Bolehkah Shalat Di Gereja Ketika Tidak Ada Masjid?

Di sebagian negara kafir, tempat untuk shalat agak susah ditemukan. Yang sering ditemukan adalah gereja. Apakah boleh seorang muslim shalat di gereja?

Fatwa Syaikh Prof. DR. Khalid Al-Muslih hafizhahullah

Soal: 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, apa hukum shalat di gereja jika tidak dijumpai masjid atau tempat (yang layak) untuk shalat? Apakah berdosa shalat di situ? Apakah shalat diterima?

Jawab:

Telah dinukil ijma ulama bahwa orang yang shalat di gereja pada tempat yang suci (tidak terdapat najis) maka hukumnya boleh dan shalatnya sah. Ijma ini dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab At Tamhid (5/229). Namun yang benar, pada masalah ini terdapat khilaf (tidak ada ijma’) dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama: makruh shalat di gereja karena di dalamnya ada patung

Pendapat ini dinukil dari Umar dan Ibnu Abbas dan pendapat sejumlah ulama Hanafiyyah, Imam Malik, mazhab Syafi’iyyah, Hambali . Alasannya, karena di gereja terdapat patung (atau gambar makhluk hidup).

Pendapat kedua: boleh shalat di gereja.

Ini adalah pendapat Al-Hasan, Umar bin Abdul Aziz, Ast-Sya’bi. Merupakan mazhab Hanabilah. Dengan syarat tidak ada patung (atau gambar makhluk hidup) di dalamnya.

Pendapat ketiga: haram shalat di gereja karena merupakan tempatnya setan-setan.

Shalat di gereja merupakan bentuk penghormatan terhadap mereka. Ini adalah pendapat sejumlah ulama Hanafiyyah.

Dan pendapat yang lebih kuat yaitu di makruhkan shalat di gereja jika ada patung-patung. Jika tidak ada patung maka hukumnya mubah. Akan tetapi tidak boleh bagi seseorang meninggalkan shalat di Masjid dengan maksud ingin shalat di gereja, karena ini tidak boleh. Maka yang wajib, jika menemukan masjid hendaknya shalat di sana dan janganlah berpaling ke yang lain. Allah Ta’ala berfirman,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang” (QS. Annur: 36)

Sumber: http://almosleh.com/ar/index.php?go=fatwa&more=3909

Penerjemaah: : dr. Raehanul Bahraen

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/20097-fatwa-ulama-bolehlah-shalat-di-gereja-ketika-tidak-ada-masjid.html

Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 7)

Baca pembahasan sebelumnya: Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 6)

Shalat Tahiyyatul Masjid Ketika Khatib Sedang Berkhutbah Jum’at

Ketika seseorang masuk masjid pada hari Jum’at dan khatib sedang khutbah Jum’at, maka tetap disyariatkan untuk shalat tahiyyatul masjid dua raka’at secara ringkas agar bisa segera mendengarkan khutbah Jum’at. Hal ini sebagaimana hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, kemudian bersabda,

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَقَدْ خَرَجَ الْإِمَامُ، فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi shalat Jum’at, dan imam telah keluar (naik mimbar), shalatlah dua raka’at.” 

Dalam satu riwayat disebutkan,

فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

“Shalatlah dua raka’at secara ringkas.” (HR. Bukhari no. 888, 1113 dan Muslim no. 875)

Hadits di atas adalah dalil tegas bahwa orang yang baru datang ketika khatib sudah berkhutbah, janganlah dia duduk sebelum menunaikan shalat tahiyyatul masjid dua raka’at terlebih dahulu. Hadits ini adalah argumentasi yang kuat atas pendapat sebagian ulama yang menyatakan tidak disyariatkannya shalat tahiyyatul masjid dalam kondisi seperti itu. 

Penjelasan An-Nawawi Asy-Syafi’i

An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

وهذا نص لا يتطرق إليه تأويل ولا أظن عالما يبلغه هذا اللفظ صحيحا فيخالفه

“Hadits ini adalah dalil tegas yang tidak membutuhkan takwil. Aku tidak memiliki sangkaan adanya seorang ulama yang mendapatkan hadits ini dan menyakininya sebagai hadits yang shahih, kemudian dia menyelisihi (kandungan) hadits ini.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 164 [Asy-Syamilah])

Hal ini juga dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِذْ جَاءَ رَجُلٌ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَصَلَّيْتَ؟ يَا فُلَانُ قَالَ: لَا، قَالَ: قُمْ فَارْكَعْ.

