masih merasa ngantuk dan mempercepat makan sahur kemudian tidur kembali akibatnya sering terlambat untuk mengerjakan sholat subuh , kehiangan berkah di pagi hari, selain itu ternyata tidur setelah sahur tidak baik untuk kesehatan dari segi medis. Berikut penyebab kenapa seseorang tidak dianjurkan kembali setelah makan sahur.

Pertama gangguan lambung/asam lambung. Setelah mengonsumsi makanan (termasuk sahur), sistem pencernaan memerlukan beberapa waktu untuk mencerna dan menyerap nutrisi yang ada di dalam makanan tersebut. Ketika seseorang tidur setelah makan (sahur), apalagi dalam posisi terlentang, pencernaan menjadi melambat atau sulit bekerja. Akibatnya, timbullah nyeri di ulu hati dan panas yang menyebar ke dada dan tenggorokan karena meningkatnya asam lambung.

Kedua, terjadinya refluks. Merupakan penyakit yang timbul akibat kelemahan dari katup antara lambung dan kerongkongan. Hal ini menyebabkan asam lambung naik ke dalam kerongkongan dan menimbulkan gejala berupa rasa terbakar di dada. Di antara tanda refluks adalah ketika seseorang terbangun dari tidur setelah sahur ia merasakan kerongkongannya panas dan mulutnya terasa pahit. Para dokter menyarankan jeda waktu antara makan dan tidur adalah dua jam. Namun sunnah Rasulullah lebih lama lagi. Beliau dan para sahabatnya biasa mengisi waktu setelah sahur dengan shalat atau dzikir dan setelah Subuh berdzikir hingga matahari terbit. Untuk tidur sejenak, mereka memilih waktu siang yang dikenal dengan istilah qailulah.

Ketiga, terserang Stroke. Tidur setelah sahur dipercaya meningkatkan resiko terkena stroke. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa orang yang memiliki jeda paling lama antara makan dan tidur mempunyai risiko terendah terkena stroke. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki jeda paling singkat antara makan dan tidur memiliki resiko lebih tinggi terkena stroke.

Keempat, sakit Kepala. Jika kita tidur setelah shalat subuh, dan ketika bangun bagian leher akan terasa sakit dan kaku, bahkan terkadang bukan kesegaran yang didapat, namun sebaliknya. Lalu akan terasa sakit kepala bagian atas atau kepala bagian belakang. Itulah hal mudhorat yang didapat jika anda tidur lagi usai sahur atau menjelang pagi. Menurut sebuah hasil studi, tidur pagi menyebabkan serebrospinal bergerak ke otak. Inilah yang menimbulkan sakit di kepala.

Selain berbahaya dari segi kesehatan, tidur setelah sahur membuat terhalangnya pintu rezeki, dalam hadits yang di riwayatkan oleh Abu Daud, bahwasannya Rasulullah bersabda “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” Dalam hadits tersebut Rasulullah mendoakan keberkahan bagi umatnya yang bangun di waktu pagi. Sebaliknya, doa itu mengisyaratkan bagi mereka yang tidur lagi setelah Subuh, mereka akan kehilangan keberkahan yang disebutkan dalam doa Nabi. Keberkahan dalam ayat ini memiliki makna yang luas. Secara umum maknanya adalah bertambahnya kebaikan. Bentuknya bisa macam-macam, misalnya bisnisnya berhasil sehingga bisa banyak berinfak atau karirnya meningkat sehingga mudah bersedekah.

Dan yang terakhir, menjadi malas dan Kehilangan semangat. Biasanya ketika tidur usai sahur atau menjelang pagi, tubuh akan terasa lemas dan kehilangan semangat untuk melakukan aktivitas. Mood juga akan berubah jadi buruk. Ketika kondisi hati sedang buruk, otomatis akan tergambar dari garis wajah. Wajah akan terlihat pucat. Maka sebaiknya Mengisi waktu pagi setelah Subuh dengan ibadah, berdzikir, membaca Al-qur’an atau bisa juga anda gunakan waktu pagi anda untuk membersihkan rumah. Bisa di pastikan waktu berikutnya, Anda akan terlihat lebih segar dan bersemangat. Baik secara medis ataupun secara ruhiyah.

