Berfikir Sebelum Berucap

Salah satu keistimewaan manusia adalah, manusia itu disebut sebagai ‘Hayawanun naatiq’. Makhluq yang dianugerahi oleh Pencipta memiliki lisan. Dari lisan inilah meluncur rangkaian kata yang menggambarkan pribadi seseorang.

Pimpinan Majelis Ta’lim dan Zikir Baitul Muhibbin Habib Abdurrahman Asad Al-Habsyi menyampaikan, lisan adalah karunia Allah yang demikian besar. Dan untuk itu harus disyukuri dengan kesyukuran yang mulia.

“Caranya adalah dengan menggunakan lisan dengan tutur terpuji. Berpikir sebelum berucap adalah akhlaq seorang mu’min, karena lisanmu sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula,” kata Habib Abdurrahman melalui pesan hikmahnya yang diterima Republika.co.id, Jumat (8/2).

Habib Abdurrahman Al Habsy menyampaikan, berkata benar dan tulus adalah karakter orang beriman seperti yang diperintahkan Allah SWT dalah surat Al-Ahzab ayat 70.  “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Habib Abdurrahman menuturkan, dua orang sahabat yang penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Dan juga seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa terpisahkan sebab lisan.

“Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dengan cepat saling memusuhi karena lisan,” ujarnya.

Tentang bagaimana menjaga lisan, Habib Abdurrahman menyampaikan apa yang pernah Abu Hatim sampaikan. “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

Habib Abdurrahman menyampaikan, di era serba digital ini, segala apa yang kita tulis, ucapkan, videokan terekam dalam memori digital. Sadarkah kita bahwa rekaman Allah SWT jauh lebih canggih bahkan tak bisa diedit?

Menurut Habib Abdurrahman, file lisan kita tersimpan dengan rapih oleh Malaikat Allah SWT seperti diterangkan dalam Alquran suar Qoof Ayat 18. “Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkan, kecuali di dekatnya ada malaikat Raqib dan ‘Atid.”

Habib Abdurrahman menerangkan, jika kita harus menggunakan lidah kita untuk melakukan dialog,  maka lakukan dialog yang penuh dengan adab dan elegan. Karena, tidak hadirnya rasa ikhlas dan ketulusan cenderung merusak indahnya dialog.

Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai pendebat selalu menginginkan kemenangan sekalipun ia tidak mempunyai hujjah atau argumen yang kuat dan tepat.  “Pendebat tidak bersedia mengalah, sekalipun ternyata ia berada pada pihak yang salah,” katanya.

Dan ketika itulah kata Habib Abdurrahman, terkadang dialog dikuasai oleh pihak yang handal bercakap, sekalipun tidak berisi. Bahkan dianggap hebat dan mendapatkan dukungan oleh pendukungnya jika ia lancang memotong pembicaraan, atau mengeluarkan kata-kata tidak bermutu kepada lawan dialognya.

Padahal tujuan debat atau dialog tersebut untuk mendapatkan hasil (natijah) atau solusi yang baik untuk kemaslahatan bersama. Jangan sampai dengan buruknya manajemen lisan kita, menjadikan kita buruk rugi di dunia dan buruk di akhirat.

“Seburuk-buruknya kedudukan seseorang  di hadapan Allah pada hari kiamat adalah orang yang dijauhi oleh sesamanya disebabkan mereka takut akan kejahatan mulut dan perilakunya,” kata Habib Abdurrahman mengutip hadis riwayat Bukhori 6032.

Jaga Lisan, Sibukkan Diri dengan Aib Sendiri!

BERIKUT diantaranya tips agar hati selalu nyaman terhadap orang lain:

1. Senantiasa berbaik sangka terhadap orang lain. Berkata Umar ibnul khattab, “Tidaklah engkau mendapati apapun dari saudaramu yang cenderung ke hal negatif kecuali selalu engkau arahkan ke hal positif.”

2. Jaga lisan, banyak diam di rumah dan lebih menyibukkan aib sendiri

3. Selalu berdoa, “Allahummak finiihim bima syita” (Ya Allah, lindungilah aku dari mereka menurut apa yang Engkau kehendaki)

4. Jangan terlalu menghiraukan perkataan orang lain. Berkata imam Syafii:

“Barangsiapa yang mengira akan terbebas dari kata-kata orang lain, maka ia akan menjadi gila. Allah saja yang Maha Sempurna, dikatakan, salah satu dari yang tiga. Demikian juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang merupakan manusia yang paling sempurna akhlaknya, dibilang tukang sihir dan orang gila. Maka, masih adakah orang yang bisa selamat dari mulut manusia setelah Allah dan rasul-Nya?”

Semoga bermanfaat! [Ust. Djazuli Lc]

 

INILAH MOZAK

Menjaga Lisan Ciri Keimanan

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menatap, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang istiqomah dalam keimanan. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw bersabda,“Muslim yang sejati adalah muslim yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya..”(HR. Bukhori dan Muslim)

Saudaraku, marilah kita lebih berhati-hati dalam menjaga lisan. Karena orang yang tidak bisa menjaga lisannya, maka hidupnya akan menjadi sumber masalah. Sedangkan orang yang bisa menjaga lisannya, maka hidupnya akan selamat dan dia pun menjadi jalan keselamatan bagi orang lain. Kualitas seseorang salah tolak ukurnya adalah lisannya.

Kita sudah melihat saat ini hiruk pikuk yang sedang terjadi di Indonesia adalah disebabkan lisan yang tidak terjaga. Termasuk juga tulisan, karena tulisan adalah salah satu ekspresi dari lisan. Lisan dan tulisan nyaris sama dalam hal fungsi dan efek yang ditimbulkannya, jika tidak dijaga, tidak dipelihara, tidak dipikirkan dulu, asal ceplas ceplos saja, maka bisa menimbulkan hal yang tidak baik. Tidak setiap yang ingin dibicarakan perlu dibicarakan, tidak setiap yang ingin dikatakan, perlu dikatakan.

Ucapan itu seperti anak panah yang direntangkan pada busurnya. Sebelum dilepaskan maka tahan dulu, sebelum diucapkan maka pikirkan dulu. Sebelum dilepaskan maka bidik dulu, sebelum dikatakan maka pastikan dulu. Supaya ucapan kita tepat sasaran, yaitu ucapan kita diridhoi Allah Swt.

Setiap mau mengatakan sesuatu, pikirkanlah dahulu apakah perkataan ini penting? Jika penting, apakah perlu untuk disampaikan? Apa manfaatnya, karena ada kalanya perkataan yang benar tapi tidak manfaat disebabkan waktu yang tidak tepat atau situasi yang tidak pas.

Saudaraku, ciri orang beriman adalah senantiasa memelihara lisannya. Semoga kita termasuk orang yang semakin terampil mengelola lisan kita agar terhindar dari ucapan yang mengandung dosa, menyakiti orang lain atau tiada berguna.Aamiin yaa Robbalaalamiin.[smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK