Inilah 24 Tanda Kiamat yang Perlu Diketahui Seorang Muslim

Setiap sesuatu ada awal dan ada pula akhirnya. Begitu pula dengan dunia ini. Jika dihitung mundur ke masa lalu, kita akan mendapatkan bahwa terjadinya kehidupan dunia ini berawal dari kejadian Big Bang yang sangat dahsyat, seperti yang telah dikemukakan oleh banyak ilmuwan. Bila hal itu benar, maka yang menjadi pertanyaan, sudah berapa miliar tahunkah umur dunia ini? Apalagi bila prediksi “pembatasan” kejadian dunia yang disebutkan ilmuwan itu diragukan kebenarannya, sehingga dengan serta-merta menafikan arti “batas” awal bumi ini mulai ada. Hingga kini belum dapat diketahui, sudah berapa lamakah umur dunia ini? Mungkinkah waktu sudah mendekati kiamat?
1. Diutusnya Nabi Muhammad SAW
Rentang sejarah antara kejadian manusia pertama (Adam) sampai kepada masa Nabi Muhammad SAW, kejadian kiamat diungkap dalam hadist Nabi Muhammad SAW begitu dekat. Telah dikatakan di dalam sabdanya:
“Aku diutus (sebagai Nabi dan Rasul) sedangkan kiamat itu sangat dekat, seperti di dekatnya kedua jari ini.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
Hadits tersebut menunjukkan sudah berapa tuanya umur dunia ini. Tanda-tanda berakhirnya dunia di antaranya ditandai diutusnya Nabi dan Rasul terakhir (Muhammad SAW) sebagai utusan yang memberikan petunjuk kebenaran agar manusia kembali sebelum tibanya hari perhitungan tersebut. Allah SWT berfirman: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40).
Dalam kaitannya dengan firman Allah tersebut, Imam Qurthubi menjelaskan bahwa tanda kiamat yang pertama adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut karena beliau adalah sebagai Nabi umat akhir zaman, tidak ada lagi Nabi setelah beliau.
2. Wafatnya Nabi Muhammad SAW
Umur dunia telah lanjut. Ada awal tentu ada akhir, begitu pula Allah jadikan dunia ini. Diantara sekian banyak tanda-tanda akhir kehidupan dunia adalah wafatnya Nabi dan Rasul terakhir. Hal tersebut sebagaimana diterangkan dalam hadist Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:
“Diantara enam tanda-tanda kiamat adalah tibanya kematianku.” (HR. Bukhari).
Dalam hadist lain diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata:
“Tatkala Rasulullah SAW, berhijrah ke kota Madinah, setiap sesuatu yang ada di sekitarnya menjadi bersinar terang. Dan tatkala telah datang hari wafatnya Beliau Rasulullah SAW, segalanya menjadi gelap gulita. Ketika para sahabat menguburkan jasadnya, maka tidak satu pun didapati dari mereka yang mengibaskan tangan (karena kotornya tanah kuburan). Pada saat itu aku (Anas bin Malik) turun ke dalam liang lahat. Kejadian tersebut (wafatnya beliau Rasulullah SAW) hampir saja menyebabkan kami mengingkari hati nurani sendiri.” (HR. Tirmidzi).
3. Bebasnya Baitul Maqdis
Baitul Maqdis adalah kota suci ketiga bagi umat Islam sedunia setelah kota Mekkah dan Madinah, sejak dahulu hingga kini selalu menjadi milik orang-orang Islam. Akan tetapi sayang, saat ini Baitul Maqdis berada di bawah kekuasaan rezim Kaum Yahudi dan Nasrani. Sudah sekian lamanya mereka merampas tanah hak milik orang-orang Islam. Karena kondisi umat Islam dewasa ini dalam keadaan terpecah-pecah, maka hingga kini tanah Baitul Maqdis masih tetap berada di bawah kungkungan dan cengkeraman tangan-tangan jahat mereka, walaupun tercatat di dalam sejarah Islam bahwa dahulu Baitul Maqdis itu pernah dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra.
Suatu ketika nanti Baitul Maqdis benar-benar akan terbebaskan dan merdeka sebagai miliknya umat Islam. Akan tetapi, kebebasan dan kemerdekaannya itu adalah pertanda akan semakin dekatnya kiamat. Di dalam sebuah keterangan hadist yang diriwayatkan oleh ‘Auf bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara enam tanda-tanda kiamat adalah dibebaskannya Baitul Maqdis (dari kekuasaan orang-orang Yahudi).”
 
4. Timbulnya Wabah Penyakit Menular (Tha’um Amwas)
Wabah penyakit menular sejak dahulu hingga kini telah menjadi momok yang menakutkan bagi kehidupan manusia. Bila terjadi penyebarannya dalam jumlah skala besar sampai ke seluruh penjuru dunia, hal itu juga menjadi pertanda dekatnya kiamat, sebagaimana telah disebutkan di dalam sebuah hadis Rasulullah SAW:
“Di antara enam tanda-tanda kiamat adalah timbulnya berbagai penyakit menular yang mengakibatkan banyak di antara kalian meninggal (karenanya) seperti matinya kambing di tempatnya.”
Penyebaran wabah penyakit mematikan dalam skala besar dahulu memang pernah terjadi di daerah ‘Amwas (bagian daerah Palestina) sekitar tahun 18 H. Penyebarannya juga merambat sampai ke seluruh pelosok negeri Syam. Waktu itu tercatat lebih dari 25.000 orang meninggal dunia akibat penyakit menular tersebut, termasuk juga di dalamnya yang ikut menjadi korban adalah segenap para sahabat Nabi Muhammad SAW. Di antara mereka terdapat tokoh sahabat yang cukup terkenal, yaitu Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah ra.
 