Akibatnya Jika Langsung Tidur Setelah Sahur

Saat bulan puasa, orang akan bangun tidur beberapa jam lebih awal dari biasanya untuk makan sahur. Setelah sahur dan salat subuh, banyak orang yang langsung tidur kembali. Apalagi mereka yang harus bekerja pada pagi harinya. Ini bisa dimaklumi, karena waktu tidur terpotong oleh sahur.

Namun, langsung tidur setelah sahur tidak baik bagi kesehatan. Praktisi Gizi Klinik dan Olahraga, Rita Ramayulis SCN, M.Kes mengungkapkan, makanan yang baru masuk ke dalam tubuh harus dicerna terlebih dahulu. Jika langsung tidur, sistem pencernaan tidak akan bekerja dengan baik.

“Kalau kita langsung tidur, oksigen berpindah ke lambung semua. Kita bawa tidur semakin tidak bisa lambung bekerja dengan cepat. Oksigen di otak juga jadi berkurang,” terang Rita dalam acara Sequis di Jakarta, Jumat (27/6/2015).

Akibatnya, saat bangun tidur perut terasa penuh, sakit perut, juga pusing. Selain itu, makanan yang belum dicerna bisa berbalik dari lambung ke kerongkongan ketika dalam posisi tidur.

Rita menjelaskan, makanan seperti karbohidrat akan dicerna selama dua jam. Maka, setelah itu isi di lambung telah berkurang. Sementara itu, protein butuh waktu tiga jam dan lemak selama empat jam untuk bisa dicerna dalam tubuh.

“Jadi minimal setelah dua jam baru tidur lagi. Saat itu isi lambung sudah berkurang,” imbuh Rita.

Bagaimana jika tidur dilakukan dengan posisi duduk? Menurut Rita, hal ini juga akan menghambat kerja lambung setelah makan. Saat tidur, semua organ tubuh pun beristirahat. Bahkan, menurut Rita, ketika seseorang sahur dalam porsi makan yang cukup banyak, sebaiknya tidak tidur lagi setelah sahur.

 

sumber: Kompas.com

Menag Launching Gerakan Lima Pasti Umrah

Kementerian Agama dalam hal ini Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) terus berusaha memberikan pelayanan yang baik, khususnya kepada jamaah umrah Indonesia. Untuk tujuan itu, Ditjen PHU membuat terobosan baru yang diberi nama  “Gerakan Lima Pasti Umrah”.

Gerakan yang bertujuan meningkatkan pelayanan di bidang penyelenggaraan umrah ini dilaunching langsung oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin di gedung HM Rasjidi, Thamrin, Jakarta, Senin (29/09). Dalam sambutannya, di hadapan para pejabat Ditjen PHU serta pengurus dan anggota asosiasi biro perjalanan haji dan umrah seperti Amphuri, Kesthuri, Himpuh dan para Kabid Haji se Indonesia, Menag menyampaikan bahwa minat dan keinginan masyarakat Indonesia untuk berumrah cukup tinggi dan meningkat setiap tahunnya. Untuk itulah, Kemenag berupaya terus meningkatkan kualitas pelayanan yang dilakukan.

“Ini harus diantisipasi dengan baik, sekarang kita merasakan lonjakan banyaknya jamaah,” kata Menag. Tampak juga hadir dalam kesempatan ini, Kabalitbang dan Diklat Abdurrahman Masud, Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis, Direktur Penyelenggaraan haji dalam Negeri Ahda Barori, Direktur Penyelenggaraan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis, Kapinmas Rudi Subiyantoro, Karo Hukum DanKLN Achmad Gunaryo, Karo Umum Syafrizal, dan Karo Keuangan Syihabuddin Latief.

