Tanamkan Niatmu dengan Ikhlas

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Ada seorang arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka ia pun beriman kepada Nabi dan mengikuti Nabi. Setelah itu, berkata kepada Nabi, “Aku akan berhijrah bersamamu.” Maka Nabi pun meminta sebagian sahabat untuk memperhatikan orang ini.

Tatkala terjadi peperangan, Nabi memperoleh ghanimah (rampasan perang) maka Nabi pun membagi-bagikan ghanimah tersebut. Nabi juga membagikannya kepada orang tadi. Nabi menyerahkan bagian ghanimah orang ini kepada para sahabat agar dapat diberikan kepada orang tersebut. Tugas orang tersebut adalah menjaga bagian belakang pasukan.

Tatkala lelaki tersebut datang maka para sahabat pun menyerahkan bagian ghanimahnya kepadanya. Ia pun berkata, “Apa ini?” Mereka berkata, “Ini adalah bagianmu yang dibagikan NabiShallallahu Alaihi wa Sallam untukmu.” Ia mengambilnya lalu menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Apa ini?” Nabi menjawab, “Aku memberikannya untukmu.”

Lelaki itu berkata, “Aku tidak mengikutimu untuk memperoleh ini, akan tetapi aku mengikutimu supaya dipanah dengan anak panah di sini (seraya mengisyaratkan ke lehernya) lalu aku mati dan masuk surga.”

Nabi pun bersabda, Jika niatmu benar maka Allah akan mengabulkannya. Tidak lama kemudian para sahabat bangkit dan maju ke medan perang melawan musuh.

Setelah perang berakhir jasa orang tersebut dibawa kepada Nabi dalam kondisi lehernya ditembus oleh anak panah.

Nabi berujar, Apakah ini adalah mayat orang itu? Para sahabat menjawab berkata, “Benar.” Nabi bersabda, “Niatnya benar maka Allah mengabulkan (keinginannya).”

Setelah itu, Nabi mengafani jasadnya ini dengan jubah beliau, lalu meletakkan mayatnya di depan, lalu menyalatkannya. Diantara doa Nabi tatkala menyalatkan orang ini adalah, “Ya Allah, ini adalah hamba-Mu telah keluar berhijrah di jalan-Mu, lalu ia pun mati syahid dan aku bersaksi atas hal ini.” (HR. An-Nasa`i nomor 1952, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib nomor 1336)

Tanamkan niat dalam hati

Keinginan adalah bagian kewajaran dalam hidup, ketika seorang manusia terkadang ingin memperoleh sesuatu yang terbaik dalam hidupnya. Terlebih bagi hamba yang beriman, maka keinginan mereka dipenuhi oleh cita dan asa yang bernuansa ibadah, supaya mereka mampu menggengam keridhaan Allah dalan ayunan langkah kaki hidupnya.

Tapi, manusia hanyalah makhluk yang begitu lemah plus penuh kekurangan, sehingga tak ada satu pun keinginannya dapat terwujud kecuali jika ia diberikan pertolongan oleh Allah dalam meraih yang ia inginkan. Sebab, perotlongan hanya Allah yang menentukan segala hal dalam hidup.

Pertolongan Allah ibarat air yang menumbuhkan benih menjadi tanaman indah lagi ranum buahnya. Sesubur apapun tanah yang menyimpan benih tanpa kucuran air, maka benih pun akan menjadi layu dan mati sebelum tumbuh di atas tanah.

Hal ini pun sama dengan keinginan hati. Itu akan hanya menjadi keinginan tanpa wujud apabila disertai oleh pertolongan Allah.

Oleh karenanya, maka arab Badui dalam riwayat di atas memberikan faidah ilmu, bahwa keinginan hati haruslah ditanamkan dengan kuat dan berakar kokoh di dalam hati ketika seseorang sudah menetapkan asa dan cita kebaikan. Jangan mudah untuk berpaling dari asa kebaikan ketika sudah ditanam dalam hati, karena menanamkan keinginan di dalam hati dengan kuat akan melahirkan ikhtiar dan usaha tanpa henti untuk memperolehnya.

Sama dengan diri seseorang yang bercita cita mati syahid, maka angan mati syahid hadir di pelupuk matanya. Tak tergoyah oleh apapun, hingga mendapatkan apa yang ia citakan yaitu mati syahid di ujung kehidupan.

Benarkan dalam hati dengan ikhlas

Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “JIka benar niatmu maka Allah yang akan menyampaikan niatmu.” Jawaban Rasul kepada badui itu juga memberikan faidah yang bagus dan agung, bahwa setelah kita menanamkan niat kebaikan, maka dengan meluruskan niat kita akan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah untuk merealisasikan setiap keinginan yang dimiliki hamba yang beriman.

Tak ada yang mustahil dalam mewujudkan setiap keinginan bagi orang yang yakin dengan niat yang ia miliki apabila sang Rahman sudah berkehendak. Sebab, tak ada yang mampu menghalangi apapun dari kehendak Allah.

Inilah yang menjadi penjelasan bahwa ada manusia-manusia lemah secara ekonomi tapi ternyata ia menjadi tamu Allah dalam haji dan umrah, jauh lebih dahulu dari pada yang berkelapangan harta tapi tak kunjung menjadi tamunya Allah. Itu semua karena ternyata si fakir selalu menanamkan niat dalam hatinya untuk berhaji dan ia ikhlaskan niat itu untuk Allah hingga ia diampuni.

Inilah pula yang menjadi keterangan dari orang yang hanya tamat Madrasah Aliyah, tapi membangun pondok pesantren dengan ratusan santri shalih yang tak jemu belajar ilmu, mengalahkan doktor yang terkadang memiliki keinginan untuk membangunnya tapi tak kunjung terwujud.

Inilah pula yang terkadang menjadikan seorang ikhwan (saudara-red) biasa dengan kesibukan kerja tapi punya asa menghafalkan Al-Quran dan ia pun hafal dengan baik, padahal banyak tamatan pondok pesantren yang tak kunjung hafal Al-Quran.

Mereka memiliki satu kesamaan, bahwa keinginan yang mereka miliki ditanamkan dengan kuat didalam hati, dibungkus keikhlasan hingga Allah mewujudkan keinginan mereka semua.

Mati syahid, haji, umrah, menghafal Al-Quran, menikah dengan niat ibadah dengan hamba yang shalih dan shalihah serta lainnya adalah keinginan yang pantas untuk ditanamkan dalam hati, lalu diiringi dengan kejujuran tindakan, hingga Allah yang kelak mewujudkan semuanya.

Barakallah fikum

Ustadz Oemar Mita, Lc

 

sumber: Fimadani

Nabi Larang Shalat Cepat dan Tergesa

“Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat,” demikian kata Rasulullah pada orang shalat tergesa-gesa

DALAM hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memerintahkan kepada orang yang “ngebut” shalatnya untuk mengulangi shalatnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ « إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا »

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397).*

 

Sumber: Hidayatullah

Mensyukuri Nikmat Allah Berupa Kekayaan (3)

Firman Allah Ta’ala,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah: 245)

Ibnul Qayyim Rahimahullah menerangkan, “Allah menamakan infak ini dengan sebutan pinjaman yang baik, untuk memberi dorongan kepada jiwa dan membangkitkan hasrat untuk memberi. Ketika orang yang berinfak mengetahui bahwa hartanya akan kembali lagi kepadanya, tentu akan membuat jiwanya suka dan mudah baginya untuk mengeluarkan hartanya.

Jika orang yang memberi pinjaman mengetahui, bahwa orang yang meminjam adalah orang yang baik dan selalu menepati janjinya, tentu akan membuat jiwanya terasa lapang sehingga ia senang dalam membantunya.

Jika ia mengetahui, bahwa orang yang meminjam akan menggunakan uang pinjamannya untuk berdagang, dan mengembangkannya hingga mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda, maka pinjaman yang ia berikan akan membuat jiwanya lebih terasa tenang.

Jika ia mengetahui, bahwa dengan berinfak akan menjadikannya mendapatkan tambahan anugerah dan karunia Allah Ta’ala, berupa pahala yang lain dari selain pahala ‘pinjaman’ itu sendiri, maka sesungguhnya pahala itu merupakan bagian yang agung dan karunia yang mulia.