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepadanya, “Apakah kamu telah menunaikan shalat (dua raka’at), wahai Fulan?” Laki-laki itu pun menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Bangun dan shalatlah.” (HR. Bukhari no. 930 dan Muslim no. 875)

Penjelasan Hadits dari Abu Qotadah As–Sulami

Dalil lain dalam masalah ini hadits dari Abu Qatadah As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka shalatlah dua raka’at sebelum duduk.” (HR. Bukhari no. 444 dan Muslim no. 714)

Hadits di atas bersifat umum, artinya kapan saja masuk masjid, meskipun khatib sedang berkhutbah, maka disyariatkan shalat tahiyyatul masjid. 

Dua raka’at yang kami maksud ini adalah dua raka’at shalat tahiyyatul masjid, dan bukan dua raka’at shalat qabliyyah Jum’at. Hal ini karena shalat Jum’at tidak memiliki shalat sunnah rawatib qabliyyah [1]. Shalat yang disyariatkan ketika menunggu khutbah adalah shalat sunnah muthlaq yang tidak dibatasi dengan bilangan raka’at tertentu. [2]

[Bersambung]

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/51449-hukum-fiqh-shalat-tahiyyatul-masjid-bag-7.html

Lima Penjaga Nafsu Kita

BERGEGAS menata hati menanda diri masih berpakaian takwa. Tak sedikit di antara kita yang enggan beringsut dari satu keadaan seperti halnya berada dalam kubangan kesesatan. Dalam surat Al Fathir pun dikatakan ada orang yang dengan sengaja menzalimi dirinya. Yakni orang-orang yang lebih menikmati keburukan dibandingkan berada dalam kebaikan.

Langkah memang terasa lebih ringan kala nafsu mengajak pada kesesatan. Teringat sebuah ayat “innanafsa la amaratubbisuu’i illa ma rahima Rabbi” (Hanya Rahmat Allah yang membuat kita mampu menuju kebaikan).

Masya Allah. Jika bukan lantaran kasih sayangnya enggan kita beranjak dan bangkit menyambut apa yang telah dititahkan. Ada beberapa hal yang membantu menjaga kita agar nafsu terjaga dalam kebaikan.

1. Tilawah Alquran dan tadaburi isinya.
2. Berada di lingkaran orang-orang beriman yang adanya saling mengingat kan.
3. Memilih lingkungan kesalehan agar akhlak terpuji menjadi pilihan.
4. Belajar kisah para nabi, Rasul dan para pendahulu yang mana mereka sangat menjaga ketaatannya.
5. Mengingat perjalanan menuju kematian yang membuat kita gelisah bila jauh dari amalan.

Menjadi manusia berakhlak mulia, menjadi pribadi yang semangatnya menggelora agar mampu memenuhi amanah yang telah menanti kita. Bismillah.

[Ustazah Rochma Yulika]

INILAH MOZAIK

6 Sifat Buruk yang Wajib Dihindari Seorang Wanita

SETIAP pria pasti mendambakan calon istri atau istri yang shalilah. Tak peduli pria seperti apa, jika ditanya “mau menikah sama wanita seperti apa?” sudah pasti jawabannya “maunya nikah sama wanita yang shalihah. Lebih daripada itu, dalam Islam wanita shalihah juga diibaratkan seperti perhiasan yang paling indah di dunia melebihi intan dan emas sekalipun.

Namun fakta yang ada di lapangan justru tak seperti apa yang diharapkan. Bagi Anda seorang wanita yang belum menikah atau sudah punya suami, sepatutnya lebih berhati-hati, karena Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa wanita-lah yang paling banyak masuk neraka.

Semua ini terjadi lantaran wanita yang belum atau sudah menikah tidak mampu menjaga kehormatan dirinya. Berikut ini adalah beberapa sifat yang harus dihindari sebagai wanita:

1. Wanita Ananah

Wanita yang banyak mengeluh. Apa yang diberikan atau dilakukan suami untuk rumah tangganya semuanya tidak membuatnya bahagia dan tidak berpuas hati.

