Menguatkan Keikhlasan

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Besar, Maha Kuat, lagi Maha Pengasih dan Maha Penyayang, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, kadang ketika kita sudah berupaya menjaga niat dalam beramal agar senantiasa ikhlas, datanglah ujian berupa penghargaan atau sanjungan dari makhluk. Pada titik ini hati kita diuji apakah akan berbelok ataukah akan tetap konsisten, istiqomah dalam keikhlasan.

Kita memang tidak bisa menahan orang lain untuk berkomentar apapun tentang kita, baik itu komentar yang enak didengar maupun yang tidak enak. Kita pun tidak bisa sepenuhnya mengontrol agar amal yang kita lakukan benar-benar luput dari penglihatan atau pengetahuan orang lain. Adakalanya amal kita Allah takdirkan untuk terlihat, terdengar oleh orang lain.

Disinilah letak ladang ibadah bagi kita. Saat pujian, sanjungan, penghargaan orang lain menghampiri kita dan kita menerimanya dengan penuh rasa hormat sementara hati kita terus-menerus istighfar, membersihkan hati dari bibit-bibit riya, membungkus pujian-pujian makhluk dan menyerahkannya hanya kepada Allah, inilah ikhtiar kita menguatkan niat ikhlas lillaahitaala.

Begitu juga jika yang datang kepada kita adalah cibiran, hinaan hanya karena kita beramal sholeh, maka inipun sama merupakan rezeki tambahan dari Allah Swt. Mengapa disebut rezeki tambahan? Karena Allah Swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk latihan mujahadah dalam menjaga keikhlasan. Tidak ada yang sia-sia di hadapan Allah. Maasyaa Allah.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akantetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)

Semoga Allah Swt. memberi kita hidayah sehingga kita semakin istiqomah dalam keikhlasan beribadah, hanya mengejar ridho Allah Swt. Aamiin yaa Robbalaalamiin.[smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAHMOZAIK

Sudah Ikhlaskah Kita Selama Ini?

Barangkali memang kita benar-benar harus selalu berusaha dan mengingatkan hati kita, bahwa kita melakukan perbuatan apapun harus karena Allah. Sebab jika tidak, yang paling ditakutkan adalah amal kita tidak Allah terima karena telah membuat-Nya cemburu. Betapa ruginya, melakukan segala bentuk ibadah, namun bukan karena Allah. Padahal Allah berfirman: “…dan tidaklah kalian diperintah kecuali beribadah kepada Allah dengan ikhlas..”(QS. 98: 5).

Saudaraku, ketahuilah bahwa nilai dan semerbaknya sebuah amal dilatarbelakangi oleh keikhlasan. Bahkan tersebarluasnya dakwah ke seluruh penjuru dunia adalah contoh nyata hasil kerja pribadi-pribadi ikhlas. Mereka tidak mengharapkan apapun, kecuali ridha Tuhannya. Mereka tidak menginginkan apapun, kecuali cinta Rabbnya. Cinta pasti membutuhkan pembuktian.

Dan Allah, sungguh akan mengujinya, yaitu dari bagaimana cara hamba-Nya menempatkan diri sebagai seorang hamba; beribadah pada-Nya. Apakah semua itu dilakukan semata karena-Nya, atau karena selain-Nya. Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. 51:56).

Berbicara tentang ibadah, tentu amat luas. Namun hakikatnya segala bentuk amalan yang dilakukan ikhlas semata karena-Nya, dan sesuai dengan apa yang Rasulullah contohkan, adalah ibadah. Sebab darinya Allah mendatangkan pahala, entah dari kenikmatan maupun dari ujian.

Sahabat, sesungguhnya perkara yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal, namun keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila dilakukan dengan ikhlas semata karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Berkata Abdullah bin Mubarak, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat (ikhlas), dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat (tidak ikhlas)”.

Sebagian dari kita mungkin masih ada yang belum paham sepenuhnya tentang ikhlas. Sebab memang kebanyakan di antara manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya pada perkara-perkara ibadah; shalat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ketahuilah bahwa sebenarnya keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Perkara kecil sebatas tersenyum pada saudara kita pun, harus ikhlas.

Bukan agar dianggap baik, bukan agar dinggap murah senyum, atau apapun yang tidak akan dibawa mati. Sebab semua itu tidak ada apa-apanya. Yang ada apa-apanya hanyalah ketika Allah meridhainya atas apapun yang hamba-Nya lakukan karena-Nya.

Selama ini mungkin kita juga masih ada yang merasa bingung, mengapa dari sekian banyak amal yang dilakukan, tidak banyak yang bertahan; berguguran satu persatu. Tidak istiqomah. Ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minimnya atau bahkan tidak adanya keikhlasan dalam diri kita.

Belajar ikhlas, berarti belajar menyayangi hati dan diri kita. Sebab ikhlas adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan kita dari jeratan noda-noda kesyirikan sehalus apapun, setelah kita melakukan suatu amalan. Bila kita merasa sakit hati ketika sebuah kebaikan yang dilakukan tidak mendapat balasan yang kita pikir layak kita terima, maka ikhlaskan saja.

Bebaskan amal kebaikan kita dan biarkan amalan itu menemukan jalannya kepada Allah semata, seraya kita terus berdoa agar amal yang kita lakukan itu Allah terima. Insya Allah hati kita akan tetap lembut, pikiran tidak akan kalut, dan kita akan tetap terjaga untuk terus istiqomah di jalan Allah.

Maka, teruslah introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini. Semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan, kesyirikan, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Aamiin.

sumber: daaruttauhiid.org/ikhlaskah-kita-selama-ini/

MUSLIMDAILY

Ikhlas di Tiga Waktu

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Dzat yang telah menciptakan langit, bumi dan segala yang ada. Seluruh makhluk ada dalam kekuasaan-Nya dan tiada berdaya tanpa pertolongan-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt. berfirman, “..Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al Kahfi [18] : 110)

Ikhlas itu mesti kita jaga pada tiga waktu. Pertama, adalah ketika kita hendak beramal. Kondisikan dulu hati untuk lurus hanya mengharapkan penilaian Allah Swt. Mantapkan hati agar benar-benar bersih dari unsur ujub, riya, sumah. Ini penting karena betapa licinnya dan halusnya syaitan menggoda kita agar hati kita tergelincir. Padahal baik buruknya, benar salahnya setiap urusan kita adalah diawali dari baik buruknya, benar salahnya hati.

Kedua, adalah ketika beramal. Boleh jadi ketika kita melakukan amal kebaikan, tiba-tiba datanglah pujian, sanjungan dari orang lain. Tentu siapapun akan senang jika mendapat pujian dan sanjungan. Tapi, di sinilah terdapat celah yang rentan membuat kita terlena dan terbuai sehinga merasa diri hebat dan lupa kepada Dzat yang telah memberi kita kekuatan, Allah Swt.

Maka, perlu kita untuk bermujahadah menjaga niat yang sudah kita tekadkan sejak awal. Sehingga kita bisa istiqomah dalam keikhlasan.

Ketiga, setelah beramal. Mungkin ada penghargaan dari orang lain atas prestasi kita. Atau bahkan boleh jadi tidak ada yang memuji, menyanjung kita, malah yang ada justru orang yang tidak menghargai amal kita. Nah, di sinilah hati kita diuji. Hati bisa terbuai oleh penghargaan dari manusia, dan hati juga bisa goyah saat ada yang merendahkan kita.

Bagi orang yang hatinya lurus lillaahitaala, segala bentuk penilaian manusia itu tidaklah ada apa-apanya dibandingkan penilaian Allah Swt. Jika dipuji, maka ia akan memuji Allah dan menyerahkan pujian tersebut kepada Allah. Sedangkan jika dia dihina, direndahkan, maka ia akan beristighfar, memohon ampunan Allah karena boleh jadi itu adalah ujian agar dirinya bisa memperbaiki diri dan bersandar hanya kepada Allah semata.