Seseorang yang tidak tergerak hatinya untuk memberikan ‘pinjaman’ kepada Allah Ta’ala, adalah orang yang mempunyai penyakit kikir di dalam hatinya, dan rasa kurang percaya terhadap jaminan yang diberikan kepadanya, dan itu menunjukkan kelemahan imannya. Oleh karena itu, sedekah menjadi bukti kebenaran keimanan seseorang.”

Wahai para hamba Allah, bertakwalah kepada Allah, infakkanlah sebagian dari harta yang telah Dia berikan kepadamu, dan perbanyaklah sedekah secara tersembunyi, karena hal itu dapat memadamkan murka Allah.

Bantulah para janda, orang-orang yang membutuhkan pertolongan, anak-anak yatim, dan orang-orang yang berada dalam kesusahan. Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para shahabatnya.

 

 

sumber: Fimadani1907462

4 Nasehat Agung untuk Wanita yang Akan Menikah

Taat Kepada Suami

Anas mengatakan bahwa para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mempersembahkan (menikahkan) anak perempuannya kepada calon suaminya, mereka berpesan kepada anaknya untuk berkhimat pada suami serta senang tiasa menjaga hak suami.

Pesan Ayah Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan

Pada saat pernikahan anaknya Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib memberikan wasiat kepada anak perempuannya, “Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu merupakan penyebab jatuhnya thalak. Juga jauhkanlah dirimu dari sifat banyak mengeluh, karena keluh kesah merupakan sebab timbulnya kemarahan, dan hendakklah kamu memakai celak mata, perhiasan yang paling indah serta wawangian yang paling harum ketika berada di dekat suami”.

Pesan Ibu Kepada Anak Perempuannya

Diriwayatkan bahwasannya Asma binti Kharijah Al-Farzari memberikan pesan pada anak perempuannya ketika menikah, “Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan luas yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh sebab itu, jadilah engkau bumi baginya, maka ia akan menjadi langit bagimu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya dia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah hamba sahaya baginya, niscaya dia akan menjadi hamba untukmu. Dan janganlah engkau meremehkannya, karena dia akan membencimu dan janganlah engkau menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Bila dia dekat denganmu maka dekatkanlah dirimu, bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya dan matanya. Janganlah dia mencium sesuatu darimu kecuali wawangian dan janganlah dia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik.

Pesan Amamah binti Harits Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan

Ketika membawanya kepada calon suaminya Amanah bin Harist berpesan kepada anaknnya, “Wahai anak perempuanku! Bahwa jika wasiat ditinggalkan karena keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Tetapi bila wasiat merupakan sebuah pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Jika seorang perempuan merasa cukup pada suami lataran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku merupakan orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah sepuluh perkara ini.

Pertama dan kedua : Perlakuan dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah melalui perhatian yang baik dan ta’at, karena pada qan’aah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat : Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

Kelima dan keenam : Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur menjengkelkan.

Ketujuh dan kedelapan : Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh : Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya.

Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

 

sumber: Fimadani

Amalan yang Bisa Menjadi Sebab Bertemunya Kita dengan Rasulullah

Berjumpa dan berbicara dengan Rasulullah adalah keinginan hampir setiap muslim di dunia. Siapa yang tidak ingin berjumpa dengan manusia paling mulia sepanjang sejarah manusia? Tentu setiap muslim yang mengerti ingin.

Namun hal itu sepertinya mustahil dilakukan mengingat Rasulullah SAW telah wafat berabab-abad yang lalu. Yang dimaksud dengan melihat di sini tentu saja dalam mimpi. Namun demikian, walaupun dalam mimpi, orang dalam mimpi tersebut adalah benar Rasulullah SAW. Hal ini bisa dipastikan karena tidak ada satupun makhluk yang mampu menyerupai Rasulullah SAW.

Untuk bisa bertemu dengan Rasulullah dalam mimpi, ada amalan-amalan yang bisa dilakukan. Imam Al Ghazali dalam kitabnya ‘arifillah mengatakan bahwa barang siapa yang Istiqamah membaca shalawat (dibawah) ini sehari semalam sebanyak lima ratus kali, ia takkan mati sebelum bertemu Nabi Saw dalam keadaan terjaga. Iya, walaupun antara Rasulullah SAW dan umatnya telah berbeda alam (barzah dan dunia), tapi Imam Ghazali mengatakan umatnya bisa saja bertemu Rasulullah dalam keadaan terjaga.

