Tips Mengendalikan Cemburu

SEBAGAIMANA fenomena yang kita lihat dalam kehidupan tangga pada umumnya, tampaklah bahwa sifat cemburu itu sudah menjadi tabiat setiap wanita, siapapun orangnya dan bagaimanapun kedudukannya.

Akan tetapi, hendaklah perasaan cemburu ini dapat dikendalikan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga.

Berikut beberapa nasihat yang perlu diperhatikan oleh para istri untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga, sehingga tidak ternodai oleh pengaruh perasaan cemburu yang berlebihan.

Seorang isteri hendaklah bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersikap pertengahan dalam hal cemburu terhadap suami. Sikap pertengahan dalam setiap perkara merupakan bagian dari kesempurnaan agama dan akal seseorang. Dikatakan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Hai ‘Aisyah, bersikaplah lemah-lembut, sebab jika Allah menginginkan kebaikan pada sebuah keluarga, maka Dia menurunkan sifat kasih-Nya di tengah-tengah keluarga tersebut.”

Dan sepatutnya seorang isteri meringankan rasa cemburu kepada suami, sebab bila rasa cemburu tersebut melampaui batas, bisa berubah menjadi tuduhan tanpa dasar, serta dapat menyulut api di hatinya yang mungkin tidak akan pernah padam, bahkan akan menimbulkan perselisihan di antara suami dan melukai hati sang suami. Sedangkan isteri akan terus hanyut mengikuti hawa nafsunya.

Wanita pencemburu, lebih melihat permasalahan dengan perasaan hatinya daripada indera matanya. Ia lebih berbicara dengan nafsu emosinya dari pada pertimbangan akal sehatnya. Sehingga sesuatu masalah menjadi berbalik dari yang sebenarnya. Hendaklah hal ini disadari oleh kaum wanita, agar mereka tidak berlebihan mengikuti perasaan, namun juga mempergunakan akal sehat dalam melihat suatu permasalahan.

Dari kisah-kisah kecemburuan sebagian istri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, bisa diambil pelajaran berharga, bahwa sepatutnya seorang wanita yang sedang dilanda cemburu agar menahan dirinya, sehingga perasaan cemburu tersebut tidak mendorongnya melakukan pelanggaran syariat, berbuat zhalim, ataupun mengambil sesuatu yang bukan haknya. Maka janganlah mengikuti perasaan secara membabi buta.

Seorang istri yang bijaksana, ia tidak akan menyulut api cemburu suaminya. Misalnya, dengan memuji laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekaguman terhadap laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekagumman terhadap laki-laki lain, baik pakaiannya, gaya bicaranya, kekuatan fisiknya dan kecerdasannya. Bahkan sangat menyakitkan hati suami, jika seorang isteri membicarakan tentang suami pertamanya atau sebelumnya.

Rata-rata laki-laki tidak menyukai itu semua. Karena tanpa disadarinya, pujian tersebut bermuatan merendahkan kejantanannya, serta mengurangi nilai kelaki-lakiannya, meski tujuan penyebutan itu semua adalah baik. Bahkan, walaupun suami bersumpah tidak terpengaruh oleh ungkapannya tersebut, tetapi seorang istri jangan melakukannya. Sebab, seorang suami berat melupakan itu semua.

Ketahuilah wahai para istri! Bahwa yang menjadi keinginan laki-laki di lubuk hatinya adalah jangan sampai ada orang lain dalam hati dan jiwamu. Tanamlah dalam dirimu bahwa tidak ada lelaki yang terbaik, termulia, dan lainnya selain dia.

Wahai para istri! Jadikanlah perasaan cemburu kepada suami sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepadanya. Jangan menjadikan ia menoleh kepada wanita lain yang lebih cantik darimu. Berhias dirilah, jaga penampilan di hadapannya agar engkau selalu dicintai dan disayanginya.