Berbagai regulasi maupun kebijakan sudah ditempuh, lanjut Menag, seperti membuat kebijakan haji cukup sekali; dan bagi mereka yang ingin duakali berhaji harus menunggu tenggang waktu 10 tahun. Pada kesempatan itu, Menag juga menyampaikan bahwa pemerintah hanya akan menyelenggarakan ibadah haji saja. Sementara umrah, tetap dilakukan oleh masyarakat. “Pemerintah hanya menyiapkan regulasinya, tidak ikut melakukan penyelenggaraannya,” terangnya.

Dikatakan Menag, konsekuensi semakin banyak dan meningkatnya animo masyarakat untuk berumrah, berimplikasi pada pergeseran karakteristiknya. “Dahulu, jamaah umrah hanya dari kalangan menengah ke atas (perkotaan), sekarang menengah ke bawah (pedesaan) sudah mulai banyak,” papar Menag.

Dari hal ini, lanjut Menag, Kemenag mencoba berfikir keras, dengan mencanangkan lima pasti umrah. Setiap jamaah yang ingin berumrah harus memastikan lima hal: pertama, pastikan siapa biro perjalanan/travel apakah memiliki izin resmi atau tidak dengan mengecek www.haji.kemenag.go.id; kedua, pastikan jadwal penerbangan/maskapainya;

Ketiga, pastikan harga dan paket yang ditawarkan dari harga yang ditentukan; keempat, pastikan hotelnya; dan kelima, pastikan visanya. “Saya berharap, seluruh asosiasi bisa ikut mensosialisasikan lima pasti berumrah ini, agar masyarakat kita tidak mengalami penipuan,” tegas Menag.

Sebelumnya Dirjen PHU Abdul Djamil melaporkan bahwa Kemenag berkomitmen untuk terus dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik, utamanya pelayanan bimbingan kepada jamaah haji dan umrah. “Saat ini jumlah jamaah umrah sampai bulan Juni 2015 mencapai 600ribu orang/jamaah,” kata Djamil.

Kemenag, lanjut Djamil, sesuai kodrat yang dimiliki telah menjalankan tugasnya, pengawasan dan penindakan terhadap travel yang bermasalah. Inilah situasi yang dihadapi ke depan. Namun, Abdul Djamil juga meyakini banyak travel-travel yang tetap konsisten dengan pakta integritas yang sudah ditandatangani. “Terimakasih dan sudah menjalankan tugas-tugasnya. Terimaksih juga kepada asosiasi-asosiasi yang menjalankan tugasnya dengan baik,” ucap Djamil.

Selain itu, Kemenag juga menjalin kerjasama dengan Bareskrim, untuk memberikan penindakan kepada travel yang bermasalah menyangkut ranah hukum dan pidana.  (Arief/mkd/mkd)

sumber: Kemenag RI

Fatwa Baru untuk Umat Islam di Eropa

Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Bagaimanakah Anda berpuasa Ramadhan bila berada di negara di mana matahari tidak pernah tenggelam? Misalnya, seperti yang terjadi di Kota Tromso, di jantung wilayah utara Norwegia. Pada periode akhir Mei hingga akhir Juli, kota kepulauan yang dikelilingi pegunungan yang tertutup salju ini mengenal apa yang disebut fenomena ‘matahari tengah malam’, yakni matahari tidak terlihat terbenam hingga tengah malam. Di kota yang berada sekitar 250 km sebelah utara Lingkaran Arktik, Norwegia, ini kini terdapat sekitar 1000 Muslim.

Atau, bagaimana Anda berpuasa di negara yang waktu siangnya sangat panjang hingga mencapai 21 jam seperti di Denmark, Swedia, Norwegia, dan Islandia?

Subhanallah. Maha Suci Allah, yang telah menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan siang dan malam serta sore dan pagi. Maha Suci Allah, yang telah menciptakan waktu yang berbeda-beda di antara negara-negara. Pada bulan Ramadhan sekarang ini misalnya, ada negara yang siangnya sangat panjang dan sebaliknya ada pula negara yang siangnya sangat pendek.