Bacaan shalat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

الهم صل على سيدنا محمد عبدك ونبيك ورسولك النبى الأمى وعلى آله وصحبه وسلم

Dalam kitab yang lain, Bustanul Fuqaraa, Imam Al Ghazali juga mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“barang siapa yang bershalawat atasku pada hari jum’at sebanyak seribu kali yakni shalawat :

الهم صل على سيدنا الأمى وعلى آله وصحبه محمد النبى وسلم

maka dia akan melihat tuhannya pada waktu malam atau nabinya atau tempat tinggalnya dalam surga. Jika tidak terlihat, maka hendaklah dia berbuat yang demikian dalam dua jum’at atau tiga atau hingga lima kali jum’at.”

Selain kedua macam shalawat di atas, ada juga amalan lain seperti disebutkan oleh Syeikh Abdul Qadir al Jailani dalam kitabnya Al Ghaniyah. Beliau mengatakan bahwa dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:

” barang siapa shalat dua rakaat pada malam jum’at, dalam setiap rakaat membaca al-Fatihah dan ayat kursi satu kali dan lima belas kali قل هو الله أحد kemudian pada akhir shalat bershalawat seribu kali, berikut shalawatnya:

الهم صل على سيدنا محمد النبى الأمى

Maka ia akan melihat-ku dalam mimpi sebelum datang jum’at yang lain. Dan barang siapa yang melihatku maka dia akan masuk surga dan diampuni segala dosanya yang telah lewat dan yang akan menyusul.”

Itulah beberapa amalan yang bisa menjadi wasilah bertemunya kita dengan Rasulullah SAW. Semoga bisa diamalkan dan segera bertemu dengan Rasulullah SAW.

 

sumber: Fimadani

Mensyukuri Nikmat Allah Berupa Kekayaan (2)

Kadangkala, Allah Ta’ala menjadikan banyak nikmat dan kebaikan itu, untuk memperdaya orang yang durhaka kepada-Nya dan menentang perintah-Nya, sebagaimana yang telah kita dengar dari umat-umat terdahulu, juga kita saksikan menimpa umat-umat dan negara-negara sekarang ini, sebagaimana firman-Nya Ta’ala,

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat. (QS. An-Nahl: 112)

Hilang dan lenyapnya nikmat dari seseorang disebabkan oleh berbagai macam maksiat dan dosa yang dilakukannya, serta tidak adanya rasa syukur dan pujian kepada Allah Jalla wa ‘Ala Yang Maha Memiliki kebaikan dan karunia.

Oleh karena itu, hendaknya seorang mukmin selalu berusaha untuk mensyukuri nikmat, dengan mengetahui hak Allah Ta’ala dan hak-hak hamba-Nya yang berhubungan dengan nikmat tersebut.

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan, ”Hendaklah seseorang mengambil   harta   dengan kemurahan jiwanya agar mendapatkan keberkahan padanya, tidak mengambilnya secara boros dan penuh keluh kesah, bahkan hendaknya harta yang ia miliki bagaikan toilet yang sewaktu-waktu ia butuhkan, tetapi tidak ada tempat sedikitpun di dalam hatinya, dan ketika berusaha mendapatkan harta ibarat ia membersikan toiletnya.”

Lebih lanjut, Ibnu Taimiyyah menuturkan, ”Hendaknya harta yang dimilikinya, ia pergunakan sesuai dengan kebutuhannya dalam posisi seperti keledai yang ia tunggangi, permadani yang ia duduki, bahkan seperti kamar kecil tempat ia membuang hajatnya, tanpa harus memperbudak dirinya, dimana ia suka mengeluh, apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat harta dia jadi kikir.”

 

sumber: Fimadani

Mensyukuri Nikmat Allah Berupa Kekayaan

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membagi rezeki dengan ilmu-Nya, memberi orang yang dikehendaki dengan hikmah-Nya, menahan pemberian dari orang yang dikehendaki dengan keadilan-Nya, dan menjadikan sebagian manusia dapat mempergunakan sebagian yang lain. Firman Allah Ta’ala,

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. Az-Zukhruf: 32)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menuturkan,

“Kemiskinan pantas untuk banyak orang, sementara kekayaan tidak pantas kecuali untuk sedikit orang. Oleh karena itu, orang yang banyak masuk surga adalah orang-orang miskin; karena cobaan berupa kemiskinan lebih ringan, dan dua hal tersebut berupa kekayaan dan kemiskinan membutuhkan kesabaran dan rasa bersyukur.

Akan tetapi, ketika di dalam kesenangan terdapat ketenangan jiwa dan di dalam penderitaan terdapat hal-hal yang menyakitkan. Maka, yang utama adalah bersyukur ketika berada dalam kondisi senang dan bersabar di dalam kondisi menderita.”

Banyak ayat Al-Qur`an yang menjelaskan tentang ancaman terhadap kemewahan dan orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan, diantaranya firman Allah Ta’ala,

حَتَّى إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِمْ بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ

Sehingga apabila Kami timpakan siksaan kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewah di antara mereka, seketika itu mereka berteriak-teriak meminta tolong. (QS. Al-Mu’minuun: 64)

Firman Allah Ta’ala tentang golongan orang-orang yang celaka,

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ

Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah.(QS. Al-Waaqi’ah: 45)

Firman Allah Ta’ala,

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu). (QS. Al-Israa`: 16)

Firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

“Dan setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, ‘Kami benar-benar mengingkari apa yang kamu sampaikan sebagai utusan.” (QS. Saba`: 34)

 

sumber: Fimadani

Hadits Ghadir Khum dalam Pandangan Sunni

Oleh: Zahrul Bawady M. Daud

Membahas masalah imamah/khalifah (khususnya khulafaur rasyidin) serta pertentangan antara Sunni dan Syiah, pada akarnya akan membawa kita kepada satu peristiwa terkenal yang disebut dengan Ghadir Khum (غدير خم), sebuah lembah antara Makkah dan Madinah. Peristiwa ini semakin populer karena landasan imamah yang dikenal dalam konsep akidah Syiah ada di sini. Meski sebagian kalangan Sunni tidak terlalu familiar dengan peristiwa tersebut, kecuali mereka yang memfokuskan diri kepada hadits dan sejarah.

Keotentikan Hadits

Dalam literatur Islam hadits Ghadir Khum ini berbunyi من كنت مولاه فعلي مولاه. Sementara hadits ini memiliki jalur periwayatan yang cukup banyak. Hadits ini diriwayatkan di dalam Musnad Imam Ahmad 2/71 nomor 641. Di dalam Musnad Ahmad, Hadits ini masuk kategori Shahih Lighairih, karena memiliki sanad yang shahih dari jalur periwayatan lain yang mencapai 30 sahabat. Imam Dzahabi di dalam Siyar A’lam Nubala menyebut matan hadits ini mutawatir (8/335)

Hadits tersebut juga diriwayatkan di dalam Mustadrak Hakim 3/109-110 yang mengambil jalur Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam. Hadits ini malah disebut shahih atas syarat Imam Bukhari dan Muslim.I mam Dzahabi di dalam Mukhtashar Istidrak Dzahabi Ala Mustadrak Hakim menyebut bahwa hadits ini memiliki 12 jalur periwayatan.Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Turmudzy dalam Sunan 10/214, Nasai dalam Khashaish, hal. 96, Imam Bazzar dalam Musnad 3/189, Ibn Hibban dalah Shahih Ibn Hiban nomor 2205 dan jalur periwayatan lain sebagaimana tertera di dalam kitab-kitab hadits.

Maka tidak ada keraguan tentang keotentikan hadits ini sebagaimana telah dijelaskan oleh berbagai ulama lintas zaman. Walaupun sanad pada beberapa jalur periwayatan dianggap memiliki cacat akan tetapi memiliki penopang melalui riwayat lain.

