Doa Keluar Rumah saat Pandemi Virus Corona dari Aa Gym

KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, mengunggah video protocol dalam menjaga kesehatan kita di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19. Aa Gym membagikan video ini bagi mereka yang sering keluar rumah demi melaksanakan kewajiban diluar dari rumah. Video tersebut diunggah melalui akun media sosial Aa Gym, salah satunya Facebook pada Rabu, 25 Maret 2020.


Pimpinan Pesantren Daarut Tauhiid (DT) Gegerkalong, Bandung ini mengawali unggahannya dengan ucapan salam. “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Bagi sahabat-sahabatku yang memang wajib keluar, paramedis, petugas keamanan, pengantar barang makanan yang memang wajib keluar maka ikutilah protokol ini. Keluarlah dengan niat lilahi taala yang benar memenuhi kewajiban” ucap Aa Gym.

Ia juga mengingatkan untuk tidak lupa melengkapi diri dengan perlengkapan kesehatan seperti masker untuk menutup wajah, sarung tangan plastik yang biasa dipakai masak namun bisa bermanfaat, hand sanitizer gel, dan juga sabun kecil, dimana saat ketemu air lebih efektif dalam mematikan virus Corona tersebut.

“Dan ada satu lagi, ini dia jas hujan murah meriah yang bisa dipakai dalam situasi yang sangat sulit dan bisa dibuang, disposal ya” tambah Aa Gym.

Jika niat dan cara sudah benar, Aa Gym kemudian mengingatkan kembali amalan ketiga yaitu ketika keluar dari rumah, untuk memanjatkan doa “Bismillahi tawakaltu Alallahi lahaula walakuata ilabilah. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya, saya bertawakal kepada Allah. Tiada kekuatan kecuali dari Allah. Tiada daya tiada kekuatan kecuali dari Allah. Hudita, wakufita, wawukita, akan ditunjuki, akan dicukupi, akan dilindungi. Ini janji Allah,” ujar Aa Gym.

Aa Gym kemudian melanjutkan, berangkat dari rumah dan melakukan sedekah dengan apapun baik uang, sembako atau kebaikan yang bisa kita lakukan karena sedekah merupakan penolak segala bala. Ia juga mengingatkan untuk melangkah keluar dari rumah sambal senantiasa berdzikir. “Maka ingatlah pada-Ku menurut Allah aku ingat padamu. Sepanjang kita zikir, Allah pun akan memperlakukan kita spesial, mudah-mudahan perjalanan keluar ini jadi amal soleh, senantiasa dalam perlindungan Allah, membawa manfaat bagi orang karena wajib, dan kembali ke rumah penuh dengan keselamatan. Selamat melaksanakan amal soleh yang darurat ini semoga jadi kebaikan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” tutup Aa Gym.

Sebelumnya pada Sabtu 22 Maret 2020, Aa Gym juga mensosialisasikan terkait social distancing dan kewaspadaan terhadap virus Corona. Aa Gym mengimbau para warga untuk berada di rumah jika tidak memiliki keperluan yang mendesak.

DETIK HIKMAH

Hati-hati terhadap Ujub dan Riya’

“KEBAJIKAN apa pun yang kamu peroleh adalah dari Sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu itu dari kesalahan dirimu sendiri.” (QS. an-Nissa [4]: 79)

Jadi, pada suatu waktu, saya ditakdirkan berdakwah ke Singapura. Di sana disuguhi sejumlah makanan. Tapi hampir semua makanan itu merupakan pantangan. Yang tersisa hanya cumi-cumi kecil. Maka disantap lah terus cumi-cumi itu.Tanpa terasa sudah tidak bersisa. Tidak lama kemudian efeknya mulai terasa, dan ternyata asam urat.

Begitulah, saudaraku. Kalau kita tidak hati-hati, nafsu bisa mengendalikan. Seperti menghabiskan suguhan cumi-cumi sampai ke sisa-sisanya. Padahal, tanpa cumi-cumi itu saya bisa hidup seperti biasa. Tapi nafsu membuatnya hanya enak di lidah. Sedangkan sebagian anggota badan tidak bisa bergerak, sehingga harus diobati dokter.

Kemudian, saya berangkat menuju teman-teman marinir di Cilandak. Membicarakan tentang acara tabligh yang akan diadakan di sana. Setelah pembicaraan selesai, lalu teman-teman di sana mengajak, “Aa’, itu akan ada perlombaan menembak, ayo ikut!” Karena dulu memang pernah latihan menembak di sana, dan tembakannya dianggap jitu.Tapi anggapan jitu ini pula yang membuat lupa, sehingga ingin memperlihatkan. Meskipun dokter sudah berpesan agar hati-hati menjaga sakit yang baru mulai sembuh.

Dan benar. “Duar! Duar! Duar!”Tidak ada yang mengenai sasaran. Di samping menahan malu karena biasanya kena menjadi tidak kena, juga rasa sakit yang kambuh lagi. Mengganti baju tidak bisa, memegang sarung dan sikat gigi pun tidak memungkinkan. Itu hanya, maaf, disebabkan ingin memperlihatkan jitu yang dulu. Ternyata oleh Allah dibuat pelurunya ke mana-mana. Na’udzubillah.

Tapi yang pasti kena adalah hati,”Ya Allah, Mahasuci Engkau. Engkau Mahatahu niat yang tersembunyi. Engkau mengetahui hamba ini ada ujubnya, dan ingin pamer kemampuan. Tidak cocok dengan ceramah. Ampunilah hamba-Mu ini.”

Nah, hati-hatilah kalau ingin kemampuan kita diketahui orang lain, ujub dan riya’. Seperti menembak tadi. seandai mengenai sasaran pun tidak mengubah apa-apa. Karena saya juga bukan tentara.

Memang terkadang kita lupa dan ingin memperlihatkan siapa diri ini. Beruntunglah ketika itu diberi peringatan oleh Allah dengan tidak satu pun peluru yang mengenai sasaran.

Saudaraku. Mari kita ikhtiar bersama-sama menjaga hati. Mungkin di suatu waktu kita terlanjur ujub atau riya’. Tapi ketika sadar, harus langsung bertafakur tentang apa yang telah diperbuat. Tentang apa sebetulnya tujuan yang asli di hati kita? Misalnya yang menjadi imam salat Isya di masjid sebelum pengajian. Selesai mengimami bertanyalah pada hati, ‘Mengapa dan apa tujuan saya tadi membaca ayat ini? Apa karena ingin memamerkan hafalan serta kelembutan suara?” Atau, yang azan, “Mengapa tadi saya bersikeras ingin azan? Apa karena sedang ada mertua?’

