Inilah 8 Adab Bertamu

BERTAMU adalah bagian dari cara bersillaturrahim, merupakan amalan utama yang dicontohkan Rasululah ﷺ. Beliau memberikan contoh dan petunjuk serta mengajarkan adab bertamu yang baik, sebagaimana sebaiknya kita bertamu.

Selain itu, bertamu adalah kegiatan yang lumrah dilakukan oleh banyak orang. Terutama saat Hari Raya Lebaran, di mana umat muslim melakukan silaturahmi di kampung halaman.

Namun dalam proses bertamu, tentunya Islam mengajarkan sebuah adab yang harus dijaga agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan dan perselisihan. Allah ﷻ berfirman bahwa sebaik-baik tamu adalah yang membawa kabar gembira. Hal ini tercantum pada surat Al Hijr ayat 51-54:

وَنَبِّئۡهُمۡ عَن ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٥١ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗا قَالَ إِنَّا مِنكُمۡ وَجِلُونَ ٥٢ قَالُواْ لَا تَوۡجَلۡ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٖ ٥٣ قَالَ أَبَشَّرۡتُمُونِي عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِيَ ٱلۡكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ ٥٤

Artinya: “Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim; Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: “Salaam”. Berkata Ibrahim, “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.” Mereka berkata, “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.” Berkata Ibrahim, “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?”

Maka, inilah delapan adab saat bertamu :

1 Adab bertamu:  Menggunakan Pakaian yang Sopan dan Rapi

Adab bertamu pertama yang baik dalam Islam adalah menggunakan pakaian yang sopan dan rapi. Namun, ini adalah hal yang seharusnya diperhatikan saat berpergian kemanapun.

Karena, saat kita mengenakan pakaian yang sopan dan rapi itu akan membuat kita menjadi enak dipandang, tak hanya itu, berpakaian yang rapi juga merupakan salah satu bentuk menghargai diri dan pemilik rumah. Dengan memakan pakaian yang sopan dan rapi, tak hanya kamu yang merasa nyaman, orang yang kamu jumpai juga akan merasakan hal serupa.

Meski dengan pakaian yang sederhana, usahakan agar penampilan kita rapi. Jangan memakai baju yang kusut atau bau.

2 Adab bertamu:  Mengetuk atau Menekan Bel 3 Kali

Saat bertamu, kita harus meminta izin untuk masuk ke rumah tuan rumah. Itu adalah adab bertamu yang meski kita tanamkan selalu.

Mengetuk atau menekan bel merupakan bentuk meminta izin kepada tuan rumah. Hal yang perlu diperhatikan adalah cara mengetuk pintu, kamu harus melakukannya dengan sopan jangan asal-asalan.

Mengetuk pintu yang asal-asalan atau terlalu keras bisa berakibat mengganggu pemilik rumah. Karena itu, Nabi mengajarkan untuk mengetuk rumah sebanyak tiga kali ketukan yang berjeda.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:

“Meminta izin itu tiga kali, jika diizinkan maka masuklah, jika tidak, maka pulanglah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di dalam Al-Qur’an surat An Nuur ayat 28 juga dijelaskan mengenai izin bertamu dengan mengetuk pintu.

“Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, ‘Kembalilah!’ Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.An-Nur:28)

3 Adab bertamu:  Mengucapkan Salam

Tentunya, ini adalah adab bertamu yang tidak boleh terlewat. Setelah mengetuk dan mendapatkan izin dari pemilik rumah, kita sebagai sseorang tamu juga hendaknya meminta izin untuk masuk rumah dan terlebih dahulu mengucapkan salam agar lebih sopan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. ” (Q.S. AN-Nur:27)

4 Adab bertamu:  Dilarang Mengintip ke dalam Rumah

Ini adalah adab bertamu yang buruk. Jika memang tidak ada orang yang keluar saat kita mengetuk pintu, jangan sekali-kali mengintipnya.