5. Timbulnya Berbagai Fitnah
Kata ‘fitnah’ adalah yang konotasinya lebih bertendensi kepada berbagai sikap, perilaku dan kejadian yang tidak menyenangkan diri manusia, seperti yang tidak menyenangkan diri manusia, seperti sering terjadinya kasus penyimpangan di bidang sosial, budaya, politik, hukum dan ekonomi. Fitnah juga identik dengan pengertian cobaan dan ujian, seperti telah disinggungkan di dalam firman Allah.
“Innama amwaalukum wa awlaadukum fitnah: sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah fitnah (cobaan).” (QS. At Taghaabun: 15).
Timbulnya berbagai macam bencana juga merupakan bagian dari fitnah. Sedangkan munculnya fitnah-fitnah tersebut merupakan tanda dekatnya kiamat. Secara eksplisit hal ini pun pernah disinggung oleh Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra berikut ini:
“Segeralah kalian berbuat kebajikan pada hari timbulnya berbagai macam fitnah yang berlalu dengan begitu berbagai macam fitnah yang berlalu dengan begitu cepatnya seperti perubahan malam hari yang gelap gulita (berubah menjadi siang), saat itu ada orang yang pagi harinya masih beriman dan sore harinya berubah menjadi kafir atau (sebaliknya) sore harinya masih beriman lalu pagi harinya berubah menjadi kafir, orang itu berani menjual agamanya dengan keduniaan.” (HR. Muslim).
Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa berbagai fitnah yang timbul di akhir zaman nanti bersumber dari belahan dunia Timur. Fitnah-fitnah tersebut, oleh Nabi Muhammad SAW dikiaskan dengan istilah “tanduk setan” sebagaimana dijelaskan dalam hadist riwayat dari Ibnu Umar ra berikut ini:
“Ingatlah! Sesungguhnya fitnah akan terjadi disini! Ingatlah sesungguhnya fitnah itu benar-benar akan terjadi disini! Suatu saat nanti akan muncul “tanduk setan” (kekuatan setan dan para pengikutnya).” (HR. Bukhari dan Muslim).
6. Munculnya Nabi-Nabi Palsu
Sebagaimana telah diterangkan dalam pembahasan yang lalu, dikatakan bahwa Muhammad SAW itu adalah Nabi dan Rasul terakhir. Eksistensi kenabian dan kerasulannya diakui dan dibenarkan dalam nash Al-Qur’an dan kitab-kitab para nabi terdahulu. Saat ini banyak bermunculan manusia arogan yang mengklaim dirinya sebagai seorang utusan (nabi), kendati tidak ada satu nash pun yang membenarkan akan kenabian tersebut. Kemunculan nabi-nabi palsu itu menjadi bagian dari tanda-tanda kiamat, seperti dijelaskan dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra berikut ini:
“Kiamat itu akan terjadi bila sudah muncul para Dajjal pendusta besar yang jumlahnya (hampir) mendekati tiga puluh orang, mereka semua mengaku dirinya sebagai Rasul Allah.” (HR. Bukhari).
Dalam kandungan hadist yang hampir senada diriwayatkan oleh Tsauban, Rasulullah SAW bersabda:
“Kiamat akan tiba-tiba terjadinya pertemuan antara beberapa kabilah dari umatku dengan kaum Musyrikin sehingga mereka semua  (pada akhirnya) menjadi penyembahan berhala. Dan suatu ketika nanti akan muncul di tengah-tengah umatku ini tiga puluh orang para pendusta besar, mereka seluruhnya mengklaim dirinya sebagai nabi, sedangkan sesungguhnya akulah (satu-satunya) penutup para Nabi. Tidak akan pernah ada nabi setelahku nanti.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
7. Munculnya Api di Tanah Hijaz
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda:
“Kiamat akan terjadi bila telah muncul api dari Tanah Hijaz yang cahayanya menyinari binatang-binatang ternak yang berada di Bushra.” (HR. Bukhari Muslim).
Timbulnya api dari dalam bumi merupakan pertanda dekatnya kejadian kiamat, sebagaimana yang telah disinggung dalam hadist tersebut. Sekitar pertengahan abad ke-7 H tahun 654 H yang lalu, api itu pernah muncul di tanah Hijaz (Mekkah). Kemunculan api tersebut bukanlah semata-mata menjadi bahan prediksi hadist, akan tetapi relevansinya telah menghantarkan kepada kebenaran fakta yang tidak dapat dipungkiri.
8. Langkanya Nilai-Nilai Kejujuran
Kejujuran adalah sifat apa adanya, transparan dalam bersikap dan bijaksana dalam menentukan arah kebijakan, dengan selalu berpijak pada orisibalitas kebijakan, dengan selalu berpijak pada orisinalitas kebenaran dan menyingkirkan manipulasi fakta yang dapat merugikan pihak lain. Bila kebijakan sikap ini tidak ada lagi pada kebanyakan orang, maka akan berakses kepada timbulnya kesemrawutan di berbagai aspek kehidupan. Kalau memang benar-benar telah terjadi demikian, maka hal tersebut menjadi tanda akan semakin dekatnya kiamat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila telah hilang sifat kejujuran maka tinggal tunggulah saatnya kiamat.”
9. Allah Menghilangkan Ilmu Pengetahuan
Diangkat dan dicabutnya ilmu pengetahuan di kala dunia mengalami masa keemasannya adalah bagian dari tanda-tanda kiamat. Hilangnya ilmu pengetahuan tersebut bukanlah berarti hilangnya dengan begitu saja, akan tetapi hal itu dapat terjadi dengan cara Allah mematikan orang-orang berilmu tersebut. Apabila mereka semua itu tiada, maka yang tinggal di dunia ini adalah kebanyakan orang-orang bodoh. Kalau keadaannya sudah demikian buruknya, maka dunia keadaannya akan kembali kepada masa kemundurannya yang teramat jauh, seperti masa-masa prasejarah dahulu. Sinyalemen tersebut sangat selaras dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara tanda-tanda kiamat yaitu diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan.” (HR. Bukhari)
Di dalam riwayat Abdullah bin ‘Ash ra pun dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya (para ulama) dengan secara langsung. Akan tetapi Allah mencabutnya dengan cara mematikan para ulama, sehingga apabila sudah tidak ada lagi seorang pun yang alim maka banyak orang akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Tatkala para pemimpin (bodoh) itu ditanya, mereka menjawab dengan memberikan fatwa tanpa dilandasi dasar ilmu, mereka menjadi sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)
10. Prostitusi Merajalela
Prostitusi perzinaan yang banyak merebak di masyarakat kita dewasa ini, tanpa disadari juga menjadi tanda-tanda dekatnya kiamat. Kenyataan tersebut sebagaimana telah disitir di dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra:
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah terbukanya perzinaan secara bebas.” (HR. Bukhari)
Mengenai hal serupa, disebutkan pula dalam riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda:
“Demi zat yang menguasai jiwaku, tidak akan musnah umat ini sampai terjadinya seorang laki-laki mendekati wanita, kemudian menidurinya di pinggir jalan. Orang yang paling baik pada saat itu menasihatinya dengan berkata: seandainya engkau dapat menyembunyikan wanita ini dibalik dinding, maka hal itu lebih baik.”
11. Merebaknya Pecandu Minuman Keras dan Narkoba
Di akhir zaman ini, minuman keras tidak lagi diperjualbelikan secara sembunyi-sembunyi. Di era abad modern ini, minuman-minuman tersebut telah menjadi pelengkap kebahagiaan menurut versi para pecandunya. Karenanya kalau tidak minum, tidaklah modernis, kilah sebagian kalangan remaja.
Persepsi salah tersebut oleh banyak orang, walaupun sebenarnya kalaulah setiap kita merujuk kepada hadist Nabi Muhammad SAW maka akan kita dapati pola sikap tersebut menunjukkan gejala semakin dekatnya kiamat. Hal tersebut seperti yang dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut, diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara tanda-tanda kiamat adalah banyaknya para pecandu minuman keras.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat Ubadah bin Shamit dijelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya suatu ketika nanti akan ada sekelompok dari umatku yang menghalalkan khamar (minuman keras) dengan menggunakan label yang mereka buat sendiri.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah).
 
