8 Pelajaran Madrasah Ramadhan

Jika dicermati secara lebih teliti setidaknya ada delapan pelajaran mendasar (dirasah asasiyyah) yang telah kita peroleh dari bulan Ramadhan, apa saja?

SELAMA sebulan kita ditarbiyah bulan Rajab, disamping kita dipersegar ingatan kita tentang peristiwa isra dan mikraj yang menghasilkan kewajiban shalat, kita juga telah ditempa dengan bulan mulia tersebut. Sekarang kita telah masuk Ramadhan pada hari kelima belas.

Bulan mubarak yang dirindukan kehadirannya oleh orang-orang shalih. Kita tidak tahu, sudah berapa kali kita berpuasa sepanjang hayat kita? Apakah puasa demi puasa yang kita lakukan secara rutin hanya sebatas rutinitas belaka atau memberikan dampak yang signifikan (atsarun fa’aal) pada penataan ulang (rekonstruksi) pola pikir dan sikap kita?

Para ulama dahulu memandang bulan Rajab, Sya’ban bagaikan atletik yang mendekati garis finish, sehingga segala potensi yang dimilikinya dikerahkan/dimobilisir untuk mengungguli atletik yang lain. Dengan harapan besar menjadi pemenang. Ternyata, kemenangan itu diraih tidak secara gratis. Kemenangan itu harus dikejar dan diperjuangkan.

Pujangga Arab mengatakan : بقَدر ما تتعَنّى تَناَلُ ما تَتَمَنَّى

(Cita-cita, harapan itu akan bisa diwujudkan berbanding lurus dengan kelelahan kalian dalam memburunya).

Allah SWT memberi nama Ramadhan, sesungguhnya menggambarkan esensi (hakikatnya). Arti kebahasaan Ramadhan adalah panas yang terik. Karena, bulan hijriyah yang kesembilan ini datang pada musim kemarau yang siangnya lebih lama dari waktu malamnya.

Jika dicermati secara lebih teliti setidaknya ada delapan pelajaran mendasar (dirasah asasiyyah) yang telah kita peroleh dari bulan Ramadhan : 

Pertama:  kita menyadari bahwa Allah selalu membersamai kita. 

Di bulan Ramadhan, saat berpuasa, meski di tempat yang sangat sepi dan kita sendirian tak mungkin kita diam-diam minum air meski hanya seteguk. Bahkan air setetes pun kita jaga agar tidak sampai masuk ke dalam tenggorokan kita.

Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Meski kita sendirian tetap dilihat Allah.

Meski satu tetes juga tetap dilihat oleh Allah. Karena kita merasa bahwa Allah selalu bersama dengan kita dan kita selalu dilihatnya, maka meski Subuh kurang satu menit kita pun sudah tak mau makan dan minum lagi, dan begitu juga meski maghrib kurang satu menit kita juga pantang berbuka.

Kita takut dengan ancaman Allah ketika berbuka tanpa udzur syar’i,  sebagaimana hadits berikut :

مَنْ أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذُرٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

“Barangsiapa yang berbuka di siang hari bulan Ramadhan tanpa sebab dispensasi yang diberikan oleh Allah Swt, maka tidak dapat diganti sekalipun ia berpuasa seumur hidupnya.” (HR: Ath Thayalisi, Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al Baihaqi, dari Abu Hurairah dan dari Ibnu Masud secara mauquf).

Sungguh luar biasa pendidikan ini. Puasa Ramadhan telah menyadarkan dan memberi kita pelaharan akan pengawasan Allah atas diri kita hingga pada tingkat yang sekecil-kecilnya dan seremeh-remehnya. Inilah level keimanan yang paling tinggi yaitu derajat ihsan.

أنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّهُ يَرَاكَ

“Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan bila kamu tidak melihat-Nya, maka kamu sadar bahwa Ia melihatmu.” (HR: Muslim).

Kita merasakan musyahadatullah dan muraqabatullah. Dan kedua potensi keimanan tersebut tanpa kita peroleh tanpa diawali dengan mujahadah dalam beribadah, baik ibadah mahdhah dan ibadah muamalah.

Di mana pun kita berada; Di kantor, di pasar, di rumah sendiri, atau di hotel saat tak ada istri/suami. Betapa indahnya apabila semua pejabat, pegawai negeri, para pengusaha, politisi, guru dll tak ada yang korupsi, karena sadar berapa pun uang diambil adalah dilihat oleh Allah.

Kita sadar dari lubuk hati sendiri, bahwa kita tak bisa bersembunyi dan tak ada yang bisa kita sembunyikan sama sekali di mata Allah Swt. Allah berfirman :

وَاَسِرُّوۡا قَوۡلَـكُمۡ اَوِ اجۡهَرُوۡا بِهٖؕ اِنَّهٗ عَلِيۡمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوۡرِ

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS: Al-Mulk : 13).

Kedua, kita menyadari bahwa kewajiban didahulukan baru mendapatkan hak.  Banyak orang yang hanya pandai menuntut hak, insentif,  bisyarah, mukafaah, – dan itu tidak dilarang – tapi sangat disayangkan, ia tak pandai menunaikan kewajiban.

Orang yang sukses adalah orang mau  melaksanakan kewajiban secara tuntas, baru setelah itu mendapatkan hak. Puasa benar-benar menyadarkan kita semua akan adanya hukum kausalitas (hak dan kewajiban ini).