Harus kita periksa supaya bisa bertemu kesalahannya. Lalu, bertobat. Dengan begitu nantinya kita bisa semakin peka. Ketika melakukan kesalahan serupa. maka bisa langsung ingat dan lebih berhati-hati. Jangan sampai sesudah kejadian kita malah merasa biasa saja. Jika tidak mengevaluasi diri dan tidak bertobat. maka ujub dan riya’ tidak akan berkurang.

Dengan hati yang semakin bersih dan peka nanti akan ada semacam ‘radar’ yang berbunyi di sekitar amal perbuatan kita. Kalau hati makin bersih nurani atau suara hati yang selalu jujur bisa berbisik “Hush riya’, ujub!” Yang menutupi suara hati adalah nafsu kita sendiri.Tapi kalau bisa menahan nafsu dan semakin hati menjadi bersih, nurani pun bisa semakin nyaring dan kuat pengaruhnya dalam diri ini.

Nah, mudah-mudahan seperti itu. Yang penting bagaimana hati ini bisa bersih. Kalau mau hati bersih, kita harus benar-benar serius mengupayakannya. Seperti cerita menembak yang tidak kena tadi, saya harapkan dapat menjadi bahan ulasan tema tulisan ini. Tetapi, bercerita begitu, secara halus bisa saja ada ujub dan riya’ nya. Karenanya, mari masing-masing lebih sering memeriksa hati kita dan bertafakur! [*]

Oleh KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Gelar Sebagai Ujian

SAUDARAKU, banyak orang sangat bangga dengan gelar yang dimilikinya. Apalagi jika gelar tersebut hingga berderet-deret. Tentu tidak salah memiliki gelar, juga hal yang wajar ketika kita bangga dengan gelar yang kita miliki. Namun, menjadi keliru manakala kita merasa hebat di hadapan makhluk, ada rasa ingin terlihat hebat dan pintar di hadapan makhluk, dan lupa bahwa Allah-lah Yang Maha Memiliki segala ilmu.

Allah SWT berfirman, Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwa yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. al-Hajj [22]: 70)

Dalam ayat-Nya yang lain Allah berfirman, Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. al-Anam [6]: 59)

Allah menguji kita dengan kelimpahan ilmu yang diketahui. Apakah ilmu tersebut membuat kita semakin rendah hati, seperti padi yang ketika semakin banyak berisi maka ia semakin merunduk. Ataukah dengan ilmu itu ia malah semakin merasa hebat dan tinggi hati. Gelar yang kita peroleh karena pemahaman tentang suatu ilmu, merupakan ujian. Apakah dengan gelar itu kita semakin dekat kepada Allah, ataukah malah semakin menjauh.

Karena ada orang yang dengan ilmunya, dengan gelar tinggi yang dimilikinya, ia malah semakin tinggi pula hatinya. Ingin disanjung, ingin dipuji, ingin dihormati, ingin diposisikan sebagai seorang tokoh penting di hadapan manusia. Dan, manakala yang ia harapkan itu tidak ada, maka ia pun tersinggung, kesal, dan kecewa.

Bahkan ada juga orang yang dengan ilmu dan gelarnya yang tinggi, kemudian ia dipercaya menduduki jabatan publik, tapi ia malah memanfaatkan posisi itu untuk memperkaya dirinya sendiri. Ia malah melakukan manipulasi dan korupsi. Sehingga tidak heran kalau saat ini kita banyak melihat orang yang berpendidikan tinggi, gelarnya banyak, namun terjerumus dalam lembah hitam korupsi dan mendekam di balik jeruji besi.

Oleh karena itu, yang penting dimiliki oleh seorang yang berilmu tinggi adalah kerendahan hati, dan hati yang selalu terpaut kepada Allah SWT. Karena manakala seseorang telah selesai jenjang pendidikannya sampai yang paling tinggi, berbagai ujian telah dilaluinya dengan hasil yang sangat memuaskan, maka hakikatnya ia sedang dan terus menjalani ujian yang sesungguhnya, yaitu ujian mempertanggungjawabkan ilmu dan gelar yang telah diperolehnya.

Saudaraku, tiada yang kita miliki di dunia ini kecuali semuanya adalah karunia dari Allah SWT. Ilmu yang kita miliki hanyalah setitik kecil dari samudera ilmu milik Allah yang tiada terbatas.

Allah SWT berfirman, Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman [31]: 27)

Para ahli tafsir menerangkan bahwa di dalam ayat ini, Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai keluasan ilmu-Nya. Hasan al-Bashri menerangkan bahwa andaikata seluruh pepohonan yang ada di bumi ini dijadikan pena, dan lautan dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu-ilmu Allah, maka pepohonan habis dan air di lautan akan kering, sementara ilmu-ilmu Allah hanya sedikit yang sempat dituliskan, dan masih lebih banyak ilmu Allah yang belum dituliskan. Masya Allah!

Semakin kita mendalami dan memahami satu cabang ilmu, maka sesungguhnya kita semakin tidak memahami berbagai cabang ilmu lainnya yang sangat banyak. Maka, sangat tidak patut kita sombong, merasa hebat dengan satu cabang ilmu yang kita pahami. Boleh jadi kita mendalami ilmu tentang anatomi tubuh, tetapi kita tidak memahami ilmu bagaimana membuat pakaian yang sedang kita kenakan, dan lain sebagainya.

Orang yang beruntung adalah orang yang bersyukur atas ilmu yang dimilikinya. Yang dengan ilmunya itu, ia gunakan agar lebih banyak orang yang mendapatkan manfaatnya. Tak berpikir apakah orang lain akan memuji, menyanjung, menghormati karena gelar yang ia miliki, yang ia pikirkan adalah bagaimana agar ilmunya manfaat dan menjadi amal saleh di hadapan Allah SWT.

Semakin seseorang yang berilmu itu merunduk, mendekat kepada Allah dan memanfaatkan ilmunya di jalan Allah, maka semakin tinggi derajatnya di hadapan-Nya. Allah juga yang akan menggerakkan hati manusia agar mencintai hamba-Nya yang berilmu dan tawadu.