Di Denmark misalnya, durasi waktu fajar hingga Magrib mencapai 21 jam, sementara di Swedia, Norwegia, dan Islandia rata-rata mencapai 20 jam, di Inggris 18 jam 59 menit, dan di Jerman 18 jam 9 menit.  Sedangkan di Argentina jarak waktu fajar hingga Maghrib hanya 12 jam 21 menit, di  Brasil dan Cile 12,5 jam hingga 13 jam. Di Kanada 18 jam 9 menit, sementara di Amerika Serikat, tepatnya di Washington DC durasi fajar hingga Maghrib 16 jam 44 menit.

Sedangkan di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi 16 jam 13 menit, Uni Emirat Arab 15 jam 23 menit, dan Kuwait 15 jam 59 menit. Namun, di bulan Ramadhan ini suhu udara di negara-negara ini diperkirakan bisa mencapai di atas 50 derajat celsius alias setengah panas air mendidih. Sementara itu di negara-negara Afrika, seperti di Mesir, Tunisia, dan Aljazair jarak waktu fajar hingga Maghrib mencapai 16-17,5 jam tiap hari.

Bagaimana di India dan Pakistan? Di dua negara itu jarak waktu fajar hingga Maghrib mencapai 17 jam dan 16,5 jam. Sedangkan di wilayah Asia-Rusia waktunya hampir sama dengan di Eropa, yakni 20 jam 49 menit. Durasi paling pendek terjadi di Australia, yakni hanya 10 jam.

Lalu bagaimanakam umat Islam di negara-negara tersebut menjalankan puasa Ramadhan sekarang?

Kata Sheikh Hussein Muhammad Halawa, Sekjen Majelis Eropa untuk Fatwa dan Riset (The European Council for Fatwa and Research/ECFR), Islam itu agama yang mudah. Mengutip surat al Baqarah 185, ia mengatakan, ‘‘Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.’’

Di ayat sebelumnya, al Baqarah 184, Allah SWT berfirman, ‘‘Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.’’

Atas dasar ayat Alquran itu, lanjut Sheikh Halawa sebagaimana dikutipAljazeera.net, ECFR perlu mengeluarkan fatwa untuk umat Islam yang berada di Eropa, terutama di negara-negara yang siangnya sangat panjang. Fatwa ini dirilis setelah ECFR mengadakan konferensi internasional di Dublin, ibukota Irlandia, pekan lalu.

Konferensi ini melibatkan para ulama, ahli fikih, psikolog, dokter, dan ahli falak. Sebelum pertemuan, delegasi ECFR telah pergi ke wilayah utara Swedia dan Norwegia, di mana matahari tidak pernah terbenam. Sheikh Halawa menyebut fatwa yang dikeluarkan ECFR kali ini adalah ‘fatwa baru untuk umat Islam Eropa’.

ECFR merupakan sebuah lembaga yang berbasis di Dublin. Ia dibentuk di London pada 1997 oleh Federasi Organisasi-organisasi Islam di Eropa (Federation of Islamic Organizations in Europe/FIOE). Salah seorang penggagasnya adalah Sheikh Yusuf Qardhawi, ketua Persatuan Ulama Dunia. Anggota ECFR terdiri dari para ulama dan cendekiawan Muslim.

Di antara fatwa yang baru dirilis terkait umat Islam yang berada di negara di mana matahari tidak pernah tenggelam, adalah agar mereka mengambil waktu di hari-hari yang siang dan malam sama panjang, sebagai ukuran menentukan waktu puasa dan shalat di bulan Ramadhan. Dengan kata lain, waktu-waktu ibadah puasa Ramadhan disesuaikan dengan bulan-bulan di mana durasi siang dan malam sama.