Cintailah sepenuh hatimu, sehingga suami tidak membutuhkan cinta selain darimu. Bahagiakan ia dengan seluruh jiwa, perasaan dan daya tarikmu, sehingga suami tidak mau berpisah atau menjauh darimu. Berikan padanya kesempatan istirahat yang cukup. Perdengarkan di telinganya sebaik-baik perkataan yang engkau miliki dan yang paling ia senangi.

Wahai, para istri! Janganlah engkau mencela kecuali pada dirimu sendiri, bila saat suamimu datang wajahnya dalam keadaan bermuram durja. Jangan menuduh salah kecuali pada dirimu sendiri, bila suamimu lebih memilih melihat orang lain dan memalingkan wajah darimu. Dan jangan pula mengeluh bila engkau mendapatkan suamimu lebih suka di luar daripada duduk di dekatmu.

Tanyakan kepada dirimu, mana perhatianmu kepadanya? Mana kesibukanmu untuknya? Dan mana pilihan kata-kata manis yang engkau persembahkan kepadanya, serta senyum memikat dan penampilan menawan yang semestinya engkau berikan kepadanya? Sungguh engkau telah berubah di hadapannya, sehingga berubah pula sikapnya kepadamu, lebih dari itu, engkau melemparkan tuduhan terhadapnya karena cemburu butamu.

Dan ingatlah wahai para istri! Suamimu tidak mencari perempuan selain dirimu. Dia mencintaimu, bekerja untukmu, hidup senantiasa bersamamu, bukan dengan yang lainnya. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ikutilah petunjuk-Nya dan percayalah sepenuhnya kepada suamimu setelah percaya kepada Allah yang senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga perintah-perintah-Nya, lalu tunaikanlah yang menjadi kewajibanmu.

Jauhilah perasaan was-was, karena setan selalu berusaha untuk merusak dan mengotori hatimu. [alsofwah]

Mau Menghafal Alquran, Perhatikan Tiga Hal Berikut

Rasulullah bersabda, “Perumpamaan orang yang membaca Alquran sedang ia hafal dengannya bersama para malaikat yang suci dan mulia, sedang perumpamaan orang yang membaca Alquran sedang ia senantiasa melakukannya meskipun hal itu sulit baginya maka baginya dua pahala.” (Muttafaq ‘alaih).

Selain membaca Alquran, kita juga diperintahkan untuk menghafal dan mengamalkannya. Tentunya dalam menghafal Alquran tidak semudah membacanya, begitupun mengamalkannya. Menghafal Alquran memang terdengar sulit, sama sulitnya seperti kita menghafal pelajaran. Tetapi pahala yang kita dapatkan dari itu tidaklah sedikit.

Saat ini sudah banyak para hafiz Alquran. Dari mulai anak kecil, sampai yang sudah dewasa. Salah satu faktor penting dalam menghafal Alquran adalah tekad dan niat. Dan lebih dianjurkan dalam belajar membaca, menghafalkan Alquran dimulai sejak kecil. Karena daya ingat dan juga semangatnya yang masih kuat.

Dalam buku Rahasia Nikmatnya Menghafal Alquran yang ditulis D. M Makhyarudin dijelaskan terdapat tiga hal penting yang harus dpenuhi dengan maksimal saat ingin menghafal Alquran, yaitu:

1. Persiapan (Al-I’dad), adalah persiapan atau bekal yang harus dipenuhi sebelum memulai proses penghafalan. Mengingat dalam menghafal Alquran bukanlah perkara mudah, persiapan ini sangatlah penting. Bukan karena sulitnya dalam menghafal, tetapi karena sifat manusia yang tergesa-gesa atau ingin cepet-cepat sehingga membuat sulit.

Terkadang semangat awal yang menggebu-gebu perlahan berkurang. Itulah yang harus dijaga. Tentunya akan banyak rintangan, dan cobaan yang datang, tetapi insyaallah dengan I’dad (persiapan) yang terencana dan matang semua bisa dilewati.

2. Proses (Al-Kaifiyyah), proses dalam penghafalan. Dalam menghafalnya banyak terdapat metode-metode yang sudah banyak diberikan para ulama tau pendahulu untuk mempermudah. Contohnya dari Ustaz Khalid Basamalah dari video dakwahnya, ia memberikan cara yang paling mudah dalam menghafalkannya adalah; plihlah surah yang paling disenangi agar mudah dihafal, mulailah dengan 10 ayat per hari.