12. Banyaknya Gedung-Gedung Pencakar Langit
Pembangunan gedung-gedung menjulang tinggi dan kerasnya persaingan dalam pelaksanaan proyek adalah suatu pertanda adanya kemajuan dunia modern. Mungkin untuk hal tersebut sementara kita boleh berbangga dan bergembira sejenak. Akan tetapi, apabila kita merujuk kepada sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini, kita dapati hal tersebut adalah bagian dari tanda-tanda kiamat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:
“Kiamat akan terjadi bila banyak orang berlomba-lomba bersaing membuat gedung-gedung menjulang tinggi.” (HR. Bukhari).
13. Pembantu Melahirkan Anak Majikan
Di abad modern saat ini, kasus pembantu melahirkan anak majikannya bukanlah suatu hal yang aneh. Gaya hidup bebas dan materialistis kerap kali mengundang orang berbuat yang tidak sepatutnya. Realita seperti ini tidaklah hanya sesekali saja terjadi, melainkan telah seringkali mengemuka dalam kehidupan sosial masyarakat akhir zaman. Perlu disadari bahwa fenomena ini ternyata telah jauh terprediksi sejak berabad-abad yang silam sebagai ytanda-tanda kiamat dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini:
“Jibril berkata kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Aku akan mengabarkan kepadamu bahwa di antara tanda-tanda kiamat itu adalah apabila seorang budak telah melahirkan anak majikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
14. Perbuatan Klenik Membudaya
Perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah di antaranya adalah perbuatan zalim. Baik itu zalim kepada pribadi, sesama, maupun kepada Tuhan. Sedangkan bentuk kezaliman yang paling besar adalah praktek perbuatan syirik (klenik) seperti yang telah disinyalir dalam firman Allah SWT:
“Innas-Syirka Lazhulmun ‘Azhiim: Sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah kezaliman yang besar.”
Syirik besar itu menyembah kepada yang tidak semestinya disembah dan beribadah terhadap apa yang tidak patut diibadahi, apa pun bentuk dan kreasinya. Bila praktek-praktek perbuatan klenik ini telah banyak mengemuka dan membudaya, maka hal itu akan menjadi bagian dari tanda-tanda kiamat, seperti yang telah dijelaskan di dalam hadist riwayat Tsauban ra berikut ini:
“Apabila telah ditancapkan sebilah pedang di tengah-tengah umatku ini, niscaya pedang itu tidak akan pernah terangkat hingga datangnya hari kiamat. Kiamat akan terjadi bila beberapa golongan dari umatku bertemu dengan orang-orang musyrik dan mereka ikut menjadi penyembah berhala.” (HR. Abu Daud).
15. Banyaknya Orang-Orang Kikir
Tidak mau peduli terhadap sesama, hidup eksklusif dengan hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau berbagi rasa dengan sesama adalah bagian mendasar dari karakteristiknya orang-orang kikir. Fenomena meruaknya sifat kikir pada indinvidu-individu manusia akhir zaman juga merupakan bagian dari tanda kiamat, dalam riwayat Abu Hurairah ra dikatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Di antara tanda-tanda kiamat adalah membudayanya sifat kikir.” (HR. Bukhari)
16. Gempa Bumi Sering Terjadi
Kejadian-kejadian gempa bumi yang kerap kali terjadi di bumi kita merupakan peringatan-peringatan Allah dan juga sebagai tanda-tanda akan terjadinya kiamat, baik hal itu disadari ataupun tidak. Sinyalemen kiamat tersebut telah diungkap melalui hadits riwayat Abu Hurairah ra:
“Tidak akan terjadi kiamat sampai sering terjadinya bencana gempa bumi dimana-mana.” (HR. Bukhari).
17. Orang-Orang Saleh Meninggal Dunia
Wafatnya orang-orang alim merupakan bagian dari tanda-tanda akan berakhirnya kehidupan (kiamat), karena apabila orang saleh tersebut tidak ada lagi, tentu tidak ada lagi orang yang menyuruh berbuat amal ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar. Sedangkan Allah tidak akan menurunkan azab/kiamat selama masih banyak hamba-hamba-Nya yang berzikir kepada-Nya, dalam kaitannya dengan hal ini Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda.  Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Kiamat akan terjadi bila Allah telah banyak mengambil (mematikan) orang-orang saleh yang ada di bumi sehingga yang tersisa hanyalah kebanyakan rakyat jelata yang pandir yang tidak mengenal nilai-nilai amal ma’ruf dan tidak mengingkari perbuatan munkar.” (HR. Imam Ahmad).
18. Wanita Berpakaian Telanjang
Saat ini, wanita-wanita berpakaian yang menampakkan lekukan dan keindahan tubuhnya adalah fenomena yang ‘biasa’  dalam pola kehidupan modern. Tanpa disadari hal demikian sebenarnya adalah tanda-tanda kehancuran (kiamat) yang telah melanda dunia ini. Dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dikatakan:
“Akan ada pada akhir zaman dari umat ini kaum lelaki yang berkendaraan mewah, mereka mendatangi pintu-pintu masjid sedangkan kaum wanitanya berpakaian seperti telanjang.” (HR. Hakim)
Dalam hadist lain riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
 “Ada dua golongan  yang akan menjadi penduduk mereka, pertama, kaum yang di tangan mereka terdapat cemeti, dan dengan cemeti itu mereka menyiksa banyak orang. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian seperti telanjang mereka berjalan melenggak-lenggokkan tubuhnya karena ingin memperlihatkan keindahan tubuh dan hiasan-hiasannya. Sedangkan gerak lenggak-lenggok mereka laksana bergeraknya punggung unta. Mereka tidak akan masuk surga sebagaimana mereka tidak pernah mencium wangi dan harumnya.” (HR. Muslim)
19. Dominasi Jumlah Wanita Terhadap Laki-Laki
Pada bagian ini tanda kiamat sughra ditunjukkan dengan fenomena sedikitnya jumlah laki-laki dibanding dengan kaum hawa sampai perbandingannya mencapai 50 wanita dibanding 1 orang pria, dalam sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dijelaskan.
“Di antara tanda-tanda kiamat itu adalah semakin berkurangnya ilmu agama dan munculnya kebodohan, membudayanya prostitusi, dominasi jumlah wanita dan sedikitnya kaum pria hingga perbandingannya mencapai lima puluh wanita dan satu pria.” (HR. Bukhari).
20. Terjadinya Banyak Kasus Meninggal Mendadak
Tanda kiamat sughra lainnya adalah banyaknya kematian yang tiba-tiba dengan segala sebab. Hal tersebut seperti apa yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam sabdanya:
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat itu ialah banyaknya kejadian mati mendadak.” (HR. Thabrani)
21. Musim Hujan yang Panjang Tetapi Tidak Menyuburkan
Musim hujan yang terus-menerus tetapi tidak menyuburkan tanah dan berbagai tanaman tidak kunjung tumbuh, hal ini merupakan tanda-tanda kiamat. Dalam riwayat Anas bin Malik ra, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Kiamat akan terjadi bila manusia terus-menerus di hujani sepanjang tahun, sedangkan tanah tidak menumbuhkan sedikit pun tumbuhan.” (HR. Ahmad)
22. Manusia Bersifat Apatis Karena Tidak Tahan Ujian
Persaingan hidup yang semakin keras dan ujian Allah yang datang silih berganti seringkali menyebabkan manusia tidak tahan ujian, sehingga mereka menjadi bersifat apatis. Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra mengatakan:
“Tidaklah akan terjadi kiamat hingga ada seorang laki-laki yang melewati kuburan, kemudian ia berkata: alangkah baiknya sandainya (sekarang ini) aku menempati tempatnya (kuburnya).” (HR. Bukhari)
 
23. Terbunuhnya Orang-Orang Yahudi
Sebagai tanda kiamat sughra, suatu saat orang-orang Yahudi akan banyak yang mati terbunuh dan terus diburu oleh orang-orang Muslim sampai tidak lagi mereka bisa bersembunyi dari kejaran kaum Muslimin. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Kiamat akan terjadi bila banyak orang-orang Muslim membunuhi orang-orang Yahudi. Segenap kaum Muslimin itu akan terus memburu mereka sampai ketika mereka bersembunyi dibalik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: “Wahai orang Muslim! Wahai hamba Allah! Inilah orang Yahudi sedang bersembunyi di belakangku. Kemarilah, bunuhlah dia. Semua pohon ketika itu dapat berkata-kata memberitahukan dimana orang-orang Yahudi itu bersembunyi kecuali pohon Gharqad, karena sesungguhnya pohon Gharqad itu adalah pohonnya orang-orang Yahudi.” (HR. Bukhari).
Mengenai hal ini, Imam Nawawi berkata: “Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang cukup terkenal di Paletina. Disanalah nanti tempat Dajjal dan orang-orang Yahudi akan dibunuh oleh orang-orang Islam. Batu-batu dan pohon-pohon di akhir zaman dapat berkata-kata dan memberitahukan dimana orang-orang Yahudi itu berada. Kejadian tersebut tidaklah mustahil. Kebencian orang Mukmin orang-orang Yahudi sampai pula mengundang kebencian makhluk-makhluk Allah yang lain seperti batu dan pohon-pohon.”
24. Masjid Baitul Haram akan Dihancurkan
Dan tanda-tanda kiamat sughra yang terakhir adalah adanya ancaman dari orang Habasyah yang akan menghancurkan Baitul Haram (Ka’bah) seperti yang dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW melalui riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Suatu saat nanti Ka’bah akan dihancurkan oleh kalangan orang-orang Habasyah.” (HR. Ahmad).
Sumber : Kitab Fenomena Kiamat, Ikhwan Fauzi, Lc.
[syahida.com]