2.Wanita Mananah

Wanita yang suka meniadakan usaha dan jasa suami, akan tetapi sebaliknya menepuk dada. Wanita ini beranggapan bahwa dialah yang banyak berkorban untuk membangun rumah tangga. Dia suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukan untuk kebaikan rumah tangga. Biasanya wanita ini bekerja atau berkedudukan tinggi dan bergaji besar.

3. Wanita Hananah

Menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain (bekas suaminya dahulu) yang dikawininya sebelum sekarang, atau kepada anak dari suaminya yang lain, dan wanita ini berangan-angan mendapatkan suami yang lebih baik dari suami yang ada. Dengan kata lain, wanita seperti ini tidak bersyukur dengan jodohnya itu. Wanita seperti ini mengufuri nikmat pernikahan yang dianugerahkan Allah SWT. Dia juga merendahkan potensi dan kemampuan yang dimiliki suaminya.

4. Wanita Hadaqah

Melemparkan pandangan mata terhadap segala sesuatu, lalu menyatakan keinginan untuk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya. Selain itu, wanita ini suka mengikuti nafsunya. Wanita seperti ini membuat pusing kepala lelaki. Dia menginginkan apapun yang dia mau. Dia juga suka membandingkan dirinya dengan orang lain.

5. Wanita Basaqah

Sifat wanita ini memiliki dua makna:

a. Pertama, wanita seperti ini suka bersolek dan berhias diri. Namun sayangnya dia menghias diri bukan untuk suaminya tetapi untuk ditujukkan kepada dunia. Dan biasanya wanita ini suka melawan suami. Uangnya dihabiskan untuk membeli make-up, pakaian dan perhiasan. Wanita seperti ini juga sangat suka dipuji-puji. Jika dia kebetulan menjadi istri orang ternama, menjadi ketua dalam kumpulan itu, orang lain tidak boleh mengungguli dirinya.

b. Kedua, dia marah ketika makan dan tidak mau makan kecuali dipisah dengan yang lain. Dia tidak mau makan bersama-sama dengan orang lain.

6. Wanita Syadaqah

Wanita yang banyak bicara tentang perkara yang sia-sia dan membuat gaduh sekitar. []

Referensi: Ihya Ulumuddin-Imam Al Ghazali

ISLAMPOS


Jangan Mengganggu Jin, Jika Tak Mau Diganggu!

APA yang menyebabkan seseorang mudah kerasukan jin? Dengan memahami sebabnya, kita berharap bisa menghindarinya agar terhindar dari kerasukan jin.

Syaikhul Islam menjelaskan sebab seseorang mudah kerasukan jin, “Jin yang merasuki manusia bisa saja terjadi karena dorongan syahwat atau hawa nafsu atau karena jatuh cinta. Sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia”

“Bisa juga terjadi dan ini yang paling banyak karena kebencian atau kedzaliman (yang dilakukan manusia), misalnya ada orang yang mengganggu jin atau jin mengira ada seseorang yang sengaja mengganggu mereka, baik dengan mengencingi jin atau membuang air panas ke arah jin atau membunuh sebagian jin, meskipun si manusia sendiri tidak mengetahuinya. Namun jin juga bodoh dan dzalim, sehingga dia membalas kesalahan manusia dengan kedzaliman melebihi yang dia terima. Terkadang juga motivasinya hanya sebatas main-main atau mengganggu manusia, sebagaimana yang dilakukan orang jelek di kalangan manusia.” (Majmu al-Fatawa, 19/39).

Dalam karyanya yang lain, Syaikhul Islam menyimpulkan. Jin merasuki tubuh manusia karena 3 sebab:

[1] Terkadang karena seorang jin menyukai orang yang kesurupan, agar dia bisa menikmati kebersamaan dengannya. Kesurupan semacam ini yang paling mudah untuk disembuhkan dibandingkan yang lainnya.
[2] Terkadang karena manusia itu mengganggu jin ketika dia mengencingi mereka atau menyiramkan air panas ke mereka atau membunuh sebagian jin atau bentuk gangguan lainnya. Ini jenis kesurupan yang paling susah, bahkan banyak kejadian jin membunuh manusia yang kesurupan.
[3] Terkadang karena jin main-main, seperti gaya preman di kalangan manusia yang suka ganggu orang di jalan. (Daqaiq at-Tafsir, 2/137).