Dan ulangi dengan 10 kali saja. Tiga kali pertama baca dengan cara melihatnya, niatkan dalam hati, lalu seterusnya sampai ke 10 baca dengan menutup Alquran.

3. Penjagaan (Al-Muhafazhah), dalam semua proses menghafal, baiknya kita didampingi oleh seseorang pendamping. Dalam penjagaan dan pengawasan dari pendamping akan membantu kita agar disiplin. Menyetor hafalan kita, memperbaiki bagian salah. Dengan begitu hafalan kita akan lebih mudah.

 

REPUBLIKA

25 Tips Jitu untuk Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri

Sebagai insan biasa, siapa pun pasti melakukan kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja, baik sudah berumah tangga ataupun belum. Kesalahan yang sama juga tak luput dari pasangan suami istri.

Bagaimana menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara suami istri? Berikut tips yang disampaikan oleh Batsinah As-Sayyid Al-Iraqi dalam bukunya.

1. Sebaiknya masing-masing pasangan suami istri harus bisa memperlihatkan pandangan yang nyata terhadap perselisihan di antara pasangan suami istri. Karena hal tersebut terkadang bisa menjadi faktor pencentus adanya percakapan dan saling kesepahaman.

2. Cara-cara yang dilakukan pasangan suami istri ketika menghadapi pertikaian di rumah tangga bisa dengan cara menuntaskannya.

3. Hendaklah pasangan suami istri mengucapkan kata-kata yang baik ketika berbicara. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa kata-kata yang pedas dan ungkapan yang kasar sangat berpengaruh walaupun pertikaian telah selesai.

4. Ketika perselisihan terjadi, hendaklah suami istri duduk bersama.

Sebab, berdiri ketika menghadapi pertikaian adalah cara yang salah yang bisa membuat pertikaian menjadi berlangsung lama. Sehingga, kesulitan akan semakin menancap di hati dan menjadi menyesakkan dada dan membuat hati semakin runyam.

5. Ketika akan menuntaskan perselisihan, maka harus menyeluruh terhadap semua aspek dan harus dengan penuh keikhlasan dan lapang dada.

6. Menjauhi cara-cara yang bisa menimbulkan pertengkaran. Pihak yang merasa menang atas pihak yang lainnya akan dengan cepat menyulut api permusuhan ketika terjadi gesekan ringan.

7. Ketika menyelesaikan pertikaan harus menjauhi cara-cara memvonis dan penuh keangkuhan dan pengingkaran. Karena hal ini akan memperuncing akar perselisihan.

8. Untuk kita semua, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah suri tauladan. Beliau tidak pernah bersikap kasar atau keras. Justru beliau bersabda, Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya.

9. Ingatlah pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Sesungguhnya orang yang buruk di mata Allah pada hari Kiamat adalah orang yang dijauhi oleh masyarakat untuk berlindung dari kejahatannya.

10. Ketahuilah wahai suamiku tercinta bahwa perselisihan dan sikap kasar terhadap istrimu, khususnya apabila sang istri mencintai dan menyayangimu, maka hal itu bisa menjadi penyebab yang paling dominan sang istri untuk sering merasa cemas dan gelisah karena memang tabiatnya yang sangat sensitif.

11. Jangan bersikap pongah dengan garis keturunan, harta, kecantikan dan ilmu pengetahuan. Sebab, hal ini bisa mengoyak hubungan pernikahan.

12. Ketika akan memecahkan sebuah permasalahan, maka jangan menentukan keputusan apa pun kecuali setelah dipelajari baik-baik.

13. Permasalahannya harus dipahami dengan baik. Apakah hal tersebut adalah pertikaian sebenarnya ataukah hanya karena kesalahpahaman?