Dr Oni Sahroni: Filosofi Kain Kafan Mengantarkan Mabrur

Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Dr Oni Sahroni, ada empat kunci menggapai haji mabrur. Pertama, memiliki ‘azam atau niat yang kuat untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji.

Kedua, menghayati akan makna yang mendasar dalam hidupnya, yakni kembali kepada Allah SWT. Hal itu dicontohkan dengan rukun ihram di mana jamaah haji memakai dua helai pakaian ihram, siapa pun mereka dan apa pun  jabatannya.

“Ini mengingatkan para jamaah haji akan masa depan dari kehidupan mereka akan dibalut dengan kain kafan,” kata direktur dan peneliti SIBER-C SEBI Depok itu kepada Republika, di Depok, Selasa (1/9).

 

Imam Syafii, Perumus Ilmu Ushul Fiqh

Ilmu ushul fiqh adalah sebuah kajian luar biasa yang mampu meringkas begitu banyak teks yang memiliki konsekuensi hukum yang sama menjadi sebuah formula yang sederhana. Ilmu ini digunakan para ulama dalam mengambil kesimpulan hukum. Menyederhanakan masalah yang pelik menjadi mudah butuh kecerdasan dan pemahaman yang mendalam. Oleh karena itulah, seseorang yang menciptakan ilmu ushul fiqh ini pasti memiliki kecerdasan yang luar biasa dan pemahaman yang mendalam tentang ilmu-ilmu syariat. Ilmu ini pertama kali dirumuskan oleh Muhammad bin Idris asy-Syafii atau lebih dikenal dengan Imam Syafii.

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf. Nasab Imam Syafii dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu pada kakek mereka Abdu Manaf. Jadi, Imam Syafii adalah seorang laki-laki Quraisy asli. Adapun ibunya adalah seorang dari Bani Azdi atau Asad.

Imam Syafii dilahirkan pada tahun 150 H/767 M di Kota Gaza, Palestina. Tahun kelahiran beliau bertepatan dengan wafatnya salah seorang ulama besar Islam, yakni Imam Abu Hanifah rahimahullah. Ayahnya wafat saat Syafii masih kecil sehingga ibunya memutuskan untuk hijrah ke Mekah agar Syafii mendapatkan santunan dari keluarganya dan nasabnya pun terjaga.

Di Mekah, Syafii kecil mulai mempelajari bahasa Arab, ilmu-ilmu syariat, dan sejarah. Ia terkenal sebagai seoarang anak yang cerdas,  di usia enam atau tujuh tahun 30 juz Alquran sudah sempurna bersemayam di dalam dadanya. Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang baginya dalam menuntut ilmu, Syafii mencatat palajarannya di atas tulang-tulang hewan atau kulit-kulit yang berserakan. Namun ia dimudahkan dengan karunia Allah berupa daya hafal yang sangat kuat sehingga beban ekonomi untuk membeli buku dan kertas bisa terganti. Setelah beliau merasa cukup menuntut ilmu di Mekah, Madinah menjadi destinasi berikutnya dalam menimba ilmu. Di sana adaseorang ulama yang dalam ilmunya, yakni Imam Malik rahimahullah.

Proses Menuntut Ilmu

Saat menginjak usia 13 tahun, gubernur Mekah mendorongnya agar belajar ke Madinah di bawah bimbingan Imam Malik. Selama belajar kepada Imam Malik, sang imam negeri Madinah sangat terkesan dengan kemampuan yang dimiliki remaja dari Bani Hasyim ini. Kemampuan analisis dan kecerdasannya benar-benar membuat Imam Malik kagum sehingga Imam Malik menjadikannya sebagai asistennya dalam mengajar. Padahal kita ketahui, Imam Malik adalah seorang yang sangat selektif dan benar-benar tidak sembarangan dalam permasalahan ilmu agama, tapi kemampuan Syafii muda memang pantas mendapatkan tempat istimewa.

Di Madinah, Imam Syafii larut dalam lautan ilmu para ulama. Selain belajar kepada Imam Malik, beliau juga belajar kepada Imam Muhammad asy-Syaibani, salah seorang murid senior Imam Abu Hanifah. Di antara guru-guru Imam Syfaii di Madinah adalah Ibrahim bin Saad al-Anshari, Abdul Aziz bin Muhammad ad-Darawaridi, Ibrahim bin Abi Yahya, Muhammad bin Said bin Abi Fudaik, dan Abdullah bin Nafi ash-Sha-igh.

Adapun di Yaman, beliau belajar kepada Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf yang merupakan hakim di Kota Shan’a, Amr bin Abi Salama, salah seorang sahabat Imam al-Auza’i, dan Yahya bin Hasan. Sedangkan di Irak beliau belajar kepada Waki’ bin Jarrah, Abu Usamah Hamad bin Usamah al-Kufiyani, Ismail bin Aliyah, dan Abdullah bin Abdul Majid al-Bashriyani.

Dengan kesungguhannya dalam mempelajari ilmu syariat ditambah kecerdasan yang luar biasa, Imam Syafii mulai dipandang sebagai salah seorang ulama besar. Terlebih ketika gurunya yang mulia, Imam Malik wafat pada tahun 795, Imam Syafii yang baru menginjak usia 20 tahun dianggap sebagai salah seorang yan paling berilmu di muka bumi kala itu.

Di antara keistimewaan fikih Imam Syafii adalah beliau mampu menggabungkan dua kelompok yang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memahami fikih. Kelompok pertama dikenal dengan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang mencukupkan diri dengan hadis tanpa butuh intepretasi atau analogi-analogi (qias) dalam menetapkan suatu hukum. Sedangkan kelompok lainnya dikenal dengan ahlu ra’yi atau mereka yang menggunakan hadis sebagai landasan penetapan hukum namun selain itu mereka juga memakai analogi-analogi dalam menetapkan hukum. Imam Syafii mampu mengkompromikan dua kelompok ini bisa menerima satu sama lainnya.

Ibadah Imam Syafii

Tidak diragukan lagi, seorang ulama yang terpandang selain memiliki keilmuan yang luas, mereka juga merupakan teladan dalam beribadah. Ar-Rabi’ mengatakan, “Imam Syafii membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian: bagian pertama adalah untuk menulis, bagian kedua untuk shalat, dan bagian ketiganya untuk tidur.”

Di malam hari beliau tidak pernah terlihat membaca Alquran melalui mush-haf, akan tetapi bacaan beliau di malam hari hanya dilantunkan dalam shalat-shalatnya. Al-Muzani mengatakan, “Saat malam hari, aku tidak pernah sekalipun melihat asy-Syafii membaca Alquran melalui mush-haf. Ia membacanya saat sedang shalat malam (melalui hafalan pen.).”