Sedangkan di negara-negara yang malamnya sangat pendek di mana tanda fajar tidak jelas dan tidak cukup untuk shalat Isya, tarawih, sahur, ECFR menfatwakan dua hal. Pertama, melihat hari terakhir di mana tanda terbit dan tenggelamnya matahari, serta waktu Isya cukup jelas, untuk dijadikan pedoman waktu-waktu ibadah Ramadhan. Waktu yang demikian biasanya terjadi pada akhir April atau awal Mei.Kedua, untuk umat Islam di negara-negara di mana malamnya sangat pendek, diperbolehkan bagi mereka untuk mengakhirkan sahur dan shalat fajar (subuh) sebelum 1 jam 5 menit dari terbitnya matahari.

Tentang pendapat bahwa di negara-negara yang siangnya sangat panjang untuk berpedoman kepada waktu Mekah di dalam menjalankan ibadah puasa, menurut Sheikh Halawah, memang ada pandangan yang demikian. Namun, lanjutnya, pendapat itu adalah ijtihad perseorangan ulama tertentu, dan tidak boleh diambil sebagai petunjuk untuk masyarakat. Alasannya, tanda shalat lima waktu di Makkah sepanjang tahun sangat jelas. Ini berbeda dengan di Eropa.

Karena itu di negara-negara Eropa yang siangnya sangat panjang, ECFR memberi fatwa tidak boleh menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar karena tandanya sudah jelas. Sedangkan shalat Magrib, Isya, dan tarawih boleh dijamak dalam satu waktu lantaran tanda waktunya tidak jelas.

Sedangkan bagi negara-negara yang tanda waktu Isya jelas namun sangat dekat dengan fajar (subuh), maka dimungkinkan untuk shalat Maghrib dan kemudian langsung shalat tarawih sebelum Isya dengan tenggat waktu 45 menit. Setelah tarawih lalu shalat Isya. Shalat tarawih dimungkinkan lebih dahulu dari Isya, lantaran tarawih dibolehkan dilaksanakan kapan saja di waktu malam.

Mengenai umat Islam yang menemukan kesulitan untuk berpuasa di siang yang panjang, Sheikh Halawa menegaskan, Islam adalah agama yang mudah.  Bagi mereka yang tidak kuat berpuasa oleh suatu sebab, termasuk siang yang panjang, diperbolehkan untuk tidak puasa dan menggantinya di hari yang lain. Namun, Sheikh Halawa menekankan bahwa puasa adalah ibadah imaniyah ruhiyah alias puasa itu untuk mengukur keimanan seseorang.

Dengan begitu, kuat atau tidak kuat seseorang berpuasa kembali kepada yang bersangkutan. Dialah yang bisa mengukur dirinya. Namun, kalau ia tidak puasa dengan sengaja dan tidak ada alasan apa pun, ia juga yang merugi, karena puasa adalah urusan hamba dengan Tuhannya.

Menggarisbawahi fatwa baru untuk umat Islam di Eropa dari ECFR itu, saya ingin menyampaikan beberapa catatan. Pertama, Islam itu agama yang mudah tapi jangan digampangin. Kedua, Islam akan selalu sesuai dengan zaman, tempat, dan kondisi. Ketiga, semua ibadah adalah terkait antara hubungan hamba/manusia dengan Tuhannya. Karena itulah, ibadah pada hakikatnya adalah untuk mengukur tingkat keimanan seseorang secara individu.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Semoga dengan berpuasa Ramadhan dan ibadah-ibadah terkait lainnya bisa menjadikan kita sebagai manusia yang lebih berkualitas. Amin.

Tata Cara Mengerjakan Shalat Tarawih Lengkap

Shalat Sunnah Tarawih merupakan shalat sunnah yg dikerjakan di malam hari setelah Shalat Isya di Setiap bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah dan diwajibkan atas kamu seorang muslim untuk melaksanakan atau menunaikan Puasa selama 30 hari. Untuk Hukum Mengerjakan Shalat Tarawih sendiri ialah Sunnah Muakkad yg bisa di artikan Sunnah yg sangat diutamakan atau diharuskan untuk dikerjakan setiap umat Muslim di seluruh dunia karena Shalat Sunnah Tarawih bisa menjadi pelengkap puasa kita.

