Terlanjur Pamer Aurat di Sosial Media

ALLAH Ta’ala tidak membebani manusia di atas kemampuannya, dan memberikan ganjaran terbaik mereka yang bersegera dalam seluruh urusan ketaatan dan kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Setiap manusia banyak berbuat salah (dosa). Dan sebaik-baik dari orang-orang banyak berbuat salah (dosa) adalah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR Tirmidzi, no. 2499 dari sahabat Anas bin Malik).

“Orang yang telah bertobat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)

Berkata Fudhail bin ‘Iyadh,

“Engkau berbuat kebaikan (amal saleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”

Maka, terhadap foto-foto yang telah lalu, jika masih ada dijumpai lakukanlah semampu kita dengan hal berikut:

1. Meminta kepada sahabat yang memposting foto untuk menghapusnya, jika tidak mau melakukannya, un-friend adalah salah satu opsi agar ia tidak tampil dalam wall kita, dan un-friend bukan bermaksud memutuskan silaturrahim, ia hanya sekedar sarana agar foto tidak tampil.

2. Melakukan un-tag terhadap foto-foto yang terkait dengan diri kita dengan posisi tidak syar’i.

Semoga Allah Ta’ala memberikan keistiqamahan atas hijrah yang telah dilakukan. Yassirlana. [Ustadz DR. Wido Supraha]

INILAH MOZAIK

Ketika Google dan Facebook Jualan ‘Negara Islam’

Google dan Facebook merupakan dua platform media digital yang menguasai dunia saat ini. Jutaan orang mengakses laman keduanya setiap hari, bahkan setiap detik. Tak mengherankan bila banyak pihak yang berhasrat untuk bisa memanfaatkan Facebook dan Google sebagai sarana mempromosikan, mengiklankan, atau mengampanyekan sesuatu, termasuk ide atau gagasan politik.

Dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2016 lalu, misalnya, Facebook dan Google ternyata tidak berdiri di zona netral atau bebas dari persaingan politik. Kedua raksasa media digital ini ternyata gencar menayangkan dua video pariwisata palsu yang kontroversial guna memengaruhi pilihan politik penggunanya. Iklan tersebut bertajuk “Pesan Perjalanan Anda ke Negara Islam Prancis”.

Dalam iklan itu ditayangkan seakan Prancis memberlakukan syariat Islam. Menara Eiffel yang ikonik ditampilkan dengan bulan sabit dan bintang bertengger di pucuknya. Lukisan legendaris karya Leonardo Da Vinci, yakni Mona Lisa, digambarkan mengenakan burka di wajahnya.

“Berdasarkan hukum syariat, Anda dapat menikmati semua yang ditawarkan negara Islam Prancis, selama Anda mengikuti peraturan,” kata narator dalam tayangan iklan tersebut, dikutip laman Engadget.

Iklan ini terus ditayangkan selama berpekan-pekan menjelang waktu Pemilihan Presiden AS. Iklan ini secara khusus menargetkan pengguna Facebook dan Google yang berdomisili di Nevada dan North Carolina, AS. Iklan ini menjadi bukti bahwa Facebook dan Google terlibat dalam sebuah kampanye politik di AS.

Iklan menjelang Pemilihan Presiden AS disponsori oleh kelompok Secure America Now (SAN). Mereka adalah kelompok advokasi konservatif dan nirlaba yang kampanyenya mencakup anti-Hillary Clinton dan anti-Islam. SAN didirikan 2011 untuk menentang pembangunan pusat komunitas Muslim dan masjid di Manhattan, dekat lokasi serangan World Trade Center pada 11 September 2001.

Menurut laporan internal dari biro iklan yang mengeksekusi kampanye SAN, seperti dikutip laman Bloomberg, para karyawan di Google dan Facebook terlibat langsung dalam proyek ini. Para karyawan di kedua perusahaan membantu menargetkan agar iklan milik SAN itu menjangkau sasaran khalayak yang tepat. Dana yang dikucurkan untuk menggarap dan menayangkan iklan rasis ini mencapai jutaan dolar AS.

Salah satu pekerja di Harris Media, perusahaan yang menggarap kampanye SAN mengaku tak nyaman dengan konten-konten yang dimunculkan. “(Kampanye) Ini dirancang untuk memicu ketakutan di hati orang-orang,” katanya.

Tak hanya di AS, kampanye politik melalui Facebook terjadi pula di Jerman. Awal tahun ini, misalnya, Facebook menjalin kerja sama dengan partai Alternative for Germany (AfD) yang berhaluan kanan dan memiliki sikap antiimigran.

Iklan ini pun digarap oleh Harris Media. Dalam pertemuan di kantor Facebook, Berlin, para eksekutif mendorong AfD dan Harris Media untuk memanfaatkan fitur Facebook Live di samping belanja iklannya untuk lebih menargetkan pemilih di Jerman.

Profesor pemasaran dari University of Maryland Robert H Smith School of Business Wendy Moe berpendapat, keputusan Google untuk bekerja sama dengan kelompok politik tampaknya dilakukan untuk menguji strategi periklanan mereka.

“Ini membantu mereka mengasah rencananya dan mencari tahu cara terbaik untuk menyasar khalayak yang diinginkan,” kata Moe.

Juru bicara Google pun telah angkat bicara menanggapi isu ini. “Kami memiliki kebijakan ketat yang mengatur ke mana kami mengizinkan iklan Google muncul dan kami menerapkan kebijakan ini dengan penuh semangat. Bila kami menemukan iklan yang melanggar kebijakan ini, kami segera menolak dan berhenti menampilkannya,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, Facebook belum memberikan komentar terkait keterlibatannya dalam kampanye politik, baik di AS maupun Jerman.

Oleh: Kamran Dikarma/ (Editor: Yeyen Rostiyani).

REPUBLIKA

‘Apa Kapasitas Zakir Naik Mengurus Bahasa Indonesia?’

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, melarang umat Islam di daerah tersebut belajar tentang agama lewat media sosial (medsos). Salah satu kabar yang ramai beredar di media sosial adalah soal kalimat Insya Allah dengan membawa-bawa nama Zakir Naik.

Ketua MUI Palu, Prof Zainal Abidin menyatakan, informasi di media sosial yang disebarkan oleh oknum-oknum tertentu tidak dapat dijadikan referensi sepenuhnya. “Umat Islam jangan belajar tentang Islam lewat media sosial seperti dari ‘whatsapp’, ‘BBM’, ‘facebook’, ‘instagram’ dan sebagainya,” katanya di Palu, Ahad (23/4).

Ia mencontohkan akhir-akhir ini umat Islam cenderung menulis kalimat Insya Allah yang dimaksudkan sebagai ‘Jika Allah mengizinkan’ atau ‘Kehendak Allah’, kemudian berubah menjadi In Sha Allah. Namun, kata ia, menurut informasi yang beredar, itu penulisan yang benar yaitu In Sha Allah. Sementara Insya Allah adalah salah, karena jika menggunakan huruf ‘sy’ maka diartikan menciptakan Allah.

“Kalau Insya Allah menurut informasi dari media sosial yang membawa-bawa nama Zakir Naik yaitu menciptakan Allah. Karena itu, menurut informasi tersebut yang benar yaitu ‘In Sha Allah’,” ujarnya.

Ia menilai hal itu adalah keliru karena huruf syin dalam kalimat tersebut jika ditulis dalam bahasa Indonesia maka menggunakan ‘sy’, bukan ‘sh’. Zainal pun membantah keras jika Zakir Naik mengurus tentang penulisan kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia, dikarenakan Zakir Naik bukan orang Indonesia melainkan orang India yang ahli di bidang perbanding agama, bukan ahli bahasa Indonesia.

“Apa kapasitas Zakir Naik mengurus bahsa Indonesia? Saya yakin informasi yang beredar tersebut bukan dari Zakir Naik, tetapi oknum-oknum tertentu yang membawa-bawa nama Zakir Naik,” sebutnya.

Namun demikian ia menganggap, persoalan tersebut bukanlah hal yang prinsip di dalam Islam. Akan tetapi, ia menekankan agar Islam tidak serta merta langsung menjadikan referensi, patokan dan pedoman informasi dari media sosial.

“Jangan jadikan informasi di media sosial sebagai rujukan dan landasan kalian. Tetapi carilah guru atau seseorang yang berpengetahuan tentang Islam kemudian bertanya langsung, agar kalian tidak keliru,” ujarnya.

5 Tipe Muslimah di Sosial Media

Ada berbagai macam tipe perempuan yang bisa kita temui di sosial media. Berikut ini ada 5 tipe muslimah di sosial media, kira-kira Anda termasuk tipe yang mana nih?
1. Pedagang
Punya produk apapun langsung ditawarin di sosmed, bahkan numpang komentar di ‘lapak’ orang lain pun isinya penawaran barang dagangan. Banyak juga yang sengaja ikutan grup ini itu di chatroom atau sosmed demi bisa gelar dagangan. Ckckck… asalkan sama-sama ridho, moga jual-belinya menjadi perniagaan yang barokah, tapi kalau ada yang merasa terganggu dengan cara jualan kita, sebaiknya introspeksi dan ganti strategi yaa.
2. Seleb style
Tiada hari tanpa posting selfie dan unjuk kecantikan di sosmed. Mulai dari foto sampe video, semuanya mengekspos kecantikan fisik, fashion, make up dan wajah. Seolah seleb pokoknya. Kalau suami ridho masih lumayan, meski bukan berarti aman dari fitnah, tapi kalau nggak… wadduh.
3. Tausiyah-er
 Mulai dari postingan sampai komentar semuanya berisikan tausiyah dari hadits, ayat Qur’an, dan juga nasihat-nasihat bijak, subhanallah… keren pake banget! Yang penting, senantiasa luruskan hati, jangan sampai memposting hal bermanfaat seperti ini hanya untuk kepentingan duniawi semata, misalnya untuk menambah followers, supaya di-like, atau pencitraan di hadapan manusia semata. Sayang sekali kan kalau salah pasang niat. Dan jangan lupa untuk tetap istiqomah berbuat baik sekalipun banyak yang mencibir ‘pamer/riya’, karena yang bisa menilai riya’ atau tidak hanyalah Allah yang Mengetahui isi hati.
4. Food Lovers
 Semua postingannya gak jauh-jauh dari masakan dan makanan, pokoknya melihat isi sosmednya bikin air liur menetes dan perut mendadak keroncongan. Cocok untuk yang mau belajar masak atau mencari resep enak untuk keluarga.
5. Family
Mengupload foto dan video anak di sosmed sih hukum asalnya boleh yaa, tapi waspadai juga resikonya, salah satunya bahaya penyakit ‘ain. Jika ada yang memuji anak kita, jangan lupa bersyukur pada Allah dan ucapkan hamdalah. Sungguh bahaya penyakit ‘ain (pandangan mata) adalah nyata, anak bisa ‘sakit’ tanpa sebab, atau badannya kurus, dikarenakan ada orang yang memandang dengan dengki atau terlalu mengagumi foto/ video anak kita yang dipajang di sosmed misalnya.
Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)
Atau dengan doa,
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).
Semoga bermanfaat dan menginspirasi kebaikan.

Tuliskan yang Baik dan Bermanfaat

RIBUAN bahkan jutaan kata kotor kita bisa jumpai di media-media sosial, mulai dari sumpah serapah, celaan dan cacian, ancaman, kebohongan dan semacamnya. Membacanya tak menjadikan pikiran cerdas, merenungkannya sering menjadikan hati gelisah. Didelete saja atau jauhi saja, jangan dibuka dan dibaca.

Tak terduga juga bahwa ternyata dalam kehidupan sosial nyata kita sering bertemu dengan orang yang kalimatnya selalu kotor, mulai dari menyebar fitnah sampai pada menyulut pertengkaran atau memporakporandakan pola hubungan. Mendengarkannya membuat telinga memerah, memikirkannya menjadikan hati galau dan resah. Dihindari saja, dijauhi dan tak usah ditanggapi.

Bacalah apa yang membuat mata dan hati menjadi sejuk. Dengarkanlah apa saja yang membuat pikiran dan nurani menjadi damai. Hidup ini terlalu singkat untuk mengurusi hal-hal remeh tak bernilai dan terlalu berharga untuk digunakan melayani hal-hal tak mulia. Renungkan segala sesuatu yang bisa menjadikan hidup lebih bermakna dan amalkanlah apa yang telah diketahui agar ilmu senantiasa bermanfaat.

Mari kita mulai dari diri kita untuk menuliskan yang baik dan bermanfaat dan membicarakan yang bernilai dan berbobot. Renungkan kata bijak berikut ini, “Setiap kali sumur itu semakin dalam, maka airnya semakin dingin dan semakin segar. Berpikirlah dalam-dalam sebelum kau keluarkan apa yang ada dalam “ember” dirimu melalui lisanmu”.

Tanda-tanda pemikiran yang dalam adalah kalimatnya santun menyejukkan, indah menyegarkan, dan baik mengarahkan menuju hidup yang lebih positif. Salam, AIM. [*]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2362726/tuliskan-yang-baik-dan-bermanfaat#sthash.tUopx9jW.dpuf

 

 

———————
Update Aplikasi Cek Porsi Haji Anda untuk fitur baru yg bisa memonitor status Visa Umroh Anda,…

Hobi Mengumbar Amal Saleh di Sosial Media

BAGAIMANA sikap kita terhadap yang suka mengumbar amal lewat sosial media, wajibkah kita langsung menasehatinya, bagaimana metodenya? Fitrah manusia, kalau berbuat dosa tidak ingin orang lain tahu.

Mengunggah di sosial media sedang berbuat maksiat, tidak ada! Yang ada lagi umroh, yang ada sedang hadir kajian ustadz syafiq. Tapi hati-hati tujuan teman kita mengumbar amal itu, apa? Karena Allah jalla jalaluh mengatakan:

Kalau kalian sedekah terang-terangan itu baik, asalkan niatnya ikhlas lillahi taala. Tapi kalau kalian sedekah sembunyi-sembunyi, tidak ada orang lain yang tahu. Itu lebih baik. Kalian kasih kepada fakir miskin tanpa orang tahu itu lebih baik.

Karena ketika kita mengumbar amal saleh kita, kita membuka pintu buat setan, kita buka pintu untuk riya. Tapi kalau kita sembunyikan, setan mau ngerusak dari mana? Tidak bisa.

Kadang kala kita salat malam, sendirian tidak ada yang tahu. Pagi-pagi sahabatnya melihat dan berkomentar kenapa matanya merah.

Kemudian menjawab, “Oh iya saya semalam salat dari jam satu sampai jam tiga.” Masya Allah. Salat malam tidak perlu dibicarakan, tidak perlu.

Ada orang sedekah duitnya habis. Ente kok duitnya habis? Naam kenapa ya habis duit ana. Begitulah orang yang saleh (sambil senyum) Masya Allah!

 

 

 

[Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2312756/hobi-mengumbar-amal-saleh-di-sosial-media#sthash.PDM17nII.dpuf