Kefasihan Bahasa Imam Syafii

Selain menjadi bintang dalam ilmu fiqh, Imam Syafi’i juga dikenal dengan kefasihan dan pengetahuannya tentang bahasa Arab. Beliau belajar bahasa Arab kepada seorang Arab desa yang bahasa Arabnya fasih dan murni. Hal itu serupa dengan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menitipkan beliau kepada ibu susunya yang berasal dari desa, tujuannya agar bahasa Arab Nabi berkembang menjadi bahasa Arab yang fasih ketika tumbuh dewasa. Ibnu Hisyam bercerita tentang kefasihan Imam Syafii, “Saya tidak pernah mendengar dia (Imam Syafi’i) menggunakan apa pun selain sebuah kata yang sangat tepat maknanya, seseorang tidak akan menemukan sebuah pilihan diksi bahasa Arab yang lebih baik dan lebih pas dalam mengungkapkan suatu kalimat.”

Perjalanan Hidupnya

Tidak lama setelah wafatnya Imam Malik, Imam Syafii ditugaskan pemerintah Abasiyah ke Yaman untuk menjadi hakim di wilayah tersebut. Namun beliau tidak lama memangku jabatan tersebut karena jabatan hakim secara tidak langsung menghubungkannya dengan dunia politik yang sering mengkompromikan antara kebohongan dengan kejujuran, dan beliau tidak merasa nyaman dengan hal yang demikian.

Setelah itu, beliau berpindah menuju Baghdad dan menyebarkan ilmu di ibu kota kekhalifahan tersebut. Kehidupan beliau di Baghdad dipenuhi dengan dakwah dan mengajar, bahkan beliau sempat berkunjung ke Suriah dan negeri-negeri di semenanjung Arab lainnya  untuk menyebarkan pemahaman tentang Islam. Sekembalinya ke Baghdad, kekhalifahan telah dipegang oleh al-Makmun.

Al-Makmun memiliki pemahaman yang menyimpang tentang Alquran. Ia menganut paham Mu’tazilah yang mengedepankan logika dibandingkan wahyu Alquran dan sunnah. Al-Makmun meyakini bahwasanya Alquran adalah makhluk, sama halnya seperti manusia. Pemahaman ini berkonsekuensi menyepadankan antara logika manusia dengan Alquran, artinya Alquran pun tidak mutlak benar sebagaimana akal manusia. Tentu saja keyakinan ini bertentangan dengan keyakinan Imam Syafii dan ulama-ulama Islam sebelum beliau yang menyatakan bahwa Alquran adalah firman Allah, yang kebenarannya absolut.

Al-Makmun memaksa semua orang agar memiliki pemahaman yang sama dengannya. Banyak para ulama ditangkap dan disiksa karena peristiwa yang dikenal dengan khalqu Alquran ini. Akhirnya, pada tahun 814, Imam Syafii hijrah menuju Mesir, negeri dimana beliau berhasil merumuskan ilmu ushul fiqh.

Wafatnya

Sebagaimana lazimnya manusia lainnya, sebelum wafat Imam Syafii juga merasakat masa-masa sakit. Dalam keadaan tersebut, salah seorang muridnya yang bernama al-Muzani mengunjunginya dan bertanya, “Bagaiaman keadaan pagimu?” Imam Syafii, “Pagi hariku adalah saat-saat pergi meninggalkan dunia, perpisahan dengan sanak saudara, jauh dari gelas tempat melepas dahaga, kemudian aku akan menghadap Allah. Aku tidak tahu kemana ruhku akan pergi, apakah ke surga dan aku pun selamat ataukah ke neraka dan aku pun berduka.” Kemudian beliau menangis.

Imam Syafii dimakamkan di Kairo pada hari Jumat di awal bulan Sya’ban 204 H/820 M. Beliau wafat dalam usia 54 tahun. Semoga Allah merahmati, menerima semua amalan, dan mengampuni kesalahan-kesalahan beliau.

Sumber:
– Islamstory.com
– Lostislamichistory.com

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

Mengenal Syaikh ibnu Baz Ulama dari Hijaz

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di masa para ulamanya masih banyak dan tukang ceramahnya sedikit. Dan akan datang suatu masa setelah kalian dimana tukang ceramahnya banyak namun ulamanya amat sedikit.” (Qowa’id fi at-Ta’amul ma’al ‘Ulama, hal. 40).

Apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud sama sekali tidak meleset. Sekarang kita berada di zaman yang beliau katakan itu. Ulamanya sedikit dan para penceramah (orang yang pandai berbiacaranya) banyak. Sedikitnya ulama tentu memiliki dampak besar terhadap umat. Dalam keadaan tersebut penyebaran ilmu tentu berbeda dengan ketika ulama banyak. Keadaan demikian diperburuk dengan pembunuhan karakter terhadap para ulama. Sehingga kaum muslimin semakin bingung, ulama mana yang harus mereka teladani. Kian beratlah ujian. Ujian memilih ulama rabbani yang bisa membimbing kita pada jalan kebenaran.

Di antara ulama rabbani yang membimbing umat adalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazrahimahullah. Atau yang sering disebut dengan Syaikh Ibnu Baz. Sedikit tentang akhlak beliau telah pembaca simak di artikel Mencuri di Rumah Seorang Mufti. Kisah akhlak yang mengagumkan. Yang menimbulkan keingintahuan tentang siapakah mufti yang mulia itu.

Siapakah Ibnu Baz?

Beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Dilahirkan di bulan Dzul Hijjah tahun 1330 H, di Kota Riyadh. Syaikh Ibnu Baz terlahir dalam keadaan sehat dan normal. Kemudian pada tahun 1346 H, pandangannya mulai rabun. Dan pada tahun 1350 H, beliau mengalami kebutaan secara total. Abdul Aziz kecil telah menghafalkan Alquran secara sempurna sebelum ia menginjak usia baligh (Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz oleh Muhammad al-Hamd, Hal. 33). Kiranya inilah jalan hidup para ulama. Mereka membuka pintu ilmu dan hikmah dengan menghafalkan Alquran sedari kecil.

Semangat Ibnu Baz dalam mempelajari agama sudah muncul sejak kecil. Di masa kanak-kanaknya, ia telah belajar kepada para ulama besar di Kerajaan Arab Saudi. Di antara guru-gurunya adalah:

  • Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab,
  • Syaikh Shaleh bin Abdul Wahhab,
  • Syaikh Saad bin Hamd bin Athiq,
  • Syaikh Hamd bin Faris,
  • Syaikh Muhammad bin Ibrahim alu asy-Syaikh. Ibnu Baz hadir di majelisnya setiap pagi dan sore dan mempelajari banyak cabang ilmu syariat sejak tahun 1347 H-1357 H.
  • Syaikh Saad Waqqash al-Bukhari sebagai guru tajwidnya.

Ilmu Yang Dihiasi Akhlak Mulia

Sudah selayaknya orang yang berilmu itu memiliki akhlak yang mulia. Akhlak yang terbimbing dari apa yang sudah diketahuinya. Demikian pula dengan Ibnu Baz rahimahullah. Beliau dikenal dengan kelemah-lembutannya. Mudah tersentuh hatinya dan meneteskan air mata saat mendengar bacaan Alquran. Mendengar hadits-hadits Nabi ﷺ. Mendengar kisah-kisah kehidupan para ulama. Mendengar kabar tentang kaum muslimin. Atau bahkan mendengar sebuah syair.