Mengungkapkan hakikat yang sebenarnya adalah tujuan yang diinginkan masing-masing suami istri. Mempersempitnya secara terang-terangan dan secara langsung bisa membantu untuk menghilangkan kesalah pahaman ini yang menjadi sumber permasalahannya.

14. Introspeksi diri dan mengetahui kekurangan diri terhadap Allah Ta’ala yang Mahaagung dan Mahamulia, maka dengan hal ini engkau akan menganggap kecil kesalahan yang menimpamu yang disebabkan oleh orang lain.

15. Ketahuilah wahai suami dan istri bahwa sebuah musibah yang ditimpakan selalu dikarenakan sebuah dosa.

Salah satu bentuk musibah adalah terjadinya penentangan dari seseorang yang engkau cintai. Muhammad bin Sirin berkata, “Aku mengetahui musibah yang menimpaku dari tingkah laku istriku dan binatang tungganganku.”

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

 

Berlanjut ke 25 Tips Jitu untuk Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri (Bagian 2)

25 Tips Jitu untuk Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri (Bagian 2)

Lanjutan dari 25 Tips Jitu untuk Menyelesaikan Perselisihan Suami Istri

16. Memperkecil pertikaian dan membatasi bentuknya agar jangan tersebar di antara orang banyak atau keluar dari ruang lingkup suami istri.

17. Menentukan objek pertikaian dan memfokuskan pikiran padanya dengan tidak merujuk kepada kesalahan-kesalahan dan sikap-sikap tidak baik yang telah berlalu atau membuka catatan-catatan masa lalu. Karena hal itu bisa memperlebar ruang lingkup pertikaian.

18. Masing-masing pasangan suami istri sebaiknya membicarakan kesulitannya sesuai pemahamannya.

Jangan sampai menjadikan pemahamannya yang benar yang tidak pernah salah. Semua ini bisa dibicarakan dan didiskusikan. Sesungguhnya hal tersebut bisa dicarikan jalan keluarnya.

19. Di awal pembicaraan sebaiknya disebutkan beberapa poin kesepakatan, sisi baik dan kelebihan-kelebihannya. Karena hal tersebut bisa melembutkan hati dan menjauhkan setan, menyamakan persepsi dan mempermudah sikap saling mengalah dari segala perasaan yang ada di hati.

20. Janganlah engkau menjadikan seluruh hak dianggap sama di depan matamu.

Justru engkau harus membesarkannya atau engkau menjadikannya sebagai hak-hak yang tidak wajib sama sekali untuk dikerjakan yang justru engkau dituntut untuk mengerjakannya.

21. Mengakui hak merupakan sikap baik.

Oleh karena itu, engkau harus selalu mengakui kesalahanmu ketika kesalahanmu telah jelas dan jangan berusaha berkelit. Kedua belah pihak harus mempunyai sikap berani dan percaya diri untuk mengakui kesalahannya.

22. Sesungguhnya sikap mengakui kesalahan adalah jalan menuju kebenaran.

Sebaiknya pihak yang bertikai untuk mengucapkan ucapan terima kasih dan memuji pihak yang telah mengakui kesalahannya. “Mengakui kesalahan adalah lebih baik daripada berkecimpung di dalam kebathilan.”

23. Tidak wajib menggunakan pengakuan atas kesalahan sebagai senjata untuk mengintimidasi. Justru harus disimpan di dalam buku catatan kebaikan dan keutamaan dan sisi-sisi baik di dalam hubungan suami istri.

24. Bersikap sabar menghadapi tabiat asli dari kedua belah pihak seperti sikap cemburu dari pihak suami atau istri dan mengetahui tabiat jiwa dan memperlakukannya dengan baik dengan cara yang lemah lembut.

25. Merasa ridha terhadap pembagian Allah Taala.

Apabila sang istri atau suami melihat adanya kebaikan, maka ia segera memuji Allah dengan sebanyak-banyaknya dan apabila ia melihat selain hal itu berupa keburukan.