Mengintip ke dalam rumah merupakan adab bertamu yang tidak sopan dan dapat menimbulkan kesan yang kurang baik seolah-olah seperti orang yang akan mencuri.

Larangan mengintip ke dalam rumah saat bertamu juga telah di sampaikan Rasulullah saw. Sebagaimana Beliau bersabda yang artinya;

“Dari Sahal bin Saad ia berkata: ada seorang lelaki mengintip dari sebuah lubang pintu rumah Rasulullah saw. dan pada waktu itu beliau sedang menyisir rambutnya. Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika aku tahu engkau mengintip, niscaya aku colok matamu. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk meminta izin itu adalah karena untuk menjaga pandangan mata.’” (HR.Bukhari).

5 Adab bertamu:  Beramah tamah

Adab bertamu selanjutnya adalah beramah tamah kepada pemilik rumah, tujuannya tentu saja agar pemilik rumah juga merasa nyaman saat menerima tamu. Terutama jika kamu baru pertama kali mengunjungi rumah dan pemilik rumah belum mengenali sama sekali tamunya.

Bahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dijelaskan apabila seorang tamu ditanya “siapa kamu?” Harus di jawab dengan jelas, agar si pemilik rumah paham sehingga tidak timbul rasa curiga.

Karena itulah, usahakan untuk bertanya tentang kabar dan memberikan kabai baik bagi sang tuan rumah. Dan jangan menyinggung hal yang akan membuat tuan rumah tersinggung.

6 Adab bertamu:  Duduk dengan Sopan

Saat bertamu, biasakan untuk duduk dengan sopan, jangan menebar pandangan ke sembarang arah karena akan membuat tuan rumah menjadi tidak nyaman dan curiga.

Walaupun terlihat sederhana kebiasaan duduk yang baik dan sopan juga harus dibiasakan sejak kecil serta dilatih saat di rumah sendiri agar menjadi kebiasaan saat kita tidak berada di rumah sendiri.

7 Adab bertamu:  Jangan Terlalu Lama Saat Bertamu

Bertamu sebaiknya jangan terlalu lama, dikhawatirkan tuan rumah akan bosan ataupun memiliki kesibukan lain.

Namun, karena adanya tamu si pemilik rumah merasa kurang enak apabila ia meninggalkan apalagi mengusir tamu yang berkunjung.

Untuk itu, tamu juga harus bisa paham dan mengerti batasan waktu bertamu.

8 Adab bertamu:  Waktu Bertamu yang Baik

Di samping itu semua, poin terakhir ini adalah adab bertamu yang paling utama.

Dalam Islam, salah satu waktu yang baik untuk bertamu adalah sebelum waktu isya sehingga tidak terlalu malam dan tidak mengganggu jam istirahat pemilik rumah.

Hindari bertamu pada waktu-waktu sehabis Zuhur, sesudah Isya, dan sebelum Subuh.

Sebab, waktu-waktu tersebut sering kali digunakan untuk tidur atau beristirahat, sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Anas yang berkaitan dengan waktu yang baik untuk bertamu.

“Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Biasanya ia datang kepada mereka pada waktu pagi atau sore.” (Muttafaqun ‘Alaihi) []

ISLAMPOS

Keutamaan Memuliakan Tamu

Tamu dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat terhormat. Maka itu, umat diperintahkan untuk memuliakan tamu, sehingga menjadi tuntunan dan akhlak mulia. Banyak ayat Alquran maupun hadis yang terkait dengan amalan ini.

Salah satunya hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA. Dalam hadis tersebut, Rasulullah menyandingkan dua amalan utama dalam Islam, yakni berbuat baik kepada tetangga, serta memuliakan tamu.

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (Mutafaq’alaih)

Imam al-Qadhi Iyadh dalam memaknai hadis di atas, menerangkan, ketika umat berupaya menjalankan syariat Islam, maka wajib baginya untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.

Di sisi lain, ada pula hadis itu juga mengaitkan memuliakan tamu dengan kesempurnaan keimanan, kepada Allah dan hari akhir. Ini adalah upaya menuju keimanan yang paripurna, mengingat beriman kepada Allah dan hari akhir, merupakan bagian dari enam rukun iman yang wajib diyakini oleh segenap umat.

Alquran pun memberikan teladan dalam kisah Nabi Ibrahim AS. Suatu hari, Nabi Ibrahim menerima dua tamu yang tidak dikenalnya. Tamu-tamu itu adalah malaikat yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan kabar akan kelahiran Ishaq, anak Nabi Ibrahim dari Siti Hajar.

Pada surat az Dzariyaat [51] ayat 24-17, dipaparkan bagaimana Nabi Ibrahim memuliakan tamu-tamunya. Beliau segera membalas salam dari para tamu itu, mempersilahkan mereka masuk ke rumah dan menyuguhkan makanan dengan daging anak sapi yang gemuk.

Demikian halnya Rasulullah SAW selalu memuliakan tamunya, baik dari kalangan sahabat maupun rakyat biasa. Nabi pun tidak sungkan menerima tamu dari kalangan non-Muslim sekalipun.

Berdasar hadis dari Imam Muslim dari Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah menjamu seorang tamu yang kafir. Untuk menjamunya, Rasulullah meminta diperahkan susu kambing, dan lantas diminum oleh si tamu. Hal itu berlangsung hingga tujuh kali. Dan saat pagi ia sudah masuk Islam.

Islam tak sekadar menganjurkan umat memuliakan tamu, tapi juga memerinci hal-hal yang perlu dilakukan tuan rumah. Antara lain menyambutnya dengan wajah menyenangkan, mempersilakan duduk, menyuguhkan makan dan minum, serta memenuhi hak tamunya. Pun saat si tamu pulang, tuan rumah hendaknya mengantarkannya sampai ke pintu, dan tidak dianjurkan menutup pintu sebelum tamu itu pergi.

Lebih jauh, dalam menjamu tamu, mengemuka beberapa pendapat di kalangan ulama. Pertama, yang menyatakan hukumnya sunah, bukan wajib. Ini merupakan pendapat jumhur (kebanyakan) ulama seperti Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafi’i. Sementara ulama seperti Imam Ahmad dan lainnya, berpendapat hukumnya wajib. Adapun dalilnya adalah hadis dari Abu Syuraih al Adawi.

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tamunya yaitu jaizah-nya. Para shahabat bartanya apa yang dimaksud dengan jaizah itu? Rasulullah menjawab, ”Jaizah itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya).” (HR Bukhari dan Muslim).

Supaya tamu tidak sakit hati, perhatikan adab bertamu Rasulullah

Rasulullah SAW sudah mengajarkan umatnya cara bertamu yang baik. Ini perlu diperhatikan agar sebagai tamu, kita tetap menjaga kehormatan dan perasaan tuan rumah.

Pernah suatu kali Nabi menunjukkan ketidaksukaannya kepada Jabir yang hendak menagih hutang. Menurut Hadis Riwayat Al Bukhari, Jabir mengetuk pintu rumah Rasulullah.

Saat Rasulullah bertanya, “siapa?.
Jabir hanya menjawab,”Aku”. Jawaban itu terus diulang-ulang.

Nabi tidak menyukainya dan menasehati Jabir agar menyebutkan nama ketika ditanya.

Saat berkunjung pun, Nabi mengajari sahabatnya agar mengucapkan salam dan bertanya, “Boleh aku masuk?” dikutip dari riwayat Abu Dawud, Kamis (9/7).

Jika sudah meminta izin tiga kali namun tidak ada jawaban maka diperbolehkan pulang.

Kemudian Rasulullah juga meminta para sahabat untuk tidak mengetuk pintu rumah dengan kuku, seperti yang dilakukan masyarakat Arab kala itu. “Mengetuk pintu dengan jari untuk menunjukkan kesopanan,” kutip Hadis Riwayat Al- Bukhari.

 

sumber: Merdeka.com