Ilmunya tidak ia gunakan untuk mendebat orang yang berilmu dan para guru. Ia adalah seorang yang sangat rendah hati. Walaupun kedudukannya tinggi. Seorang yang tenang dan tidak tergesa-gesa dalam bersikap dan mengambil keputusan. Ia dikenal sebagai seorang yang dermawan dalam harta, waktu, ilmu, kebaikan, dan pertolongan. Tentu tidak mungkin tulisan singkat ini menguraikan contoh dari masing-masing sifat tersebut.

Daya ingatnya sangat kuat. Semakin bertambah usia, makin kuat pual hafalannya. Di antara ciri orang besar dan sukses adalah mereka memiliki semangat dan ketekunan yang luar biasa. Sifat itu pula yang dimiliki Syaikh Ibnu Baz. Ia senantiasa menjadi penengah dalam banyak permasalahan. Karena ia dikenal adil, bijak, dan sangat teguh memegang prinsip kebenaran. Dengan padatnya kegiatan, Syaikh tetaplah seseorang yang menepati janjinya.

Berkhdimat Kepada Umat

Pada tahun 1357-1371 H, Syaikh Ibnu Baz diberi amanah oleh kerajaan sebagai imam dan khotib di Kota al-Kharj. Di sana juga beliau memiliki majelis pengajian 5 hari sepekan. Hanya hari Selasa dan Jumat saja tidak ada majelis beliau.

Kemudian beliau pindah ke Kota Riyadh pada tahun 1372 H. Di ibu kota kerajaan ini beliau mengajar di Ma’had ar-Riyadh al-Ilmi. Perhatian beliau terhadap perkembangan ilmu agama di Riaydh sangatlah besar. Beliau mengembangkan halaqah belajar di al-Jami al-Kabir di Riyadh. Pada tahun 1381 H, beliau diangkat menjadi wakil rektor Universitas Islam Madinah. Kemudian menjadi rektor pada tahun 1390-1395 H. Dan beliau menginisiasi halaqah belajar di Masjid Nabawi (Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz, Hal. 45-48).

Dengan keterbatasannya, beliau tetap menunaikan haji. Rukun Islam yang kelima itu beliau laksanakan sebanyak 42 kali dalam hidupnya. Haji pertama dilaksanakan pada tahun 1349 H. Setelah itu dilaksanakan empat kali haji tidak berturut-turut. Berikutnya, 37 kali haji dilaksanakan secara berturut-turut. Antara tahun 1372-1418 H (Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz, Hal. 113).

Di dunia akademik modern, kita menyaksikan biasanya seseorang hanya mengambil satu bidang kajian khusus untuk ia dalami. Karenanya, ketika ia berbicara tentang bidang kajiannya, ia akan terlihat sangat mumpuni. Namun jika berbicara di luar bidangnya, ia sama seperti orang awam lainnya atau hanya mengetahui secara general saja. Adapun Syaikh Ibnu Baz, beliau pakar dalam banyak cabang ilmu agama.

Ketika Syaikh Ibnu Baz berbicara dalam satu cabang di antara cabang-cabang ilmu agama, maka orang yang mendengarnya akan menyangka ia memiliki spesialisasi di bidang tersebut. Namun ternyata hal itu sama ketika beliau berbicara di cabang ilmu yang lain. Ketika ia berbicara tentang hadits; pengenalan tentang rijalul hadits dan rawi-rawinya, tentang shahih dan dhaif-nya, orang akan menyangkanya sebagai ahli hadits. Ketika beliau berbicara tentang akidah, maka orang menyangka dialah pakarnya. Demikian juga dalam ilmu tafsir, fikih, dan yang lainnya. Para pendengar akan dibuat kagum akan kedalaman ilmunya.

Warisan Ibnu Baz

Syaikh Ibnu Baz banyak mewariskan karya ilmiah. Ada yang dalam bentuk tulisan. Ada pula dalam bentuk rekaman ceramah dan seminar. Karya tulis Syaikh Ibnu Baz adalah hasil transkrip dari ceramah-ceramah atau ucapan yang beliau diktekan kepada murid-muridnya.

Karya-karya beliau sangat menekankan koreksi ritual ibadah. Karena tidak kita pungkiri, banyak praktik-praktik ibadah yang menyelisihi tuntuntan Rasulullah ﷺ. Seperti bagaimana haji dan umrah yang sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ. Tentang bagaimana shalat sesuai bimbingan Nabi ﷺ. Tentang bagaimana puasa dan zakat. Beliau juga memiliki kumpulan fatwa yang telah dikumpulkan oleh Muhammad bin Saad asy-Syuwai’ir dalam 18 jilid tebal.

Beliau juga memiliki perhatian besar dengan akidah yang shahih. Berpegang kepada Sunnah dan memperingatkan masyarakat dari bahaya bid’ah. Kemudian tentang dakwah dan akhlak. Tentang hijab dan nikah. Memperingatkan buruknya fanatisme kearaban. Tentang jihad di jalan Allah, dll.

Kasih Sayang Sesama Muslim

Terlalu banyak kisah-kisah betapa kasihnya Syaikh Ibnu Baz terhadap umat Islam di belahan dunia. Bahkan tidak jarang orang-orang yang telah berputus asa di negerinya, mengirim surat ke Arab Saudi, kepada Syaikh Ibnu Baz, untuk memohon bantuan. Tidak hanya dari negara Arab. Surat permohonan tersebut juga datang dari negeri-negeri di Asia Tenggara.

Mungkin orang mengira, karena Syaikh Ibnu Baz adalah tokoh dakwah salaf di masa sekarang, beliau tidak peduli dengan tokoh-tokoh pergerakan. Beliau memang tegas dalam hal-hal yang menyelisihi sunnah, namun beliau juga memegang teguh prinsip persaudaraan dan kasih sayang sesama muslim. Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Syaikh Ibnu Baz meminta pemerintah Mesir untuk tidak menghukum mati Sayid Qutb rahimahullah.

Syaikh Muhammad Majdzub –salah seorang ulama Maroko- mengisahkan tentang kemarahan Syaikh Ibnu Baz kepada pemerintah Mesir yang memvonis mati Sayid Qutb. Beliau mengirim surat kepada pemerintah Mesir agar membatalkan vonis tersebut. Ia menyebut Sayid Qutb adalah saudaranya. Beliau menutup suratnya dengan mencantumkan ayat:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 93) (Ulama wa Mufakkirun Araftuhum oleh Muhammad Majdzub, 1: 77-106).

Namun sayang, ulama Rabbani ini tidak dibiarkan populer dan mendapatkan hati di masyarakat. tidak sedikit media yang berusaha membunuh karakter beliau. Baik media Islam apalagi media non-Islam. Dan masih banyak kisah-kisah lainnya tentang hubunga beliau bersama tokoh-tokoh dakwah lainnya. Karena itu, pujian terhadap beliau datang dari lawan apalagi kawan. Orang-orang yang berbeda pemikiran dan jalan dakwahnya pun tidak sedikit yang datang kepada beliau untuk berkonsultasi. Masyarakat awam sangat menghormati dan mendengarkan pendapatnya. Beliau mendapat tempat di hati semua kalangan.

Syaikh Abdullah bin Sulaiman al-Mani’ menyatakan Syaikh Ibnu Baz adalah sebaik-baik hakim. Ia adalah hakim yang adil. Hakim yang berilmu. Hakim yang diridhai putusannya. Diterima dan menenangkan masyarakat (Ulama wa Mufakkirun Araftuhum oleh Muhammad Majdzub, 1: 77-106).

Jabatan-jabatan Semasa Hidupnya

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah menjabat sebagai ketua Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta wa ad-Dakwah wa al-Irsyad. Kemudian menjabat Grand Mufti Kerajaan Arab Saudi dan pimpinan Hai-ah Kibar al-Ulama wa Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta.