Memahami hal ini, kita menekankan, hindari semua yang bisa mengganggu jin. Seperti membuang air panas sembarang tempat atau mengencingi lubang, dst. Wal ilmu indallah. [Ustadz Ammi Nur Baits]

INILAH MOZAIK

Potret Umat di Akhir Zaman: Semakin Bodoh dalam Ilmu Agama

SEMAKIN dekat dengan hari kiamat, kehidupan manusia akan semakin bobrok akibat kebodohan mereka terhadap ilmu agama. Kelaka akan datang hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu agama, yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ

“Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. (HR. Al-Bukhori no.6654)

Kita bisa melihat pada hari ini sudah banyak syariat maupun sunnah Nabi SAW yang dilalaikan orang sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur (ditinggalkan).

Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika beliau bersabda dalam sebuah hadits,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing“. (HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman/232)

Semua ini disebabkan karena kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap agamanya dan sunnah Rasulullah SAW. Kurangnya perhatian mereka menuntut ilmu syar’i karena kesibukan duniawi yang memalingkan mereka. Sementara mereka tak ada perhatian lagi dengan majelis ilmu dan majelis ta’lim. Akibatnya, agama dan Sunnah Rasulullah SAW terasa asing dan aneh di sisi mereka.

Memang mereka terkadang mendatangi majelis ta’lim. Namun jika mereka hadir, nampak pada wajah mereka lelah dan keterpaksaan ikut majelis ta’lim. Mereka hanya sekadar hadir agar orang tidak mencelanya. Karenanya jangan heran jika kita melihat orang-orang ini hadir di majelis ta’lim, ada yang ngantuk, bahkan tidur. Ada yang bersandar di tembok, jauh dari ustaz. Ada yang sengaja duduk di belakang untuk sembunyi; jika ngantuk dan tertidur, ia bisa sembunyikan wajahnya di balik punggung kawannya. Ada yang cerita dengan temannya sehingga mengganggu ceramah ustaz. Ada yang melayang pikirannya entah kemana. Inilah kondisi mereka sehingga tak heran jika mereka tetap jahil terhadap agamanya.

Jika mendengar cerita yang menguntungkan dunianya, maka matanya terbelalak. Betul dunia adalah nikmat yang Allah berikan. Namun jangan dijadikan tujuan hidup dan pusat perhatian. Dunia diambil sekedar bekal menuju Allah Ta’ala.

Allah tidak memberikan nikmat kepada seorang hamba-Nya, kecuali nikmat itu hanya sekedar alat dan sarana yang dipakai untuk beribadah dan beramal sholeh. Dunia dengan segala nikmatnya bukanlah merupakan tujuan dan terminal terakhir bagi seorang muslim. Akan tetapi merupakan tempat persinggahan mengambil bekal menuju perjalanan akhir, yaitu akhirat.

Fenomena berlombanya kaum muslimin memperbanyak harta benda dan fasilitas duniawi sehingga membuat mereka lupa terhadap agamanya merupakan sebab tersebarnya kejahilan. Jika semakin hari, semakin tersebar kejahilan, maka ketahuilah bahwa ini adalah salah satu diantara ciri dan tanda dekatnya hari kiamat.

Nabi SAW bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَ يُثْبَتَ الْجَهْلُ

“Di antara tanda-tanda kiamat: Diangkatnya ilmu, dan kokohnya (banyaknya) kejahilan”. (HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya/80) dan Muslim dalam Shohih-nya/2671)

Rasulullah SAW juga bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُُرُ الْهَرْجُ

“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah, diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. (HR. Al-Bukhoriy no.989 dan Muslim no.157)

Di tengah kabut kejahilan menyelimuti manusia, tersebarlah berbagai macam maksiat berupa pembunuhan, pencurian, perzinaan, dan kerakusan terhadap harta. Ini semua diakibatkan oleh hilangnya ilmu agama yang bermanfaat di tengah manusia. Seperti fenomena memilukan yang kerap terjadi akhir-akhir ini. Wallahualam. []

SUMBER: QURAN DAN SUNNAH

ISLAMPOS

99 Catatan Amal Perbuatan dari Allah

RASULULLAH shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala memilih seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lantas Allah Subhanahu wa Taala menggelar untuknya sembilan puluh sembilan catatan amal perbuatan.