Amat penting bagi kita untuk melihat keotentikan hadits sebelum membahas pemaknaannya. Karena distorsi hadits tidak hanya terjadi pada sanad (jalur riwayat), akan tetapi matan. Adakalanya matan (subtansi) isinya benar, namun itu ternyata bukan hadits nabi. Pembahasan ini tentu akan lebih banyak kita dapati ketika kita membahas sebab dan sejarah hadits palsu di dalam Islam.

Pemahaman Hadits Versi Syiah

Hadits Ghadir Khum ini sangat populer di kalangan Syiah sebagai dalil keabsahan Ali Radhiyallahu ‘Anhu sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sampai sampai seorang ulama kontemporer, Abdul Hasan Umainy dari Syiah mengarang sebuah kitab berjudul Al Ghadir fil Kitab wa Sunnah wal Adab dalam enam jilid.

Di Ghadir Khum ini menurut versi Syiah, nabi menyampaikan salah satu risalah wahyu sesuai yang diamanahkan oleh Allah dalam Surah Al Maidah :67. Menurut kalangan Syiah, ayat ini turun setelah nabi menyebutkan hadits di atas.

Lebih lanjut, Al Majlisi dalam Bihar Anwar juga mengomentari hadits Ghadir dimana ketika itu kaum muslimin berkumpul dan nabi bersabda, “Wahai manusia, bukankah aku lebih utama bagi seorang mukmin daripadanya dirinya sendiri? Lalu mereka menjawab, benar. Kemudian nabi melanjutkan, من كنت مولاه فعلي مولاه.

Dan menurut mereka, setelah Allah menurunkan wahyu terakhir (Alyauma akmaltu lakum..), maka rasul mengatakan Maha besar Allah yang telah menyempurnakan agama dan memilih Ali sebagai pemimpin setelahku. (Ghadir… 1/11).

Thibrisy di dalam A’lam Wara halaman 169-170 memberikan asbab wurud (sebab turunnya)hadits ini yang tak lain dan tak bukan adalah imamah Imam Ali sepeninggal nabi, karena tidak mungkin memberikan makna kenabian, maka yang paling tepat adalah imam. Walaupun ada sebagian kalangan Syiah yang menganggap Ali sederajat dengan Nabi.

Dalam konsep Syiah, hadits Ghadir ini tak pelak menjadi pegangan utama mereka dalam memberikan hak khilafah “wajib” kepada Imam Ali. Karena menurut mereka sangat jelas sabda nabi yang mengatakan bahwa siapa yang menganggap aku sebagai maulah (pemimpinnya-versi Syiah-), maka Imam Ali adalah pemimpinnya.

Kepemimpinan Imam Ali sepeninggal nabi dan keturunannnya menurut Syiah tidak boleh diingkari dan menjadi hak utama. Di dalam Abhal Madad Fi Syarah Ulama Baghdad:116 disebutkan wajibnya hak-hak tersebut ditunaikan dan menjadi akidah umat Islam.

Pemahaman Sunni Pada Tafsir Ayat dan Hadits

Haris Suhaimi di dalam Tautsiq Sunnah Baina Syiah wa Ahli Sunnah menyebutkan bahwa pengakuan bahwa kedua ayat tersebut tersebut turun di Ghadir sangat bertentangan dengan konteks ayat tersebut secara keseluruhan. Dalam pemahaman ahli tafsir Terutama pada surat Al Maidah:67 dimana melihat kenyataan bahwa ayat sebelumnya semua ditujukan untuk mencela ahlul kitab dan menjelaskan keingkaran mereka. Al Thabariy mengatakan bahwa ayat ini turun untuk memerintahkan nabi mendakwahi ahlul kitab yang disebutkan oleh ayat sebelumnya (Jami’ Al Bayan 6/307 ).

Sedangkan ayat “Al yauma akmaltu lakum…” itu turun di Arafah, ini juga diakui oleh seorang yang dianggap muhaddits dalam kalangan Syiah, Syaikh Kulaini di dalam Ushul Kafy. Demikian juga dikuatkan oleh Thabary yang mengatakan ayat ini turun hari Jumat pada hari Arafah, tepatnya ketika haji Wada’. Walaupun demikian, ada beberapa Ahli Tafsir mencoba menggabung beberapa periwayatan asbab nuzul hadits ini, diantaranya Al Alusy di dalam Ruhul Ma’any.

Kembali ke hadits Ghadir Khum. Kata “maulah” yang terkandung di dalam hadits tersebut tidak kurang mengandung 23 makna menurut Ibnu Mandhur di dalam Lisanul Arab. Dan kita harus melihat konteks hadits tersebut untuk memastikan makna mana yang dimaksud .Setelah diteliti oleh ulama Sunni, makna yang paling tepat adalah makna mahabbah (kecintaan). Karena setelah kata kata فعلىي مولاه disambung dengan sabda nabi اللهم وال من والاه و عاد من عاداه (Sanyangilah orang yang menyayanginya dan bencilah orang yang yang membencinya).

Ini jika kita teliti melihat konteks hadits tersebut. Apabila kita maknakan secara makna khalifah atau pemimpin, maka penggalan hadits ini setelahnya akan sangat paradoks dan tidak berdasar.

Haidar Ali dalam Tahqiq Haula Nushsush Imamah menjelaskan kelemahan makna pemimpin dalam maksud hadits akibat hadits tersebut tidak diikat dengan kata kata بعدى (setelahku). Katakanlah jika yang dimaksud di sini mungkin benar bermakna pemimpin, maka ketika itu akan terdapat dua kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Nabi dan Imam Ali, dan tentu kita tidak ada yang sepakat dalam hal ini.

Di dalam I’tiqad Ala Madzhab Ahlus Sunnah wa Al Jama’ah: 205 Imam Baihaqi menuturkan sebuah riwayat. Ketika Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib ditanyakan kepadanya, Bukankan Nabi Muhammad telah mengatakan من كنت مولاه فعلي مولاه, lantas Imam Hasan menjawab, sekiranya yang dimaksud oleh Nabi adalah pemimpin, maka Nabi akan menjelaskannya secara lebih terperinci, sebagaimana dijelaskannya perkara wajibnya shalat, puasa dan zakat.

Salah satu bukti nyata bahwa hadits Ghadir ini tidak mengandung makna khalifah adalah ketika terjadi Musyawarah Bani Tsaqifah yang pada akhirnya membaiat Abu Bakar sebagai Khulafaur Rasyidin pertama, tidak ada seorang pun sahabat yang menggunakan dalil ini untuk mengangkat Imam Ali. Padahal peristiwa Ghadir Khum dan wafatnya Nabi hanya sekitar 70 hari saja dalam catatan sejarah. Padahal, sahabat ini sangat memahami hadits ini dengan baik, lagipun mereka tak akan bersepakat di dalam kesesatan.

Efek Perbedaan Tafsir

Perbedaan tafsir dan pemaknaan baik dari Ayat maupun hadits membawa efek besar dalam akidah di kemudian hari. Inilah sebabnya perpecahan itu terkadang tidak dapat disatukan. Lazimnya perkataan Syaikh Ali Al Shabuni yang berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu.

Mulanya dalam hemat penulis, pandangan Syiah melaknat bahkan mengkafirkan sahabat hanyalah klaim sepihak dari anti-Syiah saja.Akan tetapi setelah adanya referensi dan telaah yang sedikit mendalam, akhirnya kita temukan bahwa fenomena tersebut tidak hanya asal tuduh, namun dibuktikan di dalam kitab-kitab karya ulama Syiah sendiri.

Al Bahrany di dalam Syihabun Tsaqib:172 yang dianggap muhadits Syiah bahkan menganggap bahwa khalifah sebelum Imam Ali adalah pencuri. Lebih jauh, Nurullah Tustury di dalam Shawarim Al Muhriqah:5 menyebut khalifah yang tiga (Abu Bakar, Umar dan Usman) sebagai orang yang melahirkan permusuhan dan kedhaliman.

Di dalam sebuah kitab yang amat terkenal, Syarah Ushul Kafy karya Maula Muhammad Shalih 5/112 disebutkan bahwa “khalifah adalah hak ahlul bait, kemudian datang sekelompok pencuri yang akal dan daging mereka berkembang dalam menyembah patung.” Dalil -dalil penghinaan terhadap sahabat oleh Syiah juga dapat kita temukan di banyak referensi Syiah, seperti Tanzih Anbiya oleh Syarih Murtadha, Syafi, Al Arba’in, karya Muhammad Thahir Al Qamy yang menyebut propaganda Bani Tsaqifah untuk merebut hak Imam Ali. Bahkan Muhammad Baqir Al Majlisi di dalam Haqqul Yaqin:367 menyebut Abu Bakar dan Umar layaknya Fir’un dan Hamman. Na’udzubillah.