Beliau juga adalah pimpinan dan anggota al-Majlis at-Ta’sisi Li Rabithah al-Alam al-Islami dan pimpinan Majlis al-A’la al-Alami lil Masajid.

Beliau juga mengemban amanah sebagai ketua al-Majma’ al-Islami di Mekah al-Mukarrmah dan anggota majelis tinggi Jami’ah Islamiyah di Madinah.

Wafatnya Sang Alim

Syaikh Ibnu Baz wafat pada hari Kamis, 27 Muharam 1420 H di usia 80 tahun. Beliau telah menghabiskan umurnya untuk ilmu, belajar, mengajar, berbakti kepada Islam dan kaum muslimin. Semoga Allah memberikan rahmat yang luas kepada beliau. Dan membalas kebaikannya dengan sebaik-baik balasan (Jawanib min Sirati al-Imam Abdul Aziz bin Baz oleh Muhammad al-Hamd, Hal. 587).

Suasana shalat jenazah Syaikh Ibnu Baz di Masjid al-Haram dan pemakaman beliau:

 

sumber:

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Dr Oni Sahroni: ‘Azam Yang Kuat Kunci Meraih Haji Mabrur

Setiap musim haji diikuti tidak kurang dari 2 juta jamaah. Baik dalam negeri Arab Saudi, maupun jamaah yang datang dari berbagai negara.

Pertanyaannya, bagaimana jamaah haji yang jumlahnya jutaan itu,  dengan segala persiapan yang cukup melelahkan, bisa mendapatkan haji yang mabrur?

Menurut Dr Oni Sahroni, ada empat kunci  agar jamaah haji  bisa mendapatkan haji yang mabrur. Pertama, ber-‘azam atau niat yang kuat untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji.

“Tidak hanya sesuai dengan rukun dan syaratnya menurut fikih, tetapi lebih dari itu berkomitmen untuk menyempurnakannya dengan adab-adab berhaji,” kata doktor fiqih muamalat lulusan Al-Azhar University Kairo, Mesir itu, kepada Republika di Depok, Selasa (1/9).

Contohnya hanya sesorang hanya cukup dengan rukun dan syarat, orang yang haji diawali tamattu’ (memakai pakaian ihram) dan diakhiri dengan tawaf wada, maka bersangkutan telah berhaji dan telah menyandang gelar haji.

Tetapi rafats (berkata-kata kotor) dan fusuq (berbuat maksiat), etika melempar jumrah untuk tidak mendorong-dorong, etika  tawaf untuk tidak mencerca, tidak masuk dalam kriteria rukun dan syarat dalam fiqih.

Meskipun demikian, semua itu menentukan menentukan mabrur tidaknya seseorang dalam berhaji. “Karena itu, untuk menggapai haji mabrur, jamaah haji harus memadukan fiqih dan adab,’ papar Oni yang juga direktur dan peneliti SIBER-C SEBI Depok, Jawa Barat.

 

sumber: Republika Online

Hikmah Personal dan Sosial Haji

Ribuan umat Muslim dunia tengah melaksanakan ibadah haji. Mereka rela meninggalkan sesaat harta dan keluarga demi menyempurnakan rukun Islam.

Aktivis Dakwah Ustaz Ade Kurniawan mengatakan‎, sebagian ulama mengatakan bahwa haji adalah ibadah yang paling utama di antara ibadah dan rukun Islam yang lain. Ini dikarenakan ibadah haji merupakan rangkuman seluruh makna ibadah-ibadah lain.

“Maka orang yang melakukan ibadah haji seolah-olah ia tengah berpuasa, shalat, berzakat, beri’tikaf, bermuamalat, dan berjuang di jalan Allah SWT,” kata Ustaz Ade‎ saat dihubungi ROL, Kamis (3/9).

DAI mudah lulusan Kairo Mesir ini menuturkan, banyak hikmah yang didapat dari melaksanakan ibadah haji. yakni mendapatkan hikmah secara personal dan hikmah sosial.

Misalnya dari hikmah personal, Ustaz Ade menyampaikan ada lima hikmah yang akan didapat oleh orang yang mampu menjalankan ibadah haji. Pertama, orang yang telah melakukan haji akan diampuni dosa-dosanya dan dibersihkan dari kotoran-kotoran maksiat.

“Ini sekaligus merupakan imbalan bagi mereka yang telah mampu menunaikan ibadah haji, seperti sabda Rasulullah SAW “Seorang haji yang mabrur tidak akan mendapatkan balasan dari Allah swt kecuali surga.”

Kedua, ibadah haji mensucikan jiwa dan membersihkan hati. Sehingga orang yang telah berhaji seolah akan merasakan kehidupan baru yang lebih bermatabat di hadapan Allah dan manusia.

Ketiga, ibadah haji akan menumbuhkan kesadaran akan besarnya perjuangan rasulullah saw dan para ulama terdahulu dalam menegakkan dan menyebarkan agama islam. Hikmah keempat ibadah haji akan mendidik mental dan kepribadian seorang hamba dalam bergaul dan mengarungi kesulitan hidup.

Kelima, yang terpenting adalah ibadah haji akan meningkatkan rasa syukur seorang hamba kepada Allah swt.

Sementara dari segi hikmah sosial, orang yang menjalankan ibadah haji akan mendapatkan dua hikm‎ah. Pertama ialah haji merupakan sarana bagi umat dari berbagai penjuru dunia untuk saling mengenal dan menghormati satu sama lain, walaupun mereka berbeda warna kulit, bahasa dan negara.

Hikmah kedua ketika pelaksanaan haji, disitulah terjadi perputaran ekonomi terdahsyat di permukaan jagad raya ini.

“Dan ini jelas memberikan jutaaan manfaat tidak hanya bagi masyarakat Muslim, bahkan non-Muslim pun kecipratan berkah,” ujarnya.‎

Dua hikmah di atas tadi kata Ade, merupakan bagian dari rahmat Allah SWT kepada hambanya melalui syariat islam. Sehingga pelaksanaan ibadah haji menumbuhkan rasa solidaritas dan persatuan yang kuat di kalangan umat islam.

“Ibadah haji merupakan simbol kejayaaan dan kebesaran umat islam sepanjang masa yang tidak dimiliki umat lain dari agama mana pun,” katanya.

 

sumber: Republika Online

Dr Oni Sahroni: Rahasia Haji Mabrur Ibarat Jihad dan Bayi Baru Lahir

Setiap orang yang pergi haji ingin meraih gelar haji mabrur. Mengapa haji mabrur begitu penting? Menurut Dr Oni Sahroni, ada dua hadits terkait dengan  kedudukan haji mabrur.

“Pertama, haji mabrur adalah perbuatan yang palingmulia disetarakan dengan jihad,” ujar doktor fiqih muamalat lulusan Al-Azhar University Kairo, Mesir itu kepada Republika, Selasa (1/9).

Oni menambahkan,  jihad (berjuang atau berperang di jalan Allah)  mengorbankan aset yang paling mahal yang dimiliki manusia, yakni nyawanya.

“Begitulah kira-kira kedudukan dan fungsi haji. Karena begitu beratnya ibadah haji, maka balasan yang Allah siapkan tidak kalah mulianya dengan jihad,” papar Oni yang juga direktur dan peneliti SIBER-C SEBI, Depok, Jawa Barat.

Dalam hadis kedua, kata Oni,  dijelaskan bahwa haji mabrur itu akan bisa diperoleh manakala seorang jamaah haji tidak melakukan rafats (mengeluarkan kata-kata kotor) dan fusuq  (melakukan kemaksiatan).