Sedangkan Jumlah Rakaat Shalat Tarawih ini bisa 8 Raka’at seperti yg pernah diamalkan oleh Nabi Muhammad Saw dan bisa berjumlah 20 Raka’at seperti pernah diamalkan oleh Sahabat Nabi, Umar Bin Khathab. Namun di Indonesia sendiri Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yg dikerjakan ialah 20 Raka’at dan ditambah 1 Witir di akhir Shalat Tarawih dan Cara Shalat Tarawih sendiri lebih baik dikerjakan secara Berjamaah walaupun jika dikerjakan sendiri pun masih boleh.

Kemudian untuk Keutamaan dan Keistimewaan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan sendiri banyak sekali, yang antara lain bisa menghapus segala macam dosa, Diampuni segala dosa – dosanya jika dilakukan dg khusyu, memperoleh pahala yg sangat banyak karena Bulan Ramadhan merupakan Bulan yg penuh berkah dan Dikabulkan segala macam doa – doa anda karena waktu yg mustajab ialah Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan.

Untuk Tata Cara Shalat Tarawih sendiri dilakukan selama 30 Hari dibulan Ramadhan pada waktu malam hari setelah Shalat Isya sampai terbitnya Fajar atau sebelum masuk Shalat Subuh, Lebih baik dillakukan secarra berjamaah di Masjid dan dikerjakan dg Jumlah Raka’at 20 serta ditambah dg Shalat Witir di akhir Shalat Tarawih. Kemudian Cara Mengerjakan Shalat Tarawih ini masih sama dg Cara Shalat lainnya yg diawali dg Niat Shalat Tarawih dan diakhiri dg Salam.

Hanya saja dilakukan masing – masing 2 Raka’at dg Satu salam sehingga jika dikerjakan dg Jumlah 20 Raka’at berarti melakukan Shalat 10 kali. Sedangkan untuk Bacaan Niat Shalat Tarawih dan Cara Mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih bisa anda lihat dibawah ini secara lengkap.

Bacaan Niat Shalat Tarawih Terlengkap

Cara dan Niat Shalat Tarawih Terlengkap

Cara Mengerjakan Shalat Tarawih Terlengkap

Setelah anda membaca Bacaan Niat Shalat Tarawih diatas maka anda tinggal mengikuti Imam Shalat Tarawih yg dilakukan secara berjamaah di masjid dan anda tinggal mengikuti Bacaan dan Doa Shalat Tarawih tersebut karena biasanya Imam Shalat Tarawih membaca Suratan dan Doa Shalat tarawih secara cepat dan ringkas sehingga anda harus benar – benar mengikuti dg khusyu. Adapun step atau langkah – langkah dlm Tata Cara Mengerjakan Shalat Tarawih seperti dibawah ini yg disuguhkan secara lengkap dan jelas kepada anda.

tata cara shalat tarawih terlengkap

tata cara shalat tarawih terlengkap step 2

tata cara shalat tarawih terlengkap step 3

Untuk tambahaan sajja bahwa Tata Cara Mengerjakan Shalat Tarawih sangat mudah untuk dikerjakan karena dari Gerakan dan Doa Shalat Tarawih sendiri masih sama dg Shalat pada umumnya dan anda tinggal mengikuti Imam Shalat Tarawih dari segi Gerakan dan Doa – Doanya, kemudian untuk menjawab Bilal sendiri anda tinggal ikut mengikuti para jamaah karena jawaban untuk Bilal itu sunnah dan diatas sudah dibuatkan secara lengkap sehingga anda tinggal menghafalkan jawaban Bilan ketika Shalat Sunnah Tarawih.

Kemudiian setellah anda mengerjakan Shalat Tarawih, diusahakan anda jangan sampai lupa dalam membaca Niat Berpuasa untuk besok hari dan setelah itu anda jg disunnahkan untuk membaca Ayat Suci Al Qur’an dan memperbanyak Dzikir karena dibulan Ramadhan banyak sekali pahala yg bisa anda dapatkan.