Lebih jauh, Jamil Hamud di dalam Fawaid Bahiyah Fi Syarh Akidah Imamiah menyebut bahwa Imamiah adalah bagian dari ushuluddin, serta wajibnya menyerahkan kekhalifahan kepada Imam Ali dan Ahl Bait jika ingin keselamatan iman.

Kita, tidak menolak hadits Ghadir Khum, sebagaimana kita tidak menolak untuk mencintai ahlul bait. Tetapi sebagai ummat Islam, kita harus menolak segala penyimpangan dan distorsi sejarah yang berkembang.Wallahu A’lam.
*Alumni Dayah Bustanul Ulum Langsa, Santri Al Azhar Kairo

 

 

sumber: Hidayatulah

Inilah Tips-Tips Membangun Keluarga Sakinah

Menjadi keluarga yang sakinah adalah dambaan setiap keluarga. Adapun keluarga sakinah itu adalah keluarga yang dibangun oleh hubungan suami istri dari pernikahan yang sesuai dengan syariat guna untuk membina kebahagiaan, ketenangan, serta saling memenuhi hak dan kewajiban dalam kehidupan berumah tangga yang lahir atas dasar perasaan cinta dan kasih sayang.

Tujuan membina keluarga yang sakinah adalah untuk mencapai ridha Allah. Setiap pasangan pastinya sangat mendambakan keluarga sakinah. Berikut kami berikan beberapa kiat yang bisa Anda lakukan untuk mewujudkan keluarga sakinah.

1. Beriman kepada Allah

Hal yang paling utama untuk membangun keluarga sakinah adalah beriman kepada Allah. Tentunya setiap pasangan yang mendambakan ketenangan dalam keluarganya harus menjadikan Allah yang lebih utama. Allah berfirman bahwa orang-orang yang dapat menjaga keluarganya dari ancaman neraka adalah mereka yang beriman kepada Allah.

2. Memilih pasangan yang baik

Untuk menjadikan keluarga yang sakinah, tentunya kita harus bersama dengan orang yang mempunyai tujuan yang sama yaitu Allah. Dengan memilih pasangan yang baik, setidaknya kita telah memulai komitmen untuk membangun rumah tangga yang baik pula. Alla telah berfirman dalam surah An-Nisa ayat 1-2 dan hadits Rasulullah Saw,

“Pilihlah wanita yang menjadi tempat lahirnya keturunanmu karena ia memengaruhi baik atau buruknya keturunan.”

3. Hidup dengan cinta dan kasih sayang

Keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang akan selalu dirindukan oleh siapapun. Landasannya adalah surah Ar-Rum ayat 21 dan definisi keluarga sakinah di atas. Juga sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya, aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku dan berbuat baiklah kalian kepada keluarga kalian.”

4. Menafkahi keluarga dengan harta yang halal dan baik

Proses pencarian harta yang halal atau haram tentunya akan mempengaruhi kedamaian yang terjadi dalam keluarga. Keluarga yang mendapatkan harta dengan cara halal tentunya akan mengalami ketenangan dan kedamaian. Sebaliknya, keluarga yang dinafkahi dari harta haram akan berdampak pada rumah tangga itu sendiri.

Allah telah memerintahkan kita untuk mencari harta yang halal, “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

5. Memerhatikan pendidikan anak

Pendidikan anak adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena anak lah investasi kita dunia dan akhirat. Untuk mewujudkan keluarga yang sakinah sudah seharusnya pendidikan anak menjadi prioritas, kenalkan anak pada Rabb Yang Maha Mulia. Agar anak belajar mencintai Rabb yang telah menciptakannya.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya, Allah akan menanyakan kepada setiap orang tentang keturunannya. (fimadani)

 

sumber: AkhwatIndonesia.net