Setiap catatan sepanjang mata memandang, lantas Allah Subhanahu wa Taala bertanya kepadanya, Apakah ada sebagian di antaranya yang engkau ingkari? Dia menjawab, Tidak ada wahai Rabbku. Allah Subhanahu wa Taala bertanya lagi, Apakah juru penulisku, para malaikat hafizhun berbuat zhalim kepadamu?

Dia menjawab, Tidak ada wahai Rabbku. Allah Subhanahu wa Taala bertanya, Apakah kamu mempunyai alasan atau mempunyai suatu kebaikan? Dia menjawab, Tidak ada wahai Rabbku. Lantas Allah Azz wa Jalla berfirman,

“Benar, sesungguhnya kamu mempunyai kebaikan di sisi-Ku dan sesungguhnya pada hari ini tidak ada kezhaliman atas dirimu, lalu dikeluarkan untuknya sebuah kartu di dalamnya tertulis, Asyhadu an la ilaha illallah wa anna muhammadar rasulullah, kemudian Allah Subhanahu wa Taala berfirman, Hadirkan timbangan amalmu.

Lalu dia barkata, Wahai Rabbku! Apa artinya kartu ini di samping catatan-catatan amal ini? Lalu Allah Subhanahu wa Taala berfirman, Sungguh, kamu tidak akan dizhalimi, maka catatan amal akan diletakkan di dalam satu piringan timbangan, sedangkan tiket ini diletakkan di piringan timbangan lainnya. Lantas catatan amal perbuatan menjadi ringan dan tiket menjadi berat. Dan tidak ada sesuatu pun yang lebih berat bersama nama Allah Subhanahu wa Taala.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib. Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dan al-Hakim. Dia berkata, “Hadis ini shahih sesuai kriteria Imam Muslim.”

Laki-laki tersebut benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat tulus dari dalam hatinya. Dengan sebab itu Allah maafkan semua dosa-dosanya dan meraih tiket ke surga.

Betapa agungnya kalimat hari ini tidak ada kezhaliman atas dirimu, lalu dikeluarkan untuknya sebuah kartu di dalamnya tertulis, Asyhadu an la ilaha illallah wa anna muhammadar rasulullah.

[Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah/kisahmuslim]

INILAH MOZAIK

Keberkahan untuk Diri Sendiri dan Orang Lain

BERKAH secara bahasa dari kata al-buruk yang artinya menetap. Sumur bahasa arabnya birkah, karena ada air menetap di dalamnya. Kemudian kata ini digunakan untuk menyebut sesuatu yang memiliki banyak kebaikan. Allah menyebut al-Quran sebagai kitab yang diberkahi,

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29).

Karena dalam al-Quran menetap banyak kebaikan dari Allah. (al-Mufradat fi Gharib al-Quran, al-Ashfahani, hlm. 44). Menjadi manusia berkah berarti manusia yang memiliki banyak kebaikan. Kebaikan dalam bentuk, banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Dan itulah prestasi manusia yang sejatinya. Menjadi hamba Allah yang banyak memberikan manfaat bagi yang lain.

Dalam al-Quran, Allah menyebut Nabi Isa sebagai manusia yang diberkahi. Allah berfirman menceritakan perkataan Nabi Isa sewaktu masih bayi, “Dan Allah menjadikanku banyak keberkahan di manapun aku berada.” (QS. Maryam: 31).

Beliau disebut orang yang berkah, karena beliau membawa wahyu yang merupakan kebaikan untuk semua hamba. Menjadi manusia berkah juga merupakan cita-cita orang tua kita semua. Hampir setiap bayi yang diaqiqahi, orang tua selalu menggantungkan harapan, “Semoga menjadi anak yang bermanfaat, bagi orang tua, masyarakat, nusa bangsa, dan agama.”