Masing-masing keduanya tahu bahwa pertikaian dan kesulitan dan perbedaan pendapat akan selalu ada di setiap orang. Kesempurnaan hanya milik Allah Taala semata.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

 

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Berbagai Macam Kiat Agar Tak Malas Salat

ADA banyak cara agar tidak malas melaksanakan salat, beberapa di antaranya:

1. Jadikan salat sebagai kebutuhan bukan sekadar kewajiban

Salat bukan hanya dijadikan sebagai kewajiban saja, tetapi hendaknya juga dijadikan sebagai kebutuhan. Karena jika salat hanya dijadikan sebagai kewajiban, hal inilah yang bisa menjadi beban. Dan apabila kita bisa menjadikanya sebagai kebutuhan maka akan terasa ringan.

2. Jangan menunda salat

Selain pahala salat yang berkurang. Menunda salat juga dapat menambah rasa malas. Hal inilah yang biasa dilakukan setan untuk membujuk dan menggoda manusia. Awalnya setan hanya membujuk untuk menunda, lalu setan akan mengalihkan pikiran manusia agar lupa terhadap salatnya misalnya tidur.

3. Perbanyak mengingat Allah/zikir

Zikir/mengingat Allah akan menghidupkan hati sedangkan hati yang hidup akan selalu dekat dengan Tuhannya. Tidak berzikir atau tidak mengingat Allah maka akan menyebabkan hati menjadi mati, jika hati kita mati maka setan akan selalu mengendalikan hidup kita.

4. Mengingat Kematian

Setiap yang bernyawa pasti mati. Dengan mengingat kematian akan menimbulkan rasa takut kepada Allah.

5. Perbanyak mencari ilmu tentang keutamaan salat

Setiap kita harus mengetahui makna dan hakikat salat, urgensi dari salat yang dilakukan, dan konsekuensi dari meninggalkan salat. Dengan cara menuntut ilmu kita akan mengetahuinya. Ilmu bisa diperoleh dari membaca buku dan menghadiri majelis ilmu.

6. Bergaul dengan orang yang saleh

Bergaul dengan orang saleh akan memotivasi kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang diperintakan Allah kepada kita. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian berkumpul, kecuali dengan orang yang beriman. Jangan sampai ada yang menyantap makananmu, kecuali orang yang bertakwa.” (HR Tirmidzi)

7. Menjauhkan diri dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan/orang yang lalai

Janganlah berteman dengan orang-orang yang suka berbuat kerusakan atau orang-orang yang lalai dari mengingat Allah.

 

Ustadzah Novria

INILAH MOZAIK

Cara Aman Berbelanja di Tanah Suci

Berbelanja oleh-oleh menjadi tradisi bagi para jamaah haji. Banyak pusat perbelanjaan yang dapat didatangi para jamaah haji di sela-sela waktu luangnya beribadah.

Namun, berburu buah tangan di Tanah Suci gampang-gampang susah. Berikut sejumlah tips cara aman berbelanja di Tanah Suci yang dirangkum dari berbagai sumber.

Pertama, buatlah daftar belanjaan. Hal ini penting, khusunya untuk menyesuaikan dengan keuangan anda. Belanjalah barang yang sekiranya tidak dapat anda jumpai di Tanah Air. Anda harus ingat, kapasitas maksimal bagasi masing-masing jamaah haji, yakni 32 kilogram.

Kedua, tukarkan uang anda dengan riyal. Akan lebih mudah dan nyaman jika belanja menggunakan mata uang setempat di Tanah Suci.

Ketiga, datanglah ke pusat oleh-oleh atau perbelanjaan bersama beberapa teman. Seperti, di Makkah, Madinah, Jeddah, pedagang musiman, dan sekitar hotel. Yang perlu diingat, jangan sampai kegiatan belanja mengganggu waktu ibadah anda.

Keempat, berani menawar barang. Ada baiknya, datanglah ke beberapa toko atau gerai sebelum anda memutuskan membeli suatu barang. Hal itu untuk memastikan kisaran harga barang tersebut.

Jangan segan untuk menawar harga. Sebab, tidak jarang banyak pedagang yang mencari untung saat musim haji. Mulailah menawar di bawah 50 persen dari harga yang disebut pedagang.

Jangan takut mengenai bahasa. Anda dapat berkomunikasi dengan bermacam cara, misalnya dengan jari atau kalkulator. Pun tidak sedikit para pedagang yang mengerti bahasa Indonesia. Selain itu, jangan lupa cek ke aslian apakah barang yang akan anda beli.

Kelima, jangan membawa uang banyak saat belanja. Hal ini untuk menghindari kemungkinan pemalakan terhadap jamaah haji. Selain itu, jangan menggunakan perhiasan, pakaian atau riasan yang mencolok.

Cara Jitu Agar Umat Bersatu

Umat Islam sebenarnya adalah komunitas yang unggul. Secara kuantitas mereka mayoritas. Jumlahnya mencapai 6,5 miliar dari jumlah seluruh penduduk dunia. Tetapi, realitas ini belum seindah yang digambarkan al-Qur`an, karena kaum Muslim belum unggul secara kualitas.

Umat Islam yang diberi gelar terhormat sebagai khairu ummah (umat terbaik) ini ternyata masih banyak termarjinalkan dalam peradaban dunia. Terbukti kita masih tidak berdaya menghadapi 5 juta kaum Yahudi yang berbuat zalim terhadap kaum Muslim di Palestina. Jumlah sebesar ini juga belum berhasil menyelamatkan nasib kita dari kungkungan kehinaan, kebodohan, dan kemiskinan.

Padahal, banyak di antara kita merupakan intelektual, pemimpin, pengusaha, dan orang-orang shaleh. Tetapi, mereka belum memiliki alasan yang sama untuk bergandengan tangan, bekerja sama dan bersinergi. Mereka lebih menonjolkan perbedaan yang bersifat furu’iyah (cabang/tidak prinsip), dan mengesampingkan banyak persamaan yang bersifat prinsip (aqidah).

 

Mengherankan

Seharusnya kita merasa heran dengan kondisi ini, sebagaimana herannya Ali Radhiyallahu Anhu saat mengomentari perpecahan di kalangan umat Islam. Beliau berkata, “Aku heran.. Aku heran.. Kalian berselisih dalam kebenaran, sedangkan musuh bersatu dalam kebatilan. Kekeruhan dalam persatuan lebih baik daripada kebersihan tapi sendirian.”

Beliau juga berkata, “Allah Ta’ala tidak akan pernah memberikan kemuliaan kepada siapa pun, bangsa mana pun, dalam perpecahan. Tidak kepada umat terdahulu, tidak pula kepada umat di akhir zaman.”

Sementara Imam Syafi’i mengatakan, “Perkara batil terkadang bisa memperoleh kemenangan karena bersatu, sebaliknya kebenaran kadang-kadang menderita kekalahan, kelemahan, dan kehinaan disebabkan perpecahan.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah, juga memperingatkan umatnya akan pentingnya persatuan. Beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah menyukai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah, dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (Riwayat Muslim)

Berdasarkan dalil-dalil di atas kita meyakini bahwa Allah Ta’ala hanya memberikan pertolongan kepada kaum Muslim yang unggul dalam kualitas, bukan sekadar mayoritas.

Lantas bagaimanakah cara membebaskan umat Islam dari kungkungan perpecahan yang menguras energi serta mengubahnya menjadi persatuan yang indah? Berikut kiat-kiatnya.

 

Bangun Ukhuwah di Level Bawah

  1. Salamatush shadr min afatil qalb. Ungkapan ini berarti lapang dada menyelamatkan hati. Amalan ini terlihat sepele tapi efeknya dalam membangun persatuan sungguh luar biasa. Mengapa? Sebab sikap lapang dada melahirkan kenyamanan dalam kebersamaan.
  2. Saling memberi hadiah. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan,” (Riwayat Malik). Sementara ahli sastra Arab mengatakan, ”Jika hadiah datang maka permusuhan akan terbang (idza jaal hada thorol ‘ida).”
  3. Ucapkan salam dan jabatlah tangan. Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah dua orang Muslim yang bertemu dan saling berjabat tangan, kecuali dosa mereka berdua akan diampuni sebelum berpisah,” (Riwayat Abu Daud).
  4. Menyatu dengan perasaan kaum Muslim yang lain. Rasulullah SAW bersabda, ”Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka dan kecintaan mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan panas tubuhnya meninggi,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
  5. Bergaul sesama Muslim dan bersabar atas gangguannya. Rasulullah SAW bersabda, ”Seorang Muslim bergaul (berinteraksi sosial) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik dari pada seorang Muslim yang tidak bergaul (tidak berinteraksi sosial) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka,” (Riwayat Tirmidzi).
  6. Saling menguatkan dan memasukkan rasa bahagia di hati. Rasulullah SAW bersabda, ”Seorang mukmin yang satu dengan yang lain bagaikan suatu bangunan. Sebagiannya memperkuat sebagian yang lain,” lalu beliau menyilangkan jari-jarinya, (Riwayat Bukhari dan Muslim).
  7. Memaafkan kesalahan, mengingat kelebihan, melupakan sisi gelap, dan menolak untuk melanggar kehormatan mereka. Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa menolak untuk melanggar kehormatan saudaranya (misalnya ghibah), maka Allah memalingkannya dari api neraka pada hari kiamat,” (Riwayat Tirmidzi).
  8. Mendoakan kebaikan tanpa sepengetahuan mereka.
  9. Bersilaturrahim ke rumahnya. Syauqi Beik mengatakan, “Jagalah dirimu sebelum kematianmu dengan menjaga sebutan baik (silaturrahim). Sesungguhnya sebutan baik merupakan umur kedua bagi manusia.”
  10. Bertemu dan berpisah karena Allah Ta’ala.
  11. Saling berdiam maksimal tiga hari. Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak dihalalkan bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam. Mereka bertemu, yang satu berpaling ke kiri dan yang lainnya berpaling ke kanan. Yang terbaik di antara mereka berdua adalah yang mengawali member salam,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

 

Bangun Ukhuwah di Level Atas

  1. Al-Itsar, atau mengutamakan saudara sekalipun dirinya kekurangan (al-Hasyr [59]: 9).
  2. Mencintai saudara Muslim melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri.
  3. Akrab, dekat, dan erat kepada sesama seperti dengan saudara seketurunan (al-mawaddata fil qurba).
  4. Memandang saudara Muslim sebagai anugrah, bukan sebagai pesaing.
  5. Meluruskan saudara yang bengkok bukan selalu membenarkannya.
  6. Rela mati demi keselamatan saudara (kisah dalam perang Yarmuk).

Resep Nabi Menyatukan Madinah

1. Menyebarkan salam.
2. Memberi makan kepada yang lapar.
3. Memperkuat jalinan silaturrahim.
4. Shalat malam.

Kisah Persaudaraan Hingga ke Kubur

Dalam perang Uhud, kaum Muslim mengalami kekalahan setelah pada perang-perang sebelumnya mengukir kemenangan demi kemenangan. Kaum Muslimin kehilangan 70 sahabat yang syahid. Di antara mereka terdapat Hamzah, paman Nabi SAW sekaligus saudara sepersusuannya.

Rasulullah SAW kemudian memberi instruksi agar setiap dua sahabat yang meninggal dikubur dalam satu liang lahat saja. Saat kaum Muslim mulai menggali makam untuk para syuhada tersebut tiba-tiba Rasulullah berteriak menghentikan mereka.

Para sahabat bertanya, “Ada apa ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW menjawab, “Carilah dua orang di antara korban peperangan ini, Amru bin Jamuh dan Abdullah ibn Haram.”

“Mengapa mereka berdua ya Rasulullah?” tanya para sahabat lagi.
Rasulullah SAW menjawab, “Kuburlah mereka berdua di dalam satu lubang karena mereka berdua ketika di dunia saling mengasihi dan menyayangi karena Allah (Ibnu Sa’ad, Ath-Thabaqat Al Kubra: 3/106).
Wallahu a’lam bishshawab.

 

sumber: Hidayatullah.com