Kita menjalankan puasa, lalu kita dapatkan hak untuk berbuka. Kita lakukan perintah-perintah Allah dan kita tinggalkan larangan-larangan-Nya selama kita berpuasa, dan kita diberikan hak untuk dikabulkannya doa.

Allah berfirman :

وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌؕ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلۡيَسۡتَجِيۡبُوۡا لِىۡ وَلۡيُؤۡمِنُوۡا بِىۡ لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُوۡنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS: Al-Baqarah (2) : 186).

Inilah jalan yang lurus, benar dan logis (diterima oleh akal sehat). Memenuhi panggilan Allah, beriman kepada-Nya lalu silakan untuk minta tolong (isti’anah) dan berdoa kepada-Nya.

Banyak orang yang tak malu; minta masuk surga tapi shalat lailnya bolong-bolong, lebih banyak membuka whatsapp daripada membaca Al Quran.

Banyak orang meminta dan berdoa kepada Allah, tapi saat dipanggil Allah untuk ibadah dan halaqah (thalabul ‘ilmi) tidak kunjung datang. Bahkan, sering absen.

Saat senang lupa kepada Allah, tapi saat susah baru ingat dan berdoa kepada-Nya. Saat miskin, kuat saat taqarrub ilallah. Ketika kaya, jarang kelihatan di masjid.

Nabi bersabda :

تَعرَّفْ إِلَى اللهِ في الرَّخَاءِ يَعْرِفكَ في الشِّدَّةِ

“Ingatlah kepada Allah saat senang niscaya Allah ingat kepadamu saat susah.” (HR. Ahmad)..

Ketiga, kita menyadari bahwa hidup berjamaah adalah indah dan berkah.  Puasa Ramadhan membuktikan bahwa kebersamaan (berjamaah) adalah penuh berkah dan menjadikan sesuatu yang berat menjadi sangat ringan, yang rumit menjadi sederhana.

Bukankah berpuasa itu sebenarnya berat? Bukankah sebenarnya shalat Tarawih, shalat tahajjud itu berat? Namun, karena kita lakukan berjamaah (bersama-sama) maka menjadi terasa sangat ringan dan indah sekali. Inilah ajaran berjamaah.

Kita umat Islam ini adalah umat yang satu. Andaikan semangat dan spirit kebersamaan ini benar-benar kita wujudkan maka kita pasti menjadi umat yang paling baik, kuat dan hebat, tak mungkin tertandingi.

Apa yang tak bisa dilakukan umat Islam ini andaikan bersatu padu? Tapi sebaliknya, ketika kita tidak bersatu padu, bercerai berai, karena faktor beda suku, bahasa, organisasi, partai, mazhab, maka inilah musibah.

Apa yang bisa kita lakukan dengan jumlah 1,6 milyar saat saudara-saudara kita di Palestina dibantai oleh kaum Yahudi yang kecil itu? Demikian pula nasib minoritas di belahan dunia yang lain.

Kita hanya bisa kaget-kaget saja. Padahal kaum Yahudi sudah setengah abad berbuat biadab seperti itu dan menguasai Masjidil Aqsha.

Puasa Ramadhan hendaknya segera menyadarkan kita semua untuk berjamaah secara benar. Yaitu berjamaah atas dasar Islam.

Bukan berjamaah atas dasar organisasi, partai, suku atau bangsa. Kita boleh saja memiliki suku, bangsa, bahasa, organisasi, mazhab, partai yang berbeda-beda, tapi kita semua haruslah berjamaah dan bersatu padu di bawah ikatan Islam.

Bukankah saat Ramadhan kita kompak berpuasa dan beribadah, meskipun kita memiliki suku yang berbeda, bangsa yang berbeda, organisasi yang berbeda, partai yang berbeda ?

Marilah kita buang fanatisme sempit, pikiran yang jumud, egoisme sektoral,  yang membuat umat Islam bercerai berai. Mari kita masuk dalam ikatan Islam yang utuh dan satu, utamanya setelah Ramadhan meninggalkan kita.

Nabi bersabda :

وَكُونُوا عِبَادَ الله إخْوَاناً

“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR.  Muslim).

Keempat, kita menyadari bahwa kesulitan membawa kemudahan. 

Perjuangan membawa kemenangan. Kesedihan mendatangkan kebahagiaan.

Puasa mendatangkan kenikmatan berbuka dan menghadirkan hari raya. Inilah kaidah penting yang harus kita camkan.

Siapa saja yang ingin sukses, tidaklah mungkin tidak menghadapi kesulitan. Tak ada orang yang sukses tanpa perjuangan. Bahkan kesulitan adalah bagian dari tangga kesuksesan.

Puasa mengajarkan kita semua, tak mungkin bisa merasakan nikmatnya berbuka dan hari raya kecuali yang telah berpuasa dengan baik. Wahai anak-anak, para pemuda, yang yatim dan yang papa, yang sedang sakit dan yang lemah, jangan anggap kesulitan itu rintangan.

Sesungguhnya kesulitan adalah tangga manis untuk mengantarkan kita menjadi juara. Keberhasilan itu harus dibayar dengan darah dan air mata. Harap senang ada ujian, sebentar lagi kita akan naik kelas.

Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ  

“Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS: Al-Insyrah : 5-8).

Kelima, kita menyadari bahwa Allah sangat mencintai kita semua.  Kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ini.

Allah menganugerahkan Ramadhan yang penuh berkah sebagai madrasah dan pelajaran. Allah telah membuka pintu-pintu Surga. Allah telah menutup semua pintu neraka.

Syetan pun dibelenggu dan pahala dilipat gandakan dengan melimpah ruah. Lailatul qadar yang lebih baik daripada seribu bulan telah dianugerahkan. Inilah kecintaan Allah kepada kita umat Nabi Muhammad yang beriman, bukan kepada umat sebelum kita.

Keenam, kita menyadari bahwa dalam hidup ini hendaknya saling cinta mencintai. 

Madrasah dan pelajaran Ramadhan telah mengajarkan kita empati dan berbagi terhadap sesama. Kita berpuasa tapi hanya dalam hitungan beberapa jam saja.

Sementara ada di antara kita yang berpuasa tapi tak ada makanan untuk berbuka dan tanpa batas waktu karena memang tak ada. Itulah maka di bulan Ramadhan kita gemar memberi.

Dan, semuanya kita di akhir Ramadhan diwajibkan menunaikan zakat fitrah, untuk kaum fakir dan miskin. Jadi, puasa mengajarkan kita semua untuk saling berbagi dan cintai mencintai.

Nabi ﷺ bersabda :

لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤمِنُوا ، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ،. (رواه مسلم)

“Tidaklah kamu masuk Surga sehingga kamu beriman kepada Allah, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu saling cinta mencintai.” (HR. Muslim).

Ketujuh, kita menyadari bahwa semua kenikmatan dunia hanyalah sementara.

Puasa selama Ramadhan memberi kita pelajaran bahwa lapar dan kenyang di dunia ini tidaklah lama. Makanan dan minuman terasa nikmat bila masih di atas tenggorokan.

Tapi kalau sudah kita telan, maka tak terasa lagi aromanya. Oleh karena itu yang kaya di dunia ini adalah sementara.

Yang sehat, yang cantik, yang muda, semua semenyara. Pejabat  saja ada masa pensiunnya. Apalagi kehidupan di dunia ini bersifat khayali.

Sesungguhnya kehidupan akhirat itulah yang hakiki.  Dan semua fatamorgana itu menjadi sia-sia, bahkan menjadi sumber malapetaka, bila tidak dilandasi dengan agama yang baik.

Kedelapan, kita menyadari sepenuhnya bahwa hakikat diri kita adalah jiwa, bukan jasad. 

Madrasah dan pelajaran puasa Ramadhan telah menyadarkan kita bahwa tubuh ini hanyalah rangka atau rumah belaka. Hakekat manusia adalah jiwa atau ruuhnya, bukan badannya.

Cepat atau lambat tubuh ini pasti akan kita tinggalkan. Dan kalau sudah kita tinggalkan maka tak berarti dan tak bernilai sama sekali.

Kematian adalah terpisahnya jasad dari ruh. Manusia yang ruhaniyahnya keropos sesungguhnya ia telah mati (hatinya).

Maka betapa merugi orang yang hanya sibuk mengurusi kesehatan jasmaninya saja, sementara ruh dan jiwa tak pernah diberikan haknya. Betapa buruknya orang yang hanya sibuk makan dan minum hingga tak peduli halal dan haram, padahal jasmani  ini bakal dikubur dan dijadikan santapan cacing dan binatang yang ada dalam tanah.

Puasa Ramadhan memberi kita pelajaran bahwa jiwa inilah yang terpenting. Ruh inilah yang tetap ada dan bakal mendapatkan balasan.

Nabi ﷺ bersabda :

إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم. (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kamu dan juga tidak melihat kepada rupa-rupa kamu. Tetapi Allah melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu.” (HR: Muslim).

Kalau pada hari ini ada di antara kita yang sedang sakit, itu tak mengapa.. kalau ada yang hartanya berkurang, tak mengapa.

Kalau ada yang matanya mulai rabun, telinganya tuli, dan giginya mulai hilang, tak mengapa. Tak perlu bersedih.

Karena pada dasarnya memang badan ini semuanya takkan bergerak sama sekali. Saat itu tak perlu khawatir.

Di mana pun kita meninggal dunia, maka tubuh ini pasti ada yang mengurusnya. Ada yang memandikannya, ada yang mengafaninya, ada yang menshalatinya dan ada yang menguburnya. Itulah urusan dan nasib tubuh kita.

Yang cantik, yang kaya, yang sehat sama. Akhirnya bercampur dengan tanah dan jadi makanan binatang-binatang di dalamnya.

Apakah urusan selesai ? Tidak. Yang mati hanya tubuh kita. Tapi ruh kita, jiwa kita masih ada. Di situlah babak kehidupan yang sejati (hakiki) dimulai.

Tak ada sandiwara dan tak ada basa basi. Yang dipanggil bukan lagi jasmani ini, tapi jiwa yang berada di dalam tubuh ini.