Mereka berharap, agar kita menjadi manusia penebar manfaat. Manfaat tidak hanya untuk orang tua, tapi untuk lingkungannya. Ada seorang penulis yang mendoakan para pembaca karyanya agar menjadi manusia yang berkah di mana-mana. Beliau adalah Syaikh Muhammad bin Sulaiman at-Tamimi. Dalam kitabnya, qawaidul arba beliau mengatakan,

“Aku memohon kepada Allah yang mulia, Rab pemilik Arsy yang agung, agar Dia membimbing anda di dunia dan akhirat. Dan agar Dia menjadikan anda orang yang penuh berkah dimanapun anda berada.” (al-Qawaid al-Arba).

INILAH MOZAIK

Ilmu itu Didatangi, Bukan Mendatangi

ABU Abdillah Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Ilmu agama adalah bagaikan simpanan harta yang Allah bagikan kepada siapa saja yang Allah cintai. Seandainya ada segolongan manusia yang berhak untuk diistimewakan untuk menjadi ulama tentu keluarga Nabi-lah yang paling berhak mendapatkan pengistimewaan. Atha bin Abi Rabah adalah orang Etiopia. Yazid bin Abu Habib itu orang Nobi yang berkulit hitam. Al Hasan Al Bashri adalah bekas budak milik kalangan Anshar. Sebagaimana Muhammad bin Sirin adalah mantan budak dari kalangan Anshar.” (Shifat Ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Di antara ulama besar Islam di zaman tabiin yang berdomisili di Mekah adalah Abu Muhammad Atha bin Aslam Abu Rabah yang terkenal dengan sebutan Atha bin Abi Rabah. Di antara bukti ketinggian ilmu Atha adalah pujian Ibnu Umar untuk beliau. Dari Amr bin Said dari ibunya, sang ibu bertutur bahwa ketika Ibnu Umar tiba di Mekah para penduduk Mekah tanya-tanya soal agama kepada beliau. Mendapati fenomena tersebut Ibnu Umar mengatakan, “Wahai penduduk Mekah mengapa kalian berkumpul menanyaiku padahal di tengah-tengah kalian terdapat Atha bin Abi Rabah.” (Shifat ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Diantara sisi menarik dari hidup beliau adalah kisah berikut ini,

Dari Ibrahim bin Ishaq Al Harbi, beliau bercerita bahwa Atha adalah budak berkulit hitam yang dimiliki oleh seorang perempuan dari penduduk Mekah. Di samping berkulit hitam, Atha adalah seorang yang sangat pesek sehingga digambarkan bahwa hidung Atha itu hanya seakan-akan biji kacang yang ada di wajahnya. Suatu hari Khalifah ketika itu yang bernama Sulaiman bin Abdul Malik datang menemui Atha bersama kedua anaknya. Mereka bertiga duduk di dekat Atha yang saat itu sedang mengerjakan salat sunah di masjid. Setelah beliau menyelesaikan salatnya beliau memalingkan muka dari mereka bertiga. Mereka bertiga tidak henti-henti bertanya tentang berbagai hukum mengenai ibadah haji dan Atha menjawab pertanyaan mereka sambil membelakangi mereka. Setelah selesai bertanya di jalan pulang Khalifah Sulaiman berkata kepada kedua anaknya, “Wahai kedua anakku, janganlah kalian kendor dalam belajar agama karena aku tidak akan melupakan kehinaan kita di hadapan budak hitam ini.” (Shifat Ash Shafwah, jilid 2, hal. 211).

Ada beberapa petikan pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas:

1). Ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Lihatlah bagaimana seorang khalifah mendatangi seorang ulama untuk bertanya tentang masalah agama.

Dari Abul Qasim At Tafakur, aku mendengar Abu Ali al Hasan bin Ali bin Bundar Al Zanjani bercerita bahwa Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus seseorang kepada Imam Malik bin Anas agar beliau berkenan datang ke istana supaya dua anak Harun Ar Rasyid yaitu Amin dan Makmun bisa belajar agama langsung kepada Imam Malik. Imam Malik menolak permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid dan mengatakan, Ilmu agama itu didatangi bukan mendatangi.

Untuk kedua kalinya Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus utusan yang membawa pesan sang khalifah, Kukirimkan kedua anakku agar bisa belajar agama bersama muridmuridmu. Respon balik Imam Malik, Silahkan dengan syarat keduanya tidak boleh melangkahi pundak supaya bisa duduk di depan dan keduanya duduk di mana ada tempat yang longgar saat pengajian. Akhirnya kedua putra khalifah tersebut hadir dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Imam Malik. (Mukhtashar Tarikh Dimasyq, hal. 3769, Syamilah).