“Jamaah haji yang komitmen untuk tidak melakukan kata-kata kotor dan maksiat diibaratkan oleh rasulullah sebagai seorang bayi yang baru lahir, bersih tidak berdosa,” papar Oni yang juga anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

 

sumber: Republika Online

Fatwa MUI: Hukum Wanita Menjadi Imam Shalat

Masih ingat Amina Wadud? Itu tuh, wanita liberal yang menciptakan sensasi pada 2005 dengan menjadi imam shalat Jumat di gereja Katedral di AS. Yang nyeleneh lagi, makmum yang ikut-ikutan shalat di belakangnya tidak hanya kaum perempuan, tapi banyak juga yang laki-laki. Tentu saja ibadah shalat dengan makmum campur-aduk alias gado-gado ini menimbulkan kecaman dunia Islam.

Tak cukup sampai di situ, tiga tahun kemudian, tokoh kebanggaan kaum liberal yang juga profesor studi Islam di Virginia Commonwealth University ini, kembali berulah. Wadud didapuk sebagai imam shalat di Pusat Pendidikan Muslim di Oxford, Inggris pada 2008. Juga dengan makmum campur-aduk, laki-laki dan perempuan. Hebatnya lagi, bak khatib Jumatbeneran, si Wadud juga memberikan khutbah singkat sebelum shalat dua rakaat.

Beragam kecaman dari ulama-ulama Islam dunia menampar muka Wadud, namun ia tak ambil pusing. Untuk menjaga agar kejadian nyeleneh ala Amina ini tidak terjadi di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera mengeluarkan fatwa.

Dalam Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/26-29 Juli 2005 M, MUI menetapkan Fatwa Nomor: 9/MUNAS VII/MUI/13/2005 Tentang Wanita Menjadi Imam Shalat.

Hal ini, menurut MUI, perlu dilakukan untuk memberikan kepastian hukum dalam syari’at Islam tentang hukum wanita menjadi imam shalat, agar dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam.

MUI mendasarkan fatwanya pada Kitabullah, sunnah Rasulullah SAW, ijma’ ulama, dan kaidah-kaidah fiqh.

Firman Allah SWT antara lain: “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)…” (QS An-Nisaa’: 34)

Sedangkan hadits-hadits Nabi SAW, antara lain:

“Rasulullah memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi penghuni rumahnya.” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim).

Rasulullah bersabda, “Janganlah seorang perempuan menjadi imam bagi laki-laki.” (HR Ibnu Majah)

Rasulullah bersabda, “Saf (barisan dalam shalat berjamaah) terbaik untuk laki-laki adalah saf pertama (depan) dan saf terburuk bagi mereka adalah saf terakhir (belakang); sedangkan saf terbaik untuk perempuan adalah saf terakhir (belakang) dan saf terburuk bagi mereka adalah saf pertama (depan).”

Rasulullah bersabda, “Shalat dapat terganggu oleh perempuan, anjing dan himar (keledai).” (HR Muslim)

Rasulullah bersabda, “(Melaksanakan) shalat yang paling baik bagi perempuan adalah di dalam kamar rumahnya.” (HR Bukhari)

Adapun berdasarkan ijma’ sahabat, di kalangan mereka tidak pernah ada wanita yang menjadi imam shalat di mana di antara makmumnya adalah laki-laki. “Para sahabat juga berijma’ bahwa wanita boleh menjadi imam shalat berjamaah yang makmumnya hanya wanita, seperti yang dilakukan oleh Aisyah dan Ummu Salamah,” jelas MUI seraya mengutip kitab Tuhfah Al-Ahwazi karya Al-Mubarakfuri.

Dan berdasarkan kaidah fiqh: “Hukum asal dalam masalah ibadah adalahtauqif dan ittiba’ (mengikuti petunjuk dan contoh dari Nabi).”

Selain itu, MUI juga memerhatikan pendapat para ulama seperti termaktub dalam kitab Al-Umm (Imam Syafi’i), Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab (Imam Nawawi), dan Al-Mughni (Ibnu Qudamah).

“Berdasarkan telaah kitab-kitab tersebut, dan kenyataan bahwa sepanjang masa sejak zaman Nabi Muhammad SAW, tidak diketahui adanya shalat jamaah di mana imamnya wanita dan makmumnya laki-laki,” kata MUI.

Oleh sebab itu, Sidang Komisi C Bidang Fatwa MUI memutuskan fatwa. “Dengan bertawakkal kepada Allah SWT, MUI memutuskan bahwa wanita menjadi imam shalat berjamaah yang di antara makmumnya terdapat orang laki-laki hukumnya haram dan tidak sah. Adapun wanita yang menjadi imam shalat berjamaah yang makmumnya wanita, hukumnyamubah.”

Fatwa ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1426 H yang bertepatan dengan 28 Juli 2005 M, dan ditandatangani oleh Ketua MUI KH Ma’ruf Amin dan Sekretaris Hasanuddin.

 

sumber: Republika Online

Manusia yang Bangkrut Saat Kiamat


Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bertanya, ”Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka (para sahabat) menjawab, ”Orang yang tidak mempunyai uang dan harta.” Rasulullah SAW menerangkan, ”Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakatnya, namun dia dahulu di dunianya telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah si itu, dan telah memukul orang lain (dengan tidak hak), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain), maka kesalahan orang yang dizalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke api neraka.” (HR Muslim).

Di dunia ini, mungkin banyak orang yang merasa kuat dapat membebaskan diri mereka dari jeratan hukum akibat perbuatan zalim mereka terhadap orang lain. Mungkin dia pernah berutang dan tidak pernah membayar, atau membunuh tanpa alasan yang dibenarkan Allah, atau bahkan mencaci maki orang lain, baik secara disengaja atau tidak.

Saat itu, dia tidak menyadari bahwa hukum dan keadilan Allah akan ditegakkan di hari kiamat kelak. Pada saat itu tidak seorang pun yang dapat membebaskan diri dari kesalahannya selama di dunia, yang dia tak pernah bertobat dan menyesalinya.

Dalam mahkamah Allah, hukum akan ditegakkan seadil-adilnya. Kesalahan dan kebaikan sebesar biji bayam pun, tak akan luput dari perhitungan-Nya. Orang yang menzalimi saudaranya di dunia, sedangkan dia belum bertaubat dari kezaliman tersebut dengan meminta maaf atau mengembalikan haknya, maka dia harus membayarnya dengan kebaikannya.

Karenanya, Rasulullah SAW berwasiat kepada umatnya dengan sabdanya, ”Barangsiapa yang melakukan perbuatan zalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta dimaafkan sekarang sebelum datang hari yang tidak berlaku pada saat itu emas atau perak. Sebelum diambil darinya kebaikannya untuk membayar kezalimannya terhadap saudaranya, dan jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka dibebankan kepadanya keburukan saudaranya itu kepadanya.” (HR Bukhari).

Karena itu, mari kita membebaskan diri dari menzalimi orang lain, penuhilah setiap yang mempunyai hak akan haknya, dan jangan menunggu hari esok karena tidak seorang pun yang mengetahui akan keberadaannya di esok hari.

 

REPUBLIKA.CO.ID,

Wahai Kaum Muslimah, Jagalah Hijabmu!

Wahai kaum Muslimah, jagalah hijabmu yang merupakan kemuliaanmu dan pelindung bagimu

Dan angkatlah kepalamu karena bangga dengan Islam, semoga Allah memberimu taufik untuk memperoleh segala kebaikan

— Syaikh DR. ‘Ashim Al Qaryuti

sumber: Muslimah Or.Id