Yang baik mendapatkan kebaikannya dan yang buruk mendapatkan keburukannya.  Mudah-mudahan kita semua ini nanti dipanggil oleh Allah dengan panggilan :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr : 27-30)..*/ Sholih Hasyim, anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah

HIDAYATULLAH

Pelajaran Penting Dari Ayat Kewajiban Puasa

Salah satu ayat yang banyak dibaca dan dibahas pada Bulan Ramadhan adalah surat Al Baqarah ayat 183 yang menjelaskan tentang kewajiban puasa Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman :   

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.“ (Al Baqarah : 183)

Ayat di atas setidaknya mengandung enam pelajaran dan faidah yang penting: 

Pelajaran Pertama

Ayat ini menujukkan pentingnya kedudukan puasa dalam Islam, karena Allah memulainya dengan panggilan iman. Ini menunjukan bahwa puasa merupakan tuntutan keimanan karena Allah menyerukannya kepada orang-orang yang beriman. Barangsiapa meninggalkannya tentu akan rusak dan cacat keimanannya. Setiap ayat yang dimulai dengan panggilan terhadap orang-orang yang beriman memiliki keistimewaan tersendiri. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah memberi nasehat dalam menyikapi ayat-ayat seruan keimanan:

إذا سمعت الله يقول} :يا أيها الذين آمنوا {فأرعها سمعك؛ فإنه خير يأمر به، أو شر ينهى عنه

“ Jika Anda mendengar Allah berfirman (يا أيها الذين آمنوا,) maka persiapkan pendengaran Anda , karena sesungguhnya ada kebaikan yang akan diperintahkan atau keburukan yang akan dilarang-Nya” (H.R Bukhari dan Muslim)

Demikian pula ayat ini, Allah mulai dengan seruan kepada orang yang beriman dan diikuti dengan perintah puasa yang menunjukkan pentingnya ibadah ini.

Pelajaran Kedua

Puasa adalah kewajiban seorang muslim, karena Allah berfirman (كُتِبَ), yang maknanya adalah diwajibkan. Yang dimaksud puasa adalah ibadah kepada Allah dengan meninggalkan pembatal-pembatal puasa mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa yang hukumnya wajib dalam ayat  ini adalah puasa di Bulan Ramadhan. Bahkan puasa juga termasuk rukun Islam yang merupakan pondasi ajaran agama Islam. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ .رواه البخاري و مسلم .

” Islam dibangun di atas lima perkara : persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim) 

Pelajaran Ketiga 

Ayat ini menunjukkan bahwa uasa juga merupakan kewajiban umat-umat sebelum kita, karena Allah berfirman :

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ

“ sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian 

Puasa merupakan kewajiban umat terdahulu, termasuk kaum Yahudi, Nashrani, dan umat lain sebelumnya. Diwajibkan bagi mereka semua menunaikan ibadah puasa, meskipun bisa saja ada perbedaaan waktu dan tata caranya dengan puasa yang kita lakukan saat ini. 

Pelajaran Keempat

Disebutkan bahwa kewajiban puasa juga merupakan kewajiban umat terdahulu, agar umat ini tidak merasa berat dalam melaksanakannya karena ini juga merupakan kewajiban umat terdahulu. Selain itu juga sebagai bentuk Allah menyempurnakan keutamaan umat ini dengan kewajiban puasa sebagaimana umat terdahulu mendapatkan keutamaan dengan menunaikan ibadah puasa ini. Tidak diragukan lagi bahwa puasa adalah ibadah yang utama. Orang yang berpuasa dia bersabar dari makan, minum, dan berbagai syahwat karena Allah Ta’ala. Oleh karena itu Allah mengkhususkan amal ibadah puasa hanya untuk-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

“ Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku.” (H.R Bukhari)

Pelajaran Kelima

Hikmah dan tujuan syariat puasa adalah agar seorang hamba bisa meraih takwa, karena Allah berfirman : 

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 agar kalian bertakwa.

Ini adalah hikmah syar’iyyah ibadah puasa yang paling penting. Adapun hikmah puasa yang lain seperti kebaikan bagi kesehatan badan, kebaikan bagi kehidupan masyarakat, dan kebaikan lainnya merupakan hikmah tambahan.

Pelajaran Keenam

Ayat ini menunjukkan keutamaan takwa. Hendaknya seseorang menempuh sebab-sebab untuk meraih takwa, karena Allah mewajibkan puasa untuk tujuan ini. Hal ini menunjukkan bahwa takwa adalah tujuan yang agung. Yang menunjukkan keagungan takwa adalah bahwa takwa merupakan wasiat Allah bagi orang yang beriman terdahulu maupun sekarang. Allah berfirman :

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللّهَ

“ Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: bertakwalah kepada Allah.” (An Nisaa’ : 131).

Referensi : Tafsiir Al Qur’an Al Kariim Surat Al Baqarah ayat 183, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah

Penulis : Adika Mianoki

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/56182-pelajaran-penting-dari-ayat-kewajiban-puasa.html

Sekolah Ramadhan, Momentum Kembali ke Fitrah

Tanpa terasa, bulan Ramadhan kembali tiba. Bulan penuh keberkahan yang di dalamnya Allah SWT menurunkan banyak anugerah.

Seperti biasanya, bulan ini disambut dengan penuh sukacita dan semangat oleh kaum Muslimin, baik tua maupun muda. “Sebuah kegembiraan yang tidak dapat diukur melalui kacamata dunia yang fana ini,” kata  Ketua umum Rabithah Alawiyah Habib Zen bin Smith dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Kamis (25/5).

Habib Zen menambahkan, Ramadhan sejatinya adalah sebuah sekolah yang di dalamnya sarat akan nilai-nilai luhur kemanusiaan. “Nilai-nilai yang dapat menjadikan seorang Muslim kembali kepada fitrahnya, kembali kepada kemuliaannya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang padanya dituntut kedisiplinan fisik, mental dan tentu saja waktu dalam menjalankannya,” tuturnya.

Di dalam bulan ini Allah SWT memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk lebih mendekatkan diri dan membukakan pintu ampunan serta rahmat-Nya yang amat luas bagi mereka yang sungguh-sungguh menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangNya. “Ramadhan dapat diibaratkan sebagai sebuah kawah candradimuka, yang di dalamnya kekuatan sejati kaum Muslimin sebagai rahmatan lil ‘alamin kembali diperbaharui,” paparnya.

DPP Rabithah Alawiyah, kata Zen,  mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi kaum Muslimin. DPP Rabithah Alawiyah  juga ingin kembali mengingatkan hakikat utama puasa, yaitu untuk menjadikan kita orang-orang yang bertakwa.

“Melihat perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara belakangan ini, yang penuh dengan hiruk-pikuk dan seolah tanpa akhir, maka sudah selayaknya momen Ramadhan kali ini dijadikan sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan introspeksi diri untuk kembali ke fitrah sebagai manusia yang berakhlak luhur,” ujar Zen.

Rabithah Alawiyah, kata Zen, mengajak kaum Muslimin untuk melakukan perenungan kembali atas apa yang telah terjadi seraya menjadikannya sebagai pelajaran berharga untuk melangkah ke arah yang lebih baik. “Ramadhan sebagai sekolah kehidupan tentunya merupakan wahana yang tepat untuk mewujudkannya,” papar  Habib Zen  bin Smith.

 

Habib Zen bin Smith

REPUBLIKA

Berlomba-lomba Berebut Keutamaan Ramadhan

Dalam hitungan hari, umat Islam di dunia akan kedatangan bulan penuh rahmat dan ampunan. Dalam momentum Ramadhan, semua Muslim akan melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh. Di bulan ini pula menjadi waktu yang tepat memperbanyak ibadah.

Ustaz Oemar Mita menjelaskan tentang pentingnya menyambut Ramadhan dengan sungguh-sungguh. Sebab, Ramadhan merupakan bulan paling istimewa di antara 12 bulan. Untuk itu, Ustaz Oemar mengajak umat Islam mempersiapkan diri dengan maksimal. Itu disampaikan Ustaz Oemar dalam kajian Keislaman Alumni Lintas Angkatan SMA 70, Ghiroh 70, Bulungan, Keboyaran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (14/5). Puluhan jamaah yang hadir cukup antusias mengikuti ceramah dari Ustaz Oemar.

“Ramadhan tidak pernah sama dengan bulan yang lain. Ramadhan keutamaannya sangat besar sebagaimana bulan purnama,” ujar Ustaz Oemar di Masjid SMA 70, Jakarta, Ahad (14/5). Menurut dia, Ramadhan menjadi indikator kebaikan seseorang, baik sebelum maupun setelah bulan suci tersebut. Orang yang mendapatkan keutamaan Ramadhan akan memperoleh kebaikan setelahnya.

Sebaliknya, jika seseorang tidak mendapatkan keutamaan Ramadhan maka dia akan gagal pada kehidupan selanjutnya. Artinya, Ustaz Oemar menegaskan, ibadah yang dilakukan selama Ramadhan mengalami kegagalan. Ustaz Oemar menambahkan, kegagalan mendapatkan keutamaan Ramadhan juga tidak lepas dengan perbuatan sebelum Ramadhan. Misalnya, mereka banyak melakukan larangan Allah SWT atau sering menjauh terhadap perintah-Nya. “Mengenal Allah jangan hanya di bulan Ramadhan saja,” kata Ustaz Oemar.

Persiapan maksimal, kata Ustaz Oemar, merupakan hal wajib dilakukan guna mendapatkan keutamaan Ramadhan serta dampaknya ke kehidupan setelahnya. Pada bulan tersebut diimbau agar lebih khusyuk melaksanakan ibadah.

Ustaz Oemar menuturkan, sahabat mempersiapkan puasa enam bulan sebelum bulan tersebut tiba. Mereka memperbanyak berdoa kepada Allah SWT atas dosa yang dilakukannya. Selain iu, mereka juga berdoa agar dimampukan menjalankan ibadah dalam bulan tersebut. Persiapan panjang yang dilakukan sahabat, menurut Ustaz Oemar, menandakan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa. Ramadhan dapat menjadi musim panen pahala bagi orang-orang yang bertakwa. Di samping itu, persiapan tersebut juga dilakukan karena mereka mengerti tentang keutamaan Ramadhan.

Namun, Ustaz Oemar menilai, umat Islam saat ini lebih banyak yang kurang paham tentang keutamaan Ramadhan. Akibatnya, mereka menyambut Ramadhan hanya sebatas rutinitas yang wajib dilakukan setiap tahun. “Mengapa mereka mempersiapkan Ramadhan ala kadarnya? Karena tidak paham keutamaan Ramadhan,” ucap Ustaz Oemar.

Menurut Ustaz Oemar, setidaknya ada dua hal keutamaan Ramadhan yang akan didapatkan oleh umat Islam, antara lain, Allah akan melipatgandakan pahala pada setiap amal yang dikerjakan di bulan tersebut. Saking besar pahalanya, kata Ustaz Oemar, Allah tidak menjelaskan detil pahala yang akan diberikan pada setiap amal.

Itu berbeda dengan amal lainnya yang dijelaskan oleh Allah tentang besaran pahala yang diberikan. Maka dari itu, Ramadhan merupakan bulan panen pahala jika mampu dimanfaatkan dengan baik. Keutamaan lainnya, Ramadhan merupakan waktu tepat melakukan pertobatan. Ustaz Oemar menganjurkan agar bertobat saat Ramadhan disertai dengan memperbanyak sedekah.

Kendati demikian, keutamaan Ramadhan tidak mudah diraih oleh setiap Muslim. Hal tersebut, menurut Ustaz Oemar, juga pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW. Banyak Muslim yang gagal melaksanakan ibadah pada bulan tersebut. Kegagalan tersebut disebabkan oleh kualitas puasa yang rendah. “Kualitas Ramadhan tidak berbanding lurus dengan kuantitas. Belum tentu berdampak ke ketakwaan. Padahal, kalau Ramadhan diterima, itu obat,” jelasnya.

Untuk itu, Ustaz Oemar menegaskan, persiapan menyambut Ramadhan sangat penting. Seperti, memperbanyak istigfar serta memaksimalkan tobat. Apabila hal tersebut tidak dilakukan, diyakini tidak akan menikmati Ramadhan. “Karena dosa menjadikan kenikmatan Ramadhan hilang,” Ustaz Oemar menambahkan.

Kemudian, lanjutnya, umat Islam pun  mempersiapkan ilmu dan harta dalam menyambut Ramadhan. Harta tersebut diimbau untuk digunakan beribadah, seperti memperbanyak sedekah. Yusuf, salah seorang jamaah, mengatakan, kajian tersebut sangat bermanfaat kepada dirinya. Sebab, Yusuf merasa ibadah puasa yang dilakukan setiap tahun belum maksimal. Dari kajian ini, Yusuf berharap mendapatkan ilmu tentang Ramadhan.

“Ya, harapannya bermanfaat buat saya,” ujar Yusuf kepada Republika.co.id.

Harapan sama juga disampaikan Amir. Persiapan menyambut Ramadhan harus dipersiapkan dengan matang. Tujuannya, supaya mendapatkan pahala maksimal ketika menjalankan ibadah. Amir tidak menginginkan ibadah puasa hanya sebatas aktivitas rutin yang wajib dilakukan selaku umat Islam. Amir berharap, bisa lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. “Mudah-mudahan, bisa lebih baik lagi, banyak khatam Alquran,” tegasnya.

 

REPUBLIKA

 

 

TIPS:

Anda pun bisa mendapatkan artikel seputar RAMADHAN lainnya, silakan isi kolom pencarian dg keyword: ramadhan, manfaat ramadhan, atau keistimewaan ramadhan

7 Keistimewaan Madrasah Ramadhan

Ramadhan adalah madrasah istimewa bagi kaum Muslimin. Di madrasah ini umat Islam ditempa, dididik, dilatih, dan dibimbing untuk menjadi insan mulia. Tidak ada madrasah yang terbaik dan teristimewa yang disediakan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya kecuali madrasah Ramadhan.

Keistimewaan madrasah Ramadhan ini terlihat dari beberapa hal, antara lain ; pertama, tutor ataupun pengajar di madrasah Ramadhan ini adalah Allah SWT, Rasulullah SAW dan orang-orang yang telah ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT, yaitu orang-orang yang berilmu. “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS al-Alaq [96] : 4-5)

Dalam ayat yang lain, “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 151).

Kedua, yang menjadi peserta didik di madrasah Ramadhan ini bukan orang sembarang. Mereka adalah orang-orang yang beriman. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. “(QS al-Baqarah (2) : 183).

Ketiga, Pendidikan di madrasah Ramadhan ini berlangsung sebulan penuh dan dilaksanakan di bulan yang istimewa, yaitu bulan Ramadhan. “Seandainya umatku tahu apa-apa yang ada di bulan Ramdhan niscaya mereka akan menginginkan seluruh bulan itu adalah Ramadhan.”

Keempat, Madrasah Ramadhan dilaksanakan di masjid, mushala, langgar dan di ruang-ruang kehidupan orang-orang yang beriman. Kelima, materi yang diberikan di madrasah ini meliputi tiga hal, yaitu pendidikan rohani, pendidikan hati, dan pendidikan fisik.

Dengan ketiga pendidikan itu akan menjadikan rohani orang-orang yang beriman menjadi suci atau fitrah, memiliki kesabaran, mampu mengendalikan diri dan menjadikan tubuhnya sehat.

Keenam, buku panduannya pun istimewa yaitu Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Alquran itu adalah kitab yang mulia.” (QS Fushshilat [41]: 41).

Ketujuh, gelar yang diberikan kepada orang yang mampu menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ramadan ini adalah al-Muttaqin, dan akan dianugerahi kebahagiaan dunia dan kebahagiaan di akhirat, serta mendapat ridha Allah SWT dan surga-Nya.

Kita sedang berada di hari-hari akhir madrasah istimewa ini. Mari kita pergunakan kesempatan ini untuk menjadi peserta didik yang baik yang bisa menangkap, memahami, menghayati, dan merealisasikan berbagai pelajaran yang diberikan di madrasah Ramadhan.

Sehingga setelah kita keluar dari Madrasah Ramadhan ini menjadi insan bertakwa yang mampu menebarkan kebaikan dan kemanfaatan bagi diri, keluarga, dan masyarakatnya yang dibarengi dengan kekuatan fisik, kefirahan ruh dan hati yang bersih. Semoga.Wallahu a’lam.

 

Oleh: Moch Hisyam

sumber: Republika Online

Madrasah Istimewa

Ramadhan adalah madrasah istimewa bagi kaum Muslimin. Di madrasah ini umat Islam ditempa, dididik, dilatih, dan dibimbing untuk menjadi insan mulia. Tidak ada madrasah yang terbaik dan teristimewa yang disediakan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya kecuali madrasah Ramadhan.

Keistimewaan madrasah Ramadhan ini terlihat dari beberapa hal, antara lain ; pertama, tutor ataupun pengajar di madrasah Ramadhan ini adalah Allah SWT, Rasulullah SAW dan orang-orang yang telah ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT, yaitu orang-orang yang berilmu. “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS al-Alaq [96] : 4-5)

Dalam ayat yang lain, “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 151).

Kedua, yang menjadi peserta didik di madrasah Ramadhan ini bukan orang sembarang. Mereka adalah orang-orang yang beriman. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. “(QS al-Baqarah (2) : 183).

Ketiga, Pendidikan di madrasah Ramadhan ini berlangsung sebulan penuh dan dilaksanakan di bulan yang istimewa, yaitu bulan Ramadhan. “Seandainya umatku tahu apa-apa yang ada di bulan Ramdhan niscaya mereka akan menginginkan seluruh bulan itu adalah Ramadhan.”

Keempat, Madrasah Ramadhan dilaksanakan di masjid, mushala, langgar dan di ruang-ruang kehidupan orang-orang yang beriman. Kelima, materi yang diberikan di madrasah ini meliputi tiga hal, yaitu pendidikan rohani, pendidikan hati, dan pendidikan fisik.

Dengan ketiga pendidikan itu akan menjadikan rohani orang-orang yang beriman menjadi suci atau fitrah, memiliki kesabaran, mampu mengendalikan diri dan menjadikan tubuhnya sehat.

Keenam, buku panduannya pun istimewa yaitu Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Alquran itu adalah kitab yang mulia.” (QS Fushshilat [41]: 41).

Ketujuh, gelar yang diberikan kepada orang yang mampu menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ramadan ini adalah al-Muttaqin, dan akan dianugerahi kebahagiaan dunia dan kebahagiaan di akhirat, serta mendapat ridha Allah SWT dan surga-Nya.

Kita sedang berada di hari-hari akhir madrasah istimewa ini. Mari kita pergunakan kesempatan ini untuk menjadi peserta didik yang baik yang bisa menangkap, memahami, menghayati, dan merealisasikan berbagai pelajaran yang diberikan di madrasah Ramadhan.

Sehingga setelah kita keluar dari Madrasah Ramadhan ini menjadi insan bertakwa yang mampu menebarkan kebaikan dan kemanfaatan bagi diri, keluarga, dan masyarakatnya yang dibarengi dengan kekuatan fisik, kefirahan ruh dan hati yang bersih. Semoga.Wallahu a’lam.

 

 

Oleh: Moch Hisyam

Sumber: Republika Online

Bahagia Tanpa Batas Bagi Lulusan Madrasah Ramadhan

KITA tidak tahu apakah tahun depan masih bertemu lagi atau tahun ini Ramadhan terakhir yang kita jalani. Tapi, prinsip kita sebagai orang yang beriman, kita ketemu Ramadhan lagi atau tidak, No Problem!.

Yang jadi masalah adalah ketika tidak memahami substansi Ramadhan dan enggan menghidupkannya di luar Ramadhan. Yakni, semangat bagaimana hidup selalu bahagia (unlimited happiness), atau dengan kata lain bagaimana kebahagiaan itu selalu meliputi kehidupan kita.

Puncak Sukses
Kebahagiaan adalah puncak perjuangan yang dicari setiap orang di dunia ini. Ramadhan benar-benar mengajarkan kita hidup bahagia.

Mari kita renungkan, sejak sebelum Ramadhan dan saat kita menjalani ibadah Ramadhan hingga pada saat hari raya Iedul Fitri suasana kebahagiaan sangat terasa. Suasana ini tidak saja dirasakan oleh ummat Islam, non-muslim pun turut “kecipratan” bahagia.

Bagamanapun sikap kita saat menjalani ibadah Ramadhan -dengan sempurna atau setengah-setengah- tetap kita mendapat percikan kebahagiaan itu.

Tetapi, tentu saja, siapa yang menjalani ibadah Ramadhan dengan sempurna kebahagiannya juga sempurna. Siapa yang menjalaninya setengah hati atau banyak cacat ibadahnya ia mendapat kebahagiaan sesuai usahanya.

Bagi orang beriman perginya Ramadhan sungguh sangat memilukan hati. Kerinduan yang membuncah di bulan Syawal dan bulan selanjutnya hanya bisa diobati dengan datangnya Ramadhan lagi. Meskipun seluruh potensi yang ia miliki telah ia kerahkan untuk menjalani ibadah Ramadhan dengan maksimal, tetaplah masih merasa kurang. Apalagi menjalani ibadah Ramadhan setengah hati.

Hal itu timbul berangkat dari keyakinan yang mendalam terhadap janji dan jaminan Allah bagi orang yang berhasil memproses dirinya hidup dengan ketaqwaan. Sungguh Allah tiada mengingkari janji-Nya.

Kiat Menghadirkan Kebahagiaan
Pertama, untuk hidup bahagia tanpa batas adalah mampu membedakan antara kebahagiaan dan kesenangan. Hidup bahagia adalah dambaan setiap orang.

Berbagai macam cara orang mencari kebahagiaan. Ada yang dengan menumpuk-numpuk harta. Ada yang mencari kebahagiaan dengan kawin melulu dan selingkuh. Ada yang mencari kebahagiaan dengan shopping, berwisata, mengikuti gaya hidup selebritis.

Sesungguhnya, itu bukanlah kebahagiaan, melainkan kesenangan dunia. Kesenangan sesaat yang hanya membuat pelakunya tersiksa secara batiniyah dan pemborosan secara finansial. Kebahagiaan adalah nikmat yang berlipat-lipat. Hal ini terkait secara fisik dan non-fisik. Sedangkan kesenangan hanya bersifat fisik semata.

Kedua, kenali Allah Ta’aala sebagai penguasa segalanya. Kebahagiaan hakiki hanyalah terletak dalam ketaatan yang sempurna kepada Allah subhaanahu wata’ala. Karena ujung perjalanan kita adalah innaa lillaahi wa innaa ilahi raajiuun (kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali), maka kita harus memahami dengan baik siapakah Allah Ta’ala yang harus kita taati itu.

Maka membaca, memahami, dan men-tadabburi Al Qur’an adalah cara untuk mengenal-Nya. Ketika sudah kenal dengan baik, maka akan mudah ingat Allah (dzikrullah). Ingatlah hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang. (QS.Ar Ra’du [13] : 28)

Ketiga, pahami akhir perjalanan hidup. Memahami akhir perjalanan sangat mempengaruhi seseorang menjalani hidup dengan penuh bahagia. Akhir perjalanan adalah cita-cita, harapan atau tujuan.

Tidak akan bahagia kecuali orang yang semangat menjalani hidup menempuh harapan masa depan. Harapan masa depan yang sesungguhnya adalah syurga Allah subhanahu wata’ala.Kehidupan di surga adalah kehidupan yang sangat membahagiakan.

Inilah sebabnya mengapa seorang muslim seharusnya ia adalah orang yang paling bahagia, karena ia sudah tahu betul akhir perjalanannya dan memahami dengan baik eksistensi Tuhannya.

Keempat, pahami bahwa kebahagiaan itu berangkat dari cinta. Kehidupan surgawi adalah kehidupan penuh cinta. Tiada perkataan sia-sia dan dusta (QS.An Naba’ [78]: 35). Seperti yang telah kita jalani selama bulan Ramadhan, semua orang dengan cintanya semangat beribadah. Dimana secara vertikal begitu dekat dengan Allah. Membuat hidup semakin tenang dan bahagia.

Secara horisontal kita jalani hidup dengan mencintai sesama hamba Allah. Mencintai berarti peduli dan memberi. Orang yang mencintai pasti bahagia, tapi orang yang hanya dicintai belum tentu bahagia. Inilah sumber terbangunnya akhlaq mulia.

“ Kecuali orang yang beriman dan berbuat kebajikan, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS.Ath-Thiin [95] :6)

Pahala itu kompensasi atau ganjaran yang merupakan timbal balik seseorang setelah berbuat baik. Bukankah telah sering kita buktikan, bahwa setelah kita berbuat baik, misalnya menolong orang, hati senang dan bahagia rasanya bisa membantu orang lain.

Semangat berbuat baik itu telah terlatih selama bulan Ramadhan. Siang maupun malam, dalam keadaan sempit ataupun lapang, kaya atau miskin, semuanya senang berbuat baik. Termasuk anda, pembaca tercinta. Dengan membaca tulisan ini, sudah menjadi bukti anda senang berbuat kebaikan.

Menanamkan kebaikan berarti menanamkan kebahagiaan. Maka siapa yang hidupnya ingin bahagia tanpa batas, berbuat baiklah selalu meski Ramadhan telah berlalu. Ayo, kita menjadi bintang film atau foto model kebaikan.

“Sungguh rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS.Al A’raf [7]: 56). “Dan Allah sangat mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali Imron [3]: 148). Wallahu’a’alam.

______
Ustadz MD Karyadi, Lc, penulis adalah pengasuh Yayasan Dakwah Hidayatullah Cikarang Bekasi dan pembina di www.dakwahcenter.com

Rep: Admin Hidcom

Editor: Huda Ridwan

sumber: Hidayatullah