2). Seorang yang rendah di mata manusia dapat menjadi mulia karena ilmu. Lihatlah seorang kepala negara dengan kekuasaan nan luas nampak hina di hadapan seorang mantan budak yang berkulit hitam legam. Seorang budak yang tentu tidak punya kelas istimewa di mata manusia dan seorang yang buruk rupa nampak mulia di depan seorang kepala negara. Realita ini adalah di antara bukti benarnya sabda Nabi,

Umar mengatakan “Sesungguhnya Nabi kalian pernah mengatakan, Sesungguhnya Allah itu memuliakan dengan sebab Alquran (baca:ilmu agama) sebagian orang dan menghinakan sebagian orang dengan sebab Alquran (baca: berpaling dari ilmu agama).” (HR. Muslim, no. 1934).

3). Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik adalah seorang penguasa yang memiliki kualitas agama yang cukup baik. Ini dibuktikan dengan tidak canggung untuk bertanya kepada ulama sambil merendah-rendah di hadapan ulama dan kepergian beliau ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. al Munafiqun:10).

Yang dimaksud dengan aku termasuk orang-orang yang saleh’ adalah aku akan berhaji. Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah ada orang yang berkewajiban untuk membayar zakat dan berhaji namun tidak melakukannya melainkan saat kematian pastilah dia akan memohon kepada Allah agar bisa kembali ke dunia” (Tafsir al Jalalain, hal. 566, terbitan Darus Salam Riyadh cet. kedua 1422 H).

4). Orang yang hendak mempraktikkan perilaku salaf dalam menyikapi orang lain-bukan dalam masalah praktik salaf dalam menjelaskan ibadah mahdhah-hendaknya menimbang perubahan dan perbedaan kondisi masyarakat, mulia dan tidaknya ilmu agama dan ulama ahli sunah di masyarakat saat ini dan baik buruknya dampak perilaku tersebut terhadap citra Islam dan kaum muslimin secara umum dan citra dai, penuntut ilmu, ahli sunah dan orang-orang saleh secara khusus. Kita tentu sepakat bahwa jika perbuatan Atha di atas (menjawab pertanyaan dengan membelakangi penanya) ditiru mentah-mentah oleh seorang ulama atau dai saat ini terhadap para penguasa saat ini, tentu yang terjadi adalah salah faham, buruk sangka dan citra buruk untuk Islam, dakwah Islam, ulama, dai bahkan umumnya kaum muslimin.

Sungguh tidak tepat praktik dakwah sebagian orang yang bersemangat meniru ulama salaf dalam rangka menyikapi orang lain tanpa menimbang adanya berbagai faktor yang melingkupi praktik ulama salaf sehingga praktik mereka di zaman mereka adalah praktik yang tepat, bijak dan tepat sasaran saat itu. [Ustaz Aris Munandar, M.A.]

INILAH MOZAIK

Yuk Doakan Kebaikan untuk Penguasa

DI antara konsekuensi tuntutan baiat, yaitu memberi nasihat kepada penguasa. Dan termasuk bentuk nasihat itu, ialah mendoakan kebaikan untuk penguasa agar diberikan taufik, hidayah dan niat yang baik, amal, dan agar diberikan pembantu-pembantu yang baik. Ini termasuk menjadi sebab seorang penguasa diberikan taufik oleh Allah Subhanahu wa Taala.

Fudhail bin Iyadh rahimahullah, salah seorang ulama besar dari kalangan tabi’ut tabi’in berkata, “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya karya Abu Nuaim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya At Turots Al Iroqiy)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga memerintahkan, “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Dari Auf bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan salat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855)

Salah satu contoh doa dari Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin pada salah satu khotbah Jumat beliau:

“Ya Allah, berilah kami keamanan di negeri kami, jadikanlah pemimpin kami dan penguasa kami orang yang baik. Jadikanlah loyalitas kami untuk orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti rida-Mu, yaa Rabbal alamin. Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk menempuh jalan petunjuk-Mu, jadikanlah sikap dan perbuatan mereka sesuai rida-Mu, dan berikanlah teman dekat yang baik untuk mereka, yaa Rabbal alamin.” [*]

INILAH MOZAIK