Saudaraku, semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan hidayah kepada kita sehingga kita menjadi orang-orang yang istiqomah menjaga niat dalam setiap ucapan dan perbuatan kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Sanggupkah Kita Memalingkan Dunia dari Hati?

SESEORANG bertanya kepada Syaqiq ibn Ibrahim, “Manusia menyebutku orang saleh. Tetapi, bagaimana caranya saya tahu bahwa saya ini orang yang saleh atau bukan?”

Syaqiq menjawab, “Pertama, tampakkanlah amalan yang kamu rahasiakan di hadapan orang-orang saleh. Jika mereka meridainya, berarti kamu termasuk orang saleh. Jika mereka tidak meridainya, kamu belum tergolong orang saleh. Kedua, palingkan dunia dari hatimu. Jika kamu sanggup berpaling dari kehidupan dunia, berarti kamu termasuk orang saleh. Jika kamu tidak sanggup, kamu belum termasuk orang saleh. Ketika, palingkanlah kematian dari jiwamu. Jika kamu berani mengharapkan kematian, berarti kamu termasuk orang saleh. Jika kamu belum berani menghadapi kematian, kamu belum termasuk orang saleh. Jika tiga hal ini telah berkumpul dalam dirimu, rendahkanlah dirimu kepada Allah agar amalanmu tidak ternodai oleh sifat ria dan tetaplah istiqamah dengan amalanmu.”

Hamid al-Laffaf berkata, “Jika Allah menghendaki seseorang celaka, maka Allah akan menyiksanya dengan tiga tanda. Pertama, Allah memberikan ilmu kepadanya, tetapi Allah tidak
menganugerahkan kemampuan untuk mengamalkan ilmu itu. Kedua, orang itu senang berkumpul dengan orang-orang saleh, tetapi ia sendiri enggan mengetahui kewajiban-kewajiban orang saleh. Ketiga, Allah membukakan pintu ketaatan baginya, tetapi ia tidak dapat ikhlas beramal.”

Berkaitan dengan perkataan itu, seorang fakih berkata, “Itu terjadi karena orang itu menyimpan niat dan tujuan yang buruk. Seandainya niatnya baik, maka Allah akan menganugerahinya manfaat ilmu dan keikhlasan beramal.”

Ingatlah kalimat dalam satu syair yang menyebutkan..
Riya dapat mengikis pahala amal yang seseorang lakukan..
Jika kamu beramal dengan ria, tak aka nada pahala yang kamu dapatkan.

Jadi kembali lagi ke pribadi kita masing-masing, apakah kita ingin dirahmati Allah semua amalan yang telah kita perbuat, atau malah Allah menghendaki kita celaka karena sifat ria yang terselip dalam hati kita? [Chairunnisa Dhiee]

 

Sumber buku “Ikhlas Tanpa Batas”

INILAH MOZAIK

Belajar Ikhlas

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Tiada yang kuasa menciptakan alam semesta yang mengagumkan ini selain Allah, tiada yang mampu menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup kecuali Allah. Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita pasti akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Mengapa itikaf di masjid? Karena untuk menghemat sewa kontrakan. Mengapa rajin shaum senin-kamis? Karena ingin langsing sekaligus menghemat uang jajan. Mengapa disiplin sholat subuh di awal waktu? Karena ingin wajah terlihat berbinar.

Saudaraku, Allah Swt berfirman,“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)..”(QS. Az Zumar [39] : 2-3)

Saudaraku, marilah kita senantiasa berhati-hati dalam menjaga kebersihan hati agar senantiasa lurus dan murni dalam berniat. Karena Allah Swt hanya menerima amal sholeh seorang hamba yang dilakukan dengan niat ikhlas hanya mengharapkan ridho-Nya semata. Boleh jadi kita menunaikan rencana niat baik kita, tetapi saat melakukannya hati kita berbelok menjadi berharap sesuatu yang lain selain penghargaan Allah.

Seperti saat ikut aksi bela Islam tempo hari di Jakarta. Mari kita tafakuri kembali, muhasabah kembali apa sebenarnya niat kita. Kegiatan tersebut adalah kegiatan yang direncanakan sebagai kebaikan, sebagai amal sholeh kita sehingga kita berusaha sekuat tenaga agar semuanya berlangsung tertib dan damai, ada dalam ridho Allah Swt. Namun, bagaimana dengan hati kita, jangan sampai niat kita malah hanya ingin dilihat orang lain sebagai pemberani, jangan sampai niat kita hanya ingin berfotoselfiesehingga dikagumi orang lain.

Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya pernah mengingatkan kepada kita tentang seorang mujahid yang gugur di medan jihad, seorang dermawan yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, dan seorang yang hafal dan paham Al Quran, tetapi ketiganya masuk neraka. Sebabnya hanya satu, karena bukan Allah yang ada di dalam hatinya.

SubhaanAllah!Marilah kita terus-menerus melatih diri untuk terampil menjaga niat. Semoga Allah Swt menerima amal sholeh kita dan membimbing kita dengan hidayah-Nya sehingga kita termasuk orang-orang yang ikhlas.Aamiin yaa Robbalaalamiin. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Ikhlas Perlu Perjuangan

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menolong lagi Maha Menjaga, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang senantiasa mendapatkan hidayah-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman,“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”(QS. Al Bayyinah [98]:5)

Salah satu godaan syaitan yang seringkali menyergap manusia adalah godaan niat ketika beramal. Tidak jarang kita beramal baik kemudian ada orang lain yang memuji kita maka hati kita pun berbunga-bunga karena senang dengan pujian itu. Secara halus niat kita pun berbelok dari yang tadinya tulus saja beramal, menjadi berharap mendapat pujian yang lebih banyak dari manusia.

Atau, tidak jarang juga kita sedang melakukan kebaikan dengan tulus, kemudian ada orang lain yang malah menjelek-jelekkan kebaikan kita, merendahkan amal kita, meremehkan perbuatan kita, maka seketika kita menghentikan amal kita dan sibuk dengan rasa kesal dan amarah yang memenuhi rongga dada. Kita yang sudah berniat dengan aman di awal, menjadi berbelok niatnya karena terpengaruh omongan orang lain.

Saudaraku, ternyata untuk ikhlas dalam beramal itu perlu perjuangan. Tidak selesai hanya pada ucapan lisan saja bahwa kita ikhlas, melainkan harus meresap ke dalam hati dan istiqomah.

Ketika dipuji orang lain ataupun direndahkan oleh orang lain, kita perlu senantiasa sadar bahwa dua keadaan ini sama-sama kesempatan bagi kita untuk berlatih, yaitu berlatih memelihara keikhlasan. Saat dipuji, kita kembalikan kepada Allah, dan saat direndahkan kita tetap berpegang teguh kepada Allah Swt. Inilah keindahan orang yang ikhlas, dalam keadaan seperti apapun hanya Allah saja yang memenuhi hatinya. Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah Swt yang terampil menjaga keikhlasan.Aamiin yaa Robbalaalamiin.[smstauhid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Kenapa Engkau Tidak Ikhlas Saja dalam Beramal?

SEBENARNYA jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlas kepada-Nya niscaya dunia pun akan menghampirinya tanpa mesti dia cari-cari. Namun, jika seseorang mencari-cari dunia dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini!

Semoga sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam bisa menjadi renungan bagi kita semua, “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah saudaraku-, kita ikhlashkan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai ridho Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini!

Semoga Allah selalu memperbaiki aqidah dan setiap amalan kaum muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus. Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala wa alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal]

 

 

INILAH MOZAK

 

Jika Tidak Ikhlas

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menguasai seluruh alam ini, menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang terampil menjaga kebersihan hati. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw. bersabda,“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”(HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)

Saudaraku, yang membuat hidup ini terasa berat adalah jikalau hati tidak ikhlas dalam beramal. Meski amal yang dilakukan adalah amal yang ringan, namun jika tidak ikhlas maka akan terasa sangat menyusahkan. Orang yang ikhlas akan ringan saja menjalani hidup ini karena besar atau kecil amal yang ia lakukan, ia akan senantiasa menikmatinya karena yakin Allah Maha Mengetahui dan Maha Menepati Janji. Sedangkan orang yang tidak ikhlas, meski hanya memindahkan bungkus permen yang tercecer ke dalam tong sampah, akan terasa berat jikalau tidak ada orang yang melihatnya.