Allah SWT berfirman, ..Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujadilah [58]: 11)

Tidak penting orang memuji atau tidak karena gelar kita. Tidak penting orang menyanjung atau tidak karena ilmu kita. Yang terpenting adalah kita bersyukur dan mengamalkan ilmu di jalan Allah SWT. Karena Rasulullah saw bersabda, Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh. (HR. Muslim)

Gelar adalah ujian bagi kita. Semoga kita bisa melalui ujian episode ini dengan baik sesuai dengan apa yang Allah ridai. [*]

KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Bahaya Sombong

SAUDARAKU, kebalikan dari tawadhu adalah kesombongan. Allah SWT tidak menyukai kesombongan. Inilah penyakit yang menyebabkan Allah murka kepada Iblis, manakala ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Iblis membangkang perintah Allah dengan berkata, “Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan ia (nabi Adam) dari tanah!” Iblis merasa dirinya jauh lebih mulia dari Nabi Adam, sehingga merasa tak pantas untuk bersujud kepadanya.

Kisah kesombongan Iblis ini Allah abadikan di dalam al-Quran melalui firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: Bersujudlah kamu kepada Adam, maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Iblis menjawab, Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.”

Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi Neraka Jahannam dengan kamu semuanya.” (QS. al-Araf [7]: 11-18)

Kesombongan adalah salah satu karakter iblis. Ia merasa dirinya lebih utama, lebih hebat, lebih baik, lebih kuat, lebih mulia hanya karena ia diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam diciptakan dari tanah. Bagi orang yang sombong, alasan kecil pun bisa menjadi besar akibat rasa gengsi untuk menerima kebenaran. Orang yang sombong sulit menerima kebenaran karena hatinya telah dibutakan hawa nafsunya yang ingin dipuji, disanjung, dan dimuliakan.

Padahal sikap yang demikian sebenarnya adalah tanda dari kehinaan dirinya sendiri. Ia ingin dipandang tinggi padahal ternyata sesungguhnya ia rendah. Ia ingin dipandang mulia padahal sesungguhnya ia hina. Kesempatan memperbaiki menjadi tertutup karena ia dibutakan oleh hawa nafsunya sendiri, sehingga tidak bisa melihat jalan yang lurus. Dan, ia pun tersesat. Naudzubillaahi mindzalik!

Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).

Saudaraku, sungguh merugi orang yang membiarkan hatinya diselimuti dengan kesombongan. Bagaimana mungkin kita berhak sombong, sedangkan kita adalah makhluk yang lemah, tiada berdaya, yang awalnya tercipta dari saripati tanah, ke mana-mana membawamohon maaf kotoran, dan mati lalu dikembalikan ke dalam tanah. Sungguh tak pernah ada alasan yang membuat kita selaku makhluk untuk sombong.

Apa pun yang kita miliki, lembaran kain yang kita kenakan, makanan yang kita nikmati, tiada lain adalah berasal dari kemurahan Allah SWT kepada kita. Jantung kita berdegup setiap saat sehingga membuat kita tetap hidup sampai saat ini, padahal tidak mampu kita kendalikan degupnya, tiada lain adalah atas kekuasaan Allah.

Tidak ada orang yang mendapatkan kesuksesan jika di hatinya terdapat kesombongan. Seorang pemimpin tidak akan sukses memimpin timnya kalau mendapatkan keberhasilan maka ia senang meninggikan dirinya sendiri di hadapan anak buahnya, seolah keberhasilan itu adalah berkat dirinya tanpa ada bantuan orang lain. Pemimpin yang demikian tak akan dicintai anak buahnya, tak akan mampu membangun teamwork yang solid. Sebaliknya, ia justru sedang membawa dirinya sendiri kepada kehancuran.

Allah tidak menyukai hamba-Nya yang menyombongkan diri. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “..Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS. an-Nahl [16]: 23)

Marilah kita ingat-ingat kembali beberapa kisah orang terdahulu yang celaka akibat kesombongan dirinya sendiri. Ingatkah kita pada kisah Qarun? Sepupu dari Nabi Musa ini awalnya adalah orang yang sederhana saja. Sampai suatu saat ia meminta kekayaan kepada Allah, dan permintaan itu dikabulkan sebagai ujian baginya. Namun, Qarun tak mampu menghadapi ujian tersebut. Ia menjadi sombong dan tak mau menerima petunjuk dari Nabi Musa. Qarun mengatakan harta kekayaan yang ia miliki tiada lain adalah buah dari kecerdasan dan keterampilannya sendiri. Ia pun berjalan di muka bumi dengan tinggi hati. Kemudian, Allah menenggelamkannya ke dalam bumi beserta harta kekayaannya.

Dan, ingatkah kita kepada Firaun? Seorang manusia yang Allah SWT karuniai kekuasaan, namun ia takabur dan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Musa. Bahkan lebih parah lagi, Firaun mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan yang wajib disembah oleh rakyatnya.

Allah SWT berfirman, “Maka dia (Firaun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata: Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. an-Naaziat [79]: 23-24)

Kemudian, Firaun merasakan akibat dari kesombongannya itu. Ia tenggelam di Laut Merah. Jasadnya utuh hingga saat ini, sebagai peringatan bagi kita dan umat manusia hingga akhir zaman tentang bahaya kesombongan.

Ada yang sombong karena kekuasaan. Ada yang sombong karena harta kekayaan. Ada yang sombong karena latar belakang. Ada pula yang sombong karena kecerdasan. Semua kesombongan tersebut tiada lain sebagai bentuk pengingkaran kepada nikmat Allah.

Saudaraku, adakah yang melebihi keutamaan Rasulullah saw? Jika berbicara mengenai jabatan, adakah jabatan yang melebihi kedudukan Rasulullah? Beliau adalah manusia paling mulia, menjadi rujukan bagi siapa saja. Tetapi, tak ada secuil kesombongan di dalam hatinya. Akhlak beliau adalah al-Quran. Beliaulah puncaknya ketawadhuan.

Rasulullah tidak melihat orang lain lebih rendah dari dirinya. Jika ada orang lain memanggilnya, meski hanya menyebut namanya tanpa menyebut “Nabi”, maka beliau akan menoleh tidak hanya dengan kepalanya, melainkan dengan sekujur badannya. Jika bersalaman dengan sahabatnya, maka Rasulullah tak akan melepaskan genggeman tangannya lebih dahulu dari sahabatnya.