 

sumber: Rukun-Islam.com

Kekuatan Ramadhan

Oleh: Asma Nadia

Seorang pria yang sedang berada di balik kemudi, marah besar menyaksikan kendaraan di depannya diam dan menimbulkan kemacetan. Hal yang membuatnya akan terlambat tiba di kantor.

Dengan wajah kesal, ia segera membuka kaca, bersiap mengumpat si pengemudi mobil. Tapi begitu kaca terbuka, lelaki ini tiba-tiba tersadar jika ia sedang berpuasa. Maka kembali kaca jendela mobil dinaikkan diiringi ucapan istighfar. Menarik napas dalam, memilih bersabar hingga lalu lintas kembali normal.

Di sebuah sekolah, seorang siswa yang kesulitan menghadapi ujian, berusaha meraih kertas contekan yang telah disiapkan di bawah meja. Akan tetapi, sebuah bisikan hati serta merta menghentikan usahanya. “Malu, //masak// lagi puasa nyontek!”

Siswa ini lalu mengerjakan ujian sampai selesai tanpa membuka-buka kertas yang sudah disiapkan, dan bertekad belajar lebih giat selama Ramadhan sehingga tak perlu menyontek.

Beberapa ibu berkumpul, berbincang akrab dan santai sambil menunggu anak-nak mereka yang masih kecil sekolah. Topik yang dibicarakan beragam, mulai dari film, sinetron religi, harga yang melambung naik, bisnis yang makin sulit, hingga merembet ke masalah personal orang lain. Seperti biasa, di antara mereka selalu saja ada bigos (biang gosip) yang memberi ‘info’ terbaru.

Akan tetapi, kali ini semua kompak saling mengingatkan. “Bulan puasa, nggak baik ngomongin orang!” Begitulah, selama bulan suci, mereka membatasi dan sebisanya menghindari gosip dalam obrolan.

Di sebuah kampus, sepasang muda-mudi yang selalu berdua selama pacaran, berkomitmen untuk memperjarang pertemuan selama bulan puasa. Malu, masa puasa-puasa pacaran? Keduanya pun memilih mengisi aktivitas masing-masing tanpa sering bertemu sekalipun di ruang publik. Seorang pejabat yang sering minta komisi dan jatah proyek, di bulan ramadhan memutuskan lebih sering di rumah atau masjid.

Baginya bulan puasa adalah bulan penyucian diri, sehingga ia tidak mau menerima bentuk sogokan atau korupsi apapun selama bulan puasa.
“Malu sama Yang di atas.” batinnya.

Contoh-contoh yang dihadirkan sejak awal tulisan, hanya sebagian kecil dari begitu banyak perubahan ke arah lebih baik, yang dilakukan umat seiring masuknya bulan Ramadhan.
Berbagai pihak berlomba melakukan kebaikan, berlomba untuk menyempurnakan diri dalam upaya menghomati bulan suci.

Tapi ada selipan hikmah penting dari fenomena di atas. Sekalipun judul resonansi kali ini adalah Kekuatan Ramadhan, sebenarnya tidak langsung membahas hal tersebut, melainkan betapa Ramadhan justru menunjukkan bahwa umat Islam sebenarnya kuat. Ramadhan memperlihatkan bahwa segala kelemahan, emosi, dan perilaku buruk yang selama ini dilakukan pada dasarnya adalah pilihan sendiri. Seseorang berbuat buruk bukan karena tidak mampu meninggalkan perbuatan tersebut, tapi memang memilih untuk melakukannya.

Seorang pecandu rokok, selalu mengatakan lidahnya asam jika tidak merokok. Ada juga yang bilang tanpa rokok mereka tidak bisa konsentrasi. Akan tetapi selama ramadhan, para perokok aktif ternyata bisa melakukan semua pekerjaan sama baiknya dengan hari biasa, meski tanpa rokok. Jadi, mereka sebenarnya memiliki kekuatan untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut, hanya saja di luar ramadhan memilih untuk tidak melakukannya.

Pribadi yang mudah naik darah, terbukti bisa menahan diri selama berpuasa. Artinya, jika mau mereka punya kemampuan untuk itu. Sayang di bulan lain lebih banyak yang memilih kembali kalah dalam menahan emosi. Orang yang curang dan sering melakukan korupsi. sebenarnya bisa jujur. Tapi ia memutuskan meneruskan kebiasaan buruknya, begitu Ramadhan berakhir.

Ramadhan mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang kuat. Benar-benar kuat dan punya kemampuan menjadi pemenang dalam berbagai situasi. Kuat menahan emosi. Kuat tidak melakukan kecurangan. Kuat untuk bertindak jujur. Akan tetapi, banyak di antara kita hanya mau menggunakan kekuatan tersebut saat Ramadhan dan memilih mengabaikan di sebelas bulan berikutnya.

Ramadhan adalah bulan latihan. Sebuah latihan tentu dianggap berhasil jika melahirkan akhlak dan perilaku konsisten, bahkan sesudah masa training berlalu. Dan berapa bilangan ramadhan telah kita lalui? Belasan, mungkin puluhan ramadhan telah menyapa kita. Bilangan ‘latihan’ dan kesempatan bertaubat yang Allah pertemukan kita dengannya. Sungguh bodoh dan meruginya manusia, yang tak kunjung menjadi lebih baik, bahkan masih mengulang dosa yang sama. Padahal mungkin saja ini Ramadhan terakhir kita.

sumber: Repubika Online

Bersyukur Ketika Senang, Bersabar Ketika Mendapat Bencana

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan bersyukur di saat senang dan bersabar di saat susah, bahkan kedua sifat inilah yang merupakan penyempurna keimanan seorang hamba. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Iman itu terbagi menjadi dua bagian; sebagiannya (adalah) sabar dan sebagian (lainnya adalah) syukur”[2].

Dalam Al-Qur’an, Allah memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemehakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31).

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

  • Imam Ibnul Qayyim berkata: “(Hadits di atas menunjukkan bahwa) tingkatan-tingkatan iman seluruhnya  (berkisar) antara sabar dan syukur”[3].
  • Kehidupan seorang mukmin seluruhnya bernilai kebaikan dan pahala di sisi Allah, baik dalam kondisi yang terlihat membuatnya senang ataupun susah.
  • Seorang hamba yang sempurna imannya akan selalu bersyukur kepada Allah ketika senang dan bersabar ketika susah, maka dalam semua keadaan dia senantiasa ridha kepada Allah dalam segala ketentuan takdir-Nya, sehingga kesusahan dan musibah yang menimpanya berubah menjadi nikmat dan anugerah baginya.
  • Orang yang tidak beriman akan selalu berkeluh kesah dan murka ketika ditimpa musibah, sehinnga semua dosa dan keburukan akan menimpanya, dosa di dunia karena ketidaksabaran dan ketidakridhaannya terhadap ketentuan takdir Allah, serta di akhirat mendapat siksa neraka.
  • Keutamaan dan kebaikan dalam semua keadaan hanya akan diraih oleh orang-orang yang sempurna imannya[4].
  • Rukun sabar ada tiga yaitu: menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allah I, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang (Allah), seperti menampar wajah (ketika terjadi musibah), merobek pakaian, memotong rambut dan sebagainya[5].
  • Rukun syukur juga ada tiga:
    1. mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu dari Allah Ta’ala,
    2. menyebut-nyebut semua nikmat tersebut secara lahir (dengan memuji Allah dan memperlihatkan bekas-bekas nikmat tersebut dalm rangkan mensyukurinya),
    3. menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah[6].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Catatan Kaki

[1] HSR Muslim (no. 2999).
[2] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “’Uddatush shaabiriin” (hal. 88).
[3] Kitab “Thariiqul hijratain” (hal. 399).
[4] Keempat faidah di atas kami nukil dari kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/82-83).
[5] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Waabilish shayyib” (hal. 11).
[6] Ibid.

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id