Sungguh rumit hidup orang yang tidak ikhlas, kemana-mana yang dicari adalah penilaian makhluk. Melakukan apapun ia selalu berharap-harap dipuji orang lain, berharap-harap diberi balas jasa oleh orang lain, berharap dihargai, disanjung oleh orang lain. Dan, jika ia sudah beramal namun tidak mendapatkan hal tersebut, betapa nelangsa hatinya. Sehingga ia tidak mendapatkan apapun dari amalnya kecuali lelah belaka.

Inilah orang yang riya, yang berharap-harap amalnya dilihat dan dipuji orang lain. Sangat rugi orang yang riya, karena amalnya akan hangus begitu saja. Abu Said Al Khudri menyampaikan sebuah riwayat bahwa suatu ketika Rasulullah Saw. pernah mengingatkan akan bahaya Dajjal. Lantas beliau bersabda,“Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih aku takutkan bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al Masih Ad Dajjal?”Para sahabat berkata,“Tentu ya Rosululloh.”Kemudian beliau bersabda,“Syirik khofi (syirik yang samar) di mana seseorang sholat lalu ia perbagus sholatnya agar dilihat orang lain.”(HR. Ibnu Majah)

Semoga Allah Swt. senantiasa memberi petunjuk kepada kita sehingga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Aamiin yaa Robbal aalamiin. 

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

SMS TAUHIID

Belajar Ikhlas

Ikhlas itu kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Karena itu, kita perlu belajar dan membiasakan diri menjadi mukhlis (orang yang ikhlas).

Dari segi bahasa, ikhlas itu mengandung makna memurnikan dari kotoran, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan kita dalam melakukan suatu amalan.

Ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, seperti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Ungkapan “semata-mata karena Allah SWT” setidaknya mengandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih al-niyyat), sesuai tata caranya (shalih al-kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari rida Allah SWT (shalih al-ghayat), bukan karena mengharap pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah SWT.

Beribadah secara ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang saleh karena ikhlas mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan atau menuhankan selain- Nya. “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS An-Nisa’ [4]: 36).

Jika ikhlas sudah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten). (QS Al-Bayyinah [98]: 5). Selain kunci diterima tidaknya amal ibadah kita oleh Allah SWT, ikhlas juga membuat “kinerja” kita bermakna dan tidak sia-sia. Kinerja yang bermakna adalah kinerja yang berangkat dari hati yang ikhlas.

Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga. Pertama, ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.

Kedua, ikhlash khawas,ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.

Ketiga, ikhlash khawas al-khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Mahasegala-galanya.

Ikhlas merupakan komitmen ter ting gi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS Al-An’am [6]: 162).

Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itu merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan (Iblis). Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis adalah orang-orang Mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan.

Ikhlas sejatinya juga merupakan “benteng pertahanan” mental spiritual Mukmin dari kebinasaan atau kesia-siaan dalam menjalani kehidupan. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.”

 

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

sumber:Republika Online

 

Simak artikel mengenai Ikhlas lainnya, klik di sini!

Mencipta Keikhlasan

Kutipan Hikmah
Rendah hati itu bisa jadi kesombongan jika memang disengaja direndah-rendahkan”
Persis, ikhlas itu bisa menjadi riya ketika di mana-mana merasa paling ikhlas”
Persis juga, kepintaran itu bisa jadi kebodohan jika selalu merasa dan pura-pura pintar”
Lalu? Jalanin saja hidup apa adanya dan biarlah manusia menilai juga dengan apa adanya.
Pada akhirnya penilaian sejati dan mengikat hanya penilaian Dia yang menguasai langit dan bumi”.
(Kutipan dari Abah Dahlan)
– Imam Shamsi Ali –

 

sumber: SalingSapa