Jika mendapatkan undangan, baik dari orang kaya maupun dari seorang fakir miskin, maka beliau memenuhinya. Rasulullah saw menyalami anak kecil, menjahit bajunya sendiri, menambal sandalnya sendiri. Apakah itu mengurangi kemuliaan Rasulullah? Sama sekali tidak. Justru semakin menambah kemuliaannya.

Kesombongan yang tidak ditobati akan semakin mendarah daging dan menjadi karakter. Kalau sudah begini, maka sangat sulit memperbaikinya. Dan, semakin berbahaya bagi siapa saja yang mengidapnya. Jika sombong sudah menjadi karakter, maka seseorang akan sulit belajar, sulit memperbaiki diri, dan yang lebih mengerikan adalah sulit mengakui kesalahan dan menobatinya. Ia merasa benar dan orang lain salah. Jika memandang orang lain, maka ia meremehkannya. Jika dinasihati, ia kesal dan menolaknya.

Padahal Allah SWT berfirman, “Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Mumin [40]: 56)

Saudaraku, betapa bahaya sekali sifat sombong ini. Semoga kita selamat dari kesombongan, dan semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa menjaga kerbersihan hati dari penyakit ini. Aamiin. [*]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Melatih Diri Bekerja Tuntas

ALLAH SWT berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. al-Insyirah [94]: 7)

Saudaraku, janganlah kita seperti orang yang tidak jelas ketika mengerjakan sesuatu. Seperti orang yang berniat membereskan isi lemari baju, ketika sebagian baju dikeluarkan terlebih dahulu, kemudian ia menemukan beberapa lembar foto masa lalu, akhirnya malah sibuk memilah-milah dan mengumpulkan foto itu, dan berpikir mencari foto lain yang mungkin masih terselip. Lalu, timbul pikiran menyusunnya dalam satu album foto. Ia pun mencari album yang masih kosong, kemudian sibuk dengan foto-foto itu. Sementara tumpukan baju dan lemarinya tidak beres ia rapikan.

Tidak sedikit orang, bahkan mungkin termasuk kita di antaranya, yang jika melakukan suatu pekerjaan, tidak fokus sehingga tidak selesai dengan baik. Target tidak tercapai, rencana meleset jauh, gara-gara tidak fokus dan banyak keinginan setiap kali menemukan sesuatu hal yang lebih menarik hati. Akhirnya, pekerjaan tidak ada yang tuntas. Alih-alih menuruti kesenangan hati, yang terjadi malah pekerjaan menjadi berantakan.

Tidak sedikit orang yang lebih mudah menuruti kesenangan, menuruti keinginan meraup untung banyak dari sana-sini, namun lupa untuk mengukur kapasitas dan kemampuan diri. Hasilnya, bukan keuntungan yang bertambah, malah kerugian yang semakin besar karena pikirannya terbagi, tenaganya terbatas, hingga tak ada satu pun yang mencapai target.

Sikap yang demikian bukanlah sikap yang diajarkan di dalam Islam. Rasulullah saw mencontohkan bekerja secara tertib dan tuntas sebelum beranjak kepada pekerjaan yang lainnya. Dalam salah satu hadis, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, maka ia bekerja dengan itqan (menuntaskan dengan sempurna.ed) pekerjaannya.” (HR. Thabrani)

Seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya adalah pemimpin yang bekerja secara serius mengayomi kepentingan rakyatnya. Seorang karyawan yang dicintai atasannya adalah karyawan yang bekerja dengan penuh dedikasi dalam setiap tugasnya. Seorang pebisnis yang dicintai mitranya adalah pebisnis yang profesional dalam perniagaannya. Maka, beruntunglah orang yang senantiasa melatih dirinya untuk melakukan pekerjaan secara tuntas.

Pastikan setiap pekerjaan yang kita lakukan, tidak kita tinggalkan sebelum benar-benar selesai. Jangan menunda-nunda pekerjaan. Jika hari ini kita menunda pekerjaan karena merasa masih bisa dikerjakan besok, maka besok akan muncul hal baru untuk dikerjakan sehingga membuat pekerjaan malah bertumpuk dan semakin sulit diselesaikan.

Allah berfirman, “..Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. al-Anbiyaa [21]: 90)

Umar bin Khaththab pernah menulis sepucuk surat yang beliau tujukan kepada Abu Musa al-Asyari. Beliau menulis, “Janganlah engkau menunda-nunda pekerjaan hari ini pada esok hari, karena pekerjaan engkau akan menumpuk (sehingga tidak akan sanggup lagi engkau kerjakan) dan akan hilanglah semuanya!”

Untuk mengerjakan sesuatu secara tuntas, buatlah perencanaan dan target. Satu pekerjaan boleh jadi tidak akan tuntas satu hari atau satu waktu, disebabkan volume pekerjaannya yang besar. Maksud dari bekerja tuntas itu memang bukan berarti harus selesai pada saat itu juga. Bekerja tuntas adalah bekerja efektif, efisien, dan terukur dengan target yang jelas.

Akan berbeda dengan pekerjaan yang tidak kita tentukan secara pasti selesai kapan, dan bagaimana proses pengerjaannya supaya selesai pada waktu yang telah ditargetkan. Lebih parah lagi kalau memulainya pun tidak direncanakan waktunya. Orang yang demikian akan bekerja seenaknya dan tanpa kemajuan.

Tokoh pergerakan Islam di Mesir, Hasan al-Banna, pernah mengungkapkan, “Al Waajibaatu aktsaru minal auqaat”, yang artinya “Kewajiban (yang harus kita kerjakan) lebih banyak dari waktu yang tersedia.”

Ungkapan Hasan al-Banna ini benar adanya. Sesungguhnya waktu yang kita miliki sangatlah terbatas jika dibandingkan dengan berbagai urusan, pekerjaan, tugas yang harus kita lakukan. Hanya orang-orang yang benar-benar disiplin dalam pekerjaannyalah, yang akan merasakan betapa waktu terasa sangat cepat dan singkat. Sedangkan orang-orang pemalas merasakan betapa waktu sangat panjang dan lama.

Oleh karena itu, pantang bagi kita berleha-leha dan menunda-nunda pekerjaan. Tuntaskan apa yang menjadi tanggung jawab kita, lakukan dengan fokus dan terukur sehingga tuntas dengan baik dan benar, tidak asal-asalan.

Jangan terlalu banyak keinginan, karena sesungguhnya kemampuan dan tenaga kita terbatas. Lakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita, dan keluarkan kemampuan terbaik saat mengerjakannya. Sehingga, meskipun pekerjaan yang kita lakukan nampak seperti urusan yang sederhana atau biasa, namun jika dilakukan secara tuntas, baik dan benar, niscaya memberikan manfaat yang besar dan berlimpah berkah. [*]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Miliki Tujuan Hidup yang Jelas

SAUDARAKU, ketika seseorang beranggapan hidupnya terasa berat, salah satu sebabnya adalah tujuan hidupnya tidak jelas. Ia hidup tidak memiliki target yang jelas, sehingga hidupnya seperti tidak terarah. Hari demi hari hanya dilalui sekadarnya saja. Tidak terbayang olehnya apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin ataukah lebih buruk. Ia tidak bisa mengukur dirinya sendiri.

Orang yang demikian hanya memenuhi hari-harinya dengan urusan dunia saja. Ia hanya memikirkan makanan, pakaian, rumah, dan kendaraannya. Ia sibuk menghitung uangnya padahal sebenarnya ia tidak bisa menikmatinya. Sungguh nelangsa hidup yang seperti ini. Semoga kita tidak tergolong orang yang demikian.

Kalau tujuan hidupnya bukan akhirat melainkan duniawi, maka pasti hidupnya terasa berat. Karena dunia ini sangatlah kecil dan sempit. Orang yang ingin dunia pasti akan saling berebutan dengan orang lain. Dan dunia ini seperti air laut, semakin diminum semakin membuat haus. Semakin dikejar semakin membuat tersiksa. Sedangkan yang ingin akhirat, sesungguhnya akhirat itu luas.

Bagi para pencari akhirat, semua urusan dunia bisa menjadi pahala. Dicaci orang lain, bisa menjadi jalan penggugur dosa. Sedangkan bagi para pencari dunia, itu sangat berat dan menyiksa. Banyak hal yang dianggap pahit oleh pencari dunia, malah dianggap manis oleh pencari akhirat.

Pencari dunia menyikapi musibah sebagai malapetaka dan kemalangan yang sangat berat. Diratapi seolah setiap babak dalam hidupnya adalah kemalangan. Dinasihati agar bersabar, malah terus mencari-cari alasan supaya dirinya pantas dikasihani. Sedangkan pencari akhirat akan menghadapi kesulitan hidup dengan bersabar, dan menyikapi kemudahan hidup dengan bersyukur. Baginya keadaan apapun adalah sama saja, yaitu sebagai ladang amal ibadah kepada Allah SWT.

Allah berfirman, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. al-Hadiid [57]: 20)

Allah pada banyak kesempatan mengingatkan kita bahwa dunia yang kita tinggali ini hanya perantara, hanyalah sementara. Hanya persinggahan semata untuk menuju kehidupan yang sejati di akhirat nanti.

Segala kemegahan dan keindahan dunia pada satu sisi merupakan karunia dari Allah , dan pada saat bersamaan merupakan ujian bagi kita. Barangsiapa yang bisa mengelola dunia ini dengan baik, maka akan baik pula hidupnya kelak di akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak bisa mengelola dunia ini dengan baik, maka demikian pula hidup yang ia jalani di akhirat nanti.

Jadi, sangat keliru orang yang menjadikan dunia ini sebagai tujuan. Siapa pun yang menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya, maka akan tampak kekeliruan itu pada cara berpikir dan cara bertindaknya. Orang yang hanya berorientasi pada dunia, ia menghalalkan segala cara hanya demi hidupnya enak dan nyaman. Tidak mau tahu apakah satu urusan itu halal atau haram, yang ia mau hanyalah keuntungan dunia semata.

Ia lupa kehidupannya sendiri adalah pemberian dari Allah. Ia lalai untuk berpikir bahwa kesehatannya, kebugarannya sehingga bisa berjalan di muka bumi ini pun adalah pemberian dari Allah. Dan, ia pun lupa hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Kegelisahan, kecemasan, kegalauan berkepanjangan adalah tanda-tanda seseorang sudah terjebak pada cinta dunia, dan lupa pada akhirat sebagai tujuan hidupnya. Cemas besok tidak bisa makan, cemas tidak mampu menghidupi keluarga, gelisah uangnya tidak cukup untuk biaya ini dan itu, takut jabatannya turun, takut kedudukannya hilang dari pandangan manusia, dan berbagai rasa takut lainnya yang disebabkan urusan dunia.

Kegelisahan seperti ini hanya menyeret seseorang pada kegelapan yang semakin kelam. Karena sudah terseret-seret oleh dunia yang fana, ditambah lagi jauh dari Allah karena hati yang rapuh berpegang kepada-Nya. Padahal sudah pasti kepuasan yang dicari hawa nafsu tidak pernah ada habisnya. Seperti minum air laut saat kehausan, maka haus hanya akan makin menjadi-jadi, sedangkan semakin banyak air laut yang diminum akan semakin haus dan semakin rugi tubuh ini.

Padahal Allah SWT berfirman, “Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Faathir [35]: 3)

Gelisah karena urusan dunia adalah bentuk jika kita tidak bersyukur atas segala nikmat yang selama ini diterima, sejak kita dalam kandungan hingga lahir di dunia. Mengapa khawatir tidak dapat rezeki, padahal selama ini rezeki yang kita terima tidak terhingga jumlahnya? Mengapa khawatir tidak bisa menghidupi keluarga, padahal setiap makhluk adalah ciptaan , milik Allah, dan Allah pula yang menjamin rezeki mereka.

Ada seseorang yang begitu cinta pada pekerjaannya. Ia begitu cinta hingga tidak mau jika sampai kehilangan posisi di tempat kerjanya. Selain gajinya besar, juga karena ia punya banyak bawahan. Posisi atau jabatan yang tinggi ini membuat ia terlena dengan enaknya kursi kedudukan di hadapan manusia. Ia terbuai dengan sanjungan dan penghormatan dari bawahannya.

Berbagai cara ia lakukan agar jabatannya itu tidak terlepas dari tangannya. Ia dekati atasannya, ia sampaikan laporan-laporan semu hanya demi membuat atasannya senang. Dan di saat yang bersamaan ia sikut orang lain yang mungkin bisa menjadi pesaingnya di hadapan penilaian atasan. Ia takut posisinya digantikan orang lain. Ia gelisah setiap kali ada rekan kerjanya yang berprestasi. Dan, ia dengki setiap kali ada rekan kerjanya yang mendapat pujian atau penghargaan dari atasan.

Padahal tiada yang didapatkan oleh seorang pendengki selain kerugian. Rasulullah saw bersabda, “Waspadalah kalian pada penyakit dengki, karena dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)

Bagaimana tidak rugi jika amalan kebaikan menjadi hangus nilainya disebabkan perbuatan diri sendiri yaitu dengki. Orang pendengki itu rumusnya sederhana, susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah. Mengapa Allah tidak suka kepada seorang pendengki? Karena pendengki adalah orang yang tidak menyukai perbuatan Allah SWT. Dengki itu ciri dari lemahnya iman. Dengki berarti buruk sangka kepada Allah. Dan, pendengki adalah orang yang tidak mengakui bahwa Allah Maha Baik dan Maha Adil.

Ketika Allah menakdirkan sesuatu keberuntungan kepada salah seorang dari hamba-Nya, maka pendengki tidak rela akan takdir tersebut. Artinya, dia tidak suka kepada Dzat yang menghendaki takdir itu terjadi, yaitu Allah SWT. Semoga Allah menyelamatkan kita dari penyakit hati ini.

Betapa berat rasanya hidup ini bagi orang yang diselimuti hatinya dengan kedengkian. Sekalipun ia dikaruniai harta kekayaan berlimah, pangkat jabatan mentereng, dan popularitas yang luas, namun hidupnya terasa sempit hanya karena tidak rela orang lain mendapatkan keberuntungan. Gambarannya seorang pendengki adalah dia memiliki 99 ekor domba, tapi gelisah, resah, tidak tenang hanya gara-gara ingin seekor domba yang dimiliki tetangganya. Ia lupa pada sekian banyak karunia yang sudah ia miliki, hanya karena dengki melihat sebuah keberuntungan yang dimiliki orang lain.

Inilah yang terjadi manakala seseorang tidak jelas tujuan hidupnya. Akhirnya ia hanya sibuk mencari penghargaan makhluk dan kemegahan dunia yang fana ini. Dunia sudah memenuhi hatinya, padahal semestinya dunia hanya ada di tangan saja. Hatinya sibuk dengan kerumitan-kerumitan, jauh dari rasa tenang dan bahagia.

Sedangkan bagi orang yang jelas tujuan hidupnya, yaitu kehidupan akhirat, maka dunia hanya berada di tangannya saja. Ia semangat untuk meraih sukses hidup di dunia agar semakin banyak jalan yang bisa ia tempuh demi kebahagiaan hidup di akhirat. Apapun yang ia jalani di dunia ini semata-mata adalah untuk ibadah kepada Allah SWT.

Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)

Kelapangan maupun kesempitan yang sedang dihadapi bisa disikapi sebagai sama-sama ladang ibadah kepada Allah. Syukur saat lapang, sabar saat sempit. Apapun keadaannya, hatinya senantiasa tenang, hidupnya terasa ringan karena Allah yang memenuhi hatinya. [*]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Ikhlas Berbuat Baik

ADA cerita tentang seorang santri yang sudah pulang ke rumah setelah dua tahun belajar di sebuah pesantren. Santri ini seorang yang rajin dan salehah. Sebelum ikut pesantren dia sudah rajin beribadah, maka tidak heran apabila sesudah lulus dari pesantren dia pun semakin rajin.

Lalu, setibanya di rumah dia bangun pagi-pagi untuk salat Tahajud, selanjutnya menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, dan memasak air. Menjelang subuh, setelah semuanya selesai, dia beranjak beristirahat di sofa dan tertidur.

Santri itu memiliki seorang adik yang baru duduk di sekolah dasar. Adiknya ini terbangun hendak pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba dia terpeleset ringan, dengan tangannya yang menempel pada kain pel yang ada di pinggir. Pada selang waktu yang sama, orangtua mereka juga terbangun. Orangtuanya menyangka kalau adiknya ini sedang mengepel dan bersih-bersih rumah.

Maka, disanjung dan dipujilah adik. Adapun santri yang tertidur di sofa tadi, dia dibangunkan oleh orangtuanya sambil dimarahi. Percuma saja menjadi santri dan tidak ada gunanya dua tahun belajar di pondok pesantren katanya. Dia dianggap tidak bisa lebih baik dari adiknya yang masih kecil.

Apabila kita mengalami kejadian serupa, kita tidak perlu membela diri, sakit hati, apalagi berbalik menyakiti, Sesungguhnya, Allah melihat semua yang kita lakukan dan Allah pasti senang melihat kita berbuat baik.

Allah Ta’ala yang membangunkan adik dan orangtuanya, lalu membuat sang adiknya terpeleset saat dia tertidur kelelahan. Semua itu merupakan ujian keikhlasan bagi santri tersebut. Pada waktunya, Allah akan membukakan kenyataan sesungguhnya dan sangat mudah bagi-Nya untuk membeberkan seluruhnya.

Maka, apabila kita memiliki usaha jasa kepada orang lain, layanilah para pelanggan dengan baik. Semua kebaikan itu bukan bermaksud untuk menarik mereka datang kembali, tetapi cukup sebagai amal saleh agar Allah meridhai. Soal ramai atau tidak yang menggunakan jasa kita, serahkan kepada Allah karena Dialah yang mengatur segalanya.

La haula wala quwwata ila billah. Semua makhluk tidak memunyai daya dan upaya, termasuk hatinya. Kita tidak perlu berharap disukai orang lain karena tidak mungkin orang akan suka kepada kita apabila hatinya di balikan oleh Allah untuk tidak suka. Kita tidak perlu merekayasa atau melebih-lebihkan perbuatan agar dicintai orang karena Allah yang membo|ak-balik hati manusia.

Bagi para pedagang, berdaganglah dengan jujur dan berilah pelayanan terbaik tanpa bermaksud agar disukai pembeli, apalagi sampai menjelek-jelekkan pedagang saingannya. Bagi siswa-siswi yang ingin memuliakan guru, lakukanlah tanpa berharap disayang dan diberi nilai tinggi. Pastikan diri kita tidak berstrategi mencari perhatian guru.

Ada yang membeli atau tidak dagangan kita, terserah Allah yang menggerakkan. Diperhatikan atau tidak oleh guru, semua ilmu hanyalah Dia yang memiliki. Cukup ikhlas saja dalam berbuat baik. Yakinilah bahwa seluruh makhluk itu ada dalam genggaman Allah Ta’ala. Jika niatnya selain Allah, apa yang kita lakukan hanya akan berakhir dengan kegelisahan dan kekecewaan.

Begitu pula kalau ingin membersihkan rumah, kita jangan menunggunya saat ada tamu. Jika ingin membersihkan pekarangan dan lingkungan, bersihkan saja tanpa berharap piala Adipura. Ketika ingin berbuat baik dan menolong orang lain, kita tidak usah berharap dan menanti ucapan terima kasih. Kita berbuat baik tidak berurusan dengan bonus, kamera, dan pencitraan.

Jadi, dalam berbuat baik, membantu dan menolong urusan kita hanya kepada Allah Ta’ala. Perkara ganjaran dan rezeki serahkan kepada-Nya. Dengan begitu, Insya Allah hidup kita lebih tenang, tenteram, dan bahagia. Sekali pun. seandai orang yang ditolong atau dibaiki ma|ah menghina, kita tetap tenang.Tujuan kita hanyalah Allah Ta’ala. ‘Dan Dia bersamamu di mana pun kamu bemda.” (QS. al-Hadid [571:4).

Allah Mahadekat, Maha Melihat, dan Mahakuasa untuk memberi balasan dengan sempurna. Allah lebih tahu keperluan hidup kita dibanding diri kita sendiri. Adapun balasan dari-Nya tidak harus saat itu juga. Apabila datang waktu bagi Allah untuk memberi ganjaran, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi.

“Kalau kita berbuat baik, lalu dituduh tidak baik, tetaplah tenang. Allah Ta’ala pasti menyaksikan dan tidak akan menyia-nyiakan semua yang kita lakukan.” [*]

* Sumber: Buku Ikhtiar Meraih Ridha Allah Jilid 1

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Tersenyumlah…

SEMOGA Allah Swt Yang Maha Mendengar setiap bisikan yang ada di dalam hati kita, menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa antusias menjaga kebersihan hati. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah Saw.

Tersenyum adalah hal sederhana, malah sering dipandang sebagai hal yang remeh. Namun, jika tersenyum dilakukan dengan ikhlas dan dengan cara yang benar, ia bisa bernilai ibadah. Subhanallah, betapa lengkapnya Islam ini, hingga hal-hal kecil pun mendapat perhatian luar biasa.

Senyum adalah perbuatan ringan yang berdampak besar. Senyuman yang tulus bisa mencairkan suasana di antara dua orang yang sedang bermusuhan. Senyuman yang tulus pun bisa menularkan kebahagiaan pada orang-orang di sekitar kita. Senyuman yang tulus bisa mengeratkan persaudaraan.

Rasulullah Saw adalah orang yang paling banyak tersenyum dan paling baik senyumannya. Abdullah bin Al Harits bin Jazi pernah mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi)

Bertemu dan bertegur sapa dengan orang lain sambil tersenyum jauh akan lebih menentramkan daripada sambil cemberut. Bermuka masam selain menimbulkan rasa tidak enak bagi orang yang sedang kita hadapi, juga merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah Swt.

Bahkan, Allah Swt pernah mengingatkan Rasulullah Saw agar tidak bermuka masam kepada salah seorang sahabatnya yaitu Abdullah Ibn Ummi Maktum yang buta. Singkat kisah, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika itu Rasulullah Saw sedang berdialog dengan para pemuka kaum Quraisy. Lalu, datanglah Abdullah ibn Ummi Maktum yang meminta kepada Rasulullah Saw untuk diajarkan ayat-ayat Al Quran.

Masih menurut keterangan Ibnu Abbas, mungkin karena merasa terganggu dengan kedatangan Abdullah, Rasulullah Saw tidak sempat menghiraukan permintaan Abdullah itu. Nampak, wajah Rasulullah Saw agak masam dan melanjutkan dialognya dengan para pemuka Quraisy itu.

Kemudian, Allah Swt secara halus mengingatkan Rasulullah Saw dengan firman-Nya, “Dia bermuka masam dan berpaling. Karena datang kepadanya orang buta itu. Padahal adakah yang memberitahumu boleh jadi dia akan jadi orang yang suci.” (QS. Abasa [80] : 1-3).

Setelah ayat ini turun, barulah Rasulullah Saw tersadar akan kekhilafannya. Sejak peristiwa itu, Abdullah bin Ummi Maktum menjadi orang yang sangat disayangi oleh Rasullah Saw. Setiap kali beliau berhadapan dengan Abdullah ibn Ummi Maktum, beliau selalu menghadapinya dengan wajah yang berseri penuh senyuman. Ya, Rasulullah Saw. tersenyum tulus meski di hadapan sahabatnya yang buta. Subhanallah!

Saudaraku, ketika kita terjebak kemacetan, kemudian ada pengendara lain yang nampaknya menyerobot jalan atau menghalangi jalan kita, tentu kita merasa kesal. Tidak heran kalau ada yang melontarkan umpatan atau makian hingga kata-kata kasar. Tidak jarang juga yang berujung pertengkaran.

Padahal, jika mau sedikit saja menahan diri, melontarkan teguran secara hangat sembari memberikan senyuman, niscaya itu lebih produktif. Untuk diri kita sendiri hal itu bisa menurunkan ketegangan. Untuk orang lain hal itu bisa menentramkan suasana. Dua situasi yang sangat berbeda disebabkan satu hal yang sederhana. Maka, tebarkanlah senyuman.

Akan tetapi, hati-hati juga dengan senyuman. Jangan pula mengumbar senyuman kepada orang yang tidak tepat. Misalnya mengumbar senyuman kepada lawan jenis yang bukan mahram. Selain bisa menimbulkan fitnah, hal ini bisa menjadi pintu bagi kotornya hati kita. Selain itu, tahan pula diri kita dari tersenyum sinis. Karena senyuman sinis hanya akan menyinggung hati orang lain dan menimbulkan permusuhan.

Tersenyumlah secara tulus, proporsional dan dengan cara yang benar. Jangan tersenyum dengan dibuat-buat hanya demi menyenangkan hati atasan, atau demi memikat calon konsumen agar membeli dagangan kita. Tersenyumlah hanya karena mengharap ridha Allah Swt. Tersenyumlah dengan niat ibadah. Senyum yang tulus karena Allah akan bernilai ibadah karena termasuk sedekah.

Rasulullah Saw bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Semoga Allah Swt. mengkaruniakan kebersihan hati kepada kita agar senantiasa semangat menebarkan keceriaan dan senyuman. Sehingga tali persaudaraan di antara kita semakin erat. Aamiin ya Allah ya Rabbal aalamiin.[smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

 

 

Jangan Saling Membenci (Tujuh Larangan Rasulullah-6)

FIRMAN Allah “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surge yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang- orang yang bertakwa. (yaitu) orang- orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang- orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang- orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran [3]: 133-134)

Mengapa harus ada rasa saling benci jika kita ditakdirkan sebagai umat yang bersaudara satu sama lain. Persaudaraan yang jauh lebih mulia daripada persaudaraan karena ikatan darah, bahasa atau suku bangsa.

Mengapa harus ada rasa saling benci hanya karena kita berbeda daerah, berbeda suku, berbeda organisasi, berbeda partai, jika kita masih meyakini Allah sebagai satu- satunya Dzat Yang Maha Kuasa yang patut disembah. Mengapa kita saling membenci jika tuhan kita adalah sama yaitu Allah Swt dan Allah menegaskan bahwa kita bersaudara.

Sahabatku, sungguh tak ada alasan bagi kita untuk membenci saudara kita sendiri. Karena jangankan untuk membenci, kita malah tidak berhak berprasangka buruk sedikitpun kepada sesama dan muslim. Jikapun ada prasangka itu muncul, maka kita diharuskan untuk menepisnya dan sebisa mungkin mencarikan alasan agar kita tetap bisa berprasangka baik terhadapnya. Dengan diiringi itikad untuk tabayyun dan memberikan nasehat demi kebaikannya.

Tentu manusiawi jikalau kita mencintai seseorang atau membenci nya. Karena manusia diberikan karunia berupa perasaan. Akan tetapi islam diturunkan oleh Allah adalah sebagai pedoman untuk kita agar bisa mengendalikan setiap apapun karunia Allah kepada kita. Tak hanya rasa benci, bahkan rasa cinta pun perlu untuk dikendalikan.

Imam Ali bin Abi Thalibn radiyallahuanhu pernah berkata, “Cintailah orang yang engkau cintai sekedar nya saja, sebab boleh jadi bisa jadi kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang engkau benci sekedarnya saja, sebab bisa jadi kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.”

Membenci janganlah disebabkan karena benci terhadap fisik, melainkan bencilah dikarenakan adanya tingkah laku atau kebiasaan yang tidak di ridhai Allah Swt. Bencilah perilaku, sifat yang tidak di ridhai-Nya, janganlah membenci orangnya. Sehingga rasa benci yang demikian akan mendorong seseorang untuk mengoreksi, mengingatkan dan memperbaiki saudaranya. Benci yang demikian hakikatnya adalah cinta.

Ketika sang ayah memukul anaknya karena tidak shalat sedangkan usia anaknya sudah melewati masa baligh, maka pukulan ayahnya bukanlah kebencian, melainkan rasa cinta. Jikapun pukulan sang ayah karena kebencian, maka kebencian itu kepada perbuatan tidak shalat, bukan kebencian kepada diri anaknya. Sang ayah memukul anaknya itu agar ia shalat, agar ia mendapat pelajaran dan keselamatan.

Bagaimana rasa mengelola rasa benci yang tidak jarang muncul di dalam hati kita terhadap seseorang. Saudaraku, kebencian kita biasanya dipicu karena ada hal pada dirinya yang tidak kita sukai. Padahal harus kita sadari, bahwa sangat sulit bahkan mustahil segala apa yang terjadi di dunia ini adalah hal- hal yang kita sukai. Apalagi setiap diri manusia bukanlah makhluk yang sempurna.

Trik yang bisa kita lakukan untuk menepis rasa benci pada seseorang adalah dengan melihat sisi lain dari diri orang itu. Karena seburuk- buruknya perilaku seseorang, ia pasti memiliki sisi baiknya. Bahkan bisa jadi kebencian kita padanya hanya disebabkan secuil perilaku kecilnya yang tidak sesuai dengan kita. Dibalik itu, boleh jadi justru amat banyak hal- hal baik yang akan kita sukai

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tidak boleh seorang mumin (suami) membenci seorang muminah (istrinya), bila dia tidak menyenangi satu dari perilakunya, dia tentu menyukai (perilakunya) yang lain.” (HR. Muslim, Shahih)

Apa pelajaran berharga dari hadits diatas. Hendaknya kita selalu siap menerima kenyataan bahwa orang yang memiliki hubungan dengan kita, baik itu pasangan, kerabat atau teman, tidaklah sempurna. Jika ada satu hal atau lebih yang tidak kita sukai dari dirinya, maka carilah sisi lain dari dirinya yang positif dan kita sukai. insyaAllah hal ini akan semakin mempererat persaudaraan kita dengannya

Dengan demikian, kita bisa terhindar dari perasaan saling membenci. Bahkan, kita bisa memiliki kemampuan mengelola rasa benci di dalam hati kita dan mengubahnya menjadi rasa cinta yang memperkokoh tali persaudaraan. [smstauhiid/bersambung]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Fokus Selalu Berbuat Kebaikan

SAHABAT yang baik, Islam mengajarkan bahwa berbuat baik adalah sebagai ibadah, karena berbuat baik adalah amal yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sukai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “..Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2] : 195)

Mari kita senantiasa berbuat baik meskipun orang lain tidak peduli pada kebaikan kita. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa peduli pada sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh hamba yang beriman kepada-Nya.

Tidak ada yang sia-sia, sekecil apapun amal kebaikan pasti ada perhitungan dan ganjaran yang berlipat ganda di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa lillaahitaala dalam beramal dan senantiasa antusias dalam berbuat kebaikan. Aamiin yaa Robbalaalamiin. [*]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar