Mengapa Allah SWT Merahasiakan Malam Lailatul Qadar?

Bulan Ramadan sudah mencapai 10 hari terakhir. Nabi Muhammad SAW menekankan kepada umatnya untuk menghidupi malam harinya dengan ibadah.

Sebab pada 10 hari terakhir di Bulan Ramadan, terdapat malam seribu bulan atau lailatul qadar, menurut madzhab Syafi’i.

Syaikh Mulla Ali al-Qari terkait hadits HR Muslim menyatakan, pendapat yang paling jelas (unggul), bahwa Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam menambahkan aktivitas ibadah dan kepatuhan kepada Allah SWT, tidak seperti hari-hari lainnya. Ini karena beliau mengharapkan datangnya lailatul qadar, meraup maksimal keberkahan waktu-waktu tersebut, atau mengakhiri Ramadan dengan baik.” (Mulla Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih)

Lailatul qadar merupakan malam paling utama dari sekian waktu yang lain selama satu tahun, istimewa hanya untuk Umat Muhammad SAW (min khusushiyyai hadzihi al-Umat). Banyak ragam pendapat ulama’ kapan persisnya lailatul qadar tiba.

Tanda-tanda lailatul qadar sebagaimana petunjuk hadits Nabi, baru diketahui saat siang harinya, yaitu matahari terbit tidak tampak banyak memancarkan sinar.

Di akhirkan tanda-tanda lailatul qadar menunjukan agar setiap saat di malam hari Ramadan hendaknya bersungguh-sungguh, dengan tidak menurunkan tensi ibadah. (Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal)

Setiap malam di sepanjang bulan Ramadan, terlebih 10 hari terakhir, hendaknya Umat Islam berhusnu zhan sebagai lailatul qadar.

Menurut sebagian pendapat yang dikutip al-Qurthubi, Allah menyamarkan lailatul qadar di sepanjang bulan Ramadan, agar umat Muhammad giat beribadah di setiap malam bulan Ramadan, dengan mengharapkan lailatul qadar.

Sebagaimana Allah menyamarkan “Shalat al-Wustha” di antara shalat 5 waktu, Asma’ Mu’azham di antara sekian Asma-asma Nya, dan waktu paling ampuh dikabulkannya do’a di antara satu kali 24 jam pada hari jum’at. (Al-Qurthubi, Tafsir al Qurthubi).

Semoga di penghujung bulan Ramadan ini kita diberi pertolongan untuk semakin  giat beribadah, bersedekah, mengaji, belajar agama dan berbagai kebaikan lainnya, dengan harapan qadar kali ini terjadi di saat-saat akhir Ramadan.

Bilapun belum ditakdirkan menemui, paling tidak kita sudah mengikuti anjuran Nabi untuk meningkatkan tensi beribadah di 10 terakhir Ramadan.

Wallahu a’lam

 

LIPUTAN 6

Ini Permintaan di Malam Lailatul Qadar

Suatu ketika, Aisyah RA pernah bertanya kepada Nabi SAW, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah (pintalah): Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ ”Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Menarik redaksi pada doa di malam lailatul qadar tersebut. Dalam doa itu, Allah disapa dengan ‘Afuwun. Bukan Ghafur. Imam al-Ghazali, seperti dikutip M Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, membedakan keduanya. Al-’Afuw mengandung makna menghapus, mencabut akar sesuatu, membinasakan, dan sebagainya.

Sedangkan al-Ghafur berarti menutup, sesuatu yang menutup pada hakikatnya tetap wujud, hanya tidak terlihat, sedangkan yang dihapus, hilang, kalaupun tersisa, paling bekasnya saja. Orang yang mendapatkan maafnya Allah akan terhapus dosa-dosanya. Adakah kebahagiaan yang lebih tinggi dalam hidup ini selain memperoleh ampunan dan maaf Allah SWT?

Dalam kitab Bustanul Khatib diceritakan, sufi kenamaan, al-Hasan Al-Bashri (wafat 110 H) didatangi seseorang yang mengeluhkan paceklik dan kekeringan, maka beliau menasihati, “Beristighfarlah.” Lalu, datang lagi orang lain mengadukan kemiskinannya, beliau menasehati, “Beristighfarlah.” Kemudian datang lagi orang mengadukan masalah sedikitnya anak, sang sufi berpesan, “Beristighfarlah.”

Salah satu muridnya bertanya, “Mengapa istighfar menjadi solusi?” Hasan al-Bashri menjawab, “Tidakkah kamu membaca firman Allah SWT dalam surah Nuh ayat 10-12: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.”

Orang yang mendapat ampunan dan maafnya Allah SWT juga akan terhindar dari siksa api neraka sehingga ia masuk dalam surga. (QS Ali Imran [3]: 133). Bahkan Allah SWT mengurungkan azabnya tatkala di suatu negeri masih terdapat orang yang beristighfar (QS al-Anfal [8]: 33).

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, umat Islam mesti memperbanyak istighfar agar Allah SWT tak menurunkan azab yang sifatnya menyeluruh akibat kezaliman yang dilakukan segelintir orang (QS al-Anfal [8]: 25).

Maka jadikanlah Ramadhan ini sebagai bulan muhasabah, mengingat kembali banyaknya dosa yang telah kita lakukan, sehingga mendorong kita untuk memohon ampunan Allah SWT.

Yahya bin Muadz berkata, “Siapa saja beristighfar dengan lisan, tetapi hatinya masih terikat dengan maksiat, masih berniat untuk kembali, serta mengulang dosa setelah bulan Ramadhan maka puasanya ditolak. Dan pintu diterimanya amal menjadi tertutup di hadapan wajahnya.

Hal ini juga pernah diungkapkan Ibn ‘Athaillah al-Sarkandi dalamBuhtaj al-Nufus,Orang bermunajat mohon ampun kepada Allah tetapi masih tenggelam dalam maksiat laksana seseorang yang sakit lalu meminta obat ke dokter dan meminumnya, tetapi ia membiarkan ular menggigit tubuhnya.

Selagi masih di sepuluh terakhir Ramadhan, mari kita tingkatkan kualitas ibadah kita dengan puasa, shalat malam, tadabbur Alquran, sedekah, iktikaf, dan tentu perbanyak istighfar, dengan harapan kita bertemu dengan malam lailatur qadar.

Jika saja kita gagal meraih ampunan Allah, Rasullullah bersabda, “Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya).” (HR Tirmidzi).

Maka senantiasalah mengajukan satu permintaan di setiap malam Ramadhan, “Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’.Amin.

 

 

Oleh: Muhammad Kosim

Republika Online